Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bolehkah Menyampaikan Atau Mengamalkan Hadits Yang Tidak Diketahui Derajatnya? (2)

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
2 Juni 2015
di Hadis
derajat hadits
Share on FacebookShare on Twitter

Dalil-dalil tentang tidak bolehnya meriwayatkan suatu Hadits yang tidak diketahui shahih atau tidaknya, apalagi mengamalkannya

Ulama Ahlul Hadits rahimahumullah telah menjelaskan dua prinsip besar dalam ilmu Hadits,

  1. Tidak boleh menerima hadits dho’if (lemah) sebagai dalil dalam Syari’at Islam dan tidak boleh pula mengamalkannya.
  2. Tidak boleh meriwayatkan dan tidak boleh pula mengamalkan Hadits yang tidak diketahui shahih atau tidaknya.

Adapun dalil yang menunjukkan kedua prinsip besar tersebut atau salah satu dari keduanya adalah sebagai berikut :

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

اتقوا الحديث عني إلا ما علمتم، فمن كذَب علي متعمداً فليتبوأ مقعده من النار

“Hati-hatilah menyampaikan Hadits dariku kecuali yang telah kalian ketahui, maka barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka” [Berkata Syaikh Al-Albani: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih, sebagaimana di Faidhul Qadiir, dinukil dari : http://www.alalbany.net/4935].

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

وَيَقُولُ –عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلامُ-: “مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ؛ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ“ رواه مسلم.

“Barangsiapa yang menyampaikan dariku sebuah Hadits, (sedangkan) Hadits tersebut nampaknya dusta, maka ia termasuk salah satu dari dua golongan manusia yang berdusta”. [HR. Muslim].

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah mengomentari Hadits di atas,

فكيف بمن عمل به ؟

(jika meriwayatkan saja tidak boleh, pent.) Maka bagaimana lagi dengan orang yang mengamalkannya?

Dari komentar Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah mengomentari Hadits di atas dapat disimpulkan bahwa tidak boleh meriwayatkan dan tidak boleh pula mengamalkan Hadits yang tidak diketahui shahih atau tidaknya.

Adapun Ibnu hibban rahimahullah mengomentari,

ولم يقل : إنه تيقن أنه كذب –  فكل شاك فيما يروي أنه صحيح أو غير صحيح داخل في الخبر

Dan dalam Hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah bersabda: “ sedangkan ia yakin bahwa Hadits itu dusta!”.

Jadi setiap orang yang ragu-ragu tentang Hadits yang ia sampaikan ; apakah Hadits itu shahih atau tidak, maka ia termasuk kedalam ancaman yang terdapat dalam Hadits ini.

[Tamamul Minnah, hal.37 ].

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

إن كذبا علي ليس ككذب على أحد من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama makhluk selainku, maka barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka. [HR. Al-Bukhari 1229].

4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع

Cukuplah seseorang (dikatakan) berdusta, (jika) ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar. [HR. Muslim (6), Shahihul Jami’ 4482].

Berkata Ibnu Hibban rahimahullah,

في هذا الخبر زجر للمرء أن يحدث بكل ما سمع حتى يعلم على اليقين صحته

Dalam Hadits ini terdapat larangan bagi seseorang untuk menyampaikan setiap apa yang ia dengar sampai mengetahui dengan yakin tentang kevaliditasannya. [Tamamul Minnah, hal. 33].

5. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

كفى بالمرء إثما أن يحدث بكل ما سمع

Cukuplah seseorang (dikatakan) berdosa, (jika) ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar. [As-Silsilah Ash-Shahiihah 2025].

Berkata An-Nawawi rahimahullah,

فَإِنَّهُ يَسْمَع فِي الْعَادَة الصِّدْق وَالْكَذِب فَإِذَا حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَقَدْ كَذَبَ لإِخْبَارِهِ بِمَا لَمْ  يَكُنْ ، وَالْكَذِب الإِخْبَار عَنْ الشَّيْء بِخِلَافِ مَا هُوَ وَلا يُشْتَرَط فِيهِ التَّعَمُّد

“Karena sesungguhnya seseorang biasanya mendengar berita yang jujur maupun yang dusta, maka jika ia  menyampaikan setiap apa yang ia dengar, berarti telah berdusta, disebabkan mengkabarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan/keadaan yang sebenarnya. Sedangkan definisi dusta adalah mengkabarkan tentang sesuatu yang menyelisihi kenyataan/keadaan yang sebenarnya, dan (untuk disebut dusta) tidak disyaratkan harus unsur kesengajaan berdusta“.

[Sumber: Islamqa.info/ar/14212].

Wa billahit Taufiq.

***

Referensi

  1. Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah, Syaikh Al-Albani.
  2. http://www.alalbany.net/4935
  3. Islamqa.info/ar/14212
  4. Islamqa.info/ar/34725
ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

oleh Muhammad Insan Fathin
19 Maret 2026
0

Mengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama...

Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Februari 2026
0

Pemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar...

Hadis Arbain An-Nawawiyah

Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 3): Hadis 2, Iman, Islam, dan Ihsan

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
17 November 2025
1

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللّٰهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ...

Artikel Selanjutnya
seimbang dunia akhirat

Harus Seimbang Antara Mencari Dunia Dan Akhirat?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah