Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Napak Tilas Peninggalan Orang Shalih

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. oleh Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.
10 November 2014
di Akidah
Napak Tilas
Share on FacebookShare on Twitter

Di antara alasan napak tilas peninggalan atau jejak orang shalih tidak dibolehkan adalah karena hal itu wasilah (perantara) menuju kesyirikan dan amalan tersebut mengada-ada, tidak pernah dicontohkan dalam Islam.

Menurut –guru kami- Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan –semoga Allah senantiasa menjaganya dan memberkahi umurnya-, napak tilas terhadap peninggalan orang shalih punya dampak jelek sebagai berikut:

1- Ini adalah wasilah atau jalan menuju kesyirikan dengan tabarruk (ngalap berkah) dengan peninggalan-peninggalan tersebut. Kaedah yang kita pahami, suatu wasilah menuju yang haram, maka dihukumi haram.

2- Napak tilas seperti itu bukanlah amalan salafush shalih di mana para salaf itu begitu semangat dalam melakukan kebaikan daripada kita. Seandainya amalan tersebut baik, maka mereka telah lebih dahulu melakukannya daripada kita-kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي

“Berpegang teguhlah dengan ajaranku dan ajaran para penggantiku yang telah mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal (Khulafaur Rasyidin).”[1] Ketika ‘Umar radhiyallahu ‘anhu melihat ada suatu kaum yang pergi ke suatu pohon yang di situ pernah dilaksanakan Baitur Ridhwan, maka Umar pun memerintah supaya pohon tersebut ditebang.

3- Napak tilas seperti itu termasuk amalan bid’ah dan setiap bid’ah adalah suatu kesesatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganjurkan hal itu kepada umatnya untuk melakukan napak tilas. Generasi awal dari umat ini pun tidak pernah melakukannya. Imam Malik pernah berkata,

لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها

“Umat ini barulah jadi baik jika mengikuti baiknya generasi awal.”[2]

4- Bersemangat untuk melakukan napak tilas seperti itu hanya akan menjauhkan kita dari menghidupkan syiar-syiar Allah yang Allah perintahkan untuk menghidupkannya. Karena konsekuensi amalan yang tidak ada tuntunan adalah mengantarkan kepada kurang semangat dalam melakukan amalan yang dituntunkan.

5- Napak tilas seperti itu jika dianjurkan maka hanya akan memberatkan umat. Untuk Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, tempat yang ia singgahi itu banyak, tempat ia shalat saat safar pun banyak.

6- Untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, napak tilas terhadap peninggalan beliau termasuk bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap hak beliau. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم

“Janganlah kalian melebih-lebihkanku sebagaimana sikap orang Nashrani terhadap Isa bin Maryam.”[3]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

وإياكم والغلو فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو

“Hati-hatilah dengan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) karena sikap tersebut telah membinasakan umat sebelum kalian.”[4]

7- Yang wajib dihidupkan adalah menghidupkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkannya dan mengajak lainnya untuk mengamalkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Berpegang teguhlah dengan ajaranku dan ajaran Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal. Berpegang teguhlah dengan ajaran tersebut, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara baru (dalam agama). Karena setiap perkara baru seperti itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”[5]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله وسنتي

“Aku tinggalkan bagi kalian (ajaranku) yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan sesat.”[6]

Semoga Allah memberikan kita taufik pada amalan yang shalih. Shalawat dan salam semoga tercurahkan pada Nabi kita Muhammad, pada keluarga dan sahabatnya.

* Tulisan sederhana dari –guru kami- Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan di website resmi beliau: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15334

 

Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

—

[1] Diriwayatkan oleh Ath Thohawi dalam Muskilul Atsar. Lafazh yang semisal diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42, shahih menurut Abu Isa At Tirmidzi.

[2] At Tamhid, 23: 10, dari Wahb bin Kisan yang meriwayatkan dari Imam Malik.

[3] HR. Bukhari no. 3445.

[4] HR. Al Baihaqi, 5: 127.

[5] HR. Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42, shahih menurut Abu Isa At Tirmidzi.

[6] HR. Tirmidzi no. 3788, shahih menurut Syaikh Al Albani.

ShareTweetPin
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

- Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. - Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). - S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). - S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). - Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin 'Abdullah bin Hamad Al 'Ushoimi dan ulama lainnya. - Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
2

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya
Rabbana atina fiddunya hasanah

Penjelasan Doa "Rabbana Atina Fid Dunya Hasanah"

Komentar 1

  1. stefanykelinci says:
    12 tahun yang lalu

    Thanks for the good info brow!

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah