22 Kiat Sukses Membaca Kitab (3)

22 Kiat Sukses Membaca Kitab (3)

Kiat kedua belas, catat faidah yang Anda dapatkan dari buku yang Anda baca.

Saat membaca, pena atau pensil jangan sampai absen dari genggaman tangan Anda. Bila Anda menemui faidah yang berharga, catatlah di sampul buku, atau halaman-halaman kosong di dalam buku lainnya. Bisa di halaman depan atau halaman belakang. Semua faidah yang termaktub dalam buku memang berharga. Namun, faidah itu bertingkat-tingkat. Maka pilihlah faidah yang menurut Anda paling penting atau berupa pengetahuan baru. Nanti, bila sewaktu-waktu Anda membutuhkan ma’lumat tersebut, Anda akan mudah mencarinya di coretan-coretan halaman depan atau halaman belakang yang Anda gunakan untuk mengumpulkan faidah.

Jangan lupa sertakan nomor halaman buku yang memuat faidah yang Anda dapat. Jadi ini semacam buat daftar isi sendiri. Metode ini amat membantu untuk menguatkan ingatan Anda terhadap faidah-faidah yang Ada dalam buku.

Ketiga belas, kumpulkan faidah yang Anda catat, lalu golongkan sesuai bab yang dibahas dalam sebuah catatan.

Bila sudah mencatat faidah di halaman sampul buku, akan lebih baik lagi bila Anda kumpulkan semua faidah dari buku-buku yang Anda baca. Kemudian Anda pisahkan menjadi bab-bab sesuai kategori ma’lumatnya. Misal akidah kumpulkan dalam  catatan tentang akidah. Fikih tentang fikih. Tarikh (sejarah) tentang tarikh, dan seterusnya.

Bila sewaktu-waktu ada satu faidah yang hilang, atau lupa tidak tercatat, maka carilah faidah tersebut seperti seorang yang mencari binatang yang membawa perbekalannya, yang hilang di tengah padang pasir.

Dengan demikian -setelah taufik dari Allah- Anda akan merasakan bahwa bacaan Anda benar-benar menambah ilmu dan tersimpan kuat dalam ingatan Anda. Sehingga saat Anda hendak mengisi ceramah, seminar, atau khutbah, Anda akan mudah menemukan kembali ma’lumat atau faidah yang Anda butuhkan.

Keempat belas, pilihlah kitab andalan pada setiap disiplin ilmu.

Misal, dalam ilmu nahwu, pilih alfiyah ibnu malik beserta syarahnya milik Ibnu ‘Aqil. Dalam ilmu aqidah, kitab at-tauhid misalnya. Jangan lupa terapkan kiat ke 11 dan 12 di atas.

Kelima belas, sebelum memasuki musim atau moment tertentu, bacalah kitab yang berkaitan dengan musim atau moment tersebut.

Seperti saat musim hujan, bacalah buku yang membahas tentang fikih berkaitan dengan hujan. Saat musim haji, bacalah fikih haji. Saat musim puasa, bacalah buku tentang fikih puasa. Saat musim hari raya qurban, bacalah buku tentang fikih qurban, dst.

Ini sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu. Sudah terbukti, apabila Anda membaca suatu kitab yang membahas tentang suatu ibadah sesuai dengan musimnya masing-masing, Anda akan merasakan betala lezatnya ibadah, yang dibangun di atas ilmu.

Keenam belas, metode muqoronah dan mufaroqoh.

Maksudnya begini, biasanya satu kitab ada beberapa versi syarah. Nah, mulailah dari syarah yang kiranya paling komprehensif dan paling inti. Lalu setelah berpindah pada syarah selanjutnya. Kemudian, di saat Anda mendapat faidah tambahan yang tidak disebutkan dalam kitab syarah pertama, maka catatlah faidah tersebut, lalu kumpulkan bersama catatan faidah kitan syarah pertama (seperti yang telah kami jelaskan pada kiat ke 12). Terapkan metode ini pada syarah-syarah lainnya yang akan Anda baca.

Sebagai permisalan, kitab “al Arba’in an Nawawi“. Kitab yang tidak asing lagi di telinga kaum muslimin ini memiliki banyak versi syarah. Mulai dari ulama mutaqddimin sampai ulama mutakhirin. Mulai dari Ibnu Rojab al Hambali, Ibnu Daqiq al ‘ied, kemudian untuk ulama akhir-akhir ini yang juga men-syarah kitab ini adalah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Syaikh Sholih Fauzan.

Nah, pilihlah kitab syarahnya Ibnu Rojab –rahimahumallah– sebagai pegangan asal. Lalu setalah membaca satu hadis dari syarahnya Ibnu Rojab, bacalah syarah-syarah selanjutnya pada hadis yang sama. Di sini Anda akan mendapati faidah-faidah berharga yang tidak di sebutkan pada syarah pertama, begitu pula pada kitab-kitab syarah selanjutnya. Sehingga Anda telah mengumpulkan dan menggabungkan faidah dari ulama yang berbeda.

Ketujuh belas, membaca kitab-kitab fatwa.

Pada poin ini, kami akan membeberkan kepada Anda sebuah metode yang amat terasa manfaatnya dan sudah terbukti. Telah kami prkatekkan dengan beberapa kawan kami, dan alhamdulillah, Allah memberikan manfaat pada metode ini.

Metode ini telah di singgung oleh Imam Bukhori dalam kitab shahihnya, dan dijadikan judul salah satu bab:

باب طرح الإمام المسألة على على أصحابه ليختبر ما عندهم من العلم

“Bab: Seorang Alim memberikan pertanyaan kepada saudaranya untuk menguji keilmuannya”

Di sini kami beri judul: seorang mengajukan pertanyaan kepada kawan-kawannya, untuk mudzakaroh (belajar kelompok) dan saling menguji keilmuannya.

Pilihlah salah satu kitab fatwa. Kami sarankan yang berkaitan dengan fikih ibadah yang sesuai dengan musimnya. Kemudian ajaklah beberapa kawan Anda yang kelihatan memiliki semangat dalam menuntut ilmu, untuk membaca kitab fatwa tersebut secara berkelompok.

Setelah terbentuk satu kelompok belajar, salah seorang dari kalian membacakan pertanyaan yang ada dalam kitab fatwa tersebut, dan biarkan jawaban dari Syaikhnya jangan dibaca terlebih dahulu.

Kemudian yang lainnya menjawab pertanyaan tersebut sesuai kadar pengetahuannya. Bila ada jawaban yang berbeda satu sama lainnya, diskusikanlah dan saling berdu argumen. Dan ini bukan termasuk berbicara tentang syari’at Allah tanpa ilmu. Akan tetapi min baabil mudaarosah (untuk tujuan belajar). Setelah masing usai menyampaikan jawaban beserta dalil dan saling berdiskusi, barulah si pembaca membacakan jawaban dari ulama yang menyusun kitab fatwa tersebut.

Metode seperti ini akan meimbulkan rasa penasaran terhadap jawaban Syaikh. Dan keinginan yang kuat untuk mengetahui letak kekeliruan dan kelemahan jawaban kita. Sehingga kesadaran untuk mengetahui ilmu itu hadir dan faidah ilmiyyah dari jawaban Syaikh benar-benar teringat di dalam memori kita.

Kedelapan belas, jangan berpindah-pindah buku sebelum selesai membaca.

Sering berpindah-pindah buku sebelum menyelesaikan bacaan, akan melelahkan otak dan faidah yang di dapat akan tercerai berai. Jadi, usahakan bila membaca suatu buku, azamkan dalam dirimu untuk menyelesaikan buku tersebut. Tidak mengapa Anda memiliki rutinitas membaca lebih dari satu buku dalam satu pekan. Akan tetapi, aturlah waktunya. Semakin sedikit buku yang dibaca dalam satu pekan semakin efisien waktu dan tenaga pikiran. Jadi, mulai dari sedikit dulu, baru setelah terbiasa bisa nambah lagi bukunya. Misal seminggu satu atau dua buku dulu.

Dengan seperti ini, Anda akan terpacu untuk lebih pandai membagi waktu dan termotivasi lada fase selanjutnya untuk menambah jumlah buku yang menjadi rutinitas baca Anda dam satu pekan.

Kesembilan belas, membaca sima’an bersama kawan.

Para ulama biasanya mempraktekkan metode ini untuk membaca kitab-kitab yang tebal, semacam Shohih Bukhori, Siyar A’laam an Nubala dan lainnya. Jadi buatlah kesepakatan dengan beberapa kawan Anda. Kemudian masing-masing tentukan batas jatah membacanya. Bisa perhalaman bisa perbab. Diantara manfaat metode membaca yang seperti ini adalah, menumbuhkan motivasi untuk berkumpul dalan rangka berbagi faidah dan akan mendorong diri kita untuk membaca kitab lebih banyak lagi.

Kedua puluh, sebagai selingan untuk mengusir kepenatan pikiran Anda, bacalah kitab-kitab tentang biografi ulama, sastra, sejarah, tazkiyatun nufus dll.

Karena sudah suatu hal yang lumrah bila jiwa manusia merasa bosan dengan aktivitas yang tidak variatif. Maka tak ada salahnya Anda mengusir kebosanan ini dengan melakukan aktivitas lain. Usahakan pengusir kepenatan ini adalah aktivitas yang bermanfaat dan menambah ilmu juga. Seperti membaca buku-buku yang disebut di atas. Atau dengan mendengar rekaman kajian dst (yang berfaidah).

Kedua puluh satubila Anda membeli buku baru, bacalah baik-baik judul, pengarang, muhaqiq muqodimahnya dan daftar isi.

Macam baca yang seperti ini disebut qiroah al istithlaa’iyyah (membaca sekilas untuk mengetahui isi buku secara global, sebagaimana telah kami singgung lada sesi mukodimah). Misal hari ini ada buku baru yang menempati rak buku Anda, dengan judul “asy-rotus saa’ah” (Tanda-tanda hari kiamat). Maka bca baik-baik judul bukunya, nama pengarangnya; dia ulama abad ke berapa, siapa muhaqiq kitab tersebut dll. Sehingga Anda memiliki latar pengetahuan terhadap setiap kitab yang Anda miliki, yang nantinya akan membantu sebagai pertimbangan untuk memilih kitab yang akan dibaca selanjutnya.

Kedua puluh dua, maksimalkan kemampuan Anda untuk hal-hal yang bermanfaat.

Sebagian pemuda dikaruniai hafalan yang kuat dan tekun membaca. Namun sayang, kelebihan ini tidak dia maksimalkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Kuat hafalannya, namun digunakan untuk mengahal aktor-aktor dalam komik naruto, nama pemain bola, artis-artis sinema dll. Tekun membaca, namun ia maksimalkan untuk membaca koran, komik, novel dll. Yang lebih miris, bila dzikir pagi petang saja belum hafal. Fikih sholat saja belum pernah dibaca.

Ada cerita yang menarik yang ditulis oleh Khotib al Baghdadi rahimahullah, dalam bukunya “Syarof Ash Haabi al Hadis“, setelah beliau membawakan sanad kisah ini kepada Ustman bin Ali rahimahullah. Ustman menceritakan, “Saya pernah mendengar A’masy berkata:

إذا رأيت الشيخ لم يقرأ القرآن ولم يكتب الحديث فاصفع له فإنه من شيوخ القمر

“Bila kalian melihat kiyai yang tidak pandai membaca Alquran dan tidak menulis hadis (menyusunnya dalam bab fikih atau mensyarahnya menjadi sebuah karya tulis. pent), maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah syuyukh al qomar. “

“Apa maksud syuyukh al qomar itu?” Tanya Abu Sholih.

شيوخ دهريون يجتمعون في ليالي القمر يتذاكرون أيام الناس ولا يحسن أحدهم أن يتوضأ للصلاة.

“Mereka para kiyai musiman, yang berkumpul di malam-malam hari pergantian bulan (hijriyah. pent). Kemudian mereka saling membicarakan hari-hari manusia, namun mereka belum bagus wudhunya.” (Syarof Ash Haabi al Hadis, hal. 67-68)

Oleh karena itu, kita mendapati, orang-orang yang keseringan mendengar nyanyian-nyanyian untuk tujuan merilekskan pikiran, mereka kurang minat untuk mendengarkan Al Qur’an. Bahkan bisa sampai tidak senang mendengarkan Al Qur’an. Demikian dikatakan Syaikhul Islam Ahmad bin Abdulhalim al Harroni –rahimahullah-. (Iqtidho ‘ Shirot Al-mustaqim,  ta’liqnya Syaikh Ibnu Utsaimin,  hal. 307)

Dan ini realita, sebagian orang betah lama membaca berlembar-lembar halaman koran, majalah otomotif (dll), komik dan novel. Mereka betah sampai berjam-jam. Alangkah sayangnya waktu  bila dihabiskan hanya untuk membaca hal-hal yang demikian. Saat membaca Al Qur’an atau beberapa lembar syarah hadis, rasa bosan cepat datang. Sungguh ini musibah. Maka berusahalah untuk membiasakan diri untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.

Dengan demikian, alhamdulillah, kita telah menyelesaikan serial tulisan mengenai kiat sukses membaca kitab. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk setiap yang membacanya, dan penulis berharap, semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai amalan yang ikhlas, yang bermanfaat di hari pertimbangan amal nanti. Selamat mencoba.

Wabillahit Taufiiq wal Hidayah.
____

Ditulis pagi hari, Ahad 2 Jumadal Akhir 1436 H, di sakan thullab Madinah Islamic University.

Ahmad Anshori
Artikel : Muslim.Or.Id

Indeks artikel:

  1. 22 Kiat Sukses Membaca Kitab (1)
  2. 22 Kiat Sukses Membaca Kitab (2)
  3. 22 Kiat Sukses Membaca Kitab (3)

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
batik travel
MPD Banner

About Author

Ahmad Anshori

Alumni PP. Hamalatul Qur'an Yogyakarta. Alumni Mahasiswa Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

View all posts by Ahmad Anshori »

5 Comments

  1. wedangjahe

    Apakah yang dimaksud ‘faidah’ pada kiat ke duabelas-tigabelas?

    • Sa'id Abu Ukkasyah

      Faedah yg dimaksud : seluruh ilmu yg bermanfa’at yg belum Anda ketahui atau tahu tapi sering lupa, atau tahu tapi kurang paham, dan semisalnya , lalu Anda dapatkan faedah itu sekarang, maka catatlah atau golongkanlah.

      • Abu Abdurrahman

        Ustadz, kalau mencatat faidahnya di buku tersendiri, bagaimana?

        • Sa'id Abu Ukkasyah

          Tidak masalah, namanya cara bisa berlainan,asal cara yg baik, jadi sesuaikan dg yg paling bermanfaat bagi Anda
          Hanya saja, kalau langsung di kitab yg sedang dipelajari, bisa ditulis langsung di dekat kalimat yg sedang dibahas.

Leave a Reply