Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Rahasia Keindahan Doa Istiftah (2)

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
24 Juni 2015
di Fikih
doa istiftah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Lafadz Istiftah Kedua:
    • Faidah dari lafadz Istiftah ini:
  • Do’a Istiftah yang paling sahih

Lafadz Istiftah Kedua:

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika kami shalat bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seseorang dari suatu kaum mengucapkan dzikir Istiftah.”

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi maupun sore”

Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lalu bersabda,

مَنِ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟

“Siapa yang mengucapkan kalimat begini dan begitu?”

Seseorang dari suatu kaum tersebut berkata,

أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ

“Saya wahai Rasulullah”

Beliau bersabda :

عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ

“Aku kagum terhadap kalimat tersebut, dibukakan karenanya pintu-pintu langit”.

Ibnu Umar pun berkata,

فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ذَلِكَ

“Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau bersabda begitu” (HR. Muslim).

Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullahu menjelaskan lafadz Istiftah ini:

وهذا كله ذكر لله و ثناء عليه سبحانه بهذه الكلمات العظيمة  (اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا) فكله تكبير و تحميد و تسبيح لله، فهو مخلص في الثناء على الله عز و جل

“Dan dzikir Istiftah ini semuanya adalah aktifitas mengingat Allah dan memuji-Nya -Subhanahu- dengan kalimat yang agung

(اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا)

Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi maupun sore. Maka seluruh kalimat ini berisikan takbir (mengagungkan), tahmid (memuji) dan tasbih (mensucikan) Allah,  maka dzikir Istiftah ini hakikatnya murni mengandung pujian untuk Allah ‘Azza wa Jalla.”

Faidah dari lafadz Istiftah ini:

Berikut beberapa faedah dzikir Istiftah ini, yang penulis intisarikan dari http://www.saaid.net/Doat/ageel/9.htm dengan sedikit tambahan.

1. Di dalam dzikir Istiftah ini terdapat korelasi kata-kata yang indah

  • Kata Allaahu Akbar sangat cocok digandengkan dengan Kabiira, faidahnya semakin menunjukkan kemahabesaran Allah.
  • Kata Alhamdulillaah sangat sesuai jika diringi dengan Katsiira, karena demikian banyaknya sebab keterpujian Allah, tidak ada satu nikmatpun yang diterima oleh hamba kecuali dari-Nya.
  • Kata Subhanallaah pantas digabungkan dengan bukrataw wa ashiila, karena setiap orang melihat kekurangannya dalam rentang waktu pagi sampai sore, sedangkan Allah disucikan dari kekurangan-kekurangan tersebut.

2. Penggabungan antara takbir (mengagungkan), tahmid (memuji) dan tasbih (mensucikan) Allah, menyebabkan dibukakan pintu-pintu langit.

3. Keutamaan dua waktu, yaitu pagi dan sore, oleh karena itu pantas jika disyari’atkan di dalam waktu tersebut, dzikir pagi dan sore.

4. Lafadz pertama dari Istiftah ini adalah takbir, ini sangat sesuai dengan sikap orang yang menunaikan shalat dengan baik, yaitu mengagungkan Allah dan meninggalkan seluruh perkara selain Allah yang tidak terkait dengan ibadah shalat, karena ia yakin bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah. Dengan demikian orang yang menunaikan shalat dengan baik akan bersesuaian antara ucapan dengan sikap, yaitu sama-sama mengagungkan Allah.

Apalagi jika dikaitkan dengan ucapan sebelum Istiftah dalam shalat, yaitu takbiratul ihram, maka akan tergabung dua ucapan takbir. Takbiratul ihram dan takbir yang terdapat di dalam lafadz Istiftah ini, sehingga semakin menguat sikap mengagungkan Allah di dalam shalat.

Do’a Istiftah yang paling sahih

Tahukah Anda hadits yang paling sahih tentang masalah do’a Istiftah dalam shalat? Simaklah keterangan ulama berikut ini.

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari mengatakan,

وحديث أبي هريرة أصح ما ورد في ذلك

“Dan Hadits Abu Hurairah adalah Hadits yang paling shahih dalam hal itu (Hadits do’a Istiftah).”

Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi mengatakan,

أصح ما ورد في الاستفتاح حديث أبي هريرة

“Hadits yang paling shahih dalam masalah do’a Istiftah adalah Hadits Abu Hurairah.”

Ulama menjelaskan bahwa hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjadi hadits paling sahih dalam masalah do’a Istiftah karena hadits itu diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam sejenak (iskatah) antara takbir dengan membaca (Al-Faatihah dalam shalat), saya (Abu Zur’ah) menyangkanya (Abu Hurairah) berkata hunayyah (diam sejenak). Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ayah ibuku menjadi penebusmu. Anda terdiam sejenak antara takbir dan membaca (Al-Faatihah). Apakah yang Anda baca?’ Beliau bersabda, ‘Aku membaca

اللَّهُمَّ بَاعدْ بيني وبين خطاياي، كما باعدت بين المشرق والمغرب، اللَّهُمَّ نقِّني مِن خطاياي كما يُنقَّى الثوبُ الأبيضُ مِن الدَّنسِ، اللَّهُمَّ اغسلني مِن خَطَايَاي بالماءِ والثَّلجِ والبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan butiran es” (Muttafaqun ‘alaih, dan lafadz ini dari  Al-Bukhari).

Beberapa catatan penting tentang makna kosakata dalam Hadits di atas

1.  Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari mengatakan,

قوله (بأبي وأمي) الباء متعلقة بمحذوف اسم أو فعل والتقدير أنت مفدي أو أفديك، واستدل به على جواز قول ذلك ، وزعم بعضهم أنه من خصائصه -صلى الله عليه وسلم-

“Ucapan Abu Hurairah Bi abi wa ummi (dengan ayah dan ibuku) huruf al-baa` terkait dengan sesuatu yang tidak disebutkan, berupa isim (selain kata kerja) atau fi’il (kata kerja), sedangkan kata yang tidak disebutkan tersebut adalah Anda tertebus (dengan ayah dan ibuku) atau saya tebus Anda (dengan ayah dan ibuku). Ini merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya mengucapkan kalimat itu, namun sebagian orang menyangka bahwa kalimat ini adalah khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

2. Al-Barad adalah butiran es. Dalam surat An-Nuur: 43, Allah berfirman,

وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ

“Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit sebanyak  gunung-gunung.”

وقال ابن عباس رضي الله تعالى عنهما أخبر الله -عز وجل- أن في السماء جبالا من برد

“Ibnu Abbas radhiyallahu ta’ala ‘anhuma berkata: Allah ‘Azza wa Jalla mengkabarkan bahwa di langit ada  butiran-butiran es sebanyak  gunung-gunung” (Tafsir Al-Baghawi).

Al-Khattabi rahimahullah mengatakan,

ذكر الثلج والبرد تأكيد، أو لأنهما ماءان لم تمسهما الأيدي ولم يمتهنهما الاستعمال

“Penyebutan salju dan butiran es merupakan penegasan atau karena keduanya air yang tidak pernah disentuh oleh tangan-tangan (manusia) dan keduanya tidak pernah menjadi benda yang hina karena digunakan” (Tafsir Al-Baghawi).

Secara bahasa Al-Barad adalah

البَرَدُ الماءُ الجَامِدُ ينزلُ من السَّحاب قِطَعًا صِغَارًا

“Al-Barad adalah Air beku yang turun dari awan, bentuknya butiran-butiran kecil.”

3. Makna “diam sejenak”

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari menyebutkan penjelasan tentang hal itu,

وسياق الحديث يدل على أنه أراد السكوت عن الجهر لا عن مطلق القول، أو السكوت عن القراءة لا عن الذكر

“Konteks hadits ini menunjukkan bahwa yang beliau (Abu Hurairah) maksud adalah diam dari mengeraskan suara, bukan diam tidak mengucapkan ucapan apapun juga atau maksudnya diam dari membaca Al-Qur’an, bukan diam dari mengucapkan dzikir.”

4. Perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ , بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي

“Lalu aku  berkata, “Wahai Rasulullah, ayah ibuku menjadi penebusmu.” Kalimat ini menunjukkan kecintaan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghormatan terhadap beliau dan beradab kepada beliau dalam berkomunikasi.

Hal ini juga menunjukkan betapa tinggi kedudukan kedua orang tua di jiwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, karena beliau menebus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sesuatu yang termasuk hal paling mahal dalam hidupnya, yaitu kedua orang tua.

5. Pertanyaan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Anda terdiam sejenak antara takbir dan membaca (Al-Faatihah). Apakah yang Anda baca?” Ini menunjukkan semangat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam bertanya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ajaran agama Islam yang belum diketahuinya.

Sikap ini menjadi contoh bagi kita semua agar tidak malu dalam bertanya tentang urusan agama Islam yang tidak kita ketahui atau kurang jelas bagi kita. Tanya jawab adalah termasuk metode termudah dalam menuntut ilmu syar’i.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 4): Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
18 Juli 2026
0

Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguran Jika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan...

Fikih Akikah (Bag. 3): Karakteristik, Syarat-Syarat Hewan Akikah, dan Pembagian

oleh Luqman Hasan Nahari
17 Juli 2026
0

Karakteristik hewan akikah Sunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal...

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
7 Juli 2026
0

Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk: Satu jenis dan...

Artikel Selanjutnya
doa istiftah

Rahasia Keindahan Doa Istiftah (3)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   3   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah