Mengenal Alam Malaikat (1)

Mengenal Alam Malaikat (1)

Allah ta’ala telah mengabarkan kepada manusia akan keberadaan malaikat. Bahkan Allah jadikan keimanan kepada malaikat sebagai salah satu rukun iman, yang tanpanya iman seseorang tidak akan diterima. Di sinilah menjadi penting bagi setiap muslim untuk mengenal malaikat. Dengan mengenal mereka kita akan lebih mengetahui kebesaran Allah yang memiliki tentara-tentara seperti malaikat. Dengan mengenal malaikat pula, kita akan merasakan kasih sayang Allah yang telah melindungi kita dengan mengutus para malaikat untuk menjaga kita, mencatat amal amal kita, membisiki kita untuk berbuat baik dan lain sebagainya. Juga dengan mengenal malaikat kita akan mencintai mereka, sebagai hamba Allah yang selalu taat kepada Nya.

Definisi malaikat

Malaikat adalah jamak dari kata Malak, yang secara bahasa bermakna Mursil ; utusan.1 Mereka adalah makhluk ghoib yang Allah yang ciptakan dari cahaya, tidak memiliki sifat ketuhanan2, selalu taat kepada perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah.3

Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya arsy, dan jin diciptakan dari nyala api, dan adam dari apa yang sudah diceritakan kepada kalian4

Jumlah malaikat sangat banyak, tidak ada yang mengetahui selain Allah ta’ala5. Allah ta’ala berfirman, “dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhan mu melainkan dia sendiri” (Qs. Al Muddatsir: 31).

Menunjukan kepada banyaknya jumlah malaikat, adalah apa yang dikatakan jibril Alaihi Salam ketika ditanya oleh Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (dalam peristiwa isro) tentang baitul ma’mur6, “Ini adalah baitul Ma’mur sholat didalamnya tiap hari tujuh puluh ribu malaikat, tidak kembali lagi malaikat terakhir dari mereka7. Maksudnya tujuh puluh ribu malaikat yang sholat setiap hari berbeda beda.

Apakah malaikat berjasad?

Nash-nash yang ada menunjukan bahwa malaikat memiliki jasad8. Bahkan jasad mereka sangat besar, meskipun berbeda beda. Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan bagaimana besarnya malaikat pemikul Arsy, “aku diizinkan untuk menceritakan salah satu malaikat Allah, yaitu malaikat pemikul Arsy, sesungguhnya antara cuping telinga dan pundaknya sejauh perjalanan tujuh ratus tahun9

Mereka juga memiliki sayap. Meskipun berbeda beda jumlah sayapnya. Di antara mereka ada yang memiliki dua sayap, tiga atau empat sayap, bahkan ada yang memiliki enam ratus sayap sebagaimana malaikat Jibril. Allah ta’ala berfirman, “Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…” (Qs. Fathir: 1).

Mengenai malaikat jibril, Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melihat dalam bentuk aslinya selama dua kali. Yang pertama ketika di abthah,10 Rosulullah melihat Jibril menampakan dirinya dalam bentuk aslinya, dengan enam ratus sayap yang menutupi ufuk. Yang kedua adalah ketika Rosulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dinaikan ke langit pada malam Mi’roj11. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha” (Qs. An Najm 13-14) Adapun selebihnya, Malaikat Jibril lebih sering datang dalam bentuk seorang sahabat bernama Dihyatul Kalbii12, atau terkadang dalam bentuk seorang laki laki asing yang tidak dikenal.13

Malaikat juga memiliki akal tapi tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia14. Karena jika tidak memiliki akal, tidak mungkin Allah memuji mereka dengan menyebutkan sifat mereka, “tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Qs. At Tahrim : 6)

Namun meskipun malaikat memiliki jasad, mereka tidak membutuhkan makan dan minum sebagaimana manusia15. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Nabi Ibrohim yang didatangi oleh malaikat yang menyerupai manusia. ketika dihidangkan makanan kepada mereka, mereka tidak mau menyentuhnya.16

Keyakinan kaum musyrikin tentang malaikat

Orang Yahudi17 menisbatkan Uzair18 sebagai anak Allah. Orang Nashroni juga menisbatkan Al Masih (Nabi Isa) sebagai anak Allah. Dan orang Musyrik tidak kalah dalam hal ini. Mereka menisbatkan malaikat sebagai anak anak Allah! Bahkan lebih dari itu, mereka mengatakan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan19 Allah20. Maha Suci Allah atas apa yang mereka tuduhkan. Allah pun mengingkari pernyataan orang musyrik bahwa malaikat berjenis kelamin wanita. Allah ta’ala berfirman, “Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.(Qs. Az Zukhruf : 19).

Allah mengingkari tuduhan bahwa malaikat adalah anak-anak Allah, “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan (Qs. Al Anbiya : 26).

Serta bagaimana mereka bangga jika memiliki anak laki laki dan malu jika memiliki anak perempuan, namun kemudian menisbatkan anak perempuan untuk Allah?21 Tentu ini sesuatu yang tidak adil. Allah berfirman, “Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (Qs. An Najm : 21-22).

Mana yang lebih mulia antara malaikat dan orang soleh?

Masalah ini telah diperselisihkan oleh para ulama dahulu.22 Akan tetapi yang benar adalah -sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, “bahwa orang soleh lebih utama jika telah masuk ke dalam syurga. Karena mereka berada dekat dengan sang Pencipta, bersenang-senang di dalam surga, dimuliakan oleh Allah dengan rahmat Nya, bahkan bisa melihat wajah Allah ta’ala. Sementara malaikat ketika itu –dengan izin Allah- menjadi pelayan manusia.

Adapun sekarang –di kehidupan dunia- malaikat lebih utama dari manusia soleh, karena keberadaannya di atas langit, dekat dengan sang pencipta, sibuk beribadah kepada Allah, suci dari dosa yang dilakukan oleh manusia di muka bumi.”23

Bersambung insya Allah….

***

Catatan kaki

1 Muhammad bin Solih Utsaimin, Syarhul Akidah Al Wasathiyah, Hal 45, Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, Rosaail Fil Akidah hal. 268

2 Karena yang memiliki sifat ketuhanan hanyalah Allah ta’ala. Adapun malaikat adalah hamba Allah juga yang tidak selayaknya disembah.

3 Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, Hal. 268

4 HR Muslim No. 2966

5 Muhammad Sholih Utsaimin Hal. 48

6 Yaitu sebuah tempat ibadah penduduk langit (malaikat) yang berada diatas langit ketujuh. Sebagaimana di bumi memiliki ka’bah sebagai tempat ibadah, maka disetiap langit pun memiliki tempat ibadah. Tempat ibadah di langit pertama bernama baitul Izzah. (Lihat: Qs. At Thur : 4 dan tafsirnya, tafsir Ibnu Katsir)

7 HR. Bukhori No. 3207

8 Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, hal. 270 dan Muhammad Sholih Utsaimin hal. 49

9 Sohih Sunan Abu Dawud No. 9353

10 Suatu tempat di antara mekah dan mina, lebih dekat ke mina.

11 Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/107) dengan sanad yang sohih

12 Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/107) dengan sanad yang sohih

13 Hafidz Al Hakimi, hal. 810

14 Ibn Abil Izz hal. 173

15 Dr. Sulaiman Al Asyqor, ‘Alamul Malaikat, hal. 18

16 Lihat kisah ini dalam Qs. Ad Dzariyat : 24-28 dan tafsirnya dalam tafsir Ibnu Katsir.

17 Pandangan ini bukan pandangan seluruh bangsa yahudi tapi merupakan pandangan sebagian kecil bangsa yahudi (Lihat tafsir As Sa’di Qs At Taubah. 30 )

18 Uzair adalah nama salah seorang ulama bani Isroil. Dikisahkan bahwa ketika kerajaan kerajaan ketika itu telah menguasai dan memecah belah bangsa bani isroil dan membunuh para ulama bani isroil yang menghafal taurot, mereka mendapatkan uzair masih hidup dan menghafal taurot atau sebagiannya. Maka kemudian mendiktekan kembali kepada mereka taurot, maka mereka pun mengatakan bahwa Uzair anak Allah. (lihat Qs. At Taubah : 30 dan tafsirnya; Tafsir Ibnu Katsir dan Tafir As Sa’di)

19 Malaikat tidaklah disifati dengan laki laki atau perempuan. Karena keberadaan mereka berbeda dengan manusia, jin maupun hewan hewan. (lihat Dr. Sulaiman Al Asyqor, hal. 16

20 Lihat Tafsir As Sa’di; tafsir Qs. Al Anbiya : 26

21 Ibnu Abbas dan Qotadah berkata –mengomentari ayat ini-, “yaitu pembagian yang buruk ketika kalian (orang musyrik menisbatkan kepada Allah hal yang kalian benci jika dinisbatkan kepada kalian sendiri” (Lihat Tafsir ayat ini dalam tafsir Al Baghowi)

22 Ibn Abil Izz dalam Syarhul Aqidah At Tohawiyah (171-176) sebelum dan setalah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini serta dalil setiap kelompok mengatakan bahwa masalah ini termasuk masalah yang tidak perlu dibahas, karena tidak mengandung manfaat.

23 Majmu Fatawa 4/372

Penulis: Abdullah Hazim

Artikel Muslim.Or.Id

Print Friendly, PDF & Email
Muslim App
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Singgih Pamungkas

Mahasiswa Fakultas Dakwah wa Ushuluddin, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

View all posts by Muhammad Singgih Pamungkas »
  • Agrippin L Finnegan

    Barakallahu fiikum