Penjelasan Hadits “Mintalah Fatwa Pada Hatimu” – Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Penjelasan Hadits “Mintalah Fatwa Pada Hatimu”

Nabi bersabda: "Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu, karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu". Bagaimana penjelasannya?

432 0

Mintalah Fatwa Pada Hatimu Jawaban Arti Hadits ๘ฏ๘น ๙…๘ง ๙š๘ฑ๙š๘จ๙ƒ Fatfa Dlm Hatimu Syaikh Muhammad Ibn Shalih Al Utsaimin

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ูŠูŽุง ูˆูŽุงุจูุตูŽุฉู ุงุณู’ุชูŽูู’ุชู ู‚ูŽู„ู’ุจูŽูƒูŽ ูˆูŽุงุณู’ุชูŽูู’ุชู ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ู…ูŽุฑูŽู‘ุงุชู ุงู„ู’ุจูุฑูู‘ ู…ูŽุง ุงุทู’ู…ูŽุฃูŽู†ูŽู‘ุชู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ู†ูŽู‘ูู’ุณู ูˆูŽุงู„ู’ุฅูุซู’ู…ู ู…ูŽุง ุญูŽุงูƒูŽ ูููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ูู’ุณู ูˆูŽุชูŽุฑูŽุฏูŽู‘ุฏูŽ ูููŠ ุงู„ุตูŽู‘ุฏู’ุฑู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽูู’ุชูŽุงูƒูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูˆูŽุฃูŽูู’ุชูŽูˆู’ูƒูŽ

Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa” (HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhibย [1734] mengatakan: “hasan li ghairihi“).

Apa maksud “minta fatwa pada hati“? Kalau seseorang dalam hatinya merasa shalat itu tidak nyaman, sulit, capek, lalu akhirnya boleh tidak shalat? Kalau seorang wanita minta fatwa pada hatinya lalu hatinya mengatakan tidak usah pakai jilbab, lalu kemudian boleh tidak pakai jilbab? Apakah patokan benar-salah itu hati atau perasaan?

Demikianlah hadits ini jika dipahami serampangan akan menimbulkan pemahaman yang keliru.

Wajibnya mengikuti dalil, bukan perasaan

Ketika dihadapkan pada suatu pilihan antara benar dan salah, seorang Muslim wajib mengikuti dalil, bukan mengikuti perasaan. Allah Taโ€™ala berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูุจู’ุทูู„ููˆุง ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽูƒูู…ู’

โ€œHai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmuโ€ (Qs. Muhammad: 33).

Ia juga berfirman:

ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูู…ู’ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ูู†ูŽุง ุงู„ู’ุจูŽู„ูŽุงุบู ุงู„ู’ู…ูุจููŠู†ู

โ€œDan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terangโ€ (Qs. At Taghabun: 12).

Allah Taโ€™ala juga berfirman:

ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงุฒูŽุนู’ุชูู…ู’ ูููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ููŽุฑูุฏูู‘ูˆู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ุฑูŽู‘ุณููˆู„ู ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขุฎูุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ุชูŽุฃู’ูˆููŠู„ู‹ุง

โ€œJika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qurโ€™an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.โ€ (QS. An Nisa: 59).

Ayat-ayat ini menegaskan wajibnya kita sebagai hamba Allah untuk mengikuti dalil, yaitu firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Syaikh Abdurrahman As Saโ€™di menjelaskan: โ€œAllah Taโ€™ala memerintahkan kaum muโ€™minin dengan suatu perkara yang membuat iman menjadi sempurna, dan bisa mewujudkan kebahagiaan bagi mereka di dunia dan akhirat, yaitu: menaati Allah dan menaati Rasul-Nya dalam perkara-perkara pokok agama maupun dalam perkara cabangnya. Taat artinya menjalankan setiap apa yang diperintahkan dan menjauhi segala apa yang dilarang sesuai dengan tuntunannya dengan penuh keikhlasan dan pengikutan yang sempurnaโ€ (Taisir Karimirrahman, 789).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyatakan, โ€œsudah menjadi kewajiban bagi setiap hamba dalam agamanya untuk mengikuti firman Allah Taโ€™ala dan sabda Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu โ€˜alaihi Wasallam, dan mengiktuti para Khulafa Ar Rasyidin yaitu para sahabat sepeninggal beliau, dan juga mengikuti para tabiโ€™in yang mengikuti mereka dengan ihsanโ€ (Fathu Rabbil Bariyyah, 7).

Penjelasan para ulama

Lalu bagaimana dengan hadits di atas? Apakah menunjukkan bahwa perasaan itu bisa menentukan benar dan salah?ย Kita lihat bagaimana para ulama menjelaskan hadits ini.

Para ulama menjelaskan bahwa hadits iniย tidak berlaku pada semua orang dan semua keadaan, melainkan sebagai berikut:

1. Berlaku bagi orang yangย shalih, bukan pelaku maksiat yang hatinya kotor

Orang yang shalih, yang hatinya bersih dan masih di atas fitrah, akan resah dan bimbang hatinya ketika berbuat dosa. Maka hadits ini berlaku bagi orang yang demikian, sehingga ketika orang yang sifatnya demikian melakukan sesuatu yang membuat hatinya resah dan bimbang, bisa jadi itu sebuah dosa.

Al Munawi mengatakan:

(ุงุณุชูุช ู†ูุณูƒ) ุงู„ู…ุทู…ุฆู†ุฉ ุงู„ู…ูˆู‡ูˆุจุฉ ู†ูˆุฑุง ูŠูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุญู‚ ูˆุงู„ุจุงุทู„ ูˆุงู„ุตุฏู‚ ูˆุงู„ูƒุฐุจ ุฅุฐ ุงู„ุฎุทุงุจ ู„ูˆุงุจุตุฉ ูˆู‡ูˆ ูŠุชุตู ุจุฐู„ูƒ

“‘mintalah fatwa pada hatimu‘, yaitu hati yang tenang dan hati yang dikaruniai cahaya, yang bisa membedakan yang haq dan yang batil, yang benar dan yang dusta. Oleh karena itu disini Nabi berbicara demikian kepada Wabishah yang memang memiliki sifat tersebut” (Faidhul Qadir, 1/495).

Wabishah bin Maโ€™bad bin Malik bin โ€˜Ubaid Al-โ€˜Asadi radhiallahu’anhu, adalah seorang sahabat Nabi, generasi terbaik yang diridhai oleh Allah. Beliau juga dikenalย ahli ibadah dan sangat wara’. Maka layaklah Nabi bersabda ‘mintalah fatwa pada hatimu‘ kepada beliau.

Ibnu Allan Asy Syafi’i mengatakan:

ู‚ุงู„: ุงุณุชูุช ู‚ู„ุจูƒ) ุฃูŠ ุงุทู„ุจ ุงู„ูุชูˆู‰ ู…ู†ู‡ุŒ ูˆููŠู‡ ุฅูŠู…ุงุก ุฅู„ู‰ ุจู‚ุงุก ู‚ู„ุจ ุงู„ู…ุฎุงุทุจ ุนู„ู‰ ุฃุตู„ ุตูุงุก ูุทุฑุชู‡ ูˆุนุฏู… ุชุฏู†ุณู‡ ุจุดู‰ุก ู…ู† ุขูุงุช ุงู„ู‡ูˆู‰ ุงู„ู…ูˆู‚ุนุฉ ููŠู…ุง ู„ุง ูŠุฑุถู‰ุŒ ุซู… ุจูŠู† ู†ุชูŠุฌุฉ ุงู„ุงุณุชูุชุงุก ูˆุฃู† ููŠู‡ ุจูŠุงู† ู…ุง ุณุฃู„ ุนู†ู‡

“Sabda beliau ‘istafti qalbak‘, maknanya: mintalah fatwa pada hatimu. Ini merupakan isyarat tentang keadaan hati orang yang ajak bicara (Wabishah) bahwa hatinya masih suci di atas fitrah, belum terkotori oleh hawa nafsu terhadap sesuatu yang tidak diridhai Allah, lalu Nabi menjelaskan buah dari meminta fatwa dari hati yang demikian, dan bahwasanya di sana ada jawaban dari apa yang ia tanyakan” (Dalilul Falihin, 5/34).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

ูˆู‡ุฐุง ููŠู…ู† ู†ูุณู‡ ู…ุทู…ุฆู†ุฉ ุฑุงุถูŠุฉ ุจุดุฑุน ุงู„ู„ู‡. ูˆุฃู…ุง ุฃู‡ู„ ุงู„ูุณูˆู‚ ูˆุงู„ูุฌูˆุฑ ูุฅู†ู‡ู… ู„ุง ูŠุชุฑุฏุฏูˆู† ููŠ ุงู„ุขุซุงู…ุŒ ุชุฌุฏ ุงู„ุฅู†ุณุงู†ย ู…ู†ู‡ู… ูŠูุนู„ ุงู„ู…ุนุตูŠุฉ ู…ู†ุดุฑุญุงู‹ ุจู‡ุง ุตุฏุฑู‡ ูˆุงู„ุนูŠุงุฐ ุจุงู„ู„ู‡ุŒ ู„ุง ูŠุจุงู„ูŠ ุจุฐู„ูƒุŒ ู„ูƒู† ุตุงุญุจูŽ ุงู„ุฎูŠุฑ ุงู„ุฐูŠ ูˆููู‚ ู„ู„ุจุฑ ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠุชุฑุฏุฏ ุงู„ุดูŠุก ููŠ ู†ูุณู‡ุŒ ูˆู„ุง ุชุทู…ุฆู† ุฅู„ูŠู‡ุŒ ูˆูŠุญูŠูƒ ููŠ ุตุฏุฑู‡ุŒ ูู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฅุซู…

“Ini berlaku bagi orang yang jiwanya baik dan ridha terhadap syariat Allah. Adapun orang fasiq (yang gemar melanggar syariat Allah) dan fajir (ahli maksiat) mereka tidak bimbang dalam melakukan dosa. Engkau temui sebagian orang ketika melakukan maksiat mereka melakukannya dengan lapang dada, wal ‘iyyadzu billah. Maka ini tidak teranggap. Namun yang dimaksud di sini adalah pecinta kebaikan yang diberi taufik dalam kebaikan yang resah ketika melakukan kesalahan, hatinya tidak tenang, dan sesak dadanya, maka ketika itu, itulah dosa”(Syarah Riyadish Shalihin, 3/498-499).

Maka jika kita tahu bahwa diri kita masih sering melakukan maksiat, sering melanggar ajaran Allah, sering meremehkan ajaran agama, sering ragu terhadap kebenaran ajaran agama, jangan ikuti kata hati kita. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaiminย menjelaskan:

ุฅุฐุง ุนู„ู…ุช ุฃู† ููŠ ู†ูุณูƒ ู…ุฑุถุงู‹ ู…ู† ุงู„ูˆุณูˆุงุณ ูˆุงู„ุดูƒ ูˆุงู„ุชุฑุฏุฏ ููŠู…ุง ุฃุญู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูู„ุง ุชู„ุชูุช ู„ู‡ุฐุงุŒ ูˆุงู„ู†ุจูŠ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุฅู†ู…ุง ูŠุฎุงุทุจ ุงู„ู†ุงุณุŒ ุฃูˆ ูŠุชูƒู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ูˆุฌู‡ ุงู„ุฐูŠ ู„ูŠุณ ููŠู‡ ุฃู…ุฑุงุถุŒ ุฃูŠ ู„ูŠุณ ููŠ ู‚ู„ุจ ุตุงุญุจู‡ ู…ุฑุถ

“Jika engkau mengetahui bahwa hatimu itu penuh penyakit, berupa was-was, ragu, dan bimbang terhadap apa yang Allah halalkan, maka jangan ikuti hatimu. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di sini berbicara kepada orang yang di hatinya tidak ada penyakit hati”(Syarah Riyadish Shalihin, 3/499)

2. Berlaku bagi orang yang memiliki ilmu agama

Orang yang memiliki ilmu agama mengetahui yang halal dan yang haram. Mengetahui batasan-batasan Allah. Mengetahui hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Makaย dengan ilmu yang miliki tersebut tentu ia akan merasa tidak tenangย jika melakukan sesuatu yang melanggar ajaran agama. Berbeda dengan orang yang jahil yang tidak paham agama, tidak paham hak-hak Allah dan hak-hak hamba, ketika melakukan kesalahan dan dosa ia merasa biasa saja atau bahkan merasa melakukan kebenaran.

Abul Abbas Dhiyauddin Al Qurthubi mengatakan:

ุงุณุชูุช ู‚ู„ุจูƒ ูˆุฅู† ุฃูุชูˆูƒ . ู„ูƒู† ู‡ุฐุง ุฅู†ู…ุง ูŠุตุฌ ู…ู…ู† ู†ูˆู‘ูŽุฑ ุงู„ู„ู‡ ู‚ู„ุจู‡ ุจุงู„ุนู„ู… ุŒ ูˆุฒูŠู† ุฌูˆุงุฑุญู‡ ุจุงู„ูˆุฑุน ุŒ ุจุญูŠุซ ูŠุฌุฏ ู„ู„ุดุจู‡ุฉ ุฃุซุฑู‹ุง ููŠ ู‚ู„ุจู‡ . ูƒู…ุง ูŠุญูƒู‰ ุนู† ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุณู„ู ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ู‘ูŽุฉ

“‘mintalah fatwa pada hatimu, walaupun orang-orang memberimu fatwa‘. ini hanya berlaku bagi orang diberi cahaya oleh Allah berupa ilmu (agama). Dan menghiasi raganya dengan sifat wara’. Karena ketika ia menjumpai sebuah syubhat, itu akan mempengaruhi hatinya. Demikianlah yang terjadi pada kebanyakan para salaf umat ini” (Al Mufhim limaa Asykala min Talkhis Kitab Muslim, 14/114).

3. Berlaku pada perkara-perkara syubhat, bukan perkara yang sudah jelas hukumnya

Sebagaimana dijelaskan Abul Abbas Al Qurthubi di atas, hadits ini berlaku pada perkara-perkara yang syubhat, yang belum diketahui pasti oleh seseorang antara halal-haramnya, boleh-tidaknya. Bukan perkara-perkara yang sudah jelas hukumnya.

Oleh karena itu para ulama menggolongkan hadits ini sebagai hadits anjuran menjauhi syubhat. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad menjelaskan,

ู‚ูˆู„ู‡: “ูˆุงู„ุฅุซู…ู ู…ุง ุญุงูƒ ููŠ ู†ูุณูƒ ูˆูƒุฑู‡ุช ุฃู† ูŠุทู‘ูŽู„ุน ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุงุณ”ุŒ ู…ู† ุงู„ุฅุซู… ู…ุง ูŠูƒูˆู† ูˆุงุถุญุงู‹ ุฌู„ูŠู‘ู‹ุงุŒ ูˆู…ู†ู‡ ู…ุง ูŠุญูˆูƒ ููŠ ุงู„ุตุฏุฑ ูˆู„ุง ุชุทู…ุฆู†ู‘ู ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ู†ูุณุŒ ูˆูŠูƒุฑู‡ ุงู„ุฅู†ุณุงู†ู ุฃู† ูŠุทู‘ูŽู„ุน ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุงุณุ› ู„ุฃู†ู‘ูŽู‡ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูุณุชุญูŠุง ู…ู† ูุนู„ู‡ุŒ ููŠุฎุดู‰ ุตุงุญุจูู‡ ุฃู„ุณู†ุฉูŽ ุงู„ู†ุงุณ ููŠ ู†ูŠู„ู‡ู… ู…ู†ู‡ุŒ ูˆู‡ูˆ ุดุจูŠู‡ ุจู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ุงู„ู…ุงุถูŠุฉ: “ูู…ูŽู† ุงุชู‘ูŽู‚ู‰ ุงู„ุดุจู‡ุงุช ูู‚ุฏ ุงุณุชุจุฑุฃ ู„ุฏูŠู†ู‡ ูˆุนุฑุถู‡”ุŒ ูˆ “ุฏุน ู…ุง ูŠุฑูŠุจููƒ ุฅู„ู‰ ู…ุง ู„ุง ูŠุฑูŠุจูƒ”ุŒ ูˆ “ุฅู†ู‘ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃุฏุฑูƒ ุงู„ู†ุงุณ ู…ู† ูƒู„ุงู… ุงู„ู†ุจูˆุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฅุฐุง ู„ู… ุชุณุชุญ ูุงุตู†ุน ู…ุง ุดุฆุช”

“Sabda Nabi: ‘Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan engkau tidak ingin diketahui oleh orang‘. Ada dosa yang sudah jelas hukumnya. Ada pula dosa (yang tidak jelas) yang membuat hati resah dan menyesakkan dada, dan ia tidak ingin diketahui orang-orang karena ia malu melakukannya di depan orang-orang. Ia khawatir orang-orang membicarakan perbuatannya tersebut. Maka ini semisal dengan hadits-hadits yang dibahas sebelumnya, yaitu hadits:

ูู…ูŽู† ุงุชู‘ูŽู‚ู‰ ุงู„ุดุจู‡ุงุช ูู‚ุฏ ุงุณุชุจุฑุฃ ู„ุฏูŠู†ู‡ ูˆุนุฑุถู‡

barangsiapa yang menjauhkan diri dari syubhat maka ia menyelamatkan agamanya dan kehormatannya

Dan hadits:

ุฏุน ู…ุง ูŠุฑูŠุจููƒ ุฅู„ู‰ ู…ุง ู„ุง ูŠุฑูŠุจูƒ

tinggalkan yang meragukan dan ambil yang tidak meragukan

Dan hadits;

ุฅู†ู‘ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃุฏุฑูƒ ุงู„ู†ุงุณ ู…ู† ูƒู„ุงู… ุงู„ู†ุจูˆุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฅุฐุง ู„ู… ุชุณุชุญ ูุงุตู†ุน ู…ุง ุดุฆุช

Diantara perkataan para Nabi terdahulu yang diketahui manusia adalah: jika engkau tidak tahu malu maka berbuatlah sesukamu”ย (Fathul Qawiyyil Matin, 1/93).

Maka perkara-perkara seperti haramnya berbuat syirik, wajibnya memakai jilbab bagi wanita, wajibnya shalat berjamaah, wajibnya puasa Ramadhan, haramnya memilih pemimpin kafir, ini semua tidak semestinya seseorang meminta fatwa pada hatinya karena sudah jelasย hukumnya.

Wabillahi at taufiq was sadaad.

***

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id


Dukung pendidikan Islam yang berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih dengan mendukung pembangunanย SDIT YaaBunayya Yogyakartaย http://bit.ly/YaaBunayya  

Mintalah Fatwa Kepada Hati Mintalah Fatwa Kepada Hatimu Mintalah Fatwa Pada Diri Sendiri Dalam Islam Mintalah Fatwa Pada Dirimu Sendiri Mintalah Fatwa Kepada Hatimu Hadis

In this article

Join the Conversation

Shares