Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’ala

Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’ala

Di antara keutamaan mengenal dan mengetahui nama-nama Allah Ta’ala adalah besarnya pahala bagi siapa saja yang menghitung nama-nama Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَة وَتِسْعِينَ اِسْمًا ، مِائَة إِلَّا وَاحِدًا ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة

”Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitungnya, niscaya masuk surga(HR. Bukhari no. 2736, 7392 dan Muslim no. 6986).

Pengertian “Menghitung” Nama Allah

Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan “menghitung” dalam hadits di atas tidak hanya sekedar menghafal nama-nama Allah Ta’ala saja, namun di dalamnya mencakup memahami nama-nama Allah tersebut, baik secara lafaz maupun maknanya dan beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan konsekuensi dari nama-nama Allah tersebut. Hal itu tidak akan kita dapatkan kecuali dengan mempelajarinya. (Lihat Syarh Al-Qawaa’idul Mutsla, hal. 105)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa “menghitung” dalam hadits di atas memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama, menghitung (menghafal) lafaz dan bilangannya. Tingkatan ke dua, memahami makna dan kandungan di dalamnya. Tingkatan ke tiga, berdoa atau beribadah dengannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

”Hanya milik Allah-lah nama-nama yang husna. Maka berdoalah kamu dengannya” (QS. Al-A’raf [7]: 180). (Lihat Badaai’ul Fawaaid, 1/171)

Jumlah Nama Allah Ta’ala

Masalah lain yang perlu dicermati adalah hadits di atas tidaklah menunjukkan bahwa nama Allah Ta’ala hanya berjumlah 99 saja, akan tetapi maksud hadits di atas adalah Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang husna. Di antaranya ada 99 nama, barangsiapa yang menghitungnya maka akan masuk surga, sehingga hal ini tidaklah berarti bahwa tidak ada nama-nama Allah Ta’ala yang lain selain ke-99 nama tersebut. Sejenis dengan ungkapan dalam hadits tersebut adalah perkataan, ”Aku memiliki uang 100 dirham yang aku gunakan untuk bersedekah”. Perkataan tersebut tidak menafikan bahwa orang tersebut memiliki uang lebih dari 100 dirham, namun dari sejumlah uang yang dimilikinya, yang disedekahkan hanya 100 dirham. Makna perkataan tersebut bukanlah, ”Aku tidak memiliki uang kecuali 100 dirham saja”, karena bisa jadi dia memiliki uang 1000 dirham. (Lihat Syarh Al-Qowaa’idul Mutsla, hal. 80)

Bukti lainnya adalah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak pernah menyebutkan secara rinci tentang ke-99 nama Allah Ta’ala yang beliau maksudkan. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan rincian tentang ke-99 nama Allah Ta’ala tersebut adalah hadits yang dha’if sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama ahli hadits.

Rincian ke-99 nama Allah Ta’ala tersebut merupakan medan bagi para ulama rahimahumullah untuk berijtihad dalam menentukan dan mengumpulkan ke-99 nama yang dimaksudkan dalam hadits tersebut. Kita jumpai hasil ijtihad para ulama yang berbeda-beda dalam menentukan ke-99 nama tersebut. Di antara ulama ada yang memasukkan nama Allah tertentu, namun tidak dimasukkan oleh ulama yang lainnya dan demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, apabila kita kumpulkan daftar semua nama-nama Allah Ta’ala yang disebutkan oleh para ulama, pasti akan lebih dari sembilan puluh sembilan nama. (Lihat Syarh Al-Qawaa’idul Mutsla, hal. 78-97)

An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّ هَذَا الْحَدِيث لَيْسَ فِيهِ حَصْر لِأَسْمَائِهِ سُبْحَانه وَتَعَالَى ، فَلَيْسَ مَعْنَاهُ : أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَسْمَاء غَيْر هَذِهِ التِّسْعَة وَالتِّسْعِينَ ، وَإِنَّمَا مَقْصُود الْحَدِيث أَنَّ هَذِهِ التِّسْعَة وَالتِّسْعِينَ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة ، فَالْمُرَاد الْإِخْبَار عَنْ دُخُول الْجَنَّة بِإِحْصَائِهَا لَا الْإِخْبَار بِحَصْرِ الْأَسْمَاء

“Ulama bersepakat bahwa hadits ini tidak menunjukkan pembatasan nama Allah Ta’ala. Tidaklah maknanya bahwa Allah tidak memiliki nama selain ke-99 nama tersebut. Makna hadits tersebut adalah barangsiapa yang menghitung ke-99 nama tersebut maka masuk surga, sehingga yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah kabar masuk surga bagi yang menghitung nama Allah, bukan pembatasan nama Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 9/39)

Akan tetapi, klaim adanya kesepakatan (ijma’) ulama dalam masalah ini perlu ditinjau kembali, karena sebagian ulama di antaranya Ibnu Hazm rahimahullah, berpendapat bahwa nama Allah Ta’ala hanya 99 saja. Meskipun tidak diragukan lagi bahwa pendapat beliau dalam masalah ini tidak tepat sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat.

***

Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL 12 Shofar 1439/2 November 2017

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

 

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 - sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »