Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bid’ah Hakiki Dan Bid’ah Idhafiy

Wiwit Hardi Priyanto oleh Wiwit Hardi Priyanto
18 Januari 2013
di Manhaj
Share on FacebookShare on Twitter

الأصل في العبادات الحظرالا ما ورد عن الشارع تشريعه

al-ashlu fil ‘ibaadati al-hazhru, illaa maa warada ‘anisy syaari’i tasyrii’uhu

“Hukum asal suatu ibadah adalah terlarang, sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa ibadah tersebut disyari’atkan”

Seorang yang pernah belajar ilmu agama, pasti memahami kaidah di atas, khususnya seorang yang belajar kaidah fikih. Berbicara masalah dunia saja membutuhkan ilmu, dan yang berbicara bukanlah sembarang orang, namun harus yang ahli di bidangnya. Terlebih lagi masalah akhirat yang dibicarakan, tentu tidak sembarang orang yang bisa angkat suara.

Sebagian kaum muslimin, ‘alergi’ dengan kata bid’ah. Terkadang mereka langsung antipati jika seorang da’i yang menyampaikan nasihat, dan isi nasihat itu terkait dengan bid’ah. Namun ketahuilah wahai saudara kami seiman, istilah tersebut telah Nabi shallallahu ‘alahi wasallam gunakan sejak dulu. Beliau bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“…berhati-hatilah kalian dengan perkara yang muhdatsat (perkara yang di ada-adakan), karena setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, At-Tirmidzi berkata, “Hadist Hasan Shahih.”)

Perkara yang muhdats di sini, bukanlah terkait dalam masalah dunia, namun terbatas dalam masalah agama saja. Seperti hadits yang diriwayatkan dari Ummul Mukiminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang membuat perkara baru (أَحْدَثَ) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan dari ajarannya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalil lain bahwa ‘kreasi’ (membuat perkara baru) itu hanya boleh dalam masalah dunia saja, bukan masalah agama, berdasarkan sabda Nabi

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“…kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, Nabi mengatakan ‘urusan dunia kalian’, namun tidak mengatakan ‘hukum urusan dunia kalian’ Karena untuk masalah dunia, Nabi menyerahkan pada umatnya, namun untuk hukum perkara dunia, hanya Nabi lah yang lebih tahu. Misalnya dalam hal memelihara jenggot. Urusan jenggot kenapa bisa tumbuh, manusia lebih tahu akan hal itu. Namun urusan hukum memelihara jenggot, Nabi lah yang lebih tahu.

Apa itu Bid’ah Hakiki dan Bid’ah Idhafiy?

Bid’ah hakiki adalah setiap ibadah yang sama sekali tidak pernah Allah dan Rasul-Nya syari’atkan dalam bentuk apa pun. Seperti bacaan doa-doa, dzikir-dzikir, dan shalawat untuk Nabi, yang sama sekali tidak pernah ada asalnya dari syari’at. Contoh lainnnya adalah adzan yang dilakukan saat shalat ‘idul fithri dan ‘idul adha, adzan pada shalat istisqa (minta hujan). Dan masih banyak lagi, contoh perkara-perkara yang tidak pernah ada tuntunannya yang termasuk di dalam kategori bid’ah hakiki. Termasuk dalam bid’ah hakiki misalnya seseorang yang melakukan sujud ketika hendak keluar masjid setalah melakukan shalat wajib atapun shalat sunnah. Jadi intinya, apabila terdapat suatu amalan yang tidak pernah Allah dan Rasul-Nya tuntunkan, maka hal itu termasuk bid’ah hakiki.

Adapun bid’ah idhafiy adalah bid’ah karena mengubah apa yang telah Allah dan Rasul-Nya syari’atkan. Misalnya dalam dzikir yang dilakukan setelah shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang. Pada asalnya dzikir setelah shalat jama’ah adalah suatu hal yang dituntunkan. Namun tata caranya menyimpang dari ajaran Allah dan Rasuln-Nya, yang seharusnya dilakukan sendiri-sendiri, tapi dilakukan secara bersama-sama. Dalam kasus ini, pengubahan tata cara ibadah yang pada awalnya dituntunkan, termasuk dalam bid’ah idhafiy. Karena di satu sisi dzikir setelah shalat jama’ah adalah sunnah, namun di sisi lain adalah bid’ah jika dilakukan secara berjama’ah.

Dan dalam waktu dekat ini, sebagian kaum muslimin ada yang bersemangat dalam merayakan hari kelahiran Rasulullah, yang disebut dengan maulid Nabi. Namun yang patut disayangkan, apa yang mereka lakukan bukanlah termasuk sunnah. Bahkan suatu ajaran yang Allah dan Rasul-Nya tidak pernah ajarkan. Maka, perhatikanlah kaidah fikih di awal tulisan, apakah perayaan maulid Nabi itu kita anggap suatu ibadah apa bukan? Jika ibadah, apakah ada dalil yang mensyari’atkannya?

Hendaknya setiap muslim semangat dalam menjalankan amalan sunnah, dan berhati-hati dengan amalan yang tidak ada tuntunannya. Benarlah perkataan sebagian salaf,

الاقتصاد في السنة أحسن من الاجتهاد في البدعة

“Sederhana dalam amalan sunnah lebih baik daripada bersemangat dalam melakukan bid’ah”.

Wallahu a’lam.

 

Catatan: Penulis banyak mengambil faidah dari kitab Jam’ul Mahshul fii Syarhi Risalati ibni Sa’di fil Ushul hal. 124-126, karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan

—

Penulis: Wiwit Hardi Priyanto
Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Wiwit Hardi Priyanto

Wiwit Hardi Priyanto

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
meninggalkan shalat jumat

Saat Mantan Pendeta dan Biarawati Menjadi Da'i

Komentar 11

  1. Achmad says:
    13 tahun yang lalu

    Klo bertadarus dengan kaset/compack dish dengan dikeraskan suaranya dimenara masjid , apa termasuk bid’ah juga ?

    Reply
  2. embah wira says:
    13 tahun yang lalu

    semoga para cendikiawan Islam terus semangat memerangi bid’ah,sebab itu sumber kebodohan

    Reply
  3. alamin doloroso says:
    13 tahun yang lalu

    Syukron

    Reply
  4. Ahmad Suhaimi says:
    13 tahun yang lalu

    Ass.Wr.Wbr.
    Setiap Ramadhan sebelum taraweh diadakan ceramah agama islam sekitar 15 menit.Apakah ini bid’ah juga Ustadz.
    Wass.Wr.Wbr.

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      13 tahun yang lalu

      #Ahmad Suhaimi
      Silakan simak: http://kangaswad.wordpress.com/2009/08/19/tinjauan-kritis-tentang-ceramah-tarawih/

      Reply
  5. yusuf says:
    13 tahun yang lalu

    ya ustad ana mau tanya bagaimana hukumnya kerajaan saudi yang kerja sama dengan amrik dan UK dalam pengolahan minyak, disitu kerajaan Saudi mendapatkan income dari hasil kerja sama dengan kafir, kemudian sebagian income tersebut untuk membiayai dakwah ulama wahabi dan menggajinya juga disalurkan sebagai bentuk bantuan dana untuk aktivis2 “salafi” di dunia termasuk Indonesia? Harap ustad jelaskan.

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      13 tahun yang lalu

      #yusuf
      Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga pernah berjual-beli dengan orang Yahudi.

      Reply
  6. Monanda Yokomara Asby says:
    12 tahun yang lalu

    Ass.Wr.Wbr.
    ya ustad, rasulullah selalu mementingkan umatnya bahkan disaat saat akhir kematiannya, bukankah kita juga wajib mengingatnya.. ???

    Reply
  7. Nadila riskandi says:
    6 tahun yang lalu

    Jika agama hanya pada al quran dan sunnah, lantas bagaimna dgn ijma’ para ulama?

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Ijma’ itu pasti ada dalilnya dari Qur’an dan Sunnah. Jadi ijma secara otomatis sudah termasuk.

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah