<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Tawakal</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/tawakal/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tawakal yang Sebenarnya</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakal-yang-sebenarnya.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakal-yang-sebenarnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 23:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang menganggap bahwa tawakal adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Contohnya dapat kita lihat pada sebagian pelajar yang keesokan harinya akan melaksanakan ujian. Pada malam harinya, sebagian dari mereka tidak sibuk untuk<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakal-yang-sebenarnya.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sebagian orang menganggap bahwa tawakal  adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Contohnya dapat kita  lihat pada sebagian pelajar yang keesokan harinya akan melaksanakan ujian. Pada  malam harinya, sebagian dari mereka tidak sibuk untuk menyiapkan diri untuk  menghadapi ujian besok namun malah sibuk dengan main <em>game</em> atau hal yang  tidak bermanfaat lainnya. Lalu mereka mengatakan, &#8220;<em>Saya pasrah saja,  paling besok ada keajaiban</em>.&#8221;</p>
<p><span id="more-506"></span></p>
<p>Apakah semacam ini benar-benar disebut  tawakal?! Semoga pembahasan kali ini dapat menjelaskan pada pembaca sekalian  mengenai tawakal yang sebenarnya dan apa saja faedah dari tawakal tersebut.</p>
<p><strong>Tawakal yang Sebenarnya</strong></p>
<p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah</em> dalam <em>Jami&#8217;ul  Ulum wal Hikam</em> tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan, &#8220;Tawakal  adalah benarnya penyandaran hati pada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> untuk meraih  berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun  akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan  sebenar-benarnya bahwa &#8216;<strong>tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan  bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata</strong>&#8216;.&#8221;</p>
<p><strong>Tawakal Bukan Hanya Pasrah</strong></p>
<p>Perlu diketahui bahwa tawakal bukanlah hanya  sikap bersandarnya hati kepada Allah semata, namun juga disertai dengan  melakukan usaha.</p>
<p>Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan  <a title="Tawakal yang sebenarnya" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakal-yang-sebenarnya.html">tawakal</a> tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau <em>sunnatullah</em> yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk  melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena  itu, <strong>usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada  Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya</strong>. Sebagaimana  Allah <em>Ta&#8217;ala</em> telah berfirman (yang artinya), &#8220;<em>Hai orang-orang  yang beriman, ambillah sikap waspada</em>.&#8221; (QS. An Nisa [4]: 71). Allah  juga berfirman (yang artinya), &#8220;<em>Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka  kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk  berperang</em>.&#8221; (QS. Al Anfaal [8]: 60). Juga firman-Nya (yang artinya),  &#8220;<em>Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi;  dan carilah karunia Allah</em>&#8221; (QS. Al Jumu&#8217;ah [62]: 10). Dalam ayat-ayat  ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha.</p>
<p>Sahl At Tusturi mengatakan, &#8220;Barang siapa  mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela <em>sunnatullah</em> (ketentuan yang Allah tetapkan -pen). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau  bersandar pada Allah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat <em>Jami&#8217;ul  Ulum wal Hikam</em>)</p>
<p><strong>Burung Saja Melakukan Usaha untuk Bisa Kenyang</strong></p>
<p>Dari Umar bin Al Khaththab <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em> berkata, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,  &#8220;<em>Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah  akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung  tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya  dalam keadaan kenyang</em>.&#8221; (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan  shahih oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ash Shohihah </em>no. 310)</p>
<p>Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai  seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu  mengatakan, &#8220;<em>Aku tidak mengerjakan  apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku</em>.&#8221; Lalu Imam Ahmad mengatakan,  &#8220;Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda, &#8220;<em>Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.</em>&#8221;  Dan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda (sebagaimana hadits  Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada  waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat <em>Umdatul  Qori Syarh Shohih Al Bukhari</em>, 23/68-69, Maktabah Syamilah)</p>
<p>Al Munawi juga mengatakan, &#8220;Burung itu  pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan  kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki  adalah Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak harus  meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan  membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki  dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rezeki.  (Lihat <em>Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami&#8217; At Tirmidzi</em>, 7/7-8, Maktabah  Syamilah)</p>
<p><strong>Tawakal yang Termasuk Syirik</strong></p>
<p>Setelah kita mengetahui pentingnya  melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah  dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rezeki, mendatangkan manfaat dan  menolak bahaya <strong>bukanlah sebab tersebut</strong> tetapi Allah <em>ta&#8217;ala</em> semata.</p>
<p>Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakal adalah  amalan hati yaitu ibadah hati semata (<em>Madarijus Salikin</em>, Ibnul Qayyim,  2/96). Sedangkan setiap ibadah wajib ditujukan kepada Allah semata. Barang siapa  yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah  terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakal dengan  menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan-, maka hal  ini juga termasuk kesyirikan.</p>
<p>Tawakal semacam ini bisa termasuk <strong>syirik  akbar </strong>(syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam), apabila dia  bertawakal (bersandar) pada makhluk pada suatu perkara yang tidak mampu untuk  melakukannya kecuali Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Seperti bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya  diampuni, atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat, atau untuk segera  memperoleh anak sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah kubur dan wali.  Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka, padahal tidak ada siapapun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah <em>ta&#8217;ala</em>.  Apa yang mereka lakukan termasuk tawakal kepada selain Allah dalam hal yang  tidak ada seorang makhluk pun memenuhinya. Perbuatan semacam ini termasuk  syirik akbar. <em>Na&#8217;udzu billah min dzalik</em>.</p>
<p>Sedangkan apabila seseorang bersandar pada  sebab yang sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah, namun dia menganggap  bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab (lebih dari sebab semata), seperti  seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya  atau masalah rezekinya, semacam ini termasuk <strong>syirik ashgor</strong> (syirik  kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.</p>
<p>Tetapi apabila dia bersandar pada sebab  dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan  dan menentukan hasilnya, hal ini <strong>tidaklah mengapa. </strong>(Lihat <em>At Tamhiid  lisyarhi Kitabit Tauhid</em>, 375-376; <em>Syarh Tsalatsatil Ushul</em>, 38; <em>Al  Qoulul Mufid</em>, 2/29)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Ingatlah bahwa tawakal bukan hanya untuk  meraih kepentingan dunia saja. Tawakal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi  atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga  bertawakal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhai dan  cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakal agar bagaimana bisa teguh  dalam keimanan, dalam dakwah, dan <em>jihad fii sabilillah</em>. Ibnul Qayyim  dalam <em>Al Fawa&#8217;id</em> mengatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah  tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh  dalam mencontoh/mengikuti Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>serta  berjihad melawan <em>ahli bathil </em>(pejuang kebatilan). Dan beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa <strong>inilah tawakal para rasul dan pengikut rasul yang utama</strong>.</p>
<p>Kami tutup pembahasan kali ini dengan  menyampaikan salah satu faedah tawakal. Perhatikanlah firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em> (yang artinya), &#8220;<em>Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan  memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.  Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan  (keperluan)nya.</em>&#8221; (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3). Al Qurtubi dalam <em>Al  Jami&#8217; Liahkamil Qur&#8217;an</em> mengatakan, &#8220;<strong>Barang siapa menyerahkan  urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya</strong>.&#8221;</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> berkata kepadanya, &#8220;<strong>Seandainya semua manusia mengambil nasihat  ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka</strong>.&#8221; Yaitu seandainya manusia  betul-betul bertakwa dan bertawakal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan  dunia dan agama mereka. (<em>Jami&#8217;ul Ulum wal Hikam</em>, penjelasan hadits no.  49). Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada <em>ilah</em> yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakal  dan Dia-lah Rabb &#8216;Arsy yang agung.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel <a title="Tawakal yang sebenarnya" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakal-yang-sebenarnya.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-506"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftawakal-yang-sebenarnya.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftawakal-yang-sebenarnya.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftawakal-yang-sebenarnya.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakal-yang-sebenarnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawakkal</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakkal.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakkal.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 00:36:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Ta&#8217;ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta&#8217;ala berfirman yang artinya, &#8220;Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakkal.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Ta&#8217;ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya.&#8221;</em> (Ath Tholaq: 2-3)</p>
<p><span id="more-30"></span></p>
<p><strong>Makna Bertawakkal Kepada Allah </strong></p>
<p>Banyak di antara para ulama yang telah menjelaskan makna Tawakkal, diantaranya adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau mengatakan, <em>&#8220;Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang diTawakkali.&#8221;</em> (<em>Faidhul Qadir</em>, 5/311). Ibnu &#8216;Abbas <em>radhiyAllahu&#8217;anhuma</em> mengatakan bahwa Tawakkal bermakna percaya sepenuhnya kepada Allah Ta&#8217;ala. Imam Ahmad mengatakan, <em>&#8220;Tawakkal berarti memutuskan pencarian disertai keputus-asaan terhadap makhluk.&#8221;</em> Al Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang Tawakkal, maka beliau menjawab, <em>&#8220;Ridho kepada Allah Ta&#8217;ala&#8221;</em>, Ibnu Rojab Al Hanbali mengatakan, <em>&#8220;Tawakkal adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya kepada Allah Ta&#8217;ala dalam memperoleh kemashlahatan dan menolak bahaya, baik urusan dunia maupun akhirat secara keseluruhan.&#8221;</em> Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, <em>&#8220;Tawakkal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.&#8221;</em></p>
<p><strong>Mendapatkan Kebaikan dan Menghindari Kerusakan</strong></p>
<p>Ibnul Qayyim berkata, &#8220;Tawakkal adalah faktor paling utama yang bisa mempertahankan seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari serangan makhluk lainnya yang menindas serta memusuhinya. Tawakkal adalah sarana yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan seperti itu, karena ia telah menjadikan Allah sebagai pelindungnya atau yang memberinya kecukupan. Maka barang siapa yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya serta yang memberinya kecukupan, maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan bahaya padanya.&#8221; (<em>Bada&#8217;i Al-Fawa&#8217;id</em> 2/268)</p>
<p>Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata, Imam Al Bukhori telah mencatat dalam kitab shohih beliau, dari sahabat Ibnu Abbas <em>rodhiyAllahu anhuma</em>, bahwa ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah api yang membara beliau mengatakan, <em>&#8220;HasbunAllahu wa ni&#8217;mal wakiil.&#8221;</em> (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Perkataan ini pulalah yang diungkapkan oleh Rosululloh <em>ShollAllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika dikatakan kepada beliau,  Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berencana untuk memerangimu, maka waspadalah engkau terhadap mereka.&#8221; (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab Tafsir. Lihat <em>Fathul Bari</em> VIII/77)</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, <em>&#8220;Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah: &#8216;Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baik pelindung&#8217;.&#8221;</em> (HR. Bukhori)</p>
<p><strong>Bertawakkal Kepada Allah Adalah Kunci Rizki </strong></p>
<p>Rosululloh <em>ShallAllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.&#8221;</em> (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim)</p>
<p>Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh menjelaskan bahwa orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pastilah dia akan diberi rizki. Bagaimana tidak, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati. Abu Hatim Ar Razy berkata, <em>&#8220;Hadist ini merupakan tonggak tawakkal. Tawakkal kepada Allah itulah faktor terbesar dalam mencari riqzi.&#8221;</em> Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala akan mencukupinya. Allah berfirman yang artinya, <em>&#8220;Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.&#8221;</em> (Ath-Thalaq: 3). Ar Rabi&#8217; bin Khutsaim berkata mengenai ayat tersebut, <em>&#8220;Yaitu mencukupinya dari segala sesuatu yang membuat sempit manusia.&#8221;</em></p>
<p><strong>Tawakkal Bukan Berarti Tidak Berusaha </strong></p>
<p>Mewujudkan Tawakkal bukan berarti meniadakan usaha. Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk berusaha sekaligus bertawakkal. Berusaha dengan seluruh anggota badan dan bertawakkal dengan hati merupakan perwujudan iman kepada Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Sebagian orang mungkin ada yang berkata, <em>&#8220;Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit?&#8221;</em> Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang itu tentang hakikat Tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa sebagai tempat bergantung.</p>
<p>Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata: &#8220;Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.&#8221; (<em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 7/8)</p>
<p>Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, <em>&#8220;Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri&#8221;</em>. Maka beliau berkomentar, <em>&#8220;Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi ShollAllahu &#8216;alaihi wa sallam telah bersabda, &#8216;Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku dalam bayang-bayang tombak perangku</em> (baca: <em>ghonimah</em>)&#8217;. <em>Dan beliau juga bersabda, &#8216;Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.&#8217;</em> (Hasan Shohih. HR.Tirmidzi). Selanjutnya Imam Ahmad berkata, <em>&#8220;Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan mengelola pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.&#8221;</em> (<em>Fathul Bari</em>, 11/305-306)</p>
<p>Kalau kita mau merenungi maka dapat kita katakan bahwa pengaruh tawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha seseorang ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya. Imam Abul Qasim Al-Qusyairi mengatakan, &#8220;Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak lahiriah maka hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seseorang meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdir-Nya. Dan jika terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya.&#8221; (<em>Murqatul Mafatih</em>, 5/157)</p>
<p>Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah sebuah hadits. Seseorang berkata kepada Nabi <em>ShollAllahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8220;Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?&#8221;</em> Nabi bersabda, <em>&#8220;Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.&#8221;</em> (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam <em>Shohih Jami&#8217;ush Shoghir</em>). Dalam riwayat Imam Al-Qudha&#8217;i disebutkan bahwa Amr bin Umayah <em>RadhiyAllahu &#8216;anhu</em> berkata, <em>&#8220;Aku bertanya, &#8216;Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat dahulu unta tungganganku lalu aku berTawakkal kepada Allah, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?&#8217;, Beliau menjawab, &#8216;Ikatlah untamu lalu bertawakkallah kepada Allah.&#8221;</em> (<em>Musnad Asy-Syihab</em>, <em>Qayyidha wa Tawakkal</em>, no. 633, 1/368)</p>
<p>Tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Hendaknya setiap muslim bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: Buletin At-Tauhid<br />
Penulis: R. Indra Pratomo P.<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-30"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftawakkal.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftawakkal.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftawakkal.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tawakkal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

