Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Jika Pada Hari “Syak” Ternyata Sudah Masuk Ramadhan

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK oleh dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK
5 Juni 2016
di Fikih Ibadah
tahun hijriyah
Share on FacebookShare on Twitter

Hari “syak” adalah sehari sebelum perkiraan masuk Ramadhan, umumnya pada tanggal 30 Sya’ban. kita dilarang berpuasa pada hari ini, sahabat Amar bin Yasir berkata,

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Siapa yang puasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Bukhari secara Muallaq, 3/27).

Disebut “syak” (ragu-ragu) karena memang bisa jadi hari itu sudah masuk Ramadhan atau belum masuk Ramadhan. Berikut rincian pada hari “syak”. Misalnya ada seseorang tidak berpuasa di hari “syak”, ternyata baru dapat berita siang harinya (dia tidak berpuasa pada hari itu), ternyata hari itu sudah masuk Bulan Ramadhan, sedangkan dia tidak berpuasa.

Berikut pembahasannya dalam Shahih Fiqhus Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim mengatakan:

إذا تبيَّن في يوم الشك أنه من رمضان كأن يكون الذي رأى الهلال لم يحضر عند القاضي إلا في أثناء النهار، أو أن يروا الهلال من النهار –قبل الزوال- ونحو ذلك، فلا يخلو من أحد أربعة:

Jika sudah jelas pada hari “syak” sudah masuk bulan Ramadhan. Misalnya ada yang melihat hilal dan baru menyampaikannya kepada qhadi (pemerintah) pada siang harinya atau melihat hilal pada siang hari sebelum matahari tegelincir atau sejenisnya. Maka tidak terlepas dari 4 keadaan:

1- أن يكون قد صام يوم الشك بنية أنه من رمضان –كما هو مذهب الحنابلة- فهذا يجزئه صيامه بلا خلاف.

2- أن يكون قد صام هذا اليوم تطوعًا أو بنية معلقة، فذهب الجمهور إلى أنه لا يجزئه لأنه يجب تعيين النية واعتقاد أنه يصوم رمضان

وقال أبو حنيفة: يجزئه –بناء على أصله في عدم اشتراط النية في رمضان- والإجزاء رواية عن أحمد وهو اختيار شيخ الإسلا، قلت: والأول أظهر من جهة الدليل.

3- أن يصبح ناويًا الإفطار ثم يتيقن أثناء النهار –وقبل أن يطعم أو يشرب شيئًا- أنه رمضان، فقال الشافعي: يتم صومه وعليه الإعادة لأنه لم يبيت النية، وقال أبو حنيفة يجزئه.

4- أن يصبح مفطرًا ثم يتيقن أثناء النهار أنه من رمضان بعد ما طعم وشرب، فيجب عليك الإمساك بقية يومه بلا خلاف، لحديث سلمة بن الأكوع قال: «أمر النبي صلى الله عليه وسلم رجلاً من أسلم أن أذن في الناس: أن من أكل فليصم بقية يومه، ومن لم يكن أكل فليصم، فإنه اليوم يوم عاشوراء» وقد كان واجبًا حينها، ثم عليه قضاء هذا اليوم لأنه لم يبيِّت النية من الليل، وهذا مذهب الشافعية والحنابلة وذهب شيخ الإسلام ابن تيمي إلى أنه لا يلزمه –والحالة هذه- أن يقضيه، لأن القضاء يفتقر إلى دليل –لا سيما مع عدم التفريط- وأجاب عن عدم النية بأن النية تتبع العلم، وأن الله تعالى لا يكلف أحدًا أن ينوي ما لم يعلم، والعلم لم يحصل إلا أثناء النهار وهو مذهب وجيه، لكن الأحوط قضاؤه، والله أعلم.

  1. Bisa jadi ia puasa pada hari “syakk” (ia puasa pada siang hari itu) dan ternyata sudah masuk Ramadhan maka puasanya sah tanpa khilaf sebagaimana mazhab Hambali
  2. Ia puasa sunnah pada hari itu (hari syakk) atau puasa dengan niat “muallaq” (belum jelas dan ditentukan). Maka Jumhur berpendapat bahwa puasanya tidak sah saat itu karena ia wajib menentukan niat dan berkeyakinan bahwa hari itu sudah masuk bulan Ramadhan. (Al-Majmu’ 6/270).
    Abu Hanifah berkata, “Puasanya sah, berdasarkan pendapat hukum asalnya tidak ada syarat niat memasuki bulan Ramadhan.”. sebagaimana pendapat Ahmad dan yang dipilih oleh Syaikhu Islam Ibnu Taimiyyah (Al-Mabsuth 6/30)
    Penulis (Abu Malik Kamal bin As-Sayyid hafidzahullah ) berkata, “Pendapat pertama lebih kuat dari sisi dalil (yaitu tidak sah)”
  3. Hari itu ia berniat tidak puasa kemudian ia yakin bahwa hari ini sudah masuk Ramadhan akan tetapi ia belum makan dan minum. Maka Imam Asy-Syafi’i berpendapat, “hendaknya ia menyempurnakan (melanjutkan) puasanya dan ia wajib mengulang (qhada) karena ia belum berniat.”. sedangkan Abu Hanifah berpendapat puasanya sah pada hari itu
  4. Pada hari itu ia tidak berpuasa, kemudian ia yakin sudah masuk Ramadhan di siang harinya sedangkan ia sudah makan dan minum, maka wajib baginya menahan diri (dari pembatal puasa) di sisa hari itu (sampai berbuka). Pendapat ini tidak ada khilaf.
    Sebagaimana Hadits Salamah bin Akwa’,
    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada seseorang agar mengumumkan kepada manusia: bagi yang sudah makan hendaknya berpuasa disisa hari dan bagi yang belum makan dan minum hendaknya berpuasa. Karena hari ini adalah hari ‘Asyura’ (saat itu hukumnya masih Wajib). (HR. Bukhari no. 2007).Ini adalah kewajiban baginya dan wajib mengqhada puasa pada hari itu karena tidak berniat pada malam harinya. Ini adalah mazhab Syafi’i dan Hanabilah (Al-Umm 2/95, Al-Kaafi 1/350).

    Sedangkan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Majmu’ Fatawa 25/110) yang mewajibkan ia puasa pada hari itu dan tidak wajib mengqhadanya, karena dalil Syafi’iyyah dan Hanabilah yang mewajibkan qhada butuh dalil, lebih-lebih tanpa adanya kelalaian (karena memang tidak tahu sudah masuk Ramadhan).

    Dijawab (pendapat mereka) bahwa ini butuh niat dengan bahwa niat itu mengikuti ilmu. Allah tidak membebankan seseorang ia harus berniat apa yang ia tidak ketahui. Ilmu/berita tidaklah ada kecuali pada siang harinya. Inilah pendapat yang lebih tepat. Akan tetapi untuk lebih hati-hati sebaiknya mengqhada. Wallahu a’lam

***

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin1
dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Kedokteran Umum UGM, dosen di Universitas Mataram, kontributor majalah "Kesehatan Muslim"

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 4): Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
18 Juli 2026
0

Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguran Jika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan...

Fikih Akikah (Bag. 3): Karakteristik, Syarat-Syarat Hewan Akikah, dan Pembagian

oleh Luqman Hasan Nahari
17 Juli 2026
0

Karakteristik hewan akikah Sunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal...

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Artikel Selanjutnya

Ramadhan dan Al-Qur'an

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah