Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Faidah Dari Hadits Jisru Jahannam

Yulian Purnama, S.Kom. oleh Yulian Purnama, S.Kom.
5 Juli 2013
di Hadis
qantharah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Derajat Hadits
  • Faidah Hadits

Dicatat oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (6/116-117), Al Baihaqi dalam Al Ba’ts Wan Nusyur (560), An Nasa-i dalam Sunan Al Kubra (10936)

عَبْدُ اللهِ، عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: قالَ ابنُ عبَّاسٍ أتَدري ما سَعةُ جهنَّمَ ؟ قلتُ : لا ، قالَ : أجَل واللَّهِ ما تدري أنَّ بينَ شَحمةِ أُذنِ أحدِهِم وبينَ عاتقِهِ مَسيرةَ سبعينَ خَريفًا تَجري فيها أوْديةُ القَيحِ والدَّمِ قلتُ أنهارًا قالَ لا بلْ أوْديةً ثمَّ قالَ أتدرونَ ما سَعةُ جهنَّمَ قلتُ لا قالَ أجَل واللَّهِ ما تَدري حدَّثتني عائشةُ أنَّها سألَت رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وعلَى آلِه وسلَّمَ عن قولِهِ وَالْأرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ فأينَ النَّاسُ يومئذٍ يا رسولَ اللَّهِ قالَ هم علَى جِسرِ جهنَّمَ

Dari jalan Abdullah bin Mubarak dari ‘Anbasah bin Sa’id, dari Habib bin Abi ‘Amrah dari Mujahid, ia berkata:

Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu bertanya (kepada Mujahid) : “tahukah engkau seberapa luas neraka Jahannam?”. Mujahid menjawab: “Aku tidak tahu”. Ibnu Abbas berkata: “Tentu saja, demi Allah engkau tidak akan tahu. Yang jelas, jarak antara cuping telinga ke pundak salah seorang diantara kalian sejauh perjalanan 70 musim gugur. Mengalir di dalamnya lembah yang berisi nanah dan darah”. Mujahid bertanya: “Maksud anda sungai?”. Ibnu Abbas berkata: “bukan sungai, tapi lembah”. Lalu beliau berkata: “tahukah engkau seberapa luas neraka Jahannam?”. Mujahid menjawab: “Aku tidak tahu”. Ibnu Abbas berkata: “Tentu saja, demi Allah engkau tidak akan tahu, ‘Aisyah radhiallahu’anha menuturkan kepadaku bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang ayat (yang artinya) ‘bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya‘ (QS. Az Zumar: 67). ‘Aisyah bertanya: ‘wahai Rasulullah, dimanakah manusia ketika itu terjadi?’. Rasulullah menjawab: ‘pada hari itu manusia berada di jisr (jembatan) neraka Jahannam‘”

Dalam riwayat Al Baihaqi, ‘Abdan meriwayatkan dari ‘Anbasah bin Sa’id dan seterunya.

Derajat Hadits

Sanad hadits ini shahih, semua perawinya (termasuk ‘Abdan alias Abdullah bin Utsman Al Azdi) merupakan perawi Bukhari-Muslim, kecuali ‘Anbasah bin Sa’id, namun ia disepakati berstatus tsiqah (lihat Silsilah Ahadits Ash Shahihah, 2/102-103).

Adapun perkataan Ibnu Abbas mengenai ukuran penduduk neraka, ini dinilai sebagai hadits marfu’ kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Para ulama mengatakan, bahwa perkataan shahabat mengenai perkara gaib yang bukan ruang untuk berijtihad itu dinilai sebagai hadits marfu’.

Faidah Hadits

  1. Betapa besarnya ukuran fisik penduduk neraka, jarak antara cuping telinga ke pundak mereka sejauh perjalanan 70 musim gugur, bagaimana keseluruhan tubuhnya? Sebagaimana hadits lain tentang ukuran fisik orang kafir di neraka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَا بَيْنَ مَنْكِبَيِ الكَافِرِ مَسِيرَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ للرَّاكِبِ المُسْرِعِ

    “Antara dua ujung pundak orang kafir di neraka jaraknya sejauh perjalanan 3 hari jika ditempuh penunggang kuda yang berlari dengan cepat” (HR. Bukhari 6551, Muslim 2852)

  2. Jika ukuran penduduk neraka demikian besarnya, bagaimana lagi dengan ukuran nerakanya? Tentu sangat jauh lebih besar lagi.
  3. Di neraka terdapat lembah yang di dalamnya mengalir nanah dan darah. Nanah dan darah inilah yang menjadi minuman penduduk neraka. Allah Ta’ala berfirman:

    ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ

    “Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah” (QS. Al Haqqah: 31-36).

  4. Setiap Mukmin pasti akan melalui jembatan yang disebut dengan al jisr atau disebut juga ash shirath dalam riwayat At Tirmidzi:

    أنها قالتْ يا رسولَ اللهِ ! { وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ}، فأين المؤمنون يومئذٍ ؟ قال : على الصراطِ يا عائشةُ

    “’Aisyah bertanya tentang ayat (yang artinya) ‘bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya‘ (QS. Az Zumar: 67)’ wahai Rasulullah, dimanakah manusia ketika itu terjadi?’. Rasulullah menjawab: ‘pada hari itu manusia berada di ash shirath wahai Aisyah‘” (HR. At Tirmidzi 3242, ia berkata: “hasan shahih”).

  5. Ahlussunnah Wal Jama’ah mengimani adanya ash shirath, yaitu jembatan yang berada di atas neraka. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ويضرب الصراط بين ظهري جهنم ، فأكون أنا وأمتي أول من يجيزها ، ولا يتكلم يومئذ إلا الرسل ، ودعوى الرسل يومئذ : اللهم سلم سلم وفي جهنم كلاليب مثل شوك السعدان

    “..Dan dibentangkanlah ash shirath di antara dua punggung neraka. Akulah orang yang pertama kali melewatinya. Tidak ada yang berkata-kata ketika itu kecuali para Rasul. Para Rasul pun ketika itu berdoa: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah”. Pada ash shirath terdapat kait-kait seperti duri pohon Sa’dan..” (HR. Al Bukhari  7437).

  6. Dalil-dalil mengenai ash shirath banyak sekali hingga mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Sehingga tidak benar keyakinan kaum mu’tazilah yang menolak untuk mengimani adanya ash shirath dengan dalih bahwa hadits-hadits tentang ash shirath itu semuanya hadits ahad sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk perkara aqidah. Mereka juga berdalih bahwa ash shirath tidak masuk akal dan tidak disebutkan dalam Al Qur’an. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

    أَمَّا مَنْ أَنْكَرَ تَوَاتُرَ حَدِيثٍ وَاحِدٍ فَيُقَالُ لَهُ: التَّوَاتُرُ نَوْعَانِ: تَوَاتُرٌ عَنْ الْعَامَّةِ؛ وَتَوَاتُرٌ عَنْ الْخَاصَّةِ وَهُمْ أَهْلُ عِلْمِ الْحَدِيثِ. وَهُوَ أَيْضًا قِسْمَانِ: مَا تَوَاتَرَ لَفْظُهُ؛ وَمَا تَوَاتَرَ مَعْنَاهُ. فَأَحَادِيثُ الشَّفَاعَةِ وَالصِّرَاطِ وَالْمِيزَانِ وَالرُّؤْيَةِ وَفَضَائِلِ الصَّحَابَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مُتَوَاتِرٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهِيَ مُتَوَاتِرَةُ الْمَعْنَى وَإِنْ لَمْ يَتَوَاتَرْ لَفْظٌ بِعَيْنِهِ

    “Adapun orang yang mengingkari mutawatir-nya hadits ahad, katakan padanya bahwa mutawatir itu ada 2: mutawatir ‘am (yaitu bagi kalangan orang umum) dan mutawatir khas (bagi kalangan ulama hadits). Juga dibagi menjadi 2: mutawatir lafzhi dan mutawatir ma’na. Adapun hadits-hadits tentang syafa’at, ash shirath, al mizan, ar ru’yah, dan tentang keutamaan para sahabat semuanya mencapai derajat mutawatir, yaitu mutawatir ma’na, walaupun bukan mutawatir lafzhi pada setiap haditsnya” (Majmu’ Fatawa, 18/69).

  7. Hadits ini juga menunjukkan para sahabat meriwayatkan hadits dari sahabat yang lain.
  8. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Aisyah radhiallahu’anha dalam hal keilmuan.
  9. Keutamaan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, beliau faqih dan pakar dalam masalah tafsir Al Qur’an. Sebab demikianlah doa Nabi terhadap beliau:

    أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ وضعَ يدَهُ في كتِفِهِ أو على منكبِهِ ثمَّ قالَ اللَّهمَّ فقِّههُ في الدِّينِ وعلِّمهُ التَّأويلَ

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah menaruh tangannya di bahuku (atau di pundakku) lalu beliau bersabda: Ya Allah berilah ia kepahaman dalam masalah agama dan jadikanlah ia berilmu dalam masalah ta’wil (tafsir Al Qur’an)” (HR. Ahmad  4/127, dinilai shahih oleh Ahmad Syakir dalam takhrij-nya untuk Musnad Ahmad, ashl hadits ini juga terdapat dalam Shahihain)

  10. Para sahabat menafsirkan Al Qur’an dengan As Sunnah, yaitu hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
  11. Para sahabat beriman kepada hal gaib sesuai apa yang datang dari  Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam hal ini Ibnu ‘Abbas menceritakan gambaran penduduk neraka, sesuai apa yang beliau dapatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, adapun ketika membahas masalah luasnya neraka beliau menyatakan:

    أجَل واللَّهِ ما تدري

    “Tentu saja, demi Allah kau tidak akan tahu”
    karena tidak ada informasi dari Al Qur’an ataupun dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

  12. Para sahabat mengimani hal gaib apa adanya tanpa menambah-nambah atau mengurangi. Dalam hal ini ketika Mujahid mendengar kata-kata:

    تَجري فيها أوْديةُ القَيحِ والدَّمِ

    “mengalir di dalamnya lembah yang berisi nanah dan darah”
    beliau merasa janggal karena biasanya yang jadi tempat mengalirnya sesuatu adalah sungai. Namun ketika ia mengkonfirmasi kejanggalan tersebut, Ibnu Abbas menegaskan,

    لا بلْ أوْديةً

    “Bukan sungai, tapi lembah”
    seolah Ibnu Abbas mengatakan: ‘demikianlah yang saya dengan dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘.

  13. Mujahid bin Jabr Al Makki Al Aswad adalah murid Ibnu Abbas radhiallahu’anhu. Beliau dikenal sebagai imamul mufassirin (pemimpinnya para ahli tafsir) karena kedalaman ilmu dalam tafsir Al Qur’an, dan beliau banyak mengambil ilmu tafsir dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu.

Wallahu’alam

—

Penulis: Yulian Purnama
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar, S.s., M.Pi.
Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Yulian Purnama, S.Kom.

Yulian Purnama, S.Kom.

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

Artikel Terkait

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

oleh Muhammad Insan Fathin
19 Maret 2026
0

Mengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama...

Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Februari 2026
0

Pemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar...

Hadis Arbain An-Nawawiyah

Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 3): Hadis 2, Iman, Islam, dan Ihsan

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
17 November 2025
1

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللّٰهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ...

Artikel Selanjutnya
Menyikapi Perselisihan Dalam Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan

Menyikapi Perselisihan Dalam Penentuan Awal Dan Akhir Ramadan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 2   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah