Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Menjadi Muslim Produktif di Era Disruptif

Fauzan Hidayat oleh Fauzan Hidayat
4 Februari 2024
di Akhlak dan Nasihat
Menjadi Muslim Produktif di Era Disruptif
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Perampas prioritas
  • Misi Kehidupan
  • Pertanggungjawaban di hadapan Allah
  • Aktivitas harian seorang muslim
    • Pertama: Aktivitas pagi
    • Kedua: Aktivitas siang
    • Ketiga: Aktivitas sore
    • Keempat: Aktivitas malam
  • Menggapai rida dan kasih sayang Allah

Perampas prioritas

Sungguh, media modern telah banyak merampas fokus dan perhatian kita dari hal-hal prioritas yang semestinya kita kerjakan. Gadget dengan segala apps-nya yang memiliki manfaat dan mudarat, pada kenyataannya justru banyak melalaikan manusia dari menyembah Rabb-Nya.

Adalah fenomena yang lumrah saat ini, ketika kita melihat seorang anak muda dengan waktu luangnya karena liburan sekolah atau kuliah, atau seorang tua dengan waktu libur weekend-nya, kemudian mengisi waktu dengan berbaring santai sambil melihat screen gadget, mengusap-usap (scrolling) layar gadget dengan berbagai konten. Satu, dua, tiga, bahkan hingga beberapa jam terlewatkan hanya fokus pada tontonan yang ada.

Kadangkala, tidak peduli dengan halal-haram konten yang ditonton. Semua tontonan itu telah membawanya lalai dari segala hal yang bermanfaat yang bisa dikerjakan saat itu. Bahkan, tidak jarang pula, kewajiban ibadah seperti salat 5 waktu pun terlewatkan saking asyiknya dengan gadget di tangan. Wal’iyadzu billah.

Padahal, jelas banyak hal yang lebih utama untuk dilakukan daripada menghabiskan waktu di depan layar gadget. Dan jelas pula bahwa kegiatan melalaikan diri itu merupakan perbuatan yang tidak bermanfaat. Melakukan hal yang tidak bermanfaat merupakan pertanda keislaman seseorang perlu diperbaiki. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)

Misi Kehidupan

Fenomena perampasan fokus dan perhatian oleh teknologi modern ini patut kita sadari dengan mata terbuka. Sebab, sedikit saja kita lalai, maka bisa saja kita terlupakan oleh apa yang menjadi tujuan hidup yang sebenarnya. Kita lupa bahwasanya kita memiliki misi yang harus diselesaikan dengan baik selama diberikan kesempatan hidup di dunia ini. Misi itu tidak lain adalah menyembah Allah Ta’ala.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-dzariyat: 56)

Saudaraku, tidakkah kita sadar bahwasanya setiap waktu minimal 17 kali dalam sehari, kita mengikrarkan penghambaan kita kepada Allah Ta’ala dalam setiap bacaan Al-Fatihah pada salat-salat kita?

Ya, adalah kalimat اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan) merupakan pengakuan kita sebagai seorang hamba Allah Ta’ala.

Ketahuilah bahwa kalimat  نَعْبُدُ merupakan fi’il mudhari’ yang memiliki sifat dan makna ‘terus menerus’. Artinya, penghambaan kita kepada Allah Ta’ala adalah nonstop setiap waktu. Tidak sedetik pun kita pernah berubah dari status sebagai seorang hamba Allah Ta’ala. Inilah misi kita. Inilah job desk kita, full-time 24 jam.

Oleh karenanya, sadarilah bahwa tujuan kita hidup di dunia ini adalah semata-mata untuk menyembah Allah Ta’ala. Maka, tidak berlebihan kiranya apabila kami mengistilahkan hal ini dengan sebuah kalimat,

“Kehidupan ini hanyalah menunggu waktu salat ke waktu salat berikutnya.”

Maksudnya, tujuan kita hidup di dunia hanyalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Sementara, seluruh aktivitas yang kita lakukan, baik itu bekerja, belajar, mengasuh, mendidik, dan segala pekerjaan yang dilakoni adalah faktor pendukung agar kita dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan semaksimal mungkin.

Baca juga: Pengaruh Tertinggal Salat Jamaah dalam Produktifitas Hidup Kita

Pertanggungjawaban di hadapan Allah

Sebab, selain karena pertanggungjawaban dan kewajiban kita sebagai hamba Allah Ta’ala, kelak di akhirat, kita pun akan ditanya tentang segala hal yang pernah kita jalani dalam kehidupan di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya, di manakah ia habiskan, (2) ilmunya, di manakah ia amalkan, (3) hartanya, bagaimana ia peroleh dan di mana ia infakkan dan (4) mengenai tubuhnya, di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al-Aslami. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)

Oleh karenanya, sebagai seorang hamba Allah yang beriman dan sebagai bentuk syukur kita terhadap nikmat usia yang telah diberikan Allah, hendaklah kita benar-benar menyadari segala potensi yang dapat menjerumuskan kita pada kelalaian dari mengingat dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Mari kita mengatur waktu dan menjadi bos atas manajemen waktu diri kita sendiri. Hiasi semua waktu yang diberikan kepada kita setiap hari dengan tujuan ibadah dan bekerja untuk ibadah.

Aktivitas harian seorang muslim

Pada kesempatan yang baik melalui artikel ini, kami bermaksud ingin berbagi beberapa poin terkait dengan aktivitas harian seorang muslim ideal di zaman disrupsi teknologi digital ini. Mudah-mudahan, dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang bermanfaat dan memang menjadi bagian dari kewajiban kita sebagai seorang muslim ini, dapat menjadikan kita lebih produktif dan lebih dapat bermanfaat bagi sesama, serta yang lebih penting mendapatkan rida Allah Ta’ala.

Pertama: Aktivitas pagi

Salat malam, salat Subuh plus qabliyah, zikir pagi, membaca Al-Qur’an, olah raga ringan, salat Duha, merencanakan aktivitas harian dan bekerja.

Kedua: Aktivitas siang

Salat Zuhur plus rawatib, istirahat sejenak (15 – 30 menit) untuk bekal tenaga melaksanakan salat malam, lanjut bekerja.

Ketiga: Aktivitas sore

Salat Asar, zikir petang, bercengkrama bersama keluarga, menambah ilmu agama (mengikuti kajian, membaca buku, dan belajar meningkatkan keterampilan untuk menambah pendapatan).

Keempat: Aktivitas malam

Salat Magrib plus ba’diyah, membaca Al-Qur’an, bercengkrama dengan keluarga, salat Isya plus ba’diyah, dan istirahat.

Menggapai rida dan kasih sayang Allah

Saudaraku, ingat! Jangan pernah berhenti untuk memohon karunia Allah Ta’ala agar dimudahkan dalam beribadah kepada-Nya. Keistikamahan dan ketekunan dalam melakukan ibadah-ibadah bukanlah semata-mata perkara fisik yang prima. Namun juga, karena petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala. Tergeraknya hati kita untuk selalu berzikir mengingat Allah, melaksanakan kewajiban salat 5 waktu secara tepat waktu, gerakan hati dan fisik untuk segera berwudu dan melaksanakan salat tahajud, serta melaksanakan segala aktivitas yang bermanfaat, semuanya karena kasih sayang Allah Ta’ala.

Begitu pula sebaliknya, abainya kita terhadap prioritas yang semestinya kita lakukan, lalainya kita dalam kubangan teknologi digital dengan segala konten penyita waktu dan fokus, serta enggannya kita untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah Ta’ala, juga bisa saja karena kita jauh dari kasih sayang Allah Ta’ala.

Adakah hati yang tergerak untuk segera menggapai rida dan kasih sayang-Nya?

Wallahu a’lam.

Baca juga: Ke mana Arahmu, Wahai Pemuda?

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
Fauzan Hidayat

Fauzan Hidayat

- Alumni Mahad Ilmi Yogyakarta (2020) - S2 Universitas Gadjah Mada - D4 Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Artikel Terkait

Pelecehan Seksual Sebagai Kegagalan Peradaban: Bagaimana Syariat Islam Menyikapinya?

oleh Muhammad Insan Fathin
16 Mei 2026
0

Pelecehan seksual bukan fenomena baru. Ia sudah ada sejak lama. Yang berubah hanya caranya dikemas. Dulu ditutup dengan nama adat...

Tiga Wasiat Indah Bagi Seorang Mukmin Setelah Bulan Ramadan

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
11 Mei 2026
0

Bulan Ramadan merupakan madrasah yang membentuk ketakwaan, melatih kesabaran, dan memperbaiki hubungan seorang muslim dengan Allah dan sesama manusia. Namun,...

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

oleh Muhammad Insan Fathin
7 Mei 2026
2

Di zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun...

Artikel Selanjutnya
Fikih Wakaf 2

Fikih Wakaf (Bag. 2): Wakaf Pertama dalam Islam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prove your humanity: 5   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah