Mengambil Pelajaran Dari Perang Ahzab (1)

Mengambil Pelajaran Dari Perang Ahzab (1)

Muqoddimah

Dari waktu ke waktu musibah demi musibah silih berganti menimpa umat islam. Belum selesai satu musibah, sudah datang kembali musibah yang lain. Makar dan ujian yang datang dari musuh musuh islam terus menerus mengalir menimpa umat islam. Belum ditambah dengan kaum munafikin yang menusuk dari dalam. Mereka semua membuat makar, berkoalisi, bersatu padu, mengerahkan segala daya upaya untuk menghancurkan umat islam. Sementara umat islam sendiri, sebagian masih tertidur pulas, hanyut dalam mimpi mimpinya, dan sebagian yang lain sudah terbangun, sadar dengan apa yang sedang terjadi, namun bingung dengan apa yang harus dilakukan.

Ya, umat islam dalam kondisi lemah. Bukan hanya lemah ukhrowi, namun juga lemah secara materi, tenaga, ekonomi, militer, politik, dan lainnya. Maka jadilah umat islam bulan bulanan musuh musuhnya. Dimana mana umat islam dihinakan, martabatnya direndahkan, berbagai macam tuduhan dan stempel negatif diberikan kepada umat islam.

Hal seperti ini tentu saja akan melahirkan keraguan dan pesimistis akan janji dan pertolongan Allah di hati sebagian kaum muslimin yang mental dan jiwanya tidak kokoh dengan iman. Sehingga perlu bagi kaum muslimin untuk kembali menelaah sejarah, bahwa kondisi yang terjadi saat ini bukanlah hal baru yang menimpa umat islam. Dalam beberapa periode sejarah kaum muslimin telah mengalami ujian dan goncangan yang sangat dahsyat. Namun meskipun begitu, kaum muslimin tetap menjadi pemenang. Dan salah satu episode sejarah tersebut adalah peristiwa perang ahzab.

Peperangan peperangan di Zaman Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Sepanjang sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah berlangsung banyak sekali peperangan. Baik peperangan yang beliau pimpin sendiri, atau yang tanpa keikutsertaan beliau. Yang jika kita memperhatikan peperangan peperangan yang terjadi, kita akan menyaksikan kemenangan yang silih berganti antara kaum Muslimin dan musuh-musuhnya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Sufyan kepada Heraklius sebelum keislamannya, “Dia mengalahkan kami dalam satu peperangan dan kami mengalahkannya pada peperangan yang lain.”1

Peperangan besar dimulai dengan perang Badar2. Yang meskipun dengan jumlah dan persiapan yang jauh dibanding kaum Quraisy, kaum muslimin mendapatkan kemenangan. Kemudian dilanjutkan dengan perang Uhud3, yang dalam perang ini 70 sahabat mendapat kesyahidan4, serta kaum muslimin mendapatkan kerugian dengan meninggalnya tokoh tokoh besarnya5.

Hingga kemudian sampai pada perang Ahzab, di mana kaum kafir Quraisy memutuskan akan melancarkan serangan pamungkas dan mengangkhiri serangkaian peperangan yang mereka lancarkan sebelumnya, untuk meraih kemenangan akhir.

Allah mengabadikan kisah perang ini dalam Al Qur’an. Bahkan salah satu nama surat dalam Al Qur’an diambil dari nama perang ini, dikarenakan merupakan pokok pembahasan dalam surat tersebut. Hal ini menunjukan urgensi dan banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari kisah perang Ahzab.

Waktu dan sebab terjadinya perang Ahzab

Mayoritas ulama mengatakan bahwa perang Ahzab terjadi pada bulan Syawal tahun ke lima Hijriyah.6 Adapun penyebab berlangsungnya peperangan ini adalah kedengkian Yahudi Bani Nadhir terhadap kaum Muslimin7. Pasca kekalahan kaum Muslimin dalam perang Uhud, yang diteruskan dengan pertempuran pertempuran dan manuver militer kecil kecilan selama lebih dari satu tahun, ketenangan dan kedamaian kembali normal. Hanya saja kaum Yahudi yang menerima pelecehan dan kehinaan karena ulah mereka sendiri yang berkhianat, berkonspirasi dan melakukan makar, tidak mau terima begitu saja. Apalagi semakin bertambahnya hari membawa keuntungan bagi kaum Muslimin, dan pamor kekuasaan mereka semakin baik. Hal demikian membuat kaum Yahudi semakin amarah.

Mereka pun kembali merancang konspirasi baru terhadap orang orang Muslim dengan menghimpun pasukan, sebagai persiapan untuk menyerang mereka secara totalitas, hingga tidak tersisa lagi satupun kaum Muslimin.

Bagitu juga dipihak lain kaum Quraisy merasa belum puas dengan apa yang menimpa kaum muslimin pada perang uhud. Mereka belum mampu untuk memusnahkan kaum muslimin secara totalitas. Yang dengan masih adanya kekuatan kaum muslimin di madinah, telah menghambat jalan perdagangan meraka ke Syam8. Belum lagi pasca perang uhud pengiriman pasukan kecil-kecilan dari kaum muslimin masih berlanjut. Yang mengancam keberlangsungan perdagangan mereka menuju Syam. Maka merekapun berkeinginan untuk melancarkan serangan kembali kepada kaum muslimin.

Dari pihak yahudi, sekitar dua puluh pemimpin dan pemuka Yahudi Bani Nadhir9 mendatangi berbagai kabilah10. Orang orang Quraisy, Ghathafan, dan kabilah kabilah lain mereka ajak untuk menyerang kaum Muslimin secara bersamaan. Mereka mangatakan kepada orang Quraisy, “Sesungguhnya agama kalian lebih baik dari agama Muhammad dan kalian lebih berhak atasnya….11. Mereka pun menyambut gembira ajakan tersebut. Maka secara serentak bergabunglah pasukan perang yang terdiri dari Quraisy, Kinanah, Ghathafan dan kabilah-kabilah lainnya, hingga terkumpul jumlah pasukan mencapai sepuluh ribu prajurit. Mereka berkumpul untuk satu tujuan, yaitu menyerang kaum Muslimin yang berada di Madinah.

Maka mulailah mereka semua bergerak menuju kota Madinah. Hingga beberapa hari mereka akhirnya sampai, berkumpul di sekitar madinah, dengan jumlah yang sangat banyak, sepuluh ribu pasukan perang. Yang jika dibandingkan dengan seluruh penduduk Madinah, termasuk wanita, anak anak, pemuda, dan anak anak, maka jumlah mereka masih lebih banyak.12

Persiapan kaum Muslimin menghadapi peperangan

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar berita tentang rencana kaum Kufar yang telah berkumpul untuk menyerang kaum Muslimin, maka beliau segera berkumpul bersama para sahabatnya untuk bermusyawarah. Setelah berdiskusi panjang lebar, mereka sepakat melaksanakan usulan Salman Al Farisy Rodhiyallahu ‘anhu13, yaitu untuk menggali parit. Maka mulailah kaum Muslimin bersungguh sungguh menggali parit. Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun ikut terjun ke lapangan menggali parit bersama para sahabatnya.

Bersambung Insya Allah…

***

Catatan kaki

1 Lihat dialog antara Abu Sufyan dan Heraklius selengkapnya dalam Sohihul Bukhori, Kitab Badaul Wahyu, hadits No. 7

2 Lihat kisah perang badar dalam Rohiqul Makhtum, Shofiyurrahman Al Mubarokfuri (Muassasah Ar Risalah, Cet. 1; 2012 H) Hal. 196, Assirah An Nabawiyah As Shohihah, Dr, Akrom Dhiya Al ‘Umari (Maktabah Ubaikan, Cet.7; 2013) Hal. 399

3 Lihat kisah perang Uhud dalam Rohiqul Makhtum, Hal. 239 dan Siroh Nabawiyah Sohihah, Hal. 425

4 Rohiqul Makhtum, Hal. 276

5 Diantara mereka ada Hamzah bin Abdul Muthollib Rodhiyallahu ‘Anhu, paman Rosululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

6 Lihat Tahdzib Al Bidayah Wan Nihayah, Hal. 115 dan Siroh Nabawiyah Sohihah hal. 468

7 Lihat Rohiqul Makhtum, Hal. 292

8 Lihat siroh nabawiyah sohihah hal 469

9 Diantara mereka adalah Sallam bin Abil Huqoiq, Huyyay bin Akhtob, Kinanah bin Robi’ dll (Lihat Tahdzib Al Bidayah Wan Nihayah (2/115))

10 Rohiqul Makhtum, hal. 296

11 Tahdzib Al Bidayah Wan Nihayah, hal. 116

12 Rohiqul Makhtum, hal 294

13 Tahdzib Al Bidayah Wan Nihayah, hal. 116

Penulis: Muhammad Singgih Pamungkas

Artikel Muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Singgih Pamungkas

Mahasiswa Fakultas Dakwah wa Ushuluddin, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

View all posts by Muhammad Singgih Pamungkas »