Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab (7)

Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab (7)

Nabi Memerintahkan Utusannya untuk Mengingkari Pengguna Jimat, tanpa Menyuruhnya Menanyakan Apakah Penggunanya Berkeyakinan Jimat Sebagai Sebab Saja atau Tidak

Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Abu Basyir Al-Anshari raiyallāhu ‘anhu bahwa dia pernah bersama Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan berikut.

أن لا يَبْقَيَنَّ في رقبةِ بعيرٍ قِلادةٌ من وَتَر أو قلادةٌ إلا قُطِعَتْ

Agar tidak terdapat lagi di leher unta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun melainkan harus diputuskan.1.

Dahulu, menggantungkan jimat berupa tali busur panah di leher unta merupakan sesuatu yang telah dikenal di bangsa Arab. Sedangkan Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang paling memahami hakikat kesyirikan dan bentuk-bentuknya, sekaligus sosok panutan yang paling semangat memberantas kesyirikan, maka pantaslah jika beliau melarang bentuk kesyirikan yang terjadi saat itu dan mengutus utusan untuk mengingkari dan memberantas jimat tersebut.

Perhatikanlah bagaimana cara Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam mengingkari pengguna jimat yang mengalungkan jimat tali busur panah di leher unta, dengan harapan unta tersebut selamat dari serangan penyakit a‘in. Beliau allallāhu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyuruh utusannya untuk menanyakan kepada pengguna jimat tersebut apakah Anda meyakini jimat itu sebagai sebab saja.

Hal ini menunjukkan bahwa walaupun pengguna jimat berkeyakinan bahwa jimat itu sebagai sebab semata, tetaplah hukumnya syirik dan wajib diingkari.

Wasiat Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam Bahwa Beliau Menyatakan Berlepas Diri dari Pemakai Jimat.

Perhatikan pula di bawah ini hadis Ruwaifi’ yang semisal dengan hadis di atas. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ruwaifi’ raiyallāhu‘anhu berkata bahwa Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku,

يا رويفع، لعل الحياة تطول بك فأخبر الناس أن من عقد لحيته أو تقلَّد وتراً أو استنجى برجيعِ دابةٍ أو عظمٍ فإن محمداً بريء منه

Wahai Ruwaifi’, semoga engkau berumur panjang, oleh karena itu sampaikanlah kepada orang-orang bahwa barangsiapa yang mengikat jenggotnya (untuk menyombongkan diri) atau memakai kalung dari tali busur panah, atau bersuci dari buang air dengan kotoran binatang atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri dari orang tersebut2 (HR. Imam Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani).

Hadis yang agung ini mengandung kabar bahwa Ruwaifi’ raiyallāhu’anhu akan menemui orang-orang yang menyelisihi petunjuk Rasulullah allallāhu’alaihi wa sallam, di antaranya adalah orang yang memakai kalung jimat dari tali busur panah, maka Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam berwasiat agar ia menyampaikan kepada pelakunya bahwa Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya.

Dengan demikian, hadis yang agung ini menunjukkan bahwa memakai jimat adalah terlarang, karena hal itu merupakan bentuk kesyirikan. Dan jenis syirik memakai jimat itu walaupun syirik kecil, namun sesungguhnya itu termasuk dosa besar, karena dalam hadis ini Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan berlepas diri dari pelakunya. Dan syirik kecil dalam perbuatan memakai jimat bisa berubah menjadi syirik besar jika berubah keyakinan pemakainya, sebagaimana hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

1. Pengingkaran dengan Perbuatan

Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam Mengingkari Pengguna Jimat dengan Perbuatan Beliau Langsung, tanpa Bertanya Apakah Jimat itu Diyakini Hanya Sebagai Sebab atau Tidak

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani bahwa sekelompok orang menemui Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam, lalu beliaupun membai’at sembilan orang di antara mereka dan beliau enggan membai’at satu orang (dari mereka). Orang-orangpun bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda membai’at sembilan orang dan membiarkan (satu) orang ini?”

Beliaupun menjawab,

إن عليه تميمة

“Pada dirinya terdapat tamimah (jimat)!”

Lalu orang itupun memasukkan tangannya kemudian memutuskan jimat itu. Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

من علق تميمة فقد أشرك

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah melakukan kesyirikan” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Al-Albani)3.

Dalam hadis inipun, dalam mengingkari pemakai jimat, Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah ﷻ atau tidak. Yang disebutkan dalam hadis ini adalah begitu beliau mengetahui bahwa di tubuh orang itu terdapat jimat, maka beliau pun langsung mengingkarinya, dengan cara tidak membaiatnya sampai ia memutuskan jimat tersebut.

Renungan

Demikian ringannya hati pemakai jimat tersebut untuk memutuskan jimatnya demi taat kepada Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam, lillahi ta’ala, lalu bagaimana dengan para pemakai jimat pada zaman sekarang?

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

_____

 

  1. Terjemah Matan kitab Tauhid, M.Yusuf Harun,MA dan http://madrasato-mohammed.com/mawsoaat_tawheed_03/pg_021_0008.htm
  2. Terjemah Matan kitab Tauhid, M.Yusuf Harun,MA dan http://madrasato-mohammed.com/mawsoaat_tawheed_03/pg_021_0008.htm
  3. Web: https://Islamqa.info/ar/10543
Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma’had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma’had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

View all posts by Sa'id Abu Ukkasyah »