Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Larangan Syirik Kecil Dalam Al-Qur’an

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
28 Januari 2015
di Akidah
larangan syirik kecil
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Syirik Kecil adalah Hal yang amat terlalu
  • Larangan Terhadap Syirik Kecil dalam Al-Qur`an
  • Penutup
    • Referensi :

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebagaimana diketahui bahwa definisi syirik kecil adalah

فكل ما نهى عنه الشرع مما هو ذريعة إلى الشرك الأكبر ووسيلة للوقوع فيه، وجاء في النصوص تسميته شركا

“Segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.” Contoh dari perbuatan ini adalah bersumpah dengan nama selain Allah, riya` (cari pujian) yang sedikit dalam beribadah, serta ucapan “atas kehendak Allah dan kehendak Anda”, dan selainnya dari perbuatan syirik kecil.

Syirik Kecil adalah Hal yang amat terlalu

Syirik kecil adalah perkara yang sangat terlalu karena ia sangat diharamkan dalam Islam. Bahkan -secara umum- dikategorikan dosa terbesar dari dosa-dosa besar dibawah syirik besar dan yang setingkatnya, meskipun tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam (baca artikel: Benarkah syirik kecil lebih besar dosanya dari dosa besar?). Oleh karena itu, banyak didapatkan peringatan keras terhadap kesyirikan jenis ini atau larangannya di dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah.

Larangan Terhadap Syirik Kecil dalam Al-Qur`an

Ayat pertama

Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang salih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Al-Kahfi : 110).

Ayat di atas menunjukkan makna umum bahwa syirik besar maupun kecil -keduanya- adalah perkara yang terlarang, karena Allah tidaklah membatasi bentuk kesyirikan dalam firman-Nya tersebut. Dan karena dalam kaidah ilmiyyah disebutkan bahwa jika ada sebuah kata yang nakirah (tidak ditentukan maksudnya [indefinite]) dalam konteks kalimat nafi (peniadaan), maka menunjukkan faidah keumuman perkara yang terlarang tersebut, baik syirik besar maupun kecil.

Ayat kedua

Allah Ta’ala berfirman

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (An-Nisaa`: 36).

Sebagaimana ayat sebelumnya, maka ayat ini pun juga menunjukkan makna yang umum, yaitu larangan dari semua macam syirik, baik kecil maupun besar, karena didapatkannya kata nakirah (tidak ditentukan maksudnya [indefinite]) yang tersirat di dalam kata  {تُشْرِكُو} berada dalam konteks kalimat nahi (larangan dengan adanya huruf {لَا} ) di dalam ayat ini, maka menunjukkan faidah keumuman perkara yang terlarang tersebut, baik syirik besar maupun kecil.

Ayat ketiga

Allah Ta’ala berfirman

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Huud: 15-16).

Salafus Salih menyebutkan bahwa yang termasuk kedalam kandungan ayat ini, di antaranya adalah

orang yang melakukan riya’ (memamerkan ibadah agar dipuji manusia), seperti yang disebutkan oleh Al-Baghawi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya 2/391,

قال مجاهد هم أهل الرياء

“Mujahid mengatakan, ‘Mereka adalah para pelaku riya`’”.

Di antara salaf juga ada yang menyebutkan bahwa shalat dan shadaqah yang dilakukan dengan niat mengharap manfa’at dunia atau balasan kenikmatan duniawi, tidak mengharap pahala di Akhirat, hal ini termasuk perbuatan syirik yang terancam dengan neraka di dalam Ayat ini (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/97).

Ayat keempat

Allah Ta’ala berfirman

وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

“Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur” (Faathir: 10).

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan tafsir salafus salih dalam kitab tafsirnya, hal. 276, dengan mengatakan,

وقوله : { والذين يمكرون السيئات} : قال مجاهد ، وسعيد بن جبير ، وشهر بن حوشب : هم المراءون بأعمالهم ، يعني : يمكرون بالناس ، يوهمون أنهم في طاعة الله ، وهم بغضاء إلى الله عز وجل

“Dan firman-Nya { والذين يمكرون السيئات}, Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Syahr bin Hausyab berkata (tentangnya), ‘Mereka adalah para pelaku riya`(memamerkan ibadah agar dipuji manusia) amal-amal mereka, yaitu mereka berbuat tipu daya kepada manusia, menampakkan seolah-olah mereka berada dalam ketaatan kepada Allah, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dibenci oleh Allah‘”. Dan merupakan perkara yang telah diketahui bahwa riya` adalah salah satu bentuk kesyirikan kecil yang sangat besar.

Ayat kelima

Allah Ta’ala berfirman

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui” (Al-Baqarah : 22).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab Tafsirnya, hal. 34,

{ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا } أي: نظراء وأشباها من المخلوقين, فتعبدونهم كما تعبدون الله, وتحبونهم كما تحبون الله , { فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا }”

“Yaitu tandingan-tandingan dan yang semisalnya dari para makhluk, kalian menyembah mereka sebagaimana kalian menyembah Allah, dan kalian mencintai mereka sebagaimana kalian mencintai Allah”. Dengan demikian ayat ini sesungguhnya menunjukkan larangan terhadap syirik besar karena ayat ini diturunkan terkait dengan musyrikin Quraisy yang menyekutukan Allah dengan jenis syirik akbar, namun Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu  berdalil dengannya dalam menyatakan terlarangnya syirik kecil.

Ini menunjukkan betapa besarnya dosa syirik kecil dan menunjukkan bahwa walaupun jenis yang kecil, namun kelasnya adalah dosa syirik. Sebagaimana dalam riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya hal. 55 bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan terlarangnya perkara-perkara syirik kecil.

Ayat keenam

Allah Ta’ala berfirman

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (Yusuf: 106).

Ayat ini sesungguhnya ditujukan untuk pelaku syirik besar, namun salah seorang sahabat,yaitu Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, berdalil dengannya untuk mengingkari perbuatan memakai jimat yang tergolong syirik kecil.

Ini menunjukkan bahwa syirik kecil adalah dosa yang sangat besar, karena walaupun itu adalah jenis syirik kecil, namun kategori dosanya adalah dosa kesyirikan dan bisa menghantarkan kepada syirik besar.

Penutup

Di antara perkara yang menunjukkan bahwa syirikk ecil adalah sebuah dosa yang sangat besar menurut pendapat sebagian ulama, yaitu pelaku syirik kecil tidak diampuni jika ia mati dan tidak bertaubat darinya, sehingga pastilah ia diazab. Jika tidak ada amal shalihnya yang bisa mengalahkan timbangan amal buruknya, namun tidak kekal di Neraka. Karena sebagian ulama tersebut memasukkan syirik kecil ke dalam jenis “dosa yang tidak diampuni” sebagaimana yang ada dalam firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang dibawahnya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (An-Nisaa`: 48).

Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa pelaku syirik kecil, jika dia tidak bertaubat, tergantung kehendak Allah, jika Allah menghendaki mengampuninya, maka ia akan diampuni, namun jika Allah menghendaki mengazabnya, maka ia akan diazab. Dan inilah pendapat terkuat. Wallahu ‘alam.

 

 

Referensi :
  1. Tafsir Ibnu Katsir
  2. Tafsir Al-Baghawi
  3. Tafsir As-Sa’di
  4. At-Tamhid, Syaikh Shalih Alus-Syaikh.
  5. Al-Qoulul Mufiid, Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin.
  6. Al-Qaulus Sadiid, Syaikh As-Sa’di.
  7. At-Tanbihatul Mukhtasharah, Syaikh Ibrahim Al-Khuraishi.
  8. http://madrasato-mohammed.com/mawsoaat_tawheed_03/pg_015_0042.htm

 

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.Or.Id

 

 

 

ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Artikel Selanjutnya
Rasulullah dihina

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Dihina dan Direndahkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah