Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan

Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan

Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Soal:

Sebagian orang mengatakan bahwa meminta hajat dari orang yang sudah meninggal itu boleh dengan dalil hadits:

إذا تحيرتم في الأمور فاستعينوا بأهل القبور

Jika engkau memiliki urusan-urusan yang membingungkan, mintalah pertolongan kepada penghuni kubur

Apakah hadits ini sahih atau tidak?

Jawab:

Hadits ini termasuk di antara hadits-hadits yang merupakan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana telah diperingatkan oleh lebih dari satu ulama dalam hal ini.

Di antaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala, dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 356, setelah beliau menyebutkan hadits tersebut beliau mengatakan:

هذا الحديث كذب مفترى على النبي صلى الله عليه وسلم بإجماع العارفين بحديثه لم يروه أحد من العلماء بذلك ولا يوجد في شيء من كتب الحديث المعتمدة

“Hadits ini adalah dusta yang direka-reka atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pernyataan tentang dustanya hal ini merupakan ijma para ulama ahli hadits. Hadits ini tidak pernah diriwayatkan oleh seorang ulama pun dan tidak terdapat satu pun di dalam kitab-kitab hadits yang menjadi pegangan.”

Hadits palsu ini bertentangan dengan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan wajibnya ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan haramnya berbuat syirik. Tidak diragukan lagi bahwa berdoa kepada orang-orang yang sudah mati dan ber-istighatsah kepada mereka serta memohon agar diberi jalan keluar kepada mereka dalam menghadapi bencana dan kesulitan adalah bentuk kesyirikan yang besar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula berdoa kepada mereka dalam keadaan lapang termasuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang-orang musyrik zaman dahulu ketika menghadapi kesulitan yang sangat sulit, mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata. Akan tetapi, ketika kesulitan sudah berakhir mereka berbuat syirik kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-Ankabut: 65).

Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali.

Adapun orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka berbuat kesyirikan terus-menerus baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Bahkan dalam keadaan sempit kesyirikan mereka bertambah parah. Wal’iyyadzu billah. Hal ini menjelaskan bahwa kekufuran orang musyrik zaman ini lebih parah daripada orang musyrik zaman dahulu dari sisi ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ  الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (QS. Az-Zumar: 2-3).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ * إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui” (QS. Fathir: 13-14).

Ayat-ayat ini mencakup semua hal yang disembah selain Allah. Baik itu para nabi, orang-orang shalih atau selain mereka. Allah tidak hanya menjelaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan kesyirikan, namun menjelaskan bahwa ia adalah kekufuran. Dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung” (QS. Al-Mu’minun: 117).

Ayat-ayat ini menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dan menjelaskan bahwa doa hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh kepada selain-Nya. Selain itu, juga menunjukkan haramnya beribadah kepada selain Allah, baik kepada orang-orang yang sudah mati, berhala, pohon-pohon keramat, batu-batu keramat dan semisalnya. Ayat-ayat yang demikian ini sangat banyak bagi orang yang menadaburkan Al Qur’an dan ingin mencari hidayah dari Al Qur’an.

Wallahul musta’an, wa laahaula walaaquwwata illa billah.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/96

Penulis: Yulian Purnama
Artikel: Muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Yulian Purnama

Alumni Ma’had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

View all posts by Yulian Purnama »