Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin Ibadah

Kaum muslimin, semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang haq. Sesungguhnya salah satu penyebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam pada masa sekarang ini adalah karena mereka tidak memahami hakikat kejahiliyahan yang menimpa bangsa Arab di masa silam. Mereka menyangka bahwasanya kaum kafir Quraisy jahiliyah adalah orang-orang yang tidak beribadah kepada Allah sama sekali. Atau lebih parah lagi mereka mengira bahwasanya kaum kafir Quraisy adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya Allah [?!] Duhai, tidakkah mereka memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lembaran sejarah yang tercatat rapi dalam kitab-kitab hadits ?

Kaum Kafir Quraisy Betul-Betul Mengenal Allah

Janganlah terkejut akan hal ini, cobalah simak firman Allah ta’ala,

Dalil pertama, Allah ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10]: 31)

Dalil kedua, firman Allah ta’ala,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. az-Zukhruf : 87)

Dalil ketiga, firman Allah ta’ala,

لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. al-’Ankabut: 63)

Dalil keempat, firman Allah ta’ala,

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. an-Naml: 62)

Perhatikanlah! Dalam ayat-ayat di atas terlihat bahwasanya orang-orang musyrik itu mengenal Allah, mereka mengakui sifat-sifat rububiyyah-Nya yaitu Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta penguasa alam semesta. Namun, pengakuan ini tidak mencukupi mereka untuk dikatakan muslim dan selamat. Kenapa? Karena mereka mengakui dan beriman pada sifat-sifat rububiyah Allah saja, namun mereka menyekutukan Allah dalam masalah ibadah. Oleh karena itu, Allah katakan terhadap mereka,

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf : 106)

Ibnu Abbas mengatakan, “Di antara keimanan orang-orang musyrik: Jika dikatakan kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Sedangkan mereka dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya.”

‘Ikrimah mengatakan,”Jika kamu menanyakan kepada orang-orang musyrik: siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab: Allah. Demikianlah keimanan mereka kepada Allah, namun mereka menyembah selain-Nya juga.” (Lihat Al-Mukhtashor Al-Mufid, 10-11)

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa kaum musyrikin pada masa itu mengakui Allah subhanahuwata’ala adalah pencipta, pemberi rezki serta pengatur urusan hamba-hamba-Nya. Mereka meyakini di tangan Allah lah terletak kekuasaan segala urusan, dan tidak ada seorangpun diantara kaum musyrikin itu yang mengingkari hal ini (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat) Dan janganlah anda terkejut apabila ternyata mereka pun termasuk ahli ibadah yang mempersembahkan berbagai bentuk ibadah kepada Allah ta’ala.

Kafir Quraisy Rajin Beribadah

Anda tidak perlu merasa heran, karena inilah realita. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah menceritakan bahwasanya kaum musyrikin yang dihadapi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang rajin beribadah. Mereka juga menunaikan ibadah haji, bersedekah dan bahkan banyak berdzikir kepada Allah. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik juga berhaji dan melakukan thowaf adalah dalil berikut.

Dan telah menceritakan kepadaku Abbas bin Abdul ‘Azhim Al Anbari telah menceritakan kepada kami An Nadlr bin Muhammad Al Yamami telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar telah menceritakan kepada kami Abu Zumail dari Ibnu Abbas ia berkata; Dulu orang-orang musyrik mengatakan; “LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA (Aku memenuhi panggilanMu wahai Dzat yang tiada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ فَيَقُولُونَ إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ

“Celakalah kalian, cukuplah ucapan itu dan jangan diteruskan.” Tapi mereka meneruskan ucapan mereka; ILLAA SYARIIKAN HUWA LAKA TAMLIKUHU WAMAA MALAKA (kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai).” Mereka mengatakan ini sedang mereka berthawaf di Baitullah. (HR. Muslim no. 1185)

Mengomentari pernyataan Syaikh Muhammad At Tamimi di atas, Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwa kaum musyrikin Quraisy yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kaum yang beribadah kepada Allah, akan tetapi ibadah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka karena ibadah yang mereka lakukan itu tercampuri dengan syirik akbar. Sama saja apakah sesuatu yang diibadahi disamping Allah itu berupa patung, orang shalih, Nabi, atau bahkan malaikat. Dan sama saja apakah tujuan pelakunya adalah demi mengangkat sosok-sosok tersebut sebagai sekutu Allah atau bukan, karena hakikat perbuatan mereka adalah syirik. Demikian pula apabila niatnya hanya sekedar menjadikan sosok-sosok itu sebagai perantara ibadah dan penambah kedekatan diri kepada Allah. Maka hal itu pun dihukumi syirik (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Dua Pelajaran Berharga

Dari sepenggal kisah di atas maka ada dua buah pelajaran berharga yang bisa dipetik. Pertama; pengakuan seseorang bahwa hanya Allah lah pencipta, pemberi rezki dan pengatur segala urusan tidaklah cukup untuk membuat dirinya termasuk dalam golongan pemeluk agama Islam. Sehingga sekedar mengakui bahwasanya Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur belum bisa menjamin terjaganya darah dan hartanya. Bahkan sekedar meyakini hal itu belum bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan Allah.

Kedua; apabila peribadatan kepada Allah disusupi dengan kesyirikan maka hal itu akan menghancurkan ibadah tersebut. Oleh sebab itu ibadah tidak dianggap sah apabila tidak dilandasi dengan tauhid/ikhlas (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Dengan demikian sungguh keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwasanya tauhid itu cukup dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta. Dan dengan modal anggapan yang terlanjur salah ini maka merekapun bersusah payah untuk mengajak manusia mengenali bukti-bukti alam tentang keberadaan dan keesaan wujud-Nya dan justru mengabaikan hakikat tauhid yang sebenarnya. Atau yang mengatakan bahwa selama orang itu masih mengucapkan syahadat maka tidak ada sesuatupun yang bisa membatalkan keislamannya. Atau yang membenarkan berbagai macam praktek kesyirikan dengan dalih hal itu dia lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Atau yang mengatakan bahwa para wali yang sudah meninggal itu sekedar perantara untuk bisa mendekatkan diri mereka yang penuh dosa kepada Allah yang Maha Suci. Lihatlah kebanyakan praktek kesyirikan yang merebak di tengah-tengah masyarakat Islam sekarang ini, maka niscaya alasan-alasan semacam ini -yang rapuh serapuh sarang laba-laba- yang mereka lontarkan demi melapangkan jalan mereka untuk melestarikan tradisi dan ritual-ritual syirik.

‘Kita ‘Kan Tidak Sebodoh Kafir Quraisy’

Barangkali masih ada orang yang bersikeras mengatakan,“Jangan samakan kami dengan kaum kafir Qurasiy. Sebab kami ini beragama Islam, kami cinta Islam, kami cinta Nabi, dan kami senantiasa meyakini Allah lah penguasa jagad raya ini, tidak sebagaimana mereka yang bodoh dan dungu itu!” Allahu akbar, hendaknya kita tidak terburu-buru menilai orang lain bodoh dan dungu sementara kita belum memahami keadaan mereka. Saudaraku, cermatilah firman Allah ta’ala,

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)

“Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab, ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’ Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’ Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab, ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah kalian ditipu?.'” (QS. Al-Mu’minuun: 84-89)

Nah, ayat-ayat di atas demikian gamblang menceritakan kepada kita tentang realita yang terjadi pada kaum musyrikin Quraisy dahulu. Meyakini tauhid rububiyah tanpa disertai dengan tauhid uluhiyah tidak ada artinya. Maka sungguh mengherankan apabila ternyata masih ada orang-orang yang mengaku Islam, rajin shalat, rajin puasa, rajin naik haji akan tetapi mereka justru berdoa kepada Husain, Badawi, Abdul Qadir Al-Jailani. Maka sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sama dengan perilaku kaum musyrikin Quraisy yang berdoa kepada Laata, ‘Uzza dan Manat. Mereka pun sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka minta adalah sekedar pemberi syafaat dan perantara menuju Allah. Dan mereka juga sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka jadikan perantara itu bukanlah pencipta, penguasa jagad raya dan pemeliharanya. Sungguh persis kesyirikan hari ini dengan masa silam. Sebagian orang mungkin berkomentar, “Akan tetapi mereka ini ‘kan kaum muslimin” Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab,“Maka kalau dengan perilaku seperti itu mereka masih layak disebut muslim, lantas mengapa orang-orang kafir Quraisy tidak kita sebut sebagai muslim juga ?! Orang yang berpendapat semacam itu tidak memiliki pemahaman ilmu tauhid dan tidak punya ilmu sedikitpun, karena sesungguhnya dia sendiri tidak mengerti hakikat tauhid” (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi dan Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Ari Wahyudi, Ssi.

Alumni dan pengajar Ma’had Al Ilmi Yogyakarta, pengajar Ma’had Umar bin Khathab Yogyakarta, alumni S1 Biologi UGM, penulis kitab “At Tashil Fi Ma’rifati Qawa’id Lughatit Tanzil”, pembina Ma’had Al Mubarok Yogyakarta

View all posts by Ari Wahyudi, Ssi. »
  • royrohman

    Asalmu’alaikum warokhmatullohi wabarokatuh…………

    Pak Ustadz yang semoga di rahmati Allah…………
    saya orang yg sangat awam sekali dengan Dinulloh, selama ini saya hanya mengaji kuping saja (pendengar) bagaimana dengan hadist2 berikut ttg Tawasull, mohon penjelesannya, terimakasih, wassalamu’aliakum warokhmatullohi wabarokatuh……….

    قَالَ إِبْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : إِنَّ الْوَسِيْلَةَ كُلُّ مَا يُـتَقَرَّبُ بـــِه اِلى اللهِ
    Ibnu Abbas meriwayatkan: “sesungguhnya washilah (tawasul) adalah setiap sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah”.

    Nabi adam pernah tawasul dengan nama nabi Muhammad tapi haditsnya saya lupa karena haditsnya puaannnjang..intinya nabi adam bertawasul dengan Nabi Muhammad.

    قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَوَسَّلُوْا بـــِيْ وَبِأَهْلِ بــَيْتـِيْ اِلى اللهِ فَإِ نــَّه لاَ يُرَدُّ مُـتَوَسِّلٌ بـــِنَا

    Rasulullah saw. bersabda: “tawasullah kalian dengan (kemulyaanku) ku (muhammad) dan keluargaku kepada Allah. sesungguhnya bertawasul denganku tak akan ditolak. (HR. Ibnu Hibban).

    ada juga dalam kitab ihya’ karya Imam Ghazali disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah mengajari cara berdoa yang baik kepada Abu Bakar:
    اَللّهُمَّ إِ نِّيْ أَسْـئـــَلُكَ بِمُحَمَّدٍ نــَبِيِّكَ وَاِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِكَ وَمُوْسى كَلِمَتِكَ وَرُوْحِكَ وَبِتَوْرَاةِ مُوْسى َاِنْجِيْلِ عِيْسى وَزَبُوْرِ دَاودَ وَفُرْقَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ .

    “ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan (kemulyaan) Muhammad sebagai nabiMu, Ibrahim sebagai pilihanMu, Musa sebagai kalimatMu, dengan Taurat Musa, Injil Isa, Zabur Daud dan Furqan (al-Qur’an) Muhammad saw.”

    diceritakan bahwa ashhabul kahfi bertawasul dengan amal shalih mereka.

  • Abu Muhammad Naufal Zaki

    Ustadz Abdul Hakim pernah menjelaskan bhw makna laa ilaha illa Alloh jk artinya tiada tuhan selain Alloh mk keliru krn banyak tuhan2 yg diakui oleh manusia selain Alloh. . jk diartikan tiada ilah yg disembah selain Alloh jg belum lengkap krn masih ada manusia yg menyembah selain Alloh atau dia menyembah ALloh dg tidak benar (mengsyarikatkan Alloh atau dg cara yg tidak diseyariatkan oleh Alloh dan NabiNya). . yg makna yg benar adalah Tiada Ilah yang disembah dengan Haq (benar) kecuali Alloh. . jadi satu-satunya ilah yg berhaq disembah dengar benar (sesuai dg petunjuk Nabi Muhammad sebagai perwujudan makna Muhammadur rosululloh) hanyalah Alloh. . .
    Semoga ALloh selalu memberikan keberkahan kepada kita smeua dan petunjuk yang lurus sesuai sunnah serta menjaga kita di jalan tersebut. Terus berkarya untuk Muslim.or.id. semoga ini menjadi saksi antum dan hujjah antum di hadapan Alloh kelak utk meraih ridhoNya (Jannah).

  • Miah

    ASSALAMU ALAIKUM WR.WB. PAK BGAIMANA MENJELASKAN KPD KELUARGA. Mereka kadang ke kuburan nenek moyang membwa kambing, diptong dkat kuburan lalu mkn berame2. Katanya hanya datang ziara dan makan bersama. Tpi stlah it menyampaikan keinginan2 ato janji apbl permintaan mereka dipenuhi. Dan seandaix permintaanny tlh dikabulkan maka apbla janji tdk ditunaikan maka akn skt tak berkesudahan. Apbl kami beritahu kalo it adalah trik syetan tuk menyesatkan kita maka mereka Menganggap kami sombong krn pendidikan kami. Katanya. It bgaimana pak Uztads?? Aku sendiri msh dangkal pengetahuan agama. Makanya aku gabung di sini. Intinya mereka takut sakit. Krn biasanya kalo kita takabur di t4 itu. Kita akan diganggu dan disakiti oleh katanya roh kburan itu. DO’A APA DAN APA YG HARUS KAMI LAKUKAN, TENTU SAJA IBDAH. Tpi mungqin ada tmbhan pak Uztadz. Trimakasih

  • radensun

    Jazakumullah khoir untuk ustadz2 di muslim.or.id, dan rumaysho.com,

    Izin share untuk sebagian atau keseluruhan dari konten muslim.or.id ini… baik untuk yang telah lalu maupun yang akan datang… insyaAllah, semoga bermanfaat untuk saya pribadi dan semuanya…

  • Abu Sholih Duri Susianto

    Alhamdulillah atas nikmat Islam dan Sunnah. Jazakallohu Khoiron atas ilmunya.

  • Kusnani Azahri.Ch

    Didaerah asal saya di sumatera jg msh bnyak yg melakukan acara adat potong kambing di makam yg dianggap keramat spt yg sdri mia ceritakan, termasuk kakek & bahkan keluarga besar saya msh kental sekali dgn ritual ini,padahal..ya mereka jg sholat, beribadah haji,puasa, zakat, tp Syirik jln terus, saya sudah beberapa kali mencoba mengingatkan dgn cara halus & semampu saya, tp belum mempan, dan saya pun sadar pengetahuan saya pun msh sedikit, mohon pd Bpk2 Ustadz di web. ini bisa memberi solusi dan cara yg baik utk menyentuh hati keluarga sy yg msh tertutup dgn Kesyirikan, Terimakasih bynk atas ilmu2 yg bermanfaat ini, Semoga Allah SWT selalu membimbing kita pada jln yg lurus..Amiin

  • asalamualikum warahma tullahiwabaraka tuhu

    jazakum Allahu khayran for this excellent article and excellent clarification. Alhamdulillah.

    may Allah grant us beneficial knowledge and righteous actions. ameen

  • abu zalfa

    assalamu’alaikum..

    ustadz, saya pernah baca bahwa orang2 yang ziarah kubur berdalil dengan sahabat Bilal yang mimpi bertemu Nabi shollallohu alaihi wasallam, kemudian sahabat Bilal mendatangi kubur Nabi shollallohu alaihi wasallam dan menciumi kubur beliau, kemudian hal ini diketahui pula oleh sahabat Umar dan tidak dilarang atau semuisalnya (kurang lebih seperti ini kisahnya – seingat saya). bagaimana kualitas kisah ini dan apakah hal ini dibenarkan dalam islam?

    jazakumulloh khoiron..

    • Wa’alaikumus salam.
      @ Abu Zalfa.
      Benarkah riwayat tersebut? Ini harus dibuktikan dulu. Coba tanyakan pada pembawa kisah diriwayatkan dalam kitab mana kisah tersebut? Setelah itu baru kita jelaskan kelanjutannya. Barakallahu fiikum.

  • abu zalfa

    Ini info yang ana dapat :

    Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasul. Beliau bersabda kepada Bilal: “Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidakperhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?”. Selepas itu, dengan perasaan sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju Madinah. Lalu Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasul) datang. Lantas Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Lihat: Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar Jilid: 1 Halaman: 208, Tahdzibul Kamal jilid: 4 Halaman: 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid: 1 Halaman 358)

    Ibnu Hamlah menyatakan: “Abdullah bin Umar meletakkan tangan kanannya di atas pusara Rasul dan Bilal pun meletakkan pipinya di atas pusara itu”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 4 Halaman: 1405)

    Dawud bin Abi Shaleh mengatakan: “Suatu saat Marwan bin Hakam datang ke Masjid (Nabawi). Dia melihat seorang lelaki telah meletakkan wajahnya di atas makam Rasul. Kemudian Marwan menarik leher dan mengatakan: “sadarkah apa yang telah engkau lakukan?”. Kemudian lelaki itu menengok ke arah Marwan (ternyata lelaki itu adalah Abu Ayyub al-Anshari) dan mengatakan: “Ya, aku bukan datang untuk seonggok batu, aku datang di sisi Rasul. Aku pernah mendengar Rasul bersabda: Sewaktu agama dipegang oleh pakarnya (ahli) maka janganlah menagis untuk agama tersebut. Namun ketika agama dipegang oleh yang bukan ahlinya maka tangisilah”.” (Lihat: Mustadrak ala as-Shohihain karya al-Hakim an-Naisaburi Jilid: 4 Halaman: 560 Hadis ke-8571 atau Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi Jilid: 4 Halaman 1404)
    Hadis di atas (dari Hakim an-Naisaburi) telah dinyatakan kesasihahannya oleh adz-Dzahabi. Sehingga tidak ada seorang ahli hadis lain yang meragukannya.

    Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa; sewaktu Rasulullah dikebumikan, Fatimah –puteri Rasul satu-satunya- bersimpuh di sisi kuburan Rasul dan mengambil sedikit tanah makam Rasul kemudian diletakkan dimukanya dan sambil menangis ia pun membaca beberapa bait syair…. (Lihat: al-Fatawa al-Fiqhiyah karya Ibnu Hajar Jilid: 2 Halaman: 18, as-Sirah an-Nabawiyah jilid: 2 Halaman: 340, Irsyad as-Sari jilid: 3 Halaman: 352, dsb)

    Seorang Tabi’in bernama Ibnu al-Munkadir pun pernah melakukannya (bertabarruk kepada kubur Rasul). Suatu ketika, di saat beliau duduk bersama para sahabatnya, seketika lidahnya kelu dan tidak dapat berbicara. Lantas beiau langsung bangkit dan menuju pusara Rasul dan meletakkan dagunya di atas pusara Rasul kemudian kembali. Melihat hal itu, seseorang mempertanyakan perbuatannya. Lantas beliau menjawab: “Setiap saat aku mendapat kesulitan, aku selalu mendatangi kuburan Nabi”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 2 Halaman: 444)

    Dari Aus bin Abdullah: “Sautu hari kota Madinah mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madinah kepada Aisyah mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: “Lihatlah kubur Nabi Muhammad s.a.w. lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit terlihat langsung”, maka merekapun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk” (HR. Ad-Darimi)

    Mohon penjelasan dari ustadz. barokallohu fiikum..

  • U say: “Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadahnya juga mengakui keesaan rububiyah-Nya”

    I say:

    Itu adalah bathil.
    Orang musyrik tidak pernah mengakui Rububiyah Allah. Rububiyah Allah dan Uluhiyah tidak bisa dipisahkan. Mengakui salah satunya berarti mengakui keseluruhannya. Mengingkari salah satunya berarti mengingkari keseluruhannya. Orang musyrik mengingkari Tauhid Uluhiyah, berarti mereka juga mengingkari Tauhid Rububiyah.

    Jika Anda katakan bahwa mereka mengakui keesaan rububiyah Allah, lalu mengapa mereka tak dapat menjawab di dalam qubur ketika ditanya: “Man Robbuka?”

    Sungguh, orang2 musyrik itu telah menipu Anda dengan lisan mereka. Dan Anda tidak sadar akan tipuan mereka karena Anda kurang memahami apa yang Allah firmankan.

    Katakanlah:”Kalau demikian, maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

    Perhatikan bagian itu. Itu menunjukkan bahwa orang2 musyrik ini sesungguhnya berdusta. Jika benar mereka mengakui bahwa bumi dan semua yang ada padanya itu adalah kepunyaan Allah, lalu mengapa mereka tidak beribadah kepada Allah dengan mengesakan-Nya? Jika benar mereka mengakui bahwa bumi dan semua yang ada padanya itu adalah kepunyaan Allah, lalu dari jalan mana mereka ditipu sehingga mereka menyekutukan Allah?

    Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. [QS. Al-Mu-minun: 90]

    • #realsalaf
      Apakah anda tidak men-tadabburi Al Qur’an? Mau anda kemanakan ayat-ayat yang begitu banyak menceritakan bahwa orang kafir Quraisy mengakui rububiyyah Allah? Sebagiannya telah disebutkan di atas.
      Adapun pertanyaan di alam kubur bukanlah ujian wawasan, melainkan ujian keimanan. Jangankan orang kafir, bahkan orang Islam yang tidak berpegang teguh pada ajaran Islam pun akan kesulitan menjawabnya.

  • assalamu’alaikum warohmatullohiwa barokatuh

    wahai saudara ku hendaklah di situs ini kita saling mendukung untuk dakwah jangan sampai terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan, kalau memang ada hadist yang lebih shohih kita sampaikan saja mudah-mudahan bermanfaat untuk dakwah islam sesuai pemahaman salafus sholeh amin….
    wassalamu’alaikum warohmatullohiwabarokatuh

  • syahrul

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz ijin share artikel-artikel yang ada sekarang atau yang akan datang, trimakasih sebelumnya.
    Wassalamu’alaikum

  • Terima kasih atas info ini bahwa “kaum Quraisy juga menganal Allah”. Telah lama dalam pikiran saya bertanya bahwa “mengapa ada diantara orang-orang kafir bernama Abdullah (=hamba Allah)kalau mereka tidak mengakui eksistensi Allah sebagai tuhan yang patut disembah?”, wassalam.

  • Khairul azzam

    Assalamu’alaikum warahmatullh
    sy mau tanya apa itu tassawuf?
    Katanya itu adalah kesesatan,apakah kesesatannya?
    Banyak yg menganggap itu baik.

  • anto

    Alhamdulillah atas nikmat Islam dan Sunnah. Jazakallohu Khoiron atas ilmunya.

    mohon izin share

  • Saiful Aziz

    Assalamu’alaikum ustadz..
    Jazaakumullahu khoiron atas ilmunya. Saya mau bertanya perihal riwayat Hadits mengenai kaum Quraisy.
    Saya kutip beberapa kata di paragraf terakhir, “Maka sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sama dengan perilaku kaum musyrikin Quraisy yang berdoa kepada Laata, ‘Uzza dan Manat. Mereka pun sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka minta adalah sekedar pemberi syafaat dan perantara menuju Allah.”
    Nah.. Setelah saya coba cari riwayatnya, yang saya temukan itu
    روى جويبر ، عن الضحاك ، عن ابن عباس قال : وقف النبي – صلى الله عليه وسلم – على قريش ، وهم في المسجد الحرام ، وقد نصبوا أصنامهم ، وعلقوا عليها بيض النعام ، وجعلوا في آذانها الشنوف [ والقرطة ] ، وهم يسجدون لها ، فقال : يا معشر قريش ، لقد خالفتم ملة أبيكم إبراهيم وإسماعيل ، ولقد كانا على الإسلام . فقالت قريش : يا محمد إنما نعبد هذه حبا لله ليقربونا إلى الله زلفى . فأنزل الله تعالى : ( قل إن كنتم تحبون الله ) وتعبدون الأصنام لتقربكم إليه ( فاتبعوني يحببكم الله ) ” فأنا رسوله إليكم وحجته عليكم ، وأنا أولى بالتعظيم من أصنامكم .

    Setelah saya coba cek sanadnya, Juwaibir bin Sa’id ini ternyata perawi yang Matruk.. Sedangkan perawi yang Matruk itu kan Dho’if Jiddan kan ya ustadz? Tidak boleh dijadikan hujjah? Nah… Ada ga ustadz riwayat dari jalur lain? Saya belum menemukan ustadz..
    Atau mungkin ada ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa kaum Quraisy menjadikan Latta ‘Uzza itu sekedar pemberi syafaat dan perantara menuju Allah? Mohon penjelasannya ustadz.. Syukron..
    Baarokallahu Fiik…

    • Wa’alaikumussalam, tulisan di atas tidak membawakan riwayat tersebut, jadi tidak perlu kami tanggapi.

      Adapun bahwa kaum Quraisy itu menyembah Allah sudah sangat jelas dari ayat-ayat di atas. Mereka jelas tidak meyakini Latta, Uzza, Manat itu yang menciptakan alam semesta dan mengatur kehidupan. Mereka meyakini Allah lah yang demikian.

      Maka di sini jelas, mereka menyembah Latta, Uzza, Manat bukan karena mereka Rabb semesta alam, tapi dalam rangka mendekatkan diri kepada Rabb semesta alam. Banyak ayat yang menjelaskan hal ini:

      “Dan orang-orang yang mengangkat selain-Nya sebagai penolong (sesembahan, pen) beralasan, ‘Kami tidaklah beribadah kepada mereka kecuali karena bermaksud agar mereka bisa mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah pasti akan memberikan keputusan di antara mereka terhadap perkara yang mereka perselisihkan itu. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang gemar berdusta dan suka berbuat kekafiran.” (QS. Az Zumar [39]: 3)

      “Dan mereka beribadah kepada selain Allah; sesuatu yang sama sekali tidak mendatangkan bahaya untuk mereka dan tidak pula menguasai manfaat bagi mereka. Orang-orang itu beralasan, ‘Mereka adalah para pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah kelak.’.” (QS. Yunus [10]: 18)

      Dan masih banyak lagi

  • Pingback: Download [Audio] Kajian Rutin “Mempelajari Jejak Shirah Nabawiyyah 3” Ust. Nur Sahid |()