Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Adakah Tuntunan Membaca Istighfar Setelah Menguap?

Ahmad Anshori, Lc oleh Ahmad Anshori, Lc
18 Agustus 2014
di Fikih
Menguap Istighfar

Menguap Istighfar

Share on FacebookShare on Twitter

Orang tua kita dahulu mengajarkan,” nak.. kalau habis menguap, jangan lupa istighfar ya..” Gayungpun bersambut, lalu muncul lah presepsi bahwa beristighfar setelah menguap itu termasuk sunnah atau ada perintahnya dari Nabi. Anggapan ini tersebar luas di masyarakat.

Apakah anggapan ini benar ?

Sebagai seorang mukmin tentu kita tak ingin beramal hanya sekedar beralasan anggapan atau praduga, tanpa dalil yang melandasi amalan tersebut. Karena hukum asal dari ibadah itu dilarang, sampai ada dalil yang memperintahkan.

Tak ada salahnya bila kemudian kita mempertanyakan,

” Apakah benar istighfar setelah menguap itu sunnah?” Kemudian mencari jawaban dari penjelasan para ulama rabbani.

Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi hafidzohullah pernah ditanya mengenai permasalahan ini. Setelah beliau memuji Allah dan bershalawat kepada RasulNya, beliau menjawab,

” Tidak ada perintahnya beristighfar (setelah menguap). Tak ada dzikir-dzikir khusus yang berkaitan dengan menguap, tidak pula diperintahkan untuk beristi’adzah setelah menguap. Oleh karena itu kita mencukupkan diri dengan amalan-amalan yang ada dalilnya.

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam bahwa beliau memerintahkan seorang yang menguap untuk menahannya.

Dan (perlu kita ketahui) bahwa amalan sunnah itu ada beberapa macam:

– Ada dalam bentuk perkataan

– kemudian ada dalam bentuk perbuatan saja

– ada pula yang berupa perkataan dan perbuatan sekaligus… ”

( Fatwa beliau dapat didengar di sini)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah juga menfatwakan,

أما التثاؤب فإن الرسول عليه الصلاة والسلام قال: (التثاؤب من الشيطان، فإذا تثاءب أحدُكم فليَكْظِم ما استطاع، فإن عجز فليضع يده على فيه) ولم يقل: إذا تثاءب أحدكم فليستعذ بالله، مع أنه قال: (التثاؤب من الشيطان)، فدل هذا على أن الاستعاذة بالله من الشيطان الرجيم عند التثاؤب ليست بسُنَّة.

” Adapun berkaitan dengan menguap, Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam bersabda, ” Menguap itu dari setan, maka bila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin. Bila ia tak mampu menahannya, maka hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangannya.”

Nabi tidak mengatakan ,” Bila kalian menguap maka beristi’adzahlah.” Padahal bersamaan dengan itu beliau juga bersabda,” Menguap itu dari setan.”

Ini dalil bahwa beristi’adzah setelah menguap itu bukan termasuk sunnah (red. tuntunan Nabi). ” ( Silsilah liqa al-baba al-maftuh, juz 22)

Meski fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin di atas hanya menyinggung permasalahan isti’adzah setelah menguap, namun secara subtansi pernyataan beliau tersebut juga ada kaitannya dengan masalah yang sedang kita bicarakan, yaitu beristighfar setelah menguap sama-sama tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu’alaihiwasallan.

Sehingga bisa pula kita katakan, “Nabi shallallahu’alaihiwasallam tidak bersabda ,” Bila kalian menguap maka beristighfarlah.”

Akan tetapi Nabi bersabda, “…bila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin. Bila ia tak mampu menahannya, maka hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangannya.”

Lalu Apa yang Disunnahkan Tatkala Menguap ?

Dalam fatwa Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi di atas telah disinggung bahwa amalan sunnah yang berkaitan dengan menguap adalah amalan sunnah dalam bentuk perbutan, bukan ucapan atau dzikir tertentu.

Diantara amalan yang disunnahkan tatkala seorang menguap adalah menahannya semampu mungkin.

Hal ini karena telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (HR Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu bila salah seorang dari kalian bersin lantas dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mentasymitnya (mengucapkan “yarhamukallah”). Adapun menguap, maka dia dari setan. Maka bila seorang menguap hendaklah dia menahan semampunya. Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” (HR. Al-Bukhari no. 6223 dan Muslim no. 2994)

Kemudian bila tak mampu menahannya, maka tutuplah mulut dengan tangan. Karena Rasulullah shallallahua’alaihiwasallam pernah bersabda,

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُل

“Apabila salah seorang diantara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syeitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka). ” (HR. Muslim no.2995 (57) dan Abu Dawud no.5026)

Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua.

…..

Derman, Sumbermulyo, 17 Agustus 2014

—

Penulis: Ahmad Anshori

Muroja’ah: Ustadz Said Yai, MA

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Ahmad Anshori, Lc

Ahmad Anshori, Lc

Alumni PP. Hamalatul Qur'an Yogyakarta. Alumni Mahasiswa Fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia

Artikel Terkait

Kaidah Fikih: Hukum Asal Setiap Manusia adalah Terlepas dari Tanggungan

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
25 September 2026
0

Kaidah ini berbicara tentang hak seorang manusia. Tatkala berbicara tentang hak manusia, seringkali mengharuskan kita untuk berbicara soal adil dan...

Fikih Riba (Bag. 17): Hilangnya Kesamarataan Dalam Transaksi Barang Ribawi (2)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
23 September 2026
0

Pada seri sebelumnya, telah dibahas terkait dengan adanya penambahan atau pengurangan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis...

Hukum Suara Bising Menurut Islam: Batas Etika dan Hak Tetangga

oleh Mochammad Wibisono
17 September 2026
0

Suara tidak selalu berhenti di tempat ia berasal. Ia dapat melewati pagar, menembus dinding, dan menjangkau rumah-rumah yang tidak ikut...

Artikel Selanjutnya
Menuntut Ilmu

Pertarungan Sengit Dengan Setan Dalam Menuntut Ilmu

Komentar 7

  1. Afdhel Syareef says:
    12 tahun yang lalu

    Sewaktu berdzikir kemudian terasa buang angin, apakah dzikir harus dihentikan ?

    Reply
    • Muhammad Abduh Tuasikal says:
      12 tahun yang lalu

      Baiknya mengulangi wudhu.

      Reply
  2. Yulian Purnama says:
    12 tahun yang lalu

    Sebaiknya kita ikut tuntunan Rasulullah, tuntunan Rasulullah lah yang paling baik.

    Reply
  3. Muhammad Abduh Tuasikal says:
    12 tahun yang lalu

    Sudah terjawab dlm tulisan di atas.

    Reply
  4. Ahmad Anshori says:
    12 tahun yang lalu

    Jawaban lebih jelasnya ada di tulisan ini : http://www.ittibaussunnah.com/bertahmid-setelah-sendawa-bertaawudz-setelah-menguap-sunnahkah/

    Reply
  5. Ahmad Anshori says:
    12 tahun yang lalu

    Penjelasan lebih jelasnya silahkan baca di sini: http://www.ittibaussunnah.com/bertahmid-setelah-sendawa-bertaawudz-setelah-menguap-sunnahkah/

    Reply
  6. Yanti says:
    5 tahun yang lalu

    Ustad, apakah orang yang berdzikir disepanjang perjalanan misal dimobil dsb atau dipasar pasar juga harus selalu dalam keadaan suci?

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah