Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Hadits Lemah: Hajar Aswad Adalah Tangan Kanan Allah Di Bumi

Abdullah Taslim, Lc., MA. oleh Abdullah Taslim, Lc., MA.
23 Maret 2016
di Hadis
Share on FacebookShare on Twitter

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ يَمِينَ اللّهِ فِي الْأَرْضِ يُصَافِحُ بِهَا عِبَادَهُ »

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Hajar aswad adalah tangan kanan Allah di Bumi yang dengannya Allah menjabat tangan hamba-hamba-Nya”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi1, al-Khathib al-Bagdadi2, dan Ibnul Jauzi3 dari Jalur Ishaq bin Bisyr al-Kahili, dari Abu Ma’syar al-Madaini, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu’anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Hadist ini derajatnya sangat lemah, bahkan sebagian dari para ulama Ahli hadist menghukuminya sebagai hadits yang palsu. Karena di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ishaq bin Bisyr al-Kahili, dia dinyatakan sebagai pendusta oleh Imam Abu Bakr bin Abi Syaibah, Musa bin Harun dan Abu Zur’ah ar-Razi, sedangkan Imam ad-Daraquthni4 dan Ibnu ‘Adi5 mengatakan bahwa dia termasuk pemalsu hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Hadits ini diisyaratkan kelemahannya yang sangat oleh Imam Ibnu ‘Adi, al-Khathib al-Bagdadi dan Ibnul Jauzi6.

Imam Ibnul ‘Arabi berkata: “Hadits ini batil (palsu) maka tidak perlu diperhatikan7.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Hadits ini diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan sanad yang tidak shahih” 8.

Hadits ini juga dihukumi sebagai hadits yang mungkar (sangat lemah) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani9 dan dihukumi sebagai hadits yang batil (palsu) oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin10.

Hadits ini juga dikeluarkan dari jalur lain dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu’anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Asakir dalam “Taariikhu Dimasyq” (52/217). Hadits ini juga batil (palsu), karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abu ‘Ali al-Ahwazi, Imam Ibnu ‘Asakir mengatakan bahwa dia tertuduh berdusta11.

Hadits ini juga diriwayatkan dari Shahabat lain, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah12, ath-Thabrani13 dan Ibnul Jauzi14. Hadits ini juga sangat lemah karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdullah bin al-Muammal, Imam Ahmad berkata: “Hadits-hadits (yang diriwayatkannya) mungkar (sangat lemah)”. Imam ‘Ali bin al-Junaid berkata: “Dia seperti orang yang ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang sangat parah)”15.

Hadits ini juga diriwayatkan dari Shahabat lain, Anas bin Malik radhiallahu’anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Imam al-Munawi16 menukil riwayat ini dan mengisyaratkan kelemahannya yang sangat parah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama al-‘Alaa’ bin Salamah ar-Rawwas, Imam adz-Dzahabi mengatakan bahwa dia tertuduh memalsukan hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Lafazh hadits ini juga diriwayatkan dari ucapan Shahabat yang mulia, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhuma, dikeluarkan oleh Imam Ibnu Qutaibah dalam kitab “Ghariibul Hadiits” (2/337). Tapi Riwayat ini juga sangat lemah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ibrahim bin Yazid al-Khuzi, Imam Ibnu Hajar berkata: “Dia yang ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang sangat parah)”17.

Kesimpulannya, hadits ini derajatnya sangat lemah dari semua jalurnya, baik yang dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam atau kepada Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhuma, bahkan sebagian ulama menghukuminya sebagai hadits yang batil (palsu).

Oleh karena itu, hadits ini sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi untuk mendukung syubhat (kerancuan dan kesalahpahaman) orang-orang yang menyerupakan sifat Allah Ta’ala dengan sifat makhluk, maha suci Allah Ta’ala dari segala sifat-sifat kekurangan. Hal ini dikarenakan dua sebab:

  1. Derajat hadits ini yang sangat lemah, bahkan palsu, sehingga tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam atau kepada Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhuma, ataupun Shahabat lainnya.
  2. Kalaupun dianggap shahih dan benar, maka makna hadits ini adalah bahwa orang yang mencium atau mengusap hajar aswad ketika thawaf, maka dia seperti menjabat tangan kanan Allah, sebagaimana ini diisyaratkan dalam sebagian lafazh riwayat-riwayat tersebut di atas. Maka ini berarti kedudukan dan keutamaan mencium atau mengusap hajar aswad adalah seperti menjabat tangan kanan Allah. Sehingga ini menunjukkan bahwa hajar aswad bukanlah tangan kanan Allah Ta’ala yang sesungguhnya 18.

Kemudian hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam cukup untuk menjadi argumentasi tentang keutamaan mencium atau mengusap hajar aswad ketika thawaf, sehingga kita tidak butuh dengan hadits yang sangat lemah atau palsu ini.

Misalnya, sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Demi Allah, sungguh Allah akan membangkitkan hajar aswad pada hari kiamat, dia mempunyai dua mata untuk melihat dan lidah untuk berbicara, dia akan bersaksi (di hadapan-Nya) bagi orang yang mengusap/menciumnya dengan benar”19.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Penulis: Ust. Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., MA.

Artikel Muslim.or.id

___

1 Dalam kitab “al-Kaamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (1/342).

2 Dalam kitab “Taariikh Bagdaad” (6/328).

3 Dalam kitab “al-‘Ilalul mutanaahiyah” (2/575).

4 Semua dinukil oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab “Lisaanul miizaan” (1/355).

5 Dalam kitab “al-Kaamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (1/342).

6 Dalam kitab-kitab mereka yang tersebut di atas.

7 Dinukil oleh Imam al-Munawi dalam kitab “Faidhul Qadiir” (3/409).

8 Dalam “Majmuu’ul fata-wa” (7/397).

9 Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/390, no. 223).

10 Dalam kitab “al-Qawaa-‘idul mutslaa” (hal. 97).

11 Lihat kitab “Lisaanul miizaan” (2/238).

12 Dalam kitab “Shahih Ibni Khuzaimah” (4/221).

13 Dalam kitab “al-Mu’jamul ausath” (1/177).

14 Dalam kitab “al-‘Ilalul mutanaahiyah” (2/575-576).

15 Semua dinukil oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab “al-‘Ilalul mutanaahiyah” (2/576).

16 Dalam kitab “Faidhul Qadiir” (3/409).

17 Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 95).

18 Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (3/409) dan “al-Qawaa-‘idul mutslaa” (hal. 98).

19 HR Ahmad (1/247), at-Tirmidzi (3/294), Ibnu Khuzaimah (4/220) dan Ibnu Hibban (9/25), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.

ShareTweetPin
Abdullah Taslim, Lc., MA.

Abdullah Taslim, Lc., MA.

Lulusan Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Beliau adalah penulis aktif di majalah Pengusaha Muslim.

Artikel Terkait

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

oleh Muhammad Insan Fathin
19 Maret 2026
0

Mengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama...

Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Februari 2026
0

Pemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar...

Hadis Arbain An-Nawawiyah

Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 3): Hadis 2, Iman, Islam, dan Ihsan

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
17 November 2025
1

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللّٰهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ...

Artikel Selanjutnya
pemahaman sahabat nabi

Mengikuti Pemahaman Sahabat Nabi Dalam Beragama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah