<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Tafsir Al-Quran</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/tafsir-al-quran/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 11:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Ramadhan-19: Hukum Perlombaan</title>
		<link>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-jawab-ramadhan/ramadhan-19-hukum-perlombaan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-jawab-ramadhan/ramadhan-19-hukum-perlombaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 08:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4426</guid>
		<description><![CDATA[Apa hukum mengikuti lomba baca al-qur&#8217;an, adzan dengan dalil Rosulullah berlomba memanah? Jawabannya Klik Player: Download]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Apa hukum mengikuti lomba baca al-qur&#8217;an, adzan dengan dalil Rosulullah berlomba memanah?</p>
<p>Jawabannya Klik Player:</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/puasa1-22/puasa-19.mp3">Download</a></p>
<div class="shr-publisher-4426"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-jawab-ramadhan%2Framadhan-19-hukum-perlombaan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-jawab-ramadhan/ramadhan-19-hukum-perlombaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/puasa1-22/puasa-19.mp3" length="289123" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan-18: Bermaksiat, Hafalan Hilang?</title>
		<link>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-jawab-ramadhan/ramadhan-18-bermaksiat-hafalan-hilang.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-jawab-ramadhan/ramadhan-18-bermaksiat-hafalan-hilang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 22:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4423</guid>
		<description><![CDATA[Benarkah, jika para penghafal al-qur&#8217;an akan tetapi banyak melakukan maksiat, hafalannya menjadi hilang? Jawabannya Klik Player: Download]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Benarkah, jika para penghafal al-qur&#8217;an akan tetapi banyak melakukan maksiat, hafalannya menjadi hilang?</p>
<p>Jawabannya Klik Player:</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/puasa1-22/puasa-18.mp3">Download</a></p>
<div class="shr-publisher-4423"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-jawab-ramadhan%2Framadhan-18-bermaksiat-hafalan-hilang.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-jawab-ramadhan/ramadhan-18-bermaksiat-hafalan-hilang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/puasa1-22/puasa-18.mp3" length="203442" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Ayat &#8216;Laa Ikraha Fiddiin&#8217;</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 22:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1851</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta&#8217;ala berfirman, لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256) Sebagian orang salah dalam memahami ayat<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p>لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ</p>
<p>“<em>Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan</em>” (QS. Al Baqarah: 256)</p>
<p>Sebagian orang salah dalam memahami ayat ini sehingga terjebak dalam pemahaman pluralisme agama. Yaitu bahwa semua agama itu benar, dan Islam bukanlah agama yang paling benar. Paham ini juga mengajarkan bahwa Islam memberi kebebasan kepada manusia untuk memeluk agama apa saja, dan agama apapun dapat mengantarkan pemeluknya kepada Surga Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Dengan demikian, menurut para pluralis, dalam Islam tidak ada konsep mu&#8217;min dan kafir.</p>
<p>Padahal Islam sama sekali tidak mengajarkan pluralisme agama, bahkan Islam mengajarkan tauhid. Dan Allah <em>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala</em> sama sekali tidak ridha terhadap agama selain Islam, serta segala bentuk kemusyrikan. Lalu bagaimana dengan ayat di atas? Mari kita simak pembahasannya.</p>
<p><strong>Penafsiran Ahli Tafsir</strong></p>
<p>Islam mengajarkan kepada ummatnya agar mengembalikan setiap permasalahan kepada ahlinya. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu</em>” (QS. An Nahl: 43)</p>
<p>Bahkan, dalam urusan duniawi, harus dikembalikan kepada orang yang ahli dalam urusan tersebut. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda,</p>
<p>أنتم أعلم بأمر دنياكم</p>
<p>“<em>Engkau lebih tahu urusan dunia kalian</em>” (HR Muslim no.2363)</p>
<p>Dan setiap orang berakal tentu akan menerima konsep &#8216;<em>kembalikanlah setiap urusan kepada ahlinya</em>&#8216;. Kita tentu tidak akan menanyakan obat suatu penyakit kepada ahli matematika, melainkan kepada dokter bukan?</p>
<p>Oleh karena itu marilah kita bersikap bijak untuk mengembalikan urusan penafsiran Al Qur&#8217;an kepada ulama ahli tafsir, bukan opini masing-masing atau opini dari orang yang bukan ulama ahli tafsir.</p>
<p>Seorang imam ahli tafsir yang terkemuka, Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:</p>
<p>“Para ulama berbeda pendapat tentang makna ayat ini dalam 6 pendapat:</p>
<ol>
<li>Ada yang berpendapat bahwa ayat ini <em>mansukh </em>(dihapus). Karena Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah memaksa orang arab untuk masuk Islam dan memerangi mereka. Beliau tidak ridha kepada mereka hingga mereka masuk Islam”. Sulaiman bin Musa berkata, &#8216;Ayat ini dinasakh (dihapus) oleh ayat&#8217;</li>
</ol>
<p>يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير</p>
<p>“<em>Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya</em>” (QS. At Taubah: 73). Pendapat pertama ini diriwayatkan pula dari Ibnu Mas&#8217;ud dan dari banyak ahli tafsir.</p>
<ol>
<li>Ayat ini tidak mansukh (tidak dihapus), namun ayat ini ditujukan bagi ahli kitab saja. Sehingga ahli kitab tidak dipaksa masuk Islam selama mereka membayar jizyah. Yang dipaksa adalah kaum kuffar penyembah berhala. Merekalah yang dimaksud oleh surat At Taubah ayat 73. Inilah pendapat Asy Sya&#8217;bi, Qatadah dan Adh Dhahhak.</li>
<li>Berdasarkan yang diriwayatkan Abu Daud dari Ibnu Abbas <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata, “Ayat ini diturunkan kepada kaum Anshar. Ketika itu ada seorang wanita selama hidupnya tidak memiliki anak. Ia berjanji pada dirinya, jika ia memiliki anak, anak tersebut akan dijadikan beragama Yahudi. Sampai suatu ketika datanglah Bani Nadhir yang juga membawa beberapa anak dari kaum Anshar bersama mereka. Kaum Anshar berkata, “Kemudian terjadilah apa yang telah terjadi. Ketika itu kami (kaum Anshar) memandang agama yang mereka bawa (Yahudi) lebih baik. Namun ketika kami masuk Islam, kami ingin memaksa anak-anak kami”. Kemudian turunlah ayat ini. Ini adalah pendapat Sa&#8217;id bin Jubair, Asy Sya&#8217;bi dan Mujahid.</li>
<li>As Sudiy berkata, “Ayat ini turun kepada seorang lelaki kaum Anshar yang bernama Abul Hushain yang memiliki dua orang anak. Ketika itu datang para pedagang dari Syam yang membawa biji-bijian. Ketika mereka hendak pergi dari Madinah, mereka mengajak dua anak Abul Hushain untuk memeluk agama Nashrani. Mereka berdua pun akhirnya menjadi Nashrani dan ikut para pedagang tersebut ke Syam. Maka Abul Hushain pun datang kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sambil menangis dan memohon kepada Rasulullah agar mengutus seseorang untuk mengambil mereka berdua. Lalu turunlah ayat ini”</li>
<li>Makna ayat ini: “Orang yang ber-Islam karena kalah perang tidak boleh mengatakan bahwa ia dipaksa masuk Islam”</li>
<li><strong>6. </strong>Ayat ini turun bagi tawanan yang berasal dari golongan ahli kitab yang sudah tua. Karena tawanan yang berasal dari golongan Majusi dan penyembah berhala, semua dipaksa masuk Islam baik yang tua maupun muda. Ini pendapat Asyhab.” <strong>(Dinukil dari <em>Tafsir Al Qurthubi</em> secara ringkas)</strong></li>
</ol>
<p>Adanya perbedaan pendapat ini juga dipaparkan oleh Ath Thabari dalam <em>Tafsir Ath Thabari</em>, Abu Hatim dalam <em>Tafsir Abi Hatim</em>, Asy Syaukani dalam <em>Fathul Qadhir</em>, dan beberapa ulama ahli tafsir yang lain.</p>
<p>Namun sebagian ulama menafsirkan ayat ini secara <em>mujmal </em>(umum). Sebagaimana Ibnu Katsir dan Ash Shabuni. Ash Shabuni menafsirkan ayat ini, “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam karena telah jelas perbedaan antara kebenaran dan kebatilan dan hidayah telah terbedakan dari kesesatan” (<em>Shafwatut Tafasir</em>)</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat, <em>wallahu&#8217;alam</em>, sebagaimana yang dikuatkan oleh imam ahli tafsir yang lain, Ibnu Jarir Ath Thabari, setelah memberikan sanggahan terhadap pendapat yang menyatakan ayat ini <em>mansukh </em>(dihapus), beliau menyimpulkan makna ayat, “<em>Sehingga jelas bahwa makna ayat ini adalah: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam bagi orang kafir yang dikenai jizyah dan telah membayarnya dan mereka ridha terhadap hukum Islam</em>.” (<em>Tafsir Ath Thabari</em>)</p>
<p><strong>Telah Jelas Kebenaran dan Kebatilan</strong></p>
<p>Perbedaan di antara ahli tafsir tersebut masing-masing didasari oleh riwayat-riwayat dari para sahabat, atau dari para ulama tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Sehingga setiap pendapat dapat diterima dan dapat ditoleransi. Jika demikian, andaikan seseorang mengambil pendapat ulama ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat ini tidak <em>mansukh</em> (dihapus) dan menafsirkan ayat ini secara umum, yaitu tidak ada paksaan untuk memeluk Islam bagi siapa pun, sebagaimana Ibnu Katsir dan Ash Shabuni, pendapat ini tetap tidak sejalan dengan konsep pluralisme agama. Sama sekali tidak! Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p>قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ</p>
<p><em>“Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan</em>” (QS. Al Baqarah: 256)</p>
<p>Jelas bahwa pendapat ini menetapkan bahwa telah jelaskan kebenaran Islam dan telah jelaslah kebatilan agama selain Islam. Sehingga orang yang berhati bersih dan memandang dengan jernih tentu akan melihat kebenaran itu dan dengan sendirinya masuk Islam tanpa perlu dipaksa. Sedangkan orang yang enggan masuk Islam seolah-olah ia buta dan tertutup hatinya sehingga tidak dapat melihat kebenaran yang begitu jelas ini.</p>
<p>Ibnu Katsir menyatakan, “Tidak ada yang dipaksa untuk memeluk agama Islam karena telah jelas dan tegas tanda dan bukti kebenaran Islam sehingga tidak perlu lagi memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam. Orang yang diberi hidayah oleh Allah untuk menerima Islam, lapang dadanya dan dicerahkan pandangannya sehingga ia memeluk Islam dengan alasan yang pasti. Namun orang yang hatinya dibutakan oleh Allah dan ditutup hati serta pandangannya, tidak ada manfaatnya memaksa mereka untuk masuk Islam” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>)</p>
<p>Senada dengan beliau, Ibnu Jarir Ath Thabari juga berkata: “Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kebatilan. Dan telah jelas sudah sisi kebenaran bagi para pencari kebenaran. Dan kebenaran ini telah terbedakan dari kesesatan. Sehingga tidak perlu lagi memaksa para ahli kitab dan orang-orang kafir yang dikenai jizyah untuk memeluk agama Islam, agama yang benar. Dan orang-orang yang berpaling dari kebenaran ini setelah jelas baginya, biarlah Allah yang mengurusnya. <span style="text-decoration: underline;">Sungguh Allahlah yang akan mempersiapkan hukuman bagi mereka di akhirat kelak</span>” (<em>Tafsir Ath Thabari</em>)</p>
<p>Maka jelaslah bahwa tidak memaksa orang kafir untuk memeluk Islam <strong>bukan berarti ridha terhadap kekafiran mereka, bukan membenarkan semua agama yang ada, dan bukan menghilangkan status &#8216;kafir&#8217; dari diri mereka</strong> sebagaimana diklaim oleh para pluralis.</p>
<p><strong>Agama yang Benar Hanya Islam</strong></p>
<p>Satu hal yang wajib dijadikan pegangan setiap muslim, yaitu bahwa ayat-ayat Al Qur&#8217;an tidak ada yang saling bertentangan. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p>أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا</p>
<p>“<em>Apakah kalian tidak mentadabburi Al Qur&#8217;an? Andaikan Al Qu&#8217;an bukan diturunkan dari sisi Allah, tentu akan banyak pertentangan di dalamnya</em>” (QS. An Nisa: 82)</p>
<p>Dan di dalam ayat lain, pemahaman bahwa semua agama sama dan semua agama itu benar telah dibantah oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sendiri. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p>إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ</p>
<p>“<em>Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam</em>” (QS. Al Imran: 19)</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>juga berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi</em>” (QS. Al Imran: 85)</p>
<p>Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan &#8216;Islam&#8217; dalam ayat-ayat ini dengan &#8216;berserah diri&#8217;. Menurut mereka, semua agama itu benar asalkan berserah diri kepada Tuhan. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam,</em></p>
<p>الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا</p>
<p><em>”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)</em></p>
<p><em>Sehingga ber-Islam bukanlah hanya sekedar berserah diri kepada Tuhan, siapapun Tuhan-nya. Namun Islam yang diinginkan oleh Allah </em><em>Ta&#8217;ala </em><em>adalah berserah diri kepada Allah Ta&#8217;ala saja dengan menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan kepada yang lain. Inilah inti ajaran Islam. Rasulullah </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> bersabda,</em></p>
<p>أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله</p>
<p><em>“</em><em>Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah</em><em>” (HR. Bukhari no. 1399, Muslim no. 124)</em></p>
<p><em>Oleh karena itu jelaslah, bahwa tidak memaksa orang kafir untuk masuk Islam bukan berarti tidak mengakui bahwa Islam itu agamanya yang paling benar dan agama yang hanya diridhai oleh Allah </em><em>Ta&#8217;ala</em><em>.</em></p>
<p><em>Dari sini kita pun melihat keanehan dan kelemahan argumen para pluralis, mereka mencomot sebuah dalil namun di sisi lain menginjak-injak dalil yang lain.</em></p>
<p><em><strong>Tidak Memaksa Bukan Tidak Membenci</strong></em></p>
<p>Inti ajaran Islam adalah mengajak umat manusia untuk beribadah kepada Allah <em>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala</em> semata. Karena hanya Allah <em>Ta&#8217;ala</em>-lah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah. Allah <em>Ta&#8217;ala</em>-lah Dzat yang paling berhak mendapat kecintaan dan ketundukan terbesar dari setiap manusia. Konsekuensinya, seorang mukmin akan membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah dan kecintaan terhadap sesembahan selain Allah, serta membenci orang-orang yang melakukan demikian. Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala,</em></p>
<p>لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</p>
<p>&#8220;<em>Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka</em>&#8221; (QS. Al-Mujadalah: 22)</p>
<p>Sebagai bentuk kebencian itu, Allah <em>Ta&#8217;ala </em>juga melarang kaum mu&#8217;minin menjadi teman akrab, merendahkan diri, serta tunduk kepada orang kafir,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, sebagai <span style="text-decoration: underline;">wali</span>. (Yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman</em>” (QS. Al Maidah: 57)</p>
<p>Wali secara bahasa artinya orang yang dicintai, teman akrab, atau penolong (Lihat <em>Qamush Al Muhith</em>). Selain itu, rasa benci terhadap kekufuran ini adalah tuntutan iman dan syarat sempurnanya iman. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>juga bersabda,</p>
<p>من أحب لله ، وأبغض لله ، وأعطى لله ، ومنع لله ، فقد استكمل الإيمان</p>
<p>“<em>Orang yang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna</em>” (HR. Abu Daud no. 4681, di-<em>shahih</em>-kan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan Abi Daud</em>)</p>
<p><em>Dengan demikian jelaslah bahwa tidak memaksa orang kafir untuk masuk Islam bukan berarti tidak membenci mereka. Kita tidak memaksa mereka, namun tetap menyimpan rasa benci kepada mereka selama mereka belum mengakui bahwa hanya Allah-lah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah dan memeluk Islam.</em></p>
<p><em>Namun perlu digaris bawahi, rasa benci terhadap kekufuran dan orang kafir wajib ada di hati setiap muslim. Akan tetapi kebencian ini bukan berarti harus menyakiti, menzhalimi atau bahkan membunuh setiap orang kafir yang kita jumpai. Karena dalam aturan Islam, orang kafir dibagi menjadi beberapa jenis, ada yang boleh disakiti dan diperangi, ada pula orang kafir yang haram untuk disakiti dan diperangi. Hal ini telah kami singgung dalam artikel “<strong>Salah Kaprah Memahami Islam Sebagai Rahmatan Lil Alamin</strong>”. Walau demikian tetap tidak boleh memberikan kasih sayang dan loyalitas kepada mereka. </em></p>
<p><em>Demikian penjelasan singkat mengenai tafsir ayat ini. Mudah-mudahan Allah Ta&#8217;ala senantiasa memberikan kita keteguhan hati untuk terus meniti di atas jalan-Nya yang lurus. </em></p>
<p><em>Wabillahi At Taufiq</em><em>.</em></p>
<p><em>Penulis: Yulian Purnama</em></p>
<p><em>Artikel </em><a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1851"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Ftafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sembilan Faedah Surat al-Fatihah (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 07:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=648</guid>
		<description><![CDATA[Faedah Keenam: Kewajiban untuk meminta petunjuk kepada-Nya Hal ini terkandung dalam ayat &#8216;Ihdinas shirathal mustaqim&#8217;. Hidayah merupakan anugerah dari Allah ta&#8217;ala kepada hamba yang dipilih-Nya. Sedangkan hidayah itu terdiri dari dua macam; hidayah ilmu dan<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Faedah Keenam: Kewajiban untuk meminta petunjuk kepada-Nya</strong></p>
<p>Hal ini terkandung dalam ayat <em>&#8216;Ihdinas shirathal mustaqim&#8217;</em>. Hidayah merupakan anugerah dari Allah ta&#8217;ala kepada hamba yang dipilih-Nya. Sedangkan hidayah itu terdiri dari dua macam; hidayah ilmu dan hidayah amal. Dan hidayah semacam itu dibutuhkan oleh manusia di setiap saat dalam perjalanan hidupnya. Setiap hamba senantiasa membutuhkan hidayah tersebut selama dia masih hidup di alam dunia ini. Oleh karena besarnya kebutuhan setiap hamba untuk memohon hidayah maka Allah pun mewajibkan mereka memintanya dalam sehari dan semalam minimal tujuh belas kali di dalam sholat.</p>
<p><span id="more-648"></span></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;&#8230;Seandainya bukan karena besarnya kebutuhan dirinya untuk mendapatkan hidayah di waktu malam maupun siang niscaya Allah ta&#8217;ala tidak akan membimbingnya untuk melakukan hal itu -meminta hidayah setiap kali sholat-. Sebab seorang hamba itu sesungguhnya di setiap saat dan keadaan senantiasa memerlukan pertolongan dari Allah untuk bisa tegar mengikuti hidayah dan berpijak dengan kokoh padanya, agar terus mendapatkan pencerahan, peningkatan ilmu, dan bisa terus menerus berada di atasnya. Karena setiap hamba tidaklah menguasai kemanfaatan maupun kemudharatan bagi dirinya sendiri kecuali sebatas yang Allah kehendaki. Oleh sebab itulah maka Allah ta&#8217;ala membimbingnya untuk senantiasa meminta hidayah itu di setiap saat agar Allah mencurahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan tafik dari-Nya.&#8221; (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/39])</p>
<p>Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad mengatakan, &#8220;Doa ini mengandung seagung-agung tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus. Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba terhadap petunjuk ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dirinya terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani kehidupannya yang fana. Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan bekal kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan untuk diberikan keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga mengandung permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk.&#8221; (<em>Min Kunuz al-Qur&#8217;an</em>)</p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kita ke jalan Islam. Sebab dengan Islam inilah seorang hamba akan bisa masuk ke dalam surga. Allah ta&#8217;ala berfirman mengenai kegembiraan penduduk surga,</p>
<p>وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ</p>
<p><em>&#8220;Mereka mengatakan; &#8216;Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kepada kami ke surga ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kami. Sesungguhnya rasul-rasul Rabb kami telah datang dengan membawa kebenaran.&#8217;.&#8221;</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 43)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir maka tidak akan pernah diterima dari mereka emas sepenuh bumi walaupun hal itu mereka gunakan untuk menebus siksa, mereka itu memang layak untuk menerima siksa yang sangat menyakitkan dan tidak ada bagi mereka seorang penolongpun.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 91)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p>إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan bagi orang-orang zalim itu tidak ada seorang penolong.&#8221;</em> (QS. al-Maa&#8217;idah: 72)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ</p>
<p><em>&#8220;Tidak akan masuk ke dalam surga melainkan jiwa yang muslim.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Dalam riwayat lainnya, beliau bersabda,</p>
<p>لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ</p>
<p><em>&#8220;Tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.&#8221;</em> (HR. Muslim dari Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Hidayah juga bukan yang perkara sepele, namun dia adalah anugerah Allah kepada hamba pilihan-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberikan hidayah (taufik) kepada orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui siapakah orang yang ditakdirkan mendapatkan hidayah.&#8221;</em> (QS. al-Qashash: 56)</p>
<p>al-Musayyab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menuturkan,</p>
<p>لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p><em>&#8220;Di saat kematian akan menghampiri Abu Thalib maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun datang untuk menemuinya dan ternyata di sisinya telah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata; &#8216;Wahai pamanku, ucapkanlah la ilaha illallah, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk bersaksi untukmu di sisi Allah&#8217;. Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah mengatakan; &#8216;Wahai Abu Thalib, apakah kamu benci kepada agama Abdul Muthallib -bapakmu-?&#8217;. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terus menawarkan dan mengulangi ajakannya itu, sampai akhirnya Abu Thalib mengucapkan perkataan terakhirnya kepada mereka bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan untuk mengucapkan la ilaha illallah&#8230;&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Faedah Ketujuh: Kewajiban untuk mengikuti Rasul dan para sahabatnya</strong></p>
<p>Hal itu terkandung dalam ayat <em>&#8216;Shirathalladzina an&#8217;amta &#8216;alaihim&#8217;</em>. Jalan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada&#8217; dan orang-orang salih. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul, maka mereka itulah orang-orang yang akan bersama dengan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada&#8217;, dan orang-orang salih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.&#8221;</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 69)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala juga berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia juga mengikuti selain jalan orang-orang beriman maka Kami akan membiarkan dia terlantar di atas kesesatan yang dipilihnya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.&#8221;</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 115)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lainnya dalam menghadapi masalah mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.&#8221;</em> (QS. al-Ahzab: 36)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى</p>
<p><em>&#8220;Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.&#8221; Maka para sahabat bertanya, &#8216;Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?&#8217;. beliau menjawab, &#8220;Barangsiapa yang menaatiku akan masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dialah yang enggan.&#8221;</em> (HR. Bukhari dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga berpesan,</p>
<p>فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk tetap mengikuti Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang berada di atas petunjuk dan terbimbing. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan -di dalam agama-, karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan -dalam agama- itu adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, disahihkan al-Albani dalam <em>Shahih at-Targhib wa at-Tarhib</em> [37])</p>
<p>Inilah jalan lurus itu, yaitu mengikuti pemahaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hal ilmu maupun amalan. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama -membela Islam- dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah sediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah keberuntungan yang sangat besar.&#8221;</em> (QS. at-Taubah: 100)</p>
<p><strong>Faedah Kedelapan: Kewajiban untuk mengamalkan ilmu</strong></p>
<p>Hal ini terkandung dalam potongan ayat <em>&#8216;Ghairil maghdhubi &#8216;alaihim&#8217;.</em> Orang yang dimurkai itu adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi justru tidak mau mengamalkannya. Sebagaimana orang-orang Yahudi dan yang mengikuti mereka. Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;(<em>Shirathal Mustaqim</em>) adalah jalan terang yang akan mengantarkan hamba menuju Allah dan masuk ke dalam Surga-Nya. Hakikat jalan itu adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya&#8230;&#8221; (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 39). Sehingga jalan yang lurus itu menuntut seorang muslim untuk mengamalkan <a title="Faedah surat Al-Fatihah" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html">ilmunya</a>.</p>
<p>Syaikh Abdul Muhsin mengatakan, &#8220;Petunjuk menuju jalan yang lurus itu akan menuntun kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada&#8217;, dan orang-orang salih. Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan amal. Maka seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah menuju jalan lurus ini yang merupakan sebuah pemuliaan dari Allah kepada para rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan musuh-musuh-Nya yaitu orang-orang yang memiliki ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya. Mereka itulah golongan Yahudi yang dimurkai.&#8221; (<em>Min Kunuz al-Qur&#8217;an</em>)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata,<br />
&#8220;Hendaknya diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka ilmunya itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Barzah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda, <em>&#8220;Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya, apa yang sudah diamalkannya.&#8221;</em> (HR. Tirmidzi 2341)</p>
<p>Hal ini bukan berlaku bagi para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua orang yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak padanya hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah pengajian atau khutbah Jum&#8217;at yang di dalamnya dia mendapatkan peringatan dari suatu kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini juga ilmu. Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya tersebut. Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ</p>
<p><em>&#8220;al-Qur&#8217;an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk menjatuhkan dirimu&#8221; (HR. Muslim)&#8221; </em>(<em>Hushulul Ma&#8217;mul</em>, hal. 18)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Qasim <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Ilmu diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah seperti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh. Di dalam hadits disebutkan, <em>&#8220;Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.&#8221;</em> Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah sya&#8217;ir dikatakan,</p>
<p><em>Orang alim yang tidak mau<br />
Mengamalkan ilmunya<br />
Mereka akan disiksa sebelum<br />
Disiksanya para penyembah berhala</em><br />
(<em>Hasyiyah Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 12)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> di dalam kitab tafsirnya ketika membahas firman Allah ta&#8217;ala (yang artinya), <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pendeta dan rahib-rahib benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan memalingkan manusia dari jalan Allah.&#8221;</em> (QS. at-Taubah: 34) menukilkan ucapan Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, &#8220;Orang-orang yang rusak di antara orang berilmu di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara para ahli ibadah di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Nasrani.&#8221; (<em>Min Kunuz al-Qur&#8217;an</em>)</p>
<p><strong>Faedah Kesembilan: Kewajiban untuk beribadah di atas ilmu</strong></p>
<p>Hal ini terkandung dalam potongan ayat &#8216;wa lad dhaallin&#8217;. Orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah namun dengan cara yang tidak benar, sebagaimana kaum Nasrani. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ</p>
<p><em>&#8220;Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu.&#8221;</em> (QS. Muhammad: 19)</p>
<p>Ilmu merupakan landasan ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat sebuah bab di dalam Kitab Shahihnya dengan judul <em>al-&#8217;Ilmu qablal qaul wal &#8216;amal</em> (Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan). Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti akan diminta pertanggungjawabannya.&#8221;</em> (QS. al-Israa&#8217;: 36)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ</p>
<p><em>&#8220;Barangisapa ang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu&#8217;awiyah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur&#8217;an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…&#8221; (<em>al-&#8217;Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 128). Beliau juga menegaskan, &#8220;Tidaklah diragukan bahwa sesungguhnya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan&#8230;&#8221; (<em>al-&#8217;Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 101)</p>
<p>Syaikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi mengatakan di dalam kitabnya <em>Adhwa&#8217;ul Bayan</em> (1/53), &#8220;Orang-orang Yahudi dan Nasrani -meskipun sebenarnya mereka sama-sama sesat dan sama-sama dimurkai- hanya saja kemurkaan itu lebih dikhususkan kepada Yahudi -meskipun orang Nasrani juga termasuk di dalamnya- dikarenakan mereka telah mengenal kebenaran namun justru mengingkarinya, dan secara sengaja melakukan kebatilan. Karena itulah kemurkaan lebih condong dilekatkan kepada mereka. Adapun orang-orang Nasrani adalah orang yang bodoh dan tidak mengetahui kebenaran, sehingga kesesatan merupakan ciri mereka yang lebih menonjol. Meskipun begitu Allah menyatakan bahwa <em>&#8216;al magdhubi &#8216;alaihim&#8217;</em> adalah kaum Yahudi melalui firman-Nya ta&#8217;ala tentang mereka (yang artinya), <em>&#8220;Maka mereka pun kembali dengan menuai kemurkaan di atas kemurkaan.&#8221;</em> (QS. al-Baqarah: 90). Demikian pula Allah berfirman mengenai mereka (yang artinya), <em>&#8220;Katakanlah; maukah aku kabarkan kepada kalian tentang golongan orang yang balasannya lebih jelek di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati Allah dan dimurkai oleh-Nya.&#8221;</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 60). Begitu pula firman-Nya (yang artinya), <em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung sapi itu sebagai sesembahan niscaya akan mendapatkan kemurkaan.&#8221;</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 152). Sedangkan golongan <em>&#8216;adh dhaalliin&#8217;</em> telah Allah jelaskan bahwa mereka itu adalah kaum Nasrani melalui firman-Nya ta&#8217;ala (yang artinya), <em>&#8220;Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat, dan mereka pun menyesatkan banyak orang, sungguh mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.&#8221;</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 77)&#8221;</p>
<p>Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
<p>Yogyakarta, Senin 9 Jumadil Ula 1430 H</p>
<p>Hamba yang fakir kepada Rabbnya<br />
Semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya<br />
dan segenap kaum muslimin</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Faedah surat Al-Fatihah" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-648"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fsembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sembilan Faedah Surat al-Fatihah (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 05:14:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Surat al-Fatihah menyimpan banyak pelajaran berharga. Surat yang hanya terdiri dari tujuh ayat ini telah merangkum berbagai prinsip dan pedoman dalam ajaran Islam. Sebuah surat yang harus dibaca setiap kali mengerjakan sholat. Di dalam surat<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Surat al-Fatihah menyimpan banyak pelajaran berharga. Surat yang hanya terdiri dari tujuh ayat ini telah merangkum berbagai prinsip dan pedoman dalam ajaran Islam. Sebuah surat yang harus dibaca setiap kali mengerjakan sholat. Di dalam surat ini, Allah ta&#8217;ala memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Di dalamnya, Allah mengajarkan kepada mereka tugas hidup mereka di dunia. Di dalamnya, Allah mengajarkan kepada mereka untuk bergantung dan berharap kepada-Nya, cinta dan takut kepada-Nya. Di dalamnya, Allah menunjukkan kepada mereka jalan yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan. Berikut ini kami akan menyajikan petikan faedah dari surat ini dengan merujuk kepada al-Qur&#8217;an, as-Sunnah, serta keterangan para ulama salaf. Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat untuk yang menyusun maupun yang membacanya.</p>
<p><span id="more-647"></span><br />
<strong>Faedah Pertama: Kewajiban untuk mencintai Allah</strong></p>
<p>Di dalam ayat <em>&#8216;Alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin&#8217;</em> terkandung al-Mahabbah/kecintaan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> menjelaskan, &#8220;Di dalam ayat tersebut terkandung kecintaan, sebab Allah adalah Yang memberikan nikmat. Sedangkan Dzat yang memberikan nikmat itu dicintai sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan olehnya.&#8221; (<em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 12)</p>
<p>Sebagaimana kita ketahui bahwa kecintaan merupakan penggerak utama ibadah kepada Allah ta&#8217;ala. Karena cintalah seorang hamba mau menundukkan diri dan menaati perintah dan larangan Allah ta&#8217;ala. Sebaliknya, karena sedikit dan lemahnya kecintaan maka ketundukan dan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya pun akan semakin menipis. Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, &#8220;Setiap pemberi kenikmatan maka dia berhak dipuji sesuai dengan kadar kenikmatan yang dia berikan. Dan hal ini melahirkan konsekuensi keharusan untuk mencintainya. Sebab jiwa-jiwa manusia tercipta dalam keadaan mencintai sosok yang berbuat baik kepadanya. Sementara Allah jalla wa &#8216;ala adalah Sang pemberi kebaikan, Sang pemberi kenikmatan dan pemberi keutamaan kepada hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu hati akan mencintai-Nya karena keutamaan dan kebaikan-Nya, sebuah kecintaan yang tak tertandingi dengan kecintaan mana pun. Oleh karena itu, kecintaan merupakan jenis ibadah yang paling agung. Maka <em>alhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em> mengandung -ajaran- kecintaan.&#8221; (<em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 12)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ</p>
<p><em>&#8220;Di antara manusia, ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman lebih dalam kecintaannya kepada Allah.&#8221; </em>(QS. al-Baqarah: 165)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang mencintai selain Allah sebagaimana kecintaannya kepada Allah ta&#8217;ala maka dia tergolong orang yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Ini merupakan persekutuan dalam hal kecintaan, bukan dalam hal penciptaan maupun rububiyah, sebab tidak ada seorang pun di antara penduduk dunia ini yang menetapkan sekutu dalam hal rububiyah ini, berbeda dengan sekutu dalam hal kecintaan, maka sebenarnya mayoritas penduduk dunia ini telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu dalam hal cinta dan pengagungan.&#8221; (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 20)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ</p>
<p><em>&#8220;Ada tiga perkara, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman. Yaitu apabila Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripa selain keduanya. Apabila dia mencintai orang tidak lain karena kecintaannya kepada Allah. Dan dia membenci kembali ke dalam kekafiran sebagaimana orang yang tidak senang untuk dilemparkan ke dalam neraka.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu jalinan kecintaan karena selain Allah akan musnah, sedangkan kecintaan yang dibangun di atas ketaatan dan kecintaan kepada-Nya akan tetap kekal hingga hari kemudian. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ</p>
<p><em>&#8220;Pada hari itu orang-orang yang saling berkasih sayang akan saling memusuhi satu dengan yang lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa.&#8221;</em> (QS. az-Zukhruf: 67)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, &#8220;Tidak tersisa selain kecintaan sesama orang-orang yang bertakwa, karena ia dibangun di atas landasan yang benar, ia akan tetap kekal di dunia dan di akhirat. Adapun kecintaan antara orang-orang kafir dan musyrik, maka ia akan terputus dan berubah menjadi permusuhan.&#8221; (<em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 15)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا  يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا  لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا</p>
<p><em>&#8220;Dan ingatlah pada hari kiamat itu nanti orang yang gemar melakukan kezaliman akan menggigit kedua tangannya dan mengatakan, &#8216;Aduhai alangkah baik seandainya dahulu aku mengambil jalan mengikuti rasul itu. Aduhai sungguh celaka diriku, andai saja dulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman dekatku. Sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan itu (al-Qur&#8217;an) setelah peringatan itu datang kepadaku.&#8217;  Dan memang syaitan itu tidak mau memberikan pertolongan kepada manusia.&#8221;</em> (QS. al-Furqan: 27-29)</p>
<p><strong>Faedah Kedua: Kewajiban untuk berharap kepada Allah</strong></p>
<p>Di dalam ayat <em>&#8216;ar-Rahman ar-Rahim&#8217;</em> terkandung roja&#8217;/harapan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Di dalam ayat tersebut terkandung roja&#8217;.&#8221; (<em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 18). Harapan merupakan energi yang akan memacu seorang insan. Dengan masih adanya harapan di dalam dirinya, maka ia akan bergerak dan melangkah, berjuang dan berkorban. Dia akan berdoa dan terus berdoa kepada Rabbnya. Demikianlah karakter hamba-hamba pilihan. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا</p>
<p><em>&#8220;Mereka itu -sosok orang salih yang disembah oleh orang musyrik- justru mencari jalan untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah; siapakah di antara mereka yang lebih dekat dengan-Nya, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan merasa takut dari siksa-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu harus senantiasa ditakuti.&#8221;</em> (QS. al-Israa&#8217;: 57)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Rabb kalian berfirman; Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku maka mereka akan masuk ke dalam Neraka dalam keadaan hina dina.&#8221;</em> (QS. Ghafir: 60)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ</p>
<p><em>&#8220;Apabila salah seorang di antara kalian berdoa maka janganlah dia mengatakan, &#8216;Ya Allah, ampunilah aku jika Kamu mau&#8217; tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam memintanya dan memperbesar harapan, sebab Allah tidak merasa berat terhadap apa pun yang akan diberikan oleh-Nya.&#8221;</em> (HR. Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْه</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.&#8221;</em> (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dihasankan al-Albani dalam <em>Shahih wa Dha&#8217;if Sunan Tirmidzi</em> [3373])</p>
<p>Harapan bukanlah angan-angan kosong, namun ia merupakan perbuatan hati yang mendorong pemiliknya untuk berusaha dan bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya. Karena harapan itulah maka dia tetap tegar di atas keimanan, rela untuk meninggalkan apa yang disukainya demi mendapatkan keridhaan Allah, dan dia akan rela mengerahkan segala daya dan kekuatannya di jalan Allah ta&#8217;ala. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;</em> (QS. al-Baqarah: 218)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Ketahuilah, sesungguhnya harapan yang terpuji tidaklah ada kecuali bagi orang yang beramal dengan ketaatan kepada Allah dan mengharapkan pahala atasnya, atau orang yang bertaubat dari kemaksiatannya dan mengharapkan taubatnya diterima. Adapun harapan semata yang tidak diiringi dengan amalan, maka itu adalah ghurur/ketertipuan dan angan-angan yang tercela.&#8221; (<em>Syarh Tsalatsat Ushul</em>, hal. 58)</p>
<p><strong>Faedah Ketiga: Kewajiban untuk takut kepada Allah</strong></p>
<p>Di dalam ayat <em>&#8216;Maaliki yaumid diin&#8217;</em> terkandung ajaran untuk merasa takut kepada hukuman Allah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Di dalamnya terkandung khauf/rasa takut.&#8221; (<a title="Faedah surah Al-Fatihah" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-1.html"><em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em></a>, hal. 18). Dengan adanya rasa takut inilah, seorang hamba akan menahan diri dari melanggar aturan-aturan Allah ta&#8217;ala. Dengan adanya rasa takut inilah, seorang hamba akan rela meninggalkan sesuatu yang disukainya karena takut terjerumus dalam larangan dan kemurkaan-Nya. Sebab pada hari kiamat nanti manusia akan mendapatkan balasan atas amal-amalnya di dunia. Barangsiapa yang amalnya baik, maka baik pula balasannya Dan barangsiapa yang amalnya buruk, maka buruk pula balasannya.</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى  فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى</p>
<p><em>&#8220;Adapun orang yang merasa takut kepada kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.&#8221;</em> (QS. an-Nazi&#8217;at: 40-41)</p>
<p>Di hari kiamat nanti, semua orang akan tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada seorang pun yang berani dan mampu untuk menentang titah-Nya. Ketika itu langit dan bumi akan dilipat. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>يَطْوِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ ثُمَّ يَطْوِي الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ</p>
<p><em>&#8220;Allah &#8216;azza wa jalla akan melipat langit pada hari kiamat nanti kemudian Allah akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, lalu Allah berfirman; &#8216;Akulah Sang raja, di manakah orang-orang yang bengis, di manakah orang-orang yang suka menyombongkan dirinya.&#8217; Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan kirinya, kemudian Allah berfirman; &#8216;Aku lah Sang Raja, di manakah orang-orang yang bengis, di manakah orang-orang yang suka menyombongkan diri.&#8217;.&#8221;</em> (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>).</p>
<p>Di hari kiamat nanti, harta dan keturunan tidak ada gunanya, kecuali bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ  إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ</p>
<p><em>&#8220;Pada hari itu tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih, dan surga itu akan didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan akan ditampakkanlah dengan jelas neraka itu kepada orang-orang yang sesat.&#8221;</em> (QS. as-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-91)</p>
<p>Suatu hari ketika kegoncangan di hari itu sangatlah dahsyat, sampai-sampai seorang ibu melalaikan bayi yang disusuinya dan setiap janin akan gugur dari kandungan ibunya. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ  يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ</p>
<p><em>&#8220;Hai umat manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian, sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah kejadian yang sangat besar. Ingatlah, pada hari itu ketika kamu melihatnya, setiap ibu yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan mengalami keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sesuangguhnya mereka tidak sedang mabuk, namun ketika itu adzab Allah sangatlah keras.&#8221;</em> (QS. al-Hajj: 1-2)</p>
<p>Khauf kepada Allah semata merupakan bukti jujurnya keimanan seorang hamba. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya itu hanyalah syaitan yang menakut-nakuti para walinya, maka janganlah kalian takut  kepada mereka, akan tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalin benar-benar beriman.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 175)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, &#8220;Apabila ketiga perkara ini terkumpul: cinta, harap, dan takut, maka itulah asas tegaknya aqidah.&#8221; (<em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id Surah al-Fatihah</em>, hal. 18).</p>
<p>Ketiga hal di atas -<strong>mahabbah, raja&#8217; dan khauf</strong>- merupakan pondasi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Oleh karena itu para ulama kita mengatakan, &#8220;Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja maka dia adalah seorang Zindiq. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan rasa takut semata, maka dia adalah seorang Haruri/penganut aliran Khawarij. Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan rasa harap semata, maka dia adalah seorang Murji&#8217;ah. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan cinta, takut, dan harap maka dia adalah seorang mukmin muwahhid.&#8221; (<em>Syarh Aqidah at-Thahawiyah</em> tahqiq Ahmad Syakir [2/275] as-Syamilah).</p>
<p><strong>Faedah Keempat: Kewajiban untuk mentauhidkan Allah</strong></p>
<p>Di dalam ayat <em>&#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217;</em> terkandung ajaran untuk mentauhidkan Allah ta&#8217;ala. Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan kandungan ayat ini, &#8220;Maknanya adalah: Kami mengkhususkan ibadah dan <em>isti&#8217;anah</em> hanya untuk-Mu&#8230;&#8221; (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [1/28]). Inilah hakikat ajaran Islam yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Karena tujuan itulah Allah menciptakan jin dan manusia. Untuk mendakwahkan itulah Allah mengutus para nabi dan rasul kepada umat manusia. Dengan ibadah yang ikhlas itulah seorang hamba akan bisa menjadi sosok yang bertakwa dan mulia di sisi-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. adz-Dzariyat: 56)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah Kami mengutus sebelum seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.&#8221;</em> (QS. al-Anbiya&#8217;: 25)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p><em>&#8220;Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian, yaitu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian menjadi bertakwa.&#8221;</em> (QS. al-Baqarah: 21)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.&#8221;</em> (QS. al-Hujurat: 13)</p>
<p>Maka barangsiapa yang menujukan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah sungguh dia telah terjerumus dalam kemusyrikan. Sebagaimana kita meyakini bahwa Allah satu-satunya yang menciptakan alam semesta ini, yang menghidupkan dan mematikan, yang menguasai dan mengatur alam ini, maka sudah seharusnya kita pun menujukan segala bentuk ibadah kita yang dibangun di atas rasa cinta, harap, dan takut itu hanya kepada Allah semata.</p>
<p><strong>Faedah Kelima: Kewajiban untuk bertawakal kepada-Nya</strong></p>
<p>Hal ini terkandung di dalam potongan ayat <em>&#8216;wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217;</em>. Karena kita meyakini bahwa tidak ada yang menguasai kemanfaatan dan kemadharatan kecuali Allah, tidak ada yang mengatur segala sesuatu kecuali Dia, maka semestinya kita pun bergantung dan berharap hanya kepada-Nya. Kita tidak boleh meminta pertolongan dalam perkara-perkara yang hanya dikuasai oleh Allah kepada selain-Nya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpesan kepada Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>,</p>
<p>يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ</p>
<p><em>&#8220;Hai anak muda, aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan menemukan-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketauhilah, seandainya seluruh manusia bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu maka mereka tidak akan memberikan manfaat itu kepadamu kecuali sebatas apa yang Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk memudharatkan dirimu dengan sesuatu maka mereka tidak akan bisa menimpakan mudharat itu kecuali sebatas apa yang Allah tetapkan menimpamu. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah mengering.&#8221;</em> (HR. Tirmidzi, dia berkata; hasan sahih, disahihkan oleh al-Albani dalam <em>Shahih wa Dha&#8217;if Sunan at-Tirmidzi</em> [2516])</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan baginya jalan keluar dan akan memberikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah pasti mencukupinya.&#8221;</em> (QS. at-Thalaq: 2-3)</p>
<p>Orang-orang yang beriman adalah orang yang bertawakal kepada Allah semata. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p><em>&#8220;Hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.&#8221;</em> (QS. al-Maa&#8217;idah: 23)</p>
<p>Apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Allah ta&#8217;ala juga berfirman,</p>
<p>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ  أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka hati mereka menjadi takut/bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka. Orang-orang yang mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang mukmin yang sejati, mereka akan mendapatkan derajat yang berlainan di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rezeki yang mulia.&#8221;</em> (QS. al-Anfal: 2-4)</p>
<p>Dengan mengingat Allah maka hati mereka menjadi tenang. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ</p>
<p><em>&#8220;Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.&#8221;</em> (QS. ar-Ra&#8217;d: 28)</p>
<p>Berbeda halnya dengan orang yang bergantung dan berharap kepada selain Allah. Hati mereka tenang dan gembira ketika mengingat sesembahan dan pujaan selain Allah ta&#8217;ala. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ</p>
<p><em>&#8220;Apabila disebut nama Allah saja maka akan menjadi kesal hati orang-orang yang tidak beriman dengan hari akhirat itu, sedangkan apabila disebut selain-Nya maka mereka pun tiba-tiba merasa bergembira.&#8221;</em> (QS. az-Zumar: 45)</p>
<p>Karena tawakal pula seorang hamba akan bisa masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ</p>
<p><em>&#8220;Akan masuk surga tujuh puluh ribu orang di antara umatku tanpa hisab, mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak mempunyai anggapan sial/tathayyur, dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka.&#8221;</em> (HR. Bukhari dari Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>).</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Faedah surah Al-Fatihah" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-1.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-647"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fsembilan-faedah-surat-al-fatihah-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al-Qur&#8217;an Surat Ali Imran Ayat 118: Jangan Mudah Percaya Dengan Orang Kafir</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-al-quran-surat-ali-imran-ayat-118-jangan-mudah-percaya-dengan-orang-kafir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-al-quran-surat-ali-imran-ayat-118-jangan-mudah-percaya-dengan-orang-kafir.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 10:05:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ &#8220;Hai<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-al-quran-surat-ali-imran-ayat-118-jangan-mudah-percaya-dengan-orang-kafir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p><strong>يَا  أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا  يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ  أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ  إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang  yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang  yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan)  kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata  kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah  lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika  kamu memahaminya.&#8221;</em> (QS. Ali Imran[3]: 118)</p>
<p><span id="more-275"></span>Tentang sebab turunnya ayat di atas, Ibnu Abbas menjelaskan, &#8220;Ada  beberapa orang kaum muslimin yang menjalin hubungan dekat dengan beberapa orang  Yahudi mengingat mereka adalah tetangga dan orang-orang yang pernah saling  bersumpah untuk saling mewarisi di masa jahiliyyah lalu Allah menurunkan ayat  yang berisi larangan menjadikan orang-orang Yahudi sebagai teman dekat karena  dikhawatirkan menjadi sebab munculnya godaan iman. Ayat yang dimaksudkan adalah  ayat di atas.&#8221; (Riwayat Ibnu Abi hatim dengan sanad yang hasan).</p>
<p>Dalam ayat ini terkandung larangan keras untuk simpati dan memihak kepada  orang-orang kafir, karena yang dimaksud <em>bithonah </em>dalam ayat tersebut  adalah orang-orang dekat yang mengetahui berbagai hal yang bersifat rahasia. <em>Bithonah </em>diambil dari kata-kata <em>bathnun </em>yang merupakan kebalikan dari <em>zhahir </em>yang berarti yang nampak. Sedangkan Imam Bukhari mengatakan bahwa yang  dimaksud dengan <em>bithonah </em>adalah orang-orang yang sering menemui karena  sudah akrab. Kata Ibnu Hajar, penjelasan tersebut merupakan pendapat Abu &#8216;Ubaidah  (<em>Fathul Bari</em>, 13/202, lihat <em>Jami&#8217; Tafsir min Kutub al Ahadits</em>,  1/396)</p>
<p>Tentang makna <em>bithonah</em>, Zamakhsyari mengatakan bahwa <em>bithonah</em> adalah orang kepercayaan dan orang pilihan, tempat untuk menceritakan hal-hal  yang pribadi karena merasa percaya dengan orang tersebut (<em>Tafsir al Kasysyaf</em>,  1/406, lihat <em>Tafsir al Qasimi</em>, 2/441 cetakan Darul Hadits Kairo)</p>
<p>Dengan ayat ini, Allah melarang  orang-orang yang beriman untuk menjadikan orang-orang kafir baik Yahudi ataupun <em>ahlu ahwa&#8217;</em> (pengekor hawa nafsu, ahli bid&#8217;ah) sebagai orang-orang dekat  yang menjadi tempat bermusyawarah dan mengadukan permasalahan.</p>
<p>عَنْ أَبِي  هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «الرَّجُلُ  عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Nabi  bersabda, <em>&#8220;Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya.&#8221; </em>(HR.  Abu Daud, Tirmidzi, Hakim dan dinilai shahih oleh Hakim serta disetujui oleh  adz Dzahabi. Demikian juga dinilai shahih oleh an Nawawi, dll)</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Mas&#8217;ud, beliau mengatakan, &#8220;Nilailah seseorang  dengan teman dekatnya.&#8221;</p>
<p>Setelah itu Allah menjelaskan sebab dilarangnya menjalin kedekatan dengan  mereka. Mereka selalu mencurahkan segala daya upaya untuk menyengsarakan  kalian. Dengan kata lain, jika mereka tidak memerangi kalian secara  terang-terangan maka mereka tidak pernah kenal lelah membuat tipu daya untuk kalian.</p>
<p>Ketika menjelaskan potongan ayat ini, Muqatil bin Hayyan mengatakan, &#8220;Mereka  hendak menyesatkan kalian sebagaimana mereka telah sesat. Maka Allah melarang  orang-orang beriman untuk memasukkan orang-orang munafik dengan meninggalkan  orang-orang yang beriman ke dalam rumah atau menjadikan mereka sebagai orang  dekat.&#8221; (Riwayat Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan).</p>
<p>Terkait ayat ini, Abu Umamah mengatakan, &#8220;Yang Allah  maksudkan adalah orang-orang khawarij (orang yang memiliki pemahaman mudah mengafirkan  orang lain tanpa alasan yang jelas)&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Abu Musa al &#8216;Asy&#8217;ari mengangkat orang Nasrani sebagai  sekretaris beliau maka Khalifah Umar mengirim surat dengan nada kasar lalu  mengutip ayat di atas sebagai teguran bagi Abu Musa.</p>
<p>Abu Musa pernah menghadap Khalifah Umar dengan membawa laporan secara  tertulis. Setelah disampaikan kepada Khalifah Umar beliau merasa kagum dengan  lembaran-lembaran laporan tersebut. Setelah laporan tersebut sampai ke tangan  Khalifah Umar, beliau bertanya kepada Abu Musa, &#8220;Di manakah juru tulismu?  Minta dia supaya membacakannya di hadapan banyak orang.&#8221; &#8220;Dia tidak  masuk ke dalam masjid&#8221;, jawab Abu Musa. Khalifah bertanya, &#8220;Mengapa?  Apakah dia dalam kondisi junub?&#8221; Abu Musa berkata, &#8220;Bukan, namun  karena dia seorang Nasrani.&#8221; Mendengar hal tersebut, Khalifah Umar lantas  menghardik beliau seraya berkata, <strong>&#8220;Jangan dekatkan mereka kepada kalian  padahal Allah telah menjauhkan mereka. Jangan muliakan mereka padahal Allah  telah menghinakan mereka. Jangan percaya kepada mereka padahal Allah sudah  menegaskan bahwa mereka suka khianat terhadap amanah.&#8221;</strong></p>
<p>Khalifah Umar juga pernah mengatakan, &#8220;Janganlah kalian mempekerjakan  ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) karena mereka menghalalkan suap. Untuk  menyelesaikan urusan kalian dan urusan rakyat kalian manfaatkanlah orang-orang  yang merasa takut kepada Allah.&#8221;</p>
<p>Dari Abu Dahqonah, ada yang berkata kepada Khalifah Umar, &#8220;Ada seorang  budak laki-laki Nasrani dari daerah Hirah yang paling jago dalam tulis menulis  dan terkenal sebagi seorang yang amanah. Berkenankah anda seandainya dia  menjadi sekretaris anda?&#8221; Dengan tegas, Khalifah Umar menyatakan, &#8220;Jika  demikian berarti aku telah menjadikan non muslim sebagai orang kepercayaanku.&#8221;  (Riwayat Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Ar Razi berkata, &#8220;Hal ini menunjukkan bahwa Umar menjadikan ayat ini  sebagi dalil bahwa menjadikan orang Nasrani sebagi teman dekat adalah suatu  yang terlarang.&#8221; (<em>Tafsir ar Razi</em>, 8/216)</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan, &#8220;Riwayat dari Khalifah Umar ditambah ayat di  atas adalah dalil bahwa orang kafir <em>dzimmi</em> tidak boleh dipekerjakan  sebagai juru tulis sehingga merasa lebih tinggi dari kaum muslimin dan  mengetahui rahasia-rahasia umat sehingga dikhawatirkan akan disampaikan kepada  musuh, orang kafir <em>harbi</em>.&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 1/398)</p>
<p>Dalam <em>al Iklil</em>, Imam Suyuthi mengutip perkataan al Kaya Harasi, &#8220;Dalam  ayat tersebut terdapat dalil bahwa meminta tolong dengan kafir <em>dzimmi</em> jika terkait dengan urusan kaum muslimin adalah suatu hal yang terlarang.&#8221;  (<em>Al Iklil</em> hal. 72)</p>
<p>Penjelasannya sebagaimana yang dikatakan oleh al Qasyani, &#8220;Sesungguhnya <em>bithonah</em> seseorang adalah kekasih dan orang pilihannya yang mengetahui  berbagai hal rahasia yang dia miliki. Sahabat semisal ini tidak mungkin kecuali  setelah adanya kesamaan tujuan hidup, agama dan karakter dan bersahabat karena  Allah bukan karena tendensi tertentu karena sahabat adalah satu jiwa dalam raga  yang berbeda. Jika dua orang tersebut tidak seiman maka persahabatannya tentu  akan segera berantakan.&#8221; (Tafsir <em>Al Qasimi</em>, 2/442)</p>
<p>Imam Qurthubi mengatakan, &#8220;Keadaan telah berubah total di masa kini.  Yahudi dan Nasrani diangkat sebagai para juru tulis dan orang-orang  kepercayaan. Hal tersebut bahkan menjadi kebanggaan bagi para penguasa yang  kurang paham dengan agama.&#8221; Jika demikian keadaan di masa Imam Qurthubi  lalu apa yang bisa katakan untuk masa kita saat ini.</p>
<p>عن أبي سعيد الخدري  عن النبي صلى الله عليه و سلم قال «ما بعث الله من نبي ولا استخلف من خليفة إلا  كانت له بطانتان بطانة تأمره بالمعروف وتحضه عليه وبطانة تأمره بالشر وتحضه عليه  فالمعصوم من عصم الله تعالى»</p>
<p>Dari Abu Said al Khudri, Nabi bersabda, <em>&#8220;Tidaklah Allah mengutus  seorang Nabi atau mengangkat seorang khalifah melainkan pasti memiliki dua  jenis orang dekat. Ada yang mengajak dan memotivasi untuk berbuat kebaikan.  Sebaliknya yang kedua malah mengajak dan memotivasi untuk mengerjakan  keburukan. Orang yang terjaga adalah orang yang benar-benar Allah jaga.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Nasai)</p>
<p>Sungguh permusuhan dan sikap mendustakan telah  benar-benar nampak pada mulut-mulut mereka. Dalam hal ini, Allah menyebutkan  mulut untuk mengisyaratkan bahwa mereka pongah dalam kata-kata yang mereka  lontarkan. Artinya mereka itu melebihi orang-orang yang menyembunyikan  permusuhan sehingga permusuhan hanya nampak dalam sorot pandangan mata.</p>
<p>Tentang ayat ini, Qotadah mengatakan, &#8220;Ungkapan  permusuhan telah nampak jelas melalui mulut orang-orang munafik ketika berada  di hadapan orang-orang kafir yang sejalan dengan mereka. Mereka katakan bahwa  mereka berhasil menipu Islam dan umat Islam serta menyampaikan ungkapan rasa  benci terhadap orang-orang yang beriman.&#8221; Beliau juga mengatakan, &#8220;Yang  mereka sembunyikan dalam dada-dada mereka itu lebih besar dibandingkan yang  mereka nampakkan dengan lisan mereka.&#8221; (Riwayat Thabari dengan sanad yang  hasan)</p>
<p>Ayat di atas juga menjadi dalil seorang musuh tidak boleh  memberikan persaksian yang menyudutkan kepada orang yang menjadi musuhnya.  Inilah pendapat para ulama&#8217; terdahulu yang berdomisili di Madinah dan Hijaz  (Mekkah, Madinah dan sekitarnya) pada umumnya. Sedangkan Imam Abu Hanifah  membolehkan hal tersebut sebagaimana dalam salah satu riwayat. Ibnu Bathal  mengutip penyataan Ibnu Sya&#8217;ban, &#8220;Para ulama bersepakat bahwa musuh tidak  boleh memberikan persaksian yang menyudutkannya kepada yang menjadi musuhnya  dalam kasus apapun meski dia adalah seorang yang baik agamanya. Jadi permusuhan  itu menghilangkan nilai kejujuran seseorang. Lalu bagaimana dengan permusuhan  dengan orang kafir.&#8221; Pada akhir ayat Allah menegaskan bahwa rasa benci  yang disembunyikan oleh orang-orang kafir itu jauh lebih besar lagi  dibandingkan yang dinampakkan dengan mulut.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-275"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Ftafsir-al-quran-surat-ali-imran-ayat-118-jangan-mudah-percaya-dengan-orang-kafir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-al-quran-surat-ali-imran-ayat-118-jangan-mudah-percaya-dengan-orang-kafir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Al Fatihah</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/surat-al-fatihah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/surat-al-fatihah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 03:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Surat Al Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam al-Qur&#8217;an. Hal itu berdasarkan hadits Abu Sa&#8217;id bin Al Mu&#8217;alla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor 4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid:<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/surat-al-fatihah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Surat Al  Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam al-Qur&#8217;an. Hal itu berdasarkan  hadits Abu Sa&#8217;id bin Al Mu&#8217;alla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor  4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid: tauhid rububiyah, tauhid  uluhiyah, dan tauhid asma&#8217; wa shifat. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah <em>ta&#8217;ala </em>dalam perbuatan-perbuatan-Nya, seperti: menciptakan, memberikan rezeki,  menghidupkan, mematikan, dan perbuatan-perbuatan Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang  lainnya. Maknanya Allah itu esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu  bagi-Nya dalam hal mencipta, menghidupkan dan mematikan makhluk.</p>
<p><span id="more-167"></span></p>
<p>Sedangkan  tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dengan  perbuatan-perbuatan hamba seperti: dalam hal berdoa, merasa takut, berharap,  bertawakal, meminta pertolongan (<em>isti&#8217;anah</em>), memohon keselamatan dari  cekaman bahaya (<em>istighatsah</em>), menyembelih binatang, dan  perbuatan-perbuatan hamba yang lainnya. Maka sudah menjadi kewajiban bagi  setiap mereka untuk menjadikan segala ibadah itu ikhlas semata-mata tertuju  kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> sehingga mereka tidak mempersekutukan  sesuatupun bersama-Nya dalam hal ibadah. Sebagaimana tiada pencipta kecuali  Allah, tiada yang menghidupkan kecuali Allah, tiada yang mematikan kecuali  Allah, maka tiada yang berhak disembah kecuali Allah.</p>
<p>Tauhid  asma&#8217; wa shifat adalah menetapkan nama dan sifat yang telah ditetapkan sendiri  oleh Allah bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya<em> shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> bagi diri-Nya tanpa disertai dengan <em>tahrif</em> (penyelewengan  makna), <em>ta&#8217;wi</em>l (penafsiran yang menyimpang), <em>ta&#8217;thil</em> (menolak  makna atau teksnya), <em>takyif</em> (menegaskan bentuk tertentu dari sifat  Allah), <em>tasybih</em> (menyerupakan secara parsial) ataupun <em>tamtsil</em> (menyerupakan secara total). Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam firman  Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang artinya, <em>&#8220;Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya,  dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&#8221;</em> (QS. Asy Syura: 11).  Sesungguhnya ayat yang mulia ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang  kebenaran madzhab Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dalam mengimani sifat-sifat Allah <em>&#8216;azza  wa jalla</em> yaitu dengan menetapkan sifat serta menyucikan-Nya. Di dalam  firman-Nya <em>&#8216;azza wa jalla</em>, <em>&#8220;Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha  Melihat.&#8221;</em> terdapat penetapan dua buah nama Allah yaitu <em>As Sami&#8217;</em> (Maha Mendengar) dan <em>Al Bashir</em> (Maha Melihat). Kedua nama ini  menunjukkan keberadaan dua sifat Allah yaitu <em>As Sam&#8217;u</em> (mendengar) dan <em>Al  Bashar</em> (melihat). Sedangkan di dalam firman-Nya<em> ta&#8217;ala</em>, <em>&#8220;Tiada  sesuatupun yang serupa dengan-Nya.&#8221;</em> terdapat penyucian Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari keserupaan diri-Nya dengan makhluk dalam sifat-sifat mereka. Allah <em>subhanahu  wa ta&#8217;ala</em> mendengar tetapi tidak sebagaimana pendengaran makhluk. Dia juga  melihat namun tidak sama seperti penglihatan mereka.</p>
<p>Bahkan ayat  pertama yang terdapat dalam surat yang agung ini sudah mencakup ketiga macam  tauhid tersebut. Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan keberadaannya dengan  firman-Nya, <em>&#8220;Alhamdulillah&#8221;</em> (Segala puji bagi Allah). Hal itu  dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan  sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari  perbuatan mereka.</p>
<p>Adapun  tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam firman-Nya <em>ta&#8217;ala</em>, <em>&#8220;Rabbil  &#8216;alamin.&#8221;</em> (Rabb seru sekalian alam). Hal itu disebabkan Allah <em>subhanahu  wa ta&#8217;ala</em> adalah rabb bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya.  Hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, <em>&#8220;Hai  umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian serta  orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia lah yang menjadikan bumi  sebagai hamparan bagi kalian dan langit menjadi atap, dan Dia lah yang  menurunkan air hujan dari langit kemudian berkat air itu Allah menumbuhkan  berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian, maka janganlah kalian  menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.&#8221;</em> (QS.  Al Baqarah: 21-22)</p>
<p>Sedangkan  tauhid asma&#8217; wa shifat, maka sesungguhnya ayat pertama itu pun telah  menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama itu adalah <em>lafzhul jalalah</em> &#8216;Allah&#8217; dan Rabb sebagaimana di dalam firman-Nya <em>&#8220;Rabbil &#8216;alamin&#8221;</em>.  Pada ayat ini kata &#8216;rabb&#8217; disebutkan dalam bentuk <em>mudhaf</em> (dipadukan  dengan kata lain, pen). Sedangkan pada ayat lainnya yang tercantum dalam surat  Yasin ia disebutkan secara bersendirian tanpa perpaduan, yaitu dalam  firman-Nya, <em>&#8220;Salamun qaulan min rabbir rahim&#8221;</em> (Semoga  keselamatan tercurah dari rabb yang maha penyayang) (QS. Yasin: 58)</p>
<p>Adapun <em>&#8216;alamin&#8217;</em> adalah segala makhluk selain Allah. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dengan  dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maka Dia lah Sang Pencipta. Sedangkan  semua selain diri-Nya adalah makhluk. Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> bercerita  tentang kisah Musa dan Fir&#8217;aun, <em>&#8220;Fir&#8217;aun mengatakan, &#8216;Apa itu rabbul  &#8216;alamin?&#8217; Maka Musa menjawab, &#8216;Dia adalah rabb penguasa langit, bumi, dan  segala sesuatu yang berada di antara keduanya, jika kamu mau jujur  meyakininya.&#8217;.&#8221;</em> (QS. Asy Syu&#8217;ara&#8217;: 23-24)</p>
<p><em>&#8216;Ar Rahman  Ar Rahim&#8217;</em> (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) merupakan dua  buah nama Allah yang menunjukkan salah satu sifat Allah yaitu <em>rahmah</em> (kasih sayang). Ar Rahman termasuk kategori nama Allah yang hanya boleh dipakai  untuk menyebut Allah. Sedangkan nama Ar Rahim telah disebutkan di dalam al-Qur&#8217;an  pemakaiannya untuk menyebut selain-Nya. Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berfirman  tentang sifat Nabi-Nya Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8220;Sungguh  telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian, terasa berat  olehnya apa yang menyulitkan kalian, dan dia sangat bersemangat untuk  memberikan kebaikan bagi kalian, dan dia sangat lembut dan menyayangi  orang-orang yang beriman.&#8221;</em> (QS. At Taubah: 128)</p>
<p>Ibnu Katsir  mengungkapkan tatkala menjelaskan tafsir basmalah di awal surat Al Fatihah, <em>&#8220;Kesimpulan  yang dapat dipetik adalah sebagian nama Allah ta&#8217;ala ada yang bisa dipakai  untuk menamai selain-Nya, dan ada yang hanya boleh dipakai untuk menamai  diri-Nya -seperti nama Allah, Ar Rahman, Al Khaliq, Ar Raziq dan sebagainya-  .&#8221; </em></p>
<p><em>&#8216;Maliki  yaumid din&#8217;</em> menunjukkan kepada tauhid rububiyah. Allah <em>subhanahu  wa ta&#8217;ala</em> adalah rabb segala sesuatu dan penguasanya. Seluruh kerajaan  langit dan bumi serta apa pun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya.  Dia lah Raja yang menguasai dunia dan akhirat. Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berfirman, <em>&#8220;Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu  yang ada di dalamnya, dan Dia Maha menguasai segala sesuatu.&#8221;</em> (QS. Al  Ma&#8217;idah: 120). Allah juga berfirman, <em>&#8220;Maha Suci Allah yang di  tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221; </em>(QS. Al  Mulk: 1). Allah berfirman, <em>&#8220;Katakanlah; Siapakah yang di tangan-Nya  berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia yang melindungi dan tiada yang dapat  terlindungi dari siksa-Nya, jika kalian benar-benar mengetahui? Maka mereka  akan menjawab, &#8216;Allah&#8217;. Katakanlah; Lantas dari sisi manakah kalian  tertipu.&#8221;</em> (QS. Al Mu&#8217;minun: 88-89)</p>
<p><em>Yaumid din</em> adalah hari terjadinya pembalasan dan penghitungan amal. Di dalam ayat ini  ditegaskan bahwa Allah adalah penguasa pada hari pembalasan <em>-padahal Dia  adalah penguasa dunia dan akhirat-</em> dikarenakan pada hari itu semua orang  pasti akan tunduk kepada <em>Rabbul &#8216;alamin</em>. Berbeda dengan situasi yang  terjadi di dunia, ketika di dunia masih ada orang yang bisa melampaui batas dan  menyombongkan dirinya, bahkan ada pula yang berani mengatakan, <em>&#8220;Aku  adalah rabb kalian yang paling tinggi.&#8221;</em> Dan dia pun lancang  mengatakan, <em>&#8220;Wahai rakyatku semua, tidaklah aku mengetahui adanya  sesembahan bagi kalian selain diri-Ku.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8216;Iyyaka  na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217;</em> (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya  kepada-Mu kami meminta pertolongan). Ini menunjukkan tauhid uluhiyah.  Penyebutan objek yang didahulukan sebelum dua buah kata kerja tersebut  menunjukkan pembatasan. Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dipersembahkan  kecuali kepada Allah. Demikian pula meminta pertolongan dalam urusan yang hanya  dikuasai oleh Allah juga harus diminta hanya kepada Allah. Kalimat yang pertama  menunjukkan bahwasanya seorang muslim harus melaksanakan ibadahnya dengan  ikhlas untuk mengharap wajah Allah yang disertai  kesesuaian amal dengan sunnah Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sedangkan kalimat yang kedua menunjukkan bahwa hendaknya  seorang muslim tidak meminta pertolongan dalam mengatasi segala urusan agama  dan dunianya kecuali kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>.</p>
<p><em>&#8216;Ihdinash  shirathal mustaqim&#8217;</em> (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Ini  menunjukkan tauhid uluhiyah, sebab ia merupakan doa. Dan doa termasuk jenis  ibadah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, <em>&#8220;Sesungguhnya  masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama  Allah siapapun.&#8221;</em> (QS. Al Jin: 18). Doa ini mengandung seagung-agung  tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus.  Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari berbagai kegelapan menuju  cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba  terhadap petunjuk ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dirinya terhadap  makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani  kehidupannya yang fana. Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan  bekal kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan  untuk diberikan keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga  mengandung permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk. Allah <em>&#8216;azza wa  jalla</em> berfirman, <em>&#8220;Dan orang-orang yang tetap berjalan di atas  petunjuk, maka Allah pun akan menambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah akan  memberikan ketakwaan kepada mereka.&#8221;</em> (QS. Muhammad: 17). Allah juga  berfirman tentang Ashabul Kahfi, <em>&#8220;Sesungguhnya mereka adalah para  pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami pun menambahkan petunjuk  kepada mereka.&#8221;</em> (QS. Al Kahfi: 13). Allah juga berfirman, <em>&#8220;Dan  Allah akan menambahkan petunjuk kepada orang-orang yang tetap berjalan di atas  petunjuk.&#8221;</em> (QS. Maryam: 76)</p>
<p>Petunjuk  menuju jalan yang lurus itu akan menuntun kepada jalan orang-orang yang  diberikan kenikmatan yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada&#8217;, dan  orang-orang salih. Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan  amal. Maka seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah  menuju jalan lurus ini yang merupakan sebuah   pemuliaan dari Allah kepada para rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Dia  memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan musuh-musuh-Nya yaitu  orang-orang yang memiliki ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya. Mereka itulah  golongan Yahudi yang dimurkai. Demikian juga dia memohon agar Allah menjauhkan  dirinya dari jalan orang-orang yang beribadah kepada Allah di atas kebodohan  dan kesesatan. Mereka itulah golongan Nasrani yang sesat. Hadits yang  menerangkan bahwa orang-orang yang dimurkai itu adalah Yahudi dan orang-orang sesat  itu adalah Nasrani dikeluarkan oleh At Tirmidzi (hadits nomor 2954) dan ahli  hadits lainnya, silakan lihat takhrij hadits ini di buku <em>Silsilah Ash  Shahihah</em> karya Al Albani (hadits nomor 3263), di dalam buku itu disebutkan  nama-nama para ulama yang menyatakan keabsahan hadits tersebut.</p>
<p>Ibnu Katsir  di dalam kitab tafsirnya ketika membahas firman Allah <em>ta&#8217;ala</em>, <em>&#8220;Hai  orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pendeta dan rahib-rahib  benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan memalingkan  manusia dari jalan Allah.&#8221;</em> (QS. At Taubah: 34) menukilkan ucapan  Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, <em>&#8220;Orang-orang yang rusak di antara  orang berilmu di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Yahudi. Dan  orang-orang yang rusak di antara para ahli ibadah di kalangan kita, padanya  terdapat keserupaan dengan Nasrani.&#8221;</em></p>
<p>Guru kamu  Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan di dalam kitabnya <em>Adhwa&#8217;ul  Bayan</em> (1/53), &#8220;Orang-orang Yahudi dan Nasrani -meskipun sebenarnya  mereka sama-sama sesat dan sama-sama dimurkai- hanya saja kemurkaan itu lebih  dikhususkan kepada Yahudi -meskipun orang Nasrani juga termasuk di dalamnya-  dikarenakan mereka telah mengenal   kebenaran namun justru mengingkarinya, dan secara sengaja melakukan  kebatilan. Karena itulah kemurkaan lebih condong dilekatkan kepada mereka.  Adapun orang-orang Nasrani adalah orang yang bodoh dan tidak mengetahui  kebenaran, sehingga kesesatan merupakan ciri mereka yang lebih menonjol.  Meskipun begitu Allah menyatakan bahwa <em>&#8216;al magdhubi &#8216;alaihim&#8217;</em> adalah  kaum Yahudi melalui firman-Nya ta&#8217;ala tentang mereka, <em>&#8220;Maka mereka pun  kembali dengan menuai kemurkaan di atas kemurkaan.&#8221; </em>(QS. Al Baqarah:  90). Demikian pula Allah berfirman mengenai mereka,<em> &#8220;Katakanlah; maukah  aku kabarkan kepada kalian tentang golongan orang yang balasannya lebih jelek  di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati Allah dan dimurkai  oleh-Nya.&#8221; </em>(QS. Al Ma&#8217;idah: 60). Begitu pula firman-Nya,<em> &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung sapi itu sebagai  sesembahan niscaya akan mendapatkan kemurkaan</em>.&#8221; (QS. Al A&#8217;raaf : 152).  Sedangkan golongan <em>&#8216;adh dhaalliin&#8217; </em>telah Allah jelaskan bahwa mereka itu  adalah kaum Nasrani melalui firman-Nya ta&#8217;ala,<em> &#8220;Dan janganlah kalian  mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat, dan mereka pun menyesatkan  banyak orang, sungguh mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.&#8221; </em>(QS.  Al Ma&#8217;idah: 77)&#8221;</p>
<p>Dari  penjelasan terdahulu maka jelaslah bahwa surat Al Fatihah mengandung lebih  daripada sekedar pembahasan ketiga macam tauhid: tauhid rububiyah, tauhid  uluhiyah, dan tauhid asma&#8217; wa shifat. Sebagian ulama ada juga yang membagi  tauhid menjadi dua macam: tauhid <em>fil ma&#8217;rifah wal itsbat</em> -ia sudah  mencakup tauhid rububiyah dan asma&#8217; wa shifat- dan tauhid <em>fi thalab wal  qashd</em> yang tidak lain adalah tauhid uluhiyah. Maka tidak ada pertentangan  antara pembagian tauhid menjadi dua ataupun tiga. Ibnu Abil &#8216;Izz Al Hanafi  mengatakan di dalam <em>Syarh &#8216;Aqidah Thahawiyah</em> (hal. 42-43), &#8220;Kemudian,  tauhid yang diserukan oleh para utusan Allah dan menjadi muatan kitab-kitab  suci yang diturunkan-Nya ada dua macam: tauhid dalam hal penetapan dan  pengenalan (<em>itsbat wal ma&#8217;rifah</em>), dan tauhid dalam hal tuntutan dan  keinginan (<em>fi thalab wal qashd</em>). Adapun tauhid yang <strong>pertama</strong> adalah penetapan hakikat Rabb <em>ta&#8217;ala</em>, sifat-sifat-Nya, dan  nama-nama-Nya. Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam perkara-perkara  itu semua. Hal itu sebagaimana yang diberitakan oleh Allah mengenai dirinya  sendiri, dan juga sebagaimana yang diberitakan oleh Rasul-Nya <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>. al-Qur&#8217;an telah menjelaskan dengan gamblang mengenai  jenis tauhid ini, sebagaimana tercantum di dalam bagian awal surat Al Hadid,  Thaha, bagian akhir surat Al Hasyr, bagian awal surat <em>&#8216;Alif lam mim tanzil&#8217;</em> (As Sajdah), awal surat Ali &#8216;Imran, seluruh ayat dalam surat Al Ikhlas, dan  lain sebagainya. Yang <strong>kedua</strong>: Tauhid <em>thalab wal qashd</em>, seperti  yang terkandung dalam surat <em>Qul ya ayyuhal kafirun</em>, <em>Qul Ya ahlal  kitabi ta&#8217;aalau ila kalimatin sawaa&#8217;in bainana wa bainakum</em>, awal surat <em>Tanzilul  Kitab</em> dan bagian akhirnya, awal surat Yunus, pertengahan, dan bagian  akhirnya, awal surat Al A&#8217;raaf dan bagian akhirnya, dan surat Al An&#8217;aam secara  keseluruhan. Mayoritas surat-surat al-Qur&#8217;an mengandung dua macam tauhid  tersebut, bahkan setiap surat dalam al-Qur&#8217;an demikian halnya; sebab al-Qur&#8217;an  itu meliputi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan  perbuatan-perbuatan-Nya, inilah yang disebut dengan tauhid ilmi khabari. Ia  juga berisi tentang dakwah yang mengajak untuk beribadah kepada Allah semata  dan tiada sekutu bagi-Nya serta menanggalkan segala bentuk sesembahan  selain-Nya, inilah yang disebut tauhid iradi thalabi. Ia juga berisi tentang  perintah dan larangan serta kewajiban untuk menaati-Nya, ini merupakan hak-hak  tauhid dan penyempurna baginya. Ia juga mengandung berita mengenai pemuliaan  yang diberikan bagi orang-orang yang bertauhid, kebaikan yang Allah limpahkan  kepada mereka di dunia dan kemuliaan yang akan mereka terima di akhirat, maka  itu semua merupakan balasan bagi ketauhidannya. Ia juga berisi berita mengenai  para pelaku kesyirikan, siksa yang Allah timpakan kepada mereka sewaktu di  dunia dan azab yang harus mereka rasakan di akhirat, maka itu merupakan balasan  bagi orang-orang yang meninggalkan tauhid. Dengan demikian seluruh bagian dari al-Qur&#8217;an  berisi tentang tauhid, hak-haknya, dan balasannya, serta menjelaskan tentang  syirik, pelakunya, dan balasan (hukuman) yang diberikan kepada mereka. Maka <em>alhamdulillahi  Rabbil &#8216;alamin</em> adalah tauhid. <em>Ar rahmanir rahim</em> adalah tauhid. <em>Maliki  yaumid Din</em> adalah tauhid. <em>Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in</em> adalah  tauhid. <em>Ihdinash shirathal mustaqim</em> adalah tauhid yang mengandung  permohonan petunjuk untuk bisa meniti jalan ahli tauhid yang telah mendapatkan  anugerah kenikmatan dari Allah, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan juga  bukan jalan orang-orang yang sesat; yaitu orang-orang yang memisahkan diri dari  tauhid.&#8221;</p>
<p>Dikarenakan  keagungan kedudukan surat Al Fatihah ini dan ketercakupannya terhadap  tauhidullah dalam hal rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan asma&#8217; wa shifat-Nya,  kandungan permohonan petunjuk meniti jalan yang lurus, dan dikarenakan  kebutuhan setiap muslim terhadap petunjuk itu jauh berada di atas kebutuhannya  terhadap apapun dan lebih mendesak, maka surat ini pun disyari&#8217;atkan untuk  dibaca di setiap raka&#8217;at shalat. Di dalam Sahih Bukhari (756) dan Muslim (393)  dari Ubadah bin Shamit <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Tidak sah shalat bagi orang yang tidak  membaca Fatihatul Kitab.&#8221;</em> Di dalam Sahih Muslim (878) dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau  bersabda, <em>&#8220;Barangsiapa mengerjakan shalat yang tidak membaca Ummul  Qur&#8217;an di dalamnya maka shalatnya pincang -tiga kali- yaitu tidak  sempurna.&#8221;</em> Maka ditanyakan kepada Abu Hurairah, &#8220;Kalau kami  sedang berada di belakang imam, bagaimana?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Bacalah  untuk diri kalian sendiri, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Allah ta&#8217;ala berfirman : &#8216;Aku membagi  shalat (Al Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku  akan mendapatkan apa yang dia minta.&#8217; Kalau hamba itu membaca, &#8216;Alhamdulillahi  Rabbil &#8216;alamin&#8217;, maka Allah ta&#8217;ala menjawab, &#8216;Hamba-Ku telah memuji-Ku&#8217;. Kalau  dia membaca, &#8216;Ar Rahmanirrahim&#8217; maka Allah ta&#8217;ala menjawab, &#8216;Hamba-Ku  menyanjung-Ku&#8217;. Kalau ia membaca, &#8216;Maliki yaumid din&#8217; maka Allah berfirman,  &#8216;Hamba-Ku mengagungkan Aku&#8217;. Kemudian Allah mengatakan, &#8216;Hamba-Ku telah pasrah  kepada-Ku&#8217;. Kalau ia membaca, &#8216;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; maka Allah  menjawab, &#8216;Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti  akan mendapatkan permintaannya.&#8217;. dan kalau dia membaca, &#8216;Ihdinash shirathal  mustaqim, shirathalladziina an&#8217;amta &#8216;alaihim ghairil maghdhubi &#8216;alaihim wa ladh  dhaalliin&#8221; maka Allah berfirman, &#8216;Inilah hak hamba-Ku dan dia akan  mendapatkan apa yang dimintanya.&#8217;.&#8221; </em></p>
<p>Makna dari  firman Allah di dalam hadits qudsi ini, <em>&#8220;Kalau ia membaca, &#8216;Iyyaka  na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8217; maka Allah menjawab, &#8216;Inilah bagian untuk-Ku dan  bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.&#8221;</em> ialah: kalimat yang pertama yaitu <em>&#8216;Iyyaka na&#8217;budu&#8217;</em> mencakup ibadah, dan  itu merupakan hak Allah. sedangkan kalimat yang kedua (yaitu <em>wa iyyaka  nasta&#8217;in</em>, pen) mengandung permintaan hamba untuk memperoleh pertolongan  dari Allah dan menunjukkan bahwa Allah berkenan memberikan kemuliaan baginya  dengan mengabulkan permintaannya.</p>
<p>Guru kami  Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengambil kesimpulan hukum dari surat Al Fatihah  ini untuk menetapkan keabsahan kekhilafahan Abu Bakar Ash Shiddiq <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em>. Beliau mengatakan di dalam kitabnya <em>Adhwa&#8217;ul Bayan</em> (1/51), &#8220;Dari  ayat yang mulia ini diambil kesimpulan mengenai keabsahan kepemimpinan Abu  Bakar Ash Shiddiq <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Hal itu dikarenakan beliau  termasuk golongan orang yang disebut di dalam <em>As Sab&#8217;ul Matsani</em> dan Al-Qur&#8217;an  Al &#8216;Azhim -yaitu dalam surat Al Fatihah- yang Allah perintahkan kita untuk  meminta petunjuk kepada-Nya agar bisa meniti jalan mereka. Maka hal itu  menunjukkan bahwa jalan mereka adalah jalan yang lurus. Hal itu sebagaimana  disinggung dalam ayat-Nya, <em>&#8220;Ihdinash shirathal mustaqim.  Shirathalladzina an&#8217;amta &#8216;alaihim.&#8221;</em> Allah telah menerangkan siapa saja  golongan orang yang diberikan kenikmatan itu, dan di antara mereka adalah  orang-orang shiddiq. Sementara beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga  telah menjelaskan bahwa Abu Bakar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> termasuk kategori  orang-orang shiddiq. Dengan demikian jelaslah bahwa beliau pun termasuk dalam  golongan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah itu, itulah isi perintah  Allah kepada kita yaitu memohon petunjuk agar bisa berjalan di atas jalan  mereka, sehingga tidak lagi tersisa sedikit pun kesamaran bahwa Abu Bakar <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em> benar-benar berada di atas jalan yang lurus, dan hal itu juga  menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau adalah sah.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Penulis:  Syaikh Abdul Mushin Al &#8216;Abbad dari kitab <em>&#8216;Min Kunuz al-Qur&#8217;an&#8217;</em> hal. 1-6<br />
Penerjemah:  Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Muraja&#8217;ah Terjemahan:  Ustadz Aris Munandar</p>
<div class="shr-publisher-167"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fsurat-al-fatihah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/surat-al-fatihah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An Naas</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-an-naas.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-an-naas.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 07:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلََهِ النَّاسِ مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ &#8220;Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Rob/yang memelihara) manusia, Raja manusia, Sembahan (Ilaah) manusia. Dari kejahatan<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-an-naas.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلََهِ النَّاسِ مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Rob/yang memelihara) manusia, Raja manusia, Sembahan (Ilaah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia, dari golongan jin dan manusia.&#8221;</em></p>
<p>Surat ini beserta surat Al Falaq merupakan sebab sembuhnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari sihir seorang penyihir Yahudi bernama Labid bin A&#8217;shom. Dalam sihir tersebut Rasulullah dikhayalkan seakan-akan melakukan suatu hal yang beliau tidak melakukannya.</p>
<p><span id="more-90"></span>Kisah tersebut disebutkan dalam hadits yang shohih, sehingga kita harus mempercayainya. Jika syaitan membisiki Anda dengan mengatakan bahwa seandainya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bisa terkena sihir berarti ada kemungkinan bahwa bisa saja syaitan mewahyukan kepada Rasulullah sebagian dari Al Quran? Maka bantahlah bahwa Allah Maha Kuasa terhadap seluruh makhluknya, jika Allah telah berjanji memelihara kemurnian Al Quran (QS. Al-Hijr: 9) maka tidak ada yang dapat mengubahnya.</p>
<p>Jika setan tersebut kembali membisikkan agar kita menolak hadits tersebut dan menanamkan keraguan di hati kita tentang validitas hadits shohih sebagai sumber hukum islam dengan alasan bahwa kisah itu tidak masuk akal karena Allah subhanahu wa ta&#8217;ala selalu melindungi rasul-Nya. Maka katakanlah bahwa Allah subhanahu wa ta&#8217;ala tidak mungkin memelihara lafal Al Quran tanpa memelihara penjelasannya berupa perkataan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang diriwayatkan dalam hadits. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan dilahirkannya di tengah umat ini para imam ahli hadits yang hafalannya sangat mengagumkan. Di antaranya adalah imam Ahmad yang menghafal hingga 1 juta hadits beserta sanadnya.</p>
<p>Allah subhanahu wa ta&#8217;ala menakdirkan terjadinya hal tersebut sebagai ujian bagi manusia, apakah mereka beriman ataukah kafir. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta&#8217;ala meng-isra dan mi&#8217;raj-kan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam satu malam, ada sebagian kaum muslimin ketika itu yang murtad. Sedangkan pengaruh perlindungan setelah membaca kedua surat tersebut akan lebih kuat jika disertai dengan pemahaman dan perenungan akan maknanya.</p>
<p><strong>Memohon Perlindungan Melalui Perantara Nama-Nya</strong></p>
<p>Dalam surat ini terkandung permohonan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dengan bertawasul (menggunakan perantara) dengan tiga nam-Nya yang mencakup tiga makna keyakinan tauhid kepada Allah secara sempurna. Yaitu tauhid rububiyah, asma wa sifat dan uluhiyah. Ketiga jenis tauhid ini diwakili oleh asma-asma Allah subhanahu wa ta&#8217;ala sebagi berikut:</p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:44:31+00:00"><em>Ar-Rabb, Al-Malik</em> dan <em>Al-Ilaah</em></ins></p>
<p><em>Ar-Rabb</em> dalam kata ِرَبِّ النَّاسِ (Tuhan Manusia) bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta&#8217;ala adalah pencipta, pengatur dan pemberi rezeki seluruh umat manusia. Tentunya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala bukan hanya Rabb atau Tuhannya manusia, namun juga seluruh Alam semesta ini beserta isinya. Pengkhususan penyebutan Rabb manusia di sini adalah untuk menyesuaikan dengan pembicaraan. Menauhidkan Allah pada hal tersebutlah yang dimaksud dengan tauhid rububiyah. Seseorang yang memiliki keyakinan bahwa wali-wali tertentu dapat mengabulkan permohonan berupa harta, jodoh atau anak maka dia telah menyekutukan Allah dalam rububiyah-Nya.</p>
<p><em>Al-Malik</em> adalah salah satu dari <em>asmaul husna</em> yang bermakna pemilik kerajaan yang sempurna dan kekuasaan yang mutlak. Sedangkan penyebutan kata <em>Ilahinnaas</em> (sembahan manusia) di sini adalah untuk menegaskan Allah adalah yang seharusnya disembah oleh manusia dengan berbagai macam peribadatan.</p>
<p>Sedangkan ibadah itu ada dua jenis yaitu zhohir dan batin. Yang zhohir misalnya adalah sholat, do&#8217;a, zakat, puasa, haji, nazar, menyembelih qurban dan lain sebaginya. Sedangkan yang batin letaknya di dalam hati, seperti khusyu&#8217;, roja&#8217; (pengharapan terhadap terpenuhinya kebutuhan), khouf (takut yang disertai pengagungan), cinta dan lain sebagainya. Barang siapa yang meniatkan salah satu dari ibadah-badah tersebut kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik. Siapa yang sujud kepada kuburan Nabi dan para wali atau yang lainnya, maka dia telah berbuat kesyirikan, siapa yang tawakalnya kepada jimat maka dia telah syirik.</p>
<p><strong>Bisikan Syaitan Pada Hati Manusia</strong></p>
<p>Pada surat Al-Falaq permohonan perlindungan hanya bertawasul menggunakan nama Allah <em>Ar-Rabb</em> saja. Sedangkan pada surat An-Naas ini digunakan 3 nama sekaligus yang mewakili 3 jenis tauhid. Hal ini mengindikasikan bahwa ancaman pada surat An Naas lebih besar dari pada ancaman yang disebutkan pada surat Al-Falaq. Ancaman yang disebutkan dalam surat Al-Falaq hanya mencelakakan manusia di dunia dan bersifat lahiriah, sehingga dapat atau mudah dideteksi.</p>
<p>Sedangkan pada surat An-Naas ini ancamannya dapat mencelakakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Ancaman yang sangat halus, bukan merupakan kata-kata yang dapat didengar, sehingga sulit untuk di deteksi. Kemudian yang dijadikan sasarannya adalah hati, di mana hati manusia merupakan raja dari seluruh anggota tubuh. Tentang hal tersebut Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.&#8221;</em> (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Hati sebagai raja adalah yang memerintah seluruh anggota tubuh. Jika hatinya cenderung kepada ketaatan, maka anggota tubuhnya akan melaksanakan kebaikan tersebut. Dan begitu pula sebaliknya. Syaitan menjadikan hati sebagai target utama karena hati adalah &#8216;tiket&#8217; keselamatan seorang hamba di akhirat, di mana Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ</p>
<p><em>&#8220;(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih/selamat (saliim).&#8221;</em> (QS. Asy-Syu&#8217;ara: 88-89)</p>
<p>Orang yang selamat di akhirat adalah orang datang menjumpai Allah dengan hati yang bersih (<em>Qolbun Saliim</em>). Bersih dan selamat dari penyakit syubhat dan syahwat. Syubhat adalah bisikan-bisikan syaitan terhadap seorang hamba sehingga dia meyakini kebenaran sebagai kebatilan, yang sunah sebagai bid&#8217;ah dan sebaliknya. Sedangkan syahwat adalah bisikan syaitan untuk mengikuti segala yang diinginkan oleh jiwa, meskipun harus menentang aturan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. Jika seorang hamba selalu memperturutkan syahwatnya dan melanggar aturan Allah, maka lama-kelamaan hatinya akan menganggap kemaksiatannya itu adalah suatu hal yang biasa, sehingga menjerumuskannya kepada penghalalan suatu yang diharamkan Allah.</p>
<p>Jika hati diumpamakan sebagai sebuah benteng, maka syaitan adalah musuh yang hendak masuk dan menguasai benteng tersebut. Setiap benteng memiliki pintu-pintu yang jika tidak dijaga maka syaitan akan dapat memasukinya dengan leluasa. Pintu-pintu itu adalah sifat-sifat manusia yang banyak sekali bilangannya. Di antaranya seperti; cinta dunia, syahwat dan lain sebagainya. Jika dalam hati masih bersemayam sifat-sifat tersebut, maka syaitan akan mudah berlalu lalang dan memasukan bisikannya, sehingga mencegahnya dari mengingat Allah dan mengisi hati dengan takwa.</p>
<p><strong>Syaitan Jin dan Manusia</strong></p>
<p>Di kalangan masyarakat ada yang menganggap bahwa syaitan, jin dan iblis adalah jenis makhluk tersendiri. Maka ayat terakhir dari surat ini membantah anggapan yang salah tersebut. Sesungguhnya makhluk yang mendapatkan beban syariat ada dua; yaitu jin dan manusia. Iblis merupakan bangsa jin berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang maknanya:</p>
<p>وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الجِنِّ</p>
<p><em>&#8220;Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: &#8216;Sujudlah kamu kepada Adam&#8217;, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin&#8230;&#8221;</em> (QS. Al-Kahfi: 50)</p>
<p>Sedangkan syaitan adalah sejahat-jahat makhluk dari kalangan jin dan manusia yang mengasung sebagian kepada yang lain ke neraka.</p>
<p>وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيِّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ القَوْلِ غُرُورًا</p>
<p><em>&#8220;Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan  manusia dan  jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu&#8230;&#8221;</em> (QS. Al-An&#8217;am: 112)</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Rujukan:</strong></p>
<ol>
<li><em>Taisir Karimirrahman fii Tafiiril Kalamil Mannaan</em> (Syaikh Abdurrahaman bin Nashir As-Sa&#8217;dy).</li>
<li>Terjemahan <em>Mukhtashor Minhajul Qashidin</em> (Ibnu Qudamah).</li>
<li><em>Tafsiir &#8216;Usyril Akhiir Minal Qur&#8217;anil Kariim</em> (DR. Sulaiman Al-Asyqor).</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Penyusun: Abu Yahya Agus bin Robi&#8217; Al-Bakaasy (Alumni Ma&#8217;had Ilmi)<br />
Murojaah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-90"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Ftafsir-surat-an-naas.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-an-naas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat Al-Fatihah</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-al-fatihah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-al-fatihah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan Surat Al-Fatihah Pertama: Membaca Al-Fatihah Adalah Rukun Shalat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda yang artinya, &#8220;Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah).&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-al-fatihah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Keutamaan Surat Al-Fatihah</strong></p>
<p><strong>Pertama: Membaca Al-Fatihah Adalah Rukun Shalat</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, <em>&#8220;Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah).&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>)</p>
<p>Dalam sabda yang lain beliau mengatakan yang artinya, <em>&#8220;Barangsiapa yang shalat tidak membaca Ummul Qur&#8217;an (surat Al Fatihah) maka shalatnya pincang (khidaaj).&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p>Makna dari <em>khidaaj</em> adalah kurang, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut, <em>&#8220;Tidak lengkap&#8221;</em>. Berdasarkan hadits ini dan hadits sebelumnya para imam seperti imam Malik, Syafi&#8217;i, Ahmad bin Hanbal dan para sahabatnya, serta mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum membaca Al Fatihah di dalam shalat adalah wajib, tidak sah shalat tanpanya.</p>
<p><strong>Kedua: Al Fatihah Adalah Surat Paling Agung Dalam Al Quran</strong></p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id Rafi&#8217; Ibnul Mu&#8217;alla radhiyallahu &#8216;anhu, beliau mengatakan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadaku, <em>&#8220;Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?&#8221; Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar maka aku pun berkata; Wahai Rasulullah, Anda tadi telah bersabda, &#8220;Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?&#8221; Maka beliau bersabda, &#8220;(surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil &#8216;alamiin (surat Al Fatihah),  itulah As Sab&#8217;ul Matsaani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam shalat) serta Al Quran Al &#8216;Azhim yang dikaruniakan kepadaku.&#8221;</em> (HR. Bukhari, dinukil dari <em>Riyadhush Shalihin</em> cet. Darus Salam, hal. 270)</p>
<p><strong>Penjelasan Tentang Bacaan Ta&#8217;awwudz dan Basmalah</strong></p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna bacaan Ta&#8217;awwudz</ins></p>
<p>أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.&#8221;</em></p>
<p>Maknanya: <em>&#8220;Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan godaan syaitan agar dia tidak menimpakan bahaya kepadaku dalam urusan agama maupun duniaku.&#8221;</em> Syaitan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kalian. Oleh sebab itu maka jadikanlah diri kalian sebagai musuh baginya. Syaitan bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan umat manusia. Allah menceritakan sumpah syaitan ini di dalam Al Quran,</p>
<p>قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُ</p>
<p><em>&#8220;Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (yang diberi anugerah keikhlasan).&#8221;</em> (QS. Shaad: 82-83)</p>
<p>Dengan demikian tidak ada yang bisa selamat dari jerat-jerat syaitan kecuali orang-orang yang ikhlas.</p>
<p>Isti&#8217;adzah/ta&#8217;awwudz (meminta perlindungan) adalah ibadah. Oleh sebab itu ia tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Karena menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrahim <em>&#8216;alaihis salam</em> yang demikian takut kepada syirik sampai-sampai beliau berdoa kepada Allah,</p>
<p>ً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ</p>
<p><em>&#8220;Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.&#8221;</em> (QS. Ibrahim: 35)</p>
<p>Ini menunjukkan bahwasanya tauhid yang kokoh akan menyisakan kelezatan di dalam hati kaum yang beriman. Yang bisa merasakan kelezatannya hanyalah orang-orang yang benar-benar memahaminya. Syaitan yang berusaha menyesatkan umat manusia ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam ayat yang artinya,</p>
<p>وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً</p>
<p><em>&#8220;Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi yaitu (musuh yang berupa) syaithan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya (manusia).&#8221;</em> (QS. Al An&#8217;aam: 112) (Diringkas dari <em>Syarhu Ma&#8217;aani Suuratil Faatihah</em>, Syaikh Shalih bin Abdul &#8216;Aziz Alus Syaikh <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna bacaan Basmalah</ins></p>
<p>بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.&#8221;</em></p>
<p>Maknanya; <em>&#8220;Aku memulai bacaanku ini seraya meminta barokah dengan menyebut seluruh nama Allah.&#8221;</em> Meminta barokah kepada Allah artinya meminta tambahan dan peningkatan  amal kebaikan dan pahalanya. Barokah adalah milik Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi barokah bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki (<em>Syarhu Ma&#8217;aani Suratil Fatihah</em>, Syaikh Shalih bin Abdul &#8216;Aziz Alus Syaikh <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p>Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi dengan disertai rasa cinta, takut dan harap. Segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya. <em>Ar-Rahman</em> dan <em>Ar-Rahiim</em> adalah dua nama Allah di antara sekian banyak <em>Asma&#8217;ul Husna</em> yang dimiliki-Nya. Maknanya adalah Allah memiliki kasih sayang yang begitu luas dan agung. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Akan tetapi Allah hanya melimpahkan rahmat-Nya yang sempurna kepada hamba-hamba yang bertakwa dan mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat yang mutlak yaitu rahmat yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi. Adapun orang yang tidak bertakwa dan tidak mengikuti ajaran Nabi maka dia akan terhalangi mendapatkan rahmat yang sempurna ini (lihat <em>Taisir Lathifil Mannaan</em>, hal. 19).</p>
<p><strong>Penjelasan Kandungan Surat</strong></p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna Ayat Pertama</ins></p>
<p>الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.&#8221;</em></p>
<p>Makna <em>Alhamdu</em> adalah pujian kepada Allah karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dan juga karena perbuatan-perbuatanNya yang tidak pernah lepas dari sifat memberikan karunia atau menegakkan keadilan. Perbuatan Allah senantiasa mengandung hikmah yang sempurna. Pujian yang diberikan oleh seorang hamba akan semakin bertambah sempurna apabila diiringi dengan rasa cinta dan ketundukkan dalam dirinya kepada Allah. Karena pujian semata yang tidak disertai dengan rasa cinta dan ketundukkan bukanlah pujian yang sempurna.</p>
<p>Makna dari kata <em>Rabb</em> adalah <em>Murabbi</em> (yang mentarbiyah; pembimbing dan pemelihara). Allahlah Zat yang memelihara seluruh alam dengan berbagai macam bentuk tarbiyah. Allahlah yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat. Adapun tarbiyah yang khusus hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan pengikut-pengikut mereka. Di samping tarbiyah yang umum itu Allah juga memberikan kepada mereka tarbiyah yang khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya. Selain itu, Allah juga menolong mereka dengan menyingkirkan segala macam penghalang dan rintangan yang akan menjauhkan mereka dari kebaikan dan kebahagiaan mereka yang abadi. Allah memberikan kepada mereka berbagai kemudahan dan menjaga mereka dari hal-hal yang dibenci oleh syariat.</p>
<p>Dari sini kita mengetahui betapa besar kebutuhan alam semesta ini kepada Rabbul &#8216;alamiin karena hanya Dialah yang menguasai itu semua. Allah satu-satunya pengatur, pemberi hidayah dan Allah lah Yang Maha kaya. Oleh sebab itu semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ini meminta kepada-Nya. Mereka semua meminta kepada-Nya, baik dengan ucapan lisannya maupun dengan ekspresi dirinya. Kepada-Nya lah mereka mengadu dan meminta tolong di saat-saat genting yang mereka alami (lihat <em>Taisir Lathiifil Mannaan</em>, hal. 20).</p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna Ayat Kedua</ins></p>
<p>الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.&#8221;</em></p>
<p><em>Ar-Rahman</em> dan <em>Ar-Rahiim</em> adalah nama Allah. Sebagaimana diyakini oleh Ahlusunnah wal Jama&#8217;ah bahwa Allah memiliki nama-nama yang terindah. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p><em>&#8220;Milik Allah nama-nama yang terindah, maka berdo&#8217;alah kepada Allah dengan menyebutnya.&#8221;</em> (QS. Al A&#8217;raaf: 180)</p>
<p>Setiap nama Allah mengandung sifat. Oleh sebab itu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada Allah. Dalam mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah ini kaum muslimin terbagi menjadi 3 golongan yaitu: (1) Musyabbihah, (2) Mu&#8217;aththilah dan (3) Ahlusunnah wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk. Mereka terlalu mengedepankan sisi penetapan nama dan sifat dan mengabaikan sisi penafian keserupaan sehingga terjerumus dalam tasybih (peyerupaan). Adapun Mu&#8217;aththilah adalah orang-orang yang menolak nama atau sifat-sifat Allah. Mereka terlalu mengedepankan sisi penafian sehingga terjerumus dalam ta&#8217;thil (penolakan). Ahlusunnah berada di tengah-tengah. Mereka mengimani dalil-dalil yang menetapkan nama dan sifat sekaligus mengimani dalil-dalil yang menafikan keserupaan. Sehingga mereka selamat dari tindakan tasybih maupun ta&#8217;thil. Oleh sebab itu mereka menyucikan Allah tanpa menolak nama maupun sifat. Mereka menetapkan nama dan sifat tapi tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Inilah akidah yang dipegang oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya serta para imam dan pengikut mereka yang setia hingga hari ini. Inilah aqidah yang tersimpan dalam ayat yang mulia yang artinya,</p>
<p><em>&#8220;Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&#8221;</em> (QS. Asy Syuura: 11) (silakan baca <em>Al &#8216;Aqidah Al Wasithiyah</em> karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan juga <em>&#8216;Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</em> karya Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahumallahu ta&#8217;ala</em>).</p>
<p>Allah Maha Mendengar dan juga Maha Melihat. Akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Meskipun namanya sama akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah adalah Zat Yang Maha Sempurna sedangkan makhluk adalah sosok yang penuh dengan kekurangan. Sebagaimana sifat makhluk itu terbatas dan penuh kekurangan karena disandarkan kepada diri makhluk yang diliputi sifat kekurangan. Maka demikian pula sifat Allah itu sempurna karena disandarkan kepada sosok yang sempurna. Sehingga orang yang tidak mau mengimani kandungan hakiki nama-nama dan sifat-sifat Allah sebenarnya telah berani melecehkan dan berbuat lancang kepada Allah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebagaimana semestinya. Lalu adakah tindakan jahat yang lebih tercela daripada tindakan menolak kandungan nama dan sifat Allah ataupun menyerupakannya dengan makhluk? Di dalam ayat ini Allah menamai diri-Nya dengan <em>Ar-Rahman</em> dan <em>Ar-Rahiim</em>. Di dalamnya terkandung sifat <em>Rahmah</em> (kasih sayang). Akan tetapi kasih sayang Allah tidak serupa persis dengan kasih sayang makhluk.</p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna Ayat Ketiga</ins></p>
<p>مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Yang Menguasai pada hari pembalasan.&#8221;</em></p>
<p>Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca <em>Maalik</em> (dengan memanjangkan <em>mim</em>) atau <em>Malik</em> (dengan memendekkan <em>mim</em>). <em>Maalik</em> maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan <em>Malik</em> maknanya raja.</p>
<p><em>Yaumid diin</em> adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja (lihat <em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 39).</p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna Ayat Keempat</ins></p>
<p>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.&#8221;</em></p>
<p>Maknanya: <em>&#8220;Kami hanya menujukan ibadah dan isti&#8217;anah (permintaan tolong) kepada-Mu.&#8221;</em> Di dalam ayat ini objek kalimat yaitu <em>Iyyaaka</em> diletakkan di depan. Padahal asalnya adalah <em>na&#8217;buduka</em> yang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, &#8216;Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.</p>
<p>Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi. Kecintaan dan ridha Allah terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Allah melarang sesuatu maka itu berarti Allah tidak cinta dan tidak ridha kepadanya. Dengan demikian ibadah itu luas cakupannya. Di antara bentuk ibadah adalah do&#8217;a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka isti&#8217;anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti&#8217;anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa&#8217;di <em>rahimahulah</em> berkata, &#8220;Didahulukannya ibadah sebelum isti&#8217;anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta&#8217;ala di atas hak hamba-Nya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Beliau pun berkata, &#8220;Mewujudkan ibadah dan isti&#8217;anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti&#8217;anah setelah kata ibadah padahal isti&#8217;anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta&#8217;ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.&#8221; (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 39).</p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna Ayat Kelima</ins></p>
<p>اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Tunjukilah Kami jalan yang lurus.&#8221;</em></p>
<p>Maknanya: <em>&#8220;Tunjukilah, bimbinglah dan berikanlah taufik kepada kami untuk meniti shirathal mustaqiim yaitu jalan yang lurus.&#8221;</em> Jalan lurus itu adalah jalan yang terang dan jelas serta mengantarkan orang yang berjalan di atasnya untuk sampai kepada Allah dan berhasil menggapai surga-Nya. Hakikat jalan lurus (<em>shirathal mustaqiim</em>) adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya. Oleh karena itu ya Allah, tunjukilah kami menuju jalan tersebut dan ketika kami berjalan di atasnya. Yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus yaitu hidayah supaya bisa memeluk erat-erat agama Islam dan meninggalkan seluruh agama yang lainnya. Adapun hidayah di atas jalan lurus ialah hidayah untuk bisa memahami dan mengamalkan rincian-rincian ajaran Islam. Dengan begitu do&#8217;a ini merupakan salah satu do&#8217;a yang paling lengkap dan merangkum berbagai macam kebaikan dan manfaat bagi diri seorang hamba. Oleh sebab itulah setiap insan wajib memanjatkan do&#8217;a ini di dalam setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Tidak lain dan tidak bukan karena memang hamba begitu membutuhkan do&#8217;a ini (lihat <em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 39).</p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna Ayat Keenam</ins></p>
<p>صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka.&#8221;</em></p>
<p>Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Di dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka ini adalah para Nabi, orang-orang yang <em>shiddiq</em>/jujur dan benar, para pejuang Islam yang mati syahid dan orang-orang salih. Termasuk di dalam cakupan ungkapan <em>&#8216;orang yang diberi nikmat&#8217;</em> ialah setiap orang yang diberi anugerah keimanan kepada Allah ta&#8217;ala, mengenal-Nya dengan baik, mengetahui apa saja yang dicintai-Nya, mengerti apa saja yang dimurkai-Nya, selain itu dia juga mendapatkan taufik untuk melakukan hal-hal yang dicintai tersebut dan meninggalkan hal-hal yang membuat Allah murka. Jalan inilah yang akan mengantarkan hamba menggapai keridhaan Allah ta&#8217;ala. Inilah jalan Islam. Islam yang ditegakkan di atas landasan iman, ilmu, amal dan disertai dengan menjauhi perbuatan-perbuatan syirik dan kemaksiatan. Sehingga dengan ayat ini kita kembali tersadar bahwa Islam yang kita peluk selama ini merupakan anugerah nikmat dari Allah ta&#8217;ala. Dan untuk bisa menjalani Islam dengan baik maka kita pun sangat membutuhkan sosok teladan yang bisa dijadikan panutan (lihat <em>Aisarut Tafaasir</em>, hal. 12).</p>
<p><ins datetime="2007-01-30T14:24:26+00:00">Makna Ayat Ketujuh</ins></p>
<p>غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.&#8221;</em></p>
<p>Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang (lihat <em>Aisarut Tafaasir</em>, hal. 13 dan <em>Taisir Karimir Rahman</em> hal. 39).</p>
<p><strong>Kesimpulan Isi Surat</strong></p>
<p>Surat yang demikian ringkas ini sesungguhnya telah merangkum berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu di dalam surat-surat yang lain di dalam Al Quran. Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat <em>Rabbil &#8216;alamiin</em> terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya seperti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya. Di dalam kata <em>Allah</em> dan <em>Iyyaaka na&#8217;budu</em> terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya. Demikian juga di dalam penggalan ayat <em>Alhamdu</em> terkandung makna tauhid asma&#8217; wa sifat. Tauhid asma&#8217; wa sifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya. Allah telah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi diri-Nya sendiri. Demikian pula Rasul <em>shallallahu&#8217;alaihi wa sallam</em>. Maka kewajiban kita adalah mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan itu benar-benar dimiliki oleh Allah. Kita mengimani ayat ataupun hadits yang berbicara tentang nama dan sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak maknanya ataupun menyerupakannya dengan sifat makhluk.</p>
<p>Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat <em>Ihdinash shirathal mustaqiim</em>. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasul. Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat <em>Maaliki yaumid diin</em>. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas. Dari ayat ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil. Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Allah ta&#8217;ala sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah. Bahkan di dalam ayat <em>Ihdinash shirathal mustaqiim</em> itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid&#8217;ah dan penganut ajaran sesat. Karena pada hakikatnya semua pelaku kebid&#8217;ahan maupun penganut ajaran sesat itu pasti menyimpang dari jalan yang lurus; yaitu memahami kebenaran dan mengamalkannya. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan dalam beragama demi Allah ta&#8217;ala semata. Ibadah maupun isti&#8217;anah, semuanya harus <em>lillaahi ta&#8217;aala</em>. Kandungan ini tersimpan di dalam ayat <em>Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaaka nasta&#8217;iin</em> (disadur dari <em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 40).</p>
<p><em>Allaahu akbar</em>, sungguh menakjubkan isi surat ini. Maka tidak aneh apabila Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebutnya sebagai surat paling agung di dalam Al Quran.</p>
<p>Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Jauhkanlah kami dari jalan orang yang dimurkai dan sesat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Mengabulkan do&#8217;a. <em>Wallahu a&#8217;lam bish shawaab.</em></p>
<p>***</p>
<p>Penyusun: Abu Muslih Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-67"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Ftafsir-surat-al-fatihah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-al-fatihah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faedah Seputar Basmalah</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 02:51:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir Basmalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin berkata: &#8220;Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Tafsir Basmalah</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin berkata: &#8220;Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta&#8217;ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.&#8221; (<em>Shifatush Shalah</em>, hal. 64).</p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p><strong>Kitabullah Diawali Basmalah</strong></p>
<p>Penulisan Al-Qur&#8217;an diawali dengan basmalah. Hal itu telah ditegaskan tidak hanya oleh seorang ulama, di antara mereka adalah Al Qurthuby <em>yarhamuhullah</em> di dalam tafsirnya. Beliau menyebutkan bahwa para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> telah sepakat menjadikan basmalah tertulis sebagai ayat permulaan dalam Al-Qur&#8217;an, inilah kesepakatan mereka yang menjadi permanen -semoga Allah meridhai mereka- dan Al Hafizh Ibnu Hajar <em>yarhamuhullah</em> pun menyebutkan pernyataan serupa di dalam <em>Fathul Baari</em> (<em>Ad Dalaa&#8217;il Wal Isyaaraat &#8216;ala Kasyfi Syubuhaat</em>, hal. 9).</p>
<p><strong>Teladan Nabi</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila menulis surat memulai dengan <em>bismillaahirrahmaanirrahiim</em> (lihat <em>Shahih Bukhari</em> 4/402 <em>Kitabul Jihad</em> Bab <em>Du&#8217;a Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ilal Islam wa Nubuwah wa &#8216;an laa Yattakhidza Ba&#8217;dhuhum Ba&#8217;dhan Arbaaban min duunillaah wa Qauluhu ta&#8217;ala Maa kaana libasyarin &#8216;an yu&#8217;tiyahullaahu &#8216;ilman ila akhiril ayah</em>, <em>Fathul Bari</em> 6/109 lihatlah perincian tentang hal ini di dalam <em>Zaadul Ma&#8217;aad fii Hadyi Khairil &#8216;Ibaad</em> karya Ibnul Qayyim 3/688-696, beliau menceritakan surat menyurat Nabi kepada para raja dan lain sebagainya (<em>Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat</em> Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17). Di dalam Kitab <em>Bad&#8217;ul Wahyi</em> Imam Bukhari menyebutkan hadits: <em>&#8220;Bismillahirrahmaanirrahiim min Muhammadin &#8216;Abdillah wa Rasuulihi ila Hiraqla &#8216;Azhiimir Ruum&#8230;&#8221;</em> (<em>Shahih Bukhari</em> no. 7, <em>Shahih Muslim</em> no. 1773 dari hadits Ibnu &#8216;Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, lihat <em>Hushuulul Ma&#8217;muul</em>, hal. 9, lihat juga <em>Ad Dalaa&#8217;il Wal Isyaaraat &#8216;ala Kasyfi Syubuhaat</em>, hal. 9).</p>
<p><strong>Hadits Tentang Keutamaan Basmalah</strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata: <em>&#8220;Adapun hadits-hadits qauliyah tentang masalah basmalah, seperti hadits, &#8216;Kullu amrin dzii baalin laa yubda&#8217;u fiihi bibismillaahi fahuwa abtar.&#8217; hadits-hadits tersebut adalah hadits yang dilemahkan oleh para ulama.&#8221;</em> Hadits ini dikeluarkan oleh Al Khathib dalam <em>Al Jami&#8217;</em> (2/69,70), As Subki dalam <em>Thabaqaat Syafi&#8217;iyah Al Kubra</em>, muqaddimah hal. 12 dari hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, tetapi hadits itu adalah hadits <em>dha&#8217;ifun jiddan</em> (sangat lemah) karena ia merupakan salah satu riwayat Ahmad bin Muhammad bin Imran yang dikenal dengan panggilan Ibnul Jundi. Al Khathib berkata di dalam <em>Tarikh</em>-nya (5/77): &#8216;Orang ini dilemahkan riwayat-riwayatnya dan ada celaan pada madzhabnya.&#8217; Maksudnya: karena ia cenderung pada ajaran Syi&#8217;ah. Ibnu &#8216;Iraq berkata di dalam <em>Tanziihusy Syari&#8217;ah Al Marfuu&#8217;ah</em> (1/33): &#8216;Dia adalah pengikut Syi&#8217;ah. Ibnul Jauzi menuduhnya telah memalsukan hadits.&#8217; Hadits ini pun telah dinyatakan lemah oleh Al Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> sebagaimana dinukil dalam <em>Futuhaat Rabbaniyah</em> (3/290) silakan periksa <em>Hushuulul Ma&#8217;muul</em>, hal. 9). Adapun hadits: <em>&#8216;Kullu amrin laa yubda&#8217;u fiihi bibismillaahiirahmaanirrahiim fahuwa ajdzam&#8217;</em> adalah hadits dha&#8217;if, didha&#8217;ifkan Syaikh Al Albani dalam <em>Dha&#8217;iful Jaami&#8217;</em> 4217 (lihat catatan kaki <em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al &#8216;Azhim</em> tahqiq Hani Al Hajj, 1/24).</p>
<p><strong>Hikmah Memulai dengan Basmalah</strong></p>
<p>Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan <em>bismillahirrahmaanirraahiim</em> adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah ta&#8217;ala (lihat <em>Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat</em> Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17). Selain itu basmalah termasuk pujian dan dzikir yang paling mulia (lihat Taudhihaat Al Kasdalamyifaat, hal. 48).</p>
<p><strong>Apakah Basmalah Termasuk Al Fatihah ?</strong></p>
<p>Syaikh Al &#8216;Utsaimin  berkata: &#8220;Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada di antara mereka yang berpendapat ia adalah termasuk ayat dari Al Fatihah dan dibaca dengan keras dalam shalat jahriyah (dibaca keras oleh imam) dan mereka berpandangan tidak sah orang yang shalat tanpa membaca basmalah karena ia termasuk surat Al Fatihah. Dan ada pula di antara mereka yang berpendapat bahwa ia bukan bagian dari Al Fatihah namun sebuah ayat tersendiri di dalam Kitabullah. Pendapat inilah yang benar. Dalilnya adalah nash serta konteks isi surat tersebut.&#8221; Kemudian beliau merinci alasan beliau (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>, hal. 9 cet Darul Kutub &#8216;Ilmiyah).</p>
<p><strong>Sahkah Shalat Tanpa Membaca Basmalah ?</strong></p>
<p>Dari Anas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>: <em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar mengawali shalat dengan membaca Alhamdulillaahi Rabbil &#8216;aalamiin</em> (Muttafaqun &#8216;alaihi). Muslim menambahkan: Mereka semua tidak membaca <em>bismillaahirrahmaanirrahiim</em> di awal bacaan maupun di akhirnya. Sedangkan dalam riwayat Ahmad, Nasa&#8217;i dan Ibnu Khuzaimah Anas berkata: Mereka semua tidak mengeraskan bacaan <em>bismillaahirrahmaanirrahiim</em>. Di dalam riwayat lainnya dalam <em>Shahih Ibnu Khuzaimah</em> dengan kata-kata: Mereka semua membacanya dengan sirr (pelan)</p>
<p>Diantara faidah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:</p>
<ol>
<li>Tata cara Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para khulafa&#8217;ur rasyidin membuka bacaan shalat dengan <em>alhamdulillaahi rabbil &#8216;aalamiin.</em></li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa basmalah bukan termasuk bagian awal dari surat Al Fatihah. Oleh sebab itu tidak wajib membacanya beriringan dengan surat ini. Akan tetapi hukum membacanya hanyalah sunnah sebagai pemisah antara surat-surat, meskipun dalam hal ini memang ada perselisihan pendapat ulama.</li>
</ol>
<p>Para imam yang empat berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah:</p>
<ol>
<li>Imam Abu Hanifah, Syafi&#8217;i dan Ahmad berpendapat bacaan itu disyari&#8217;atkan di dalam shalat.</li>
<li>Imam Malik berpendapat bacaan itu tidak disyari&#8217;atkan untuk dibaca dalam shalat wajib, baik dengan pelan maupun keras.</li>
</ol>
<p>Kemudian Imam yang tiga (Abu Hanifah, Syafi&#8217;i dan Ahmad) berselisih tentang hukum membacanya:</p>
<ol>
<li>Imam Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat membacanya adalah sunnah bukan wajib karena basmalah bukan bagian dari Al Fatihah.</li>
<li>Imam Syafi&#8217;i berpendapat membacanya adalah wajib.<br />
(lihat <em>Taudhihul Ahkaam</em>, 1/413-414 cet. Dar Ibnul Haitsam)</li>
</ol>
<p><strong>Menjahrkan Basmalah dalam Shalat Jahriyah</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin ditanya: Apakah hukum menjahrkan (mengeraskan bacaan) basmalah? Beliau menjawab: &#8220;Pendapat yang lebih kuat adalah mengeraskan bacaan basmalah itu tidak semestinya dilakukan dan yang sunnah adalah melirihkannya karena ia bukan bagian dari surat Al Fatihah. Akan tetapi jika ada orang yang terkadang membacanya dengan keras maka tidak mengapa. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hendaknya memang dikeraskan kadang-kadang sebab adanya riwayat yang menceritakan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mengeraskannya (HR. Nasa&#8217;i di dalam <em>Al Iftitah</em> Bab <em>Qiro&#8217;atu bismillahirrahmaanirrahiim</em> (904), Ibnu Hibban 1788, Ibnu Khuzaimah 499, Daruquthni 1/305, Baihaqi 2/46,58) Akan tetapi hadits yang jelas terbukti keabsahannya menerangkan bahwa beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> biasa tidak mengeraskannya (berdasarkan hadits Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>: <em>Aku pernah shalat menjadi makmum di belakang Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang memperdengarkan bacaan bismillahirrahmanirrahiim</em> (HR. Muslim dalam kitab <em>Shalat</em> Bab <em>Hujjatu man Qoola la yajharu bil basmalah</em> (399)) Akan tetapi apabila seandainya ada seseorang yang menjahrkannya dalam rangka melunakkan hati suatu kaum yang berpendapat jahr saya berharap hal itu tidak mengapa.&#8221; (<em>Fatawa Arkanil Islam</em>, hal. 316-317)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassaam mengatakan: &#8220;Syaikhul Islam mengatakan: Terus menerus mengeraskan bacaan (basmalah) adalah bid&#8217;ah dan bertentangan dengan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dan hadits-hadits yang menegaskan cara keras dalam membacanya semuanya adalah palsu.&#8221; (<em>Taudhihul Ahkaam</em>, 1/414) Imam Ibnu Katsir mengatakan : <em>&#8220;&#8230;para ulama sepakat menyatakan sah orang yang mengeraskan bacaan basmalah maupun yang melirihkannya&#8230;&#8221;</em> (<em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al &#8216;Azhim</em>, 1/22).</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-52"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Ffaedah-seputar-basmalah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

