Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Pelajaran dari Kisah Abu Tholib Menjelang Wafat

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. oleh Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.
24 Oktober 2013
di Jejak Islam
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam shiroh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan bahwa paman Nabi -Abu Tholib- biasa melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadits.

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Tholib (paman Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Tholib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu,

أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”

Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Umayyah berkata,

يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

“Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthollib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Tholib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muttholib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan :

لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ

“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Kemudian turunlah ayat,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam” (QS. At Taubah: 113)

Allah Ta’ala pun menurunkan ayat,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai” (QS. Al Qosshosh: 56) (HR. Bukhari no. 3884)

Beberapa pelajaran dari hadits di atas:

1- Boleh menjenguk orang sakit yang non-muslim asal dengan tujuan untuk mendakwahinya masuk Islam.

2- Bahaya memiliki teman yang jelek yang terus merayu pada kekafiran dan maksiat.

3- Makna kalimat “laa ilaha illallah” adalah meninggalkan peribadahan pada berhala, wali dan orang sholeh. Orang-orang musyrik di masa Rasul sudah mengetahui hal ini.

4- Seseorang yang mengucapkan kalimaat “laa ilaha illallah” dengan penuh keyakinan, maka ia dianggap masuk Islam.

5- Terlarang meminta ampunan pada Allah untuk orang musyrik dan dilarang loyal pada mereka, juga dilarang mencintai mereka (atas dasar agama).

6- Amalan itu dilihat dari akhirnya.

7- Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak dapat memberi manfaat pada pamannya sendiri, lebih-lebih pada orang lain. Ini menunjukkan terlarangnya ketergantungan hati pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meraih manfaat dan menolak mudhorot.

8- Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Tholib mati dalam keadaan kafir.

9- Bahaya hanya mengekor (taklid) pada nenek moyang atau hanya mengikuti tradisi mereka, dan hal itu dijadikan alasan ketika didebat, “Ini kan tradisi nenek moyang kita.”

10- Hidayah agar seseorang bisa melakukan ketaatan adalah kuasa Allah. Sedangkan kita sebagai manusia hanya bisa memberikan penjelasan pada kebenaran.

Semoga pelajaran ini bermanfaat bagi pengunjung Muslim.Or.Id. Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Referensi:

Al Mulakhosh fii Syarh Kitab Tauhid karya guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan kedua, tahun 1433 H, hal. 155-157.

—

@ Pesantren Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1434 H di pagi hari penuh berkah

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin1
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

- Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. - Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). - S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). - S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). - Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin 'Abdullah bin Hamad Al 'Ushoimi dan ulama lainnya. - Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

Artikel Terkait

Keteguhan Para Sahabat Pada Masa Awal Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi (Bag. 1)

oleh Fajar Rianto
2 Juli 2026
0

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas permulaan dakwah secara sembunyi-sembunyi atau dakwah sirriyyah. Pada artikel ini, kita akan melihat sebagian...

Pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan

oleh Firdian Ikhwansyah
1 Juli 2026
0

Ketika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang...

Surat Rasulullah Kepada Heraklius

oleh Firdian Ikhwansyah
25 Juni 2026
0

Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah...

Artikel Selanjutnya

Tanda Ittiba’ (4) : Menjadikan Syariat Sebagai Hakim

Komentar 6

  1. Azyzaa says:
    13 tahun yang lalu

    Saya baru tauu kl Abuu Tholib meninggal dalam keadaan kafir..

    Reply
  2. Obat Lipoma Tanpa Operasi says:
    13 tahun yang lalu

    Sangat bermanfaat, terimakasih ,dan ditunggu informasi selanjutnya

    Reply
  3. Pengobatan Herbal Penyakit Kista Ovarium says:
    13 tahun yang lalu

    Artikel bermanfaat,ditunggu postingan selanjutnya ,,,

    Reply
  4. roni says:
    13 tahun yang lalu

    Semoga kita dapat mengakhiri hidup ini dalam kondisi yang terbaik baik iman dan tidak menyusahkan orang yang hidup.aamiin

    Reply
  5. ahmad says:
    13 tahun yang lalu

    Semoga Allah memberi kita kebahagiaan dengan Khusnul Khotimah.

    Reply
  6. Muslim Move On says:
    13 tahun yang lalu

    Izin share artikel ini di blog kami ya ..

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   7   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah