Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bagaimana Aku Menikmati Hidangan Al Qur’an dan Al Hadits?

Fachri Abu Syazwiena oleh Fachri Abu Syazwiena
24 November 2013
di Manhaj
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • A. Hidangan Al Qur’an
  • B. Hidangan Al Hadits

A. Hidangan Al Qur’an

Telah dimaklumi bahwa men-tadabbur Al-Qur’an adalah sebuah hal yang begitu penting. Tadabbur lebih dari sekedar membiarkan mata mendarat pada ayat-ayat yang dibaca. Dibutuhkan instrumen untuk menyelami makna yang terkandung dalam ayat tersebut hingga akhirnya jiwa mampu mengepakkan ‘sayapnya’ menelusuri taman-taman iman lalu kemilaulah muara takwa.

Begitu penting keberadaan kitab-kitab tafsir yang dikarang para ulama. Dengan wasilah tersebut, seseorang akan mudah mentadabbur Al-Qur’an karena ia mampu memahami makna ayat maupun tuntutan muatan ilmu yang dikandung ayat tersebut. Ini akan diraih ketika ia mampu menyelam lebih jauh lagi dalam lautan tinta para ulama.

Ada langkah-langkah yang begitu efektif untuk meraih tujuan ini yaitu dengan membaca beberapa ayat kemudian merujuknya tafsir yang dibahas para ulama:

  • Tafsir Muyassar
  • Tafsir Kariimir Rahman fiy Tafsir Kalaam al-Mannan karya syaikh Sya’diy
  • Tafsir al-Qur-an al-Azhiim karya imam Ibnu Katsir
  • Aisaar at-Tafaasir karya Abu Bakr Jabir al-Jazaa-iri
  • Tafsir al-Qurthubiy
  • Tafsir ath-Thabariy
  • Fath al-Qadir karya imam asy-Syaukaniy
  • Dan lain-lain.

Keberadaan kitab-kitab di atas sudah sangat membantu men-tadabbur Al Qur’an. Akan ada letupan-letupan begitu berharga yang siap membuat jiwa berdecak kagum dan tunduk terhadap syariat Allah, Rabb alam semesta.

Metode ini begitu efektif ketika seseorang menghafal ayat dan memang beginilah dahulu para sahabat tidak melanjutkan pelajaran ayat-ayat selanjutnya sebelum mentutaskan ilmu pada ayat-ayat sebelumnya.

Metode ini pula akan membantu kehusyu’an ketika membaca Al-Qur’an karena ia paham makna-maknanya. Begitu pula ketika mendengar sang imam membaca ayat atau surat, maka pikiran akan siap terstimulasi dan merespon kandungan makna-makna yang telah dipelajari saat membaca kitab-kitab tafsir.

B. Hidangan Al Hadits

Begitu pula dengan hadits-hadits, memahami teks dan tuntutan ilmu yang termuat di dalamnya adalah sebuah kelezatan jiwa, selain sebagai sebuah tuntutan untuk menghilangkan kebodohan. Orang yang tidak merasakan kelezatan ilmu adalah orang yang rugi, terhalang pula dari kelezatan amal. Karena hakekatnya kelezatan sebuah amal, salah satunya, ditopang oleh ilmu yang menjadi dasar sebuah amal yang ia lakukan.

Untuk memudahkan ini, diperlukan juga langkah-langkah yang efisien apalagi bagi muslim atau penuntut ilmu yang pendidikannya tidak berlatar belakang ma’had/pondok.

Tetapkan untuk mempelajari sebuah kitab hadits, misalnya kitab Bulughul Maram. Hal yang terpenting, salah satunya, adalah keberadaan kitab-kitab syuruh/syarh/penjelasan. Untuk Bulughul Maram sendiri, begitu baik jika memiliki syarah berikut:

  1. Fath Dzil Jalaal wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram yang disusun syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin. Kami mendapati kitab ini adalah sebuah kitab yang luar biasa dan layak dimiliki penuntut ilmu.
  2. Mihnatul ‘Allaam fiy Syarhi Bulughil Maram karya ‘Abdullah bin Shaleh al-Fauzan, anak dari syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan.
  3. Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram karya syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Bassam
  4. Dan lain-lain

Sangat disarankan untuk mempelajari satu hadits kemudian segera merujuk kitab-kitab yang kami maksudkan di atas.
Misalnya ketika membaca atau menghafal hadits pertama dalam kitab bulughul Maram, maka setelah itu beranjak mencari semua pembahasan yang berhubungan dengan hadits tersebut dari referensi pertama di atas. Dia akan mendapati fawa-id yang dipaparkan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dan tidak didapat dalam referensi kedua dan ketiga.

Setelah itu, ia beranjak ke referensi kedua masih tentang hadits pertama. Ia akan temui beberapa penjelasan yang disusun oleh syaikh ‘Abdullah bin Shaleh al-Fauzan, anak dari syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan. Ia akan temui banyak fawa-id lain yang tak didapati dalam referensi pertama dan ketiga.

Setelah itu, ia beranjak lagi menuju referensi ketiga. Masih tentang hadits pertama, ia akan mendapati paparan ulama yang disusun syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Bassam, termasuk ikhtilaf para ulama beserta pendapat yang rajih dalam pandangan beliau.
Begitu pula seterusnya, ia beranjak ke referensi lain yang membahas hadits yang sedang ia pelajari. Sehingga setelah menyelesaikan satu hadits dan penjelasannya akan didapati serpihan-serpihan ilmu yang berhubungan dengan hadits tersebut. Metode ini pula lebih membantu menguatkan memori jika berkeinginan untuk menghafal hadits yang dimaksud.

Kegiatan-kegiatan ilmu di atas sudah sangat menghabiskan waktu apalagi mereka yang kuliah umum dengan berbagai mata kuliahnya dan mengikuti majelis ilmu, terutama jika disertai dengan adanya target hafalan Al-Qur’an maupun Al-Hadits perhari.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dan menjadikan ilmu sebagai salah satu prinsip agung dalam Islam. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami dan menjadikan kami dan anda sebagai orang yang syahid di jalan ilmu.

***
Asrama LIPIA Jakarta, Ahad pagi, 20 Muharram 1435 H

 

Penulis: Fachriy Abu Syazwiena

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Fachri Abu Syazwiena

Fachri Abu Syazwiena

Mahasiswa LIPIA

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
hukum bermain kartu remi

Hukum Bermain Kartu Remi

Komentar 2

  1. kukuh says:
    13 tahun yang lalu

    setuju :)

    Reply
  2. Mas BiG says:
    13 tahun yang lalu

    Untuk saya yang belum bisa bhs Arab, ada terjemahan yang shahih nggak ya :)

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   7   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah