Kemana Masa Mudaku Melangkah? (4)

Kemana Masa Mudaku Melangkah? (4)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok utusan Allah yang paling semangat dalam mendidik para pemuda. Beliau memiliki kasih sayang yang sangat besar terhada umat ini. Beliau tidak ingin sedikitpun mereka terluput dari kebaikan.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan kebaikan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (At-Taubah: 128).

1. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan mendapatkan naungan ‘Arsy-Nya pada hari Akhir

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan ganjaran yang didapatkan oleh pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada para pemuda, agar mereka semangat menghamba kepada Rabb alam semesta.

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata. Mereka adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; keduanya berkumpul berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik lalu mengatakan, ‘Sungguh aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa salah satu golongan orang yang mendapatkan naungan ‘Arsy Allah pada hari akhir adalah pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya. Pada hari itu, manusia dikumpulkan di padang Mahsyar. Matahari didekatkan sedekat satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia ini. Maka, betapa beruntungnya orang-orang yang mendapatkan naungan ‘Arsy Allah saat itu, karena demikian panas terasa.

Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya

Ulama rahimahullah berbeda pendapat dalam memahami makna “Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya”. Di antara beberapa pendapat ulama tersebut, terdapat dua pendapat yang paling dikenal luas , yaitu:

Pendapat pertama

Bahwa maknanya adalah pemuda yang saat masa muda, kebaikannya lebih banyak dan keburukannya lebih sedikit dibandingkan dengan pemuda lain yang tumbuh tidak dalam ketaatan kepada Allah. Lalu saat-saat tuanya dan akhir hidupnya, iapun taat kepada Rabbnya.

Pendapat kedua, inilah yang terkuat, wallahu a’lam

Bahwa maknanya adalah pemuda yang terdidik dalam ketaatan kepada Allah. Sejak kecilnya ia tumbuh berkembang di atas ketaatan tersebut, sehingga ketika sampai usia muda, ia disibukkan dengan ketaatan, bahkan ia habiskan waktu mudanya dalam ketaatan kepada Rabbnya. Hingga iapun diganjar dengan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah pada hari Akhir, karena langgengnya dalam menjaga diri dan mengendalikan hawa nafsu agar tidak berbuat sesuatu yang menyelisihi perintah Rabbnya. Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,

(نَشَأَ) منذ الصغر وهو في العبادة ، فهذا صارت العبادة كأنها غريزة له، فألفها وأحبَّها، حتى إنه إذا انقطع يوماً من الأيام عن عبادة تأثر.

“Kata ‘Tumbuh’ (dalam hadits ini maknanya adalah) semenjak kecilnya ia berada dalam peribadatan (ketaatan), sehingga seolah-olah ibadah itu menjadi nalurinya, maka iapun akrab dengan ibadah dan mencintainya. Hingga (misalnya)suatu hari ia terputus melakukan suatu ibadah, iapun merasa tidak nyaman” (Syarah Shahih Al-Bukhari :3/79).

Penguat pendapat kedua ini adalah atsar dari Salman radhiyallahu ‘anhu yang mauquf,

ورجلٌ أفنى شبابه ونشاطه في عبادة الله

“Seseorang yang menghabiskan waktu mudanya dan ketekunannya dalam beribadah kepada Allah”

(Riwayat Sa’id bin Manshur dalam Sunannya dan dihasankan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).

Berkata Syaikh Muhammad Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah, “namun jika seandainya seseorang tidaklah menjadi taat kepada Allah (dengan baik) kecuali setelah umur 30 tahun, maka (ketahuilah), Allah Ta’ala telah berfirman dalam Kitab-Nya,”

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

(68) “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan perkara yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

(69) “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, (70) kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Furqaan: 68-70).

Mereka yang bertaubat setelah usia tua dan beramal shaleh, niscaya Allah akan mengganti dosa mereka dengan kebaikan (mereka). Allah pun juga akan menulis untuk mereka, sesuatu yang Allah tulis untuk selain mereka, insyaallah. Taruhlah seandainya, ia bukan seorang pemuda yang taat, maka telah terluput darinya salah satu sifat yang menyebabkannya ia berhak mendapatkan naungan ‘Arsy Allah ‘Azza wa Jalla.  Namun, (selayaknya) janganlah terluput ia dari mendapatkan sifat-sifat lainnya (penyebab mendapatkan naungan ‘Arsy-Nya) (Liqo`u Babil Maftuh: 5, pertanyaan no. 25)1.

2. Perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para pemuda di dalam menjaga kehormatan mereka

Masa muda adalah masa yang banyak tantangan dan pertarungan pengaruh, masa di mana sesorang memiliki kekuatan syahwat yang tinggi. Oleh karena itu, mereka perlu bimbingan dan pengarahan bagaimana mengendalikan hawa nafsu dengan baik, sehingga terhindar dari fitnah syahwat, khususnya fitnah wanita.

Ujian wanita bagi kaum lelaki dari umat ini adalah ujian yang amat berat. Oleh karena itu, ketika Allah menyebutkan beberapa macam ujian bagi manusia, Dia Ta’ala sebutkan yang pertama kali adalah ujian wanita.

Allah berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga)” (QS. QS. Ali ‘Imran: 14).

Imam Ibnu Hajar mengatakan,

وبدأ بهن قبل بقية الأنواع إشارة إلى أنهن الأصل في ذلك

Allah menyebut wanita pada urutan yang pertama sebelum menyebut macam fitnah (ujian) yang lainnya. Ini memberikan isyarat bahwa fitnah wanita adalah induk dari segala fitnah” (Fathul Bari: 9/138)2.

Ungkapan Imam Ibnu Hajar ini selaras dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda, 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidaklah ada sepeninggalku satu fitnah pun yang lebih membahayakan bagi para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang besar dalam masalah ini terhadap para pemuda. Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ia menuturkan, “Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai para pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu menikah di antara kalian, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat melemahkan syahwat jima’ (sebagai tameng).”

Bagaimana jika sudah berpuasa, namun masih belum juga melemah syahwat jima’nya?

Bisa jadi pengaruh positif puasa yang melemahkan syahwat itu tidak didapatkan di awal terapi, bagaimana menyikapinya?

Hal itu disebabkan,

  1. Hidayah itu dari Allah, maka mohonlah dan bertawakallah kepada-Nya saja.
  2. Bersabarlah dan teruslah melakukan terapi puasa. Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan fenomena seperti ini,

    وَاسْتُشْكِلَ بِأَنَّ الصَّوْمَ يَزِيدُ فِي تَهْيِيجِ الْحَرَارَةِ وَذَلِكَ مِمَّا يُثِيرُ الشَّهْوَةَ، لَكِنَّ ذَلِكَ إِنَّمَا يَقَعُ فِي مَبْدَأِ الْأَمْرِ فَإِذَا تَمَادَى عَلَيْهِ وَاعْتَادَهُ سَكَن ذَلِكَ. وَاللَّه أَعْلَمُ. فتح الباري

    “Ada sedikit masalah (disini), yaitu bahwa puasa menambah bergejolaknya hawa nafsu dan hal itu bisa membangkitkan syahwat, namun hal itu terjadi di awal-awal terapi berpuasa, jika ia tetap lanjutkan terapi puasa terrsebut dan terbiasa dengan berpuasa, niscaya akan tenang jiwanya (melemah syahwatnya) Wallahu a’lam (Fathul Bari: 4/119).

  3. Jauhi perkara-perkara yang membangkitkan syahwat, baik itu berasal dari jenis makanannya, pikiran, obrolan, tempat, teman, tontonan, bacaan maupun yang lainnya.
  4. Sibukkan diri dengan melakukan ibadah dan aktifitas yang bermanfaat dengan memenuhi adab-adab Islami, berupa menghadiri kajian Islam, menundukkan pandangan, berpakaian Islami dan selainnya.
  5. Cari teman dan sahabat yang membantu Anda mengingat Allah, memahami syari’at-Nya dan mengingat kematian.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

_______

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma’had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma’had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

View all posts by Sa'id Abu Ukkasyah »