Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mati, Tapi Sebagai Pemenang

Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A. oleh Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.
21 Januari 2015
di Manhaj
Mati, Tapi Sebagai Pemenang
Share on FacebookShare on Twitter

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah– mengatakan, setelah beliau menyebutkan firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ * إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ

“Telah berlaku ketetapan Kami untuk para hamba Kami yg menjadi rasul, bahwa sungguh mereka benar-benar golongan yg dimenangkan“. (QS. Ash-Shoffat: 172-173).

Sebagian orang tidak bisa memahami ayat ini dan mengatakan: “Sebagian dari mereka telah dibunuh, bagaimana mereka dikatakan menang?!”

Maka jawabannya:

Terbunuhnya seseorang apabila dengannya Agama dan pengikutnya menjadi mulia, maka itu merupakan penyempurna kemenangan. Karena kematian adalah suatu keniscayaan, sehingga bila seseorang mati tapi dengannya dia menjadi bahagia di akhirat, maka ini adalah PUNCAK kemenangan.

Sebagaimana keadaan Nabi kita –shallallahu’alaihi wasallam-, banyak dari sahabatnya yg mati syahid dan mereka menuju kepada kemuliaan yg paling agung, sedang sahabatnya yg masih hidup menjadi mulia dan menang. Jadi orang yang dibunuh seperti ini, terbunuhnya dia akan menjadi penyempurna kemenangannya dan kemenangan para pengikutnya.

Dan termasuk dalam bab ini; hadits riwayat Muslim yang menjelaskan kisah tentang seorang pemuda yang mengikuti agamanya seorang rahib dan meninggalkan agamanya tukang sihir, lalu mereka ingin membunuhnya berkali-kali tapi mereka tidak mampu, sehingga pemuda itu mengajari mereka bagaimana membunuh dirinya, dan ketika dia terbunuh, BERIMANLAH seluruh manusia, sehingga ini merupakan kemenangan untuk agamanya.

Oleh karenanya, ketika Umar bin Khottob dibunuh di tengah-tengah kaum muslimin sebagai syahid; dibunuh pula pembunuhnya. Begitu pula ketika Utsman dibunuh sebagai syahid; dibunuh pula para pembunuhnya dan golongannya menjadi menang. Begitu pula ketika Ali dibunuh oleh kelompok khowarij dg menghalalkan darahnya; mereka termasuk orang yg diperintahkan Allah dan Rosulnya utk dibunuh, dan mereka (setelah itu) selalu dikalahkan oleh golongan Ahlussunnah Waljama’ah, dan hal tersebut tidaklah menghalangi kemuliaan Islam dan pemeluknya.

Apalagi para Nabi yang dahulu dibunuh itu telah dibalaskan oleh Allah, sampai ada yang mengatakan dari darahnya (Nabi) Yahya bin Zakariya ada sebanyak 70 ribu orang yang terbunuh karenanya.

[Almasa’il wal Ajwibah, hal: 218-219].

Kesimpulannya, bahwa para pembela Agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya akan menjadi pemenang, apapun keadaannya. Dan kemenangan tersebut bisa dilihat dari 3 sisi:

  1. Agama yang diperjuangkannya akan selalu dijaga dan dimenangkan oleh Allah azza wajalla.
  2. Bila dia terbunuh karena membela Agama Allah, maka dia menjadi syuhada’, dan tentunya ini jauh lebih baik daripada keadaan musuhnya, yang nantinya juga pasti mati walaupun dengan cara biasa.
  3. Allah akan membalaskan kejahatan musuhnya dengan cara-Nya sendiri, dan itu bukanlah hal yang sulit bagi-Nya. Wallohu a’lam.

—

Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.

Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.

Alumnus S1 Universitas Islam Madinah Saudi Arabia, Fakultas Syari’ah. S2 di Universitas yang sama, jurusan Ushul Fikih. S3 di universitas dan jurusan yang sama.

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 6): Mencintai Seluruh Sahabat Nabi

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
15 September 2026
0

Keempat, mencintai seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Ciri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah kecintaan mereka kepada seluruh sahabat...

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 5): Keimanan yang Benar kepada Allah dan Rasul-Nya

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
5 September 2026
0

Ketiga, keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya Di antara ciri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya dalam masalah iman adalah...

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 4): Mengikuti Rasulullah dan Meninggalkan Bid’ah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
25 Agustus 2026
0

Kedua, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan bid’ah (perkara-perkara baru dalam agama) Di antara prisnsip manhaj Ahlus Sunnah wal...

Artikel Selanjutnya
Mengeringkan Anggota Badan Setelah Berwudhu Bolehkah

Mengeringkan Anggota Badan Setelah Berwudhu, Bolehkah?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah