Apa Benar Taklid itu Haram? – Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
X
“Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah”

Apa Benar Taklid itu Haram?

Taklid secara umum dibolehkan untuk orang awam yang tidak punya kemampuan untuk memahami dalil. Sedangkan yang berilmu dan paham dalil, hendaklah ia meninggalkan taklid.

5278 4
ijtihad_buku

Bagaimanakah hukum taklid itu sendiri, apakah dibolehkan atau diharamkan? Taklid yang dimaksudkan yaitu mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya sebagaimana telah dijelaskan di sini.

Rinciannya sebagai berikut:

1- Taklid secara umum dibolehkan untuk orang awam yang tidak punya kemampuan untuk memahami dalil.

Karena Allah memerintahkan kita untuk rajin bertanya pada ahli ilmu jika kita tidak mengetahui. Dalam ayat disebutkan,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. An Nahl: 43, Al Anbiya’: 7).

2- Orang berilmu yang bisa menelusuri dan memahami dalil harus meninggalkan taklid.

Perincian hal di atas dipaparkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut:

“Menurut mayoritas ulama, ijtihad itu boleh secara umum. Begitu pula taklid boleh secara umum. Setiap orang tidak diwajibkan untuk berijtihad dan tidak diharamkan untuk taklid. Begitu pula setiap orang tidak diwajibkan untuk taklid dan tidak diharamkan untuk berijtihad.

Ijtihad boleh-boleh saja bagi orang yang punya kapabilitas untuk berijtihad. Begitu pula taklid boleh-boleh saja bagi orang yang tidak mampu untuk berijtihad.

Adapun orang yang mampu untuk berijtihad, apakah boleh ia taklid?

Untuk masalah ini ada perselisihan pendapat. Yang tepat, taklid itu boleh ketika tidak mampu untuk berijtihad. Boleh jadi taklid jadi jalan pilihan karena terbatasnya dalil, sempitnya waktu untuk berijtihad, atau tidak nampak dalil yang kuat padanya. Sehingga sesuatu yang seseorang tidak mampu untuk memenuhinya, jadilah gugur wajibnya dan beralih pada penggantinya yaitu taklid sebagaimana halnya ketidakmampuan karena tidak dapat bersuci dengan air.

Orang awam pun demikian adanya. Ketika mampu berijtihad untuk sebagian masalah, maka boleh ia berijtihad. Ijtihad boleh saja sifatnya parsial. Patokan ijtihad dan taklid adalah adanya kemampuan ataukah tidak. Bisa saja seseorang punya punya kemampuan untuk menyimpulkan dalil untuk sebagian masalah (tidak pada masalah yang lain).” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 203-204).

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

Ma’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah, Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jizaniy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kesembilan, tahun 1431 H.

Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.

Selesai disusun 12:05 AM, 5 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id


Dukung pendidikan Islam yang berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih dengan mendukung pembangunan SDIT YaaBunayya Yogyakarta http://bit.ly/YaaBunayya  
Print Friendly, PDF & Email

In this article

Join the Conversation