Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Taat Kepada Penguasa

Ari Wahyudi, S.Si. oleh Ari Wahyudi, S.Si.
17 Januari 2010
di Manhaj
taat kepada penguasa
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Imam Bukhari
  • al-Hafizh Ibnu Hajar
  • Imam Muslim
  • Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni
  • Ibnul Qayyim

Apakah benar di dunia ini tidak ada lagi ulil amri/penguasa yang harus ditaati? Berikut penjelasan tentang taat kepada penguasa.

[lwptoc]

Imam Bukhari

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari [7137] dalam Kitab al-Ahkam)

al-Hafizh Ibnu Hajar

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menaatiku maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan termasuk dalam bentuk ketaatan kepada Allah ialah dengan menaatiku?” Maka para sahabat menjawab, “Benar, kami mempersaksikannya.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya termasuk bentuk ketaatan kepadaku adalah kalian taat kepada para penguasa kalian.” dalam lafal yang lain berbunyi, “para pemimpin kalian.” Kemudian al-Hafizh berkata, “Di dalam hadits ini terkandung kewajiban untuk taat kepada para penguasa -kaum muslimin- selama itu bukan perintah untuk bermaksiat sebagaimana sudah diterangkan di depan dalam awal-awal Kitab al-Fitan. Hikmah yang tersimpan dalam perintah untuk taat kepada mereka adalah untuk memelihara kesatuan kalimat (stabilitas masyarakat, pent) karena terjadinya perpecahan akan menimbulkan kerusakan -tatanan masyarakat-.” (Fath al-Bari [13/131] cet. Dar al-Hadits)

Imam Muslim

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni

Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni rahimahullah berkata, “As-habul hadits berpandangan untuk tetap mengikuti setiap pemimpin muslim dalam mendirikan sholat Jum’at, sholat dua hari raya, ataupun sholat-sholat yang lainnya. Entah dia adalah seorang pemimpin yang baik ataupun yang bejat. Mereka juga memandang kewajiban untuk berjihad melawan orang-orang kafir bersama pemimpin tersebut. Meskipun mereka itu zalim dan suka bermaksiat. Mereka juga memandang semestinya rakyat mendoakan perbaikan keadaan, taufik/hidayah, serta kebaikan untuk mereka (penguasa) dan mendoakan juga agar mereka bisa menyebarluaskan keadilan di tengah-tengah rakyat. Mereka juga memandang tidak bolehnya memberontak dengan pedang kepada mereka…” (‘Aqidah Salaf As-habul Hadits, hal. 100 tahqiq Abul Yamin al-Manshuri cet. Dar al-Minhaj berupa file pdf)

Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyari’atkan bagi umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran yang dengan tindakan pengingkaran itu diharapkan tercapai suatu perkara ma’ruf/kebaikan yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Apabila suatu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran justru menimbulkan perkara yang lebih mungkar dan lebih dibenci oleh Allah dan rasul-Nya maka tidak boleh melakukan tindak pengingkaran terhadapnya, meskipun Allah dan rasul-Nya memang membencinya dan murka kepada pelakunya. Contohnya adalah mengingkari penguasa dan pemimpin dengan cara melakukan pemberontakan kepada mereka. Sesungguhnya hal itu merupakan sumber segala keburukan dan terjadinya fitnah hingga akhir masa. Barangsiapa yang memperhatikan musibah yang menimpa umat Islam berupa fitnah yang besar maupun yang kecil maka dia akan bisa melihat bahwasanya hal itu timbul akibat menyia-nyiakan prinsip ini dan karena ketidaksabaran dalam menghadapi kemungkaran sehingga orang pun nekat untuk menuntut dilenyapkannya hal itu, namun yang terjadi justru memunculkan musibah yang lebih besar daripada -kemungkaran- itu.” (I’lam al-Muwaqqi’in [3/4], dinukil dari ta’liq Syaikh Ruslan dalam kitab al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 25 berupa file pdf)

Dengan membaca keterangan di atas maka jelaslah kekeliruan orang yang mengatakan bahwa dewasa ini di segenap penjuru dunia tidak ada lagi ulil amri/penguasa yang harus ditaati. Bahkan, dia mengatakan bahwa masyarakat yang taat kepada para penguasa tersebut maka telah menjadikan mereka sebagai para thoghut (sesembahan selain Allah)! Dan hal itu juga mengisyaratkan kepada kita bahwa pemikiran yang membolehkan pemberontakan kepada penguasa yang zalim -walaupun tidak mengharuskannya- adalah salah satu pemikiran sesat warisan sekte Khawarij yang harus kita waspadai!

Semoga Allah memberikan taufik kepada para penguasa umat Islam untuk menegakkan tauhid dan sunnah serta memberantas syirik dan bid’ah.

Baca juga: Syubhat: Ahlusunah Membela Kezaliman Penguasa?

—

Selesai disusun di Yogyakarta, pertengahan Muharram 1431 H

Seraya memuji kepada Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad,  para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
Ari Wahyudi, S.Si.

Ari Wahyudi, S.Si.

Alumni S1 Biologi UGM, Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil".

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya

Memperkokoh Keimanan pada Allah

Komentar 20

  1. abu hanifah alim says:
    17 tahun yang lalu

    semoga kita dijadikan hamba-2-Nya yg selalu mentaati pemerintah dlm hal yg ma’ruf,
    dan semoga Allah berikan hidayah kpd mrk agar mrk bisa menjalankan roda keperintahan dg baik dan adail,
    dan smoga Allah berikan keamanan kpd kita semua, aamiiiin

    Reply
  2. Abu Sholih says:
    16 tahun yang lalu

    Prinsip dasar Ahlussunnah yg satu ini masih sgt perlu kita sosialisasikan kpd kaum muslimin terutama pd hari-hari skrg dmn kaum muslimin mudah mencela pemimpinnya.

    Reply
  3. abdullah says:
    16 tahun yang lalu

    ustad mohon diberikan penjelasan lebih, contoh (di indonesia)dr bentuk atau cara dan sikap ketidak ta’atan kita kepada penguasa dalam hal maksiat. rabbana yubarik fik, jazakallahu khoiron katsiro.

    Reply
  4. Ari Wahyudi says:
    16 tahun yang lalu

    Bimsillah, saya kira contoh maksiat itu banyak dan sudah sangat jelas. Kalau misalnya penguasa -negeri manapun- menyuruh rakyat untuk bermaksiat maka tidak boleh taat. Karena tidak boleh taat kepada makhluk dalam rangka durhaka kepada Allah. Allahu a’lam.

    Reply
  5. irawan says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alaykum

    manhaj ahlussunnah mengharamkan demokrasi, lalu bagaimana pemimpin hasil demokrasi? saya mohon penjelasannya karena khawarij pun menolak demokrasi.

    wassalamu’alaykum

    Reply
  6. fahrul says:
    16 tahun yang lalu

    Assalamu ‘alaikum
    @Irawan
    Sesungguhnya pemimpin hasil demokrasi tetap ditaati perintahnya yang ma’ruf sebagaimana pemerintah hasil pemberontakan tetap ditaati perintahnya ma’ruf yang di mana pemberontakan diharamkan oleh Agama Islam

    Reply
  7. fahrul says:
    16 tahun yang lalu

    @Abdullah
    Contoh bentuk perintah yang maksiat seperti memerintahkan/menganjurkan menabung di bank konvensional yang mengandung transaksi riba

    Reply
  8. Firdaus Herliansyah says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah.. semoga Allah memberikan hidayah, petunjuk dan kebaikan bagi pemimpin negeri ini..

    Reply
  9. Salman Muarif says:
    16 tahun yang lalu

    Ass , ana mau usul and koreksi and pelurusan terhadap pemahaman antum yang mengelikan itu .wong dah jelas2 penguasa saat ini sudah berbicara tidak ingin menerapkan syariat islam kok ee masih di anggap islam ,kamu ini gimana sih ? akal sehatnya di mana to sampeyan iku?

    Reply
  10. Firdaus Herliansyah says:
    16 tahun yang lalu

    @Salman Muarif
    Antum faham tidak kaidah-kaidah yang diterapkan oleh para ‘ulama dalam metode pengkafiran..? Kalo belum faham, sungguh berbahaya lisan antum yang mengkafirkan sesama muslim..

    Reply
  11. Tommi says:
    16 tahun yang lalu

    @saudaraku salman…

    Selama penguasa itu masih bersyahadat dan masih menunaikan sholat, maka kita wajib taat dalam hal2 yg ma’ruf dan tidak dibenarkan taat dalam hal2 yg mendurhakai Allah Ta’ala.

    Sebagai catatan untuk anda, Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu- dulu bermakmum dalam sholat pada Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofiy, penguasa yg sudah terkenal dalam sejarah Islam sebagai penguasa yg zholim dan suka menumpahkan darah.

    Mari…yuk kita sama2 belajar Qur’an dan hadits lagi dengan pemahaman salafus sholeh agar kita terhindar dari kesesatan berpikir dan berideologi. Semoga Allah Ta’ala menunjukkan jalanNya yg lurus pada kita semua.

    Reply
  12. may says:
    16 tahun yang lalu

    ya Allah, berikanlah iman yang kuat bg pemimpin kami, agar mampu memutuskan yg haq dan menjauhkan yg bathil.
    ya Allah, tunjukilah hati pemimpin kami agar dapat ,melindungi kami untuk selalu menjd hamba2 Mu, menegakkan kebenaran dan keadilan serta menjauhkan dari perbuatan dosa yg berkepanjangan……
    ya Allah, jgnlah kau sesatkan pemimpin kami dg nafsu berkuasa yg menandingi kuasaMU…..shg memicu kemurkaanMu
    ya Allah, jadikanlah pemimpin kami pemimpin yg adil, yg mengantarkan kami smua pada keselamatan dankebahagiaan di dunia dan akherat………..amin

    Reply
  13. Ari Wahyudi says:
    16 tahun yang lalu

    Mungkin saudara Salman -waffaqahullah- belum mencermati hadits di atas:

    Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.”

    Reply
  14. endip says:
    16 tahun yang lalu

    saya ikut kopi artikel ya akh semoga bermanfaat bagi teman2

    Reply
  15. syam's says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum ustd…bagaimana hukumnya kalo kita mengaku islam tetapi tdk mau menjalankan syariat islam?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      16 tahun yang lalu

      #syam’s
      Wa’alaikumussalam. Tidak mau bisa jadi karena mengingkari, bisa jadi karena malas bisa jadi karena tidak tahu.

      Reply
  16. abu umar al Kadiry says:
    14 tahun yang lalu

    izin share di FB…
    jazakallah khairan….

    Reply
  17. tyo says:
    14 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum .
    alhamdulillah ya bekas presiden kita dulu yang mantan kyai ternyata tidak berumur panjang jadi pemimpin kita,,
    Lalu,kalo misalnya(nauzubillahi minzalik),pemilu kita menghasilkan pemimpin seperti yang mantan kyai itu gimana ustadz???

    wassalamu’alaikum

    Reply
    • Muhammad Abduh Tuasikal says:
      14 tahun yang lalu

      @ Tyo
      Wa’alaikumus salam.
      Selama masih muslim, pemimpin tersebut wajib ditaati. Kecuali jk nampak kekufuran yg nyata.

      Reply
  18. EKO says:
    13 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum Ustd bagaimana kalau pemimpin kita wanita apakah kita harus tetap taat??? karena di al quran banyak di tulis wanita jahat

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 6   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah