Surat Al Jin 1-6 : Beriman Karena Ilmu Bukan Karena Taqlid Buta – Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Surat Al Jin 1-6 : Beriman Karena Ilmu Bukan Karena Taqlid Buta

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan“ (QS. Al Jin: 1)

20826 4
nuzulul-quran

Surat Al Jin Ayat 1 Sd Ayat 6 Surat Al Jin Ayat 16 Surat Al Jin 16 Surat Aljin Ayat 16 Surat Jin Ayat 16

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

Katakanlah (wahai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan“ (QS. Al Jin: 1)

Faidah:

  • Ada jin yang mu’min, ada  jin yang kafir
  • Jin juga mengakui keistimewaan dan keagungan Al Qur’an
  • Di dunia jin pun ada dakwah
  • Di bacakan Al Qur’an kepada sekelompok jin ini dalam rangka menegakkan hujjah atas mereka
  • Dakwah yang haq diantara kaum jin pun berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah

 

يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami,” (QS. Al Jin: 2)
Faidah:
  • Syaikh As Sa’di menuturkan: “Ar Rusyd adalah segala sesuatu yang menuntun manusia kepada maslahat dunia dan akhirat”
  • Ar Rusyd (الرشد) dan Al Huda (الهدى) adalah dua istilah yang sama jika digunakan sendirian. Namun jika digunakan dalam satu tempat, Al Hudaartinya ilmu yang benar, lawannya adalah Adh Dhalaal (الضلال), yaitu ilmu yang sesat. Sedangkan Ar Rusyd artinya amal yang benar, lawannya adalah Al Ghayy (الغي), yaitu amal keburukan (Lihat Ighatsatul Lahfaan, 2/168)
  • Huruf fa’ pada kata فامنا به menujukkan adanya sebab akibat. Yaitu para jin yang beriman tersebut menegaskan bahwa Al Qur’an adalah sebab mereka menjadi beriman. Inilah cara beragama yang benar, mengimani sesuatu karena dalil, mengamalkan sesuatu karena dalil, bukan karena ikut-ikutan, taqlid buta atau karena kebetulan sesuai dengan apa yang diinginkan.
  • Iman yang didasari atas dalil lah yang menjadikannya kokoh, bahkan iman yang kokoh ini membuahkan berbagai macam kebaikan agama lainnya. Sebaliknya iman yang hanya didasari oleh ikut-ikutan atau fanatik buta, adalah iman yang lemah dan tidak akan membuahkan kebaikan bagi kondisi agamanya.
  • Islam yang sempurna tidak cukup menetapkan keimanan (al itsbaat) namun juga wajib mengingkari kesyirikan (an nafyu). Inilah potret iman yang kokoh hasil pendidikan Qur’ani.
  • Membenci dan menjauhi kesyirikan sudah menjadi konsekuensi keimanan. Namun dalam ayat ini, seolah para jin ingin menyindir kaum musyrikinyang hanya mengaku beriman kepada Allah namun di sisi lain, sambil beribadah kepada Allah mereka juga nyambi beribadah kepada selain Allah alias berbuat syirik.

 

وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (QS. Al Jin: 3)
Faidah:
  • Para jin tersebut mengakui kesempurnaan Dzat Allah, dan mereka seolah membantah para hamba yang mengklaim bahwa Allah memiliki istri dan anak
  • Memiliki istri dan anak adalah sifat kekurang-sempurnaan (naqish) karena menunjukkan adanya kebutuhan terhadap entitas lain, padahal Allah adalah Al Ghaniyyu.

 

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا

Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah“ (QS. Al Jin: 4)
Faidah:
  • Syaikh As Sa’di berkata: “Syathatha (شططا) maksudnya perkataan yang jauh dari kebenaran dan melampaui batas. Perkataan yang demikian terhadap Allah tentu hanya dikatakan oleh orang-orang bodoh dan kurang akalnya walaupun ia dianggap terhormat atau pandai oleh kaumnya”.

 

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah“ (QS. Al Jin: 5)
Faidah:
  • Syaikh As Sa’di berkata: “Maksudnya, para jin tersebut mengatakan ‘dahulu kami tertipu oleh orang-orang terpandang di kalangan jin dan manusia. Kami berprasangka baik kepada mereka. Kami mengira, mereka tidak mungkin berkata bohong tentang Allah’ “.
  • Berkata dusta tentang Allah atau berkeyakinan tentang Allah tanpa dasar adalah hal yang secara naluriah dianggap perkara yang tercela.
  • Apa yang terjadi pada para jin itu sungguh terjadi juga pada manusia, sampai di zaman ini. Betapa banyak orang yang dalam beragama hanya taqlid buta kepada tokoh-tokoh, entah disebut kiai, ajengan, sepuh, cendikiawan, ustadz, rois, syaikh, dsb. Mereka menjalani hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam dengan dalih sekedar berprasangka bahwa tokoh-tokoh mereka itu tidak akan salah, tidak akan keliru dan tidak akan berdusta.
  • Cara mendakwahi orang yang sudah taqlid buta, adalah dengan mengenalkannya kepada Al Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana para jin ini bertaubat dari taqlid buta karena Al Qur’an.

 

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan“ (QS. Al Jin: 6)
Faidah:
  • Meminta bantuan jin adalah perbuatan yang tercela dan dilarang dalam Islam.
  • Kata الْجِنِّ di sini dalam bentuk ma’rifah sehingga memberikan makna umum, yaitu semua jenis jin. Sehingga dilarang meminta bantuan kepada jin, baik kepada jin kafir maupun jin muslim, jin fasiq maupun jin muslim yang taat beribadah.
  • Syaikh As Sa’di menjelaskan, kata فَزَادُوهُمْ memiliki dua kemungkinan:
    • Kemungkinan pertama, fa’ilnya mengacu pada رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ  dan هم mengacu pada jin. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi jin yang dimintai bantuan. Dikarenakan jin tersebut akan menjadi sombong, pongah merasa dirinya hebat dan semakin suka memperdaya manusia.
    • Kemungkinan kedua, fa’ilnya mengacu pada رِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ dan  هم mengacu pada manusia. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi manusia yang meminta bantuan. Dikarenakan manusia tersebut beristi’adzah kepada selain Allah dan ia pun akan menjadi orang yang senantiasa was-was dan takut akan gangguan jin sehingga akhirnya selalu ber-isti’adzah kepada jin ketika menemui sesuatu yang membuatnya khawatir. Sebagaimana sebagian orang ketika baru mau masuk lembah saja sudah khawatir dan berkata: “Wahai penunggu lembah lindungi saya dari temanmu yang jahat”.
  • Buruk dan tercelanya perbuatan meminta bantuan kepada jin, serta akibat buruk yang ditimbulkan sudah diakui, ditegaskan dan dibenarkan oleh bangsa jin sendiri.

Allahu’alam.

Referensi: Taisir Karimirrahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id


Ingin pahala jariyah yang terus mengalir? Dukung pelunasan markaz dakwah YPIA di Yogyakarta. Kirim donasi anda ke salah satu rekening di bawah ini:
  1. Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801.
  2. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594
  3. Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329.
  4. CIMB Niaga Syariah atasn ama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0.
  5. Rekening paypal: [email protected]
  6. Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122

Surah Al Jin Ayat 16 Surah Jin Ayat 16 Al Jin Ayat 6 Surat Al Jin Ayat 1 Sd Ayat 6 Latin Surah Al Jin Ayat 6

In this article

Join the Conversation

  • Pingback: SURAT AL JIN 1-6: BERIMAN KARENA ILMU BUKAN KARENA TAKLID BUTA « m3n4n's Blog()

  • Z\ssalaamu ‘alaykum
    wa rahmatuLLAAHi
    wa barakaatuh…

    BaarakaLLAAHu fiikum…

  • Bang Uddin

    Akibat ‘Ashobiyyah (Fanatik Golongan) dan Taqlid Buta. Orang pandai bisa berubah jadi keledai karenanya. Mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim, melakukan bom bunuh diri, memfitnah Ulama, dsb…

    Jangan Taqlid buta:
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [Al Israa’:36]

    Jangan menzalimi Muslim lainnya karena kelompok / firqoh kita:

    Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya, “Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi Saw menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.” (HR. Ahmad)

    Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah (HR Abu Dawud).

    Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan ashobiyah (membela kelompoknya, bukan Islam), maka dia masuk neraka.

    Dalam Islam dilarang ashobiyah/fanatisme kelompok dan membangga-banggakan kelompoknya karena Islam itu adalah satu.

    “Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar Ruum:32]
    “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [Al An’aam:159]

    Ummat Islam itu adalah satu. Yang harus kita jaga adalah ukhuwah Islamiyyah, bukan ukhuwah ashobiyyah

  • Pingback: Sebab-Sebab Terjadinya Penyimpangan Agama | Al Bayyinah Haqqul Mubiin()

Shares