Safar Dakwah di Ternate dan Tidore 4 – 5 April 2014 (seri 1)

Safar Dakwah di Ternate dan Tidore 4 – 5 April 2014 (seri 1)

Aslinya, perjalanan ini bukan safari dakwah. Kami hanya sekedar ingin menghadiri undangan nikah dari saudara sepupu kami di Pulau Tidore. Namun karena kemudahan dari Allah, safar tersebut bisa berlanjut pada safari dakwah di Pulau Ternate dan Tidore.

Pulau Ternate dan Tidore

Pulau Ternate dan Tidore

Ternate dan Tidore adalah dua pulau kecil di Kepulauan Maluku Utara. Di sebelah timur kedua pulau tersebut terdapat Pulau Halmahera yang memiliki luas lebih besar. Walau kecil, kedua pulau ini teramat indah. Keadaan laut masih alami. Apalagi Pulau Tidore memiliki tata kota yang begitu rapi sehingga mendapatkan penghargaan Adipura hingga 19 kali. Pembaca bisa buktikan ketika berkunjung ke kota Tidore akan melihat keadaan yang begitu bersih dan asri.

Keadaan laut yang masih asri dan jernih di Perairan Ternate Tidore

Keadaan laut yang masih asri dan jernih di Perairan Ternate Tidore

Perjalanan dari Jogja

Dari Jogja, kami menempuh perjalanan bersama orang tua dengan pesawat Sriwijaya dari jam 8 malam pada hari Kamis, 3 April 2014, setelah sebelumnya kami mengisi majelis ilmu Kitab Tauhid bersama para mahasiswa di kota Gudeg tersebut. Dari Jogja, pesawat bertolak menuju Surabaya. Hanya transit beberapa menit, kemudian perjalanan berlanjut ke kota Makassar – Sulawesi Selatan di Pulau Sulawesi. Selama kurang lebih empat jam, kami transit di Bandara Hasanuddin. Sambil mengisi waktu dengan meminum kopi, kami menyusun dua tulisan untuk Muslim.Or.Id dan web pribadi kami Rumaysho.Com. Akhirnya, kami tiba di Ternate di Bandara Sultan Babullah pukul 07.45 Waktu Indonesia Timur. Dan perlu diketahui bahwa ada perbedaan waktu dua jam lebih cepat dengan di barat. Saat turun dari pesawat, kami dijemput oleh keluarga drg. Tenang dan istrinya Bu Rintania. Merekalah yang telah banyak membantu selama di Ternate dan lewat perantara merekalah kami mudah mengisi kajian di masjid yang ada di dua pulau yang kami kunjungi ini.

Tiba di Ternate dan Mengisi Khutbah Jum’at

Setiba di rumah bibi di Kampung Pisang (begitulah sebutannya -walau jarang ada pisang di wilayah tersebut), kami pun beristirahat hingga 1 jam sebelum pelaksanaan shalat Jum’at. Dan di salah satu masjid di Kampung Pisang ini, kami akan bertugas mengisi khutbah. Perlu diketahui pula bahwa Kampung Pisang terletak di tengah kota Ternate dan cuma berjarak kurang lebih 15 menit dari Bandara Babullah.

Tibalah jam 12.40, saat masuk waktu Zhuhur. Ritual shalat Jum’at pun dimulai. Mungkin yang kita lakukan di tanah Jawa, shalat Jum’at dimulai pukul 12 siang. Berbeda dengan kota Ternate-Tidore yang terletak paling ujung dari Waktu Indonesia Timur. Waktu Shubuh di sana saja dimulai jam 05.25 WIT.

Khutbah Jum’at di wilayah Maluku secara keseluruhan masih kental dengan tradisi. Yang ratusan tahun telah dijalani. Bahkan sebelumnya lebih parah dari yang ada saat ini. Seperti saat khotib naik mimbar setelah azan kedua pun, ada seorang yang bertugas untuk meneriakkan untuk diam ketika khutbah. Padahal dalam hadits disebutkan sebagai berikut.

Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً وَالَّذِى يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ

Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jum’at, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang malah berkata pada orang lain, “Diamlah”, maka tidak ada Jum’at baginya (artinya: ibadah Jum’atnya tidak sempurna, pen).” (HR. Ahmad 1: 230. Hadits ini dho’if kata Syaikh Al Albani)

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً وَالَّذِى يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ

Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jum’at, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya, ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jum’at baginya (artinya, ibadah Jum’atnya tidak ada nilainya, pen).” (HR. Ahmad 1: 230. Sanadnya tidak mengapa)

Nah, kalau saat ini yang dilakukan, orang tadi berteriak sebelum imam naik mimbar. Ia berkata pada para jama’ah Jum’at dengan bahasa Arab yang artinya perintah supaya jama’ah diam. Barangsiapa yang tidak diam, maka tidak ada Jumat untuknya. Namun amalan seperti yang dilakukan ini tidak perlu dilakukan karena tidak dicontohkan.

Kemudian ketika naik mimbar pun, khotib sambil membawa tongkat ke atas mimbar dengan tiga anak tangga. Mimbar seperti ini sudah umum terdapat di masjid-masjid di wilayah Maluku. Bahkan ditambah lagi imam naik mimbar dengan baju kebesaran seperti jubah arab.

Intinya, kami agak menyelisihi kebiasaan yang ada, sehingga sempat terlihat aneh. Karena biasanya khotib ketika menyampaikan khutbah terus memegang tongkatnya. Kami sendiri meletakkan tongkat tersebut di samping karena memang kami tidak membutuhkan tongkatnya layaknya orang sepuh. Karena tingkah kami seperti ini, sebagian jamaah sempat terheran sebab kami menyelisihi kebiasaan mereka.

Intinya, khutbah Jum’at yang kami sampaikan berisi ajakan untuk menjaga shalat dan bahaya meninggalkan shalat lima waktu. Mereka antusias mendengar khutbah ini. Salah satu yang membuat mereka seperti baru mengetahui ketika kami menukil perkataan Ibnul Qayyim berikut ini.

“Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ash Shalah)

Menuju Pulau Tidore

Selepas Jumatan kami bergegas menuju Pulau Tidore. Alhamdulillah, kami mendapat kontak nomor HP salah seorang Ustadz di sana. Sehingga bisa membuat janji untuk mengisi kajian di malam harinya.

Insya Allah, kisah safar dakwah di kota Ternate dan Tidore akan berlanjut pada serial berikutnya.

Selamat menanti.

Disusun di Soeta Airport Jakarta, 6 Jumadats Tsaniyah 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. Alumni Ma’had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin ‘Abdullah bin Hamad Al ‘Ushoimi dan ulama lainnya. Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

View all posts by Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. »