Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Penghalang Ittiba’ (7) : Duduk Bersama Ahlul Bid’ah Dan Maksiat

Kholid Syamhudi, Lc. oleh Kholid Syamhudi, Lc.
3 September 2013
di Manhaj
bahaya bid'ah
Share on FacebookShare on Twitter

Termasuk penghalang ittiba’ yang paling besar adalah duduk-duduknya seorang hamba bersama ahli bid’ah dan maksiat. Dimana para pelaku keburukan akan memperindah kebatilan yang mereka lakukan dan memperlihatkannya sebagai kebenaran kepada teman-teman duduknya. Jika mereka tidak mampu membalik kebenaran yang ada pada pemikirannya dan merubah pemahamannya, maka mereka akan berusaha memaksanya untuk melakukan kebatilan mereka sebagai basa-basi kepada mereka atau karena takut akan celaan dan olok-olok mereka. Dan jika mereka tidak mampu melakukan hal itu, maka paling tidak dia akan berbasa-basi kepada mereka dengan tidak mengingkari mereka atau tidak melakukan kebenaran yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka.

Oleh karenanya, sangat keras dan besar pengingkaran ulama salaf serta peringatan mereka terhadap ahli sunnah dari bercampur dengan teman-teman duduk yang buruk. Pada kisah Umar radhiallahu’anhu dan Shabigh, Abu Utsman yang meriwayatkannya berkata, “Sesungguhnya Umar menulis surat kepada kami yang berisi, janganlah kalian duduk-duduk bersama dengannya”. Beliau (Abu Utsman-pen) berkata, “Maka jika dia datang untuk duduk bersama kami, sedangkan jumlah kami seratus orang, maka kamipun berpencar menjauh darinya”1.

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu berkata, “Janganlah engkau duduk bersama ahlul ahwa (orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya-pen). Karena duduk-duduk bersama mereka akan membuat hati sakit”2.

Mush’ab bin Sa’ad berkata, “Janganlah engkau duduk bersama orang yang terfitnah (sesat). Karena tidak akan luput darimu salah satu dari dua kemungkinan, engkau terfitnah olehnya sehingga engkau mengikutinya, atau dia akan mengganggumu sebelum engkau meninggalkannya”3.

Mufadhdhal bin Muhallil berkata, “Seandainya shahibul bid’ah (ahlu bid’ah) langsung berbicara kepadamu tentang bid’ahnya ketika engkau duduk kepadanya, tentu engkau akan waspada dan lari darinya. Akan tetapi di awal majlisnya, dia akan berbicara kepadamu dengan pembicaraan-pembicaraan sunnah, kemudian dia memasukkan bid’ahnya kepadamu, sehingga kemungkinan bid’ah itu akan menetap di hatimu. Lalu kapan bid’ah itu akan keluar dari hatimu?!”4.

Seseorang berkata kepada Ibnu Sirin, “Sesungguhnya fulan ingin datang kepadamu dan dia tidak akan berkata sedikitpun.” Beliau berkata, “Katakan kepada fulan, tidak! Dia tidak akan mendatangiku. Karena hati anak Adam itu lemah dan aku takut mendengar satu kalimat darinya lalu hatiku tidak bisa kembali kepada keadaan semula”5.

Catatan Kaki

1 Al-Ibanah Al-Kubra, karya Ibnu Bath-thah (1/414) no. 329.

2 Idem (2/438) no. 371.

3 Idem (2/442) no. 385.

4 Idem (2/444) no. 394.

5 Idem (2/446) no. 399.

—

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Kholid Syamhudi, Lc.

Kholid Syamhudi, Lc.

Alumni S1 Jusuran Hadits Universitas Islam Madinah, pembina Pondok Pesantren Ibnu Abbas Sragen, pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwwah Sukoharjo, pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
setan berubah wujud

Serial 15 Alam Jin: Setan Bisa Berubah Wujud Jadi Manusia

Komentar 3

  1. ade says:
    13 tahun yang lalu

    afwan, untuk point ke 2 dan ke 4 saya cari tidak ada mohon untuk di tampilkan

    Reply
  2. Bunda Bayi Modis says:
    13 tahun yang lalu

    Alhamdulillah, subuh hari sudah dapet pencerahan..
    Thanks muslim.or.id..
    Semoga Kita selalu dijaga dalam Istiqomah, aamiin…

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah