Tokoh Muhammadiyah: Ikut Saja Keputusan Pemerintah – Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Tokoh Muhammadiyah: Ikut Saja Keputusan Pemerintah

Kiai Nur, tokoh Muhammadiyah, beliau dalam hal puasa dan hari raya kalau ditanya maka beliau menjawab, “Silahkan tanya kepada pemerintah”

4856 20

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa pencerahan dan hidayah bagi alam semesta. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, nabi akhir zaman dan teladan terbaik bagi umat manusia. Amma ba’du.

Muhammadiyah sudah dikenal akan perjuangannya dalam mengajak kepada tauhid dan perbaikan umat. Oleh sebab itu sangat kental semangat mereka dalam memerangi takhayul, bid’ah dan churafat alias ‘TBC’. Tentu hal ini merupakan salah satu hal yang patut untuk diapresiasi. Kita mengenal, bahwa gerakan Muhammadiyah pun memiliki peran yang besar dalam perjuangan bangsa ini demi mewujudkan ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur‘; negeri yang tentram, sejahtera dan senantiasa mendapat limpahan ampunan dari Allah ta’ala.

Di dalam perjalanan sejarah, kiprah Muhammadiyah di dalam dakwah, pendidikan, dan sosial cukup memberikan warna dan pencerahan bagi kehidupan masyarakat di negeri ini. Banyak sekolah, kampus, dan juga rumah sakit yang telah dibangun oleh Muhammadiyah untuk berusaha meningkatkan kondisi masyarakat dan bangsa ini menuju kemakmuran dan kebaikan. Hal ini tentu sedikit banyak bisa menjadi salah satu perisai untuk membentengi generasi muda Islam dari kerusakan dan kehancuran moral dan akhlak yang sangat tidak kita inginkan.

Meskipun demikian, Muhammadiyah tentu tidak luput dari kesalahan. Sebuah organisasi adalah perkumpulan manusia dan bukan perkumpulan malaikat. Oleh sebab itu amat wajar jika manusia-manusia itu terjatuh dalam kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang senantiasa bertaubat, bukan malah bangga dengan kesalahannya atau merasa dirinya hebat telah bisa mempertontonkan kesalahan di hadapan manusia. Apalagi jika dia menganggap kesalahan sebagai kebenaran yang tidak bisa dibantah bahkan oleh dalil sekalipun!

Namun demikianlah realita yang ada dan mungkin bisa kita rasakan sekarang ini. Tidak sedikit orang yang lupa bahwa hakikat gerakan Muhammadiyah adalah ketundukan kepada Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan taklid buta kepada pemikiran KH. Ahmad Dahlan rahimahullah ataupun para ulama dan cendekiawan lainnya.

Sebagaimana hal ini pun dahulu dan sekarang telah menimpa sebagian para pengikut Imam Syafi’i dan imam-imam madzhab yang lain, mereka lupa bahwa hakikat mengikuti madzhab imamnya adalah dengan tunduk kepada dalil dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan dengan taklid buat kepada pendapat imamnya.

Sebab, bagaimana mungkin kita akan membenturkan perkataan manusia biasa dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah telah masyhur dari para imam umat ini -diantaranya adalah Imam yang empat, Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad- bahwa ‘jika suatu hadits itu sahih maka itulah madzhabku’.

Ini menunjukkan bahwa para ulama kita sepakat wajibnya meninggalkan pendapat ulama jika pendapat itu bertentangan dengan dalil al-Kitab ataupun as-Sunnah. Inilah prinsip dan kaidah yang senantiasa mereka pegang erat-erat. Mereka tidak mau mengedepankan pendapat manusia di hadapan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah kandungan makna dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah‘. Sabda Nabi adalah di atas semua pendapat manusia.

Di sini, kami bukanlah bermaksud menjatuhkan siapa pun. Hanya ingin berbagi kisah dengan anda, wahai saudaraku… Sebuah kisah yang menjadi pelajaran bagi kita bahwa seorang muslim tidaklah diukur dengan organisasi apa yang dia ikuti, akan tetapi bagaimana dia bisa tetap berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi bid’ah. Sebuah kisah yang kami dapatkan dari sumber yang bisa dipercaya, yaitu dari salah seorang tokoh dan penggerak Muhammadiyah dan juga pengurus MUI di salah satu daerah. Beliau menceritakan kepada kami sekilas tentang sosok gurunya, seorang kiyai dan ustadz di Muhammadiyah.

Kiyai Nur rahimahullah, sebutlah sebagai seorang yang terpandang di kalangan Muhammadiyah. Sebab beliau adalah termasuk ustadz dan ulama yang dikenal sebagai pengasuh pengajian dan penggerak dakwah islam. Bahkan, dikisahkan oleh sumber kami itu, beliau pun termasuk dalam jajaran ulama tarjih Muhammadiyah. Murid-murid beliau sangat mengenal perhatian dan kesungguhan beliau dalam dakwah dan tarbiyah. Terlebih lagi dalam masalah akidah.

Diantara bukti besarnya perhatian beliau terhadap masalah akidah tauhid adalah menjelang akhir hidupnya beliau mulai rutin mengkaji kitab Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid bersama para muridnya. Kitab Fathul Majid adalah syarah/penjelasan Kitab Tauhid yang disusun oleh Syaikh Abdurahman bin Hasan rahimahullah. Adapun Kitab Tauhid itu sendiri adalah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, seorang ulama besar dan mujaddid di masanya.

Apa sebab beliau mulai rutin mengkaji kitab ini? Ternyata, sebelumnya ada kejadian yang cukup memprihatinkan menimpa salah seorang pengurus Muhammadiyah. Singkat cerita, seorang pengurus ini menderita sakit parah yang berkepanjangan dan pada akhirnya justru dibawa oleh keluarganya untuk berobat kepada ‘pengobatan alternatif’ -baca ‘orang pintar’ alias dukun- yaitu dengan memindahkan penyakit melalui ‘telur’.

Mendengar kejadian ini, Kiyai Nur pun tersentak dan berkomentar, “Saya khawatir, kalau apa yang dilakukan itu adalah termasuk kesyirikan. Dan kalau itu syirik maka seandainya sembuh pun dia pasti rugi -karena dosa syirik- dan kalau misalnya mati jelas lebih celaka lagi.” Demikian kurang lebih makna ucapan beliau. Sejak kejadian itulah beliau kembali menekuni pelajaran tauhid dengan membahas kitab Fathul Majid bersama dengan murid-muridnya.

Dan karena sakit beliau yang semakin parah, beliau pun memikirkan kira-kira siapakah orang yang bisa melanjutkan dakwah dan perjuangannya selama ini dalam mengajak umat kepada tauhid yang lurus ini. Suatu ketika, muncullah usul dari sebagai muridnya untuk mengundang salah seorang da’i di kota itu. Usut punya usut ternyata Pak Kiyai Nur ini sudah sering berkunjung ke toko kitab yang dimiliki sang da’i tersebut. Dan beliau mengerti bahwa kitab-kitab yang dijual di toko ini sudah pilihan, tidak tercampur dengan buku atau kitab-kitab lain yang tidak jelas.

Ketika itu, Kiyai Nur sudah tidak mampu lagi mengajar karena sakitnya yang sudah cukup berat. Maka sebagian jama’ah pun mengusulkan kepada anaknya agar menyampaikan kepada sang ayah untuk mengundang ustadz tersebut sebagai pembicara. Sang anak pun sebelumnya ternyata sudah pernah mendengar kajian yang disampaikan oleh ustadz ini dan merasa cocok dan tertarik dengan materi yang diberikan. Singkat cerita, akhirnya dakwah beliau pun dilanjutkan oleh ustadz ini.

Suatu saat dalam kondisi sakit dan bersama dengan sebagian muridnya datanglah ustadz ini menjenguknya sepulang dari mengajar di tempat dimana Kiyai Nur biasa mengajar. Diantara perkataan Kiyai Nur yang diingat oleh muridnya kepada sang ustadz ketika itu adalah, “Matur nuwun nggih, sampun dipun terasaken.” artinya, “Terima kasih ya, sudah dilanjutkan.” Intinya beliau sangat berterima kasih dengan adanya pengganti beliau ini. Dan itu tidak lain karena dakwah tauhid yang dibawa oleh beliau selaras dengan dakwah tauhid yang dibawa oleh sang ustadz.

Ini adalah cerminan keluhuran akhlak seorang ulama dan tokoh Muhammadiyah yang begitu besar semangatnya dalam mendakwahkan tauhid dan memurnikan akidah. Dan ini juga menunjukkan kepada kita bagaimana beliau sangat menjunjung tinggi ilmu dan tauhid secara khusus.

Kisah lain yang juga disampaikan kepada kami, menunjukkan bahwa Kiyai Nur rahimahullah adalah orang yang berusaha untuk selalu tunduk kepada dalil. Diantara buktinya adalah -sebagaimana juga hal ini diketahui oleh keluarga dan orang terdekatnya- bahwa beliau dalam hal puasa dan hari raya kalau ditanya maka beliau menjawab, “Silahkan tanya kepada pemerintah.”

Dan diketahui juga oleh anaknya bahwa seringkali beliau berpuasa dan berhari raya mengikuti pemerintah alias menyelisihi apa yang telah diputuskan oleh Muhammadiyah. Tentu saja, ini menunjukkan bagaimana beliau selalu berusaha mengikuti dalil walaupun harus menyelisihi pendapat organisasi yang beliau ikuti. Walaupun, beliau adalah ulama/tokoh diantara mereka.

Dalam hal ini terdapat hadits yang mendasari sikap yang beliau pilih, sebagaimana riwayat yang ditafsirkan oleh Imam Tirmidzi rahimahullah bahwasanya puasa dan hari raya adalah bersama jama’ah -pemerintah negara setempat- dan mayoritas manusia. Inilah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dipahami oleh generasi terbaik umat ini. Dan inilah yang lebih mewujudkan persatuan dan perbaikan keadaan umat, bukan dengan berpecah-belah.

Dari sinilah kiranya, kami ingin sekedar berbagi -sebagai orang yang telah dididik di masa kecil dalam lingkungan sekolah Muhammadiyah- untuk menunjukkan gambaran bagaimanakah seorang ulama dan tokoh Muhammadiyah yang benar-benar ingin mengibarkan dakwah tauhid dan sunnah di tengah berbagai arus penyimpangan dan kesesatan yang menjamur di negeri ini.

Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada siapa saja yang tulus membela islam dan tauhid ini, walaupun banyak resiko dan hambatan yang harus dia hadapi. Karena Allah pasti akan menolong siapa saja yang tulus, jujur dan benar dalam membela agama-Nya.

Allahu akbar wa lillahil hamd.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1435 H

Penulis: Ari Wahyudi

Artikel Muslim.Or.Id


Dukung pendidikan Islam yang berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih dengan mendukung pembangunan SDIT YaaBunayya Yogyakarta http://bit.ly/YaaBunayya  
Print Friendly, PDF & Email

In this article

Join the Conversation

  • Pingback: Surat Terbuka Untuk yang Selalu Menyalahkan Muhammadiyah | Mentari News()

  • Pingback: Surat Terbuka Untuk yang Selalu Mem-”Bully” Muhammadiyah | Mentari News()

  • Pingback: Nasehat Tokoh Muhammadiyah, Ikuti Putusan Pemerintah Saja Dalam Berhari Raya,.. | "Bisa Karena Terbiasa"()

  • mustika

    Assalamuallaikum ustadz…
    membaca kisah Kiyai Nur, saya jadi ingin mencontoh sikap beliau. tapi ustadz, sekeluarga sy akan melaksanakan idul adha sesuai dengan keputusan golongan. lalu apa yg harus saya lakukan ustadz? saya benar” bingung…apa saya harus menyelisihi sendirian di keluarga? lalu bagaimana caranya untuk memberi tahu secara benar agar keluarga tidak tersinggung/marah?
    mohon penjelasannya ustadz…
    wasalamuallaikum…

    • Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Harus yakin tetap ikuti keputusan pemerintah.

    • bangun setyatmoko

      sabtu.. :-P

  • jo

    assalamu’alaykum.
    hukumnya ikut suatu organisasi apaan ustadz

    • Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Asalnya boleh, asal tdk fanatik pd yang keliru.

  • Agung

    Astaghfirullah …….semuga Allah mengampuni dosa kita, jangan ambil contoh seseorang ambilah dai Al Quran dan Sunnah….JZk

  • DaSha

    Cerita panjang lebar ternyata intinya di ikuti ketetapan pemerintah, pemerintah yg bgm dulu yg diikutin???

    • Pemerintah kita adl pemerintah muslim, buktinya kita masih diizinkan shalat jamaah
      Sent from my iPad Air

      • ari widodo

        Pemikiran anda standar ganda, padahal pemerintah kini bobrok dalam soal kinerja

        • Sa’id Abu Ukkasyah

          Apakah dikira kalo sudah bobrok kinerjanya berarti pemerintah kafir? Pembatal keislaman seseorang sudah ada ketentuannya dalam Syari’at Islam.

          • Muhammad Salim

            Nampaknya pendapat ini mengaburkan antara pemimpin sebagai pribadi dan negara dengan sistem yg diterapkan. Padahal semua mafhum bahwa presiden, wapres adl muslim, mayoritas menteri adl muslim, tapi ketika mengambil keputusan hukum adl berdasarkan kesepakatan manusia, tanpa sedikitpun merujuk pada dalil Islam. Dengan kata lain mereka tdk menganggap sama sekali keberadaan syariah Islam. Maka kalaupun mereka membolehkan sholat, puasa dll itu karena perkara tsb adl urusan pribadi.
            Sama dg hal yg terjadi di negara-negara yg presiden dan jajarannya non muslim, mereka membolehkan bagi warga muslim untuk shalat, puasa dll dalam urusan pribadi. Tapi dalam urusan menetapkan hukum tdk menghubungkan sama sekali dg syariat Islam.
            Jadi persoalannya bukan pada pribadi / individu pemimpin tapi sistem apa yang diambil.

          • Sa’id Abu Ukkasyah

            Sikap yang tepat , ketika bicara tentang semua ajaran Islam (termasuk : ajaran Islam dalam menilai suatu negeri sebagai negeri kafir ) haruslah berdasarkan dalil yang dipahami oleh para ulama Salaf Sholeh.
            Manakah dalil dari pendapat Anda di atas? Dan bagaimana pemahaman ulama Salaf Shaleh terhadap dalil tersebut?

  • maman

    Kepingin ikut pemerintah tapi rata2 ditempatku yang shalat id di lapangan rata2 muhammadiyah, trus gmana ya enaknya?

  • Ahmad Muridan

    Alhamdulillah saya sudah dua hari raya selalu mengikuti pemerintah walau akhirnya saya merasa dikucilkan oleh teman-teman seorganisasi ( MD )
    Terimakasih atas pencerahannya.barokallahu fiit.

  • Kerancuan seperti ini sudah sering kami jawab, salah satunya ada di artikel ini:
    https://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/pajak-dalam-islam.html


Shares