Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Pelajaran Berharga dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin: Salafi di Satu Sisi Tapi Mubtadi’ di Sisi yang Lain ?

Ari Wahyudi, S.Si. oleh Ari Wahyudi, S.Si.
25 Juli 2008
di Manhaj
Share on FacebookShare on Twitter

Istilah salafi atau pengikut generasi salaf yaitu para sahabat adalah istilah yang besar dan penuh dengan makna. Demikian juga istilah mubtadi’ atau ahli bid’ah, ia bukan istilah yang bisa diobral ke sembarang orang hanya gara-gara tidak satu kelompok pengajian atau tidak satu ustadz atau bahkan gara-gara tidak satu organisasi. Sebagian orang begitu mudah mengatakan secara mutlak bahwa si fulan adalah mubtadi’ atau si fulan bukan salafi hanya gara-gara dia melihatnya tidak ikut bersama pengajian yang dia ikuti, atau hanya gara-gara kesalahan fikih yang tidak sampai mengeluarkan dari manhaj salaf.

Namun di sisi lain ada juga orang yang terlalu mudah mengatakan bahwa si fulan itu salafi hanya gara-gara pernah ikut satu organisasi dakwah dengannya. Oleh sebab itu dalam masalah ini kita patut berhati-hati. Apalagi gara-gara mengobral istilah-istilah ini tidak pada tempatnya akhirnya membuahkan kekacauan di tengah kaum muslimin terutama di kalangan sesama da’i dan penuntut ilmu. Untuk lebih jelasnya silakan renungkan ucapan Syaikh Utsaimin ketika menjelaskan keadaan orang yang menyimpang dalam hal asma’ wa shifat berikut ini.

Beliau rahimahullah mengatakan, “Dengan demikian maka (kita katakan bahwasanya) seluruh ahli bid’ah dalam perkara asma’ wa shifat yang menyimpang dari pemahaman salafush shalih sebenarnya mereka itu belum merealisasikan keimanan mereka kepada Allah dengan baik. Satu hal diantara empat hal tadi (empat kandungan iman kepada Allah yaitu; iman kepada wujud-Nya, uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya dan asma’ wa shifat-Nya, pent) yang tidak mereka punyai adalah bagian keempat; yaitu beriman dengan benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, karena mereka itu tidak merealisasikan keimanan kepada-Nya dalam hal ini.

Mereka itu bersalah dan menyelisihi jalan kaum salaf. Jalan yang mereka tempuh itu tidak syak lagi memang sesat. Akan tetapi tidak secara langsung orang yang meyakininya bisa dicap sebagai orang sesat sampai hujjah ditegakkan kepadanya, dan ternyata dia masih bersikeras mempertahankan kesalahan dan kesesatannya maka dia adalah seorang mubtadi’ (ahli bid’ah) dalam masalah yang bertentangan dengan kebenaran itu meskipun dia adalah seorang salafi dalam masalah yang lain. Oleh sebab itu tidak boleh dia digelari sebagai mubtadi’ secara mutlak, dan juga tidak boleh dia digelari sebagai seorang salafi secara mutlak. Akan tetapi boleh dikatakan bahwasanya dia itu salafi dalam masalah-masalah yang dia bersesuaian dengan salaf dan dia juga seorang mubtadi’ dalam masalah-masalah yang dia selisihi dari kaum salaf.” (Syarah Arba’in, hal. 36)

Nah, dari sepenggal pemaparan dari beliau ini maka sudah semestinya para penuntut ilmu atau bahkan para da’i menjaga lisan mereka untuk tidak mudah-mudah mencap kelompok ini atau orang itu bukan salafi atau bahkan berani menyatakan dia sebagai ahli bid’ah sementara hujjah belum ditegakkan kepadanya. Sekali lagi perlu kita ingatkan perkara yang sangat penting ini karena pada asalnya hukum seorang muslim itu adalah selamat aqidah dan manhajnya sampai tampak ada indikasi jelas penyimpangannya dari manhaj salaf (silakan baca Mujmal Ushul Ahlis Sunnah karya Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql).

Dan sebagaimana kita ketahui bersama berdasarkan dalil-dalil yang ada bahwa kebanyakan orang itu dihinggapi penyakit tidak tahu alias jahil. Lalu apakah yang sudah kita lakukan untuk mengikis kejahilan diri kita dan juga mereka? Cobalah kita bandingkan dengan gelar-gelar mengerikan yang mungkin pernah kita sematkan pada wajah-wajah saudara kita sesama ahlus sunnah? Atau barangkali kita lah yang salah paham sedangkan saudara kita lah yang benar. Duhai adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Wallahul muwaffiq.

***

Disusun oleh: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

ShareTweetPin
Ari Wahyudi, S.Si.

Ari Wahyudi, S.Si.

Alumni S1 Biologi UGM, Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil".

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
surat yasin

Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin

Komentar 12

  1. Abul-Jauzaa' says:
    18 tahun yang lalu

    Kalau tidak salah ingat, penjelasan Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin di atas juga terdapat dalam Kitabul-‘Ilm.

    Reply
  2. amir says:
    18 tahun yang lalu

    barokallahu fiikum..sebuah nasihat yang bagus…

    http://salafiyunpad.wordpress.com

    Reply
  3. ari says:
    18 tahun yang lalu

    Hukum asal seorang muslim memang selamat akidah dan manhajnya, namun dalam hal penerimaan berita (hadits) para ulama hadits melemahkan berita yang dibawa oleh rawi yang majhul (tidak diketahui keadaannya). Oleh sebab itu rawi yang majhul tidak direkomendasikan untuk diambil riwayatnya. Para ulama kita mengatakan Al Isnadu minad diin wa laulal isnad laqola man syaa’a maa syaa’a “Sanad itu adalah agama, kalau bukan karenanya niscaya setiap orang akan berbicara semaunya sendiri.” Wallahu a’lam.

    Reply
  4. Erlina says:
    18 tahun yang lalu

    Subhanalloh, semoga kita menjadi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

    Reply
  5. abu said says:
    18 tahun yang lalu

    emang perlu kita baca masalah masalah sprti ini tapi menurut ana lebih baik kita penuntut ilmu lebih disibukkan belajar kitab kita beliau yang sangat bermanfaat dan alhamdulilllah sangat mudah kita peroleh .

    Reply
  6. gunawan says:
    17 tahun yang lalu

    subhanallaah semoga allaah memberikan ridho_Nya kepada kita semua yang istiqomah dijalan Allaah dan mengampuni segala dosa ummat islam.

    Reply
  7. ahmad says:
    17 tahun yang lalu

    alhamdulillah..

    sekalian mw tanya, yang berhak mnegakkan hujjah itu siapa? dalilnya apa?

    syukron

    Reply
  8. affandy januarta says:
    16 tahun yang lalu

    salam
    afwan, bolehkah bertanya tentang beberapa hal

    saya masih kurang paham tentang bagaimana bersikap terhadap golongan dan partai.
    BAgaimana jika kita diajak bergabung dalam sebuah partai yang menagtasnamakan dakwah (PKS-red). apakah jika kita bergabung dan ikut serta termasukd alam perbuatan bid’ah, aatau penyimpangan terhadap aqidah para salaf..mohon dibagi ilmunya, dan sekiranya ada buku yang bisa dijadikan rujukan mohon infonya untuk saya baca.

    Syukron

    Reply
  9. ludy says:
    16 tahun yang lalu

    bagus sekali kalimat ini :” Sekali lagi perlu kita ingatkan perkara yang sangat penting ini karena pada asalnya hukum seorang muslim itu adalah selamat aqidah dan manhajnya sampai tampak ada indikasi jelas penyimpangannya dari manhaj salaf”

    Semoga bisa diamalkan dengan baik

    Reply
  10. ahdy says:
    16 tahun yang lalu

    mari tebarkan ilmu ini dengan penuh hikmah dan nasihat yg baik bagi ikhwan2 yg blm memahami islam dengn benar, termasuk kita semua, semoga Allah menambah pemahaman yg baik serta keilmuan kita amiin.

    Reply
  11. firmansyah says:
    15 tahun yang lalu

    Subhanallah…
    benar2 pelajaran yang berharga….
    smoga kita menjadi orang2 yang mau mengambil pelajaran/hikmah
    amin….

    Reply
  12. suta says:
    15 tahun yang lalu

    Subhanallah

    Tinggi sekali ilmunya,, bagaikan langit ketujuh dan bumi yg paling dasar jika dibandingkan dengan diri saya.. Saya ingin menuntut ilmu! Tapi harus mulai dari mana? Apa umur 30thn tidak terlalu tua untuk ‘mulai’ menuntut ilmu? .. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yg membuat diri ini ‘mundur’.. Hmmm

    Syukron

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah