Mengenal Khawarij (1)

Mengenal Khawarij (1)

Pendahuluan

Diantara usaha para pelaku kebatilan untuk menjauhkan manusia dari kebenaran adalah dengan mengaburkan makna kebenaran dan memberikannya citra yang buruk. Sebaliknya, mereka akan berusaha memodifikasi dan menghiasi kebatilan sehingga terlihat indah dan benar di mata manusia. Maka kebenaran dan kebatilan akan terlihat terbalik, yang benar terlihat batil, dan yang batil terlihat benar.

Diantara bentuk perusak citraan tersebut adalah label khowarij yang diberikan kepada dakwah salafiyah. Hal ini sudah terjadi bahkan sejak zaman Imam Ahmad, yang juga dialami oleh Syaikhul Islam dan muridnya Ibnul Qoyyim1, begitu juga dengan dakwah tauhid yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.2

Maka tidak perlu heran jika para pengusung dakwah salaf di indonesia pun mengalami hal yang serupa. Orang orang yang mengajak kepada tauhid, dan meninggalkan penyembahan kepada kuburan, meninggalkan bidah bidah dan khurofat di labeli sebagai khowarij yang merupakan salah satu aliran menyimpang dalam tubuh umat islam.

Maka disinilah tentunya kita sebagai ahlul hak, selain mengetahui kebenaran itu sendiri yang direpresentasikan oleh dakwah salafiyah, kita juga harus mengetahui kebatilan yang salah satu bentuknya adalah paham khowarij. Dengan itu kita bisa membedakan antara manhaj salafiyah dan manhaj khorijiyah. Kitapun menjadi lebih yakin, bahwa jalan yang kita tempuh adalah benar.

Definisi khawarij dan nama-nama mereka

Para ulama berbeda beda dalam mendefinisikan khawarij, namun secara umum bisa disimpulkan bahwa khawarij adalah salah satu golongan dari tubuh umat islam yang mengkafirkan pelaku dosa besar dan keluar dari pemerintahan yang sah.3 Adapun dinamakan khawarij karena mereka keluar (khuruj) dari pemerintah yang sah. Meskipun mereka berasumsi bahwa sebab penamaan khawarij adalah karena mereka keluar (khuruj) dari rumahnya untuk berjihad di jalan Allah4, tapi toh faktanya mereka keluar bukan dalam rangka berjihad di jalan Allah, tapi justru keluar dari ketaatan kepada kepemimpinan kaum muslimin yang sah.

Selain khawarij mereka juga dinamakan sebagai Haruuriyah, dinisbatkan kepada tempat pendahulu mereka berkumpul untuk memerangi Ali bin Abi Thalib, yaitu Haruro. Mereka juga dinamakan As Syurroh, karena mereka mengatakan kami telah menjual (Syaroinaa) diri kami di dalam ketaatan kepada Allah. Dan nama nama yang lainnya seperti Al Maariqoh dan Al Muhakkimah. Namun nama Khawarij adalah yang paling sering digunakan dibandingkan nama nama yang lainnya.5

Sejarah kemunculan Khawarij

Adapun sejarah kemunculannya para ulama berbeda beda menjadi 3 pendapat :

Yang pertama menyatakan bahwasanya Khawarij muncul pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Yaitu ketika seseorang yang dikenal dengan nama Dzul Khuwaishiroh At Tamimi mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam –yang ketika itu beliau sedang membagikan harta rampasan perang-, “berlaku adil lah wahai Rasulullah!”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menjawab, “celaka engkau, siapa lagi yang akan berlaku adil kalau aku tidak berlaku adil”. Melihat hal tersebut, Umar bin Khattab pun berkata, “biarkan saya membunuhnya wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda, “biarkan dia! Sesungguhnya dia memiliki pengikut yang sholat kalian terasa remeh dibandingkan sholatnya, puasa kalian terasa remeh dibandingkan dengan puasanya, mereka terlepas dari agama sebagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya……”6

Dalam riwayat lain disebutkan, “sesungguhnya akan lahir dari orang ini suatu kaum yang membaca al qur’an tapi tidak sampai melewati kerongkongannya, mereka membunuh orang islam dan membiarkan para penyembah berhala, mereka terlepas dari islam sebagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya kalau aku menjumpai mereka sungguh akan aku perangi mereka sebagaimana memerangi kaum ‘Ad.”7

Adapun pendapat yang kedua8 menyebutkan bahwa khawarij muncul pada zaman kekhilafahan Utsman bin Affan, yaitu mereka para pemberontak yang mengepung rumah Utsman untuk kemudian membunuh beliau radhiyallahu ‘anhu.

Dan pendapat yang terakhir9 mengatakan khawarij muncul ketika mereka membelot dan keluar (khuruj) dari pasukan Ali bin Abi Thalib ketika terjadi peristiwa tahkim antara Ali dan Muawiyah radhiyallahu anhuma.

Kalau kita melihat ketiga pendapat diatas bisa kita simpulkan bahwa pada zaman Rasulullah belum muncul khawarij sebagai sebuah kelompok yang memiliki kekuatan, namun hanya sekedar adanya kejadian personal –yang karena tamak dengan harta- memprotes kebijaksanaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam membagikan harta rampasan perang. Yang dari orang ini lah muncul orang orang yang nantinya menjadi kelompok khawarij. Maka bisa dikatakan bahwa benih khawarij telah tumbuh pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Adapun pada masa Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, meskipun muncul kelompok yang keluar (khuruj) dari ketaatan –bahkan sampai membunuh- kepada Utsman selaku khalifah kaum muslimin, namun motif mereka masih sebatas faktor kemarahan. Setelah kejadian itu pun mereka berpencar dan tidak berkumpul menjadi sebuah kelompok yang memiliki kekuatan.

Baru kemudan pada masa Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu -khususnya setelah terjadinya perang Siffin yang di akhiri dengan peristiwa tahkim-, muncul khawarij sebagai sebuah kelompok yang memiliki kekuatan serta memiliki pandangan politik dan ideologi yang berbeda dari kaum muslimin10.

(bersambung)

___

Catatan kaki

1 Lihat Syarh Qosidah Nuniah Ibnul Qoyyim, Muhammad Khalil Harros (1/324-325), cet 1; 1435, Dar Imam Ahmad

2 Tuduhan bahwa dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah Khawarij di bantah oleh Muhammad Hisyam At Thohiri dalam desertasinya “Taqriirot Aimmatud Da’wah Fie Mukholafati Manhajil Khowarij Wa Ibthoolihi” (Ghoros, Cet 1: 1429 H, Kuwait)

3 Lihat Fikrul Khowarij Was Syiah Fie Mizani Ahlis Sunnah, Dr Ali As Shalabi, (cet 1; 1429 H) Dar. Andalus, hal. 13-14

4 Mereka berdalil dengan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 100

5 Lihat Ushul Wa Tarikhul Firoq Al Islaamiyah, Mushtofha bin Muhammad Mushthofa (Darul Kautsar, cet 2: 1432 H, Qohiroh) hal. 83

6 HR. Muslim, (2/743 dan 744)

7 HR Bukhori (2/232) dan Muslim (2/741 dan 742)

8 Ini merupakan pendapat Ibn Abil Izz Al Hanafi (Lihat: Syarah Tohawiyah, hal. 472)

9 Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama (lihat Ushul Wa Tarikhul Firoq, hal. 88)

10 Ushul Wa Tarikhul Firoq, hal. 88-89

***

Penulis: Muhammad Singgih Pamungkas

Artikel Muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Muslim App
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Singgih Pamungkas

Mahasiswa Fakultas Dakwah wa Ushuluddin, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

View all posts by Muhammad Singgih Pamungkas »
  • Afa Fahmi Ahmad

    Semoga tulisan Antum bermanfaat besar, khususnya bagi duat ilas sunnah bi fahmis salaful ummah. Para pembela Sunnah seyogyanya lebih dalam dan detail lagi mengkaji dan memahami apa itu Ahlus Sunnah wal Jama`ah dari A-Z, sehingga dapat mudah menentukan siapa lawan-lawan Sunnah, dan bagaimana seharusnya bersikap, dengan ilmu dan rahmah.

  • Afa Fahmi Ahmad

    `Ulama salaf kita telah mengajarkan kpd kita bahwa dalam beribadah haruslah memenuhi 3 rukun, yaitu mahabbah, roja` dan khauf. Siapa saja yang beribadah hanya karena khauf saja, tanpa disertai adanya mahabbah dan roja`, maka itu lah ciri dari Khawarij.. Dan siapa beribadah hanya karena mahabbah semata, itulah ciri zindiq. Dan siapa yang beribadah hanya karena roja` semata, maka itulah ciri Irja`ii. Ahlussunnah beribadah haruslah karena ketiga-tiganya (mahabbah, roja` dan khauf)…. dasar surat al fatihah ayat 1-3 (Majmu` at Tauhid). Dan di dalam Ibadah itu haruslah lillah, billah, dan fillah (Thariqah ahlus sunnah fil ibadah, syaikh al Albani dan syaikh Ibnu Utsaimin, semoga rahmat Allah untuk keduanya)