Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Satu Beradab, Dua Sekaligus Serakah

Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., M.A oleh Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., M.A
3 Juli 2014
di Ramadan
Satu Beradab, Dua Sekaligus Serakah

Satu Beradab, Dua Sekaligus Serakah

Share on FacebookShare on Twitter

Sobat! Di bulan Ramadhan ini, biasanya ummat Islam sampai pun yang di negeri kita Indonesia, menikmati buah kurma. Satu kenikmatan yang patut disyukuri. Betapa tidak, dahulu, bagi banyak orang kurma hanya diperoleh bila ada kerabat atau sahabat yang pulang dari negeri arab. Kurma menjadi salah satu oleh-oleh istimewa yang dinanti-nantikan, namun kini semuanya telah berubah, sehingga buah istimewa ini dengan mudah kita dapatkan di pasar dengan harga yang terjangkau.

Walau demikian, di bulan Ramadhan ini, buah kurma kembali menjadi istimewa, karena mayoritas ummat Islam menyadari bahwa disunnahkan untuk menjadikan buah kurma sebagai santapan pembuka puasa kita. Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم يكن رطبات فعلى تمرات فإن لم يكن تمرات حسا حسوات من ماء

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka puasa dengan menyantap beberapa biji kurma segar (Ruthab) sebelum mendirikan shalat Maghrib. Dan bila tida ada kurma segar (ruthab) maka beliau menyantap beberapa biji kurma, dan bila tidak ada kurma, maka beliau meneguk beberapa teguk air” (HR. Ahmad dan lainnya)

Saya yakin, semangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah yang menjadikan anda membeli dan menyajikan buah kurma di rumah anda di setap bulan Ramadhan.

Sobat! Untuk semakin menyempurnakan keteladanan anda kepada beliau dalam amalan ini, maka ada baiknya bila anda mengindahkan adab makan kurma, terlebih bila anda sedang makan bersama keluarga atau sahabat anda.

Jabalah mengisahkan: suatu hari kami sedang berada di kota Madinah bersama beberapa orang dari negeri Irak. Kala itu, kami sedang dilanda paceklik, sehingga Abdullah bin Az Zubair membagi-bagikan kurma kepada kami. Di saat kami menerima pembagian kurma, sahabat Abdullah bin Umar melintas, lalu beliau berkata:

إن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن الإقران إلا أن يستأذن الرجل منكم أخاه

“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kalian dari memakan dua biji kurma dalam sekali suap (secara bersamaan), kecuali bila teman makanmu mengizinkannya“. (HR. Bukhari & Muslim).

Para ulama’ menyebutkan beberapa hikmah dari larangan menyuap dua biji kurma sekaligus:

  1. Menyantap dua biji sekaligus semacam ini mencerminkan sikap serakah atau rakus
  2. Bila buah kurmanya milik bersama, bukan milik pribadi, maka menyuap Dua biji sekaligus ini bisa menjadi bentuk dari perampasan hak sahabat anda yang juga memiliki hak atas buah kurma tersebut, karena anda makan lebih banyak dari mereka
  3. Sikap ini mencerminkah ketergesa-gesaan yang sudah barang tentu tercela, bahkan bisa mengancam keselamatan anda (bisa tersedak, red.)

Ketiga alasan ini, melandasi sebagian ulama’ untuk berfatwa haram hukumnya menyantap dua biji sekaligus, bila buah kurmanya milik bersama dan bukan milik anda sendiri.

Sobat! Bila anda menghadiri acara buka bersama, maka terapkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, ambil satu dulu dan jangan sekali-kali serakah dengan mengambil dua sekaligus.

—

Penulis: Ustadz Dr. M. Arifin Baderi, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., M.A

Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., M.A

Doktor lulusan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Pendidikan S1, S2, dan S3 beliau diselesaikan di jurusan yang sama, yaitu jurusan Fikih, Fakultas Syariah. Beliau adalah pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), pengasuh milis Syariah PM-Fatwa, majalah Pengusaha Muslim, dan website PengusahaMuslim.com

Artikel Terkait

Wafat Sebelum Membayar Kaffarat Jimak di Bulan Ramadan

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
2 April 2026
0

Hukum dan kaffarat orang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan Bukan lagi menjadi hal yang tabu terkait hukum jimak (berhubungan...

Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
31 Maret 2026
0

Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat...

Fatwa Ulama: Hukum Orang yang Berpindah ke Negeri dengan Pengurangan atau Penambahan Puasa

oleh Fauzan Hidayat
17 Maret 2026
0

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Apa hukum seseorang yang berpuasa hari pertama Ramadan di negerinya, lalu ia berada...

Artikel Selanjutnya
Mencintai Orang Miskin

Kajian Ramadhan 32: Puasa Mengajarkan Mencintai Orang Miskin

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   3   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah