fbpx

Mati Jahiliyah Kala Tidak Taat Pemimpin

Mati Jahiliyah Kala Tidak Taat Pemimpin

Ada yang punya sifat membangkang pada penguasa atau pemimpin mereka. Bahkan bukan hanya tidak taat, sampai pemimpin mereka pun dikafirkan. Padahal hidup di bawah pemimpin muslim adalah suatu kebaikan. Enggan taat pada pemimpin yang sah adalah suatu bencana bahkan disifatkan oleh Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai orang yang mati jahiliyah. Apa itu mati jahiliyah?

Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).

Pengertian Hadits

Yang dimaksud melepaskan tangan dari ketaatan adalah tidak mau taat pada pemimpin padahal ketaatan tersebut bukan dalam perkara maksiat, sehingga ia enggan berbaiat pada pemimpin.

Yang dimaksud tanpa argumen yang membelanya adalah tidak ada uzur (alasan) ketika ia membatalkan janjinya untuk taat.

Sedangkan kalimat tidak ada baiat di lehernya adalah tidak mau berbai’at, yaitu mengikat janji setia untuk taat pada pemimpin.

Mati jahiliyah yang dimaksud adalah mati dalam keadaan sesat dan salah jalan sebagaimana keadaan orang-orang jahiliyah karena dahulu mereka tidak mau taat pada pemimpin bahkan mereka menilai aib jika mesti taat seperti itu. Namun bukanlah yang dimaksud mati jahiliyah adalah mati kafir sebagaimana sangkaan sebagian golongan yang keliru dan salah paham.

Faedah Hadits

  1. Wajib mentaati jama’ah atau penguasa yang sah dan wajib berbai’at pada mereka. Dan jama’ah yang dimaksud di sini bukanlah kelompok, golongan, atau kumpulan orang tertentu tetapi yang dimaksud adalah yang punya kuasa dan punya wilayah yang sah. Sehingga jika di negara NKRI, taat pada jama’ah berarti taat pada pimpinan negara selama bukan dalam hal maksiat.
  2. Siapa yang enggan taat pada penguasa dengan membatalkan janji setianya untuk taat (baca: bai’at), maka ia berarti telah terjerumus dalam dosa besar dan telah serupa dengan kelakuan orang Jahiliyah.
  3. Hendaknya setiap umat memiliki pemimpin yang urusan agama diatur oleh mereka.
  4. Mati jahiliyah bukan berarti mati kafir tetapi mati dalam keadaan tidak taat pada pemimpin. Sehingga orang-orang yang enggan taat pada pemimpin atau penguasa yang mengatur maslahat mereka, maka ia pantas menyandang sifat ini.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita pemimpin yang jujur dan adil, yang mampu menyejahterakan rakyat. Moga kita pun dikarunia oleh Allah sebagai hamba yang taat pada Allah, Rasul-Nya dan ulil amri kaum muslimin.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

ReferensiBahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 655.

Disusun di pagi hari penuh berkah, 17 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D. I. Yogyakarta

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
MPD Banner

About Author

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin 'Abdullah bin Hamad Al 'Ushoimi dan ulama lainnya. Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

View all posts by Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. »

14 Comments

  1. ijin share tadz, jazakallah khoir

  2. hiks… semoga saya (dan semua orang yg saya cintai) tidak termasuk golongan orang2 yg mati dalam keadaan jahiliyah…

  3. Kita smua mrindukn Pemimpin spt Rasulullah SAW yg bs Melindungi ; mengayomi thdp Semua Masyarakat tnpa membedakn Suku, Agama , Ras dan Golonganny…Brlaku adil dlm mnyelesaikn tnpa pandang bulu..

  4. Agus Sulaksono

    Assalaamu alaikum, ustadz, ketika saya share hadits tersebit, ada temen yang menagatakan bahwa terjemahan hadits tsb sudah ditambah tambahi dengan kata “kepada pemimpin” yang katanya tidak boleh menambah nambahi makna.
    Mohon penjelasan. Terimakasih

  5. Ana mau bertanya ustadz kalo penguasanya mengubah hukum” Allah apa wajib di taati?

Leave a Reply