<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Tasawuf</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/tasawuf/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 11:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Bolehkah Seorang Wali Meninggalkan Ajaran Agama?</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/bolehkah-seorang-wali-meninggalkan-ajaran-agama.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/bolehkah-seorang-wali-meninggalkan-ajaran-agama.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Mar 2012 03:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[hakekat]]></category>
		<category><![CDATA[ma'rifat]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[wali]]></category>
		<category><![CDATA[wali Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8607</guid>
		<description><![CDATA[Ada orang yang beranggapan bahwa sebagian orang yang dianggap wali boleh meninggalkan perkara yang wajib, seperti shalat, atau boleh melakukan hal yang dilarang dalam agama, karena mereka dianggap mengetahui hakikat dari ajaran Islam, atau mereka<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/bolehkah-seorang-wali-meninggalkan-ajaran-agama.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Ada orang yang beranggapan bahwa sebagian orang yang dianggap wali boleh meninggalkan perkara yang wajib, seperti shalat, atau boleh melakukan hal yang dilarang dalam agama, karena mereka dianggap mengetahui hakikat dari ajaran Islam, atau mereka dianggap mendapat ‘ilham’ dari Allah yang mengizinkan mereka melakukan hal-hal tersebut. Kita, orang-orang biasa, seolah ‘haram’ memprotes perbuatan <em>nyeleneh</em> sang wali karena kita sebagai orang biasa dianggap tidak mengetahui hakikat dibalik perbuatan sang wali tersebut. Bahkan ketika sang &#8216;wali&#8217; sengaja tidak shalat pun tetap dibela karena dianggap ada &#8216;ilham&#8217; dari Allah yang mendasari perbuatannya itu. <em>Allahul Musta&#8217;an</em>.</p>
<p>Biasanya mereka memberi contoh kasus Nabi Khidir <em>‘alaihissalam</em>. Nabi Khidir membocorkan perahu dan membunuh seorang anak, yang tentu menurut syariat yang dibawa Nabi Musa ketika itu adalah perbuatan maksiat, namun dibalik perbuatan Nabi Khidir tersebut ternyata beliau diberi ilham oleh Allah untuk melakukannya. Dan ketika Nabi Khidir melakukan perbuatan tersebut, Nabi Musa <em>‘alaihissalam</em> tidak mengetahui alasan yang mendasari perbuatan ‘maksiat’ tersebut.</p>
<p>Menjelaskan hal ini, Syaikh Abdullah Al Faqih <em>hafizhahullah</em> berkata:</p>
<p>“Khidir adalah seorang Nabi yang diberi wahyu oleh Allah berupa ilmu yang tidak diketahui oleh Nabi Musa <em>‘alaihissalam</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">فَوَجَدَا عَبْداً مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْماً</p>
<p>‘<em>Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami</em>‘ (QS. Al Kahfi: 65)</p>
<p>Kemudian Nabi Khidir menceritakan alasan-alasan atas hal-hal yang Nabi Musa tidak bersabar dalam menghadapinya dan berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;"> وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي</p>
<p>‘<em>Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya</em>‘ (QS. Al Kahfi: 82)</p>
<p>Syariat Nabi Musa <em>‘alahissalam</em> ketika itu tidak berlaku untuk seluruh manusia. Tidak sebagaimana syari’at yang dibawa Nabi Muhammad <em>shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Sehingga Nabi Khidir diperkenankan untuk tidak mengikuti syari’at Nabi Musa.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إن موسى عليه السلام لم تكن دعوته عامة ولم يكن يجب على الخضر اتباع موسى عليهما السلام، بل قال الخضر لموسى إني على علم من الله علمنيه الله ما لا تعلمه وأنت على علم من الله علمكه الله لا أعلمه</p>
<p>‘Dakwah Musa <em>alaihissalam</em> tidak kepada seluruh manusia, dan Nabi Khidir termasuk yang tidak wajib untuk mengikuti syariat Nabi Musa <em>‘alaihissalam</em>. Bahkan Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa: ‘Aku melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah kepada saya, yang engkau tidak tahu. Dan engkau melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadamu, yang aku tidak tahu’  (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 27/59).</p>
<p><em>Wallahu’alam</em>“.</p>
<p>[ Sumber: <a href="http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&amp;Id=37719&amp;Option=FatwaId">http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&amp;Id=37719&amp;Option=FatwaId</a> ]</p>
<p>Adapun setelah Nabi Muhammad <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> diutus, seluruh manusia wajib mengikuti syari’at yang beliau bawa, tanpa kecuali. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ</p>
<p>“<em>Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia</em>” (QS. Al Anbiya: 107)</p>
<p>Sehingga tidak ada ‘wali’ yang halal untuk meninggalkan perkara yang wajib atau melakukan perkara yang haram, ia wajib tunduk kepada ajaran agama. Kita tidak meraguan kewalian Nabi Muhammad <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, bahkan beliau adalah <em>Khalilullah</em>. Namun sampai beliau wafat, sama sekali beliau tidak melanggar atau meninggalkan syariat yang telah beliau tetapkan dan ajarkan kepada ummatnya.</p>
<p>Selain itu, ajaran Islam sudah sempurna, tidak mungkin ada penambahan, pengurangan atau pengubahan ajaran agama yang dikirimkan oleh Allah melalui ‘ilham’, wangsit, atau mimpi dari salah seorang manusia setelah Nabi Muhammad <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً</p>
<p>“<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu</em>” (QS. Al Maidah: 3)</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="shr-publisher-8607"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbolehkah-seorang-wali-meninggalkan-ajaran-agama.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/bolehkah-seorang-wali-meninggalkan-ajaran-agama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Nabi, Do&#8217;a Terbaik</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/doa-nabi-doa-terbaik.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/doa-nabi-doa-terbaik.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 05:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3909</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh indah apa yang dinyatakan oleh Imam Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al Qurthubi rahimahullah, beliau mengatakan, فَعَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَسْتَعْمِلَ مَا فِي كِتَابِ اللهِ وَصَحِيْحِ السُّنَّةِ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَاهُ وَلاَ يَقُوْلُ<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/doa-nabi-doa-terbaik.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong> </strong>Sungguh indah apa yang dinyatakan oleh Imam Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al Qurthubi <em>rahimahullah</em>, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">فَعَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَسْتَعْمِلَ مَا فِي كِتَابِ اللهِ وَصَحِيْحِ السُّنَّةِ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَاهُ وَلاَ يَقُوْلُ أَخْتَارُهُ كَذَا فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اخْتَارَ لِنَبِيِّهِ وَأَوْلِيَائِهِ وَعَلَّمَهُمْ كَيْفَ يَدْعُوْنَ</p>
<p><em>”Seyogyanya seorang menggunakan do’a-do’a yang tercantum dalam Al Qur-an dan berbagai hadits yang shahih (valid berasal dari nabi-peny) serta meninggalkan berbagai do’a yang tidak bersumber dari keduanya. Janganlah ia mengatakan, “Saya telah memilih do’a</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn2">[2]</a><em> sendiri (untuk diriku)”, karena Allah ta’ala telah memilihkan dan mengajarkan berbagai do’a kepada nabi dan para wali-Nya (dalam Al Qur-an dan sunnah nabi-Nya) ”</em>.<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Wejangan dan Kritik</strong></span></p>
<p>Perkataan beliau di atas merupakan wejangan sekaligus kritikan. Merupakan wejangan, karena beliau menasihati kita sebagai kaum muslimin untuk menggunakan berbagai do’a yang bertebaran di dalam Al Quran dan hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang shahih, karena berbagai do’a yang tercantum di dalam dua sumber tersebut merupakan wahyu yang nihil dari kesalahan.</p>
<p>Perkataan beliau juga merupakan kritik bagi kita yang terkadang lebih mengedepankan do’a-do’a buatan yang tidak bersumber dari keduanya. Terkadang, dalam meminta kebaikan kepada-Nya, atau memohon agar dihindarkan dari keburukan, kita lebih memprioritaskan penggunaan do’a yang diperoleh dari guru-guru spiritual, mengesampingkan do’a-do’a yang besumber dari Al Quran dan hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Al Qadhi ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Allah menginginkan untuk diminta dan Dia telah memberitahukan (berbagai macam) do’a di dalam kitab-Nya kepada makhluk-Nya. Begitu pula dengan nabi, beliau telah mengajar umatnya berbagai bentuk do’a. Do’a-do’a tersebut mengandung tiga hal, yaitu<span style="text-decoration: underline;"> ilmu tauhid, ilmu bahasa, dan nasihat </span>kepada umat ini. Oleh karena itu, seorang tidak boleh berpaling dari do’a yang diajarkan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Sangat disayangkan saat ini), syaithan telah memperdaya manusia dari kedudukan yang agung ini, dia mendatangkan orang-orang jahat yang merekayasa berbagai do’a buatan untuk mereka, sehingga mereka pun sibuk untuk mengerjakan berbagai do’a tersebut dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn4">[4]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Do’a Nabi, Do’a Terbaik </strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai pribadi yang paling mengenal Allah, tentulah merupakan pribadi yang paling tahu kebaikan apa yang paling pantas diminta kepada Rabb-nya, demikian pula beliau tentulah mengetahui bentuk keburukan yang paling pantas untuk dihindari. Dengan demikian, seorang muslim tatkala meminta kebaikan kepada Allah dalam do’anya, hendaknya dia meminta sebagaimana permintaan rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Demikian pula tatkala dia memohon perlindungan dari keburukan, hendaklah dia meminta layaknya nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meminta perlindungan kepada Allah <em>ta’ala</em>.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وينبغى للخلق أن يدعوا بالأدعية الشرعية التى جاء بها الكتاب والسنة فان ذلك لا ريب فى فضله وحسنه وأنه الصراط المستقيم صراط الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا</p>
<p><em>“Manusia sepatutnya berdo’a dengan berbagai syar’i yang terdapat dalam Al Quran dan sunnah, karena tidak disangsikan lagi akan keutamaan dan kebaikannya. Sesungguhnya itulah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Beliau juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ فَالْأَدْعِيَةُ وَالْأَذْكَارُ النَّبَوِيَّةُ هِيَ أَفْضَلُ مَا يَتَحَرَّاهُ الْمُتَحَرِّي مِنْ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَسَالِكُهَا عَلَى سَبِيلِ أَمَانٍ وَسَلَامَةٍ وَالْفَوَائِدُ وَالنَّتَائِجُ الَّتِي تَحْصُلُ لَا يُعَبِّرُ عَنْهُ لِسَانٌ وَلَا يُحِيطُ بِهِ إنْسَانٌ وَمَا سِوَاهَا مِنْ الْأَذْكَارِ قَدْ يَكُونُ مُحَرَّمًا وَقَدْ يَكُونُ مَكْرُوهًا وَقَدْ يَكُونُ فِيهِ شِرْكٌ مِمَّا لَا يَهْتَدِي إلَيْهِ أَكْثَرُ النَّاسِ</p>
<p><em>”Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dan do’a termasuk ibadah yang utama dan ibadah terbangun di atas pondasi tauqif  (terima jadi dari pembuat syari’at-peny) dan ittiba’ (mengikuti aturan syari’at-peny), bukan mengikuti keinginan pribadi dan ibtida’ (membuat-buat sendiri). Dengan demikian berbagai do’a dan dzikir yang dituntunkan oleh nabi merupakan bentuk yang terbaik. Orang yang mengikuti tuntunan nabi dalam berdo’a dan berdzikir berada di atas jalan keamanan dan keselamatan. Berbagai faedah dan buah yang dipetik (oelehnya) tidak dapat diungkapkan oleh lisan dan tidak dapat diketahui oleh manusia. Adapun berbagai dzikir selain yang dituntunkan nabi terkadang berstatus haram, makruh atau bahkan berstatus kesyirikan (yang sangat disayangkan) betapa banyak orang yang tidak memperoleh petunjuk dalam hal ini.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: center;">Satu pertanyaan penting yang patut dijawab,</p>
<p style="text-align: center;"><em>“<strong>Bagaimana bisa seorang muslim meninggalkan berbagai keutamaan dan kebaikan yang telah nyata terdapat dalam do’a-do’a yang tercantum dalam Al Quran dan lebih mengutamakan untuk memanjatkan do’a kepada-Nya dengan berbagai do’a yang dibuat-buat oleh tuan guru, kyai, ustadz, dan semisalnya, padahal belum jelas keutamaan dan kebaikan dari do’a mereka tersebut?!”</strong></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Nabi dan Sahabat pun Memperhatikan</strong></span></p>
<p>Perhatian terhadap penggunaan berbagai lafadz do’a yang syar’i juga dapat kita petik dari tindakan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat. Mereka pun turut mengingkari penggunaan do’a-do’a yang direkayasa karena mengandung <em>mudharat</em>. Berikut beberapa contoh akan hal tersebut:</p>
<ul>
<li>Di dalam hadits diterangkan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengajarkan do’a kepada para sahabatnya sebagaimana beliau mengajarkan satu surat kepada mereka<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn7">[7]</a>. Beliau mengajarkan mereka untuk memperhatikan pengucapan huruf, urutan kata di dalam do’a, melarang mereka untuk menambahi atau mengurangi, menghimbau untuk mempelajari dan menjaga lafadz do’a yang diajarkan beliau.<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn8">[8]</a></li>
<li>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menjenguk seorang yang sakit mendadak sehingga badannya pun melemah. Maka nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bertanya, <em>“Apakah engkau berdo’a atau meminta dengan lafadz do’a tertentu?”</em> Pria tersebut menjawab, “<em>Benar, saya memanjatkan do’a dengan lafadz berikut: “Wahai Allah, segala adzab yang Engkau sediakan untukku di akhirat, segerakanlah di dunia ini.”</em> Nabi pun berkata, <em>“Subhanallah, engkau tidak akan mampu memikulnya, mengapa engkau tidak mengucapkan, “Wahai Allah berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka.” </em>Anas mengatakan, <em>“Pria tersebut berdo’a dengan do’a tersebut dan Allah pun memberi kesembuhan kepadanya.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn9">[9]</a></li>
</ul>
<p>Perhatikan! Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menegur sahabat di atas karena do’a yang dipanjatkannya, do’a yang murni berasal dari dirinya sendiri mengandung kemudharatan meski motivasi sahabat memanjatkan do’a tersebut dikarenakan rasa takut beliau terhadap siksaan di akhirat kelak.</p>
<ul>
<li>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengajari sahabat Al Barra bin ‘Azib <em>radhiallahu ‘anhu</em> do’a tidur dengan lafadz berikut,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِى إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ ، رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ</p>
<p><em>“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu,menghadapkan wajahku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari ancaman-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.”</em></p>
<p>Ketika Al Barra mencoba menghafal do’a di atas, beliau keliru dan mengganti lafadz [نَبِيِّكَ] dengan   [رَسُولِكَ], nabi pun menegur dan mengoreksinya.<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn10">[10]</a> Hal ini menunjukkan perhatian nabi terhadap penggunaan do’a yang sesuai dengan tuntunan beliau, tanpa disertai tambahan dan pengurangan.</p>
<p>Imam Ibnu Hajar Al Asqalani <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وأولى ما قيل في الحكمة في رده صلى الله عليه وسلم على من قال الرسول بدل النبي ان ألفاظ الأذكار توقيفية ولها خصائص وأسرار لا يدخلها القياس فتجب المحافظة على اللفظ الذي وردت به</p>
<p><em>“Hikmah yang paling utama dari tindakan penolakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang mengucapkan lafadz rasul sebagai ganti lafadz nabi bahwasanya lafadz-lafadz dzikir adalah tauqifiyah (harus mengikuti dalil, ed) dan memiliki berbagai kekhususan dan rahasia yang tidak bisa diketahui oleh akal, sehingga wajib menggunakan berbagai lafadz do’a yang disyari’atkan (baca: terdapat dalam Al Quran dan sunnah).”<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn11"><strong>[11]</strong></a> </em></p>
<ul>
<li>Para sahabat justru mendatangi nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan meminta beliau untuk mengajarkan do’a kepada mereka, padahal mereka adalah kaum yang berilmu dan fasih dalam berbahasa. Tengoklah permintaan Abu Bakr ash shiddiq <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang meminta nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk mengajarkan sebuah do’a untuk dia ucapkan di dalam shalat.<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn12">[12]</a></li>
<li>Imam Ahmad meriwayatkan dan selainnya dari Abdullah bin Mughaffal <em>radhiallahu ‘anhu</em>, dia mendengar anaknya tengah bermunajat dengan do’a berikut,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا</p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu istana putih di surga bagian kanan jika aku memasukinya.”</em></p>
<p>Abdullah bin Mughaffal pun mengoreksi anaknya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">أَىْ بُنَىَّ سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّهُ سَيَكُونُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ</p>
<p><em>“Wahai anakku, cukup engkau meminta jannah kepada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Sesungguhnya aku mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada sekelompok orang dari umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdo’a.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Perhatikan pengingkaran Ibnu Mughaffal <em>radhiallahu ‘anhu</em> terhadap do’a yang dipanjatkan anaknya, yang merupakan hasil rekayasa sang anak. Hal ini menunjukkan pada kita, do’a yang tidak bersumber dari Al Quran dan sunnah rentan keliru.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dampak Negatif Penggunaan Do’a dan Dzikir yang Diada-adakan </strong></span></p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq <em>hafizhahullah</em> mengatakan, <em>“Barangsiapa yang merenungkan realitas sebagian kaum muslimin, terlebih mereka yang berafiliasi kepada sebagian tarekat sufi, akan menjumpai bahwa mereka sibuk mengerjakan berbagai macam dzikir dan do’a yang diada-adakan (baca: bid’ah). Mereka pun membacanya siang dan malam, sepanjang pagi dan petang. Dengan sebab itu, mereka pun meninggalkan (do’a-do’a) yang terdapat dalam Al Quran, berpaling dari berbagai do’a yang berasal dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap tarekat memiliki wirid-wirid khusus yang dibaca dengan metode tertentu, sehingga setiap tarekat sufi memiliki kumpulan wirid dan hizb khusus, setiap kelompok saling membanggakan wirid dan hizib yang dimiliki dan berkeyakinan bahwa wirid tersebut lebih afdhal daripada wirid yang dimiliki tarekat sufi yang lain.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn14"><em><strong>[14]</strong></em></a></p>
<p>Serupa dengan penuturan Syaikh Abdurazzaq, pemaparan yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad al Khidr bin Mayabi Asy Syinqithi dalam kitab beliau <em>“Musytahil Kharifil Janni fii Raddi Zalaqaatit Tijanil Janni”</em>, tatkala membantah kaum sufi Tijani.</p>
<p>Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya mereka (kaum Tijani) gemar terhadap sesuatu yang asing (yang tidak berasal dari agama ini, pent-). Oleh karena itu, anda dapat melihat mereka lebih senang untuk bershalawat dengan menggunakan lafadz-lafadz shalawat yang terdapat dalam kitab Dalaa-iul Khairaat dan yang semisalnya, padahal sebagian besar riwayat tersebut tidak memiliki sanad yang shahih. Anda pun dapat melihat mereka benci untuk menggunakan berbagai lafadz shalawat yang diriwayatkan secara shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tercantum dalam Shahih Bukhari. Tidak akan anda temui seorang pun dari para ulama yang berwirid dengan lafadz-lafadz shalawat dari kitab tersebut (Dalaa-ilul Khairaat-pent). Perbuatan yang mereka lakukan itu tidak lain disebabkan karena kegemaran mereka terhadap sesuatu yang asing (bid’ah). Adapun jika kebenaran itu terlihat, tentulah seorang yang berakal, terlebih seorang ulama, tidak akan berpaling dari lafadz shalawat yang shahih dan berasal dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dirinya malah beralih kepada lafadz shalawat yang tidak terdapat dalam hadits shahih, atau bahkan beralih pada lafadz shalawat yang bersumber dari mimpi-mimpi orang yang sekilas terlihat shalih.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn15"><em><strong>[15]</strong></em></a></p>
<p>Demikianlah keadaan kaum muslimin yang terjadi saat ini. Mereka lebih mengutamakan do’a dan dzikir yang diajarkan dan dituntunkan oleh syaikh, guru, ustadz, atau kyai mereka tanpa memperhatikan bersumber dari mana do’a dan dzikir tersebut. Padahal sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> jelas merupakan suatu keburukan dan memiliki dampak negatif. Tidak terkecuali dengan berbagai ragam do’a dan dzikir bid’ah ini. Diantara dampak negatif hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Do’a dan dzikir yang bid’ah tidak mampu memenuhi tujan peribadatan, yaitu menyucikan dan membersihkan hati dari berbagai kotoran, tidak mampu menyembuhkan berbagai penyakit yang bersarang di dalam hati, apatah lagi mendekatkan hati kepada sang Pencipta. Berbeda halnya dengan do’a dan dzikir yang bersumber dari Al Quran dan hadits yang shahih, do’a dan dzikir yang bersumber dari keduanya merupakan obat yang sangat berguna untuk menghilangkan berbagai kotoran dan penyakit di dalam hati. Dengan demikian orang yang lebih memilih untuk menggunakan berbagai do’a dan dzikir yang bid’ah, adalah mereka yang lebih memilih sesuatu yang hina sebagai ganti dari sesuatu yang lebih baik.</li>
</ul>
<ul>
<li>Do’a dan dzikir bid’ah tersebut menjadikan pelakunya terluput dari pahala besar yang disediakan bagi mereka yang konsisten mengerjakan dan menerapkan dengan benar berbagai do’a dan wirid yang bersumber dari Al Quran dan sunnah. Mereka yang mengerjakan berbagai do’a dan dzikir bid’ah tersebut tidak mendatangkan pahala dan manfaat bagi, justru mereka memperoleh kemurkaan Allah <em>ta’ala</em> atas perbuatannya tersebut.</li>
</ul>
<p dir="rtl">
<ul>
<li>Do’a yang diada-adakan (bid’ah) bertentangan dengan syari’at, oleh karenanya sangat sulit terkabul, padahal tujuan dari berdo’a adalah agar permohonan kita dikabulkan. Mengapa do’a yang bid’ah tertolak? Karena nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak dituntunkan dalam agama, maka amalannya tersebut tertolak.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn16">[16]</a></p>
<ul>
<li>Berbagai do’a dan dzikir yang bid’ah pada umumnya mengandung berbagai perkara yang mungkar, entah karena dipraktekkan dengan keliru dan tidak pada tempatnya, sebagai perantara kesyirikan, mengandung tawassul bid’ah, atau bahkan kesyirikan yang nyata karena memanjatkan permintaan yang hanya pantas ditujukan kepada Allah, Rabbul ‘alamin. Contoh akan hal ini seperti qasidah dalam kitab Syawahidul Haqq<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn17">[17]</a> karya Yusuf An Nabhani ash Shufi,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يا رسول الإله إني ضعيف              فاشفعني أنت مقصد للشفاء</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يا رسوا لإله إن لم تغثني                 فإلى من ترى يكون التجائي</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><em>Wahai rasulullah, sesungguhnya aku tidak berdaya</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><em>Maka berilah syafaat untuk diriku, dirimulah harapanku untuk sembuh</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><em>Wahai rasululah, jika engkau tidak menolongku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kepada siapa lagi aku berlindung</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn18">[18]</a></p>
<ul>
<li>Orang yang mempraktekkan do’a dan dzikir bid’ah dan meninggalkan tuntunan Allah dan rasul-Nya telah membarter kebaikan dengan keburukan, mengganti sesuatu yang bermanfaat dengan yang berbahaya, dan tidak disangsikan lagi hal ini tentu merupakan kerugian yang teramat nyata.</li>
</ul>
<ul>
<li>Seorang yang rutin mengerjakan berbagai do’a dan dzikir yang bid’ah pada umumnya tidak tahu akan maknanya dikarenakan berbagai wirid tersebut tersusun dari berbagai ungkapan yang asing dan tidak jelas. Padahal yang dituntut dalam berdo’a dan berdzikir adalah menghadirkan hati dan ikhlas. Bagaimana bisa hal itu tercapai jika kita tidak tahu akan makna do’a dan dzikir yang dipanjatkan?!</li>
</ul>
<p>Seorang yang berdo’a namun tidak tahu akan makna do’a yang dipanjatkan tidak bisa dikatakan dia sedang meminta atau berdo’a kepada Allah, karena dia tidak tahu apa yang sedang diminta, dia seperti seorang yang hanya menuturkan perkataan orang lain. Renungkanlah!</p>
<p><em>Waffaqaniyallahu wa iyyakum.</em></p>
<p>Buaran Indah, Tangerang, 19 Rajab 1431 H.</p>
<p>Penulis: <a href="http://ikhwanmuslim.com">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref1">[1]</a> Diadaptasi dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar karya Syaikh Abdurrazzaq al Badr.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref2">[2]</a> Pembahasan ini turut mencakup dzikir karena pada dasarnya dzikir termasuk do’a.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref3">[3]</a> Al Jami’ Li Ahkamil Qur-an 4/226.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref4">[4]</a> Al Futuhaat Ar Rabbaniyah 1/17.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref5">[5]</a> Al Fatawa 1/346.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref6">[6]</a> Al Fatawa 22/511.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref7">[7]</a> Lihat HR. Bukhari: 1109 dan Muslim: 403.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref8">[8]</a> Fathul Baari 11/183.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref9">[9]</a> HR. Muslim: 2688.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref10">[10]</a> HR. Muslim: 2710.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref11">[11]</a> Fathul Baari: 11/112.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref12">[12]</a> HR. Bukhari: 5967 dan Muslim: 2705.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref13">[13]</a> HR. Abu Dawud: 96, Ibnu Majah:</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref14">[14]</a> Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar 2/54.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref15">[15]</a> Dikutip dari Ash Shalawat karya Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad hfz.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref16">[16]</a> HR. Muslim: 1718.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref17">[17]</a> Syawahidul Haqq hlm. 352.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref18">[18]</a> Qasidah ini mengandung kesyirikan yang teramat nyata berdasarkan dua hal. <strong>Pertama</strong>, di dalamnya termuat permohonan kepada rasulullah terhadap sesuatu yang tidak mampu dilakukan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lihatlah surat Al A’raaf: 188. <strong>Kedua</strong>, permintaan ini dilakukan ketika rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah wafat, padahal rasulullah hanya mampu memohonkan kebaikan bagi seorang ketika beliau masih hidup.</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> pernah mengatakan, “Aduh,  bisa mati aku karena sakit kepala! ” Maka nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">ذَاكِ لَوْ كَانَ وَأَنَا حَىٌّ ، فَأَسْتَغْفِرُ لَكِ وَأَدْعُو لَكِ</p>
<p><em>“</em><strong><em>Jika hal itu terjadi dan aku masih hidup, maka aku akan memohon ampun dan berdo’a bagimu</em></strong>.” (HR. Bukhari: 5342).</p>
<p>Renungkanlah hadits nabi di atas! Hadits tersebut merupakan salah satu nash (dalil tegas) yang membantah keyakinan kaum muslimin yang mengagungkan kubur para wali.</p>
<div class="shr-publisher-3909"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fdoa-nabi-doa-terbaik.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/doa-nabi-doa-terbaik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sufi, Benarkah Itu Ajaran Nabi?</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 14:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan da&#8217;i yang menyeru kepada jalan Allah dengan ilmu dan keterangan. Amma ba&#8217;du. Saudara-saudaraku sekalian kaum muslimin -semoga Allah semakin mempererat tali<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi  akhir zaman dan da&#8217;i yang menyeru kepada jalan Allah dengan ilmu dan keterangan.</p>
<p><em>Amma ba&#8217;du</em>. Saudara-saudaraku sekalian  kaum muslimin -semoga Allah semakin mempererat tali persaudaraan kita  karena-Nya- perjalanan hidup kita di alam dunia merupakan sebuah proses  perjuangan untuk menggapai keridhaan-Nya. Kita hidup bukan untuk berhura-hura  atau memuaskan hawa nafsu tanpa kendali agama. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman  (yang artinya), <em>&#8220;Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan  supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. Adz-Dzariyat:  56)</p>
<p><span id="more-450"></span></p>
<p>Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah menumbuhkan kecintaan yang dalam  di dalam hati kita kepada al-Qur&#8217;an, as-Sunnah dan para sahabat <em>radhiyallahu  ta&#8217;ala &#8216;anhum</em>- sebagaimana kita sadari bersama bahwa agama Islam adalah  ajaran yang sempurna. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak  paham dan orang yang menyombongkan dirinya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang  artinya), <em>&#8220;Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama  kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam sebagai  agama kalian.&#8221;</em> (QS. Al-Maa&#8217;idah: 3)</p>
<p>Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah mencurahkan hidayah dan taufik-Nya  kepada kita untuk meniti jalan yang lurus dan tidak berpaling darinya- Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Barangsiapa yang menentang Rasul setelah  petunjuk terang benderang baginya dan dia malah mengikuti selain jalan  orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing di  dalam kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dirinya ke dalam  neraka jahannam. Dan sungguh jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat  kembali.&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217;: 115)</p>
<p>Bagi kita ajaran atau Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari kehancuran dan mata air  yang akan mengalirkan kesejukan iman. Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengisahkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Wajib  bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah/ajaranku dan ajaran para  khalifah yang berpetunjuk lagi lurus sesudahku, berpegang teguhlah dengannya  dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham serta jauhilah perkara-perkara baru  yang diada-adakan (dalam agama), sebab setiap yang diada-adakan itu adalah  bid&#8217;ah. Dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi,  Tirmidzi menilai hadits ini hasan)</p>
<p>Oleh karena itu sudah semestinya kita -sebagai orang yang mengaku beriman-  untuk mengembalikan segala bentuk perselisihan kepada Hakim yang paling  bijaksana yaitu Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman  (yang artinya), <em>&#8220;Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara  maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur&#8217;an) dan rasul (as-Sunnah), hal itu  pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya, jika kalian benar-benar  beriman kepada Allah dan hari akhir.&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217;: 59)</p>
<p>Mujahid dan para ulama salaf yang lainnya menafsirkan perintah kembali  kepada Allah dan rasul yang terdapat dalam ayat ini dengan mengatakan yaitu  kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.  Kemudian Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Ini merupakan  perintah dari Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> yang menunjukkan bahwa segala sesuatu  yang diperselisihkan orang -dalam hal pokok agama maupun cabang-cabangnya- maka  perselisihan itu harus diselesaikan dengan merujuk kepada Al-Kitab dan  As-Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang  artinya), <em>&#8220;Apa saja perkara yang kalian perselisihkan maka keputusannya  dikembalikan kepada Allah.&#8221;</em> (QS. Asy-Syura: 10). Maka apa pun yang  telah diputuskan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah serta didukung oleh dalil yang  benar dari keduanya itulah kebenaran, &#8220;<em>dan tiada lagi sesudah kebenaran  melainkan kesesatan.&#8221;</em> (lihat <em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-&#8217;Azhim</em>,  jilid 2 hal. 250).</p>
<p>Di hadapan kita terdapat persoalan yang telah membuat lisan sebagian orang  melontarkan tuduhan-tuduhan yang tak pantas kepada Ahlus Sunnah dan dakwahnya,  bahkan saking getolnya memuja keyakinan sufi yang dianggapnya benar maka dia  pun tidak segan melontarkan ucapan-ucapan aneh yang menunjukkan kerancuan  aqidah yang tertancap di dalam dadanya.</p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Kita berasal dari  Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita  bagian dari Allah.&#8221; Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata,  &#8220;Allah ada di mana-mana. Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh  dunia ini terjadi [karena] Campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di  dalam diri kita ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada  Allah.&#8221; Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Akan  tetapi Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena  sebegitu dekatnya&#8230;&#8221; Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata,  &#8220;Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi&#8230;&#8221;  ?!</p>
<p>Baiklah, memang pahit di lidah dan panas di telinga, namun terpaksa  kalimat-kalimat ini kami sebutkan di sini demi menerangkan kebenaran dan  membantah kebatilan, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bersatu  di atas kebenaran, <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
<p>Sebagai jalan untuk memecahkan persoalan ini maka akan saya kutip ucapan  indah dari orang yang sama yang telah mengucapkan kalimat-kalimat di atas.  Orang tersebut -semoga Allah menambahkan hidayah kepada-Nya- mengatakan dengan  jujur dan tulus, &#8220;Maka sebaiknya kita tanya dulu kepada Orang yang lebih  tahu daripada Kita, Karena di atas langit masih ada langit.&#8221; Alangkah  bagus ucapannya sebab bersesuaian dengan sebuah firman Allah yang mulia (yang  artinya), <em>&#8220;Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak  mengetahui suatu perkara, dengan dasar keterangan dan kitab-kitab&#8230;&#8221;</em> (QS.An-Nahl: 43-44). Tentu saja tempat kita bertanya adalah para ulama yang  mengikuti pemahaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para  sahabatnya. <em>Insya</em> Allah ucapan dan keterangan mereka akan kami sebutkan  untuk menenangkan hati dan pikiran kita.</p>
<p>Sebelum lebih jauh menanggapi hal ini, dengan memohon taufik dari-Nya maka  kami perlu kemukakan beberapa hal di sini agar duduk perkaranya menjadi jelas  dan tidak terjadi kesalahpahaman.</p>
<p>Saudaraku sekalian -semoga Allah mengokohkan kita di atas kebenaran, bukan  di atas kebatilan- ajaran Sufi yang populer dan kata orang mengajarkan  penyucian jiwa, pendekatan diri kepada Allah serta membuang jauh-jauh  ketergantungan hati kepada dunia serta mengikatkan hati manusia hanya kepada  Allah, kita telah akrab dengan istilah ini. Meskipun demikian, sebagai muslim  yang baik tentunya kita tidak akan berbicara dan bersikap kecuali dengan  landasan dalil dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Allah berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Janganlah  kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya  pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti dimintai pertanggung jawabannya.&#8221;</em> (QS. Al-Israa&#8217;: 36)</p>
<p>Saudaraku sekalian, sesungguhnya perkara penyucian jiwa, melembutkan hati  dan pendekatan diri kepada Allah serta melepaskan ketergantungan hati kepada  dunia dan mengikatkan hati manusia kepada Rabbnya merupakan ajaran Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> tanpa kita ragukan barang sedikit pun. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Sungguh Allah telah mengaruniakan nikmat  bagi orang-orang yang beriman ketika mengutus rasul dari kalangan mereka  sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka,  dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al Hikmah (As-Sunnah) padahal  sebelumnya mereka dulu berada di dalam kesesatan yang nyata.&#8221;</em> (QS. Ali  Imran: 164). Maka tugas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah  membacakan dan menerangkan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia dari  berbagai kotoran dosa dan kesyirikan, dan mengajarkan Al-Kitab dan As-Sunnah  kepada mereka.</p>
<p>Oleh karena itulah apabila kita membuka kitab-kitab hadits akan kita jumpai  di sana sebuah bab khusus yang menyebutkan riwayat-riwayat hadits Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> yang mengajarkan penyucian jiwa dan melembutkan hati.  Contohnya di dalam Sahih Bukhari, Al-Bukhari <em>rahimahullah</em> menulis Kitab <em>Ar-Riqaaq</em> (hal-hal yang dapat melembutkan hati), di sana beliau membawakan hadits-hadits  Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang terkait dengan hal ini sebanyak  seratus hadits lebih, yaitu hadits no. 6412-6593 (lihat <em>Sahih Bukhari</em> cet. Maktabah Al-Iman, halaman. 1306-1332)</p>
<p>Demikian juga murid Al-Bukhari yaitu Muslim <em>rahimahullah</em> membuat  Kitab <em>Ar-Riqaaq</em>, Kitab <em>At-Taubah</em>, Kitab <em>Shifatul Munafiqin wa  ahkamuhum</em>, Kitab <em>Shifatul qiyamah wal jannah wan naar</em>, dan lain  sebagainya hingga Kitab <em>Az-Zuhd wa raqaa&#8217;iq</em> yang mencantumkan dua ratus  hadits lebih tentang penyucian jiwa dan hal-hal yang terkait dengannya di dalam  Sahihnya (lihat <em>Sahih Muslim</em> yang dicetak bersama Syarah Nawawi, hal.  5-259). Demikian pula di antara para ulama ada yang menyusun kitab khusus  tentangnya seperti Adz-Dzahabi yang menulis kitab <em>Al-Kaba&#8217;ir</em> tentang  dosa-dosa besar. An-Nawawi yang menulis <em>Riyadhush Shalihin</em> yang mencakup  berbagai pembahasan tentang penempaan diri dan penyucian jiwa. <em>Shifatu  Shafwah</em> dan <em>Al-Latha&#8217;if</em> karya Ibnul Jauzi. Bahkan banyak kitab  hadits yang dinamakan dengan kitab <em>Az-Zuhd</em>, seperti <em>Az-Zuhd</em> karya  Abu Hatim Ar-Razi, <em>Az-Zuhd</em> karya Abu Dawud, <em>Az-Zuhd</em> karya Imam  Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain, semoga Allah merahmati mereka semua. Bukankah  dengan membaca ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, kemudian riwayat-riwayat hadits sahih serta  penjelasan ulama yang ada di dalam kitab-kitab tersebut kita dapat mempelajari  bagaimanakah menyucikan jiwa, bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan  bagaimana melepaskan ketergantungan hati kepada selain-Nya&#8230;</p>
<p>Inilah pelajaran-pelajaran akhlak dan penyucian jiwa yang disampaikan oleh  para ulama kepada kita. Sehingga kalau yang dimaksud sufi adalah itu semua  (penyucian jiwa dsb) maka akan kita katakan bahwa itulah yang diajarkan oleh  Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah alias manhaj salaf kepada umat manusia. Oleh sebab itu  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata mengenai salah satu  sifat Ahlus Sunnah, &#8220;Mereka memerintahkan untuk sabar ketika tertimpa  musibah, bersyukur ketika lapang, serta merasa ridha dengan ketetapan takdir  yang terasa pahit. Mereka juga menyeru kepada kemuliaan akhlak dan amal-amal  yang baik, mereka meyakini makna sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8216;Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik  akhlaknya.&#8217;</em>&#8230;&#8221; (<em>Aqidah Wasithiyah</em>, hal. 87). <strong>Kalau ajaran  menyucikan diri dan menggantungkan hati hanya kepada Allah -sebagaimana yang  diajarkan oleh Nabi dan para sahabat- disebut sufi maka saksikanlah bahwa saya  adalah seorang sufi!</strong></p>
<p>Namun, ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- kalau kita cermati  lebih jauh ajaran sufi atau tasawuf dan berbagai macam tarekat yang dinisbatkan  ke dalamnya beserta <em>tetek bengek</em> ajaran dan lontaran-lontaran aneh yang  mereka angkat, niscaya akan teranglah bagi kita bahwa sebenarnya ajaran Sufi  yang berkembang hingga hari ini -di dunia secara umum ataupun dinegeri kita  secara khusus- telah banyak menyeleweng dari rambu-rambu Al-Kitab dan  As-Sunnah. Sebagaimana pernah disinggung oleh Buya HAMKA <em>rahimahullah</em> di  dalam pidatonya dalam acara penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari  Universitas Al-Azhar di Mesir pada tanggal 21 Januari 1958 -lima puluh tahun  yang silam-, beliau mengatakan, &#8220;Daripada gambaran yang saya kemukakan  selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya  pembersihan aqidah daripada syirik dan bid&#8217;ah dan ajaran tasawuf yang salah,  yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada  kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.&#8221;  (<em>Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia</em>, penerbit  Tintamas Djakarta, hal. 6-7)</p>
<p>Inilah ucapan yang adil dan bijak dari orang besar seperti beliau. Berikut  ini akan kami kutip penjelasan yang diberikan oleh Bapak Hartono Ahmad Jaiz  -semoga Allah membalas kebaikannya- yang telah memaparkan mengenai sejarah  ajaran sufi ini di dalam bukunya <em>&#8216;Tasawuf Belitan Iblis&#8217;</em>. Beliau  mengatakan: &#8220;Abdur Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya <em>Al-Fikrus  Shufi fi Dhauil Kitab was Sunnah</em> menegaskan, tidak diketahui  secara tepat siapa yang pertama kali menjadi sufi di  kalangan ummat Islam. Imam Syafi&#8217;i ketika memasuki kota Mesir  mengatakan, &#8220;Kami tinggalkan kota Baghdad sementara di sana  kaum zindiq (aliran yang menyeleweng, aliran yang tidak percaya  kepada Tuhan, berasal dari Persia, orang yang  menyelundup ke dalam Islam, berpura-pura &#8211;menurut Leksikon Islam,  2, hal 778) telah mengadakan sesuatu yang baru yang mereka namakan <em>assama&#8217;</em> (nyanyian).</p>
<p>Kaum zindiq yang dimaksud Imam Syafi&#8217;i adalah  orang-orang sufi. Dan <em>assama&#8217;</em> yang dimaksudkan adalah  nyanyian-nyanyian yang mereka dendangkan. Sebagaimana  dimaklumi, Imam Syafi&#8217;i masuk Mesir tahun 199H. Perkataan Imam  Syafi&#8217;i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru.  Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya,  Imam Syafi&#8217;i sering berbicara tentang mereka, di antaranya beliau  mengatakan: &#8220;Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari,  maka siang sebelum zhuhur ia menjadi orang yang dungu.&#8221; Dia (Imam  Syafi&#8217;i) juga pernah berkata: <em>&#8220;Tidaklah seseorang menekuni tasawuf  selama 40 hari, lalu akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.&#8221;</em> (Lihat <em>Talbis Iblis</em>, hal 371). Sekian nukilan kami dari <em>Tasawuf  Belitan Iblis</em>.</p>
<p>Pembaca sekalian, dari keterangan di atas kita mengetahui bahwa Imam  Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> sendiri termasuk ulama yang mengecam kaum sufi dan  ajaran tasawufnya yang menyimpang. Agar tidak terlalu berpanjang-lebar, maka  baiklah untuk membuktikan penyimpangan mereka akan kita akan kutip kembali  pendapat dan keyakinan mereka beserta komentar atas kerancuan yang ada di  dalamnya, Allahlah pemberi petunjuk dan pertolongan kepada kita.</p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Kita berasal dari  Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita  bagian dari Allah.&#8221;</p>
<p><strong>Tanggapan:</strong></p>
<p>Yang menjadi masalah di sini adalah ucapannya &#8220;(kita) Hidup dan mati  di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.&#8221; Apakah maksud dari ucapan  ini? Apakah artinya manusia adalah bagian dari Allah sebagaimana makna yang  bisa secara langsung ditangkap dari ucapannya ataukah yang lainnya? Kalau yang  dimaksud adalah yang pertama, maka sangat jelas kebatilannya. Allah bukan hamba  dan hamba bukan Allah. Allah berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Dan tidaklah  Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan  Allah, alias hamba dan bukan tuhan atau bagian dari tuhan!</p>
<p>Kalau ada orang yang meyakini demikian -dirinya adalah Allah- maka dia  telah kafir. Lantas kalau yang dimaksud adalah makna yang lain, kita akan  bertanya apa maknanya? Kalau pun maksud yang mereka inginkan benar, maka kita  katakan bahwa ucapan-ucapan semacam ini adalah ucapan yang tidak pada tempatnya  bahkan bid&#8217;ah! Adakah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan demikian? Adakah para sahabat, imam yang empat mengajarkan  demikian? Bacalah kitab-kitab tafsir dan hadits&#8230; Wajarlah apabila Imam  Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> mengatakan, <strong>&#8220;Seandainya seseorang  menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelumz dhuhur ia menjadi orang  yang dungu.&#8221;</strong> Cobalah kaum sufi itu berguru kepada Imam Syafi&#8217;i. Beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Aku beriman kepada Allah serta apa yang  datang dari Allah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Dan aku beriman  kepada Rasulullah serta apa yang disampaikan oleh Rasulullah sebagaimana yang  diinginkan oleh Rasulullah.&#8221; (lihat <em>Lum&#8217;at Al-I&#8217;tiqad</em>). Apakah  Allah atau Rasul-Nya mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah bagian dari-Nya?  Kita hidup dan mati di dalam diri-Nya? Allah Maha suci dari ucapan  mereka.</p>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Allah ada di mana-mana.  Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh dunia ini terjadi [karena] Campur  tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri kita ada Tuhan, manusia  sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada Allah.&#8221;</p>
<p><strong>Tanggapan:</strong></p>
<p>Aneh bin ajaib! Menurutnya Allah di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana.  Di dalam diri kita -katanya- ada Tuhan&#8230; [?] Maha suci Allah&#8230; Ucapan semacam  inilah yang membuat orang semakin bertambah dungu -sebagaimana disinggung oleh  Imam Syafi&#8217;i di atas-, adakah orang berakal yang mengucapkan perkataan seperti  ini, &#8220;Allah ada di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana&#8221; Allahu  akbar! Apakah ada anak kecil yang mengatakan, &#8220;Saya laki-laki tapi bukan  laki-laki&#8221; [?]</p>
<p>Padahal Allah <em>ta&#8217;ala</em> sendiri berfirman tentang diri-Nya (yang  artinya), <em>&#8220;Ar-Rahman menetap tinggi di atas Arsy.&#8221;</em> (QS. Thaha:  5). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Jalan yang selamat dalam hal ini adalah jalan ulama salaf yaitu  memberlakukannya sebagaimana adanya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa  membagaimanakan, tanpa menyelewengkan, tanpa menolak, dan tanpa  menyerupakan.&#8221; (<em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-&#8217;Azhim</em>, jilid 5 hal. 202).  Apakah ayat ini menunjukkan bahwa Allah membutuhkan Arsy sebagaimana sangkaan  sebagian orang? Sama sekali tidak. Abu Ja&#8217;far Ath-Thahawi <em>rahimahullah</em> di dalam kitab <em>Aqidah Thahawiyah</em>nya, yang menjadi rujukan ulama dari  keempat madzhab mengatakan, &#8220;Dan Dia (Allah) tidak membutuhkan Arsy dan  apa pun yang berada di bawahnya, Allah meliputi segala sesuatu dan Dia berada  di atasnya&#8230;&#8221; (dinukil dari Syarah Ibnu Abil &#8216;Izz dengan tahqiq  Al-Albani, hal. 280)</p>
<p>Dikisahkan bahwa Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> pernah ditanya  mengenai orang yang mengatakan, &#8220;Aku tidak mengetahui apakah Rabbku di  atas langit atau di bumi.&#8221; Maka beliau menjawab bahwa orang yang  mengucapkan itu telah kafir, sebab Allah telah berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Ar-Rahman  menetap tinggi di atas Arsy.&#8221;</em> (QS. Thaha: 5). Sedangkan Arsy-Nya  berada di atas tujuh lapis langit-Nya.&#8221; Kemudian ditanyakan lagi kepadanya  bagaimana kalau dia mengatakan, &#8220;Allah berada di atas Arsy, tapi aku tidak  tahu apakah Arsy itu di atas langit atau di bumi.&#8221; Maka Abu Hanifah  berkata, &#8220;Dia juga kafir. Sebab dia telah mengingkari Allah berada di atas  langit. Barangsiapa yang mengingkari Allah berada di atas langit maka dia  kafir.&#8221; (<em>Syarh Ath-Thahawiyah</em>, hal. 288). (Akan tetapi dalam  prakteknya sekarang tentunya kita tidak begitu saja mengatakan kafir apabila  bertemu orang yang berkata seperti di atas, karena untuk mengafirkan masih ada  syarat-syarat lain yang harus dipenuhi -ed)</p>
<p><strong>Ketiga:</strong></p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Akan tetapi Dzat  Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>Tanggapan:</strong></p>
<p><em>Subhanallah</em>, tidak henti-hentinya kaum  sufi ini berdusta dan mempermainkan kata-kata semaunya. Apakah Al-Qur&#8217;an dan  As-Sunnah menyatakan bahwa Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia,  karena sebegitu dekatnya? Sekali lagi inilah bukti bahwa orang-orang sufi telah  meninggalkan ilmu dan terpedaya dengan akal mereka yang rusak. Untuk menanggapi  ucapan semacam ini cukuplah kami kutip fakta sejarah yang dibawakan oleh  penulis buku <em>Tasawuf Belitan Iblis</em> berikut ini:</p>
<p>&#8220;Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal perkembangannya  hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa  seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan keempat Hijriyah  berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat agama Majusi,  kemusyrikan yang menyembah api, kemudian menjadi pusat Agama  Syi&#8217;ah), tidak ada yang berasal dari Arab.</p>
<p>Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah dan hukum,  pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain bin Manshur  Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan penguasa, yakni  dia menyatakan bahwa Allah menyatu dengan dirinya, sehingga  para ulama yang semasa dengannya menyatakan bahwa dia telah kafir  dan harus dibunuh. Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap  Husain bin Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian, sufisme  tetap menyebar di negeri Parsi, bahkan kemudian berkembang di  Irak.&#8221; (Sekian nukilan kami)</p>
<p>Kalau mereka mengatakan bahwa Allah bisa menyatu dalam diri mereka, lantas  buat apa mereka beribadah, lantas untuk apa mereka menyembah, kalau semua orang  mengaku dirinya adalah Allah maka siapakah yang akan disembah? Maha suci Allah,  ini adalah kedustaan yang sangat besar! Kemudian, kalau mereka maksudkan dengan  ucapan-ucapan itu makna yang lain, maka akan kita katakan bahwa ucapan ini  adalah bid&#8217;ah dan tidak dikenal oleh para ulama salaf. Kalau ucapan-ucapan  semacam ini dibiarkan maka syariat Islam akan berantakan. Ketika ada seorang lelaki  yang berkata kepada orang tua mempelai perempuan, &#8220;Saya terima nikahnya  Fulanah binti Fulan.&#8221; Kemudian setelah itu dia akan berkata kepada si  mertua &#8220;Saya terima nikahnya tapi tidak menerima nikahnya.&#8221; Lah,  bagaimana ini? Sejak kapan orang-orang itu menjadi kehilangan akalnya? Rumah  sakit jiwa lebih layak bagi orang-orang semacam itu daripada masjid.</p>
<p><strong>Keempat:</strong></p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Seluruh Imam  Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi..&#8221;</p>
<p><strong>Tanggapan:</strong></p>
<p>Saudaraku, kalau memang ajaran <a title="Benarkah Sufi Ajaran Nabi?" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html">sufi</a> dengan berbagai macam aliran tarekatnya  adalah benar dan para imam madzhab mengikutinya apa alasan kami untuk tidak  mengikuti kalian? Namun yang menjadi masalah adalah ajaran-ajaran sufi telah  jelas terbukti penyimpangannya. Imam Syafi&#8217;i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan  para ulama yang lain telah memaparkan kepada kita tentang kesesatan ajaran  mereka. Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah bagi orang sufi sekedar kata-kata yang bisa  dipermainkan ke sana kemari. Allah <em>ta&#8217;ala</em> mengatakan bahwa Allah itu esa  (<em>Qul Huwallahu Ahad</em>). Sementara orang-orang sufi mengatakan Allah  menyatu dalam diri hamba-hambaNya, <strong>padahal hamba Allah itu banyak</strong>. Allah  mengatakan bahwa diri-Nya tinggi berada di atas Arsy-Nya, sementara orang-orang  sufi mengatakan Allah di mana-mana tapi juga tidak di mana-mana. <em>Allahul  musta&#8217;an</em>, kalau memang boleh mengatakan demikian maka kita juga akan  mengatakan &#8220;Semua Imam Madzhab pada akhirnya kembali kepada Wahabi.  Kecuali sufi.&#8221; <em>Allahu yahdik</em>.</p>
<p>Saudaraku, kami tidak bermaksud untuk mencaci maki siapa pun, kami hanya  ingin saudara kami kembali ke jalan yang benar, itu saja. Syaikh Ihsan Ilahi  Zahir -<em>rahimahullah</em>- dalam kitabnya: <em>Tashawwuf Al-Mansya&#8217; Walmashdar</em> (Tasawuf, Asal Muasal dan Sumber-Sumbernya) [halaman 28] berkata: &#8220;Jika  kita amati ajaran-ajaran tasawuf dari generasi pertama hingga akhir serta  ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam  kitab-kitab tasawuf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa di  sana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasawuf dengan ajaran-ajaran al-Quran  dan as-Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya  dalam sirah (sejarah) Rasulullah serta para sahabatnya yang mulia yang  merupakan makhluk-makhluk pilihan Allah. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa  tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual  Yahudi dan kezuhudan Buda&#8221; (sebagaimana dikutip oleh Syaikh Dr. Shalih bin  Fauzan <em>hafizhahullah</em> -salah seorang ulama besar Saudi Arabia- dalam  bukunya <em>Hakikat Tasawuf</em> [terjemah], hal. 20)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Orang  yang meniti jalan kefakiran, tasawuf, zuhud dan ibadah; apabila dia tidak  berjalan dengan bekal ilmu yang sesuai dengan syariat maka akibat tanpa  bimbingan ilmu itulah yang membuatnya tersesat di jalan, dan dia akan lebih  banyak merusak daripada memperbaiki. Sedangkan orang yang meniti jalan fikih,  ilmu, pengkajian dan kalam; apabila dia tidak mengikuti aturan syariat dan  tidak beramal dengan ilmunya, maka akibatnya akan menjerumuskan dia menjadi  orang yang <em>fajir</em> (berdosa) dan tersesat di jalan. Inilah prinsip yang  wajib dipegang oleh setiap muslim. Adapun sikap fanatik untuk membela suatu  urusan apa saja tanpa landasan petunjuk dari Allah maka hal itu termasuk  perbuatan kaum jahiliyah.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, juz 2 hal. 444.  Asy-Syamilah)</p>
<p>Sebelum menutup tulisan ini, perlu kiranya kita ingat bersama dampak yang  timbul akibat merebaknya ajaran sufi ini di masyarakat -khususnya di negeri  kita ini- sebagaimana yang pernah kami saksikan sendiri bahkan kami dahulu  termasuk di antara mereka -dengan taufik dari Allahlah kami meninggalkannya dan  menemukan manhaj salaf yang mulia ini-, perhatikanlah dengan mata yang jernih  dan pikiran yang tenang&#8230; bukankah tersebarnya pemujaan kubur-kubur wali dan  orang-orang salih -yang notabene adalah syirik dan bid&#8217;ah- di negeri ini timbul  karena dakwah dan ajaran sufi? Cermatilah wahai saudaraku yang cerdas&#8230; betapa  ramainya kubur para wali dikunjungi dan dijadikan tempat untuk mencari berkah,  berdoa, beristighotsah dan bertawassul dengan orang-orang yang sudah mati. Dimanakah  gerangan itu terjadi?, apakah di pusat-pusat dakwah salafiyah -yang hakiki-  ataukah di pusat-pusat dakwah salafiyah yang sebenarnya lebih layak untuk  disebut sufi? Padahal, kita semua mestinya sudah mengerti bahwa dosa kesyirikan  adalah dosa yang tidak diampuni. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Sesungguhnya  Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah  tingkatan syirik itu bagi orang yang dikehendaki-Nya.&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217;:  48)</p>
<p>Sebagaimana pula kebid&#8217;ahan bukan semakin menambah pelakunya dekat dengan  Allah, namun justru semakin dekat dengan syaitan. Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Barangsiapa yang mengerjakan suatu  amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.&#8221;</em> (HR. Bukhari  dan Muslim, ini salah satu lafazh Muslim). Simaklah keterangan Ibnu Hajar dan  An-Nawawi berikut ini&#8230; semoga hati kita menjadi semakin mantap mengikuti  kebenaran&#8230;. Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Hadits  ini tergolong pokok ajaran Islam dan salah satu kaidahnya. Makna dari hadits  ini adalah; barangsiapa yang mereka-reka sesuatu dalam urusan agama yang tidak  didukung dengan dalil di antara dalil-dalil agama yang ada maka hal itu tidak diakui.&#8221;  (<em>Fath Al-Bari</em>, 5/341, lihat juga keterangan serupa oleh An-Nawawi dalam <em>Syarh  Muslim</em>, 6/295). An-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Di dalamnya  terkandung bantahan bagi segala bentuk perkara yang baru (dalam agama), sama  saja apakah yang menciptakan itu adalah pelakunya atau ada orang lain yang  lebih dulu membuatnya.&#8221; (<em>Syarh Muslim</em>, 6/295). Itulah ucapan yang  adil dan bijak dari dua orang ulama besar penganut madzhab Syafi&#8217;i&#8230;</p>
<p>Sungguh bijak ucapan buya HAMKA <em>rahimahullah</em> yang mengatakan,  &#8220;Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita  memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah dari syirik, bid&#8217;ah dan  ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman,  dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran  Islam sejati.&#8221; (<em>Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di  Indonesia</em>, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7. Buku ini dapat didownload  di <a title="Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia" href="http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=download&amp;op=viewlink&amp;cid=25&amp;PHPSESSID=677ecd8fa522664a7edf432b1b394f9d" target="_blank">perpustakaanislam.com</a>).</p>
<p>Semoga Allah berkenan memberikan taufik kepada saudara-saudara kami  yang meninggalkan jalan yang lurus agar mereka kembali menuju jalan yang lurus  itu kembali. Alangkah senangnya hati kami jika saudara-saudara kami mendapatkan  hidayah, sebagaimana kami juga meminta kepada-Nya dengan nama-namaNya yang  terindah dan sifat-sifatNya yang maha tinggi untuk mewafatkan kita di atas  jalan yang lurus itu dalam keadaan Allah meridhai kita dan mengampuni segala  dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha  mengabulkan doa.</p>
<p><em>Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa  sallam</em>. <em>Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Benarkah Sufi Ajaran Nabi?" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-450"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsufi-benarkah-ajaran-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>86</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Tasawuf (3)</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 07:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Sekte-Sekte Dalam Ajaran Tasawuf* * Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh DR. Muhammad bin Rabi&#8217; Al Madkhali dalam kitabnya Haqiqat Ash Shufiyyah (hal.18-21), dengan sedikit perubahan. Kita dapat membagi ajaran tasawuf yang ekstrem ke<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Sekte-Sekte  Dalam Ajaran Tasawuf*</strong></p>
<p><strong>*</strong> <em>Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh DR.  Muhammad bin Rabi&#8217; Al Madkhali dalam kitabnya Haqiqat Ash Shufiyyah  (hal.18-21), dengan sedikit perubahan.</em></p>
<p>Kita dapat  membagi ajaran tasawuf yang ekstrem ke dalam tiga sekte:</p>
<p><strong>Pertama, sekte Al Isyraqi</strong>, sekte ini didominasi oleh ajaran filsafat bersama sifat  zuhud. Yang dimaksud dengan Al Isyraqi (penyinaran) adalah penyinaran jiwa yang  memancarkan cahaya dalam hati, sebagai hasil dari pembinaan jiwa dan  penggemblengan ruh disertai dengan penyiksaan badan untuk membersihkan dan  menyucikan ruh, yang ajaran ini sebenarnya ada pada semua sekte-sekte tasawuf,  akan tetapi ajaran sekte ini cuma sebatas pada penyimpangan ini dan tidak  sampai membawa mereka kepada ajaran Al Hulul (menitisnya Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> ke dalam diri makhluk-Nya) dan <em>Wihdatul Wujud</em> (bersatunya wujud Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan wujud  makhluk /<em>Manunggaling Gusti ing kawulo</em> – Maha Suci Allah dari apa yang  mereka sifatkan), meskipun demikian ajaran sekte ini bertentangan dengan ajaran  islam, karena ajaran ini diambil dari ajaran agama-agama lain yang menyimpang,  seperti agama Budha dan Hindu.</p>
<p><span id="more-409"></span></p>
<p><strong>Kedua, sekte Al Hulul</strong>, yang berkeyakinan bahwa Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> bisa bertempat/menitis dalam diri manusia -Maha Suci  Allah <em>&#8216;azza  wa jalla</em> dari sifat ini-. Keyakinan  ini diserukan oleh beberapa tokoh-tokoh ekstrem ahli Tasawuf, seperti Hasan bin  Manshur Al Hallaj, yang karenanya para Ulama memfatwakan kafirnya orang ini dan  dia harus dihukum mati, yang kemudian dia dibunuh dan disalib -Alhamdulillah-  pada tahun 309 H. Di dalam Sya&#8217;ir yang dinisbatkan kepadanya dia berkata (kitab <em>At Thawasiin</em>, tulisan Al Hallaj hal.130):</p>
<p><em>Maha suci (Allah) yang Nasut (unsur/sifat  kemanusiaan)-Nya telah menampakkan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>rahasia cahaya Lahut (unsur/sifat ketuhanan)-Nya yang  menembus</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lalu Tampaklah Dia dengan jelas pada (diri) makhluk-Nya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk-Nya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata</em></p>
<p>Dalam sya&#8217;ir lain (kitab <em>Al Washaaya</em>, tulisan Ibnu  &#8216;Arabi (hal.27), -Maha Suci Allah dari sifat-sifat kotor yang mereka sebutkan-)  dia berkata:</p>
<p><em>Aku adalah yang mencintai dan yang mencintai adalah aku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>kami adalah dua ruh yang bertempat di dalam satu jasad</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka jika kamu melihatku (berarti) kamu melihat Dia</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan jika kamu melihat Dia (berarti) kamu melihat kami</em></p>
<p>Memang Al Hallaj -seorang tokoh besar dan populer di  kalangan orang-orang ahli Tasawuf ini- adalah penganut sekte Al Hulul, dia  meyakini <em>Dualisme hakikat ketuhanan</em> dan beranggapan bahwa Al Ilah (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>) memiliki dua tabiat yaitu: <em>Al Lahut</em> (unsur/sifat  ketuhanan) dan <em>An Nasut</em> (unsur/sifat kemanusiaan/kemakhlukan), yang  kemudian Al Lahut menitis ke dalam An Nasut, maka ruh manusia -menurut Al  Hallaj- adalah Al Lahut ketuhanan yang sebenarnya dan badan manusia itu adalah  An Nasut.</p>
<p>Kemudian meskipun <em>bandit besar</em> ini telah dihukum  mati karena ke<em>-zindiq</em>an-nya sehingga sebagian orang-orang ahli <a title="Hakikat Tasawuf" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html">Tasawuf</a> menyatakan  berlepas diri darinya-, tetap saja ada orang-orang ahli Tasawuf yang  menganggapnya sebagai tokoh besar ahli tasawuf, bahkan mereka membenarkan  keyakinan sesat dan perbuatannya, dan mengumpulkan serta membukukan  ucapan-ucapan kotornya, mereka itu di antaranya adalah Abul &#8216;Abbas bin &#8216;Atha&#8217;  Al Baghdadi, Muhammad bin Khafif Asy Syirazi dan Ibrahim An Nashrabadzi,  sebagaimana hal tersebut dinukil oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam kitab beliau <em>Tarikh Al Baghdad</em> (8/112).</p>
<p><strong>Ketiga, sekte Wihdatul Wujud</strong>, yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya  adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain  merupakan perwujudan/penampakan Zat Ilahi (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>) -maha suci Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dari segala keyakinan kotor mereka-. <em>Dedengkot</em> sekte ini adalah <em>wong elek</em> yang bernama Ibnu &#8216;Arabi Al Hatimi Ath  Thai (Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin &#8216;Ali bin  Muhammad bin Ahmad Ath Thai Al Hatimi Al Mursi Ibnu &#8216;Arabi, lihat <em>Siar Al A&#8217;lam  An Nubala&#8217;</em> tulisan Imam Adz Dzahabi 16/354) yang <em>binasa</em> pada  tahun 638 H dan dikuburkan di Damaskus.</p>
<p>Dalam kitabnya <em>Al Futuhat Al Makkiyah</em> (seperti yang dinukilkan oleh DR. Taqiyuddin Al Hilali dalam  kitabnya <em>Al Hadiyyatul Haadiyah</em> hal.43) dia menyatakan keyakinan  kufur ini dengan ucapannya:</p>
<p><em>Hamba adalah tuhan dan tuhan adalah hamba</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas (melaksanakan  syariat)?</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Jika kau katakan: hamba, maka dia adalah tuhan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Atau kau katakan: tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi  tugas?!</em></p>
<p>Dan dalam kitabnya yang lain <em>Fushushul Hikam</em> (hal.192) dia <em>ngelindur:</em> &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menyembah  anak sapi, tidak lain yang mereka sembah kecuali Allah&#8221;.</p>
<p>Meskipun demikian, orang-orang ahli Tasawuf malah  memberikan gelar-gelar kehormatan yang tinggi kepada Ibnu &#8216;Arabi, seperti gelar <em>Al &#8216;Arif Billah</em> (orang yang mengenal Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan sebenarnya), <em>Al Quthb Al Akbar</em> (pemimpin  para wali yang paling agung), <em>Al Misk Al Adzfar</em> (minyak kesturi yang  paling harum), dan <em>Al Kibrit Al Ahmar</em> (Permata yang merah berkilau),  padahal orang ini terang-terangan memproklamirkan keyakinan <em>Wihdatul Wujud</em> dan keyakinan-keyakinan kufur dan rusak lainnya, seperti pujian dia terhadap  Firaun dan keyakinannya bahwa Firaun mati di atas keimanan, celaan dia terhadap  Nabi Harun <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> yang mengingkari  kaumnya yang menyembah anak sapi -yang semua ini jelas-jelas bertentangan  dengan nash Al Quran-, dan keyakinan dia bahwa kafirnya orang-orang Nasrani  adalah karena mereka hanya mengkhususkan Nabi &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> sebagai Tuhan, yang kalau seandainya mereka tidak  mengkhususkannya maka mereka tidak dikafirkan.</p>
<p><strong>Beberapa  Contoh Penyimpangan dan Kesesatan Ajaran Tasawuf</strong></p>
<p>Berikut kami akan nukilkan beberapa ucapan dan keyakinan  sesat dan kufur dari tokoh-tokoh yang sangat diagungkan oleh orang-orang ahli  Tasawuf, yang menunjukkan besarnya penyimpangan ajaran ini dan sangat jauhnya  ajaran ini dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Ibnu Al  Faridh yang <em>binasa</em> pada tahun 632 H, tokoh besar sufi yang menganut  paham <em>wihdatul wujud</em> dan meyakini bahwa seorang hamba bisa menjadi  Tuhan, bahkan -yang lebih kotor lagi- dia menggambarkan sifat-sifat Tuhannya  seperti sifat-sifat wanita, sampai-sampai dia menganggap bahwa Tuhannya telah  menampakkan diri di hadapan Nabi Adam <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam bentuk Hawwa (istri Nabi Adam <em>&#8216;alaihis salam</em>)?! Untuk lebih jelas silakan merujuk pada kitab <em>Hadzihi  Hiya Ash Shufiyyah</em> (hal. 24-33), tulisan Syaikh Abdurrahman al Wakil yang  menukil ucapan-ucapan kufur Ibnu Al Faridh ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Ibnu &#8216;Arabi  dalam kitabnya <em>Fushushul Hikam</em> yang berisi segudang kesesatan dan  kekufuran. Dalam kitabnya ini dia mengatakan bahwa Rasullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lah yang memberikan padanya kitab ini, dan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya: &#8220;Bawalah dan sebarkanlah kitab  ini pada manusia agar mereka mengambil manfaat darinya&#8221;, kemudian Ibnu &#8216;Arabi  berkata: &#8220;Maka aku pun (segera) mewujudkan keinginan (Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) itu seperti yang beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentukan padaku tidak lebih dan tidak kurang, kemudian  Ibnu &#8216;Arabi berkata:</p>
<p><em>(Kitab ini) dari Allah, maka dengarkanlah!</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>dan kepada Allah kembalilah!</em></p>
<p>(<em>Fushushul Hikam, </em>dengan perantaraan kitab <em>Hadzihi  Hiya Ash Shufiyyah</em> hal.19)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, At  Tilmisani, seorang tokoh besar Tasawuf, ketika dikatakan padanya bahwa kitab  rujukan mereka <em>Fushushul Hikam</em> bertentangan dengan Al Quran, dia  malah menjawab, &#8220;Seluruh isi Al Quran adalah kesyirikan, dan  sesungguhnya Tauhid hanya ada pada ucapan kami&#8221;. Maka dikatakan lagi  kepadanya, &#8220;Kalau kalian mengatakan bahwa seluruh yang ada (di alam  semesta) adalah satu (esa), mengapa seorang istri halal untuk disetubuhi,  sedangkan saudara wanita haram (disetubuhi)?&#8221; Maka dia menjawab, &#8220;Menurut  kami semuanya (istri dan saudara wanita) halal (untuk disetubuhi), akan tetapi  orang-orang yang terhalang dari penyaksian keesaan seluruh alam, mengatakan  bahwa saudara wanita haram (disetubuhi), maka kami pun ikut-ikut mengatakan  haram&#8221;. (Dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, lihat <em>Majmu&#8217;ul  Fatawa</em> 13/186)</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Abu Yazid  Al Busthami, yang pernah berkata: Aku heran terhadap orang yang telah mengenal  Allah, mengapa dia tetap beribadah kepada-Nya?! (Dinukil  oleh Abu Nu&#8217;aim Al Ashbahani dalam kitabnya <em>Hilyatul Auliya&#8217;</em>, 10/37).  Dia juga berkata, &#8220;Sungguh aku telah menghimpun amalan ibadah seluruh  penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, kemudian aku masukkan ke dalam bantal dan  aku letakkan di bawah pipiku&#8221; (<em>Hilyatul Auliya&#8217;</em> 10/35-36).</p>
<p><strong>Kelima</strong>, Abu Hamid  Al Ghazali, seorang yang termasuk tokoh-tokoh ahli Tasawuf yang paling besar  dan tenar, di dalam kitabnya <em>Ihya &#8216;Ulumud Din</em> ketika dia membicarakan  tingkatan-tingkatan dalam tauhid, dia mengatakan, &#8220;Dalam Tauhid ada empat  tingkatan: &#8230; Tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">kedua</span>: Dengan membenarkan makna lafazh di  dalam hati sebagaimana yang dilakukan oleh umumnya kaum muslimin, dan ini  adalah keyakinannya orang-orang awam?! Tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">ketiga</span>:  mempersaksikan makna tersebut dengan jalan <em>Al Kasyf</em> (penyingkapan tabir)  melalui perantaraan cahaya Al Haq (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> ) dan ini adalah tingkatan <em>Al Muqarrabin</em>, yaitu  dengan seseorang melihat banyaknya makhluk (di alam semesta), akan tetapi dia  melihat semuanya bersumber dari Zat Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa, dan  tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">keempat</span>: dengan tidak menyaksikan di alam semesta ini  kecuali satu zat yang esa, dan ini merupakan penyaksian para <em>Shiddiqin</em>,  dan diistilahkan oleh orang ahli Tasawuf dengan sebutan: <em>Al Fana&#8217; Fit Tauhid</em> (telah melebur dalam tauhid/pengesaan) karena dia tidak melihat kecuali satu,  bahkan dia tidak melihat dirinya sendiri&#8230; Dan inilah puncak tertinggi dalam  tauhid.</p>
<p>Jika anda bertanya bagaimana mungkin seseorang tidak  melihat kecuali hanya satu saja, padahal dia melihat langit, bumi dan semua  benda-benda yang benar-benar nyata, dan itu banyak sekali? dan bagaimana  sesuatu yang banyak menjadi hanya satu? Ketahuilah bahwa ini adalah puncak ilmu <em>Mukasyafat</em> (tersingkapnya tabir) (maksudnya adalah  cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa  dan perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan Al  Quran dan As Sunnah, -pen), dan rahasia-rahasia ilmu ini tidak boleh  ditulis dalam sebuah kitab, karena orang-orang yang telah mencapai tingkatan Ma&#8217;rifah  berkata, &#8216;membocorkan rahasia ketuhanan adalah kekafiran&#8217;. Sebagaimana seorang  manusia dikatakan banyak bila anda melihat rohnya, jasad, sendi-sendi,  urat-urat, tulang belulang dan isi perutnya, padahal dari sudut pandang  lain dikatakan dia adalah satu manusia&#8221; (Lihat kitab <em>Ihya  &#8216;Ulumud Din</em> 4/241-242).</p>
<p>Al Ghazali juga berkata, &#8220;Pandangan terhadap tauhid  jenis pertama, yaitu pandangan tauhid yang murni, dengan pandangan ini, Anda  pasti akan dikenalkan bahwa Dialah yang bersyukur dan disyukuri, dan Dialah  yang mencintai dan dicintai, ini adalah pandangan orang yang meyakini bahwa  tidaklah ada di alam semesta ini melainkan Dia (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>)&#8221; (Ibid, 4/83).</p>
<p><strong>Keenam</strong>, Asy Sya&#8217;rani,  seorang tokoh besar Tashawuf yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul <em>Ath  Thabaqat Al Kubra</em>, yang memuat biografi tokoh-tokoh ahli Tasawuf dan  kisah-kisah (kotor) yang dianggap oleh orang-orang ahli Tasawuf sebagai tanda  kewalian. Di antaranya kisah seorang wali (?) yang bernama Ibrahim Al &#8216;Uryan,  orang ini bila naik mimbar dan berceramah selalu dalam keadaan telanjang  bulat!? (lihat <em>At Thabaqat Al Kubra</em> 2/124)</p>
<p>Kisah lainnya tentang seorang (wali Setan) yang bernama  Syaikh Al Wuhaisyi yang bertempat tinggal di rumah pelacuran, yang mana setiap  ada orang yang selesai berbuat zina, dan hendak meninggalkan tempat tersebut,  dia berkata kepadanya: &#8220;Tunggulah sebentar hingga aku selesai memberikan  syafaat untukmu sebelum engkau meninggalkan tempat ini!?&#8221; Dan di antara  kisah tentang orang ini: bahwa setiap kali ada seorang pemuka agama setempat  sedang menunggang keledai, dia memerintahkannya untuk segera turun, lalu  berkata kepadanya: Peganglah kepala keledaimu, agar aku dapat melampiaskan  birahiku padanya!? (lihat <em>At Thabaqat Al Kubra</em> 2/129-130)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita semua  bahwa ajaran Tasawuf adalah ajaran sesat yang menyimpang sangat jauh dari  petunjuk Al Quran dan As Sunnah, yang dengan mengamalkan ajaran ini -<em>na&#8217;udzu  billah min dzalik</em>- seseorang bukannya makin dekat kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, tapi malah semakin jauh dari-Nya, dan hatinya bukannya  makin bersih, akan tetapi malah semakin kotor dan penuh noda. Kemudian jika  timbul pertanyaan, &#8220;Kalau begitu usaha apa yang harus kita lakukan dalam  upaya untuk menyucikan jiwa dan hati kita?&#8221;, Maka jawabannya adalah  sederhana sekali, yaitu, <strong>Pelajari dan amalkan syariat islam ini lahir dan  batin, maka dengan itulah jiwa dan hati kita akan bersih </strong>(untuk lebih jelasnya silakan pembaca menelaah  kitab <em>Manhajul Anbiya&#8217; fii Tazkiyatin Nufus</em> tulisan Syaikh Salim Al  Hilali, yang ditulis khusus untuk menjelaskan masalah penting ini),  karena di antara tugas utama yang dibawa para Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah menyucikan jiwa dan hati manusia dengan  mengajarkan kepada mereka syariat Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, sebagaimana firman Allah:</p>
<p class="arab">لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْأَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُالْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ</p>
<p><em>&#8220;Sungguh  Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah  mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang  membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan  mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya  sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang  nyata&#8221;</em>. (QS. Ali &#8216;Imran:  164).</p>
<p>Maka orang yang paling banyak memahami dan mengamalkan  petunjuk Al Quran dan As Sunnah dengan baik dan benar, maka dialah orang yang  paling bersih dan suci  hati dan jiwanya  dan dialah orang yang paling bertakwa kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, karena semua orang berilmu sepakat mengatakan bahwa: &#8220;Penghalang  utama yang menghalangi seorang manusia untuk dekat kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> adalah (kekotoran) jiwanya&#8221;  (Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya <em>Igatsatul  Lahafan</em> dan <em>Al Fawa&#8217;id</em>). Oleh karena inilah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempermisalkan petunjuk dan ilmu yang Allah turunkan  kepada beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan air  hujan yang Allah turunkan dari langit, karena sebagaimana fungsi air hujan  adalah untuk menghidupkan, membersihkan dan menumbuhkan kembali tanah yang  tandus dan gersang, maka demikian pula petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh  Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah untuk  menghidupkan, menyucikan dan menumbuhkan hati manusia, dalam hadits Abi Musa Al  &#8216;Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ  غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضاً&#8230; الحديث</p>
<p><em>&#8220;</em><em>Sesungguhnya permisalan dari petunjuk dan ilmu yang aku  bawa dari Allah adalah seperti hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi&#8230;&#8221;</em> (HR. Bukhari 1/175, <em>Fathul Bari</em> dan Muslim  no. 2282).</p>
<p>Semoga tulisan ini Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> jadikan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi  semua orang yang membacanya.</p>
<p class="arab">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا  محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا الحمد لله رب العالمين.</p>
<p class="arab" style="text-align: left;">***</p>
<p class="arab" style="text-align: left;">Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.<br />
Artikel <a title="Hakikat Tasawuf" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-409"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhakikat-tasawuf-3.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Tasawuf (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 07:16:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Tasawuf yang Menyimpang Dari Petunjuk Al Quran dan As Sunnah* *Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya Haqiqat At Tashawwuf, pembahasan: Mauqif Ash Shufiyyah Min Al<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Prinsip-Prinsip  Dasar Ajaran Tasawuf yang Menyimpang Dari Petunjuk Al Quran dan As Sunnah*</strong></p>
<p>*<em>Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh Syaikh  Shalih Al Fauzan dalam kitabnya Haqiqat At Tashawwuf, pembahasan: <strong>Mauqif  Ash Shufiyyah Min Al &#8216;Ibadah wa Ad Din </strong>(hal.17-38) dengan sedikit  perubahan</em></p>
<p>Orang-orang ahli Tasawuf -khususnya  yang ada di zaman sekarang- mempunyai prinsip dasar dan metode khusus dalam  memahami dan menjalankan agama ini, yang sangat bertentangan dengan prinsip dan  metode Ahlusunnah wal Jamaah, dan menyimpang sangat jauh dari Al Quran dan As  Sunnah. Mereka membangun keyakinan dan tata cara peribadatan mereka di atas  simbol-simbol dan istilah-istilah yang mereka ciptakan sendiri, yang dapat kita  simpulkan sebagai berikut.</p>
<p><span id="more-408"></span></p>
<p><strong>Pertama</strong>, mereka  membatasi ibadah hanya pada aspek <em>Mahabbah</em> (kecintaan) saja dan  mengenyampingkan aspek-aspek yang lainnya, seperti aspek <em>Khauf</em> (rasa  takut) dan <em>Raja&#8217;</em> (harapan), sebagaimana yang terlihat dalam ucapan  beberapa orang ahli tasawuf, &#8220;Aku beribadah kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> bukan karena aku mengharapkan masuk surga dan juga bukan  karena takut masuk neraka!?&#8221;. Memang benar bahwa aspek <em>Mahabbah</em> adalah landasan berdirinya ibadah, akan tetapi ibadah itu tidak hanya terbatas  pada aspek <em>Mahabbah</em> saja -sebagaimana yang disangka oleh orang-orang  ahli tasawuf-, karena ibadah itu memiliki banyak jenis dan aspek yang  melandasinya selain aspek <em>Mahabbah</em>, seperti aspek <em>khauf</em>, <em>raja&#8217;</em>, <em>dzull</em> (penghinaan diri), <em>khudhu&#8217;</em> (ketundukkan), doa dan  aspek-aspek lain. Salah seorang ulama Salaf berkata: <strong>&#8220;Barang siapa yang  beribadah kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan kecintaan semata maka dia adalah seorang zindiq,  dan barang siapa yang beribadah kepada Allah dengan pengharapan semata maka dia  adalah seorang Murji&#8217;ah, dan barang siapa yang beribadah kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan ketakutan semata maka dia adalah seorang <em>Haruriyyah</em> (Khawarij), dan barang siapa yang beribadah kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan maka dialah  seorang mukmin sejati dan muwahhid (orang yang bertauhid dengan benar)&#8221;</strong>.Oleh karena itu Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> memuji sifat para Nabi dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan  perasaan takut dan berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu  mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksaan-Nya.</p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: &#8220;Kebanyakan  orang-orang yang menyimpang (dari jalan Allah), orang-orang yang mengikuti  ajaran-ajaran bid&#8217;ah berupa sikap zuhud dan ibadah-ibadah yang tidak dilandasi  ilmu dan tidak sesuai dengan petunjuk dari Al Quran dan As Sunnah, mereka  terjerumus ke dalam kesesatan seperti yang terjadi pada orang-orang Nasrani  yang mengaku-ngaku mencintai Allah, yang bersamaan dengan itu mereka menyimpang  dari syariat-Nya dan enggan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam  menjalankan agama-Nya, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya&#8221; (Kitab <em>Al &#8216;Ubudiyyah</em>, tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (hal. 90),  cet. Darul Ifta&#8217;, Riyadh). Dari uraian  di atas jelaslah bahwa membatasi ibadah hanya pada aspek <em>Mahabbah</em> saja  tidaklah disebut ibadah, bahkan ajaran ini bisa menjerumuskan penganutnya ke  jurang kesesatan bahkan menyebabkan dia keluar dari agama islam.</p>
<p><strong>Kedua</strong>,  orang-orang ahli tasawuf umumnya dalam menjalankan agama dan melaksanakan  ibadah tidak berpedoman kepada Al Quran dan As Sunnah, tapi yang mereka jadikan  pedoman adalah bisikan jiwa dan perasaan mereka dan ajaran yang digariskan oleh  pimpinan-pimpinan mereka, berupa Thariqat-thariqat bid&#8217;ah, berbagai macam zikir  dan wirid yang mereka ciptakan sendiri, dan tidak jarang mereka mengambil  pedoman dari cerita-cerita (yang tidak jelas kebenarannya), mimpi-mimpi, bahkan  hadits-hadits yang palsu untuk membenarkan ajaran dan keyakinan mereka. Inilah  landasan ibadah dan keyakinan ajaran Tasawuf.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, &#8220;Orang-orang  ahli Tasawuf dalam beragama dan mendekatkan diri kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berpegang teguh pada suatu pedoman seperti pedoman yang  dipegang oleh orang-orang Nasrani, yaitu ucapan-ucapan yang tidak jelas  maknanya, dan cerita-cerita yang bersumber dari orang yang tidak dikenal  kejujurannya, kalaupun ternyata orang tersebut jujur, tetap saja dia bukan  seorang (Nabi/Rasul) yang terjaga dari kesalahan, maka (demikian pula yang  dilakukan orang-orang ahli Tasawuf) mereka menjadikan para pemimpin dan guru  mereka sebagai penentu/pembuat syariat agama bagi mereka, sebagaimana  orang-orang Nasrani menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai  penentu/pembuat syariat agama bagi mereka&#8221;.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, termasuk  doktrin ajaran Tasawuf adalah keharusan berpegang teguh dan menetapi zikir-zikir  dan wirid-wirid yang ditentukan dan diciptakan oleh guru-guru thariqat mereka,  yang kemudian mereka menetapi dan mencukupkan diri dengan zikir-zikir tersebut,  beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan selalu membacanya, bahkan tidak jarang mereka  mengklaim bahwa membaca zikir-zikir tersebut lebih utama daripada membaca Al  Quran, dan mereka menamakannya dengan &#8220;zikirnya orang-orang khusus&#8221;.</p>
<p>Adapun zikir-zikir yang tercantum dalam  Al Quran dan As Sunnah mereka namakan dengan &#8220;zikirnya orang-orang umum&#8221;,  maka kalimat (Laa Ilaha Illallah ) menurut mereka adalah &#8220;zikirnya  orang-orang umum&#8221;, adapun &#8220;zikirnya orang-orang khusus&#8221; adalah  kata tunggal &#8220;Allah&#8221; dan &#8220;zikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus&#8221;  adalah kata (Huwa/ Dia).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: &#8220;Barang siapa  yang menyangka bahwa kalimat (<em>Laa Ilaha Illallah</em>) adalah zikirnya  orang-orang umum, dan zikirnya orang-orang khusus adalah kata tunggal  &#8220;Allah&#8221;, serta zikirnya orang-orang  khusus yang lebih khusus adalah kata ganti (Huwa/Dia), maka dia adalah orang  yang sesat dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang berdalil untuk  membenarkan hal ini, dengan firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>:</p>
<p class="arab" align="right">قُلِ اللّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ</p>
<p><em>&#8220;Katakan:  Allah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada  mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya&#8221;</em> (QS. Al An&#8217;aam: 91).</p>
<p>(Berdalil dengan cara seperti ini) adalah kesalahan yang  paling nyata yang dilakukan oleh orang-orang ahli Tasawuf, bahkan ini termasuk  menyelewengkan ayat Al Quran dari maknanya yang sebenarnya, karena sesungguhnya  kata &#8220;Allah&#8221; dalam ayat ini disebutkan dalam kalimat perintah untuk  menjawab pertanyaan sebelumnya , yaitu yang Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">وَمَا قَدَرُواْ اللّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُواْ مَا أَنزَلَ اللّهُ  عَلَىبَشَرٍ  مِّن شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاء بِهِ مُوسَى نُوراًوَهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ  كَثِيراًوَعُلِّمْتُم  مَّا لَمْ تَعْلَمُواْ أَنتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ قُلِ اللّهُ</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah:  Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya  dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang  terpisah-pisah, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian  besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapakmu  tidak mengetahuinya?, katakanlah: Allah (yang menurunkannya)&#8221;</em> (QS. Al An&#8217;aam:91).</p>
<p>Jadi maknanya yang benar adalah: &#8220;Katakanlah: Allah,  Dialah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Nabi Musa <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam&#8221;</em>(Kitab <em>Al &#8216;Ubudiyyah</em> hal.117)</p>
<p><strong>Keempat</strong>, sikap <em>Ghuluw</em> (berlebih-lebihan/ekstrem) orang-orang ahli Tasawuf terhadap orang-orang yang  mereka anggap wali dan guru-guru thariqat mereka, yang bertentangan dengan  aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, karena di antara prinsip aqidah Ahlusunnah wal  Jamaah adalah berwala (mencintai/berloyalitas) kepada orang-orang yang dicintai  Allah <em>&#8216;azza  wa jalla</em> dan membenci musuh-musuh  Allah <em>&#8216;azza  wa jalla</em>. Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya  wali (kekasih/penolongmu) hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang  beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk  (kepada Allah).&#8221;</em> (QS. Al Maaidah:  55).</p>
<p>Dan Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ  أَوْلِيَاءتُلْقُونَ  إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ</p>
<p><em>&#8220;Hai  orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi  teman-teman setia.&#8221;</em> (QS. Al  Mumtahanah: 1).</p>
<p>Wali (kekasih) Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang  mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>). Dan merupakan kewajiban kita untuk mencintai,  menghormati dan meneladani mereka. Dan perlu ditegaskan di sini bahwa derajat  kewalian itu tidak hanya dikhususkan pada orang-orang tertentu, bahkan setiap  orang yang beriman dan bertakwa dia adalah wali (kekasih) Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, akan tetapi <strong>kedudukan sebagai wali Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> tidaklah menjadikan seseorang terjaga dari kesalahan dan  kekhilafan</strong>. Inilah makna wali dan  kewalian, dan kewajiban kita terhadap mereka, menurut pemahaman Ahlusunnah wal  Jamaah.</p>
<p>Adapun makna wali menurut orang-orang ahli Tasawuf sangat  berbeda dengan pemahaman Ahlusunnah wal Jama&#8217;ah, karena orang-orang ahli  Tasawuf memiliki beberapa kriteria dan pertimbangan tertentu (yang bertentangan  dengan petunjuk Al Quran dan As Sunnah) dalam masalah ini, sehingga mereka  menobatkan derajat kewalian hanya kepada orang-orang tertentu tanpa dilandasi  dalil dari syariat yang menunjukkan kewalian orang-orang tersebut. Bahkan tidak  jarang mereka menobatkan derajat kewalian kepada orang yang tidak dikenal  keimanan dan ketakwaannya, bahkan kepada orang yang dikenal punya penyimpangan  dalam keimanannya, seperti orang yang melakukan praktek perdukunan, sihir dan  menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>. Dan terkadang mereka menganggap bahwa kedudukan  orang-orang yang mereka anggap sebagai &#8220;wali&#8221; melebihi kedudukan para  Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em>, sebagaimana ucapan salah  seorang dari mereka:</p>
<p align="center"><em>Kedudukan para Nabi di alam Barzakh</em></p>
<p><em>Sedikit di atas kedudukan Rasul, dan di  bawah kedudukan wali</em></p>
<p>Orang-orang ahli Tasawuf juga berkata, &#8220;Sesungguhnya  para wali mengambil (agama mereka langsung) dari sumber tempat Malaikat Jibril <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengambil wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>?!&#8221;. Dan mereka juga menganggap bahwa wali-wali  mereka itu terjaga dari kesalahan?!.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, &#8220;&#8230;Kamu akan  dapati mayoritas orang-orang ahli Tasawuf menobatkan seseorang sebagai &#8220;wali&#8221;  hanya dikarenakan orang tersebut mampu menyingkap tabir dalam suatu masalah,  atau orang tersebut melakukan sesuatu yang di luar kemampuan manusia, seperti  menunjuk kepada seseorang kemudian orang itu mati, terbang di udara menuju ke  Mekkah atau tempat-tempat lainnya, terkadang berjalan di atas air, mengisi teko  dari udara dengan air sampai penuh, ketika ada orang yang meminta pertolongan  kepadanya dari tempat yang jauh atau setelah dia mati, maka orang itu  melihatnya datang dan menunaikan kebutuhannya, memberitahukan tempat  barang-barang yang dicuri, memberitakan hal-hal yang gaib (tidak nampak), atau  orang yang sakit dan yang semisalnya. Padahal kemampuan melakukan hal-hal ini  sama sekali tidaklah menunjukkan bahwa pelakunya adalah wali Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>. Bahkan orang-orang yang beriman dan bertakwa sepakat  dan sependapat mengatakan bahwa jika ada orang yang mampu terbang di udara atau  berjalan di atas air, maka kita tidak boleh terperdaya dengan penampilan  tersebut sampai kita melihat apakah perbuatannya sesuai dengan Sunnah  Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>? apakah orang  tersebut selalu menaati perintah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan menjauhi larangannya? (Oleh  karena itulah kita tidak pernah mendengar ada seorang muslim pun yang  menganggap bahwa Superman dan Gatotkaca adalah wali-wali Allah, padahal mereka  ini (katanya) bisa terbang di udara?! -pen) &#8230;karena hal-hal yang di luar  kemampuan manusia ini bisa dilakukan oleh banyak orang kafir, musyrik, ahli  kitab dan orang munafik, dan bisa dilakukan oleh para pelaku bid&#8217;ah dengan  bantuan setan/jin, maka sama sekali tidak boleh dianggap bahwa setiap orang  yang mampu melakukan hal-hal di atas adalah wali Allah&#8221;.  (<em>Majmu&#8217; Al Fatwa</em>, 11/215).</p>
<p>Kemudian ternyata kesesatan orang-orang ahli tasawuf  tidak sampai di sini saja, karena sikap mereka yang berlebih-lebihan dan  melampaui batas dalam mengagungkan orang-orang yang mereka anggap sebagai &#8220;wali&#8221;,  sampai-sampai mereka menganggap &#8220;para wali&#8221; tersebut memiliki  sifat-sifat ketuhanan, seperti menentukan kejadian-kejadian di alam semesta  ini, mengetahui hal-hal yang gaib, memenuhi kebutuhan orang-orang yang meminta  pertolongan kepada mereka dalam perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan  kecuali oleh Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dan sifat-sifat  ketuhanan lainnya. Kemudian sikap berlebih-lebihan ini menjerumuskan mereka ke  dalam perbuatan syirik dengan menjadikan &#8220;para wali&#8221; tersebut sebagai  sesembahan selain Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, dengan membangun  kuburan &#8220;para wali&#8221; tersebut, meyakini adanya keberkahan pada tanah  kuburan tersebut, melakukan berbagai macam kegiatan ibadah padanya, seperti  thawaf dengan mengelilingi kuburan tersebut, bernazar dengan maksud mendekatkan  diri kepada penghuni kubur dan perbuatan-perbuatan syirik lainnya.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, termasuk  doktrin ajaran Tasawuf yang sesat adalah mendekatkan diri (?) kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan nyanyian, tarian, tabuhan rebana dan bertepuk  tangan, yang semua ini mereka anggap sebagai amalan ibadah kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>. DR Shabir Tha&#8217;imah berkata dalam kitabnya <em>Ash  Shufiyyah, Mu&#8217;taqadan wa Masakan,</em> &#8220;Saat ini tarian sufi modern telah  dipraktekkan pada mayoritas thariqat-thariqat sufiyyah dalam pesta-pesta  perayaan ulang tahun beberapa tokoh mereka, di mana para pengikut thariqat  berkumpul untuk mendengarkan nada-nada musik yang terkadang didendangkan oleh  lebih dari dua ratus pemain musik pria dan wanita, sedangkan para murid senior  dalam pesta ini duduk sambil mengisap berbagai jenis rokok, dan para tokoh  senior beserta para pengikutnya membacakan beberapa kisah khurafat (bohong)  yang terjadi pada sang tokoh yang telah meninggal dunia&#8230;&#8221;.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, &#8220;&#8230;Ketahuilah  bahwa perbuatan orang-orang ahli tasawuf ini sama sekali tidak pernah dilakukan  di awal tiga generasi yang utama di semua negeri islam: Hijaz, Syam, Yaman,  Mesir, Magrib, Irak, dan Khurasan. Orang-orang yang shalih, taat beragama dan  rajin beribadah pada masa itu tidak pernah berkumpul untuk mendengarkan siulan  (yang berisi lantunan musik), tepukan tangan, tabuhan rebana dan ketukan tongkat  (seperti yang dilakukan oleh orang-orang ahli Tasawuf), perbuatan ini adalah  perkara yang diada-adakan (bid&#8217;ah) yang muncul di penghujung abad kedua, dan  ketika para Imam Ahlusunnah melihat perbuatan ini mereka langsung  mengingkarinya, (sampai-sampai) Imam Asy Syafi&#8217;i <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: &#8220;Aku tinggalkan Baghdad, dan di sana ada  suatu perbuatan yang diada-adakan oleh orang-orang zindiq (munafik tulen) yang  mereka namakan <em>At Taghbir</em> (<em>At Taghbir</em> adalah  semacam Qasidah yang dilantunkan dan berisi ajakan untuk zuhud dalam urusan  dunia, lihat kitab <em>Igatsatul Lahfan</em> tulisan Imam Ibnul Qayyim, maka  silakan pembaca bandingkan <em>At Taghbir</em> ini dengan apa yang di zaman  sekarang ini disebut sebagai Nasyid Islami (?), apakah ada perbedaan di antara  keduanya? Jawabnya: <strong>keduanya serupa tapi tak beda!</strong> Kalau demikian  berarti hukum nasyid islami adalah&#8230;., saya ingin mengajak pembaca sekalian  membayangkan semisalnya ada seorang presiden yang hobi dengar nasyid  islami, apa kita tidak khawatir kalau dalam upacara bendera sewaktu acara  pengibaran bendera akan diiringi dengan nasyid islami!!? -pen), yang mereka  jadikan senjata untuk menjauhkan kaum muslimin dari Al Quran&#8221;. Dan Imam  Yazid bin Harun berkata: &#8220;orang yang mendendangkan At Taghbir tidak lain  adalah orang fasik, kapan munculnya perbuatan ini?&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad ketika ditanya (tentang perbuatan ini), beliau  menjawab, &#8220;Aku tidak menyukainya (karena) perbuatan ini adalah bid&#8217;ah&#8221;,  maka beliau ditanya lagi: apakah anda mau duduk bersama orang-orang yang  melakukan perbuatan ini? Beliau menjawab, &#8220;Tidak&#8221;. Demikian  pula Imam-Imam besar lainnya mereka semua tidak menyukai perbuatan ini. Dan  para Syaikh (ulama) yang Shalih tidak ada yang mau menghadiri (menyaksikan)  perbuatan ini, seperti: Ibrahim bin Adham, Fudhail bin &#8216;Iyadh, Ma&#8217;ruf Al  Karkhi, Abu Sulaiman Ad Darani, Ahmad bin Abil Hawari, As Sariy As Saqti dan  syaikh-syaikh lainnya&#8221; (<em>Majmu&#8217; Al Fatawa</em> 11/569).</p>
<p>Maka orang-orang  ahli Tasawuf yang mendekatkan diri (?) kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan cara-cara seperti ini, adalah tepat jika  dikatakan bahwa mereka itu seperti orang-orang (penghuni Neraka) yang dicela  oleh Allah <em>&#8216;azza  wa jalla</em> dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَهُمْ لَهْواً وَلَعِباً وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُالدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنسَاهُمْ كَمَا نَسُواْ لِقَاء يَوْمِهِمْ هَـذَا  وَمَاكَانُواْ  بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ</p>
<p><em>&#8220;(</em><em>yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda  gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.&#8221; Maka pada hari (kiamat)  ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan  hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami&#8221;</em> (QS. Al A&#8217;raaf: 51).</p>
<p><strong>Keenam</strong>, juga  termasuk doktrin ajaran Tasawuf yang sesat adalah apa yang mereka namakan  sebagai suatu keadaan/tingkatan yang jika seseorang telah mencapainya maka dia  akan terlepas dari kewajiban melaksanakan syariat Islam. Keyakinan ini muncul  sebagai hasil dari perkembangan ajaran Tasawuf, karena asal mula ajaran Tasawuf  -sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnul Jauzi- adalah melatih jiwa dan  menundukkan watak dengan berupaya memalingkannya dari akhlak-akhlak yang jelek  dan membawanya pada akhlak-akhlak yang baik, seperti sifat zuhud, tenang,  sabar, ikhlas dan jujur.</p>
<p>Kemudian Ibnul Jauzi mengatakan: &#8220;Inilah asal mula  ajaran <a title="Hakikat Tasawuf" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-2.html">Tasawuf</a> yang dipraktekkan oleh pendahulu-pendahulu mereka, kemudian  Iblis mulai memalingkan dan menyesatkan mereka dari generasi ke generasi  berikutnya dengan berbagai macam syubhat (kerancuan) dan talbis  (pencampuradukan), kemudian penyimpangan ini terus bertambah sehingga Iblis  berhasil dengan baik menguasai generasi belakangan dari orang-orang ahli  Tasawuf. <strong>Pada mulanya, dasar upaya penyesatan yang diterapkan oleh Iblis  kepada mereka adalah memalingkan mereka dari (mempelajari) ilmu agama dan  mengesankan kepada mereka bahwa tujuan utama adalah (semata-semata) beramal  (tanpa perlu ilmu),dan ketika Iblis telah berhasil memadamkan cahaya  ilmu dalam diri mereka, mulailah mereka berjalan tanpa petunjuk dalam  kegelapan/kesesatan,</strong> maka di antara mereka ada yang dikesankan padanya  bahwa tujuan utama (ibadah) adalah meninggalkan urusan dunia secara  keseluruhan, sampai-sampai mereka meninggalkan apa-apa yang dibutuhkan oleh  tubuh mereka, bahkan mereka menyerupakan harta dengan kalajengking, dan mereka  lupa bahwa Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> menjadikan harta  bagi manusia untuk kemaslahatan mereka, kemudian mereka bersikap  berlebih-lebihan dalam menyiksa diri-diri mereka, sampai-sampai ada di antara  mereka yang tidak pernah tidur (sama sekali). Meskipun niat mereka baik  (sewaktu melakukan perbuatan ini), akan tetapi (perbuatan yang mereka lakukan)  menyimpang dari jalan yang benar. Di antara mereka juga ada yang beramal  berdasarkan hadits-hadits yang palsu tanpa disadarinya karena dangkalnya ilmu  agama.</p>
<p>Kemudian datanglah generasi-generasi setelah mereka yang  mulai membicarakan (keutamaan) lapar, miskin dan bisikan-bisikan jiwa, bahkan  mereka menulis kitab-kitab (khusus) tentang masalah ini, seperti (tokoh sufi  yang bernama) Al Harits Al Muhasibi. Lalu datang generasi selanjutnya yang  mulai merangkum dan menghimpun mazhab/ajaran Tasawuf dan mengkhususkannya  dengan sifat-sifat khusus, seperti <em>Ma&#8217;rifah</em> (mengenal Allah dengan  sebenarnya)(??!), <em>Sama&#8217;</em> (mendengarkan nyanyian dan lantunan musik), <em>Wajd</em> (bisikan jiwa), <em>Raqsh</em> (tari-tarian) dan <em>Tashfiq</em> (tepukan tangan),  kemudian ajaran tasawuf terus berkembang dan para guru thariqat mulai membuat  aturan-aturan khusus bagi mereka dan membicarakan (membangga-banggakan)  kedudukan mereka (orang-orang ahli Tasawuf), sehingga (semakin lama mereka  semakin jauh dari petunjuk) para ulama Ahlusunnah, dan mereka mulai memandang  tinggi ajaran dan ilmu mereka (ilmu Tasawuf), sampai-sampai mereka namakan ilmu  tersebut dengan ilmu batin dan mereka menganggap ilmu syari&#8217;at sebagai ilmu  lahir??! Dan di antara mereka karena rasa lapar yang sangat hingga membawa  mereka kepada khayalan-khayalan yang rusak dan mengaku-ngaku jatuh cinta dan  kasmaran kepada <em>Al Haq</em> (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>), (padahal  yang) mereka lihat dalam khayalan mereka adalah seseorang yang rupanya menawan  yang kemudian membuat mereka jatuh cinta berat (lalu mereka mengaku-ngaku bahwa  yang mereka cintai itu adalah Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>).</p>
<p>Maka mereka ini (terombang-ambing) di antara kekufuran  dan bid&#8217;ah, kemudian semakin banyak jalan-jalan sesat yang mereka ikuti  sehingga menyebabkan rusaknya akidah mereka, maka di antara mereka ada yang  menganut keyakinan <em>Al Hulul</em>, juga ada yang menganut keyakinan <em>Wihdatul  Wujud</em>, dan terus-menerus Iblis menyesatkan mereka dengan berbagai bentuk  bid&#8217;ah (penyimpangan) sehingga mereka menjadikan untuk diri-diri mereka sendiri  tata cara beribadah yang khusus (yang berbeda dengan tata cara beribadah yang Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> syari&#8217;atkan dalam agama islam)&#8221; (Kitab <em>Talbis Iblis</em>, tulisan Ibnul Jauzi hal. 157-158).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika beliau ditanya  tentang sekelompok orang yang mengatakan bahwa <strong>diri mereka telah  mencapai tingkatan bebas dari kewajiban melaksanakan syariat</strong>, maka  beliau menjawab: &#8220;Tidak diragukan lagi -menurut pandangan orang-orang yang  berilmu dan orang-orang yang beriman- bahwa ucapan ini adalah termasuk  kekufuran yang paling besar, bahkan <strong>ucapan ini lebih buruk daripada ucapan  orang-orang Yahudi dan Nasrani</strong>, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani  mereka mengimani sebagian (isi) kitab suci mereka dan mengingkari sebagian  lainnya, dan mereka itulah orang-orang kafir yang sebenarnya, dan mereka juga  membenarkan perintah dan larangan Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, meyakini janji dan ancaman-Nya&#8230;</p>
<p>Kesimpulannya: Bahwa Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang  berpegang pada ajaran agama mereka yang telah dihapus (dengan datangnya agama  islam) dan telah mengalami perubahan dan rekayasa, mereka ini lebih baik  (keadaannya) dibandingkan orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah bebas  dari kewajiban melaksanakan perintah Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> secara keseluruhan, karena dengan keyakinan tersebut  berarti mereka telah keluar dari ajaran semua kitab suci, semua syariat dan  semua agama, mereka sama sekali tidak berpegang kepada perintah dan larangan  Allah <em>&#8216;azza  wa jalla</em>, bahkan mereka lebih buruk  dari orang-orang musyrik yang masih berpegang kepada sebagian dari ajaran agama  yang terdahulu, seperti orang-orang musyrik bangsa Arab yang masih berpegang  pada sebagian dari ajaran agama nabi Ibrahim <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>&#8230; Dan di antara mereka ada yang berargumentasi (untuk  membenarkan keyakinan tersebut) dengan firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>:</p>
<p class="arab" align="right">وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ <span style="text-decoration: underline;">الْيَقِينُ</span></p>
<p><em>&#8220;Sembahlah  Rabbmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (kematian)&#8221;</em> (QS. Al Hijr: 99).</p>
<p>Mereka berkata makna ayat di atas adalah, &#8220;sembahlah  Rabbmu sampai kamu (mencapai tingkatan) ilmu dan ma&#8217;rifat, dan jika kamu telah  mencapainya maka gugurlah (kewajiban melaksanakan) ibadah atas dirimu&#8230;&#8221;.  (Pada Hakikatnya) ayat ini justru menyanggah (keyakinan) mereka dan tidak  membenarkannya. Hasan Al Bashri berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah tidak  menjadikan bagi amalan orang-orang yang beriman batas akhir kecuali kematian,  kemudian Hasan Al Bashri membaca ayat tersebut di atas. Dan makna &#8220;<em>Al  Yaqin</em>&#8221; dalam ayat tersebut adalah <em>&#8220;Al Maut&#8221;</em> (kematian) dan peristwa-peristiwa sesudahnya, (dan makna ini) berdasarkan  kesepakatan semua ulama Islam, seperti yang juga Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> sebutkan dalam Firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">مَاسَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ  نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ  وَكُنَّا نَخُوضُ  مَعَ الْخَآئِضِينَ  وَكُنَّا نُكَذِّبُ  بِيَوْمِ الدِّينِ  حَتَّى أَتَانَا <span style="text-decoration: underline;">الْيَقِينُ</span></p>
<p><em>&#8220;</em><em>Apa yang  menyebabkan kamu (wahai orang-orang kafir) masuk ke dalam Saqar (neraka)?,  mereka menjawab: Kami dahulu (di dunia) tidak termasuk orang-orang yang  mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami  ikut membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan  kami mendustakan hari pembalasan, hingga datanglah pada kami sesuatu yang  diyakini (kematian)&#8221;</em> (QS. Al  Muddatstsir: 42-47).</p>
<p>Maka (dalam ayat ini) mereka (orang-orang kafir)  menyebutkan (bahwa telah sampai kepada mereka Al Yaqin/kematian) padahal mereka  termasuk penghuni neraka, dan mereka ceritakan perbuatan-perbuatan mereka (yang  menyebabkan mereka masuk ke dalam neraka): meninggalkan shalat dan zakat,  mendustakan hari kemudian, membicarakan yang batil bersama orang-orang yang  membicarakannya, sampai datang pada mereka Al Yaqin (kematian)&#8230; yang  maksudnya adalah: datang kepada mereka sesuatu yang telah dijanjikan, yaitu Al  Yaqin (kematian)&#8221; (<em>Majmu&#8217; Al Fatawa</em> 401-402 dan  417-418).</p>
<p>Maka ayat tersebut di atas jelas sekali menunjukkan  kewajiban setiap orang untuk selalu beribadah sejak dia mencapai usia dewasa  dan berakal sampai ketika kematian datang menjemputnya, dan tidak ada sama  sekali dalam ajaran islam apa yang dinamakan tingkatan/ keadaan yang jika  seseorang telah mencapainya maka gugurlah kewajiban beribadah atasnya,  sebagaimana yang disangka oleh orang-orang ahli Tasawuf.</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.<br />
Artikel <a title="Hakikat Tasawuf" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-2.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-408"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhakikat-tasawuf-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Tasawuf (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 06:58:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد Istilah &#8220;sufi&#8221; atau &#8220;tasawuf&#8221; tentu sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p class="arab" align="right">الحمد لله، والصلاة والسلام على  رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد</p>
<p>Istilah &#8220;sufi&#8221; atau &#8220;tasawuf&#8221; tentu  sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat awam,  istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian,  kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa  seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat takwa tanpa melalui jalan tasawuf.  Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan  oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawuf, berupa pakaian lusuh dan  usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak  melafazkan zikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam  bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali  (kekasih) Allah <em>ta&#8217;ala</em></p>
<p><span id="more-407"></span></p>
<p>Sebelum kami membahas tentang hakikat <a title="Hakikat Tasawuf" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-1.html">tasawuf</a> yang  sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa <strong>penilaian benar atau  tidaknya suatu pemahaman bukan cuma dilihat dari pengakuan lisan atau  penampilan lahir semata, akan tetapi yang menjadi barometer adalah sesuai  tidaknya pemahaman tersebut dengan Al Quran dan As Sunnah menurut apa yang  dipahami salafush shalih</strong>. Sebagai bukti akan hal ini kisah khawarij,  kelompok yang pertama menyempal dalam islam yang diperangi oleh para sahabat  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di bawah pimpinan Ali Bin Abi  Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berdasarkan perintah Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>. Padahal kalau kita melihat pengakuan lisan dan  penampilan lahir kelompok khawarij ini maka tidak akan ada seorang pun yang  menduga bahwa mereka menyembunyikan penyimpangan dan kesesatan yang besar dalam  batin mereka, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika beliau menjelaskan  ciri-ciri kelompok khawarij ini, beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Mereka (orang-orang khawarij) selalu mengucapkan  (secara lahir) kata-kata yang baik dan indah, dan mereka selalu membaca Al  Quran tapi (bacaan tersebut) tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke  dalam hati mereka)&#8230;&#8221;</em> (HSR Imam Muslim  7/175, <em>Syarh An Nawawi</em>, cet. Darul Qalam, dari &#8216;Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em>).</p>
<p>Dan dalam riwayat yang lain beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>&#8220;&#8230; Bacaan Al Quran kalian (wahai  para sahabatku) tidak ada artinya jika dibandingkan dengan bacaan Al Quran  mereka, (demikian pula) shalat kalian tidak ada artinya jika dibandingkan  dengan shalat mereka, (demikian pula) puasa kalian tidak ada artinya jika  dibandingkan dengan puasa mereka</em> (HSR Imam Muslim 7/175, <em>Syarh An Nawawi</em>,  cet. Darul Qalam, dari &#8216;Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>)</p>
<p>Maka pada hadits yang pertama Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang selalu  mengucapkan kata-kata yang baik dan indah tapi cuma di mulut saja dan tidak  masuk ke dalam hati mereka, dan pada hadits yang ke dua Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menerangkan tentang penampilan lahir mereka yang selalu  mereka tampakkan untuk memperdaya manusia, yaitu kesungguhan dalam beribadah  yang bahkan sampai kelihatannya melebihi kesungguhan para Sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> dalam beribadah (karena memang para Sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> berusaha keras untuk menyembunyikan ibadah mereka karena  takut tertimpa riya)</p>
<p>Yang kemudian prinsip ini diterapkan dengan benar oleh  Ali Bin Abi Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, sahabat yang  meriwayatkan hadits di atas, tatkala kelompok khawarij keluar untuk memberontak  dengan satu slogan yang mereka elu-elukan: &#8220;Tidak ada hukum selain hukum  Allah <em>&#8216;azza  wa jalla</em>&#8220;. Maka Ali Bin Abi Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> menanggapi slogan tersebut dengan ucapan beliau <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> yang sangat masyhur -yang seharusnya kita jadikan  sebagai pedoman dalam menilai suatu pemahaman- yaitu ucapan beliau <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>: <strong>&#8220;(slogan mereka itu ) adalah kalimat  (yang nampaknya) benar tetapi dimaksudkan untuk kebatilan.&#8221;</strong></p>
<p>Semoga Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> Merahmati  Imam Abu Muhammad Al Barbahari yang mengikrarkan prinsip ini dalam kitabnya <em>Syarhus  Sunnah</em> dengan ucapan beliau: <strong>&#8220;Perhatikan dan cermatilah -semoga  Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> merahmatimu- semua orang yang menyampaikan satu ucapan/pemahaman di hadapanmu,  maka jangan sekali-kali kamu terburu-buru untuk membenarkan dan mengikuti  ucapan/pemahaman tersebut, sampai kamu tanyakan dan meneliti kembali: Apakah  ucapan/pemahaman tersebut pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em><em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> atau pernah disampaikan oleh ulama Ahlussunnah? Kalau  kamu dapati ucapan/pemahaman tersebut sesuai dengan pemahaman mereka <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> berpegang teguhlah kamu dengan ucapan/pemahaman  tersebut, dan janganlah (sekali-kali) kamu meninggalkannya dan memilih pemahaman  lain, sehingga (akibatnya) kamu akan terjerumus ke dalam neraka!&#8221; </strong>(<em>Syarhus Sunnah</em>, tulisan Imam Al Barbahari hal.61,  tahqiq Syaikh Khalid Ar Radadi). Setelah  prinsip di atas jelas, sekarang kami akan membahas tentang hakikat tasawuf,  agar kita bisa melihat dan menilai dengan jelas benar atau tidaknya ajaran  tasawuf ini.</p>
<p><strong>Definisi  Tasawuf/Sufi</strong></p>
<p>Kata &#8220;Shufi&#8221; berasal dari bahasa Yunani &#8220;<em>Shufiya</em>&#8221;  yang artinya: hikmah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata ini  merupakan penisbatan kepada pakaian dari kain &#8220;<em>Shuf</em>&#8221; (kain  wol) dan pendapat ini lebih sesuai karena pakaian wol di zaman dulu selalu  diidentikkan dengan sifat zuhud, Ada juga yang mengatakan bahwa memakai pakaian  wol dimaksudkan untuk ber<em>tasyabbuh</em> (menyerupai) Nabi &#8216;Isa Al Masih <em>&#8216;alaihi sallam</em> (Lihat kitab kecil <em>&#8220;Haqiqat Ash Shufiyyah Fii Dhau&#8217;il Kitab was Sunnah&#8221;</em> (hal. 13), tulisan Syaikh DR. Muhammad bin Rabi&#8217; Al Madkhali).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: &#8220;Ada  perbedaan pendapat dalam penisbatan kata &#8220;Shufi&#8221;, karena kata ini  termasuk nama yang menunjukkan penisbatan, seperti kata &#8220;Al Qurasyi&#8221;  (yang artinya: penisbatan kepada suku Quraisy), dan kata &#8220;Al Madani&#8221;  (artinya: penisbatan kepada kota Madinah) dan yang semisalnya. Ada yang  mengatakan: &#8220;Shufi&#8221; adalah nisbat kepada <em>Ahlush Shuffah</em> (Ash Shuffah adalah semacam teras yang bersambung dengan  mesjid Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang dulu dijadikan  tempat tinggal sementara oleh beberapa orang sahabat Muhajirin <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> yang miskin, karena mereka tidak memiliki harta, tempat tinggal dan keluarga di  Madinah, maka Rasullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengizinkan  mereka tinggal sementara di teras tersebut sampai mereka memiliki tempat  tinggal tetap dan peng- hidupan yang cukup. Lihat kitab <em>Taqdis Al Asykhash</em> tulisan Syaikh Muhammad Ahmad Lauh 1/34, -pen), tapi pendapat ini (jelas)  salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: &#8220;Shuffi&#8221;  (dengan huruf &#8220;fa&#8217; &#8220;yang didobel). Ada juga yang mengatakan  nisbat kepada &#8220;Ash Shaff&#8221; (barisan) yang terdepan di hadapan Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, pendapat ini pun salah, karena kalau benar demikian  maka mestinya pengucapannya adalah &#8220;Shaffi&#8221; (dengan harakat fathah  pada huruf &#8220;shad&#8221; dan huruf &#8220;fa&#8217; &#8221; yang didobel. Ada juga  yang mengatakan nisbat kepada &#8220;Ash Shafwah&#8221; (orang-orang terpilih)  dari semua makhluk Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, dan  pendapat ini pun salah karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya  adalah: &#8220;Shafawi&#8221;. Ada juga yang mengatakan nisbat kepada (seorang  yang bernama) Shufah bin Bisyr bin Udd bin Bisyr bin Thabikhah, satu suku dari  bangsa Arab yang di zaman dulu (zaman jahiliah) pernah bertempat tinggal di  dekat Ka&#8217;bah di Mekkah, yang kemudian orang-orang yang ahli nusuk (ibadah)  setelah mereka dinisbatkan kepada mereka, pendapat ini juga lemah meskipun  lafazhnya sesuai jika ditinjau dari segi penisbatan, karena suku ini  tidak populer dan tidak dikenal oleh kebanyakan orang-orang ahli ibadah, dan  kalau seandainya orang-orang ahli ibadah dinisbatkan kepada mereka maka  mestinya penisbatan ini lebih utama di zaman para sahabat, para tabi&#8217;in dan  tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, dan juga karena mayoritas orang-orang yang berbicara atas nama  shufi tidak mengenal qabilah (suku) ini dan tidak ridha dirinya dinisbatkan  kepada suatu suku yang ada di zaman jahiliyah yang tidak ada eksistensinya  dalam islam. Ada juga yang mengatakan -dan pendapat inilah yang lebih dikenal-  nisbat kepada &#8220;Ash Shuf&#8221; (kain wol)(<em>Majmu&#8217;ul Fatawa</em>,  11/5-6).</p>
<p><strong>Lahirnya Ajaran Tasawuf</strong></p>
<p>Tasawuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di  zaman para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> bahkan  tidak dikenal di zaman tiga generasi yang utama (generasi sahabat, tabi&#8217;in dan  tabi&#8217;it tabi&#8217;in). Ajaran ini baru muncul sesudah zaman tiga generasi ini. (Lihat <em>Haqiqat Ash Shufiyyah</em> hal. 14).</p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, &#8220;Adapun  lafazh &#8220;Shufiyyah&#8221;, lafazh ini tidak dikenal di kalangan tiga  generasi yang utama. Lafazh ini baru dikenal dan dibicarakan setelah tiga  generasi tersebut, dan telah dinukil dari beberapa orang imam dan syaikh yang  membicarakan lafazh ini, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad Darani  dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri bahwasanya  beliau membicarakan lafazh ini, dan ada juga yang meriwayatkan dariHasan  Al Bashri&#8221; (Majmu&#8217; Al Fatawa 11/5).</p>
<p>Kemudian Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ajaran ini  pertama kali muncul di kota Bashrah, Iraq, yang dimulai dengan timbulnya sikap  berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah yang tidak terdapat di kota-kota  (islam) lainnya (<em>Majmu&#8217; Al Fatawa</em>, 11/6).</p>
<p>Berkata Imam Ibnu Al Jauzi: &#8220;Tasawuf adalah suatu  aliran yang lahirnya diawali dengan sifat zuhud secara keseluruhan, kemudian  orang-orang yang menisbatkan diri kepada aliran ini mulai mencari kelonggaran  dengan mendengarkan nyanyian dan melakukan tari-tarian, <strong>sehingga orang-orang  awam yang cenderung kepada akhirat tertarik kepada mereka karena mereka  menampakkan sifat zuhud, dan orang-orang yang cinta dunia pun tertarik kepada  mereka karena melihat gaya hidup yang suka bersenang-senang dan bermain  pada diri mereka.</strong> (<em>Talbis Iblis</em> hal 161).</p>
<p>Dan berkata DR. Shabir Tha&#8217;imah dalam kitabnya <em>Ash  Shufiyyah Mu&#8217;taqadan Wa Maslakan</em> (hal. 17) &#8220;Dan jelas sekali besarnya  pengaruh gaya hidup kependetaan Nasrani -yang mereka selalu memakai pakaian wol  ketika mereka berada di dalam biara-biara- pada orang-orang yang memusatkan  diri pada kegiatan ajaran tasawuf ini di seluruh penjuru dunia, padahal Islam  telah membebaskan dunia ini dengan tauhid, yang mana gaya hidup ini dan lainnya  memberikan suatu pengaruh yang sangat jelas pada tingkah laku para pendahulu  ahli tasawuf.&#8221; (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan  dalam kitabnya <em>Haqiqat At Tasawwuf</em>, hal. 13).</p>
<p>Dan berkata Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dalam kitab beliau <em>At  Tashawuf, Al Mansya&#8217; wa Al Mashdar</em> hal. 28 &#8220;Ketika kita mengamati  lebih dalam ajaran-ajaran tasawuf yang dulu maupun yang sekarang dan  ucapan-ucapan mereka, yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawuf  yang dulu maupun sekarang, kita akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas  antara ajaran tersebut dengan ajaran Al Quran dan As Sunnah. <strong>Dan sama sekali  tidak pernah kita dapati bibit dan cikal bakal ajaran tasawuf ini dalam  perjalanan sejarah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari  hamba-hamba Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, bahkan justru sebaliknya kita dapati ajaran tasawuf ini  diambil dan dipungut dari kependetaan model Nasrani, dari kebrahmanaan  model agama Hindu, peribadatan model Yahudi dan kezuhudan model agama Budha</strong>&#8221; (Dinukil oleh Syaikh  Shalih Al Fauzan dalam kitabnya <em>&#8220;Haqiqat At Tashawuf&#8221;</em> hal.  14).</p>
<p>Dari keterangan yang kami nukilkan di atas, jelaslah  bahwa tasawuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam Islam, hal ini terlihat  jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawuf,  amalan-amalan asing dan jauh dari petunjuk islam. Dan yang kami maksudkan di  sini adalah orang-orang ahli tasawuf zaman sekarang, yang banyak melakukan  kesesatan dan kebohongan dalam agama, adapun ahli tasawuf yang terdahulu keadaan  mereka masih <em>lumayan</em>, seperti Fudhail bin &#8216;Iyadh, Al Junaid, Ibrahim bin  Adham dan lain-lain. (Lihat kitab <em>Haqiqat At Tashawwuf</em> tulisan Syaikh  Shalih Al Fauzan hal. 15)</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.<br />
Artikel <a title="Hakikat Tasawuf" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-1.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-407"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhakikat-tasawuf-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>84</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

