<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Tauhid</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/tauhid/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 11:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Bebas Memilih Pintu Surga</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bebas-memilih-pintu-surga.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bebas-memilih-pintu-surga.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 May 2012 03:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban istri]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[pintu surga]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[taat suami]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9275</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillahi wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh. Siapa di antara kita yang tidak ingin masuk surga? Apalagi jika masuknya bebas dari pintu manapun! Adakah amalan yang bisa mengantarkan kita pada peluang emas tersebut? Jawabannya:<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bebas-memilih-pintu-surga.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Alhamdulillahi wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh.</em></p>
<p>Siapa di antara kita yang tidak ingin masuk surga? Apalagi jika masuknya bebas dari pintu manapun! Adakah amalan yang bisa mengantarkan kita pada peluang emas tersebut? Jawabannya: ada, antara lain:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>1. Berakidah yang benar</strong></span></p>
<p>Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,</p>
<p>“مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ؛ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ”</p>
<p>”<em>Barangsiapa mengucapkan ”Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Serta Isa adalah hamba Allah dan anak salah satu hamba-Nya. Kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam dan ruhnya berasal dari Allah. (Ia juga bersaksi) bahwa surga adalah benar adanya, neraka juga benar adanya; niscaya Allah akan memasukkannya ke surga dari delapan pintunya manapun yang ia kehendaki</em>”. HR. Muslim dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">2. Taat kepada pemerintah dalam kebaikan</span></strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjanjikan,</p>
<p>“مَنْ عَبَدَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَأَطَاعَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْخِلُهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ. وَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَعَصَى؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ أَمْرِهِ بِالْخِيَارِ؛ إِنْ شَاءَ رَحِمَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ”.</p>
<p>”<em>Barangsiapa menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat (kepada pemerintah); niscaya Allah akan memasukkannya lewat pintu surga manapun yang ia maui. Dan pintu surga itu ada delapan. Barangsiapa menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar namun tidak taat (kepada pemerintah); maka nasibnya terserah Allah. Jika Dia berkehendak maka akan merahmatinya, sebaliknya jika Dia berkehendak, maka akan menyiksanya</em>”. HR. Ahmad dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>3. Patuh kepada suami</strong></span></p>
<p>Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,</p>
<p>“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.</p>
<p>“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.</p>
<p>Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 27 Jumadal Ula 1433 H / 19 April 2012 M</p>
<p>Penulis: <a href="http://tunasilmu.com/bebas-memilih-pintu-surga.html">Ustadz Abdullah Zaen, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9275"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fbebas-memilih-pintu-surga.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bebas-memilih-pintu-surga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Kubur Dijadikan Tuhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/jika-kubur-dijadikan-tuhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/jika-kubur-dijadikan-tuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 23:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[wali]]></category>
		<category><![CDATA[wali songo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8920</guid>
		<description><![CDATA[Apakah ada kubur yang dijadikan tuhan? Begitu mungkin pertanyaan yang muncul dari pembaca ketika membaca judul artikel ini. Karena setiap orang tahu, bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala. Sedangkan menyembah selain Allah merupakan dosa<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/jika-kubur-dijadikan-tuhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Apakah ada kubur yang dijadikan tuhan?</em> Begitu mungkin pertanyaan yang muncul dari pembaca ketika membaca judul artikel ini. Karena setiap orang tahu, bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah <em>Ta’ala</em>. Sedangkan menyembah selain Allah merupakan dosa besar yang paling besar. Semoga pertanyaan ini segera sirna setelah menela’ah apa yang akan kami sampaikan di bawah ini.</p>
<p><strong>ISYARAT NABI ‘alaihi ash-sholatu was salam</strong></p>
<p>Sesungguhnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sudah mengisyaratkan tentang penyembahan terhadap kubur itu di dalam banyak hadits-hadits yang shahih. Antara lain hadits di bawah ini,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</p>
<p>Dari ‘Atho’ bin Yasar, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah berdoa: “<em>Wahai Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), besar murka Allah terhadap orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”</em>. (HR. Malik, di dalam kitab Al-Muwaththo’, no: 376)</p>
<p>Hadits ini <em>mursal </em>(termasuk lemah), namun dikuatkan oleh hadits-hadits yang lain sehingga menjadi <em>shahih</em>. Oleh Karena itu Syaikh Al-Albani menshahihkannya di dalam kitab Tahdzirus Sajid, hlm: 18, 19. Di antara hadits yang menguatakan adalah hadits di bawah ini,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</p>
<p>Dari Abu Hurairah, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (beliau pernah berdoa): “<em>Wahai Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid</em>” (HR. Ahmad, di dalam kitab Musnad, juz: 2, hlm: 246)</p>
<p>Syaikh Dr. Sholih bin Fauzab bin Abdullah Al-Fauzan –ulama anggota Majlis Fatwa Saudi- berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan terjadi di kalangan umatnya apa yang telah terjadi pada orang-orang Yahudi dan Nashoro terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, yaitu yang berupa <em>ghuluw </em>(sikap melewati batas) terhadap kubur-kubur itu sehingga kubur-kubur itu menjadi berhala-berhala. Maka beliau memohon kepada Rabbnya agar tidak menjadikan kubur beliau demikian itu. Kemudian beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengingatkan sebab kemurkaan dan laknat Allah menimpa orang-orang Yahudi dan Nashoro, yaitu apa yang telah mereka lakukan terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, sehingga mereka merubahnya menjadi berhala-berhala yang disembah. Maka mereka terjerumus di dalam syirik yang besar yang bertentangan dengan tauhid”. (Al-Mulakhkhos Fii Syarh Kitab At-Tauhid, hlm: 144-145)</p>
<p><strong>MUSYRIKIN ARAB MENYEMBAH KUBUR</strong></p>
<p>Allah Ta’ala mencela perbuatan orang-orang jahiliyah yang menyembah kepada selain Allah di dalam banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Antara lain di dalam firman-Nya,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَفَرَءَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى {19} وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ اْلأُخْرَى {20</p>
<p>&#8220;<em>Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang lain itu?</em>&#8221; (QS. An-Najm (53): 19-20)</p>
<p>Makna ayat ini –sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qurthubi-, “Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang berhala-berhala ini, apakah dapat memberikan manfaat atau madhorot, sehingga menjadi sekutu-sekutu Alloh Ta’ala?” (Fathul Majid, hlm: 118, penerbit: Dar Ibni Hazm)</p>
<p>Ketiga nama ini adalah tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang Arab jahiliyah.</p>
<p><em>Al-Lata</em> adalah batu putih berukir yang padanya terdapat rumah, memiliki tirai-tirai, dan ada penjaganya. Di sekitarnya terdapat lokasi tanah yang diagungkan oleh penduduk kota Thoif. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surat An-Najm, ayat: 19-20)</p>
<p>Ada juga yang mengatakan bahwa Lata adalah kubur laki-laki yang dahulu dianggap sebagai orang sholih. Imam Bukhori meriwayatkan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ اللَّاتَ وَالْعُزَّى كَانَ اللَّاتُ رَجُلًا يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ</p>
<p>Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala: “<em>tentang Al-Lata dan Al-Uzza</em>”, (QS. An-Najm (53): 19), beliau mengatakan: “Latta dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk orang yang berhaji”. (HR. Bukhori, no: 4859)</p>
<p>Sa’id bin Manshur meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang menjual tepung dan mentega di dekat sebuah batu besar, dan membuat adonan di atas batu besar itu. Ketika laki-laki itu mati, suku Tsaqif menyembah batu besar itu karena menagungkan terhadap penjual tepung itu (yakni Latta)”. (<em>Fathul Majid</em>, hlm: 117)</p>
<p>Sa’id bin Manshur juga meriwayatkan bahwa Mujahid mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk mereka (orang-orang jahiliyah), tatkala dia telah mati, mereka (orang-orang jahiliyah) semedi (tirakatan) pada kuburnya”.</p>
<p>Pada riwayat lain disebutkan: “Lalu dia (Latta) memberi makan orang-orang yang lewat. Tatkala dia telah mati, mereka menyembahnya. Mereka mengatakan: “Itu adalah Latta”. (<em>Fathul Majid</em>, hlm: 222)</p>
<p>Dari keterangan di atas, ada dua pendapat tentang wujud Latta. Sebagian mengatakan itu adalah sebuah batu, yang lain mengatakan itu wujudnya kubur. Namun pada hakekatnya kedua pendapat itu tidak berlawanan. Oleh karena itulah Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Tidak ada kontradiksi antara dua pendapat itu, karena mereka menyembah batu dan kubur tersebut sebagai perbuatan ibadah dan pengangungan (kepada Latta, orang yang mereka anggap sholih-pen). Dan karena semisal ini, dibangun peninggalan-peninggalan (petilasan-petilasan) dan kubah-kubah di atas kubur-kubur, dan dijadikan sebagai berhala-berhala. Dan padanya terdapat keterangan bahwa orang-orang jahiliyah dahulu menyembah orang-orang sholih, patung-patung, dan berhala-berhala”. (<em>Fathul Majid</em>, hlm: 117)</p>
<p><strong>KENYATAAN DI ZAMAN INI</strong></p>
<p>Barangsiapa mengamati keadaan orang-orang yang mengagungkan kubur orang-orang yang dianggap sebagai wali di zaman ini, akan mendapati berbagai bentuk kemusyrikan pada mereka, dengan ringkas sebagai berikut,</p>
<ol>
<li>Anggapan mereka bahwa wali di kuburnya memiliki tindakan/kekuasaan di alam ini. Seperti: memberi manfaat, menimpakan musibah, menyembuhkan penyakit, melapangkan kesusahan, memenuhi permintaan dan hajat, dan semacamnya yang termasuk syirik rububiyah.</li>
<li>Perbuatan memohon pertolongan, kesembuhan, perlindungan, keberkahan, menyembelih binatang untuknya, berthowaf (mengelilinginya), berhaji (ziarah) kepanya, dan semacamnya yang termasuk syirik uluhiyah.</li>
<li>Anggapan bahwa wali di kuburnya sebagai <em>An-Nafi Adh-Dhoor</em> (Yang mendatangkan manfaat dan Yang menolak musibah), <em>Al-Wahhab</em> (Yang Maha memberi), <em>Ar-Rozzaq</em> (Yang memberi rizqi), dan semacamnya yang termasuk syirik asma’ was sifat. (Diringkas secara bebas dari “<em>Kuburan Agung</em>”, hlm: 42-43, karya Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, penerbit: Darul Haq, Jakarta)</li>
</ol>
<p>Orang-orang yang mengagungkan kubur itu melewati beberapa jenjang sampai mereka menyembahnya. Jenjang-jenjang itu antara lain sebagai berikut: <em>Taqdis </em>(mengkultuskan) orang yang di kubur; Menjadikan penghuni kubur sebagai wasilah (perantara) kepada Alloh; Meyakini keberkahan kubur; Istighotsah dan memohon hajat; Menjadikan kubur sebagai berhala (tuhan yang disembah); Dan menjadikan kubur sebagai tempat yang diziarahi. (Diringkas dari “<em>Kuburan Agung</em>”, hlm: 35-37)</p>
<p>Di sini kami nukilkan sebagian kenyataan pada umat ini yang menunjukkan jauhnya sebagian orang yang mengaku beragama Islam dari ajaran Islam.</p>
<ol>
<li>Di Ma’an, Yordania, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan penyakit wanita!</li>
<li>Di Thontho, Mesir, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan kemandulan, penyakit anak-anak, dan rematik!</li>
<li>Pada waktu negeri Syam diserbu bangsa Tartar, para penyembah kubur keluar meminta tolong kepada kuburan!</li>
<li>Ketika pasukan Rusia menyerbu kota Bukhoro, manusia berhamburan beristighotsah (meminta dihilangkan musibah) kepada kuburan Syah Naqsaband!</li>
<li>Di Fayyum, Mesir, para penyembah kubur mengklaim bahwa yang meneylamatkan kota dari kehancuran selama perang dunia kedua adalah wali Ar-Rubi, berkat pertolongannya arah bom dipindahkan ke laut Yusuf! (Diringkas dari “Kuburan Agung”, hlm: 32-33)</li>
<li>Di Pulau Jawa khususnya, banyak orang yang meminta berkah ke kuburan para wali songo!</li>
</ol>
<p>Selain itu, masih banyak di berbagai tempat orang-orang mengagungkan kubur-kubur secara berlebihan, dan mengangkat kubur-kubur itu sebagai sekutu-sekutu bagi Allah. Maha Suci Allah dari kemusyrikan mereka. Semoga Allah memberikan bimbinganNya kita dan kaum muslimin menuju apa yang Dia cintai dan ridhoi. <em>Aamiin.</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://ustadzmuslim.com/jika-kubur-dijadikan-tuhan/">Ustadz Muslim Atsari</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8920"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fjika-kubur-dijadikan-tuhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/jika-kubur-dijadikan-tuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat di Masjid yang Ada Kubur</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 03:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[pemakaman]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8926</guid>
		<description><![CDATA[Di beberapa daerah di negeri kita, beberapa masjid nampak bersandingan dengan kuburan. Ada yang kuburnya berada di arah kiblat, di belakang masjid atau di samping masjid. Kubur tersebut bisa berada di dalam masjid, bisa jadi<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Di beberapa daerah di negeri kita, beberapa masjid nampak bersandingan dengan kuburan. Ada yang kuburnya berada di arah kiblat, di belakang masjid atau di samping masjid. Kubur tersebut bisa berada di dalam masjid, bisa jadi untuk diagungkan, bisa jadi pula sebagai wasiat dari pemilik tanah yang mewakafkan tanahnya untuk masjid, di samping ada yang punya tujuan agar si mayit dalam kubur terus didoakan oleh orang-orang yang berkunjung di masjid tersebut. Padahal adanya kuburan di masjid semacam ini adalah wasilah untuk mengagungkan kubur, akan mengarah pada menggantungkan hati pada mayit dan jalan menuju kesyirikan.</p>
<p><strong>Larangan Shalat di Kubur</strong></p>
<p>Seluruh tempat di muka bumi ini bisa dijadikan tempat untuk shalat, itulah asalnya. Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ</p>
<p>“<em>Seluruh bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan untuk bersuci. Siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka shalatlah di tempat tersebut</em>” (HR. Bukhari no. 438 dan Muslim no. 521).</p>
<p>Namun ada tempat-tempat terlarang untuk shalat semisal kuburan atau daerah pemakaman. </p>
<p>Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ</p>
<p>“<em>Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat) kecuali kuburan dan tempat pemandian</em>” (HR. Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, Ad Darimi no. 1390, dan Ahmad 3: 83. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). </p>
<p>Dari Abu Martsad Al Ghonawi, beliau berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p>لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا</p>
<p>“<em>Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya</em>” (HR. Muslim no. 972).</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا</p>
<p>“<em>Jadikanlah shalat (sunnah) kalian di rumah kalian dan jangan menjadikannya seperti kuburan</em>” (HR. Muslim no. 777). Hadits ini, kata Ibnu Hajar menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat untuk ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa shalat di pekuburan adalah terlarang (Lihat Fathul Bari, 1: 529).</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa dikecualikan dalam masalah shalat di kubur adalah shalat jenazah. </p>
<p><strong>Larangan Bersatunya Kubur dan Masjid</strong></p>
<p>Dari Jundab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ</p>
<p>“<em>Ingatlah bahwa orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur nabi dan orang sholeh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah jadikan kubur menjadi masjid. Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian</em>” (HR. Muslim no. 532).</p>
<p>Ummu Salamah pernah menceritakan pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengenai gereja yang ia lihat di negeri Habaysah yang disebut Mariyah. Ia menceritakan pada beliau apa yang ia lihat yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Lantas Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, </p>
<p>أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ &#8211; أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ &#8211; بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka adalah kaum yang jika hamba atau orang sholeh mati di tengah-tengah mereka, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya. Lantas mereka membuat gambar-gambar (orang sholeh) tersebut. Mereka inilah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah</em>” (HR. Bukhari no. 434).</p>
<p>Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى ، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا</p>
<p>“<em>Allah melaknat orang Yahudi dan Nashrani di mana mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid</em>” (HR. Bukhari no. 1330 dan Muslim no. 529).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata, “Tidak boleh membangun masjid di atas kubur karena seperti itu adalah wasilah (perantara) menuju kesyirikan dan dapat mengantarkan pada ibadah kepada penghuni kubur. Dan tidak boleh pula kubur dijadikan tujuan (maksud) untuk shalat. Perbuatan ini termasuk dalam menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena alasan menjadikan kubur sebagai masjid ada dalam shalat di sisi kubur. Jika seseorang pergi ke pekuburan lalu ia shalat di sisi kubur wali –menurut sangkaannya-, maka ini termasuk menjadikan kubur sebagai masjid. Perbuatan semacam ini terlaknat sebagaimana laknat yang ditimpakan pada Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid” (Al Qoulul Mufid, 1: 404).</p>
<p>Para ulama menerangkan bahwa jika masjid yang dahulu, setelah itu masuklah kubur, maka kubur yang mesti dimusnahkan. Sedangkan jika kubur lebih dahulu, barulah setelah itu dibangun masjid, berarti masjid tersebut yang mesti dimusnahkan. Inilah jalan untuk menutup pintu dari kesyirikan.</p>
<p><strong>Shalat di Masjid yang Ada Kuburan</strong></p>
<p>Mengenai hadits-hadits di atas, Syaikh Muhammad At Tamimi <em>rahimahullah </em>membawakannya dalam Kitab Tauhid dalam Bab “Peringatan keras terhadap siapa yang beribadah kepada Allah di sisi kubur orang sholeh, lebih-lebih jika beribadah kepada orang sholeh tersebut”. Penulis Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman Alu Syaikh berkata, “Jika seseorang beribadah pada orang sholeh (yang ada dalam kubur, pen), maka perbuatan tersebut adalah syirik akbar. Sedangkan beribadah kepada Allah di sisi kubur orang sholeh adalah wasilah (perantara) untuk beribadah padanya dan ini adalah termasuk perantara kepada syirik yang diharamkan. Beribadah di sisi kuburan orang sholeh dapat mengantarkan kepada syirik akbar. Dan itu adalah sebesar-besarnya dosa” (Fathul Majid, hal. 243).  </p>
<p>Penjelasan hadits-hadits di atas menunjukkan larangan shalat di masjid yang ada kubur. Apalagi bertambah jelas dengan penjelasan Syaikh Muhammad At Tamimi dan Syaikh ‘Abdurrahman Alu Syaikh -rahimahumallah- mengenai penafsiran hadits-hadits di atas.<br />
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud menjadikan kubur sebagai masjid ada dua makna:<br />
1. Membangun masjid di atas kubur.<br />
2. Menjadikan kubur sebagai tempat untuk shalat, di mana kubur menjadi maksud (tujuan) ibadah. Namun jika seseorang shalat di sisi kubur dan tidak menjadikan kubur sebagai maksud (tujuan), maka ini tetap bermakna menjadikan kubur sebagai masjid dengan makna umum. (Al Qoulul Mufid, 1: 411)</p>
<p>Kami pernah mengajukan pertanyaan pada Syaikh Sholeh Al Fauzan <em>hafizhohullah </em>mengenai kasus suatu masjid, yaitu masjid tersebut terdapat satu kuburan di arah kiblat namun di balik tembok, di mana kuburan tersebut masih masuk halaman masjid, bagaimana hukum shalat di masjid semacam itu?<br />
Jawaban beliau <em>hafizhohullah</em>, “Jika kuburan tersebut masih bersambung (muttashil) dengan masjid (artinya: masih masuk halaman masjid), maka tidak boleh shalat di masjid tersebut. Namun jika kuburan tersebut terpisah (munfashil), yaitu dipisah dengan jalan misalnya dan tidak menunjukkan bersambung dengan masjid (artinya bukan satu halaman dengan masjid), maka boleh shalat di masjid semacam itu”. (Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan, Al Muntaqo).</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah, komis fatwa di Saudi Arabia menjelaskan,</p>
<p>إذا كان المسجد مبنيًا على القبر فلا تجوز الصلاة فيه وكذلك إذا دفن في المسجد أحد بعد بنائه ، ويجب نقل المقبور فيه إلى المقابر العامة إذا أمكن ذلك ؛ لعموم الأحاديث الدالة على تحريم الصلاة في المساجد التي فيها قبور .</p>
<p>“Jika masjid dibangun di atas kubur, maka tidak boleh shalat di masjid seperti  itu. Begitu pula jika di dalam masjid dikubur seseorang setelah masjid dibangun, maka tidak boleh shalat di masjid semacam itu. Wajib memindahkan mayit yang dikubur ke pemakaman umum karena hal ini ditunjukkan oleh hadits yang mengharamkan shalat di masjid yang ada kubur.” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 4335)</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Masjid Nabawi?</strong></p>
<p>Sebagian orang menyampaikan syubhat mengenai masjid Nabawi (di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Madinah). Jika memang shalat di masjid yang ada kubur terlarang, lantas bagaimana dengan keadaan masjid Nabawi itu sendiri? Bukankah di dalamnya ada kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah mengatakan bahwa syubhat ini adalah talbis, yaitu ingin menyamarkan manusia. (Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan, Al Muntaqo).</p>
<p>Cukup, syubhat di atas dijawab dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berikut ini:<br />
1. Masjid Nabawi tidaklah dibangun di atas kubur. Bahkan yang benar, masjid Nabawi dibangun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup.<br />
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah di kubur di masjid sehingga bisa disebut dengan orang sholeh yang di kubur di masjid. Yang benar, beliau dikubur di rumah beliau.<br />
3. Pelebaran masjid Nabawi hingga sampai pada rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah ‘Aisyah bukanlah hal yang disepakati oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Perluasan itu terjadi ketika sebagian besar sahabat telah meninggal dunia dan hanya tersisa sebagian kecil dari mereka. Perluasan tersebut terjadi sekitar tahun 94 H, di mana hal itu tidak disetujui dan disepakati oleh para sahabat. Bahkan ada sebagian mereka yang mengingkari perluasan tersebut, di antaranya adalah seorang tabi’in, yaitu Sa’id bin Al Musayyib. Beliau sangat tidak ridho dengan hal itu.<br />
4. Kubur Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah di masjid, walaupun sampai dilebarkan. Karena kubur beliau di ruangan tersendiri, terpisah jelas dari masjid. Masjid Nabawi tidaklah dibangun dengan kubur beliau. Oleh karena itu, kubur beliau dijaga dan ditutupi dengan tiga dinding. Dinding tersebut akan memalingkan orang yang shalat di sana menjauh dari kiblat karena bentuknya segitiga dan tiang yang satu berada di sebelah utara (arah berlawanan dari kiblat).  Hal ini membuat seseorang yang shalat di sana akan bergeser dari arah kiblat. (Al Qoulul Mufid, 1: 398-399)</p>
<p>Demikian bahasan kami mengenai hukum shalat di masjid yang ada kubur. Yang nampak dari dalil, bahwa shalat di tempat semacam itu adalah haram. Adapun mengenai kesahan shalat di masjid yang ada kubur, butuh dibahas dalam bahasan lainnya.</p>
<p>Semoga Allah beri hidayah demi hidayah. <em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p><strong>Referensi:</strong><br />
- Al Muntaqo fil Ahkamisy Syari’ah min Kalami Khoiril Bariyyah, Majduddin Abul Barokat ‘Abdussalam bin Taimiyah Al Haroni, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, tahun 1431 H.<br />
- Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1424 H.<br />
- Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta’, cetakan ketujuh, tahun 1431 H.<br />
- Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan <em>hafizhohullah</em>, kitab Al Muntaqo karya Majduddin Abul Barokat ‘Abdussalam bin Taimiyah Al Haroni, 8 Jumadal Ula 1433 H, di Hay Malaz, Riyadh, KSA.</p>
<p>Disusun @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 8-9 Jumadal Ula 1433 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8926"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fshalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadikan Kubur Sebagai Masjid</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 23:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8918</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya masjid adalah bagian bumi yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Di dalam masjid dilakukan berbagai bentuk ibadah kepadaNya, seperti sholat jama’ah, membaca Al-Qur’an, tholabul ilmi (kajian agama) dan sebagainya yang dituntunkan oleh Allah dan<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sesungguhnya masjid adalah bagian bumi yang paling dicintai oleh Allah <em>Ta’ala</em>. Di dalam masjid dilakukan berbagai bentuk ibadah kepadaNya, seperti sholat jama’ah, membaca Al-Qur’an, tholabul ilmi (kajian agama) dan sebagainya yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> bersabda,</p>
<p>أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا</p>
<p>&#8220;<em>Yang paling Allah cintai dari bagian kota-kota adalah masjid-masjidnya, dan yang paling Allah benci dari bagian kota-kota adalah pasar-pasarnya</em>&#8221; (HR. Muslim, no: 671).</p>
<p>Dan di dalam agama Islam, tidak diperbolehkan menjadikan kubur-kubur sebagai masjid.</p>
<p><strong>DALIL-DALIL LARANGAN</strong></p>
<p>Larangan tentang hal ini sangat banyak sekali. Inilah di antara dalil-dalil larangan tersebut:</p>
<p><strong>1-</strong> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>  telah melarangnya. Dan setiap larangan Nabi, hukum asalnya adalah haram.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini,</p>
<p>عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ</p>
<p>Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “<em>Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen). Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!</em>” (HSR. Muslim no:532)<br />
<strong><br />
2-</strong> Laknat Allah kepada orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid.</p>
<p>Hal ini diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelang wafat.</p>
<p>أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا</p>
<p>Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “<em>Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan: “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”. Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan.</em> (HSR. Bukhari no: 435, 436; Muslim no:531)</p>
<p>Syaikh Ali Al-Qori mengatakan: “Sebab laknat kepada mereka: kemungkinan karena mereka dahulu sujud kepada kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, karena mengagungkan mereka. Ini adalah syirik yang nyata. Kemungkinan karena mereka dahulu melakukan sholat karena Allah di tempat-tempat dikuburnya para Nabi mereka, dan sujud di atas kubur-kubur mereka, dan menghadap kepada kubur-kubur mereka pada sholat, karena anggapan mereka hal itu merupakan ibadah kepada Allah dan berlebihan di dalam mengagungkan para Nabi. Ini adalah syirik yang samar, karena mengandung pengagungan terhadap makhluk yang tidak diidzinkan baginya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya dari itu, kemungkinan karena perbuatan itu menyerupai jalan orang-orang Yahudi, atau karena mengandung syirik yang samar”. (Mirqootul Mafaatiih Syarh Misykaatul Mashoobiih, juz 1, hlm: 456. Dinukil dari Tahdzirus Sajid, hlm: 32, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)</p>
<p><strong>3-</strong> Para pelakunya adalah seburuk-buruk manusia.</p>
<p>Perkara ini disebutkan di dalam hadits-hadits shohih, antara lain sebagai berikut:</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا اشْتَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ بَعْضُ نِسَائِهِ كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَتَا أَرْضَ الْحَبَشَةِ فَذَكَرَتَا مِنْ حُسْنِهَا وَتَصَاوِيرَ فِيهَا فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ</p>
<p>Dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhoinya-, dia berkata: “<em>Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, yang dinamakan gereja Mariyah. Dahulu Ummu Salamah dan Ummu HAbibah –semoga Allah meridhoikeduanya- pernah mendatangi negeri Habasya. Keduanya menyebutkan tentang keindahannya dan patung-patung/gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengankat kepalanya, lalu bersabda: “Mereka itu, jika ada seorang yang sholih di antara mereka mati, mereka membangun masjid di atas kuburnya, kemudian membuat patung/gambar orang sholih itu di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk manusia di sisi Allah</em>”. (HSR. Bukhari no:1341; Muslim no:528)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan keharoman membangun masjid-masjid di atas kubur-kubur orang-orang sholih, dan menggambar gambar-gambar mereka di dalamnya, sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang Nashoro. Tidak ada keraguan bahwa tiap satu dari keduanya itu diharamkan, membuat gambar-gambar manusia diharamkan, dan membangun masjid-masjid di atas kubur-kubur, perbuatan ini saja juga haram”. (Fathul Bari, dinukil dari Tahdzirus Sajid, halm: 13, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)</p>
<p>Dalam hadits lain disebutkan:</p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ</p>
<p>Dari Abdulloh, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah bersabda: “<em>Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang ketika hari kiamat datang mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid</em>”. (HSR. Ahmad 1/432; no: 4132; Ibnu Hibban; Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)</p>
<p><strong>MAKSUD LARANGAN</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata: “Telah jelas dari hadits-hadits yang lalu bahaya menjadikan kubur sebagai masjid, dan ancaman keras di sisi Allah ‘Azza wa Jalla terhadap orang yang melakukannya. Maka kita wajib memahami makna menjadikan kubur sebagai masjid itu agar kita mewaspadainya. Aku katakan, yang mungkin difahami dari menjadikan kubur sebagai masjid adalah tiga makna:</p>
<p><strong>1-</strong> Sholat di atas kubur, dengan arti sujud di atasnya.</p>
<p><strong>2-</strong> Sujud menghadap kubur, dan menghadap kubur dengan sholat dan doa.</p>
<p><strong>3-</strong> Membangun masjid di atas kubur, dan menyengaja sholat di kuburan-kuburan.</p>
<p>Dan pada tiap satu dari makna ini telah dikatakan oleh sekelompok ulama, dan telah datang dengannya nash-nash yang nyata dari penghulu para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “. (Tahdzirus Sajid, halm: 21, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)</p>
<p>Kemudian syaikh menyebutkan perkataan para ulama tentang makna-makna di atas di dalam kitab beliau itu. </p>
<p><strong>TAMBAHAN KETERANGAN:</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sholat di semua masjid yang dibangun di atas kubur terlarang secara umum, kecuali masjid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (di kota Madinah), karena shalat di sana pahalanya seribu kali lipat, karena masjid itu dibangun di atas taqwa, dan kemuliaannya ada sejak kehidupan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para kholifah yang lurus sebelum masuknya kamar (kubur) di dalam masjid. Dan  dimasukkannya kamar ke dalam masjid dilakukan setelah habis masa sahabat”. (Dinukil dari Tahdzirus Sajid, hlm: 137, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)</p>
<p><em>Al-Hamdulillah Robbil ‘Alamin.</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://ustadzmuslim.com/menjadikan-kubur-sebagai-masjid/">Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8918"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmenjadikan-kubur-sebagai-masjid.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Syi&#8217;ah Membantah Syi&#8217;ah: Syi&#8217;ah dan Ibadah di Kuburan</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/ketika-syiah-membantah-syiah-syiah-dan-ibadah-di-kuburan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/ketika-syiah-membantah-syiah-syiah-dan-ibadah-di-kuburan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2012 23:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8704</guid>
		<description><![CDATA[Telah lazim kita ketahui bersama betapa eratnya ritual kaum Syi&#8217;ah dan kuburan para Imam dan tokoh-tokoh mereka. Praktek ini dapat dengan mudah ditemukan pada kubur Imam Husein dan para ulama mereka lainnya, bahkan di makam<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/ketika-syiah-membantah-syiah-syiah-dan-ibadah-di-kuburan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Telah lazim kita ketahui bersama betapa eratnya ritual kaum Syi&#8217;ah dan kuburan para Imam dan tokoh-tokoh mereka. Praktek ini dapat dengan mudah ditemukan pada kubur Imam Husein dan para ulama mereka lainnya, bahkan di makam Abu Lu&#8217;lu pun, berpesta pora merayakan pembunuhan Abu Lu&#8217;lu atas Khalifah Umar radhiyallahu &#8216;anhu merupakan suatau ibadah bagi mereka. Kini kami akan mengetengahkan beberapa kontradiksi yang terdapat dalam referensi-referensi kaum Syi&#8217;ah itu sendiri. Semoga Allah memberi taufiq dari pemahaman Syi&#8217;ah dan kesesatan mereka dalam ibadah.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;"> عن أبي عبد الله عليه السلام قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  &#8221; إن على كل حقٍ حقيقة وعلى كل صوابٍ نوراً  فما وافق كتاب الله فخذوه وما خالف كتاب الله فدعوه &#8221; الكافي 1/69</p>
<p>Dari Abu Abdillah<em> &#8216;alaihissalam</em> ia berkata, berkata Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, &#8220;Sesungguhnya bagi setiap kebenaran ada hakikat, dan bagi setiap kebenaran ada cahaya. Maka apa yang sesuai dengan Kitabullah, ambillah, dan apa yang menyelisihi Kitabullah, tinggalkanlah&#8221; (<em>Al Kafi</em>, 1/69)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;"> عن أبي عبد الله عليه السلام قال قال أمير المؤمنين عليه السلام:  &#8221;بعثني رسول الله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم في هدم القبور وكسر الصور&#8221;  وسائل الشيعة 2/870</p>
<p>Dari Abu Abdillah<em> &#8216;alaihissalam</em> ia berkata, berkata Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) &#8216;alaihissalam, &#8220;Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam</em> mengutusku untuk membongkar kubur dan menghancurkan lukisan-lukisan&#8221; (<em>Wasail Asy Sy&#8217;iah</em> 2/870)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;"> عن أمير المؤمنين عليه السلام قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: &#8221; لا تتخذوا قبوركم مساجد ولابيوتكم قبوراً&#8221;  مستدرك الوسائل 2/379</p>
<p>Dari Amirul Mukminin <em>&#8216;alaihissalam</em>, ia berkata &#8220;Aku Mendengar Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa</em> sallam berkata, &#8216;Jangan jadikan kuburan-kuburan kalian sebagai masjid, sedangkan rumah-rumah kalian sebagai kuburan&#8221; (<em>Mustadrak Al Wasa&#8217;il</em> 2/379)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عن أبي عبد الله عليه السلام قال قال أمير المؤمنين عليه السلام: بعثني رسول الله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم إلى المدينة فقال: &#8221; لاتدع صورة إلا محوتها ولا قبراً إلا سوّيته ولاكلباً إلا قتلته&#8221; وسائل الشيعة 2/869 و3/62</p>
<p>Dari Abu Abdillah <em>&#8216;alaihissalam</em> ia berkata, berkata Amirul Mukminin &#8216;alaihissalam, &#8220;Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam</em> diutus ke Madinah dan beliau berkata, &#8216;Jangan biarkan gambar-gambar kecuali kalian hancurkan, dan jangan biarkan kuburan kecuali kalian ratakan, dan anjing kecuali kalian bunuh ia&#8217;&#8221; (<em>Wasail Asy Syi&#8217;ah</em> 2/869 dan 3/62)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عن أبي عبد الله عليه السلام : &#8221; لاتتخذوا قبري قبلة ولامسجداً فإن الله لعن اليهود حيث اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد&#8221; من لايحضره الفقيه 1/128 وسائل الشيعة 2/887</p>
<p>Dari Abu Abdillah<em> &#8216;alaihissalam</em>, &#8220;Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai kiblat dan masjid, karena sesungguhnya Allah melaknat Yahudi yang mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid&#8221; (<em>Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih</em> 1/128 dan <em>Wasa&#8217;il Asy Syi&#8217;ah</em> 2/887)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قال الصادق عليه السلام: &#8221; كل ماجُعل على القبر من غير تراب القبر فهو ثُقل على الميّت &#8221; من لايحضره الفقيه 1/135 وسائل الشيعة 2/864</p>
<p>Berkata Ash Shadiq (yaitu Ja&#8217;far Shadiq) &#8216;alaihissalam, &#8220;Setiap (bangunan) yang didirikan di atas kuburan selain tanah, akan memberatkan si mayit&#8221; (<em>Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih</em> 1/135 dan <em>Wasa&#8217;il Asy Syi&#8217;ah</em> 2/864)</p>
<p>Dan bahkan <em>Al Ma&#8217;shum</em> (menurut mereka, yaitu &#8216;Ali bin Abi Thalib) mengkafirkan Syi&#8217;ah itu sendiri.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وقال أمير المؤمنين عليه السلام : &#8221; من جدّد قبراً أو مثّل مثالاً فقد خرج من الإسلام&#8221;  من لايحضره الفقيه 1/135 وسائل الشيعة 2/868</p>
<p>Berkata Amirul Mu&#8217;minin &#8216;alaihissalam, &#8220;Barangsiapa yang merenovasi kubur atau membuat gambar di atasnya, maka ia telah keluar dari Islam&#8221; (<em>Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih</em> 1/135 dan Wasa&#8217;il Asy Syi&#8217;ah 2/868)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;"> وعن علي بن جعفر قال : سألت أبا الحسن موسى عليه السلام عن البناء على القبور والجلوس عليها هل يصلُح؟ قال: &#8221; لايصلح البناء عليه ولا الجلوس ولا تجصيصه ولا تطيينه&#8221;</p>
<p>Ali bin Ja&#8217;far berkata, &#8220;Abul Hasan Musa &#8216;alaihissalam ditanya tentang membangun kubur dan duduk-duduk diatasnya, baikkah perbuatan tersebut?. Jawab beliau, &#8216;Tidaklah termasuk perbuatan baik membangun di atas kuburan, jangan duduk-duduk di atasnya, jangan menemboknya, jangan pula menyemennya&#8221;</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.muslm.net/vb/showthread.php?t=255260">http://www.muslm.net/vb/showthread.php?t=255260</a></p>
<p>Marilah bersama-sama kita cocokkan apa yang tertulis dalam referensi kaum Syi&#8217;ah dengan praktek kaum Syi&#8217;ah di zaman ini :</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/03/syiah.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-8709" title="syiah" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/03/syiah.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Lukisan tokoh-tokoh Syi&#8217;ah yang diagungkan oleh mereka</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/03/syiah2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-8710" title="syiah2" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/03/syiah2.jpg" alt="" width="472" height="340" /></a></p>
<p>Ayatollah Khamene’i Sholat di depan kubur Ayatollah Khomeini.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/03/syiah3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-8711" title="syiah3" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/03/syiah3.jpg" alt="" width="434" height="319" /></a></p>
<p>Kuburan Imam Khomeini yang diratapi oleh pengikut Syiah</p>
<p><img src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/421149_2840770059493_1266542112_32167529_1971163356_n.jpg" alt="" /></p>
<p>Keterangan: * Anak Panah yang menunjuk ke kiri menunjuk ke arah mimbar dan arah kiblat. * Anak panah yang menunjuk ke kanan menunjuk ke arah kuburan. Kita lihat orang-orang yang kelihatan di dalam gambar menghadapkan wajahnya ke kuburan dan membelakangi kiblat, nampaknya menghadap Kuburan lebih baik untuk beribadah dibanding menghadap kiblat.</p>
<p>Maka cukuplah bantahan bagi kaum Syi&#8217;ah berasal dari referensi mereka sendiri. Wasailus Syi&#8217;ah merupakan salah satu kitab hadits rujukan Syi&#8217;ah yang ditulis oleh Muhammad bin Al Hasan Al &#8216;Amali, dan dipakai oleh mereka dalam menentukan hukum-hukum syariat. Sementara Man Laa Yahduruhu Al Faqih merupakan salah satu dari empat kitab induk kaum Syi&#8217;ah Itsna Asyariyah, ditulis oleh Abu Ja&#8217;far Muhammad ibn &#8216;Ali ibn Babawaih al-Qummi, lebih dikenal sebagai Ibnu Babawaih atau Al-Shaykh al-Shaduq. Semoga Allah memberi taufiq dan penjagaan dari bahaya pemahaman kaum Syi&#8217;ah, khususnya di negeri kita.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yhouga Pratama<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8704"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fketika-syiah-membantah-syiah-syiah-dan-ibadah-di-kuburan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/ketika-syiah-membantah-syiah-syiah-dan-ibadah-di-kuburan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beranggapan Sial Berbau Syirik</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/beranggapan-sial-berbau-syirik.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/beranggapan-sial-berbau-syirik.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 06:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[sial]]></category>
		<category><![CDATA[suro]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8588</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Kita sering mendengar ada yang beranggapan sial dengan nama anaknya. Buktinya, ketika anaknya di<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/beranggapan-sial-berbau-syirik.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Segala puji bagi Allah tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Kita sering mendengar ada yang beranggapan sial dengan nama anaknya. Buktinya, ketika anaknya di usia belia sakit-sakitan, maka ada yang beranggapan sial bahwa itu karena namanya yang terlalu berat. Ada juga yang menganggap bahwa karena salah nama, anaknya jadi bandel. Intinya, nama anak akhirnya yang disalahkan.</p>
<p>Beranggapan sial bukan hanya seperti di atas, banyak contohnya. Ujung-ujungnya beranggapan sial itu mengarah pada kesyirikan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memahami <em>Thiyaroh</em> atau <em>Tathoyyur</em></strong></span></p>
<p>Pembahasan beranggapan sial ini dalam bahasan akidah diistilahkan dengan thiyaroh atau <em>tathoyyur</em>. <em>Thiyaroh</em> berasal dari kata burung, artinya dahulu orang Arab Jahiliyah ketika memutuskan melakukan safar, mereka memutuskan dengan melihat pergerakan burung. Jika burung tersebut bergerak ke kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke kiri, maka itu tanda mereka harus mengurungkan melakukan safar karena bisa jadi terjadi musibah ketika di jalan.</p>
<p>Namun maksud <em>thiyaroh</em> di sini adalah umum, bukan hanya dengan burung saja. <em>Thiyaroh</em> adalah beranggapan sial ketika tertimpanya suatu musibah pada sesuatu yang bukan merupakan sebab dilihat dari sisi syar’i atau inderawi, baik itu dengan orang, dengan benda tertentu, dengan tumbuhan, dengan waktu, dengan angka tertentu atau dengan tempat tertentu.</p>
<p>Contoh dari <em>thiyaroh</em> atau beranggapan sial:</p>
<ol>
<li>Menganggap anak sakit-sakitan karena nama yang terlalu berat diemban sehingga harus ada penggantian nama.</li>
<li>Mengganggap datangnya musibah itu karena si A yang baru datang ke kampung, sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebagaimana dahulu Fir’aun beranggapan datangnya bencana gara-gara Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em>.</li>
<li>Menganggap bulan Suro atau bulan Muharram adalah bulan keramat sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya.</li>
<li>Jika lewat di depan kuburan, selalu sial dan sering melihat hantu gentayangan.</li>
<li>Anggapan sial dengan angka 13.</li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong><em>Thiyaroh</em></strong><strong> Termasuk Akidah Jahiliyah </strong></span></p>
<p>Beranggapan sial atau thiyaroh termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa <em>‘alaihis salam</em> dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakana itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: &#8220;Itu adalah karena (usaha) kami&#8221;. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui</em>.” (QS. Al A’raf: 131).</p>
<p>Kesialan yang dianggap sesungguhnya tidaklah benar. Yang shahih, Musa dan orang beriman sebagai pengikutnya adalah sebab datangnya kebaikan dan barokah. Karena para Rasul <em>‘alaihimush sholaatu was salaam</em> membuat perbaikan di muka bumi dengan ketaatan yang mereka perbuat, sehingga turunlah barokah. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</p>
<p>“<em>Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya</em>” (QS. Al A’raf: 96). Dan sebenarnya sebab datangnya musibah adalah karena pembakangan ahli maksiat, orang musyrik dan kafir, bukan dari orang beriman.</p>
<p>Kesialan dan bencana sebenarnya karena kekurang ajaran orang kafir itu sendiri. Sebagaimana hal ini dapat kita ambil pelajaran dari surat Yasin tentang kisah penduduk negeri yang mendustakan dua sampai tiga utusan Allah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17) قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19)</p>
<p>“<em>Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: &#8220;Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu&#8221;. Mereka menjawab: &#8220;Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka&#8221;. Mereka berkata: &#8220;Rabb kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu&#8221;. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas&#8221;. Mereka menjawab: &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami)</span>, niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami&#8221;. Utusan-utusan itu berkata: &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)</span>? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas</em>&#8220;.” (QS. Yasin: 13-19). Penduduk negeri tersebut menganggap nasib sial menimpa mereka karena kedatangan para utusan tersebut. Namun hal itu dibantah oleh Allah Ta’ala. Allah <em>Ta’ala</em> nyatakan sendiri bahwa kesialan itu karena sebab pembangkangan penduduk itu sendiri.</p>
<p>Begitu pula orang-orang musyrik pernah menganggap datangnya nasib malang, itu karena Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ</p>
<p>“<em>Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: &#8220;Ini adalah dari sisi Allah&#8221;, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: &#8220;Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)&#8221;.</em>” (QS. An Nisa’: 78).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Larangan <em>Thiyaroh</em></strong></span></p>
<p>Thiyaroh atau beranggapan sial termasuk kesyirikan sebagaimana dinyatakan dalam hadits.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ</p>
<p>“<em>Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar</em>” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220). Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya.</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ »</p>
<p>“<em>Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al fa’lu membuatkan takjub.</em>” Para sahabat bertanya, “<em>Apa itu al fa’lu?</em>” “<em>Kalimat yang baik (thoyyib)</em>”, jawab Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.” </em>(HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)</p>
<p>Apa beda <em>al fa’lu</em> dan <em>thiyaroh</em>? <em>Al fa’lu</em> adalah berangan kebaikan. Sedangkan <em>thiyaroh</em> adalah berperasaan akan datangnya keburukan. Berangan datangnya kebaikan adalah suatu anjuran karena hal ini termasuk husnu zhon (berprasangka baik) pada Allah. Contoh <em>fa’lu </em>adalah ketika kita mendengar ucapan-ucapan yang baik, maka cerialah hati kita. Atau kita melihat seorang yang tampil menawan hati, kita pun menjadi tenang, tanda mengharap kebaikan dan husnu zhon pada Allah. <em>Fa’lu</em> termasuk perkara yang baik. Dari sinilah mengapa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>takjub. Ketika mendengar nama atau ucapan yang baik atau berlalu di tempat kebaikan, hati menjadi tenang, dan tanda husnu zhon pada Allah. Demikian penjelasan Syaikhuna, Dr. Sholeh Al Fauzan dalam I’anatul Mustafid.</p>
<p>Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam-</em>,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».</p>
<p>“<em>Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan</em>”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “<em>Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.</em>” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>). Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa <em>thiyaroh</em> atau beranggapan sial termasuk bentuk syirik. Kesyirikan dalam masalah thiyaroh ini bisa dirinci menjadi dua:</p>
<ol>
<li>Jika menganggap bahwa yang mendatangkan manfaat dan mudhorot adalah makhluk, ini syirik akbar.</li>
<li>Jika menganggap bahwa yang memberi manfaat atau mudhorot hanyalah Allah, namun makhluk hanyalah sebagai sebab, ini termasuk syirik ashgor.</li>
</ol>
<p><strong>Catatan</strong>: Tidak setiap anggapan jelek itu terlarang. Ada anggapan jelek yang masih dibolehkan selama ada sebab yang syar’i atau hissiy (inderawi). Seperti misalnya kita sudah mengetahui gerak-gerik si pencuri, dan kita berprasangka jelek padanya, maka ini ada bukti atau sebab, sehingga prasangka jelek ini tidak bermasalah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kuncinya Tawakkal</strong></span></p>
<p>Anggapan sial mengurangi tauhid seorang muslim dan dinilai syirik. Penilaian syirik ini dilihat dari beberapa sisi: (1) bergantung pada sesuatu yang bukan sebab secara hakiki, (2) memutuskan suatu kejadian seakan-akan menentang takdir Allah, dan (3) mengurangi tauhid. Untuk menghilangkan persangkaan sial di sini hanyalah dengan tawakkal. Karena tawakkal terdapat ketergantungan hati pada Allah. Hadits yang telah lewat disebutkan, “<em>Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal”. </em></p>
<p>Penulis Fathul Madjid (335) berkata, “Akan tetapi jika kita bertawakkal pada Allah dalam meraih maslahat dan menolak mudhorot, maka was-was untuk beranggapan sial akan hilang dengan izin Allah.”</p>
<p>Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Penyembuh dari beranggapan sial adalah dengan bertawakkal pada Allah. Kemudian meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati.” Ini perkataan beliau dalam I’anatul Mustafid (2: 16).</p>
<p>Ingatlah pelajaran dari firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya</em>.” (QS. Ath Tholaq: 3).</p>
<p>Jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah <em>Ta’ala</em>.  Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ</p>
<p>[Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa bik] “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.”</p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p align="center"><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol>
<li>Faedah dari Durus Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syitsriy Kamis 17 Rabi’ul Awwal 1433 H di Jami’ Syaikh Nashir Asy Syitsri, Riyadh, KSA, dalam bahasan Kitab Tauhid, tema “<em>Maa Jaa-a fii Tathoyyur</em>.</li>
<li>Fathul Majid <em>Syarh Kitab At Tauhid</em>, Syaikh &#8216;Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta&#8217;, cetakan ketujuh, 1431 H.</li>
<li><em>I’anatul Mustafid</em>, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Muassasah Ar Risalah.</li>
<li><em>Syarh Kitab At Tauhid</em>, Syaikh Hamd bin &#8216;Abdullah Al Hamd, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, 1431 H.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 17 Rabiul Awwal 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8588"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fberanggapan-sial-berbau-syirik.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/beranggapan-sial-berbau-syirik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Wanita Tua Dari Bani Israil</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/kisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 07:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8555</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah riwayat dikisahkan: عن أبي موسى قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (وفي واية: نزل رسول الله صلى الله عليه<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/kisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dalam sebuah riwayat dikisahkan:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عن أبي موسى قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (وفي واية: نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بأعرابي فأكرمه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعهدنا ائتنا، فأتاه الأعرابي فقال له سول الله صلى الله عليه وسلم:) سل حاجتك، فقال: ناقة برحلها وأعنزا يحلبها أهلي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أعجزتم أن تكونوا مثل عجوز بني إسرائيل؟ فقال أصحابه: يا رسول الله وما عجوز بني إسرائيل؟ قال: إن موسى لما سار ببني إسرائيل من مصر، ضلوا لطريق فقال: ما هذا؟ فقال علماؤهم: نحن نحدثك، إن يوسف لما حضره الموت أخذ علينا موثقا من الله أن لا يخرج من مصر حتى ننقل ظامه معنا، قال: فمن يعلم موضع قبره؟ قالوا: ما ندري أين قبر يوسف إلا عجوز من بني إسرائيل، فبعث إليها فأتته فقال: دلوني لى قبر يوسف، قالت: لا والله لا أفعل حتى تعطيني حكمي، قال: وما حكمك؟ قالت: أكون معك في الجنة، فكره أن يعطيها ذلك فأوحى الله إليه أن أعطها حكمها، فانطلقت بهم إلى بحيرة موضع مستنقع ماء، فقالت: انضبوا هذا الماء فأنضبوا، قالت: احفروا واستخرجوا عظام يوسف فلما أقلوها إلى الأرض إذا الطريق مثل ضوء النهار</p>
<p>Dari Abu Musa ia berkata, seorang badwi datang kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, kemudian beliau memuliakannya dan berkata: ‘<em>kemarilah</em>‘. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>( Dalam riwayat lain, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> turun dari tunggangan beliau lalu memuliakannya. Beliau berkata kepada orang itu: ‘<em>kemarilah bersama kami</em>‘. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: )</p>
<p>“<em>Sebutlah apa yang engkau inginkan</em>“. Orang badwi menjawab: ‘Saya ingin unta dan pelananya serta kambing yang dapat diperah untuk memberi minum keluarga saya’. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> lalu bersabda:</p>
<p><em>“Apakah kalian tidak menginginkan seperti yang diinginkan oleh wanita tua dari Bani Israil?”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah siapa yang dimaksud wanita tua dari Bani Israil itu?”. Beliau berkata: “Musa ketika pergi dari Mesir bersama Bani Israil, mereka tersesat di jalan”. Musa bertanya: “Apa sebabnya menjadi begini?”. Orang-orang berilmu dari Bani Israil menjawab: “Kami beritahukan kepadamu, Nabi Yusuf ketika menjelang wafatnya membuat perjanjian dengan kami yang dipersaksikan oleh Allah, yaitu agar tidak keluar dari Mesir kecuali membawa jasad beliau bersama kami”. Musa berkata: “Kalau begitu siapa yang mengetahui dimana letak kuburnya?”. Mereka berkata: “Diantara kami tidak ada yang tahu letak makam beliau kecuali seorang wanita tua dari Bani Israil”. Lalu Musa mengutus orang untuk memanggilnya hingga wanita tersebut datang kepada Musa. Musa berkata kepada wanita itu: “Tunjukan kami letak makam Nabi Yusuf”. Wanita tersebut berkata: “Demi Allah tidak akan aku lakukan, sampai engkau mentaati ketentuanku”. Musa bertanya: ‘”Apa ketentuanmu itu?”. Wanita tersebut berkata: “Jadikan aku penghuni surga bersamamu”. Nabi Musa pun enggan memenuhinya, hingga Allah mewahyukan kepada Musa agar mentaati ketentuan tersebut. Lalu mereka pergi ke mata air dari sebuah danau. Wanita tersebut berkata: “Keringkan airnya lalu gali dan keluarkanlah jasad Nabi Yusuf”. Ketika jasadnya diangkat, jalan pun seketika menjadi jelas bagaikan terangnya siang.</em></p>
<p>(HR. Abu Ya’la dalam <em>Musnad</em>-nya 1/344, Al Hakim 2/404-405)</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong><br />
Al Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Bukhari dan Muslim”. Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Albani berkata: “Yang benar, hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Muslim saja. Karena Al Bukhari tidak mengeluarkan riwayat Yunus di dalam <em>Shahih</em>-nya, melainkan di kitabnya yang lain yaitu <em>Juz Al Aqira’ah</em>“. (<em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, 1/623)</p>
<p><strong>Faidah Hadits</strong></p>
<ol>
<li>Betapa mulianya akhlak Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>terhadap orang awam.</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>adalah pemimpin negara yang senantiasa peduli terhadap kebutuhan rakyatnya, terutama orang-orang lemah yang kurang mampu. Tidaklah tersisa harta beliau melainkan sebatas harta untuk memenuhi kewajiban sebagai suami kepada keluarganya dan harta untuk diberikan kepada orang lain. Sebagaimana sabda beliau:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا يحل للخليفة من مال الله إلا قصعتان قصعة يأكلها هو وأهله وقصعة يضعها بين يدي الناس</p>
<p>“<em>Bagi seorang khalifah, tidak halal memiliki harta dari Allah, kecuali dua piring saja. Satu piring untuk kebutuhan makannya bersama keluarganya. Dan satu piring untuk ia berikan kepada rakyatnya</em>” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah </em>no.362)</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>membimbing umat-nya agar senantiasa lebih mendambakan kebaikan akhirat dibanding kebaikan dunia semata. Umar bin Khattab <em>Radhiallahu’anhu </em>berkata:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْـحَصِيرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَـهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟</p>
<p>“<em>Ketika aku melihat bekas tikar di sisi badan beliau, aku pun menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku jawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra dan Kaisar berada dalam kemegahannya, padahal engkau adalah utusan Allah” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?</em>” (<em>Muttafaq ‘alaihi</em>)<br />
Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ</p>
<p>“<em>Tiadalah dunia dibanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.</em>” (HR. Muslim no.2858).</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>mengharapkan para sahabatnya meminta sebagaimana yang diminta oleh wanita tua dari Bani Israil, yaitu: surga. Ini menunjukkan bahwa mengharap surga itu tidaklah tercela, bukan tanda sedikitnya keikhlasan, bukan tanda rendahnya cinta kepada Allah, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang.</li>
<li>Kaum Bani Isra’il ketika itu berada di atas ilmu dan tauhid yang lurus, mereka tidak menyembah atau mengagungkan kuburan para Nabi. Mereka tidak <em>ngalap</em> <em>berkah</em> atau bertawassul dengan mayat para Nabi. Silakan simak  <a href="http://muslim.or.id/aqidah/hukum-tabarruk-kepada-orang-sholih.html">Hukum Ber-tabarruk Kepada Orang Shalih</a>.</li>
<li>Jangankan menyembah kuburan atau <em>ngalap</em> <em>berkah</em>, bahkan tidak terbesit dalam benak mereka untuk mencari tahu letak kuburan para Nabi. Yang tahu pun, ternyata tidak gembar-gembor atau dengan mudah memberi tahu letaknya. Mereka juga tidak membangun dan membuat megah kuburan tersebut. Nabi Musa dan Nabi Muhammad <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> tidak mencela mereka karena demikianlah yang seharusnya. Berbeda dengan orang-orang di zaman ini yang <em>malah</em> mencela orang-orang yang enggan mengagungkan kuburan orang shalih agar tidak dijadikan sarana kesyirikan.</li>
<li>Para Nabi tidak dapat memberi syafa’at kecuali atas izin Allah. Sebagaimana Nabi Musa tidak dapat menjamin wanita tersebut masuk surga kecuali setelah diizinkan oleh Allah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ</p>
<p>“<em>Katakanlah, hanya milik Allah lah semua syafa’at itu. Ia yang menguasai langit dan bumi dan kepada-Nya lah engkau akan kembali</em>” (QS. Az Zumar: 44)</li>
<li>Jasad para Nabi tidak hancur dimakan tanah.</li>
<li>Bukti adanya mu’jizat bagi para Nabi.</li>
<li>Wajibnya menunaikan janji, terlebih lagi perjanjian dengan para Nabi Allah.</li>
<li>Kata عظام yang artinya ‘tulang-belulang’ kadang bermakna ‘badan seutuhnya’. Jika  عظام dalam hadits di atas kita artikan  ’tulang-belulang’, maka bertentangan dengan hadits:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إن الله تعالى حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء</p>
<p>“<em>Sungguh Allah Ta’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi</em>” (HR. Abu Daud 662, dishahihkan Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em> no.1527).</p>
<p>Namun yang benar, kita maknai  عظام dengan makna  ’badan seutuhnya’ sebgaimana terdapat hadits :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بدن، قال له تميم الداري: ألا أتخذ لك منبرا يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك؟ قال: بلى فاتخذ له منبرا مرقاتين</p>
<p>“<em>Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sudah berusia senja, Tamim Ad Daari berkata kepada beliau:’Wahai Rasulullah, maukah aku ambilkan mimbar yang dapat membawa badanmu?’. Beliau berkata: ‘Boleh’. Lalu ia mengambil mimbar yang memiliki 2 anak tangga</em>” (HR. Abu Daud 1081, Al Albani berkata: “Sanadnya <em>jayyid</em>sesuai dengan syarat Muslim”).</p>
<p>Demikian penjelasan Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em> (1/624).</li>
</ol>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8555"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/kisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada Badan</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/memperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/memperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8329</guid>
		<description><![CDATA[Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16)  Rasulullah<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/memperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p style="text-align: center;">Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari an-Nu’man bin Basyir <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu para da’i yang menyerukan tauhid adalah da’i-da’i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (<strong>HR. Muslim </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya’ seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 14)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 24</strong>). Yang dimaksud ‘kalimat yang baik’ di dalam ayat ini adalah syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 425)</p>
<p>Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul<em> ‘alaihimush sholatu was salam</em>!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An’aam: 162-163</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(<strong>QS. al-Anbiyaa’: 25</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” </em>(<strong>QS. al-Ma’idah: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” </em>(<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra’d: 28</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” </em>(<strong>HR. Abu Dawud </strong>dari Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 17)</p>
<p>Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, <em>“Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”</em>. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/">Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8329"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmemperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/memperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Revolusi Timur Tengah (4)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 23:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[timur tengah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8287</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 4 Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus[1] Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong>Pelajaran 4</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><strong>Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#_ftn1"><span style="color: #0000ff;"><strong>[1]</strong></span></a></strong></span></p>
<p style="text-align: left;" align="center">Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan monarki Muhammad Amin Bay, dan mengumumkan berdirinya Republik Tunisia.</p>
<p>Bourgiba tak lupa membayar ‘hutang budi’ tadi kepada Prancis dan Barat, dengan merevolusi syariat Islam. Melalui majalah <em>al-Ahwaal asy-Syakhsiyyah</em>, ia membatalkan sejumlah hukum syar’i yang baku. Yang paling terkenal di antaranya ialah larangan berpoligami. Poligami dianggap sebagai tindak kriminal, sedangkan pelacuran dibolehkan dan bahkan dilindungi undang-undang !!</p>
<p>Ketika pemerintah Tunisia menaikkan harga roti tahun 1984, terjadilah ‘revolusi roti’. Bourgiba memanggil pulang dubes-nya di Warsawa-Polandia, yang bernama Zein el-Ebidin Ben Ali. Ben Ali diangkat sebagai Kepala keamanan nasional, lalu menjadi Mendagri, dan kemudian dilantik sebagai Perdana Menteri tahun 1987, hingga akhirnya mengkudeta Bourgiba sebulan kemudian!</p>
<p>Saya masih ingat bahwa di awal kekuasaannya, Ben Ali sering menyiarkan adzan dari Masjidil Haram Mekkah, melalui televisi Tunisia. Orang-orang yang tidak mengenalnya pun menyambut hangat ‘kebijakan’ ini, dan menganggapnya sebagai ‘pengganti baik’ sang diktator Bourgiba.</p>
<p>Ketika itu, kami masih mahasiswa. Ada seorang kyai sepuh yang demikian faham akan muslihat para tiran berkata, “Jangan terpedaya olehnya (Ben Ali), sebab dia ciptaan Prancis. Ia akan menjadi seperti pendahulunya kalau tidak lebih jahat”. Ternyata, dugaan pak Kyai tadi benar.</p>
<p>Sang diktator terus melenggang dengan segala kezhaliman dan kesewenang-wenangannya selama 23 tahun. Ia terus-menerus memerangi Islam, berlaku otoriter, dan mencekik rakyatnya.</p>
<p>Pada hari Jumat 11 Muharram 1432, seorang pemuda bernama Mohamed Bouazizi nekat membakar dirinya. Ia melakukan hal tersebut karena kesal setelah gerobak sayurnya disita aparat. Bouazizi yang menjadi pengangguran dan tak lagi mampu menafkahi keluarga, juga menerima tamparan dari seorang polisi wanita di depan umum. Tak ada seorang pun yang membelanya ketika itu. Tak lama berselang, ia pun wafat akibat luka bakarnya pada tanggal 29 Muharram.</p>
<p>Keesokan harinya, meletuslah sejumlah demonstrasi yang merayap bak api dalam sekam ke seantero Tunisia, yang kemudian menjadi revolusi nasional. Pasukan diturunkan atas perintah Sang Diktator agar memberangus dan membantai para demonstran. Akan tetapi, pasukan justru mengkhianatinya, dan berbalik melindungi rakyat dari oknum-oknum militer pendukung presiden.</p>
<p>Ben Ali pun kabur setelah keadaan semakin kacau dan tak terkendali. Pemerintahan akhirnya dipegang oleh PM Mohamed Ghannouchi, sebagai presiden sementara. Ia mengumumkan kondisi darurat, memberlakukan jam malam sejak pukul 5 sore hingga 7 pagi, dan melarang berkumpulnya tiga orang atau lebih secara mutlak.</p>
<p>Singkat cerita, di penghujung tahun 2011, terpilihlah Moncef Marzouki sebagai presiden Tunisia ke-4. Presiden yang berlatar belakang dokter ini memang terkenal sebagai pejuang HAM. Akan tetapi sayang, dalam pidato kepresidenannya, ia memuji keberhasilan Bourgiba dkk. sebagai peletak asas-asas pemerintahan modern, dan memuji keberhasilannya dalam pemerataan pendidikan, <strong>pembebasan kaum wanita</strong>, dan perbaikan taraf hidup rakyat Tunisia.</p>
<p>Sayang sekali… kepergian Ben Ali ternyata digantikan oleh orang yang berhaluan sekuler seperti ini. <em>Ala kulli haal</em>, takdir Allah pasti terjadi… dan pasti mengandung hikmah dan pelajaran di baliknya.</p>
<p><strong>Rakyat tak bisa dipaksa untuk fakir dan kafir sekaligus</strong></p>
<p>Salah satu pelajaran penting dari peristiwa ini adalah, ketika rakyat dipaksa untuk menjadi kafir dan fakir sekaligus; mereka pasti memberontak kepada penguasa. Rakyat mungkin saja ‘sabar’ untuk dijauhkan dari agama selama dunianya terjamin. Atau dijauhkan dari dunia selama agamanya terpelihara. Namun ketika keduanya dirampas, maka mustahil ia tinggal diam…</p>
<p>Ketika revolusi Prancis berhasil merampas pengaruh agama Nasrani dalam kehidupan warganya, ia mengganti mereka dengan kemakmuran dunia, sehingga rakyat Eropa pun ‘puas’ dan ‘reda’. Andai saja revolusi tersebut tidak menjamin kemakmuran dunia mereka, pastilah mereka memberontak lagi… sebab manusia tidak akan sabar jika kehilangan agama dan dunianya sekaligus.</p>
<p>Akan tetapi, banyak penguasa kaum muslimin yang mempertaruhkan kesejahteraan rakyat demi kepentingan pribadi. Mereka memberi berbagai kemudahan kepada perusahaan asing untuk menggerogoti kekayaan bangsa dan negara. Lihatlah bagaimana para pemimpin menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyatnya… Dengan dalih kerjasama, tak sedikit aset negara yang mereka jual kepada para investor. Tak cukup sampai di situ, pemerintah bahkan membuka perdagangan bebas, sehingga barang-barang impor membanjiri pasar lokal. Akibatnya, produk-produk lokal pun tak laku. Seperti kata pepatah, sudah jatuh terhimpit tangga pula. Para pengrajin yang <em>ngos-ngosan</em> mencari sesuap nasi, kini terancam jadi pengangguran. Mereka merasa terjajah di negeri sendiri, dan ironisnya: oleh bangsa sendiri.</p>
<p>Dalam kondisi seperti ini, umat Islam bisa saja bersabar menghadapi himpitan ekonomi, selama agama mereka tak dinodai. Mereka yakin, bahwa walaupun hidupnya serba susah ketika di dunia, toh Allah menjanjikan surga bagi mereka di akhirat nanti. Namun jika agama mereka dinodai, lalu kekayaan mereka dirampas… maka apa fungsinya keberadaan penguasa? Yang akan muncul hanyalah revolusi dan amuk massa, persis seperti yang terjadi di Tunisia.</p>
<p>Karenanya, gerakan <em>Sepilis</em><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#_ftn2">[2]</a> yang didukung oleh AS dan Eropa di negara-negara mayoritas muslim, harus diwaspadai. Selama ini, mereka demikian leluasa menyebarkan pemikiran busuknya lewat berbagai media massa. Dan lagi-lagi, pemerintah terkesan mendiamkan, atau bahkan merestui.</p>
<p>Para aktivis <em>Sepilis</em> sedikitpun tidak pernah memikirkan nasib rakyat. Bahkan nasib penguasa pun mereka pertaruhkan demi menyukseskan program jahat sang majikan. Mereka ibarat anjing peliharaan yang menggonggong demi kepentingan tuannya, dan bahkan siap mati demi yang memberi makan. Hal ini terbukti ketika Ben Ali yang selama ini berkhidmat demi kepentingan Prancis, justru ditolak untuk melarikan diri ke Prancis setelah terguling.</p>
<p>Prancis sama sekali tak mau menerima Ben Ali yang selama 23 tahun menjadi tangan kanannya dalam mensekulerkan rakyat Tunisia. Subhaanallaah, alangkah hinanya anjing-anjing tersebut di mata tuannya ! Ben Ali yang selama ini berjuang memberangus semua atribut Islam, mulai dari jenggot, jilbab, poligami, hingga adzan; ternyata tak mendapat tempat aman untuk berlindung dari amukan rakyatnya… tidak di Eropa, tidak pula di Amerika… namun justru di negara yang menerapkan syariat Islam yang selama ini dimusuhinya, dan itu pun dengan syarat-syarat ketat.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Bersambung…</em></p>
<div>Penulis: <a href="http://basweidan.com">Ustadz Sufyan Basweidan, Lc<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></div>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#_ftnref1">[1]</a> Disadur dari artikel berjudul (سقط طاغوت تونس.. فهل يعتبر كل طاغوت!؟) oleh Ibrahim bin Muhammad Al Haqiel, dengan banyak perombakan. Beberapa pelajaran selanjutnya juga diilhami dari artikel ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#_ftnref2">[2]</a> Singkatan dari sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-8287"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fpelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Islam di Indonesia</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 22:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8178</guid>
		<description><![CDATA[*Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala.<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>*</strong><em>Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan</em></p>
<p>Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan umat manusia sebelum mereka berselisih dan menyempal ke dalam berbagai jalan yang menyimpang.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 213</strong>)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya, ketika menjelaskan makna ayat <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat.” </em>Ibnu Abbas berkata, <em>“Mereka semuanya dahulu berada di atas Islam.”</em> Demikian juga al-Bazzar dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, <em>“Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh kurun/abad. Mereka semuanya berada di atas syari’at yang benar, kemudian mereka pun berselisih. Setelah itu Allah pun mengutus nabi-nabi.”</em> (lihat <em>Nashihah ila Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin</em> oleh Syaikh Abdullah al-Ubailan, hal. 1)</p>
<p>Itulah wajah Islam di awal mula sejarah umat manusia di atas muka bumi ini beribu-ribu tahun yang silam. Demikian pula halnya seluruh para nabi yang Allah utus, mereka sepakat dalam asas ajaran Islam yaitu tauhid; mengesakan Allah dalam beribadah. Meskipun dalam tataran syari’at bisa jadi berlainan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya’: 25</strong>).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagi masing-masing umat Kami jadikan syari’at dan jalan.”</em> (<strong>QS. al-Ma’idah: 48</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kami segenap para nabi adalah anak-anak sebapak -dengan ibu yang berbeda-, sedangkan agama kami ini adalah sama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh nabi adalah sama yaitu tauhid, meskipun syari’atnya berlainan (lihat <em>Nashihah ila Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin</em>, hal. 2)</p>
<p>Orang-orang musyrik pun memahami bahwa maksud dari dakwah para rasul itu adalah supaya masyarakat mengesakan Allah dalam beribadah. Yaitu tidak boleh menujukan ibadah kepada selain Allah, atau mempersekutukan selain-Nya dalam hal ibadah. Allah <em>ta’ala</em> menceritakan tanggapan mereka (yang artinya), <em>“Apakah dia -Muhammad-  hendak menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja?!”</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Demikian pula reaksi kaum ‘Aad terhadap dakwah Nabi Hud<em> ‘alaihis salam</em>. Mereka berkata (yang artinya), <em>“Apakah kamu datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa-apa yang disembah -secara turun temurun- oleh nenek moyang kami?!”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 70</strong>)</p>
<p>Ayat-ayat di atas menggambarkan kepada kita dengan jelas bahwa reaksi masyarakat yang menentang dakwah para rasul adalah realita di dalam sejarah internasional. Di antara alasan yang kerapkali dibawakan adalah demi mempertahankan warisan budaya nenek moyang [!]. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’. Mereka menjawab, ‘(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).’ Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 170</strong>)</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang menggelitik pikiran kita adalah; lalu bagaimana dengan konteks Indonesia? Apakah realita semacam ini juga yang terjadi? Supaya ruang lingkup pembicaraan ini tidak melebar kemana-mana maka marilah kita fokuskan dalam masalah tauhid saja; yang kita semua mengetahui bahwa ini merupakan asas ajaran agama kita.</p>
<p>Adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan berhala telah berkembang di negeri ini semenjak dahulu kala. Tidak terhitung tempat-tempat yang dianggap keramat, dijadikan sebagai tempat sesaji, demikian pula patung-patung dan candi-candi yang menandai gaya hidup paganisme yang telah mengakar di sebagian masyarakat. Tidak sedikit sosok mistis yang diagung-agungkan dan dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan. Benda-benda ‘sakti’ dan pusaka pun dikeramatkan. Berbagai ritual persembahan pun dilakukan. Entah yang berlokasi di atas gunung, di tengah kota, di pedesaan, sampai pun di pesisir pantai. Tradisi yang erat dengan keyakinan nenek moyang, yang terwarnai oleh kesyirikan (silahkan baca sebuah buku menarik berjudul <em>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</em> tulisan H. Willyuddin A.R. Dhani, S.Pd)</p>
<p>Sayangnya, sebagian kalangan yang disebut-sebut sebagai intelektual muslim -sadar ataupun tidak- ‘menutup-nutupi’ realita pahit ini dengan kedok menjaga kebhinekaan bangsa [?!] Dengan cara-cara yang halus dan samar mereka menolak arus pemurnian yang diserukan oleh para da’i -di antaranya dipelopori oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, Tuanku Imam Bonjol, dan tokoh yang lainnya- untuk membersihkan kehidupan masyarakat dari berbagai bentuk takhayul, bid’ah dan churafat (TBC). Yang dalam bahasa kita sekarang bisa diungkapkan dengan slogan <em>‘Memurnikan Aqidah dan Menebarkan Sunnah’</em>… Seolah-olah perjuangan yang dilakukan oleh para kyai dan da’i tersebut adalah gerakan ekstrem yang <strong>agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian</strong> (lihat tuduhan ini dalam kata pengantar KH. Abdurrahman Wahid; <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 20)</p>
<p>Tidak berhenti di situ saja, mereka -kaum liberal- pun menuduh gerakan dakwah tauhid sebagai proyek Wahabisasi global. Yang kita bicarakan di sini, bukanlah gerakan tarbiyah yang diusung oleh kader-kader salah satu partai politik di negeri ini (tidak perlu kami sebutkan karena sudah sangat populer). Bukan pula gerakan politik ala kelompok dakwah yang senantiasa mendengung-dengungkan khilafah sebagai solusi atas segala problematika umat. Bukan pula sekelompok rakyat sipil yang gemar melakukan penggrebekan tempat-tempat maksiat dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Bukan itu yang kita maksudkan. Pembicaraan mengenai ketiga kelompok itu ada tempatnya tersendiri.</p>
<p>Sesungguhnya yang menjadi sasaran utama serangan propaganda ini adalah dakwah tauhid yang mereka gelari dengan sebutan <strong>Wahabi</strong>. Orang awam tentu akan merasa ngeri dengan istilah-istilah menakutkan yang dimunculkan oleh para pengusung pemikiran liberal ini. Di antara istilah yang sering dipakai adalah istilah <strong>kelompok garis keras</strong>. Gus Dur berkata, <em>“…Kami berpedoman pada paham Ahlussunnah wal Jama’ah, sementara mereka -kelompok garis keras- mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 21-22). Di bagian lain dari buku ini pun mereka mengamini penyebutan Wahabi sebagai <strong>reinkarnasi <em>Khawarij</em></strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 100)</p>
<p>Bukan itu saja tuduhan yang mereka lemparkan. Dengan begitu berapi-apinya mereka menjauhkan umat dari dakwah tauhid ini dengan dalih menyelamatkan umat dari cengkeraman <strong>Wahabisasi Global</strong> dan dalam rangka mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam yang telah ternodai. Gus Dur kembali melemparkan fitnahnya, <em>“… Arus dana Wahabi yang tidak hanya membiayai terorisme tetapi juga penyebaran ideologi dalam usaha wahabisasi global juga nyaris luput dari perhatian publik. Selama ini, arus dana Wahabi ke Indonesia tidak mendapat perhatian publik secara serius, padahal dari sinilah fenomena infiltrasi -penyusupan- paham garis keras memperoleh dukungan dan dorongan yang luar biasa kuat sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan banyak agennya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 36)</p>
<p>Di dalam catatan kaki buku tersebut pun disebutkan sebuah ‘berita’ yang terkesan sangat mengerikan dan mengancam umat Islam di berbagai belahan penjuru dunia. Dalam hal ini mereka telah berterus terang bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi itu adalah Arab Saudi. Mereka berkata, <em>“Aktivitas Saudi di Indonesia hanya merupakan bagian kecil dari kampanye senilai US $ 70.000.000.000,- selama kurun waktu antara 1979-2003 untuk menyebarkan sekte fundamentalis Wahabi di seluruh dunia. Usaha-usaha dakwah Wahabi yang terus meningkat ini merupakan “kampanye propaganda terbesar di seluruh dunia yang pernah dilakukan -anggaran propaganda Soviet pada puncak Perang Dingin menjadi sangat kecil dibandingkan belanja propaganda Wahabi ini.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Tidak aneh jika mereka terkesan menyejajarkan ‘bahaya’ Wahabi ini dengan bahaya laten Komunis! Gus Dur menyebut Wahabisasi sebagai gerakan yang merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada [?] (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39).</p>
<p>Gus Dur juga berkata, <em>“Dengan balutan jubah dan jenggot Arab yang ditampilkan, yang oleh beberapa pihak telah dipandang lebih tampak seperti preman berjubah, mereka ingin menunjukkan seolah-olah pandangan ekstrem yang mereka teriakkan dan paksakan memang benar-benar merupakan pesan Islam yang harus diperjuangkan. Padahal, mereka merusak agama Islam dan bertanggung jawab atas banyaknya kekerasan yang mereka lakukan atas nama Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Dan kita sebagai umat Islam harus menanggung malu atas perbuatan mereka.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Semakin lengkap sudah gelaran buruk yang disematkan oleh mereka kepada Wahabi agar umat benar-benar menjauhi dakwah mereka…</p>
<p>Para peneliti yang menulis buku tersebut ingin menjelaskan kepada kita apa sesungguhnya yang mereka maksud dengan istilah Wahabi. Coba kita simak propaganda mereka! Dengan fasihnya mereka berkata, <em>“Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 62). Di bagian lain buku ini, mereka semakin mempertegas bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi tidak lain adalah <strong>Salafi</strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 95). Apa yang tertanam dalam pikiran orang yang membaca definisi di atas? Ya… Wahabi itu keras dan kaku… Betapa keji tuduhan yang mereka lemparkan! Mereka juga mengatakan, <em>“Islam yang sangat apresiatif dan penuh perasaan dalam merespon permasalahan umat, di tangan Ibn ‘Abdul Wahhab berubah menjadi tak peduli, keras, dan tak berperasaan.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 63)</p>
<p>Demikianlah, kedustaan seolah-olah telah menjadi sedemikian murah-meriah bagi para pengusung pemikiran liberal ini. Dengan entengnya mereka mengatakan tentang Wahabi, <em>“Setiap Muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik ajaran Islam yang persis seperti Wahabi dianggap murtad, karenanya perang dibolehkan, atau bahkan diwajibkan, terhadap mereka…”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 67). <em>Maha suci Allah, sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar!</em></p>
<p>Sudah banyak bantahan ilmiah dan santun untuk tuduhan-tuduhan ‘emosional’ semacam ini. Padahal, dakwah salafiyah beserta para ulamanya -yang dijuluki ‘Wahabi’ dalam rangka membuat orang lari darinya- berlepas diri dari segala tuduhan keji tersebut. Salafiyah itu sendiri adalah ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Sebuah ajaran yang menebarkan rahmat bagi semesta alam. Ajaran yang memberikan bimbingan bagi umat manusia dalam segala sudut kehidupan. Ajaran yang sempurna, yang diturunkan oleh Rabb penguasa alam semesta.</p>
<p>Erat kaitannya dengan tema awal tulisan ini, yaitu menyoroti dakwah tauhid sebagai seruan yang mendapatkan penentangan dari umat para rasul, dan apakah fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Maka, perkenankanlah kami untuk menunjukkan kepada segenap pembaca sebuah penafsiran aneh bin ajaib yang dilakukan oleh para penyusun buku <em>Ilusi</em> yang telah berulang kali kita singgung dalam tulisan ini. Sebuah penafsiran yang lebih tepat disebut sebagai pemerkosaan terhadap dalil agama yang suci dan suatu kekeliruan fatal dalam memahami maksud firman Allah dan sabda Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Satu bukti ini saja sudah cukup membuktikan kepada kita seperti apa sebenarnya pemahaman mereka tentang aqidah Islam. <em>Allahul musta’aan</em>…</p>
<p>Mereka -dengan tanpa rasa malu- memberikan penjelasan sebagai berikut: “Dalam hubungannya dengan agama-agama lain, dengan indah Nabi -<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen</em>- menuturkan, <em>“Nahnu abna’u ‘allat, abuna wahid wa ummuna syatta”</em> (Kami [para rasul] adalah anak-anak para istri dari seorang laki-laki, ayah kami satu namun ibu kami banyak). Dalam keluarga umat manusia, para rasul mempunyai ayah (agama) yang sama yakni Islam (dalam arti berserah diri kepada Tuhan), namun mempunyai ibu (<em>syi’rah wa minhaj</em>) yang banyak/berbeda-beda.” Kemudian mereka menyimpulkan hadits itu dengan licik, <em>“Ini adalah pengakuan atas pluralisme, dan inilah yang ditolak oleh kelompok garis keras.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 102-103)</p>
<p>Penjelasan di atas mengandung banyak kontradiksi dan kerancuan, di antaranya:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Pertama:</strong></span></p>
<p>Mereka membawakan hadits tersebut dalam konteks hubungan Islam dengan agama-agama lain. Padahal, sebagaimana bisa kita saksikan bersama bahwa sesungguhnya hadits tersebut tidak membicarakan hubungan antara Islam dengan agama-agama lain. Karena sebagaimana disebutkan dalam hadits ini -mungkin mereka enggan untuk menampilkannya secara tegas dan lengkap- bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Agama kami -para rasul- adalah satu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Dari sini kita mengetahui bahwa hadits ini berbicara mengenai agama para nabi itu adalah Islam, walaupun syari’atnya berlainan, namun pokoknya adalah sama yaitu tauhid (silahkan baca juga <strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Jadi, hadits ini bukan berbicara tentang agama selain Islam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Kedua:</strong></span></p>
<p>Penyelewengan penafsiran di atas tidak lain muncul dari kerancuan mereka dalam memahami makna Islam. Oleh sebab itu mereka memberikan penjelasan di dalam tanda kurung tentang Islam yang menjadi agama para rasul itu, dalam pandangan mereka. Islam, dalam arti <strong>berserah diri kepada Tuhan</strong>, demikian penafsiran mereka. Inilah kebiasaan buruk para pemuja pemikiran liberal! Mereka menuduh orang lain kaku dan tekstualis dalam menafsirkan dalil. Sementara dalam kasus-kasus tertentu, mereka justru lebih tekstualis dan lebih kaku dalam memahami dalil.</p>
<p>Lihatlah, dalam memaknai Islam di sini mereka mencukupkan diri dengan makna bahasanya saja. Yaitu Islam dengan pengertian berserah diri kepada Tuhan, sebuah penafsiran yang teramat sempit dan bahkan tidak jelas. Konsekuensi dari penafsiran mereka ini adalah pemeluk agama apa pun adalah muslim, selama mereka berserah diri kepada Tuhan. Padahal, kalau kita mau sedikit saja membuka cakrawala, menelaah ayat-ayat dan hadits-hadits lain, atau kalau sempat <em>ya</em> membaca tafsir para ulama kita terdahulu, akan tampak dengan jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Islam di sini bukan sekedar berserah diri kepada Tuhan!</p>
<p>Dalam al-Qur’an, ayat semacam itu banyak kita temukan. Di antaranya sudah kami sebutkan di depan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya’: 25</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat, seorang rasul -yang mengajak-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima, dan dia di akhirat akan termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>)</p>
<p>Demikian pula di dalam hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, akan kita temukan penjelasan-penjelasan yang gamblang tentang apa hakikat dari Islam yang sekarang ini diwajibkan -bukan dipaksakan- oleh Allah <em>ta’ala</em> kepada umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaran [Islam] yang aku bawa, kecuali dia pasti termasuk penghuni Neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi kemudian menanyakan tentang makna Islam, Iman, dan Ihsan. Semuanya telah diterangkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan gamblang. Sudah selayaknya para cendekiawan itu kembali merenungi perkataan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan lebih mempercayainya daripada ucapan kaum Orientalis dan para pakar filsafat yang senantiasa dirundung oleh keragu-raguan.</p>
<p>Demikian pula di dalam tafsir para ulama tentang <em>Shirathal Mustaqim</em> (jalan yang lurus). Akan kita dapati bahwa hakikat jalan yang lurus itu -pada zaman kita sekarang ini- hanya ada pada agama Islam yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Di antara penafsiran <em>Shirathul Mustaqim</em> yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir adalah: [1] Mengikuti Allah dan Rasul, [2] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah Kitabullah (al-Qur’an), [3] Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan para sahabat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah agama Islam, [4] Mujahid menafsirkan jalan yang lurus itu dengan kebenaran, [5] Menurut Abul ‘Aliyah, maksudnya adalah jalan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kedua sahabatnya -Abu Bakar dan Umar-. Semua penafsiran ini adalah benar dan tidak bertentangan. Bahkan, di dalam hadits yang sahih telah ditegaskan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa Yahudi sebagai golongan yang dimurkai/<em>al-maghdhubi ‘alaihim</em>, sedangkan Nasrani sebagai golongan yang sesat/<em>adh-dhallin</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [1/36-39])</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Ketiga:</strong></span></p>
<p>Mereka -setelah terjatuh dalam berbagai kerancuan- akhirnya menarik sebuah kesimpulan yang merupakan komplikasi akibat kerancuan-kerancuan yang mengendap sebelumnya, bahwa hadits tersebut -para nabi itu saudara seayah dan berbeda ibu- menjadi sebuah pengakuan (pembenaran) atas pluralisme yang mereka gembar-gemborkan dengan segala pengorbanan. Sungguh memalukan, sekaligus realita yang teramat pahit dan memilukan! Lalu siapakah sebenarnya orang yang rela menjual agamanya kalau demikian kenyataannya?</p>
<p>Sebagai penutup, ada sedikit pesan untuk para pemuda yang begitu bersemangat membela Islam dan bertekad untuk menerapkannya di segala lini kehidupan namun tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih dalam dakwahnya. Ketahuilah, bahwa kesan negatif yang muncul mengenai dakwah Islam itu -berupa kekerasan dan sikap-sikap yang tidak bijak- adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri muncul dari sebagian kaum muslimin yang tidak paham terhadap ajaran agamanya. Padahal, jika kita tulus dan serius mengikuti jalan tauhid ini niscaya kita akan menemukan wajah Islam yang sesungguhnya. Wajah yang mulia dan membuat bangga pemeluknya. <em>Allahul musta’aan</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/">Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.musliml.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8178"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fwajah-islam-di-indonesia.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

