Flash Donasi Flash Donasi

Menilik Perhatian Para Sahabat Terhadap Masalah Aqidah

Menilik Perhatian Para Sahabat Terhadap Masalah Aqidah

Segala puji hanyalah milik Allah Ta’ala. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka hingga hari akhir. Wa ba’du.

Pembaca yang dimuliakan Allah Ta’ala, tidaklah samar bagi kita tentang agungnya kedudukan aqidah di dalam Islam. Syaikh ‘Abdurrazzaq Al Badr hafizhahullah mengatakan, “Sesungguhnya aqidah yang benar, murni, dan jernih, yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah, memiliki kedudukan yang sangat luhur di dalam agama. Kedudukan aqidah yang lurus dalam agama laksana pondasi untuk bangunan, hati bagi jasad, dan akar milik sebatang pohon.

Jika kita merenungi sejarah salafus shalih, kita akan melihat besarnya perhatian mereka terhadap masalah aqidah. Kita melihat bagaimana mereka mendahulukan masalah aqidah dibanding masalah lainnya. Aqidah adalah cita-cita terbesar dan tujuan tertinggi mereka” (diringkas dari Tsabaatu ‘Aqidah Salaf wa Salaamatuha minat Taghayyuraat, hal. 3-6)

Besarnya perhatian sahabat Nabi terhadap aqidah

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sedikit paparan di atas menggambarkan kepada kita betapa tingginya kedudukan aqidah dalam agama Islam yang hanif ini. Hal ini juga tercermin dari sikap kaum terbaik yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya berdakwah, yakni para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terhadap masalah aqidah.

Syaikh ‘Abdurrahim As Sulmi mengatakan, “Persoalan aqidah adalah hal yang sangat penting. Aqidah memiliki pengaruh yang luar biasa pada kejiwaan seorang insan. Siapa yang kuat aqidahnya, akan kuat hatinya dan kokoh keimanannya. Oleh karena itu, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempelajari aqidah dan agama ini dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Mereka tidak mempelajarinya hanya karena ikut-ikutan semata. Tetapi mereka bersungguh-sungguh mempelajarinya, menjalankan berbagai konsekuensinya, dan berjuang keras dalam mengamalkan aqidah di atas muka bumi.

Oleh karena itu, mereka rela mati fii sabiilillah demi menegakkan aqidah. Mereka pun membenci dunia jika ternyata harus mengorbankan aqidah demi meraihnya. Mereka berhasil menaklukkan berbagai negeri dan menundukkan penduduk bumi dengan modal aqidah yang kuat. Aqidah pun menjadi ciri khas yang membedakan mereka dengan kaum lainnya. Dan mereka pun menjadi pemimpin dunia padahal sebelum memiliki aqidah ini, mereka hanyalah sekelompok orang arab yang tidak punya nilai dan kedudukan khusus di mata penduduk bumi” (Ta-shil ‘Ilmil Aqidah, hal. 6)

Contoh besarnya perhatian shahabat terhadap aqidah

Berikut ini beberapa riwayat yang menunjukkan besarnya perhatian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam –radhiyallahu ‘anhum jamii’an- terhadap perkara aqidah :

1. Perintah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu untuk meratakan kubur anak beliau

‘Abdullah bin Syurahbil mengatakan, “Aku melihat ‘Utsman bin ‘Affan memerintahkan untuk meratakan kuburan. Lalu beliau diberitahu, “Itu adalah kuburan Ummu ‘Amr binti ‘Utsman”

Beliau pun tetap memerintahkan untuk diratakan” (Dinukil dari Tahdzirus Saajid, hal. 118. Penulis mengatakan, “Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf (4/138) dan Abu Zur’ah dalam At Tarikh dengan sanad yang shahih)

2. Wasiat Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu

Abu Burdah mengatakan, “Abu Musa memberikan wasiat ketika beliau hendak meninggal. Beliau berwasiat :

‘Jika kalian membawa jenazahku, percepatlah langkah, tidak perlu membawa lampu atau obor, dan janganlah membuat sesuatu di liang lahadku yang bisa menghalangi jasadku dengan tanah. Jangan pula membangun sesuatu di atas kuburanku’ “

(Dinukil dari Tahdzirus Sajid, hal. 123. Penulis mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ahmad (4/397) dengan sanad yang qawiyy)

Dua riwayat di atas membuktikan kepada kita bagaimana besarnya perhatian para shahabat terhadap masalah aqidah. Mereka keras dan tegas berkaitan dengan kuburan, khususnya kubur orang shalih. Tidak peduli itu adalah kubur keluarga atau bahkan kubur mereka sendiri, selama melanggar aturan syari’at sehingga berpotensi merusak aqidah umat, maka para shahabat akan memerintahkan untuk mengikuti tuntunan Nabi dalam masalah kuburan, dengan melarang membangun masjid di atasnya, atau meratakan kubur sehingga tingginya maksimal sejengkal. Semua itu dalam rangka menjaga aqidah umat Islam dari penyimpangan ghuluw terhadap kubur orang shalih.

Syaikh Al Albani mengatakan, “Seluruh perkara yang baru saja disebutkan (semisal membangun masjid di atas kubur atau meninggikan kuburan lebih dari sejengkal-pen) itu tidak disyari’atkan menurut pemahaman para shahabat yang telah kami sebutkan beberapa nama mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa para shahabat memandang sebab terlarangnya membangun masjid di atas kubur atau mengagungkan kubur dengan hal yang tidak disyari’atkan, tetap berlaku. Sebab terlarangnya adalah khawatir masyarakat terjerumus ke dalam kesesatan (dalam aqidah) dan kekeliruan dalam menyikapi orang yang telah meninggal” (Tahdzirus Sajid, hal. 132)

3. Ketika Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu memilih ayat kursi

Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu,

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟

“Wahai Ubay! Apakah kamu tahu ayat mana yang telah kamu hafal, yang merupakan ayat teragung dalam Al Qur’an?”

Namun Ubay awalnya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”

Kemudian Rasulullah mengulangi pertanyaannya, maka beliau menjawab,

اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Dia-lah Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia. Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha mengurus makhluk-Nya (yakni ayat kursi-pen)” (HR. Muslim)

Demikianlah pilihan seorang shahabat yang mulia. Diantara 6000 lebih ayat Al Qur’an, beliau memilih satu ayat yang menjelaskan keesaan Allah Ta’ala dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asmaa wa shifat. Jawaban beliau menggambarkan kepada kita betapa besarnya perhatian shahabat terhadap masalah aqidah.

Oleh karena itu, Syaikh ‘Abdurrazzaq Al Badr mengatakan, “Pertimbangan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dalam memilih ayat ini adalah pertimbangan yang mendalam dan jeli. Hal ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan tauhid (aqidah) dalam hati para shahabat” (Ayat Al Kursi wa Baraahin At Tauhid, hal. 7)

4. Cintanya shahabat dengan surat Al Ikhlas

Ada seorang shahabat yang ditunjuk oleh Rasulullah sebagai komandan suatu pasukan. Jika beliau mengimami shahabat yang lainnya ketika shalat, beliau selalu menutupnya dengan surat Al Ikhlas.

Ketika pasukan tersebut kembali, teman-temannya melaporkan kebiasaannya tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi pun menjawab,

سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟

“Tanyakanlah apa sebabnya ia melakukan hal tersebut!”

Mereka pun menanyai shahabat yang selalu menutup shalatnya dengan surat Al Ikhlas tersebut. Maka shahabat tersebut menjawab,

لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا

“Karena surat tersebut mendeskripsikan sifat-sifat Ar Rahman (Allah). Dan aku senang membaca surat tersebut”

Nabi pun mengatakan,

أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

“Beritahukan kepadanya bahwasanya Allah mencintainya” (HR. Bukhari)

Syaikh ‘Abdurrazzaq Al Badr mengatakan, “Shahabat ini menjelaskan bahwa sebab ia sering mengulang-ngulang surat Al Ikhlas dan terus membacanya adalah karena surat ini mendeskripsikan sifat-sifat Ar Rahman, Allah Ta’ala. Ini diantara bukti bagusnya pemahaman para shahabat dan agungnya kedudukan tauhid (aqidah) dalam hati mereka” (Ayat Al Kursi wa Baraahin At Tauhid, hal. 8)

Buah perhatian shahabat terhadap masalah aqidah

Begitu besarnya perhatian para shahabat dalam masalah aqidah, membuahkan hasil yang mengagumkan. Bagi mereka, aqidah adalah harta yang paling berharga, yang bahkan lebih berharga dibandingkan diri mereka sendiri ataupun sanak famili mereka.

Lihatlah bagaimana pasukan perang Badr, tidaklah gentar berhadapan dengan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak dilengkapi persenjataan yang memadai. Semua dihadapi dengan sabar dan keyakinan yang kokoh akan pertolongan Allah, guna meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Dan terlalu banyak contoh lain untuk disebutkan.

Penutup

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah Ta’ala, begitulah kiranya sekilas tentang besarnya perhatian para shahabat terhadap masalah aqidah. Tentunya kita sebagai orang yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seharusnya juga mengikuti jalan murid-murid terbaik Rasulullah –yakni para shahabat- dalam berbagai aspek, termasuk dalam bidang aqidah. Sehingga pembahasan aqidah hendaknya menjadi prioritas utama dan porsi terbesar dalam ilmu, amal, dan dakwah dalam diri kita.

Wallahul muwaffiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

Penulis: Yananto Sulaimansyah

Artikel Muslim.Or.Id

Print Friendly, PDF & Email
App Muslim.or.id

About Author