Keimanan terhadap Al-Mizan (Bag. 5)

Keimanan terhadap Al-Mizan (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Keimanan terhadap Al-Mizan (04)

Apakah Amal Orang Kafir Juga Ditimbang?

Dalam masalah ini, para ulama juga berbeda pendapat. Sebagian di antara mereka mengatakan bahwa amal orang kafir juga akan ditimbang pada hari kiamat. Hal ini berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an yang telah kami sebutkan di seri sebelumnya, di antaranya dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 8-9 dan surat Al-Anbiya’ ayat 47.

Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut bersifat umum, artinya berlaku untuk semua jenis manusia, baik muslim atau kafir.  

Pendapat yang lain mengatakan bahwa amal orang kafir tidaklah ditimbang, berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan penimbangan bagi (amalan) mereka pada hari kiamat(QS. Al-Kahfi [18]: 105).

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, yaitu amal orang kafir juga akan ditimbang pada hari kiamat. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang bersifat umum, orang kafir termasuk dalam dalil umum tersebut serta tidak ada dalil yang mengkhususkannya (bahwa orang kafir tidak ditimbang).

Adapun surat Al-Kahfi ayat 105 tidaklah menunjukkan bahwa amal orang kafir tidak ditimbang. Ayat tersebut hanyalah menunjukkan bahwa timbangan orang kafir tidak akan menjadi berat disebabkan oleh amal kebaikan mereka. Orang kafir tidak memiliki amal kebaikan sedikit pun, sehingga amal yang ditimbang untuk orang kafir bukanlah amal kebaikan dan keburukan. Ketika amal keburukan mereka diletakkan di satu daun timbangan, maka daun timbangan kejelekan itu pun menjadi berat. Wallahu Ta’ala a’lam.

Hikmah dari Keimanan terhadap Al-Mizan

Pembahasan terahir yang ingin kami sampaikan adalah berkaitan dengan hikmah dari keimanan terhadap al-mizan.

Sebagian orang mungkin bertanya, apakah adanya al-mizan berarti bahwa Allah Ta’ala membutuhkan al-mizan, padahal Allah Ta’ala Maha Mengetahui kadar segala sesuatu sebelum dan sesudah penciptaannya? Lalu apa hikmah diletakkannya al-mizan untuk menimbang amal perbuatan para hamba-Nya?

Abu Ishaq Ats-Tsa’labi rahimahullah menjelaskan empat hikmah dari keimanan terhadap al-mizan dalam rangka menjawab pertanyaan di atas, yaitu:

Pertama, sebagai ujian dari Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya apakah mereka beriman terhadap al-mizan ketika di dunia.

Kedua, Allah Ta’ala menjadikan al-mizan sebagai tanda (alamat) apakah seorang hamba akan selamat (masuk surga) atau akan mendapatkan siksaan (masuk neraka).

Ketiga, untuk menunjukkan kepada para hamba-Nya adanya balasan di sisi Allah Ta’ala baik balasan amal kebaikan maupun kejelekan.

Keempat, untuk menegakkan hujjah (bukti) kepada para hamba-Nya atas apa yang telah mereka perbuat di dunia.

(Lihat Tafsir Ats-Tsa’labi, 4/216)

Jelaslah bahwa Allah Ta’ala tidak membutuhkan al-mizan, karena Allah Ta’ala tidaklah membutuhkan satu pun dari makhluk-Nya.

Penutup

Demikianlah beberapa pembahasan pokok yang terkait dengan keimanan terhadap al-mizan yang bisa kami sampaikan. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan dan diberi hidayah untuk beramal shalih sehingga memperberat timbangan amal kebaikan kita pada hari kiamat kelak. Aamiin.

[Selesai]

***

Baca juga:

  1. Kemuliaan Sejati Tempatnya Di Akhirat
  2. Balasan Segera di Dunia Menghilangkan Balasan di Akhirat?
  3. Bandingan Nikmat Dunia dan Akhirat

Diselesaikan di siang hari, Rotterdam NL, 10 Rabi’ul akhir 1439/ 29 Desember 2017

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

Pembahasan ini kami himpun dari kitab Al-Imaan bimaa Ba’dal Maut: Masaa’il wa Dalaa’il, karya Ahmad bin Muhammad bin Shadiq An-Najaar, cet. Daar An-Nashihah tahun 1434, hal. 195-209.

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 - sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »