Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mujahirin, Orang Yang Bermaksiat Terang-Terangan

Winning Son Ashari oleh Winning Son Ashari
25 Januari 2014
di Akhlak dan Nasihat
dosa maksiat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Apa saja bentuk terang-terangan dalam berbuat dosa?
  • Celaan terhadap para pelaku mujaharah
    • Dalil Alquran
    • Dalil  Hadits
    • Perkataan ulama
  • Dampak bahaya dari terang-terangan berbuat dosa
  • Beberapa faedah yang bisa kita ambil dari pembahasan ini
  • Nasihatku untukmu wahai saudaraku
    • Catatan kaki
    • Sumber rujukan

Wahai saudaraku, sudahkah kita menyadari bahwa agama kita ini, agama Islam, adalah agama yang paling sempurna dan paling lengkap? Betapa tidak, agama kita telah menjelaskan segala sisi dan sudut permasalahan yang dialami oleh setiap manusia yang ada di muka bumi. Kita bisa buktikan, tidaklah kita mendapati suatu masalah dalam kehidupan kita, kecuali Islam telah memberikan solusinya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai suri teladan kita, telah mengajarkan kepada kita semua. Solusi yang lengkap, sempurna, dan mengandung banyak sekali hikmah dan kebaikan di dalamnya telah diberikan kepada umatnya.

Berbeda halnya dengan agama lain, yang pasti mereka banyak memiliki kekurangan dan kecacatan di dalamnya. Karena agama mereka berasal dari tangan manusia, sedangkan Islam syariatnya dibuat dan diatur oleh Rabbul ‘Alamin, Tuhan semesta alam, Yang Maha Merajai seluruh kekuasaan langit dan bumi, dan Yang Maha Mengatur segala hal yang ada di dalamnya.

Wahai saudaraku, salah satu hal yang menunjukkan bahwa agama Islam ini adalah agama yang sempurna, lengkap, dan tidak ada bandingannya adalah bahwa Tuhan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni seluruh dosa-dosa hamba-Nya, walaupun dosa itu setinggi langit dan sepenuh isi perut bumi. Hal ini sebagaimana yang telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan kepada kita dalam sebuah hadis qudsi,

 عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول – قال الله تعالى : يا بن ادم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان ولا أبالي , يا بن ادم لو بلغت ذنوبك عنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك , يا بن ادم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً لأتيتك بقرابها مغفرة – رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukanku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberi ampunan sepenuh bumi pula”[1]
Subhanallah, perhatikan dan renungkan, wahai saudaraku! Betapa luasnya ampunan Allah Jalla wa ‘Ala kepada para hamba-Nya. Allah Tabaraka wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa para hamba-Nya selama hamba tersebut menjauhi kesyirikan. Dan luasnya ampunan Allah tersebut juga akan dirasakan oleh para hamba-Nya yang selalu berbuat baik dan berusaha menjauhi dosa-dosa besar. Sebagaimana yang telah Allah janjikan kepada kita dalam firman-Nya,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.”[2]

Saudaraku, walaupun setiap muslim akan mendapatkan ampunan dari Allah selama dia menjauhi kesyirikan, tapi ada satu golongan manusia yang dikecualikan dari mendapat ampunan Allah. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis berikut ini,

عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.”[3]

Apa maksud dari معافى  yang terdapat dalam hadits?

Syaikh Shalih al-Utsaimin mengatakan bahwa yang dimaksud معافى dalam hadis adalah bahwa setiap umat muslim akan Allah ampuni dosa-dosanya.[4]

Akan tetapi, kata tersebut juga bisa dimaknai dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, beliau mengatakan bahwa makna kata tersebut adalah setiap umat muslim akan selamat dari lisan manusia dan gangguan mereka.[5]

Apa saja bentuk terang-terangan dalam berbuat dosa?

  1. Orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan di hadapan manusia. Seperti apa yang dilakukan para pemain sinetron dan pelawak yang bermain di layar televisi. Jenis orang yang seperti ini telah melakukan dua perbuatan dosa sekaligus, yaitu:
    1. Menampakkan kemaksiatannya
    2. Mencampurinya dengan lawakan dan kebohongan. Dan telah kita ketahui bersama bahwasanya kedua hal tersebut adalah perbuatan tercela berdasarkan syariat Islam dan juga pandangan manusia.
  2. Orang yang telah menyingkap apa yang telah Allah tutupi dari perbuatan maksiatnya. Seakan-akan, mereka itu menceritakan perbuatan maksiatnya karena bangga dan meremehkan dosa yang telah dia lakukan itu. Mereka ini tidak bisa merasakan nikmatnya ampunan Allah yang Dia berikan kepada para hamba-Nya.
  3. Seperti apa yang dilakukan pelaku maksiat yang mengumumkan perbuatan maksiatnya kepada khalayak umum. [6]

Celaan terhadap para pelaku mujaharah

Dalil Alquran

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” [7]

Dalil  Hadits

Celaan yang secara langsung Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berikan kepada para pelaku mujaharah terdapat dalam hadis di atas. Sedangkan secara makna, telah banyak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam isyaratkan dalam hadis-hadis yang lain.

Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah perbuatan zina dan riba itu telah tampak  (secara terang-terangan) di suatu kaum, kecuali mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka sendiri.”[8]

Perkataan ulama

Ibnu hajar rahimahullahu dalam kitabnya Fathul Bari mengatakan bahwa barang siapa yang berkeinginan untuk menampakkan kemaksiatan dan menceritakan perbuatan maksiat tersebut, maka dia telah menyebabkan Rabb-nya marah kepadanya sehingga Dia tidak menutupi aibnya tersebut. Dan barang siapa yang berkeinginan untuk menutupi perbuatan maksiatnya tersebut karena malu terhadap Rabb-nya dan manusia, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memberikan penutup yang akan menutupi aibnya itu. [9]

Dampak bahaya dari terang-terangan berbuat dosa

  • Pelaku perbuatan ini menyebabkan Allah Azza wa Jalla marah terhadapnya.
  • Pelaku perbuatan ini telah mengharamkan bagi dirinya sendiri ampunan Allah Ta’ala.
  • Manusia akan merendahkan pelaku perbuatan ini dan meninggalkannya.
  • Diperbolehkan bagi kita untuk memperbincangkannya karena keburukannya tersebut.

Dan masih banyak yang lain. [10]

Beberapa faedah yang bisa kita ambil dari pembahasan ini

  • Kerasnya celaan bagi para pelaku perbuatan ini.
  • Menceritakan perbuatan maksiat kepada khalayak umum menyebabkan pelakunya melakukan kemaksiatannya secara terus menerus. Dan hal ini juga menyebabkan manusia ikut mengamalkan perbuatan maksiat tersebut, sehingga dia akan mendapatkan dosa dari dosa-dosa para pengikutnya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka. Karena penunjuk kepada keburukan seperti pelaku keburukan itu sendiri.
  • Pelaku perbuatan ini membuat dosanya menjadi besar walaupun pada asalnya dosa yang dia lakukan itu kecil.
  • Meng-ghibah pelaku mujaharah tidak termasuk dari perbuatan tercela. Para ulama telah mengecualikan hal ini dalam beberapa hal.
  • Terang-terangan dalam kemaksiatan adalah dosa tersendiri selain dari dosa maksiat itu sendiri, karena dia telah meremehkan kebesaran Allah azza wa jalla.
  • Terang-terangan dalam kemaksiatan menyebabkan tersebarnya kemungkaran di antara kaum muslimin.
  • Barang siapa yang Allah tutupi aibnya di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di akhirat dan tidak akan memperlihatkannya di hadapan manusia yang lain. Dan ini termasuk dari luasnya rahmat Allah Ta’ala untuk para hamba-Nya.

Dan masih banyak yang lain.[11]

Nasihatku untukmu wahai saudaraku

Wahai saudaraku, setelah kita mengetahui betapa luasnya rahmat dan ampunan Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya, dan betapa keras balasan dan celaan terhadap para hamba-Nya yang durhaka terhadap-Nya, maka melalui tulisan ini kami ingin memberikan nasihat kepada penulis sendiri dan kepada saudaraku-saudaraku seiman;

Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Jalla Jalaluhu. Karena Dia telah memilih kita di antara milyaran manusia yang lain untuk menjadi seorang muslim yang akan merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi yang bertakwa kepada-Nya.

Bersyukur dengan cara mempelajari agama yang haq dan sempurna ini, mempelajari hal-hal yang menjadikan Rabb kita rida kepada kita sehingga kita bisa melakukannya, dan hal-hal yang menyebabkan Rabb kita marah kepada kita, sehingga kita bisa menjauhi hal tersebut.

Marilah kita bersama-sama berusaha untuk menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai suri teladan dan panutan kita dalam setiap keadaan. Sehingga kita bisa menjadi hamba yang diridai-Nya dan kita bisa merasakan kenikmatan yang kekal di hari yang abadi di surga-Nya.

Jadikan dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan itu adalah sesuatu yang besar sehingga kita tidak meremehkannya dan tidak terus menerus melakukannya. Dengan seperti itu, lisan kita akan senantiasa beristigfar atas banyaknya dosa dan maksiat yang telah kita lakukan, sembari mengharapkan luasnya rahmat dan ampunan-Nya untuk kita.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan istikamah di atas jalan-Nya. Amin.

Catatan kaki

[1] H.R. Tirmidzi, Hadis hasan sahih

[2] Q.S. An Najm: 31-32

[3] H.R. Bukhari (6069) dalam kitab Fathul Bari dan lafadz ini milik Bukhari, dan riwayat Muslim (2990)

[4] Lihat Syarh Riyadh ash-Shalihin hal 24, jilid 3

[5] Lihat Bahjatun Nadzirin hal 299, jilid 1

[6] Lihat Nadhratun Na’im, hal 5548, jilid 11

[7] Q.S. An Nur: 19

[8] H.R. Ahmad dan Abu Ya’la, dan dinilai sahih oleh Syekh Ahmad Syakir

[9] Lihat Nadhratun Na’im hal 555. – 5554

[10] Lihat Nadhratun Na’im hal 5555, jilid 11

[11] Lihat Al-Manahi asy-Syar’iyyah hal 306, jilid IV dan Bahjatun Naadzirin, hal 299, jilid I

Sumber rujukan
  • Al Qur’anul Kariim
  • Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadh ash-Shalihin, Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilaly, cetakan II Daar Ibnul Jauzi.
  • Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah fi Shahih as-Sunnah an-Nabawiyyah, Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilaly, Dar Ibnu ‘Affan
  • Nadhratun Na’im fi Makarim al-Akhlak ar-Rasul al-Karim, cetakan IV, Daarul Wasiilah.
  • Syarh Riyadh ash-Shalihin fi Kalam as-Sayyidial Mursalii, Syaikh Shalih al Utsaimin, cetakan 1425 H, Madarul Wathan
  • Hadits Arba’in an Nawawiyyah, E-Book
  • Hadits Web, E-Book

—

Penulis: Winning Son Ashari

Pemurajaah: Ust. Misbahuzzulam, Lc, M.H.I

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Winning Son Ashari

Winning Son Ashari

Mahasiswa STDI Imam Syafi'i Jember

Artikel Terkait

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 1)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
21 Juli 2026
0

Dalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh...

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Artikel Selanjutnya

Jangan Remehkan Shalat Ashar!

Komentar 32

  1. anonim says:
    11 tahun yang lalu

    Assalamualaikum Wr. Wb. Pak Ustad,

    Saya ingin bertanya terkait dengan hadits berikut “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.”[3]

    Beberapa tahun yang lalu, seorang teman, sebut saja si Fulan, telah melakukan suatu perbuatan dosa. Kemudian karena ketidaktahuan si Fulan, ia menceritakan perbuatan dosanya tersebut kepada beberapa temannya. Saat ini, ia telah bertaubat dan tidak mau mengulangi perbuatan dosanya tsb. Namun, saat membaca hadits ini, ia merasa sangat ketakutan disebabkan oleh lisannya, yang secara tidak sengaja dan karena ketidaktahuannya, telah menyebarkan aib (perbuatan dosa) nya sendiri.

    Pertanyaan saya, apakah si Fulan masih dapat diampuni oleh Allah SWT karena ia telah menyebarkan aibnya sendiri? Saat ini si Fulan benar-benar merasa menyesal dan ketakutan karena takut dosanya tidak diampuni oleh Allah SWT.

    Terima kasih.

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumus salam, masih bisa diampuni,jika ia telah menyesal dari menceritakan dosanya, berhenti dari perbuatan itu,dan bertekad kuat untuk tdk mengulangi lagi .
      Dan namanya taubat diterima jika dilakukan sebelum nyawa sampai tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat. Disamping juga taubat harus memenuhi 3 syarat di atas dan 1 syarat lagi : ikhlas

      Reply
      • anonim says:
        11 tahun yang lalu

        Terima kasih atas pencerahannya Pak Ustad.

        Wassalamualaikum Wr. Wb.

        Reply
        • Sa'id Abu Ukkasyah says:
          11 tahun yang lalu

          Sama-sama . Barakallahu fikum. Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

          Reply
  2. Pendosa says:
    6 tahun yang lalu

    Assalamualaikum mohon tolong dijawab, bagaimana kalau maksiat tersebut sudah diketahui orang lain dan diceritakan untuk pelajaran misalnya, si A mengetahui si B mencuri, kemudian si B menceritakan kepada si A bahwa “saya pernah mencuri dan janganlah kamu(si A) mencuri karena termasuk dosa besar !”

    Apakah si B termasuk mujahirin ?

    Reply
  3. Ismail says:
    5 tahun yang lalu

    Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh, mohon izin untuk bertanya mengenai bahasan mujahirin ini:
    1) Apakah seorang yg sebelumnya mujahirin lalu bertaubat masih diterima taubatnya oleh Allah ﷺ ??
    2) Bagaimana tata cara taubatnya??
    3) Apakah setelah berusaha bertaubat kepada Allah ﷺ, maka aibnya masih diperlihatkan diakhirat?? padahal ex-mujahirin ini telah takut dan malu aib nya terbongkar kelak??
    Mohon kiranya penjelasan dan jawabannya yg sangat dinantikan, serta terima kasih yang mendalam telah meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan, semoga menjadi ilmu dan amal yg melimpah yang diterima Allah ﷺ kelak, insya Allah, aamiin.

    Reply
  4. Elsasari says:
    5 tahun yang lalu

    Assalamualaikum Wr WB pak ustadz
    Saya juga ingin bertanya kepada terkait hadist ynag di atas dengan pertanyaan yang sama,ada teman saya yang dengan sengaja dan bangga pernah menceritakan aibnya sebelum dia tau kalau dosa itu sangat besar & tidak akan d ampuni oleh Allah SWT,&sekarang dia sangat menyesalinya setelah tau itu dosa yang sangat besar,dia sangat takut dengan lisanya yang sudah terlanjur berucap,apakah akan d ampuni dosanya kalau dia benar” bertaubat pak ustadz??

    Reply
  5. awahab says:
    5 tahun yang lalu

    terimakasih banyak ilmunyya

    Reply
  6. Udin says:
    5 tahun yang lalu

    Pak ustadz. jika andaikan orangitu pernah menyebarkan Aib dosanya sendiri dimasa jahiliyahnya,,, lalu dia sudah bertaubat nasuha dan dia tahu atas masalah ini. tapi dulu dia tidak tahu bahwa itu adalah perbuatan yang tidak diampuni allah

    tapi dia takut dan tidak tahu apakah jika dia taubat akan diterima,, karena dosa yang Ia umbarkan ke oranglain adalah dosa besar…. dan cukup membuat seseorang masuk neraka. temen saya itu berputus asa dan meminta saya mencari solusi karena dia takut Hidupnya sudah tidak ada jalan keluar lagi.

    Apa masih bisa dia bertaubat, kalau bisa apa pendapat ulama/hadist orang semacam ini masih bisa bertaubat padahal sudah dijelaskan tiada ampunan baginya. assalamualaikum wr.wr

    Reply
  7. _hsap says:
    5 tahun yang lalu

    • Assalamu’alaikum ustadz afwan izin bertanya, jika seseorang jujur dan minta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya, namun sebelumnya ia tidak tau/blm jelas baginya bahwa perbuatannya itu adalah kesalahan, lalu setelah tau/telah jelas baginya bahwa perbuatannya itu ternyata adl kesalahan yg telah dilakukannya (berupa melanggar/menyalahi aturan yg dibuat manusia) lantas ia pun jujur dan minta maaf atas kesalahannya kepada orang yg memiliki kaitan dg aturan tersebut. Apakah ini termasuk mujahirin?

    Reply
  8. _hsap says:
    5 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum ustadz afwan izin bertanya, jika seseorang jujur dan minta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya, namun sebelumnya ia tidak tau/blm jelas baginya bahwa perbuatannya itu adalah kesalahan, lalu setelah tau/telah jelas baginya bahwa perbuatannya itu ternyata adl kesalahan yg telah dilakukannya (berupa melanggar/menyalahi aturan yg dibuat manusia) lantas ia pun jujur dan minta maaf atas kesalahannya kepada orang yg memiliki kaitan dg aturan tersebut. Apakah ini termasuk mujahirin?

    Reply
  9. _hsap says:
    5 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum ustadz afwan untuk pertanyaan saya yang lalu, mohon dijawab via email karena qadarullah pertanyaan yang telah saya kirim ke kolom komentar web ini tidak muncul di hp saya, saya juga sudah mengecek komentar saya di bbrp hp keluarga saya, hasilnya pun sama, yaitu tidak muncul komentar yg sy kirim..
    Jazaakumullahu khayran

    Pertanyaan lalu yang saya kirim di kolom komentar:

    Assalamu’alaikum ustadz afwan izin bertanya, jika seseorang jujur dan minta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya, namun sebelumnya ia tidak tau/blm jelas baginya bahwa perbuatannya itu adalah kesalahan, lalu setelah tau/telah jelas baginya bahwa perbuatannya itu ternyata adl kesalahan yg telah dilakukannya (berupa melanggar/menyalahi aturan yg dibuat manusia) lantas ia pun jujur dan minta maaf atas kesalahannya kepada orang yg memiliki kaitan dg aturan tersebut. Apakah ini termasuk mujahirin?

    Reply
  10. Dafa Hasan says:
    5 tahun yang lalu

    Assalamualaikum saya ingin bertanya
    Di Al-Qur’an dikatakan Allah mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik.
    Sedangkan di hadist
    Semua umat ku akan mendapatkan ampunan kecuali mujahirin.
    Bukan nya Allah hanya tidak mengampuni dosa syirik ?
    Tapi mengapa di hadist ini dosa selain syirik juga tidak di ampuni?

    Reply
  11. Radek says:
    3 tahun yang lalu

    ilmu yang luar biasa terima kasih banyak telah berbagi

    Reply
  12. sarkariprep says:
    3 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum ustadz afwan izin bertanya

    Reply
  13. Sarkari Result says:
    3 tahun yang lalu

    Assalamualaikum sir

    Reply
  14. Vacancy says:
    3 tahun yang lalu

    terimakasih banyak ilmunya

    Reply
  15. Sarkari Result says:
    3 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum ustadz afwan izin bertanya

    Reply
  16. yulizarpost says:
    3 tahun yang lalu

    terimakasih banyak. sangat bermanfaat sekali

    Reply
  17. nino says:
    3 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum ustadz afwan izin bertanya

    Reply
  18. ehrms upsdc gov says:
    2 tahun yang lalu

    That fascinating article thanks for sharing

    Reply
  19. CM Ladli Behna Yojana ekyc says:
    2 tahun yang lalu

    Very Nice information

    Reply
  20. Dear lottery result says:
    2 tahun yang lalu

    am very interested in your article and very usefull for me

    Reply
  21. Shillong Teer Result says:
    2 tahun yang lalu

    very nice information

    Reply
  22. syaifuddin says:
    1 tahun yang lalu

    izin menukil hadistnya geh, semoga menjadi ladang pahala

    Reply
    • M. Saifudin Hakim says:
      1 tahun yang lalu

      Silakan, baarakallahu fiik.

      Reply
  23. Free Fire Keeda says:
    1 tahun yang lalu

    Wa’alaikumus salam, masih bisa diampuni,jika ia telah menyesal dari menceritakan dosanya, berhenti dari perbuatan itu,dan bertekad kuat untuk tdk mengulangi lagi .
    Dan namanya taubat diterima jika dilakukan sebelum nyawa sampai tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat. Disamping juga taubat harus memenuhi 3 syarat di atas dan 1 syarat lagi : ikhlas

    visit now

    Reply
  24. Sarkari Result Bihar says:
    1 tahun yang lalu

    n bertekad kuat untuk tdk mengulangi lagi Dan namanya taubat diterima jika dilakukan sebelum nyawa sampai tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat. Disamping juga taubat harus memenuhi 3 syarat di atas dan 1 syarat lag

    Reply
  25. SARKARI RESULT INFOS says:
    10 bulan yang lalu

    Assalamu’alaikum ustadz afwan untuk pertanyaan saya yang lalu, mohon dijawab via email karena qadarullah pertanyaan yang telah saya kirim ke kolom komentar web ini tidak muncul di hp saya, saya juga sudah mengecek komentar saya di bbrp hp keluarga saya, hasilnya pun sama, yaitu tidak muncul komentar yg sy kirim..
    Jazaakumullahu khayran

    Reply
  26. SarkariNaukariKare says:
    9 bulan yang lalu

    MasyaAllah, tulisan yang sangat bermanfaat. Penjelasan tentang mujahirin dan bahayanya berbuat maksiat secara terang-terangan benar-benar menyentuh hati. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat tersebut dan senantiasa diberi taufik untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh. Jazakallahu khairan atas ilmunya.

    Reply
  27. Size Reducer Image says:
    9 bulan yang lalu

    Thank you very much for sharing this beautiful article.

    Reply
  28. FF Names says:
    2 bulan yang lalu

    MasyaAllah, tulisan yang sangat bermanfaat. Penjelasan tentang mujahirin dan bahayanya berbuat maksiat secara terang-terangan benar-benar menyentuh hati.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah