Tata Cara Puasa Syawal – Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Tata Cara Puasa Syawal

Print PDFPuasa Syawal kita tahu memiliki keutamaan yang besar yaitu mendapat pahala puasa setahun penuh. Namun bagaimanakah tata cara melakukan puasa Syawal? Keutamaan Puasa Syawal Kita tahu bersama …

12808 39
tata cara puasa syawal

Puasa Syawal Puasa Sawal Puasa Bulan Syawal Puasa Syawal Adalah Keutamaan Puasa Syawal

Puasa Syawal kita tahu memiliki keutamaan yang besar yaitu mendapat pahala puasa setahun penuh. Namun bagaimanakah tata cara melakukan puasa Syawal?

Keutamaan Puasa Syawal

Kita tahu bersama bahwa puasa Syawal itul punya keutamaan, bagi yang berpuasa Ramadhan dengan sempurna lantas mengikutkan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka ia akan mendapatkan pahala puasa setahun penuh. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Seperti Berpuasa Setahun Penuh

Kenapa puasa Syawal bisa dinilai berpuasa setahun? Mari kita lihat pada hadits Tsauban berikut ini,

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) »

Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.”  (HR. Ibnu Majah no. 1715. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Disebutkan bahwa setiap kebaikan akan dibalas minimal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan sebulan penuh akan dibalas dengan 10 bulan kebaikan puasa. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal akan dibalas minimal dengan 60 hari (2 bulan) kebaikan puasa. Jika dijumlah, seseorang sama saja melaksanakan puasa 10 bulan + 2 bulan sama dengan 12 bulan. Itulah mengapa orang yang melakukan puasa Syawal bisa mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh.

Tata Cara Puasa Syawal

1- Puasa sunnah Syawal dilakukan selama enam hari

Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa puasa Syawal itu dilakukan selama enam hari. Lafazh hadits di atas adalah: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Dari hadits tersebut, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Syarhul Mumti’, 6: 464).

2- Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Para fuqoha berkata bahwa yang lebih utama, enam hari di atas dilakukan setelah Idul Fithri (1 Syawal) secara langsung. Ini menunjukkan bersegera dalam melakukan kebaikan.” (Syarhul Mumti’, 6: 465).

3- Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.” (Idem)

4- Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa Syawal yaitu puasa setahun penuh.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392).

5- Boleh melakukan puasa Syawal pada hari Jum’at dan hari Sabtu.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309).

Hal ini menunjukkan masih bolehnya berpuasa Syawal pada hari Jum’at karena bertepatan dengan kebiasaan.

Adapun berpuasa Syawal pada hari Sabtu juga masih dibolehkan sebagaimana puasa lainnya yang memiliki sebab masih dibolehkan dilakukan pada hari Sabtu, misalnya jika melakukan puasa Arafah pada hari Sabtu. Ada fatwa dari Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia berikut ini.

Soal:

Kebanyakan orang di negeri kami berselisih pendapat tentang puasa di hari Arafah yang jatuh pada hari Sabtu untuk tahun ini. Di antara kami ada  yang berpendapat bahwa ini adalah hari Arafah dan kami berpuasa karena bertemu hari Arafah bukan karena hari Sabtu yang terdapat larangan berpuasa ketika itu. Ada pula sebagian kami yang enggan berpuasa ketika itu karena hari Sabtu adalah hari yang terlarang untuk diagungkan untuk menyelisihi kaum Yahudi. Aku sendiri tidak berpuasa ketika itu karena pilihanku sendiri. Aku pun tidak mengetahui hukum syar’i mengenai hari tersebut. Aku pun belum menemukan hukum yang jelas  mengenai hal ini. Mohon penjelasannya.

Jawab:

Boleh berpuasa Arafah pada hari Sabtu atau hari lainnya, walaupun tidak ada puasa pada hari sebelum atau sesudahnya, karena tidak ada beda dengan hari-hari lainnya. Alasannya karena puasa Arafah adalah puasa yang berdiri sendiri. Sedangkan hadits yang melarang puasa pada hari Sabtu adalah hadits yang lemah karena mudhtorib dan menyelisihi hadits yang lebih shahih. (Fatwa no. 11747. Ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan).

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan puasa Syawal ini setelah sebelumnya berusaha menunaikan puasa qodho’ Ramadhan. Hanya Allah yang memberi hidayah untuk terus beramal sholih.

Disusun di pagi hari penuh berkah, 2 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D. I. Yogyakarta

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id


Ingin pahala jariyah yang terus mengalir? Dukung pelunasan markaz dakwah YPIA di Yogyakarta. Kirim donasi anda ke salah satu rekening di bawah ini:
  1. Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801.
  2. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594
  3. Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329.
  4. CIMB Niaga Syariah atasn ama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0.
  5. Rekening paypal: [email protected]
  6. Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122

Puasa Di Bulan Syawal Puasa Sunnah Syawal Puasa Shawal Puasa Sunnah Bulan Syawal Kapan Puasa Syawal

Sebarkan!
0 4 0 0 0 0
In this article

Join the Conversation

  • Pingback: Tata Cara Pelaksanaan Puasa Syawal,Puasa 6 hari di bulan Syawal • azmilink.com - azmilink.com()

  • Fathur

    assalamualaikum warahmatullah

    terima kasih artikelnya tadz , sekaligus saya mau tanya mengenai qodho’ puasa.

    Bagaimana bila kita ingin mengganti puasa yang lalu, tapi kita lupa berapa jumlah hari yang harus diganti?

  • Yuni

    Alhamdullilah, saya mendapat ilmu dari artikel ini, tgl 2 dan 3 Syawal Sy puasa Syawal , namun setelah membaca artikel ini hari ini niat puasa Saya rubah menjadi puasa qodho, karena ada utang puasa Ramadhani,
    Lalu bagaimana dengan puasa Sy yg 2 hari itu ? Mohon tanggapan. Terima kasih.

    • #Yuni
      Puasa yang sudah lewat tetap sah sebagai puasa Syawal

    • hery kusmanto

      Ustad ikut tanya kalau mau puasa syawal tapi kita masih berlebaran ke sanak saudara apakah baiknya berpuasa atau menunggu selesai berlebaran

      • Sa’id Abu Ukkasyah

        Jika diperkirakan dg puasa, mereka jadi tersinggung krn tdk dimakan suguhannya atau mereka jadi kurang akrab dg Anda dan merasa gak enak, padahal mereka datang dari jauh dan jarang bertemu, sedangkan waktu puasa syawwal lapang, asal belum habis bulan syawwalnya, maka silaturrahmi dahulu baru puasa, agar trkumpul 2 kebaikan dg sempurna

  • artikelnya lengkap ya tau deh sekarang tentang puasa syawal

  • indra

    tanya…misalkan saya mau puasa syawal..kan lebih diutamakan mengqodho puasa ramadhan dibanding puasa sunnah, saya sih tahun ini full puasa ramadhannya, tapi dulu2 pernah ada yg batal puasa ramadhannya tapi udah lupa berapa kali, jadi bagaimana baiknya? saya tetap melakukan puasa sunnah syawal, atau meng-qodho puasa ramadhan di tahun2 yg lalu yg saya sendiri sudah lupa banyaknya ??

    • @ Indra
      Tunaikan qodho’ puasa lebih dahulu, baru tunaikan puasa syawal. Semoga Allah mudahkan.

      • rendra

        Kalo baru 2 thn ini full gak bolong,tp sblm 2 ini setiap romadhon ada bolong2 gk full baru 2 romadhon.
        Bagaimana hitung kekuranganya ya ?
        Apa di qodo yg kita lupa gak tau bolongnya brp kali ?

        • Sa’id Abu Ukkasyah

          Ya, tetap dihitung, dan diperkirakan saja, jika memang lupa pastinya berapa

  • Fakhri

    terima kasih ustadz atas infonya. saya mau tanya nih tadz, kalo misalnya kita sakit atau bepergian (musafir) kan boleh di qodho’ puasanya, nah katanya kalo puasanya batal karena disengaja (misal muntah dgn sengaja) itu gak bisa di qodho’ ya tadz? bener gak pendapat itu tadz? mohon penjelasannya.

    • #Fakhri
      Ada hadits yang menyatakan demikian, namun dhaif. Yang benar, tetap harus di qadha.

  • irfan

    Assalamualaikum,
    Terimakasih infonya cukup jelas dan sangat membantu saya.

  • mito

    Tks detail pencerahannya, makin mantab dalam beribadah< karena hari ini sedang puasa hari ke 3.

  • Thanks ya sudah menjelaskan keutamaan puasa syawal dan tata caranya :D

  • aina

    saya masih punya hutang puasa 11hari..kalau saya mau puasa syawal berarti harus membayar hutang puasa saya yang 11hari itu?? soalnya kalau saya bayar hutang puasanya dulu takut keburu dapet lagi jadi palah gak dapet keduanya..mohon penjelasannya..tks

  • Pingback: Mengetahui Tata Cara Puasa Syawwal | Radio Sunnah KITA 94.3 FM()

  • LATIFAH HANUM SIREGAR

    Kalau puasa Syawal tidak dilakukan secara berturut-turut selama 6 hari apakah diperbolehkan?

  • Assalamu’alaikum wr wb : syukron postingnye ,kpd Yth ; Admin…. ,tulisan ini sy akan jadikan rujukan buat tulisan saaya.

  • Pingback: Kumpulan Artikel Zakat Fitri, Lebaran Dan Puasa Syawwal | Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah()

  • Mustika Rizqi Riayani

    assalamualaikum ustadz, saya mau nanya…bolehkah mengqodho puasa secara berurutan?
    terimakasih, wassalamuallaikum..

    • wa’alaikumussalam, boleh saja. lebih cepat dilunasi itu lebih baik.

  • Itu dari teks hadits, coba perhatikan haditsnya dengan teliti

  • Pingback: Tata Cara Puasa Syawal | Kuliah Islam Online()

  • Sani Caem

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya ingin bertanya masalah qadha puasa. Alhamdulillah saya baru mendapat hidayah di umur saya yang ke 33. Sekarang umur saya 37 tahun. Jadi alhamdulillah baru 4 tahun saya menjalankan puasa penuh 1 bulan di bulan ramadhan.
    Pertanyaan saya, bagaimana saya harus meng-qadha puasa ramadhan saya dari umur saya 9 tahun sampai 32 tahun. Itu berarti saya wajib meng-qadha puasa ramadhan saya terdahulu selama 32-9=23 bulan tersebut? Itu berarti saya wajib meng-qadha puasa kira2 selama 23×29=667 hari?
    Betulkah begitu perhitungannya agar puasa syawal saya bisa diterima? Mohon masukan dan pencerahannya.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  • Ukhty

    Alhamdulillah bermanfaat,,
    maaf ustadz mau tanya,
    kalau kita puasa syawal, sedangkan belum mengqodo puasa ramadhan karena tidak tahu sebelumnya. , itu bgaimna yah ustadz.
    Syukran..

  • Pingback: E-Mailkomp | Yuk Puasa Syawal …()

  • Pingback: Keutamaan dan Tata Cara Puasa Syawal | tareiscenter()

  • Pingback: Tata Cara Puasa Syawal | Abu Zahra Hanifa()

  • Ummu Akmal

    Ustadz, persis setelah lebaran hari pertama kemarin ana sakit hingga sekian hari sampai menjelang syawal habis. Ana juga masih menyusui (karena anak ana belum genap 2 tahun). Akhirnya ana qodho (karena haid 5 hari pas ramadhan) mulai tanggal 25-29 syawal (10-14 agt). Akhirnya hanya kebagian puasa syawal tanggal 30 syawal (15 agt). Apakah puasa syawal boleh diqodho, ustadz (supaya bisa menggenapkan 6 hari)? Atau hanya segitu saja (1 hari) ana dapat kebagian puasa syawal? Jazaakallaah khairan

    • Kalau punya uzur spt yg ibu ceritakan, wallahu a’lam, bisa qadha. Sy pernah membaca bolehnya hal ini dalam fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Shares