Kaidah-Kaidah Penting untuk Memahami Nama dan Sifat Allah (1)

Kaidah-kaidah ini pada awalnya ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, dan beliau menempatkannya di bagian awal kitab Syarah Lum’atul I’tiqaad. Adapun Syaikh Abdur Razzaaq adalah salah seorang pengajar yang menyertai dakwah Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah di Daarul Hadits As Salafiyah Yaman. Beliau menjelaskan kaidah-kaidah ini sebagai pengantar Syarah Lum’atul I’tiqaad dengan merujuk kepada penjelasan Syaikh ‘Utsaimin dalam Al Qawaa’idul Mutsla serta keterangan dari ulama’ lain yang juga sangat bermanfaat seperti Imam Ibnul Qayyim dan Ibnu Hajar -semoga Allah merahmati mereka semua-.

KAIDAH PERTAMA: Sikap yang wajib kita lakukan terhadap nash-nash Al Kitab dan As Sunnah yang berbicara tentang Nama dan Sifat Allah.

Dalam menyikapi nash-nash Al Kitab dan As Sunnah kita wajib membiarkan penunjukannya sebagaimana zhahir nash tanpa perlu menyimpangkan maksudnya. Ini adalah kaidah yang sangat penting. Penetapan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah termasuk perkara ghaib sehingga hal itu tidak bisa dijangkau dengan akal dan rasio semata.

Makna zhahir dari Nama dan Sifat tersebut hanya bisa dipahami melalui bahasa Arab, karena Al Qur’an turun dengan bahasa ini. Begitu pula Rasul yang kepada beliau diturunkan Al Qur’an adalah orang yang berbahasa Arab. Orang-orang yang diajak bicara oleh beliau di masa itu juga orang-orang yang berbahasa Arab. Mereka bisa memahami Al Qur’an dengan bahasa tersebut.

Allah Ta’ala berfirman, “Dia (Al Qur’an) dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syu’araa’: 193-195)

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az Zukhruf: 3)

Maka setiap muslim wajib memahami nash-nash sesuai dengan makna zhahirnya yaitu menurut bahasa Arab selama tidak ada dalil dari syar’i yang menghalanginya.

Yang dimaksud dengan makna zhahir dari pembicaraan adalah makna yang bisa langsung tergambar di dalam benak pikiran ketika mendengarnya. Dengan demikian makna zhahir itu bisa berbeda-beda tergantung kepada susunan kalimat dan menyesuaikan konteks pembicaraan serta kepada siapa ucapan tersebut disandarkan.

Contoh penerapannya adalah dalam firman Allah Ta’ala, “Tak ada suatu negeripun/qoryah (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya…” (QS. Al Israa’: 58)

Bandingkan dengan firman Allah yang berikut ini, “Sesungguhnya Kami akan menghancurkan penduduk (Sodom)/ahlul qoryah ini.” (QS. Al Ankabuut: 31). Di dalam kedua ayat ini kata ‘qoryah’ memiliki perbedaan maksud.

Begitu pula firman Allah Ta’ala, “Dan supaya kamu (Musa) diasuh di bawah pengawasan-Ku (‘alaa ‘ainy).” (QS. Thahaa: 39). Orang yang berakal tentu tidak akan mengatakan bahwa makna zhahir yang bisa langsung ditangkap dari ayat ini adalah Nabi Musa diciptakan di atas Mata Allah Ta’ala, tetapi makna zhahir yang pasti benar adalah Musa ‘alaihi salam dipelihara dan diciptakan Allah sementara Mata Allah senantiasa mengawasi dan melindunginya.

Begitu pula apabila ada orang yang berkata, ‘Si Fulan ‘alaa ‘ainy (di mataku)’ atau mengatakan ‘Dia tahta ‘ainy (di bawah penglihatanku)’. Maka tidak pernah anda dapatkan ada orang yang memahaminya dengan arti si fulan itu masuk di dalam matanya atau dibawah bola matanya.

Orang-orang yang mensikapi kaidah ini terbagi menjadi beberapa golongan:

Golongan pertama

Ahlu Sunnah wal Jama’ah As Salafiyyuun (pengikut Salaf). Mereka bersikap sebagaimana kaidah yang telah diterangkan.

Golongan kedua

Orang-orang yang memahami makna nash-nash Nama dan Sifat Allah mengarah kepada tamtsil (penyerupaan Allah dengan makhluk-pent). Sehingga apabila dia membaca firman Allah Ta’ala, “Bahkan kedua Tangan Allah terbentang.” (QS. Al Maa’idah: 64). Maka dia akan berkata, “Saya tidak memahami makna ‘Tangan’ kecuali dengan bentuk sebagaimana tangan saya ini, karena yang dinamai sama” (yaitu tangan-pent). Namun alasan ini terbantahkan oleh firman Allah Ta’ala, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy Syuura: 11)

Sebagaimana diketahui bahwa terkadang sesuatu yang namanya sama akan tetapi bentuk/kaifiyah-nya bisa jadi berbeda-beda. Seperti contohnya apabila anda menyebut ‘tangan manusia, tangan tikus, tangan gajah dan lain sebagainya…’ bukankah sesuatu yang dinamai sama (yaitu tangan-pent) sedangkan kaifiyahnya jelas berbeda-beda, sebagaimana hal itu bisa kita saksikan. Perbedaan semacam ini amat jelas terbukti ada pada sesama makhluk, lalu bagaimana pula dengan perbedaan yang ada antara Al Khaaliq (Pencipta) dengan makhluk?

Oleh karena itu Imam Ibnul Qayyim bersya’ir tentang permasalahan ini,

Kami (Ahlu Sunnah) tidaklah menyerupakanantara sifat Allah dan sifat ciptaanAdapun orang yang menyerupakan

sebenarnya merekalah penyembah berhala pujaan

Golongan ketiga

Orang-orang yang memahami makna nash-nash Nama dan Sifat Allah merupakan bentuk penyerupaan/tamtsil. Pemahaman seperti ini mendorong mereka untuk melakukan penolakan/ta’thil. Kemudian mereka berusaha menentukan makna lain yang bisa diterima oleh akal mereka, dan mereka pun berselisih dalam menentukannya. Mereka menyebut tindakan ini sebagai ta’wil/tafsir, padahal sesungguhnya mereka telah melakukan tahrif/penyimpangan. Alangkah benar ungkapan orang yang mengomentari tingkah mereka ini: Mereka itu bukan menolong Islam, tapi menghancurkan filsafat juga tidak.

Golongan ketiga ini telah mensifati Allah dengan sifat-sifat yang Dia sendiri tidak mensifati Diri-Nya dengannya, mereka juga mensifati Allah dengan sifat-sifat yang maknanya sama sekali tidak ditunjukkan oleh bahasa Arab. Ambil contoh firman Allah Ta’ala, “(yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam/istiwa’ di atas ‘arsy.” (QS. Thahaa: 5). Orang-orang yang melakukan ta’thil itu mengatakan, “Istiwa itu maksudnya istaula.” (berkuasa setelah berhasil menaklukkan lawan-pent). Mereka menolak makna yang benar dari lafazh istiwa’ yaitu: tinggi dan menetap dan inilah sifat yang pantas bagi Allah Ta’ala kemudian mereka justru menetapkan makna baru yang tidak benar dinisbatkan kepada Allah Ta’ala. Ini termasuk perkataan tentang Allah tanpa ilmu. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya.” (QS. Al Israa’: 36). Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah?” (QS. Al Baqarah 140)

Golongan keempat

Orang-orang yang menyatakan dirinya jahil/tidak mengetahui keinginan Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada lafazh, makna maupun kaifiyah Nama dan Sifat Allah. Mereka mengatakan, “Saya menyerahkan itu semua kepada Allah Ta’ala.” Mereka ini adalah golongan terjelek.

Konsekuensi dari pendapat mereka ini adalah para Sahabat tidak bisa memahami nash-nash yang ditujukan kepada mereka, sehingga Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengajak bicara mereka dengan sesuatu yang tidak mereka pahami, bahkan ini juga berarti sesuatu itupun tidak dipahami oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau jauh sekali dari tuduhan semacam ini!

Kalau kita mau merujuk kepada Kitabullah niscaya kita jumpai bahwa Allah senantiasa memerintahkan kita untuk memikirkan, merenungkan dan memahami Al Qur’an. Allah juga telah memerintahkan Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl: 44). Madzhab golongan ini merupakan madzhab yang batil, yang membuka celah yang lebar bagi munculnya berbagi macam kesesatan dan penyimpangan. Bacalah kitab Dar’u Ta’aarudhil ‘Aql wa Naql (Menepis dakwaan pertentangan antara akal dan dalil naql) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, di dalamnya beliau telah membongkar kebatilan golongan ini.

Bagaimanapun juga, tidak mengikuti madzhab salaf radhiyallahu ‘anhum termasuk dalam kategori penyimpangan/tahrif terhadap Kalam Allah ‘Azza wa Jalla dari maksud yang sebenarnya. Orang-orang yang melakukan tahrif ini sangat tercela, sebagaimana Allah Ta’ala telah mencela orang-orang Yahudi karena mereka mengubah-ubah/melakukan tahrif terhadap firman Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Apakah kamu masih mengharapkan mereka (Yahudi) percaya kepadamu (Muhammad), padahal segolongan dari mereka mendengar Firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 75)

–bersambung insya Allah–

***

Diterjemahkan dari Al Is’aad fii Syarhi Lum’atil I’tiqaad karya Syaikh Abdur Razzaaq bin Musa Al Jazaa’iri, oleh Abu Muslih Ari Wahyudi
Dipublikasikan oleh www.muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Muslim App
App Muslim.or.id

About Author

Ari Wahyudi, Ssi.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, pengajar Ma'had Umar bin Khathab Yogyakarta, alumni S1 Biologi UGM, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil", pembina Ma'had Al Mubarok Yogyakarta

View all posts by Ari Wahyudi, Ssi. »
  • netha

    bguz bgt, tp aqwh bngung ne, , ,
    yg qwh cri bkan ini

  • Ryo

    Ustadz.. mau nanya maksud dari kalimat ini ” Orang-orang yang menyatakan dirinya jahil/tidak mengetahui keinginan Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada lafazh, makna maupun kaifiyah Nama dan Sifat Allah. Mereka mengatakan, “Saya menyerahkan itu semua kepada Allah Ta’ala.” Mereka ini adalah golongan terjelek.”

    penjelasan gimana ustadz?

    seperti ayat :..Allah menggulung bumi dengan Tangan Kanannya.

    apakah jika saya menyatakan saya beriman dan bahwa saya menyerahkan maknanya kepada Allah..

    apakah saya termasuk dalam golongan terjelek itu ustadz ?

    mohon pencerahannya..

    • Muhammad Nur Ichwan

      @ryo
      apa yang anda tanyakan tersebut erat kaitannya dengan madzhab tafwidh dlm permasalahan sifat-sifat Allah.
      tafwidh secara bahasa berarti ar radd, mengembalikan/menyerahkan. dalam permasalahan sifat-sifat Allah, tafwidh itu ada dua macam:
      1. tafwidhul kaif, yaitu menyerahkan bentuk kaifiyah sifat-sifat Allah dengan tetap menetapkan makna bagi sifat-sifat tersebut. hal ini merupakan madzhab salaf ahlus sunnah wal jama’ah sebagaimana yang dinyatakan oleh imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang sifat Istiwa,
      الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة
      “Istiwa diketahui maknanya, namun hakikat (kaifiyah/bentuk)nya tidak dapat dinalar (dijangkau oleh logika). Beriman kepadanya wajib dan bertanya mengenai hakikatnya adalah bid’ah.”
      2. tafwidhul ma’na, beriman kepada sifat tapi tidak mau menetapkan makna sifat tersebut. inilah tafwidh yang tercela dan dinyatakan sbg golongan terjelek. hal ini dikarenakan beberapa hal:
      pertama, perkataan tsb berarti mengklaim bahwa ayat-ayat Allah dan hadits-hadits nabi yg membicarakan sifat tidak memiliki makna, dengan demikian konsekuensinya Allah telah bertindak sia-sia karena sebagian ayat Al Quran ada yang tidak memiliki makna.
      kedua, perkataan ini berarti menganggap para sahabat bodoh karena tidak mengetahui makna ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits nabi yg membicarakan sifat Allah.
      ketiga, konsekuensi dari poin pertama dan kedua, perkataan ini berarti menuduh rasulullah berbicara dan menyampaikan kepada umat islam dengan sesuatu yang tidak ada artinya.

      Dengan demikian, akhil karim, madzhab ahlus sunnah wal jama’ah dalam permasalahan sifat adalah menetapkan makna bagi sifat Allah namun menyerahkan bentuk/kaifiyah sifat tersebut kepada Allah ta’ala. sebagai contoh ayat yang antum bawakan dalam surat Az Zumar (yang artinya), “dan langit akan digulung dengan tangan kanan-Nya.”, maka kata “yamin” dalam ayat tersebut maknanya adalah tangan kanan, namun bagaimana bentuk/kaifiyahnya, kita serahkan kepada Allah ta’ala.
      semoga dapat dipahami.

  • Apakah Ulama Salaf Pasti Benar Pendapatnya? Siapakah yg menjamin ?

  • yahya

    assalamu’alaykum, ya ustadz

    saya telah melakukan kesalahan besar,yaitu: dulu saya pernah menyerupakan Alloh dengan makhluk(berupa sifat dan bentuk) dan itu terjadi sampai sekarang,lalu beberapa waktu terakhir ini di pikiran saya muncul pemahaman dan pemikiran nyeleneh tentang Alloh,bahkan yang paling nyeleneh adalah pemikiran tentang mengingkari keberadaan Alloh,dan yang lebih parahnya itu juga terjadi di waktu sholat,saya merasa sudah terpengaruh dengan pikiran itu..

    karena saya tak ingin kafir saya sering sekali mengucap syahadat,setiap sebelum sholat shubuh saya bersyahadat lalu mandi besar begitu juga saat pulang sekolah sebelum sholat ashar saya bersyahadat dulu lalu mandi besar setelah sholat muncul pikiran nyeleneh itu.
    seakan-akan pagi beriman dan sore kafir.terus karena muncul pikiran seperti itu saya jadi tidak mau belajar dan melakukan aktivitas lain karena saya merasa nanti ilmu yang saya dapat dan pekerjaan yang saya lakukan akan menjadi haram dan saya jadi tidak sempat membayar hutang puasa dan melakukan puasa sunnah yang lain karena takut tidak diterima.

    lalu disaat saya selesai sholat dan muncul pemikiran seperti itu,apakah saya harus bersyahadat dan mandi besar lalu mengulangi sholat lagi selama waktu sholat masih ada?

    apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi masalah ini?

    maaf penjelasan saya bertele-tele,semoga mudah dipahami
    wassalamu’alaykum

    • #yahya
      Perbanyak dan belajar Al Qur’an dan hadits, perdalam ilmu agama dari dasar. Dan sabar dalam menuntut ilmu.

      • yahya

        tapi ustadz,saya sering ragu dengan keadaan saya.. apakah saya muslim atau kafir,apakah saya perlu bersyahadat lagi dan mandi wajib,tolong do’akan saya supaya bisa berada di jalan yang benar dan dijauhkan dari penyakit hati

        • widha

          Ammien, saya ikut doakan ya.
          Tapi bener loh. Kalau kita banyak membaca Al Quran, Insya Allah kita lebih yakin.
          Atau kalau sedang diluar, lihatlah langit, awan, bintang dan matahari yg begitu besarnya.
          Bukankah mereka itu ada Penciptanya?
          Mudah-mudahan dengan melihat sekeliling, kita jadi pahami arti kehidupan. Untuk apa diciptakan, siapa yg berkuasa penuh atas peredaran matahari, dsb.
          Itu hanya sharing pengalaman saja, semoga sedikit membantu.

          • yahya

            terima kasih,telah mendo’akan saya dan memberi nasehat

  • Pingback: Makna Tauhid | SAMBIL NGAJI()

  • Pingback: Makna Aqidah()

  • Pingback: Tauhid | artikelislamriskin()

  • Pingback: Makna Akidah | MASJID RAUDHATU JANNAH()

  • Pingback: Makna Akidah - Baburrahmah()