Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mengingatkan Kesalahan Imam Shalat yang Kebingungan (Bag. 1)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
22 Mei 2015
di Fikih
kesalahan imam
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Gambaran permasalahan
  • Mengingatkan imam adalah dengan mengucapkan tasbih

Gambaran permasalahan

Terkadang, imam shalat tidak mengetahui kesalahan apa yang dilakukan ketika makmum mengingatkannya dengan mengucapkan tasbih (subhaanallah). Misalnya, saat rakaat ke dua shalat isya’, imam hanya sujud sekali, langsung tasyahhud awwal. Makmum pun mengucapkan subhaanallah, dengan maksud mengingatkan imam bahwa masih kurang satu kali sujud. Namun, imam kebingungan, dan menyangka bahwa saat itu adalah rakaat ke tiga, sehingga langsung berdiri menuju rakaat ke empat. Dalam kasus semacam ini, bolehkah makmum mengingatkan imam dengan bahasa yang dipahami imam, misalnya, ”Sujudnya kurang sekali lagi” (baik dalam bahasa Indonesia atau bahasa Arab) atau kalimat sejenisnya sehingga jelas bagi imam di manakah letak kesalahannya?

Mengingatkan imam adalah dengan mengucapkan tasbih

Permasalahan semacam ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Khalid Muslih berikut ini.

السؤال: إذا سها الإمام في الصلاة، ونبهه المصلون، ولكنه اختلط عليه الأمر، ولم يدر أين الخطأ، فهل يجوز تنبيهه بالكلام، بأن يقول له أحدهم: تنقصك سجدة، ونحو ذلك، مما يحصل به المقصود؟

Pertanyaan:

Jika seorang imam lupa dalam shalatnya, dan diingatkan oleh makmum, akan tetapi imam tersebut menjadi bingung dan tidak tahu apa kesalahannya. Apakah diperbolehkan mengingatkan imam dengan ucapan, misalnya salah satu makmum mengatakan, ”Sujudmu kurang” atau kalimat semacam itu sehingga maksud menjadi tersampaikan (imam menjadi tahu kesalahannya, pen.)?

الإجابة: الذي يظهر أنهم يسبحون إلى أن يعقل؛ لما في البخاري (1218) ومسلم (421) عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من نابه شيء في صلاته فليقل: سبحان الله”، هذا يشمل كل ما يحتاج إلى تنبيه في الصلاة، وبهذا قال جمهور الفقهاء.

Jawaban Syaikh Khalid Mushlih:

Yang tampak bagiku adalah mereka mengucapkan tasbih untuk mengingatkan imam. Hal ini sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1218) dan Muslim (no. 421) dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin mengingatkan sesuatu dalam shalatnya, hendaklah mengucapkan, ’Subhaanallah’.” Perintah ini mencakup semua hal yang membutuhkan peringatan dalam shalat. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

وذهب بعض الفقهاء إلى أنه يجوز أن ينبه الإمام بالكلام الذي يعقل به خطأه في صلاته، وهذا منقول عن ربيعة ومالك؛ استنادا لما في البخاري (482) ومسلم (573) من حديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: “صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إحدى صلاتي العشي، فصلى بنا ركعتين ثم سلم فقام إلى خشبة معروضة في المسجد، فاتكأ عليها كأنه غضبان، ووضع يده اليمنى على اليسرى وشبك بين أصابعه، ووضع خده الأيمن على ظهر كفه اليسرى، وخرجت السرعان من أبواب المسجد فقالوا: قصرت الصلاة، وفي القوم أبو بكر وعمر، فهابا أن يكلماه، وفي القوم رجل في يديه طول، يقال له ذو اليدين، قال: يا رسول الله أنسيت أم قصرت الصلاة؟! قال: لم أنس ولم تقصر -في رواية للبخاري أن ذا اليدين قال: بلى قد نسيت- فقال صلى الله عليه وسلم: أكما يقول ذو اليدين؟! فقالوا: نعم، فتقدم فصلى ما ترك ثم سلم، ثم كبر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه وكبر، ثم كبر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه وكبر ثم سلم”.

Sebagian ulama berpendapat bolehnya mengingatkan imam dengan ucapan (kalimat) yang menunjukkan kesalahan imam dalam shalatnya. Pendapat ini dinukil dari Rabi’ah dan Imam Malik. Mereka bersandarkan pada hadits yang terdapat dalam Bukhari (482) dan Muslim (573) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami, yaitu salah satu shalat di waktu malam. Beliau shalat dua rakaat kemudian salam. Beliau lalu berdiri di tiang kayu yang ditancapkan di masjid. Beliau bersandar di tiang tersebut.  Seakan-akan beliau marah. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, dan beliau menjalin jari-jemarinya. Beliau meletakkan pipi kanannya di punggung telapak tangan kirinya. Beliau kemudian keluar dengan cepat dari pintu masjid. Para sahabat berkata,”Apakah shalat telah diqashar (diringkas)?” 

Di tengah-tengah para sahabat ada Abu Bakar dan Umar, namun keduanya enggan membicarakannya. Di tengah kerumunan tersebut juga terdapat seseorang yang tangannya panjang, dipanggil (dijuluki) dengan “dzul yadain.” Dia berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah Engkau lupa atau Engkau (sengaja) meringkas shalat?” Rasulullah berkata, ”Aku tidak lupa dan tidak pula meringkas shalat.” Dalam riwayat Bukhari, dzul yadain berkata, ”Bahkan Engkau lupa.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, ”Apakah (benar) sebagaimana perkataan dzul yadain?” Para sahabat menjawab, ”Ya.”

Rasulullah pun maju dan menyempurnakan (melanjutkan) rakaat shalat yang beliau tinggalkan (maksudya, beliau tidak mengulangi shalat dari awal, pen.), kemudian salam. Kemudian beliau bertakbir, dan sujud sebagaimana sujud yang dilakukannya atau lebih lama, kemudian bangkit dari sujud sambil bertakbir. Setelah itu beliau bertakbir dan sujud kembali sebagaimana sujud yang dilakukannya atau lebih lama, kemudian bangkit dari sujud sambil bertakbir, dan kemudian salam.”

ووجه الدلالة من الحديث إجابة الصحابة رضي الله عنهم النبي صلى الله عليه وسلم لما سألهم أصدق ذو اليدين؟ فقد تبين لهم أنه قد نسي، وأن الصلاة لم تقصر، ولم يكن كلامهم مبطلا لصلاتهم، وهو استدلال فيه قوة، لو لا ما جاء في صحيح مسلم (537) من حديث معاوية بن الحكم السلمي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس” فكلمة (شيء) نكرة في سياق النفي فتفيد العموم، ولهذا كان الأقرب للصواب ما ذهب إليه الجمهور.

Sisi pendalilan hadits di atas adalah respon atau jawaban para sahabat radhiyallahu ‘anhum atas pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika Rasulullah bertanya apakah perkataan dzul yadain tersebut memang benar. Para sahabat pun menjelaskan bahwa Rasulullah (memang) lupa dan beliau juga tidak sedang meng-qashar shalat. Ucapan para sahabat ini tidaklah membatalkan shalat mereka.

Sisi pendalilan seperti ini kuat, seandainya tidak ada hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya shalat ini, tidaklah layak di dalamnya sesuatu pun berupa ucapan manusia.” Kata “sesuatu” merupakan isim nakirah (kata benda indefinitif) yang berada dalam konteks kalimat nafi (peniadaan), maka mencakup umum (mencakup semua jenis ucapan atau kalimat, pen.) [1]. Oleh karena itu, yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

ويجاب عن قصة ذي اليدين بأن إجابة النبي صلى الله عليه وسلم واجبة في الصلاة وغيرها؛ لقوله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الأنفال:24]، أو يقال بأنه يجوز التنبيه بالكلام إذا ظن الإمام أنه قد خرج من الصلاة، أو يقصر الحديث على هذه الحادثة فقط، والله أعلم.

Kisah dzul yadain ini dijawab bahwa menjawab (merespon) pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya wajib, baik di dalam atau di luar shalat, berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), ”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfaal: 24) Atau bisa juga dikatakan, boleh mengingatkan dengan ucapan (selain tasbih, pen.) jika imam disangka akan menyelesaikan shalat. Atau, hadits ini dibatasi hanya dalam kasus seperti itu saja. Wallahu a’lam. [Selesai fatwa Syaikh Khalid Mushlih.] [2]

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

***

Selesai disusun menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, 20 Rajab 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Menurut kaidah dalam ilmu ushul fiqh.

[2] Diterjemahkan dari: http://ar.islamway.net/fatwa/34227/

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 4): Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
18 Juli 2026
0

Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguran Jika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan...

Fikih Akikah (Bag. 3): Karakteristik, Syarat-Syarat Hewan Akikah, dan Pembagian

oleh Luqman Hasan Nahari
17 Juli 2026
0

Karakteristik hewan akikah Sunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal...

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
7 Juli 2026
0

Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk: Satu jenis dan...

Artikel Selanjutnya
kesalahanimam

Mengingatkan Kesalahan Imam Shalat yang Kebingungan (Bag. 2)

Komentar 1

  1. Abah Yahya says:
    3 bulan yang lalu

    Ucapan Dzul Yadain dan jawaban para sahabat saat ditanya Rasulullah itu terjadi DILUAR SHALAT.
    Harus dicermati makna hadisnya supaya tidak salah dalam memahami hukum.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah