<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Takdir Allah</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/takdir-allah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pilihan Allah Itulah yang Terbaik</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/pilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/pilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 00:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6253</guid>
		<description><![CDATA[Imam adz-Dzahabi[1] dan Ibnu Katsir[2] menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa pernah disampaikan kepada beliau tentang ucapan shahabat<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/pilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Imam adz-Dzahabi<a href="#_ftn1">[1]</a> dan Ibnu Katsir<a href="#_ftn2">[2]</a> menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, bahwa pernah disampaikan kepada beliau tentang ucapan shahabat Abu Dzar, &#8220;Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan (kondisi) sakit lebih aku sukai daripada (kondisi) sehat&#8221;. Maka al-Hasan bin &#8216;Ali berkata, &#8220;Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah: &#8220;Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah <em>Ta&#8217;ala </em>pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em>) berlakukan (bagi hamba-Nya)&#8221;.</p>
<p><em>Atsar</em> (riwayat) shahabat di atas menggambarkan tingginya pemahaman Islam para shahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> dan keutamaan mereka dalam semua segi kebaikan dalam agama<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Dalam <em>atsar</em> ini shahabat Abu Dzar <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em>menjelaskan bahwa kondisi susah (miskin dan sakit) lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang (kaya dan sehat), karena biasanya seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan daripada bersabar untk tidak melanggar perintah Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dalam keadaan senang dan lapang, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka”<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Akan tetapi, dalam <em>atsar</em> ini, cucu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, al-Hasan bin ‘Ali <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengomentari ucapan Abu Dzar di atas dengan pemahaman agama yang lebih tinggi dan merupakan konsekwensi suatu kedudukan yang sangat agung dalam Islam, yaitu ridha kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sebagai <em>Rabb</em> (Pencipta, Pengatur, Pelindung dan Penguasa bagi alam semesta), yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan takdir dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Sikap ini merupakan ciri utama orang yang akan meraih kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah I sebagai <em>Rabb</em>-nya dan islam sebagai agamanya serta (Nabi) Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai rasulnya”<a href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:</p>
<p>- Bersandar dan bersarah diri kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> adalah sebaik-baik usaha untuk mendapatkan kebaikan dan kecukupan dari-Nya<a href="#_ftn7">[7]</a>. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya</em>” (QS ath-Thalaaq: 3).</p>
<p>- Ridha dengan segala ketentuan dan pilihan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> bagi hamba-Nya adalah termasuk bersangka baik kepada-Nya dan ini merupakan sebab utama Allah <em>Ta&#8217;ala</em> akan selalu melimpahkan kebaikan dan keutmaan bagi hamba-Nya. Dalam sebuah hadits <em>qudsi</em> Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku”<a href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em><a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>- Takdir yang Allah <em>Ta&#8217;ala </em>tetapkan bagi hamba-Nya, baik berupa kemiskinan atau kekayaan, sehat atau sakit, kegagalan dalam usaha atau keberhasilan dan lain sebagainya, wajib diyakini bahwa itu semua adalah yang terbaik bagi hamba tersebut, karena Allah <em>Ta&#8217;ala</em> maha mengetahui bahwa di antara hamba-Nya ada yang akan semakin baik agamanya jika dia diberikan kemiskinan, sementara yang lain semakin baik dengan kekayaan, dan demikian seterusnya<a href="#_ftn10">[10]</a>.</p>
<p>- Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi berkata,&#8221;Dunia (harta) tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena (dikhawatirkan) harta itu menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan (manusia) dari (beribadah kepada) Allah. Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, seperti Nabi Sulaiman <em>&#8216;alaihis salam</em>, demikian pula (sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) &#8216;Utsman (bin &#8216;Affan)<em> </em> dan &#8216;Abdur Rahman bin &#8216;Auf . Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya (justru) melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepada-Nya…&#8221;<a href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p>- Orang yang paling mulia di sisi Allah <em>Ta&#8217;ala</em> adalah orang yang mampu memanfaatkan keadaan yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> pilihkan baginya untuk meraih takwa dan kedekatan di sisi-Nya, maka jika diberi kekayaan dia bersyukur dan jika diberi kemiskinan dia bersabar. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ }</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu</em>&#8221; (QS al-Hujuraat: 13).</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”<a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 7 Jumadal ula 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (3/262).</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Dalam kitab “al-Bidaayah wan nihaayah” (8/39).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Fawa-id” (hal. 141).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HSR al-Bukhari (no. 2988) dan Muslim (no. 2961).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat kitab “Fiqul asma-il husna” (hal. 81).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HSR Muslim (no. 34).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “badaa-i’ul fawa-id” (2/766).</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> HSR al-Bukhari (no. 7066- cet. Daru Ibni Katsir) dan Muslim (no. 2675).</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat kitab &#8220;Faidhul Qadiir&#8221; (2/312) dan &#8220;Tuhfatul ahwadzi&#8221; (7/53).</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat keterangan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab “&#8217;Uddatush shaabiriin” (hal. 149-150).</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Kitab “al-Aadaabusy syar&#8217;iyyah” (3/469).</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> HSR Muslim (no. 2999).</p>
<div class="shr-publisher-6253"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fpilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fpilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fpilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/pilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soal-64: Taqdir Allah dan Ikhtiar Manusia</title>
		<link>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-64-taqdir-allah-dan-ikhtiar-manusia.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-64-taqdir-allah-dan-ikhtiar-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 08:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3169</guid>
		<description><![CDATA[Allah lah yang menentukan seseorang itu mendapat petunjuk ataukah sesat, bagaimanakah kaitan hal ini dengan ikhtiar manusia? Dijawab Oleh Ust Aris Munandar. SS Jawabannya Klik Player: Download]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Allah lah yang menentukan seseorang itu mendapat petunjuk ataukah sesat, bagaimanakah kaitan hal ini dengan ikhtiar manusia?</p>
<p>Dijawab Oleh <a href="http://ustadzaris.com">Ust Aris Munandar. SS</a></p>
<p>Jawabannya Klik Player:</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/soal55-65/soal-64.mp3">Download</a></p>
<div class="shr-publisher-3169"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-64-taqdir-allah-dan-ikhtiar-manusia.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-64-taqdir-allah-dan-ikhtiar-manusia.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-64-taqdir-allah-dan-ikhtiar-manusia.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-64-taqdir-allah-dan-ikhtiar-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/soal55-65/soal-64.mp3" length="106998" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Takdir Ilahi</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/memahami-takdir-ilahi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/memahami-takdir-ilahi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 11:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Beriman kepada Takdir Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah ta&#8217;ala, salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir baik maupun buruk. Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/memahami-takdir-ilahi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Beriman kepada Takdir</strong></p>
<p>Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em>, salah satu  rukun iman yang <span style="text-decoration: underline;">wajib diimani</span> oleh setiap muslim adalah beriman kepada  takdir baik maupun buruk.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa  beriman kepada takdir ada empat tingkatan:</p>
<ol>
<li>Beriman kepada <span style="text-decoration: underline;">ilmu  Allah</span> yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada. Di antaranya seseorang  harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah  sebelum dia melakukannya.</li>
<li>Mengimani bahwa Allah  telah <span style="text-decoration: underline;">menulis takdir</span> di Lauhul Mahfuzh.</li>
<li>Mengimani <em><span style="text-decoration: underline;">masyi&#8217;ah</span></em><span style="text-decoration: underline;"> (kehendak Allah)</span> bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena  kehendak-Nya.</li>
<li>Mengimani bahwa Allah  telah <span style="text-decoration: underline;">menciptakan</span> segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan  selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia.</li>
</ol>
<p><span id="more-205"></span>Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), &#8220;<em>Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah<span style="text-decoration: underline;"> mengetahui apa saja</span> yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang  demikian itu<span style="text-decoration: underline;"> terdapat dalam sebuah kitab</span> (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya  yang demikian itu amat mudah bagi Allah.</em>&#8221; (QS. Al Hajj [22]: 70).  Kemudian dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah firman Allah (yang artinya),  &#8220;<em>Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali <span style="text-decoration: underline;">apabila  dikehendaki Allah</span>, Tuhan semesta alam.</em>&#8221; (QS. At Takwir [81]: 29).  Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman Allah (yang artinya),  &#8220;<em>Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat.&#8221;</em> (QS.  Ash-Shaffaat [37]: 96). Pada ayat &#8216;<em>Wa ma ta&#8217;malun&#8217;</em> (dan apa saja yang  kamu perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah.</p>
<p><strong>Macam-Macam Takdir</strong></p>
<p>Takdir itu ada 2 macam:</p>
<p><strong>[1] Takdir umum  mencakup segala yang ada</strong>. Takdir ini dicatat di  Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari  kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan  Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, &#8220;Tulislah&#8221;.  Kemudian qalam berkata, &#8220;Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?&#8221;  Allah berfirman, &#8220;Tulislah <span style="text-decoration: underline;">takdir segala sesuatu yang terjadi hingga  hari kiamat</span>.</em>&#8221; (HR. Abu Daud. Dikatakan <em>shohih</em> oleh Syaikh  Al Albani dalam <em>Shohih wa Dho&#8217;if Sunan Abi Daud</em>).</p>
<p><strong>[2] Takdir yang  merupakan rincian dari takdir yang umum</strong>. Takdir ini terdiri dari:</p>
<p><strong>(a) <span style="text-decoration: underline;">Takdir &#8216;Umri</span></strong> yaitu takdir  sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas&#8217;ud, di mana janin yang sudah  ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai 4 hal: (1) rizki,  (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara atau berbahagia.</p>
<p><strong>(b) <span style="text-decoration: underline;">Takdir Tahunan</span></strong> yaitu takdir yang  ditetapkan pada malam <em>lailatul qadar</em> mengenai kejadian dalam setahun. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), &#8220;<em>Pada malam itu  dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah</em>.&#8221; (QS. Ad Dukhan [44]: 4).  Ibnu Abbas mengatakan, &#8220;Pada malam lailatul qadar, ditulis pada <em>ummul  kitab</em> segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi <span style="text-decoration: underline;">dalam  setahun</span>.&#8221; (Lihat <em>Ma&#8217;alimut Tanzil</em>, Tafsir Al Baghowi)</p>
<p>Seorang muslim <span style="text-decoration: underline;">harus beriman</span> dengan takdir yang umum dan terperinci  ini. Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak  beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun iman  yang wajib diimani.</p>
<p><strong>Salah Dalam Menyikapi  Takdir </strong></p>
<p>Dalam menyikapi takdir Allah, ada yang mengingkari takdir dan ada pula yang  terlalu berlebihan dalam menetapkannya.</p>
<p>Yang pertama ini dikenal dengan <strong>Qodariyyah</strong>. Dan di dalamnya ada dua  kelompok lagi. <span style="text-decoration: underline;">Kelompok pertama</span> adalah yang paling ekstrem. Mereka  mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa yang  telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh. Mereka mengatakan bahwa Allah memerintah  dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang taat dan berbuat maksiat.  Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu Allah dan takdirnya.  Namun kelompok seperti ini sudah musnah dan tidak ada lagi.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kelompok kedua</span> adalah yang menetapkan ilmu  Allah, namun meniadakan masuknya perbuatan hamba pada takdir Allah. Mereka  menganggap bahwa perbuatan hamba adalah makhluk yang berdiri sendiri, Allah  tidak menciptakannya dan tidak pula menghendakinya. Inilah madzhab <em>mu&#8217;tazilah</em>.</p>
<p>Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan  takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan <em>ikhtiyar</em> (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu dipaksa untuk  menuruti takdir. Oleh karena itu, kelompok ini dikenal dengan <strong>Jabariyyah</strong>.</p>
<p>Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana  ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya),  &#8220;<em>(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.  Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila  dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.</em>&#8221; (QS. At Takwir [81]: 28-29).  Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua kelompok di atas.  Pada ayat, &#8220;<em>(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan  yang lurus</em>&#8221; merupakan bantahan untuk <em>jabariyyah</em> karena pada  ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi manusia  tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri. Kemudian pada ayat selanjutnya,  &#8220;<em>Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila  dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam&#8221;</em> merupakan bantahan untuk <em>qodariyyah</em> yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh  dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak Allah. Ini perkataan yang salah  karena pada ayat tersebut, Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.</p>
<p><strong>Keyakinan yang Benar Dalam Mengimani Takdir</strong></p>
<p>Keyakinan yang benar adalah bahwa semua bentuk ketaatan, maksiat, kekufuran  dan kerusakan terjadi dengan <strong>ketetapan Allah</strong> karena tidak ada pencipta  selain Dia. Semua perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk adalah termasuk  makhluk Allah. Dan hamba tidaklah dipaksa dalam setiap yang dia kerjakan,  bahkan hambalah yang memilih untuk melakukannya.</p>
<p>As Safariny mengatakan, &#8220;Kesimpulannya bahwa mazhab ulama-ulama terdahulu  (salaf) dan Ahlus Sunnah yang hakiki adalah meyakini bahwa Allah menciptakan  kemampuan, kehendak, dan perbuatan hamba. Dan hambalah yang menjadi pelaku  perbuatan yang dia lakukan secara hakiki. Dan Allah menjadikan hamba sebagai  pelakunya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), &#8220;<em>Dan kamu tidak dapat  menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah</em>&#8221;  (QS. At Takwir [81]: 29). Maka dalam ayat ini Allah menetapkan kehendak hamba  dan Allah mengabarkan bahwa kehendak hamba ini tidak terjadi kecuali dengan  kehendak-Nya. Inilah dalil yang tegas yang dipilih oleh Ahlus Sunnah.&#8221;</p>
<p>Sebagian orang ada yang salah paham dalam memahami takdir. Mereka menyangka  bahwa seseorang yang mengimani takdir itu <strong>hanya pasrah tanpa melakukan sebab  sama sekali</strong>. Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan istrinya  berhari-hari untuk berdakwah keluar kota. Kemudian dia tidak meninggalkan  sedikit pun harta untuk kehidupan istri dan anaknya. Lalu dia mengatakan,  &#8220;Saya pasrah, biarkan Allah yang akan memberi rizki pada mereka&#8221;.  Sungguh ini adalah suatu kesalahan dalam memahami takdir.</p>
<p>Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, di  samping itu Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang  kita bermalas-malasan. Apabila kita telah mengambil sebab, namun kita  mendapatkan hasil yang sebaliknya, maka kita tidak boleh berputus asa dan  bersedih karena hal ini sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah. Oleh karena  itu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Bersemangatlah  dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah  malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: &#8216;Seandainya aku  berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu&#8217;, tetapi katakanlah: &#8216;Qodarollahu  wa maa sya&#8217;a fa&#8217;al&#8217; (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa  yang dikehendaki-Nya) karena ucapan&#8217;seandainya&#8217; akan membuka (pintu) setan.</em>&#8221;  (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Buah Beriman Kepada Takdir</strong></p>
<p>Di antara buah dari beriman kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hati  menjadi tenang dan tidak pernah risau dalam menjalani hidup ini. Seseorang yang  mengetahui bahwa musibah itu adalah takdir Allah, maka dia yakin bahwa hal itu  pasti terjadi dan tidak mungkin seseorang pun lari darinya.</p>
<p>Dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, &#8220;Engkau  tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang  baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan  menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan  menimpamu. Saya mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan  tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka</em>.&#8221; (<em>Shohih</em>.  Lihat <em>Silsilah Ash Shohihah</em> no. 2439)</p>
<p>Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan  menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang. Hal ini pasti berbeda dengan  orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah barang tentu akan  merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah. Semoga kita dimudahkan oleh  Allah untuk sabar dalam menghadapi segala cobaan yang merupakan takdir Allah.</p>
<p>Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang  mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta  perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya. Ya Allah, kami  memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau tetapkan bagi kami  adalah baik. <em>Amin Ya Mujibbad Da&#8217;awat</em>.</p>
<p><strong>Sumber Rujukan Utama: </strong><br />
[1] <em>Al  Irsyad ila Shohihil I&#8217;tiqod</em>, Syaikh Fauzan Al Fauzan<br />
[2] <em>Syarh Al  Aqidah Al Wasithiyyah</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin</p>
<p>***</p>
<p>Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-205"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmemahami-takdir-ilahi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmemahami-takdir-ilahi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmemahami-takdir-ilahi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/memahami-takdir-ilahi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

