Inilah Cara Merealisasikan Tauhid

Inilah Cara Merealisasikan Tauhid

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid

Soal:

Bagaimana cara seorang hamba merealisasikan tauhid kepada Allah ta’ala?

Jawab:

Segala puji hanya untuk Allah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah .ﷺ

Saudaraku –semoga Allah senantiasa menjaga anda-, anda telah bertanya tentang satu perkara yang agung, suatu perkara yang sungguh mudah untuk diamalkan bagi mereka yang dimudahkan Allah untuk mengamalkannya. Kita memohon kepada Allah agar memudahkan diri kita dan saudara-saudara kaum muslimin untuk melakukan setiap kebaikan.

Ketahuilah, merealisasikan tauhid hanya dapat terwujud dengan jalan mempraktikkan kandungan dua kalimat syahadat, yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.

Mempraktikkan dua kalimat syahadat ini memiliki dua tingkatan, yaitu tingkatan yang wajib dan tingkatan yang mustahab. Tingkatan yang wajib dapat terealisasi dengan melakukan tiga hal sebagai berikut:

  1. Meninggalkan semua bentuk syirik, baik syirik besar (akbar), syirik kecil (asghar), maupun syirik yang tersembunyi (khafiy);
  2. Meninggalkan semua bentuk bid’ah; dan
  3. Meninggalkan semua jenis kemaksiatan.

Sementara itu, tingkatan yang mustahab adalah tingkatan dimana orang-orang saling berlomba menggapai keutamaan, yaitu bersaing agar di dalam hati tidak terdapat sedikitpun tujuan dan kebergantungan kepada selain Allah Ta’ala.

Dengan demikian, hatinya berorientasi secara total kepada Allah Ta’ala, tanpa berpaling kepada yang lain. Ucapannya untuk Allah, perbuatan dan ibadahnya untuk Allah. Bahkan segala gerak-gerik hatinya hanya untuk Allah semata. Sebagian ulama menerangkan bahwa tingkatan ini dicapai dengan meninggalkan segala sesuatu yang pada asalnya mubah karena khawatir dapat menjerumuskan pada perbuatan dosa atau kerugian di akhirat. Dan hal tersebut mencakup amalan hati, lisan, dan anggota badan.

Seseorang yang ingin merealisasikan kedua tingkatan di atas wajib mempersiapkan:

  1. Ilmu. Jika tidak memiliki ilmu bagaimana mungkin seseorang dapat merealisasikan tauhid dan mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui dan dipahami. Setiap orang yang telah dibebani syari’at wajib mempelajari tauhid sehingga dapat memperbaiki keyakinan, perkataan, dan perbuatannya. Selain hal tersebut, maka mengilmuinya sekedar dianjurkan;
  2. Membenarkan dan meyakini dengan kuat terhadap segala berita dan informasi yang berasal dari Allah dan Nabi-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam;
  3. Tunduk dan taat terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Semakin banyak orang dalam merealisasikan perkara-perkara di atas, maka semakin kuat pula tauhidnya kepada Allah dan semakin besar pahala yang akan dia peroleh. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan kepada kita bahwa barangsiapa yang mampu merealisasikan derajat tauhid yang paling tinggi, maka dia akan digolongkan bersama 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab. Kita memohon keutamaan dari Allah Ta’ala.

Balasan Bagi Mereka yang Merealisasikan Tauhid

Diriwayatkan di dalam shahih Bukhari (5705) dan Muslim (220), dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ ولا يكتوون وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ

Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, sekelompok orang menjadi pengikutnya, dan seorang Nabi, hanya satu dan dua orang yang menjadi pengikutnya, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun menjadi pengikutnya. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku  bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya.

Tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku, ‘mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang  yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab -disiksa terlebih dahulu.’

Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan, orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab?, Di antara mereka ada yang berkata, ‘barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya,’ dan ada lagi yang berkata, ‘barangkali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan spekulasi yang lain.’

Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam keluar dan mereka pun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyurdan tidak pernah meminta di-kay ( teknik pengobatan dengan mempelkan besi yang dipanaskan pada tempat luka), dan mereka pun bertawakkal kepada Rabb mereka.’

Kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah  agar aku termasuk golongan mereka,’ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Ya, engkau termasuk golongan mereka,’

Kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah  agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda menjawab, ‘Ukasyah telah mendahuluimu’.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamلَا يَسْتَرْقُونَ” artinya adalah tidak meminta orang lain untuk meruqyah dirinya. Meskipun, meminta untuk diruqyah hukum asalnya adalah jaiz (boleh), tetapi meninggalkannya lebih utama.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamوَلَا يَتَطَيَّرُونَ “ artinya adalah tidak menganggap sial sesuatu dengan sebab burung atau dengan sebab lainnya, yang karenanya seseorang membatalkan aktivitas yang dia rencanakan disebabkan anggapan sial ini. Anggapan sial semacam ini adalah haram karena termasuk syirik asghar.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamوَلَا يَكْتَوُونَ ” artinya adalah menghindari meminta di-kay (pengobatan dengan cara menempelkan besi panas pada luka dengan tujuan agar darah yang keluar dari luka cepat mengering dan berhenti) untuk menyembuhkan penyakit. Meskipun terdapat manfaat pada kay, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam membencinya karena tidak ada yang boleh menyiksa dengan api kecuali Allah Ta’ala.

Karakteristik yang sama-sama terdapat dari ketiga perbuatan di atas adalah pelakunya bertawakkal kepada Rabb mereka semata, yakni mereka mengaktualisasikan tawakkal pada derajat yang paling sempurna dan paling tinggi. Tidak ditemukan sedikitpun keberpalingan bahkan kebergantungan pada sebab di dalam hati mereka, akan tetapi mereka bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Tawakkal adalah inti keimanan sebagaimana yang dikatakan oleh Sa’id bin Habib rahimahullah. Bahkan tawakkal adalah tujuan yang paling tinggi sebagaimana yang dituturkan oleh Wahab bin Munabbih rahimahullah.

Kesimpulan dari penjelasan di atas adalah tauhid tidaklah terealisasi dengan berangan-angan, berkhayal, atau sekedar klaim tanpa bukti. Tauhid hanya dapat terealisasi dengan iman dan ihsan yang terpatri dalam hati, dan diwujudkan dalam akhlak yang baik dan amal shalih. Dengan demikian, setiap muslim berkewajiban untuk bersegera melakukan kebaikan dan ketaatan, berpacu dengan jatah umur yang tersisa. Selain itu, mereka juga wajib menganggap ringan kesulitan yang ditemui dan memandang derita yang dialami sebagai sebuah kelezatan karena pada hakikatnya barang dagangan Allah teramat mahal, mahal karena surga-lah yang dijadikan Allah sebagai komoditas dagangnya.

***

Sumber : https://islamqa.info/ar/96083

Penerjemah : Bagas Prasetya Fazri

Artikel Muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author