Mengaitkan Gunung Meletus dengan Nomor Ayat Al Qur’an – Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Mengaitkan Gunung Meletus dengan Nomor Ayat Al Qur’an

Sebagian orang menyebarkan pesan di sms atau broadcast BB di mana pesan tersebut mengaitkan meletusnya Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur dengan nomor ayat-ayat tertentu yang sengaja dicocok-cocokkan.

18524 7
tafsir_quran

Gunung Meletus Menurut Pandangan Islam Hadist Tentang Gunung Meletus Hadits Gunung Meletus Hubungan Gunung Meletus Dengan Hari Kiamat Hubungan Gunung Meletus Dengan Kiamat

Sebagian orang menyebarkan pesan di sms atau broadcast BB di mana pesan tersebut mengaitkan meletusnya Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur dengan nomor ayat-ayat tertentu yang sengaja dicocok-cocokkan.

Mereka katakan bahwa meletusnya Gunung Kelud telah tertulis jelas di Al-Quran, ini buktinya:

Tanggal 13 Bulan 2 (Surat 13 ayat 2), “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. ALLAH MENGATUR URUSAN (Makhluk-Nya), MENJELASKAN TANDA-TANDA (Kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”-

Meletus Jam 22:49, 22:50 (Surat 22: 49-50), Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya Aku adalah seorang PEMBERI PERINGATAN YANG NYATA kepadamu.”Maka ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN BERAMAL SALEH, BAGI MEREKA AMPUNAN DAN REZKI YANG MULIA.-

Tahun 2014 (Surat 20:14): “Sesungguhnya Aku ini adalah ALLAH, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka SEMBAHLAH AKU dan DIRIKANLAH SHALAT untuk MENGINGAT AKU.”—- SUBHANALLAH —-

Apakah boleh mengaitkan nomor ayat Al Qur’an dengan kejadian-kejadian semacam itu?

Cara Menafsirkan yang Keliru

Kalau kita perhatikan, cara mengaitkan ayat dengan kejadian tertentu itu jelas keliru. Karena hal itu baru dikaitkan setelah peristiwa itu terjadi seperti Gunung Kelud meletus. Seandainya tidak terjadi, apa ia bisa menebak seperti itu? Tentu saja tidak.

Lalu kenapa hanya dikaitkan dengan meletusnya Gunung Kelud, bagaimana dengan Gunung Merapi yang dahulu meletus dan bagaimana lagi dengan Gunung Sinabung? Apa ketika gunung tersebut meletus baru dikait-kaitkan?

Kemudian kalau dalam ayat disebutkan suatu siksaan atau azab, maka tidak bisa kita katakan berlaku untuk kejadian-kejadian saat ini.

Cara menafsirkan seperti di atas jelas adalah cara yang keliru yang tidak pernah dicontohkan oleh salafush sholeh.

Yang perlu dipahami terlebih dahulu, ayat Al Qur’an diturunkan untuk ditadabburi, direnungkan dan dipahami maknanya. Ayat Al Qur’an bukanlah turun untuk mengaitkannya dengan kejadian-kejadian atau peristiwa saat ini. Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shod: 29)

Namanya tadabbur Al Qur’an itu sebagaimana disebutkan oleh Al Hasan Al Bashri rahimahullah -seorang tabi’in-,

والله ما تَدَبُّره بحفظ حروفه وإضاعة حدوده، حتى إن أحدهم ليقول: قرأت القرآن كله ما يرى له القرآنُ في خلق ولا عمل

“Demi Allah, Al Qur’an bukanlah ditadabburi dengan sekedar menghafal huruf-hurufnya, namun lalai dari memperhatikan hukum-hukumnya (maksudnya: mentadabburinya). Hingga nanti ada yang mengatakan, “Aku sudah membaca Al Qur’an seluruhnya.” Namun ternyata Al Qur’an tidak diwujudkan dalam akhlak dan juga amalannya.”  Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 419).

Begitu pula cara menafsirkan Al Qur’an seperti mengaitkan nomor ayat dengan kejadian seperti itu, hanyalah menafsirkannya dengan logika dan ini tercela.

Ibnu Katsir mengatakan, “Menafsirkan Al Qur’an dengan logika semata, hukumnya haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 11).

Dalam hadits disebutkan,

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi no. 2951. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if).

Lihat saja ‘Umar bin Khottob mencontohkan tidak seenaknya kita menafsirkan ayat. Ketika beliau membaca ayat di mimbar,

وَفَاكِهَةً وَأَبًّا

Dan buah-buahan serta rumput-rumputan” (QS. ‘Abasa: 31). Umar berkata, kalau “fakihah” dalam ayat ini sudah kita kenal. Namun apa yang dimaksud “abba”?” Lalu ‘Umar bertanya pada dirinya sendiri. Lantas Anas mengatakan,

إن هذا لهو التكلف يا عمر

“Itu sia-sia saja, mempersusah diri, wahai Umar.” (Dikeluarkan oleh Abu ‘Ubaid, Ibnu Abi Syaibah, Sa’id bin Manshur dalam kitab tafsirnya, Al Hakim, serta Al Baihaqi. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai  syarat Bukhari Muslim. Imam Adz Dzahabi juga menyetujuinya).

Yang dimaksud adalah Umar dan Anas ingin mengetahui bagaimana bentuk abba itu sendiri. Mereka sudah mengetahuinya, namun bentuknya seperti apa yang mereka ingin ungkapkan. Abba yang dimaksud adalah rerumputan yang tumbuh di muka bumi. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 14).

Lihat saja seorang sahabat yang mulia -seperti Umar bin Khottob dan Anas bin Malik- begitu hati-hati dalam menafsirkan ayat. Mereka begitu khawatir jika salah karena dapat jauh dari apa yang dikehendaki Allah Ta’ala tentang maksud ayat itu. Beda dengan orang saat ini yang menafsirkan seenaknya perutnya tanpa memakai tuntunan, hanya semata-mata memakai logika dengan mengaitkan nomor ayat dengan peristiwa gempa dan meletusnya gunung. Semoga kita dijauhkan dari cara menafsirkan yang keliru seperti ini.

Cara Menafsirkan Al Qur’an yang Benar

Ibnu Katsir menunjukkan bagaimana cara terbaik menafsirkan Al Qur’an sebagai berikut:

1- Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an. Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya.

2- Jika tidak didapati, maka Al Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits.

3- Jika tidak didapati, maka Al Qur’an ditafsirkan dengan perkataan sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti khulafaur rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.

4- Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (bekas budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 5-16)

Semoga Allah terus memberi kita taufik ke jalan yang lurus.

Referensi:

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Disusun di pagi hari penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Gunungkidul, 15 Rabi’uts Tsani 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id


Dukung pendidikan Islam yang berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih dengan mendukung pembangunan SDIT YaaBunayya Yogyakarta http://bit.ly/YaaBunayya  
Print Friendly, PDF & Email

Makna Dan Kandungan Dari Bencana Gunung Meletus Menurut Islam Makna Gunung Meletus Menurut Islam Penjelasan Gunung Meletus Menurut Islam Agama Islam . Makna Dari Gunung Meletus Alquran Atau Hadist Yang Menjelaskan Tentang Gunung Meletus

In this article

Join the Conversation

  • M sidik

    Maklum Indonesia penggemar ilmu cocokmologi, ramalan, othat-athik ghatuk dll…

  • Pingback: Mengaitkan Gunung Meletus dengan Ayat Al-Qur’an | Sekedar Cerita Sahabat()

  • Pingback: Mengaitkan Gunung Meletus dengan Nomor Ayat Al Qur’an | Al Bandary()

  • Ria Kartika

    Ustadz, kalau kasusnya gini, misalnya seseorang habis melakukan dosa kemudian dia baca Al Qur’an. Ternyata, kandungan ayat yang dibacanya, sangat menyindir perbuatan dosa yang baru dilakukannya.
    Bagaimana pendapat ustadz?

    • Semua ayat Al Qur’an jika direnungkan dengan baik akan menjadi pengingat yang pas untuk kita

  • Eridani Alfatah

    subhanallah,ada apa tidak semua kejadian di dunia ini yang tidak atas izin Allah SWT??? jadi APAPUN kejadian di dunia ini SUDAH atas izin Allah SWT…BOleh-boleh saja kita mentafsir Al Quran dengan Macam-macam itu ASALkan dengan tafsir yg seperti itu kita menjadi semakin beriman dan bertaqwa kepadaNya.kita sebagai sesama MANUSIA yang notabene adalah Ciptaan ALLAH SWT,jangan pernah merasa PALING BENAR, karena kebenaran itu milik ALLAH SWT.
    di jaman sekarang ini masalahnya telah TERBUKTI,banyak sekali hadits-hadits PALSU buatan YAHUDI ,trus kita mencari kebenaran dimana kalau tidak lewat Al Quran????
    Ayolah kita pelajari Al Quran…karena disanalah Ayat-ayat Allah SWT dan segala iformasi masa lalu,masa sekarang,bahkan masa depan diinformasikan Allah SWT kepada kita yang mau Berpikir…wallahu a’lam bissowab

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua,
      1. Tidak semua penafsiran Alquran itu benar, bahkan banyak penafsiran yg salah, sehingga sampai mengakibatkan menolak kebenaran Alquran. Menafsirkan Alquran tidak boleh bertentangan dengan pemahaman para Sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mereka langsung belajar tafsir Alquran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      2. Kebenaran dari Allah, namun Allah sudah menjelaskan kebenaran itu dalam Alquran dan Al-Hadits yg shahih .
      3. Tidak boleh meniadakan sumber hukum Islam berupa Al-Hadits, krn terdapat perintah dalam Alquran untuk taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seluruh ulama kaum muslimin telah bersepakat bahwa wahyu Allah dan sumber hukum-Nya ada dua : Alquran dan Al-Hadits yg shahih.
      4. Mari kita mempelajari Islam dg bimbingan ulama yang mengikuti pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. dalam memahami Islam dan mengamalkannya.


Shares