Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mendoakan Kebaikan untuk Waliyul Amri

Arif Fathul Ulum oleh Arif Fathul Ulum
6 April 2016
di Manhaj
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Wajibnya menaati waliyul amr
  • Faidah mendoakan kebaikan untuk Waliyul Amr
  • Penutup

Para imam Ahli Sunnah semenjak generasi-generasi pertama senantiasa berusaha menjelaskan jalan yang lurus yang ditempuh oleh orang-orang terbaik mereka dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka dalam kebaikan.

Wajibnya menaati waliyul amr

Di antara pokok yang agung yang mereka jelaskan kepada umat adalah wajibnya menaati waliyul amr dan haramnya memberontak kepada mereka. Tidak berhenti sampai di sini, bahkan mereka melampauinya kepada hal yang lebih khusus lagi, yaitu mendoakan waliyul amr dengan taufiq, kebaikan, dan kelurusan jalan. Inilah sebagian di antara perkataan-perkataan mereka tentang hal itu:

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi (wafat tahun 321 H) berkata,

ولا نرى الخروج على أئمتنا و ولاة أمورنا وإِن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ولا ننزع يدا من طاعتهم ، ونرى طاعتهم من طاعة الله عزوجل فريضة ما لم يأمروا بمعصية، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة

”Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan para waliyul amr kami, meskipun mereka berbuat kecurangan. Kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka, kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka, kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla sebagai suatu kewajiban selama mereka tidak memerintah kepada kemakshiyatan, dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.” (Aqidah Thahawiyyah beserta Syarahnya, 2: 540)

Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni (wafat tahun 449 H) berkata,

ويرى أصحاب الحديث الجمعة والعيدين و غيرهما من الصلوات ، خلف كل إِمام ، برا كان أو فاجراً ، ويرون جهاد الكفرة معهم ، وإِن كانوا جَوَرة فجرة ، ويرون الدعاء لهم بالإِصلاح والتوفيق والصلاح ، وبسط العدل في الرعية

“Dan Ashabul hadits memandang salat Jumat, Iedain, dan salat-salat yang lainnya di belakang setiap imam yang muslim yang baik maupun yang fajir, mereka memandang hendaknya mendoakan para pemimpin dengan taufiq dan kebaikan, dan menyebarkan keadilan terhadap rakyat.” (Aqidah Salaf Ashabil Hadits, hal. 106)

Dan ketahuilah wahai saudaraku yang mulia, sesungguhnya para imam tersebut tidaklah mencukupkan menggoreskan kalimat-kalimat ini di dalam tulisan-tulisan mereka, bahkan mereka juga menerapkan perkara ini di dalam kehidupan mereka, dan menyampaikannya di hadapan manusia sebagai pengajaran dan arahan kepada mereka. Lihatlah sebuah contoh dalam hal itu dari Imam Ahli Sunnah wal Jama’ah Al-Imam Ahmad bin Hanbal yang selalu mendoakan kebaikan kepada penguasa. Abu Bakr Al-Maruudzi berkata, Aku mendengar Abu Abdillah (Al-Imam Ahmad) menyebut Khalifah Al-Mutawakkil seraya mengatakan,

إِني لأدعو له بالصلاح والعافية …

”Sesungguhnya aku selalu mendoakan kepadanya dengan kebaikan dan keselamatan … ” (As-Sunnah oleh Al-Khallal, hal. 84)

Begitu sangat beliau di dalam menghasung umat untuk mendoakan kebaikan terhadap waliyul amr, beliau lontarkan ucapan beliau yang masyhur dan menjadi hikmah yang diikuti oleh lisan-lisan manusia, yaitu,

لو أن لي دعوة مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان

”Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa.” (Siyasah Syar’iyyah, hal. 218 )

Sepantasnyalah bagi kaum muslimin yang ingin menegakkan kewajiban nasihat dan menempuh jalan Salaf. Sepantasnyalah bagi mereka mengkhususkan kepada waliyul amr di dalam sebagian dari doa-doa kebaikan mereka. Duhai seandainya orang-orang yang berkubang di dalam kehormatan para waliyul amr berhenti dari apa yang mereka lakukan, dan menggantinya dengan doa kebaikan, seandainya mereka melakukan ini, maka sungguh ini adalah baik bagi mereka. Ditambah lagi bahwa menyibukkan diri dengan pelanggaran-pelanggaran kehormatan tidaklah memperbaiki, bahkan akan menyesakkan dada dan memperbanyak dosa. Al-Hafizh Abu Ishaq As-Sabi’i berkata,

ما سب قومٌ أميرهم إِلا حُرموا خيره

”Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa mereka kecuali diharamkan mereka dari kebaikannya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid, 21: 287)

Dan sepantasnyalah para ulama dan para dai untuk menjelaskan kedudukan doa dari nasihat, menghasung manusia semuanya kepadanya, dan mengabarkan kepada mereka bahwa inilah manhaj Salafush Shalih; dan hendaknya para khatib tidak melupakan waliyul amr di dalam doa-doa mereka pada hari Jumat. Syekh Shalih Al-Fauzan berkata,

ويسن أن يدعو – أي الخطيب – للمسلمين بما فيه صلاح دينهم ودنياهم ، ويدعو لإِمام المسلمين وولاة أمورهم بالصلاح والتوفيق وكان الدعاء لولاة الأمور في الخطبة معروفا عند المسلمين ، وعليه عملهم ، لأن الدعاء لولاة أمور المسلمين بالتوفيق والصلاح ، من منهج أهل السنة والجماعة ، وتركه من منهج المبتدعة ، قال الإِمام أحمد : ( لو كان لنا دعوة مستجابة ، لدعونا بها للسلطان ) ولأن في صلاحه صلاح المسلمين .
وقد تركت هذه السنة حتى صار الناس يستغربون الدعاء لولاة الأمور ويسيئون الظن بمن يفعله

”Dan disunahkan bagi khatib agar mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dengan apa-apa yang membawa kebaikan di dalam agama dan dunia mereka, dan mendoakan para pemimpin kaum muslimin dan waliyul amr mereka dengan kebaikan dan taufik. Dahulu, mendoakan kebaikan kepada para waliyul amr adalah hal yang dikenal di kalangan kaum muslimin, dan merupakan amalan mereka. Karena mendoakan para waliyul amr dengan taufik dan kebaikan termasuk manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah, dan meninggalkannya termasuk manhaj Ahli Bid’ah. Al-Imam Ahmad berkata, ”Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa.” Dan karena di dalam kebaikan penguasa adalah kebaikan kaum muslimin.

Dan sungguh telah ditinggalkan sunnah ini sehingga jadilah manusia menganggap aneh doa kebaikan terhadap para waliyul amr dan berburuk sangka kepada orang yang melakukannya.” (Al-Mulakhkhosh Al-Fiqhi, 1: 182)

Faidah mendoakan kebaikan untuk Waliyul Amr

Mendoakan kebaikan terhadap waliyul amr mengandung faidah-faidah yang bayak sekali, di antaranya:

Pertama: Seorang muslim beribadah dengan doa ini, karena dia ketika mendengar dan taat kepada waliyul amr adalah melaksanakan perintah Allah. Hal ini karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.“ (QS. An-Nisa’: 59 )

Maka seorang muslim mendengar dan menaati waliyul amr sebagai suatu ibadah. Dan termasuk mendengar dan taat kepada waliyul amr adalah mendoakan mereka. Al-Imam Nashiruddin Ibnul Munayyir rahimahullah (wafat tahun 681 H) berkata,

الدعاء للسلطان الواجب الطاعة ، مشروع بكل حال

”Mendoakan seorang penguasa yang wajib ditaati adalah disyariatkan dalam semua keadaan.” (Al-Intishaf di dalam Hasyiyah Al-Kaasyif, 4: 105-106)

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata,

الدعاء لولي الأمر من أعظم القربات ومن أفضل الطاعات

”Mendoakan waliyul amr termasuk qurbah yang paling agung dan termasuk ketaatan yang paling utama.” (Risalah Nashihatul Ummah fi Jawaabi ‘Asyarati As’ilatin Muhimmah dari Mausu’ah Fatawa Lajnah wa Imamain)

Kedua: Mendoakan waliyul amr adalah melepaskan tanggung jawab menjalankan kewajiban, karena doa termasuk nasihat, dan nasihat wajib atas setiap muslim. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata,

إِني لأدعو له [أي السلطان ] بالتسديد والتوفيق – في الليل والنهار – والتأييد وأرى ذلك واجبا عليَّ

”Sesungguhnya aku mendoakan dia (yaitu penguasa) dengan kelurusan dan taufik –siang dan malam– serta dukungan dari Allah, dan saya memandang hal itu wajib atasku.” (As-Sunnah oleh Al-Khollal, hal. 116 )

Ketiga: Mendoakan waliyul amr adalah satu dari tanda-tanda Ahli Sunnah wal Jama’ah. Sehingga orang yang mendoakan waliyul amr menyandang salah satu sifat dari sifat-sifat Ahli Sunnah wal Jama’ah. Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata,

وإِذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى ، وإِذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح ، فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله

”Jika Engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli hawa. Dan jika Engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah Ahli Sunnah, Insya Allah.” (Syarhus Sunnah, hal. 116)

Keempat: Sesungguhnya mendoakan waliyul amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri. Karena jika waliyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka. Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Qais bin Abi Hazim bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, ”Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Allah setelah Jahiliyyah?“ Abu Bakar menjawab,

بقاؤكم عليه ما استقامت بكم أئمتكم

”Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian.” (Shahih Bukhari, 3: 51)

Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

لو كانت لي دعوةٌ مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان

”Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa.“

Ketika ditanyakan tentang maksudnya, maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد

”Jika saya jadikan doa itu pada diriku, maka tidak akan melampauiku. Sedangkan jika saya jadikan kepada penguasa, maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri.” (Diriwayatkan oleh Al-Barbahari di dalam Syarhu Sunnah, hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah, 8: 91-92 dengan sanad yang sahih)

Kelima: Jika waliyul amr mendengar bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan kepadanya, maka dia akan senang sekali dengan hal itu, yang membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka. Ketika Al-Imam Ahmad menulis surat kepada Khalifah Al-Mutawakkil, maka sebelum diserahkan kepadanya, beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaaqan, menteri Al-Mutawakkil. Ibnu Khaaqan berkata kepada beliau, ”Seyogyanya surat ini ditambah dengan doa kebaikan untuk khalifah karena dia senang dengannya.“ Maka Al-Imam Ahmad menambahnya dengan doa kebaikan kepada khalifah. (As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, 1: 133-134)

Penutup

Inilah sedikit yang bisa kami paparkan tentang masalah ini. Akhirnya kami memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur agar selalu memperbaiki para waliyul amr kaum muslimin, dan mengarahkan mereka kepada al-haq. Dan semoga Allah selalu memberikan taufiq kepada kita semua dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasihat dan mengikuti yang baik darinya. Amin.

والله أعلم بالصواب

***

Penulis: Ust. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Arif Fathul Ulum

Arif Fathul Ulum

Pengajar di PP Al Ukhuwah Sukoharjo, kontributor majalah Al Furqon

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
kumpulan artikel haji

Hadits Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah