<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Syirik</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/syirik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Wajah Islam di Indonesia</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 22:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8178</guid>
		<description><![CDATA[*Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala.<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>*</strong><em>Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan</em></p>
<p>Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan umat manusia sebelum mereka berselisih dan menyempal ke dalam berbagai jalan yang menyimpang.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 213</strong>)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya, ketika menjelaskan makna ayat <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat.” </em>Ibnu Abbas berkata, <em>“Mereka semuanya dahulu berada di atas Islam.”</em> Demikian juga al-Bazzar dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, <em>“Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh kurun/abad. Mereka semuanya berada di atas syari’at yang benar, kemudian mereka pun berselisih. Setelah itu Allah pun mengutus nabi-nabi.”</em> (lihat <em>Nashihah ila Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin</em> oleh Syaikh Abdullah al-Ubailan, hal. 1)</p>
<p>Itulah wajah Islam di awal mula sejarah umat manusia di atas muka bumi ini beribu-ribu tahun yang silam. Demikian pula halnya seluruh para nabi yang Allah utus, mereka sepakat dalam asas ajaran Islam yaitu tauhid; mengesakan Allah dalam beribadah. Meskipun dalam tataran syari’at bisa jadi berlainan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya’: 25</strong>).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagi masing-masing umat Kami jadikan syari’at dan jalan.”</em> (<strong>QS. al-Ma’idah: 48</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kami segenap para nabi adalah anak-anak sebapak -dengan ibu yang berbeda-, sedangkan agama kami ini adalah sama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh nabi adalah sama yaitu tauhid, meskipun syari’atnya berlainan (lihat <em>Nashihah ila Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin</em>, hal. 2)</p>
<p>Orang-orang musyrik pun memahami bahwa maksud dari dakwah para rasul itu adalah supaya masyarakat mengesakan Allah dalam beribadah. Yaitu tidak boleh menujukan ibadah kepada selain Allah, atau mempersekutukan selain-Nya dalam hal ibadah. Allah <em>ta’ala</em> menceritakan tanggapan mereka (yang artinya), <em>“Apakah dia -Muhammad-  hendak menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja?!”</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Demikian pula reaksi kaum ‘Aad terhadap dakwah Nabi Hud<em> ‘alaihis salam</em>. Mereka berkata (yang artinya), <em>“Apakah kamu datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa-apa yang disembah -secara turun temurun- oleh nenek moyang kami?!”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 70</strong>)</p>
<p>Ayat-ayat di atas menggambarkan kepada kita dengan jelas bahwa reaksi masyarakat yang menentang dakwah para rasul adalah realita di dalam sejarah internasional. Di antara alasan yang kerapkali dibawakan adalah demi mempertahankan warisan budaya nenek moyang [!]. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’. Mereka menjawab, ‘(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).’ Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 170</strong>)</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang menggelitik pikiran kita adalah; lalu bagaimana dengan konteks Indonesia? Apakah realita semacam ini juga yang terjadi? Supaya ruang lingkup pembicaraan ini tidak melebar kemana-mana maka marilah kita fokuskan dalam masalah tauhid saja; yang kita semua mengetahui bahwa ini merupakan asas ajaran agama kita.</p>
<p>Adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan berhala telah berkembang di negeri ini semenjak dahulu kala. Tidak terhitung tempat-tempat yang dianggap keramat, dijadikan sebagai tempat sesaji, demikian pula patung-patung dan candi-candi yang menandai gaya hidup paganisme yang telah mengakar di sebagian masyarakat. Tidak sedikit sosok mistis yang diagung-agungkan dan dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan. Benda-benda ‘sakti’ dan pusaka pun dikeramatkan. Berbagai ritual persembahan pun dilakukan. Entah yang berlokasi di atas gunung, di tengah kota, di pedesaan, sampai pun di pesisir pantai. Tradisi yang erat dengan keyakinan nenek moyang, yang terwarnai oleh kesyirikan (silahkan baca sebuah buku menarik berjudul <em>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</em> tulisan H. Willyuddin A.R. Dhani, S.Pd)</p>
<p>Sayangnya, sebagian kalangan yang disebut-sebut sebagai intelektual muslim -sadar ataupun tidak- ‘menutup-nutupi’ realita pahit ini dengan kedok menjaga kebhinekaan bangsa [?!] Dengan cara-cara yang halus dan samar mereka menolak arus pemurnian yang diserukan oleh para da’i -di antaranya dipelopori oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, Tuanku Imam Bonjol, dan tokoh yang lainnya- untuk membersihkan kehidupan masyarakat dari berbagai bentuk takhayul, bid’ah dan churafat (TBC). Yang dalam bahasa kita sekarang bisa diungkapkan dengan slogan <em>‘Memurnikan Aqidah dan Menebarkan Sunnah’</em>… Seolah-olah perjuangan yang dilakukan oleh para kyai dan da’i tersebut adalah gerakan ekstrem yang <strong>agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian</strong> (lihat tuduhan ini dalam kata pengantar KH. Abdurrahman Wahid; <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 20)</p>
<p>Tidak berhenti di situ saja, mereka -kaum liberal- pun menuduh gerakan dakwah tauhid sebagai proyek Wahabisasi global. Yang kita bicarakan di sini, bukanlah gerakan tarbiyah yang diusung oleh kader-kader salah satu partai politik di negeri ini (tidak perlu kami sebutkan karena sudah sangat populer). Bukan pula gerakan politik ala kelompok dakwah yang senantiasa mendengung-dengungkan khilafah sebagai solusi atas segala problematika umat. Bukan pula sekelompok rakyat sipil yang gemar melakukan penggrebekan tempat-tempat maksiat dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Bukan itu yang kita maksudkan. Pembicaraan mengenai ketiga kelompok itu ada tempatnya tersendiri.</p>
<p>Sesungguhnya yang menjadi sasaran utama serangan propaganda ini adalah dakwah tauhid yang mereka gelari dengan sebutan <strong>Wahabi</strong>. Orang awam tentu akan merasa ngeri dengan istilah-istilah menakutkan yang dimunculkan oleh para pengusung pemikiran liberal ini. Di antara istilah yang sering dipakai adalah istilah <strong>kelompok garis keras</strong>. Gus Dur berkata, <em>“…Kami berpedoman pada paham Ahlussunnah wal Jama’ah, sementara mereka -kelompok garis keras- mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 21-22). Di bagian lain dari buku ini pun mereka mengamini penyebutan Wahabi sebagai <strong>reinkarnasi <em>Khawarij</em></strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 100)</p>
<p>Bukan itu saja tuduhan yang mereka lemparkan. Dengan begitu berapi-apinya mereka menjauhkan umat dari dakwah tauhid ini dengan dalih menyelamatkan umat dari cengkeraman <strong>Wahabisasi Global</strong> dan dalam rangka mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam yang telah ternodai. Gus Dur kembali melemparkan fitnahnya, <em>“… Arus dana Wahabi yang tidak hanya membiayai terorisme tetapi juga penyebaran ideologi dalam usaha wahabisasi global juga nyaris luput dari perhatian publik. Selama ini, arus dana Wahabi ke Indonesia tidak mendapat perhatian publik secara serius, padahal dari sinilah fenomena infiltrasi -penyusupan- paham garis keras memperoleh dukungan dan dorongan yang luar biasa kuat sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan banyak agennya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 36)</p>
<p>Di dalam catatan kaki buku tersebut pun disebutkan sebuah ‘berita’ yang terkesan sangat mengerikan dan mengancam umat Islam di berbagai belahan penjuru dunia. Dalam hal ini mereka telah berterus terang bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi itu adalah Arab Saudi. Mereka berkata, <em>“Aktivitas Saudi di Indonesia hanya merupakan bagian kecil dari kampanye senilai US $ 70.000.000.000,- selama kurun waktu antara 1979-2003 untuk menyebarkan sekte fundamentalis Wahabi di seluruh dunia. Usaha-usaha dakwah Wahabi yang terus meningkat ini merupakan “kampanye propaganda terbesar di seluruh dunia yang pernah dilakukan -anggaran propaganda Soviet pada puncak Perang Dingin menjadi sangat kecil dibandingkan belanja propaganda Wahabi ini.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Tidak aneh jika mereka terkesan menyejajarkan ‘bahaya’ Wahabi ini dengan bahaya laten Komunis! Gus Dur menyebut Wahabisasi sebagai gerakan yang merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada [?] (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39).</p>
<p>Gus Dur juga berkata, <em>“Dengan balutan jubah dan jenggot Arab yang ditampilkan, yang oleh beberapa pihak telah dipandang lebih tampak seperti preman berjubah, mereka ingin menunjukkan seolah-olah pandangan ekstrem yang mereka teriakkan dan paksakan memang benar-benar merupakan pesan Islam yang harus diperjuangkan. Padahal, mereka merusak agama Islam dan bertanggung jawab atas banyaknya kekerasan yang mereka lakukan atas nama Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Dan kita sebagai umat Islam harus menanggung malu atas perbuatan mereka.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Semakin lengkap sudah gelaran buruk yang disematkan oleh mereka kepada Wahabi agar umat benar-benar menjauhi dakwah mereka…</p>
<p>Para peneliti yang menulis buku tersebut ingin menjelaskan kepada kita apa sesungguhnya yang mereka maksud dengan istilah Wahabi. Coba kita simak propaganda mereka! Dengan fasihnya mereka berkata, <em>“Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 62). Di bagian lain buku ini, mereka semakin mempertegas bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi tidak lain adalah <strong>Salafi</strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 95). Apa yang tertanam dalam pikiran orang yang membaca definisi di atas? Ya… Wahabi itu keras dan kaku… Betapa keji tuduhan yang mereka lemparkan! Mereka juga mengatakan, <em>“Islam yang sangat apresiatif dan penuh perasaan dalam merespon permasalahan umat, di tangan Ibn ‘Abdul Wahhab berubah menjadi tak peduli, keras, dan tak berperasaan.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 63)</p>
<p>Demikianlah, kedustaan seolah-olah telah menjadi sedemikian murah-meriah bagi para pengusung pemikiran liberal ini. Dengan entengnya mereka mengatakan tentang Wahabi, <em>“Setiap Muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik ajaran Islam yang persis seperti Wahabi dianggap murtad, karenanya perang dibolehkan, atau bahkan diwajibkan, terhadap mereka…”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 67). <em>Maha suci Allah, sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar!</em></p>
<p>Sudah banyak bantahan ilmiah dan santun untuk tuduhan-tuduhan ‘emosional’ semacam ini. Padahal, dakwah salafiyah beserta para ulamanya -yang dijuluki ‘Wahabi’ dalam rangka membuat orang lari darinya- berlepas diri dari segala tuduhan keji tersebut. Salafiyah itu sendiri adalah ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Sebuah ajaran yang menebarkan rahmat bagi semesta alam. Ajaran yang memberikan bimbingan bagi umat manusia dalam segala sudut kehidupan. Ajaran yang sempurna, yang diturunkan oleh Rabb penguasa alam semesta.</p>
<p>Erat kaitannya dengan tema awal tulisan ini, yaitu menyoroti dakwah tauhid sebagai seruan yang mendapatkan penentangan dari umat para rasul, dan apakah fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Maka, perkenankanlah kami untuk menunjukkan kepada segenap pembaca sebuah penafsiran aneh bin ajaib yang dilakukan oleh para penyusun buku <em>Ilusi</em> yang telah berulang kali kita singgung dalam tulisan ini. Sebuah penafsiran yang lebih tepat disebut sebagai pemerkosaan terhadap dalil agama yang suci dan suatu kekeliruan fatal dalam memahami maksud firman Allah dan sabda Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Satu bukti ini saja sudah cukup membuktikan kepada kita seperti apa sebenarnya pemahaman mereka tentang aqidah Islam. <em>Allahul musta’aan</em>…</p>
<p>Mereka -dengan tanpa rasa malu- memberikan penjelasan sebagai berikut: “Dalam hubungannya dengan agama-agama lain, dengan indah Nabi -<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen</em>- menuturkan, <em>“Nahnu abna’u ‘allat, abuna wahid wa ummuna syatta”</em> (Kami [para rasul] adalah anak-anak para istri dari seorang laki-laki, ayah kami satu namun ibu kami banyak). Dalam keluarga umat manusia, para rasul mempunyai ayah (agama) yang sama yakni Islam (dalam arti berserah diri kepada Tuhan), namun mempunyai ibu (<em>syi’rah wa minhaj</em>) yang banyak/berbeda-beda.” Kemudian mereka menyimpulkan hadits itu dengan licik, <em>“Ini adalah pengakuan atas pluralisme, dan inilah yang ditolak oleh kelompok garis keras.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 102-103)</p>
<p>Penjelasan di atas mengandung banyak kontradiksi dan kerancuan, di antaranya:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Pertama:</strong></span></p>
<p>Mereka membawakan hadits tersebut dalam konteks hubungan Islam dengan agama-agama lain. Padahal, sebagaimana bisa kita saksikan bersama bahwa sesungguhnya hadits tersebut tidak membicarakan hubungan antara Islam dengan agama-agama lain. Karena sebagaimana disebutkan dalam hadits ini -mungkin mereka enggan untuk menampilkannya secara tegas dan lengkap- bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Agama kami -para rasul- adalah satu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Dari sini kita mengetahui bahwa hadits ini berbicara mengenai agama para nabi itu adalah Islam, walaupun syari’atnya berlainan, namun pokoknya adalah sama yaitu tauhid (silahkan baca juga <strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Jadi, hadits ini bukan berbicara tentang agama selain Islam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Kedua:</strong></span></p>
<p>Penyelewengan penafsiran di atas tidak lain muncul dari kerancuan mereka dalam memahami makna Islam. Oleh sebab itu mereka memberikan penjelasan di dalam tanda kurung tentang Islam yang menjadi agama para rasul itu, dalam pandangan mereka. Islam, dalam arti <strong>berserah diri kepada Tuhan</strong>, demikian penafsiran mereka. Inilah kebiasaan buruk para pemuja pemikiran liberal! Mereka menuduh orang lain kaku dan tekstualis dalam menafsirkan dalil. Sementara dalam kasus-kasus tertentu, mereka justru lebih tekstualis dan lebih kaku dalam memahami dalil.</p>
<p>Lihatlah, dalam memaknai Islam di sini mereka mencukupkan diri dengan makna bahasanya saja. Yaitu Islam dengan pengertian berserah diri kepada Tuhan, sebuah penafsiran yang teramat sempit dan bahkan tidak jelas. Konsekuensi dari penafsiran mereka ini adalah pemeluk agama apa pun adalah muslim, selama mereka berserah diri kepada Tuhan. Padahal, kalau kita mau sedikit saja membuka cakrawala, menelaah ayat-ayat dan hadits-hadits lain, atau kalau sempat <em>ya</em> membaca tafsir para ulama kita terdahulu, akan tampak dengan jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Islam di sini bukan sekedar berserah diri kepada Tuhan!</p>
<p>Dalam al-Qur’an, ayat semacam itu banyak kita temukan. Di antaranya sudah kami sebutkan di depan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya’: 25</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat, seorang rasul -yang mengajak-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima, dan dia di akhirat akan termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>)</p>
<p>Demikian pula di dalam hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, akan kita temukan penjelasan-penjelasan yang gamblang tentang apa hakikat dari Islam yang sekarang ini diwajibkan -bukan dipaksakan- oleh Allah <em>ta’ala</em> kepada umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaran [Islam] yang aku bawa, kecuali dia pasti termasuk penghuni Neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi kemudian menanyakan tentang makna Islam, Iman, dan Ihsan. Semuanya telah diterangkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan gamblang. Sudah selayaknya para cendekiawan itu kembali merenungi perkataan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan lebih mempercayainya daripada ucapan kaum Orientalis dan para pakar filsafat yang senantiasa dirundung oleh keragu-raguan.</p>
<p>Demikian pula di dalam tafsir para ulama tentang <em>Shirathal Mustaqim</em> (jalan yang lurus). Akan kita dapati bahwa hakikat jalan yang lurus itu -pada zaman kita sekarang ini- hanya ada pada agama Islam yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Di antara penafsiran <em>Shirathul Mustaqim</em> yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir adalah: [1] Mengikuti Allah dan Rasul, [2] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah Kitabullah (al-Qur’an), [3] Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan para sahabat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah agama Islam, [4] Mujahid menafsirkan jalan yang lurus itu dengan kebenaran, [5] Menurut Abul ‘Aliyah, maksudnya adalah jalan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kedua sahabatnya -Abu Bakar dan Umar-. Semua penafsiran ini adalah benar dan tidak bertentangan. Bahkan, di dalam hadits yang sahih telah ditegaskan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa Yahudi sebagai golongan yang dimurkai/<em>al-maghdhubi ‘alaihim</em>, sedangkan Nasrani sebagai golongan yang sesat/<em>adh-dhallin</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [1/36-39])</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Ketiga:</strong></span></p>
<p>Mereka -setelah terjatuh dalam berbagai kerancuan- akhirnya menarik sebuah kesimpulan yang merupakan komplikasi akibat kerancuan-kerancuan yang mengendap sebelumnya, bahwa hadits tersebut -para nabi itu saudara seayah dan berbeda ibu- menjadi sebuah pengakuan (pembenaran) atas pluralisme yang mereka gembar-gemborkan dengan segala pengorbanan. Sungguh memalukan, sekaligus realita yang teramat pahit dan memilukan! Lalu siapakah sebenarnya orang yang rela menjual agamanya kalau demikian kenyataannya?</p>
<p>Sebagai penutup, ada sedikit pesan untuk para pemuda yang begitu bersemangat membela Islam dan bertekad untuk menerapkannya di segala lini kehidupan namun tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih dalam dakwahnya. Ketahuilah, bahwa kesan negatif yang muncul mengenai dakwah Islam itu -berupa kekerasan dan sikap-sikap yang tidak bijak- adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri muncul dari sebagian kaum muslimin yang tidak paham terhadap ajaran agamanya. Padahal, jika kita tulus dan serius mengikuti jalan tauhid ini niscaya kita akan menemukan wajah Islam yang sesungguhnya. Wajah yang mulia dan membuat bangga pemeluknya. <em>Allahul musta’aan</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/">Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.musliml.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8178"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fwajah-islam-di-indonesia.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fwajah-islam-di-indonesia.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fwajah-islam-di-indonesia.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan  Kau Tolak Bencana dengan Bencana!</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 23:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8084</guid>
		<description><![CDATA[Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat. Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana.<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang berupaya untuk menghindar dan menyelamatkan diri dari bencana. Akan tetapi, yang menjadi masalah -bahkan sumber petaka- adalah ketika sebagian orang justru menolak bencana dengan bencana, bahkan bencana yang lebih dahsyat!</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Musibah adalah Takdir Allah</strong></span></p>
<p>Saudaraku, musibah dan bencana merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita wajib mengimani takdir. Suatu ketika, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya tentang iman, maka di antara jawaban beliau adalah, <em>“Hendaknya kamu beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Iman kepada takdir adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar. Sahabat Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu’anhuma</em> berkata tentang orang-orang yang mengingkari takdir di masanya, <em>“Sampaikanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun tidak punya urusan denganku. Demi Allah, yang jiwa Ibnu Umar di tangan-Nya, seandainya mereka punya emas sebesar gunung Uhud kemudian mereka infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir.”</em> (lihat Kitab <em>al-Iman</em>, <em>Shahih Muslim</em>). Ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari takdir bukan termasuk orang beriman.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Berlindunglah Kepada Allah</strong></span></p>
<p>Seorang hamba yang ingin selamat dari berbagai macam musibah dan bencana hendaknya hanya berlindung dan berdoa kepada Allah. Karena hanya Allah yang menguasai segala urusan di langit dan di bumi. Dia lah yang menguasai segala manfaat dan madharat.</p>
<p><em>Isti’adzah</em>/meminta perlindungan merupakan salah satu bentuk doa. Sementara doa adalah ibadah; sehingga tidak boleh ia ditujukan kepada selain Allah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Doa itu adalah [intisari] ibadah.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, hasan sahih). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah saja, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 36</strong>)</p>
<p>Seorang yang berdoa dan memohon perlindungan kepada selain Allah telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya. Allah <em>ta’ala</em> berfirman mengenai sesembahan yang diseru selain-Nya (yang artinya), <em>“Sesembahan-sesembahan yang kalian seru selain-Nya sama sekali tidak menguasai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”</em> (<strong>QS. Fathir: 13</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Janganlah kamu menyeru/berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak kuasa memberikan manfaat dan madharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya maka kamu benar-benar kamu termasuk orang yang berbuat zalim.”</em> (<strong>QS. Yunus: 106</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syirik Kezaliman Terbesar</strong></span></p>
<p>Menujukan doa dan ibadah kepada selain Allah merupakan kekafiran, kemusyrikan, dan kezaliman. Kekafiran orang yang berdoa kepada selain Allah merupakan ketetapan al-Qur’an. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menyeru/berdoa kepada sesembahan lain selain [berdoa] Allah, yang sama sekali tidak ada dalil yang membenarkannya, maka sesungguhnya perhitungannya ada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>).</p>
<p>Berdoa kepada selain Allah pun termasuk kezaliman, bahkan kezaliman yang terbesar. Karena ibadah adalah hak Allah. Barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah berarti dia telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya, dan itulah kezaliman. Hak Allah adalah hak pertama dan paling agung yang harus dipenuhi, sehingga tidak menunaikan hak Allah merupakan kezaliman yang paling besar. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. Luqman: 13</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dari sini anda bisa mengetahui bahwa slogan-slogan penegakan keadilan yang kerapkali didengungkan oleh sebagian kalangan namun dengan meminggirkan agenda tauhid dan pemberantasan syirik sesungguhnya merupakan seruan yang tidak adil dan tidak proporsional. Bagaimana mereka begitu geram tatkala melihat kezaliman kepada makhluk, sementara kezaliman terhadap hak Sang Khaliq justru dianggap remeh dan biasa-biasa saja?! Sungguh mengherankan…</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Orang Musyrik Pun Berdoa Kepada Allah</strong></span></p>
<p>Jangan Anda kira bahwa orang-orang musyrik tidak pernah berdoa kepada Allah. Bahkan, mereka berdoa kepada Allah siang dan malam. Hanya saja mereka mempersekutukan Allah di dalam doanya. Mereka berdoa kepada Allah, namun mereka juga berdoa kepada selain Allah. Apalagi dalam kondisi genting dan terjepit, mereka mengikhlaskan doanya untuk Allah semata. Walaupun tatkala Allah selamatkan mereka, mereka pun kembali berbuat syirik.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> menceritakan hal itu dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Maka apabila mereka menaiki perahu -di lautan dan diterpa badai- mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/doa kepada-Nya. Namun, tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka pun kembali berbuat syirik.”</em> (<strong>QS. al-’Ankabut: 65</strong>).</p>
<p>Hal ini menunjukkan bagaimana keyakinan orang-orang musyrik di kala itu. Mereka meyakini bahwa dalam keadaan terjepit tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Allah. Oleh sebab itu mereka berdoa hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang pada masa sekarang ini yang berdoa, memohon perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah, baik ketika lapang maupun sempit. Aduhai, alangkah bodohnya perbuatan mereka itu… Melebihi kebodohan orang-orang musyrik masa silam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mempersembahkan Sembelihan adalah Ibadah</strong></span></p>
<p>Tidak boleh mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah, karena hal itu merupakan kemusyrikan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya…”</em> (<strong>QS. al-An’aam: 162</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Boleh saja menyembelih untuk selain Allah kalau bukan dalam rangka ritual persembahan. Seperti halnya menyembelih kambing untuk <em>walimah</em>/resepsi, untuk hidangan tamu, untuk makan-makan/pesta dan lain sebagainya. Dalil-dalil tentang hal itu sudah sangat jelas dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Adapun sembelihan dalam rangka <em>taqarrub</em>/pendekatan diri kepada Allah sudah ditentukan bentuk-bentuknya, seperti halnya qurban pada hari raya Iedul Adha.</p>
<p>Hukum asal perkara ibadah/ritual adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, pasti akan tetolak.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga memperingatkan, <em>“Waspadalah dari perkara-perkara yang diada-adakan -dalam urusan agama-. Karena setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata: <em>hasan sahih</em>)</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa menyembelih binatang -kerbau atau apapun jenisnya- kemudian menanam kepala atau bagian tubuhnya yang lain di tempat tertentu dengan alasan/niat untuk memohon keselamatan kepada Allah jelas termasuk perbuatan yang mengada-ada dan tidak ada tuntunannya. Karena tidak ada satupun dalil yang memerintahkan perbuatan semacam itu, baik di dalam al-Qur’an maupun di dalam as-Sunnah, tidak pula diamalkan oleh para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>. Lantas, ajaran siapakah ini?!</p>
<p>Belum lagi, jika kita telusuri lebih dalam. Ternyata perbuatan semacam ini biasanya dilandasi keyakinan adanya jin atau sosok makhluk gaib tertentu -selain Allah, yang mereka sebut dengan istilah gendruwo, kuntilanak, simbah, dhemit, lelembut, dsb- yang menguasai alam ini -entah itu di laut selatan, gunung tertentu, jembatan yang akan dibangun, sungai tertentu, pohon besar, dsb- yang mereka khawatirkan akan mendatangkan bahaya dan bencana apabila tidak diberikan persembahan (sesaji) kepadanya. Takut kuwalat, takut tertimpa malapetaka, itulah alasan mereka. Kalau seperti ini, jelas syirik hukumnya. Apabila pelakunya meninggal dan belum bertaubat darinya, di akhirat dia kekal tersiksa di dalam neraka, <em>na’udzu billahi min dzalik</em>!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa’idah: 72</strong>)</p>
<p>Sebagian orang -<em>semoga Allah menunjuki mereka</em>- mungkin akan berdalih bahwa hal itu mereka lakukan semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur dan demi mengekspresikan rasa syukur. Aduhai, apakah ayat dan hadits akan kita tolak dengan tradisi leluhur? Apakah syukur itu diwujudkan dengan mempersekutukan Allah dan berbuat kekafiran kepada-Nya?</p>
<p><em>“Anda terlalu kaku, kita harus mengenal kearifan lokal dan menghargai budaya nenek moyang.”</em> Sebagian orang bisa jadi berkomentar demikian. Siapakah yang kaku sesungguhnya? Orang yang setia kepada bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah ataukah orang yang bersikukuh mempertahankan pendapatnya yang bertentangan dengan agama? Siapkah yang arif? Orang yang mengikuti hawa nafsu dan perasaannya sembari membuang ayat dan hadits, ataukah orang yang menundukkan jiwa dan raganya kepada ajaran agama Allah yang hanif ini? <em>Allahul musta’aan</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="httphttp://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/">Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8084"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 04:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[bintang]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan]]></category>
		<category><![CDATA[shio]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[zodiak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7970</guid>
		<description><![CDATA[Ramalan salah satu zodiak di tahun 2012: Kehidupan cinta Anda tidak terlalu menyenangkan tahun ini. Akan sulit sekali berkomunikasi dengan si dia, tapi Anda harus berusaha keras jika ada sesuatu yang ingin Anda luruskan. Hubungan<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Ramalan salah satu zodiak di tahun 2012:</em></p>
<p><em>Kehidupan cinta Anda tidak terlalu menyenangkan tahun ini. Akan sulit sekali berkomunikasi dengan si dia, tapi Anda harus berusaha keras jika ada sesuatu yang ingin Anda luruskan.</em></p>
<p><em>Hubungan Anda mungkin juga akan mengalami perubahan, namun ke arah yang lebih baik. Untuk yang single, pertemuan dengan pria baru akan mengubah hidup Anda.</em></p>
<p>Info-info semacam inilah yang menyebar di tengah-tengah pemuda di awal tahun baru 2012. Untuk menjalani tahun 2012, mereka membaca nasib lewat ramalan bintang atau zodiak tersebut. Mereka ingin mencari tahu bagaimana nasib cinta mereka, bagaimana rizki mereka, dan bagaimana keberuntungan mereka di tahun 2012. Padahal ajaran Islam sangat melarang keras hal ini, namun banyak yang tidak memahaminya karena tidak mau belajar akidah dan mengenal Islam lebih dalam.</p>
<p>Ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah) di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya mengenai hukum membaca ramalan bintang, zodiak dan semisalnya.</p>
<p>Jawaban beliau <em>rahimahullah</em>,</p>
<p>Yang disebut ilmu bintang, horoskop, zodiak dan rasi bintang termasuk di antara amalan jahiliyah. Ketahuilah bahwa Islam datang untuk menghapus ajaran tersebut dan menjelaskan akan kesyirikannya. Karena di dalam ajaran tersebut terdapat ketergantungan pada selain Allah, ada keyakinan bahwa bahaya dan manfaat itu datang dari selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dengan penuh kedustaan, inilah mengapa disebut syirik. Tukang ramal benar-benar telah menempuh cara untuk merampas harta orang lain dengan jalan yang batil dan mereka pun ingin merusak akidah kaum muslimin. Dalil yang menunjukkan perihal tadi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan, maka ia berarti telah mengambil salah satu caba</em><em>ng</em><em> sihir, akan bertambah dan terus bertambah.</em>”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang <em>jayyid</em> dari ‘Imron bin Hushoin, dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ</p>
<p>“<em>Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya</em>.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, maka ia termasuk dalam golongan <em>kaahin</em> (tukang ramal) atau orang yang berserikat di dalamnya. Karena ilmu ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p>“<em>Katakanlah: &#8220;Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah</em>&#8221; (QS. An Naml: 65).</p>
<p>Nasehatku bagi siapa saja yang menggantungkan diri pada berbagai ramalan bintang, hendaklah ia bertaubat dan banyak memohon ampun pada Allah (banyak beristighfar). Hendaklah yang jadi sandaran hatinya dalam segala urusan adalah Allah semata, ditambah dengan melakukan sebab-sebab yang dibolehkan secara syar’i. Hendaklah ia tinggalkan ramalan-ramalan bintang yang termasuk perkara jahiliyah, jauhilah dan berhati-hatilah dengan bertanya pada tukang ramal atau membenarkan perkataan mereka. Lakukan hal ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dalam rangka menjaga agama dan akidah.</p>
<p>(Dinukil dengan perubahan redaksi dari <strong><a href="http://islamqa.info/ar/ref/2538">Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2: 123</a></strong>)</p>
<p>Syaikh Sholih Alu Syaikh -<em>hafizhohullah</em>- mengatakan, “Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” (Lihat <em>At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid</em> oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh pada Bab “<em>Maa Jaa-a fii Tanjim</em>”, hal. 349)</p>
<p>Intinya, ada dua rincian hukum dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Apabila cuma sekedar membaca zodiak atau ramalan bintang, walaupun tidak mempercayai ramalan tersebut atau tidak membenarkannya, maka itu tetap haram. Akibat perbuatan ini, shalatnya tidak diterima selama 40 hari.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima</em>.” (HR. Muslim no. 2230). Ini akibat dari cuma sekedar membaca.</p>
<p>Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”  (<em>Syarh Muslim</em>, 14: 227)</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Apabila sampai membenarkan atau meyakini ramalan tersebut, maka dianggap telah mengkufuri Al Qur’an yang menyatakan hanya di sisi Allah pengetahuan ilmu ghoib.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad</em>.” (HR. Ahmad no. 9532, hasan)</p>
<p>Namun jika seseorang membaca ramalan tadi untuk membantah dan membongkar kedustaannya, semacam ini termasuk yang diperintahkan bahkan dapat dinilai wajib. (<em>Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid</em>, 1: 330)</p>
<p>Syaikh Sholih Alu Syaikh memberi nasehat, “Kita wajib mengingkari setiap orang yang membaca ramalan bintang semacam itu dan kita nasehati agar jangan ia sampai terjerumus dalam dosa. Hendaklah kita melarangnya untuk memasukkan majalah-majalah yang berisi ramalan bintang ke dalam rumah karena ini sama saja memasukkan tukang ramal ke dalam rumah. Perbuatan semacam ini termasuk dosa besar (al kabair) –wal ‘iyadzu billah-. …</p>
<p>Oleh karena itu, wajib bagi setiap penuntut ilmu agar mengingatkan manusia mengenai akibat negatif membaca ramalan bintang. Hendaklah ia menyampaikannya dalam setiap perkataannya, ketika selesai shalat lima waktu, dan dalam khutbah jum’at. Karena ini adalah bencana bagi umat. Namun masih sangat sedikit yang mengingkari dan memberi peringatan terhadap kekeliruan semacam ini.” (Lihat <em>At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid</em>, hal. 349)</p>
<p>Dari sini, sudah sepatutnya seorang muslim tidak menyibukkan dirinya dengan membaca ramalan-ramalan bintang melalui majalah, koran, televisi atau lewat pesan singkat via sms. Begitu pula tidak perlu seseorang menyibukkan dirinya ketika berada di dunia maya untuk mengikuti berbagai ramalan-ramalan bintang yang ada. Karena walaupun tidak sampai percaya pada ramalan tersebut, tetap seseorang bisa terkena dosa jika ia bukan bermaksud untuk membantah ramalan tadi. Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita dari kerusakan semacam ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Nasehat</strong><strong></strong></span></p>
<p>Ramalan bukan hanya datang dari tukang ramal dengan bertanya langsung, namun saat ini bisa masuk ke rumah-rumah kaum muslimin dengan begitu mudah, baik lewat media cetak, TV, atau pun internet. Kita berlindung kepada Allah semoga diri kita, anak-anak kita, kerabat-kerabat kita terbebas dari membaca dan mempercayai ramalan bintang, serta dijauhi segala bentuk perbuatan syirik. Jadikanlah satu-satunya sandaran dalam segala urusan adalah Allah <em>Ta’ala</em> semata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p>“<em>Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya</em>.” (QS. Ath Tholaq: 3). Al Qurtubi mengatakan, ”Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.” (Al Jami’ Liahkamil Qur’an, 18: 161). Jika Allah jadi satu-satunya sandaran, maka rizki, jodoh, dan segala urusan akan dimudahkan oleh Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إِنْ أُرِ‌يدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّـهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ<strong></strong></p>
<p><em>“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” </em>(QS. Hud: 88)</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 7 Shofar 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<div>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></div>
<div>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></div>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Abu Daud no. 3905, Ibnu Majah no. 3726 dan Ahmad 1: 311. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut <strong><em>hasan</em></strong>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Al Bazzar dalam musnadnya.</p>
<p>Penulis Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Siapa saja yang menerjangi perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits tersebut, berarti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlepas diri darinya. Bisa saja perkara yang dilakukan adalah kesyirikan seperti beranggapan sial. Bisa pula kekufuran seperti mempercayai tukang ramal dan melakukan sihir. Siapa saja yang ridho dan mengikuti hal-hal tadi, maka ia dihukumi seperti pelakunya karena ia menerima dan mengikuti hal yang batil.” (Fathul Majid, 316)</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7970"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Tanda Tukang Sihir dan Dukun</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/beberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/beberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 23:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[sihir]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[syirik akbar]]></category>
		<category><![CDATA[tanda sihir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7868</guid>
		<description><![CDATA[Sambutan disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang, Wa ba&#8217;du, saya telah menelaah lembaran ini yang berisi peringatan agar menjauhi para dukun dan tukang<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/beberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Sambutan disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah</em></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,</p>
<p>Wa ba&#8217;du, saya telah menelaah lembaran ini yang berisi peringatan agar menjauhi para dukun dan tukang sihir, tanda-tanda dukun, hukum orang yang menanyainya, dan yang semisalnya; dan sungguh telah benarlah orang yang mengambil gambar dan menyusunnya; maka dengan menyebarkan lembaran ini ada manfaat yang besar.  Dan Allah-lah pemberi taufik.</p>
<p>Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, semoga shalawat dan salam tercurah kepada semulia-mulia nabi dan rasul, nabi kita Muhammad, kepada keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikutnya.</p>
<p><em>Sambutan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar-Rajihi -hafizhahullah-</em></p>
<p>Amma ba&#8217;du, saya telah menelaah lembaran penyuluhan yang berjudul: (Di antara tanda-tanda tukang sihir dan dukun)  yang diterbitkan oleh markas Al Faruq dan Al Faishaliyyah, saya lihat lembaran ini amat bermanfaat bagi seorang muslim, karena di dalamnya berisi penjelasan tentang tanda-tanda tukang sihir dan dukun, sehingga kita bisa menjauhi mereka. Hal ini bertujuan untuk melindungi akidah seorang muslim, karena tukang sihir yang berhubungan dengan setan telah kafir kepada Allah &#8216;azza wa jalla. Dan wajib bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari tukang sihir, dukun, ahli nujum, dan tukang ramal, dan melindungi diri dengan wirid-wirid yang syar&#8217;i yang berasal dari kitabullah dan sunnah nabi-Nya <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa</em><em> </em><em>sallam</em>, dan mengobati dengan ruqyah yang sesuai syariat. Oleh karena itu, penyebaran lembaran ini di kalangan kaum muslimin sangat bermanfaat, dan merupakan salah satu bentuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.</p>
<p>Saya mohon kepada Allah agar semua diberi keikhlasan dalam beramal, benar dalam berucap, serta teguh dan istiqamah dalam agama. Sesungguhnya Allah-lah penolong dalam hal ini dan Maha Kuasa untuk mengabulkannya.</p>
<p>Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. مسند أحمد (رقم الحديث:9171)</p>
<p>Dari sahabat Abu Hurairah dan Al Hasan, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, ”<em>Siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan </em><em>ucapan mereka</em><em>, sungguh </em><em>ia </em><em>telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; (HR. Imam yang Empat, yaitu Abu Daud, Tirmizi, Nasa&#8217;i, dan Ibnu Majah] dan Al Hakim).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[Beberapa Tanda Tukang Sihir dan Dukun]</strong></span></p>
<ul>
<li>Bertanya kepada orang yang sakit tentang namanya dan nama ibunya.</li>
<li>Meminta hewan untuk disembelih dengan cara tertentu tanpa menyebut nama Allah, dan kadang melumurkan darahnya pada tempat yang sakit pada diri orang yang sakit; atau menyuruhnya untuk melemparkan sembelihan tersebut ke tempat yang sudah tak berpenghuni lagi, atau ke sebuah batu atau pohon-pohon tertentu.</li>
<li>Membaca jampi-jampi, rajah-rajah, dan komat-kamit dengan ucapan yang tidak dapat dipahami.</li>
<li>Meminta sesuatu yang aneh yang bertujuan agar tidak bisa dipenuhi seperti sebelas ekor tikus yang ditangkap pada saat orang tidur siang; atau tikus yang yatim atau kera buta. Jika orang yang sakit tersebut tidak dapat memenuhinya, dia meminta uang yang banyak dan mengesankan kepada orang sakit tersebut bahwa uang ini adalah nilai persembahan untuk raja jin yang diminta mendatangkan permintaan tersebut.</li>
<li>Kadang-kadang tukang sihir atau dukun itu menebak nama orang yang datang kepadanya, atau nama ibunya, atau negeri asalnya, atau permasalahan yang membuat dia datang. Hal ini termasuk bantuan setan kepadanya.</li>
<li>Meminta barang bekas atau sisa seperti baju, atau pakaian dalam, atau sisir, atau kuku-kuku, atau rambut, maupun gambar.</li>
<li>Memberikan kepada orang yang sakit selembar kain berbentuk segitiga atau segiempat yang dibungkus di dalam kulit, atau dalam potongan logam, yang berisi permintaan tolong yang bersifat syirik, angka-angka serta huruf-huruf yang besar maupun kecil kemudian diperintahkan untuk dikalungkan di leher atau di lengan atau meletakannya di bawah bantal.</li>
<li>Memberikan kepada orang yang datang kepadanya – baik orang yang sakit atau yang lainnya – air yang didalamnya terdapat lembaran-lembaran yang bertuliskan rajah-rajah dan permintaan tolong kepada setan; dan memerintahkannya untuk mandi dengan air tersebut di tempat yang sudah tak berpenghuni atau di kuburan yang sudah tak dikunjungi manusia.</li>
<li>Menyuruh untuk mengenakan pakaian yang dipenuhi oleh rajah-rajah dan simbol-simbol pada hari-hari tertentu.</li>
<li>Termasuk tanda-tanda tukang sihir adalah menghinakan dan merendahkan Al-Qur&#8217;anul Karim dengan benda-benda najis, baik berupa menuliskan ayat-ayat dengan najis atau melumurinya dengan benda-benda najis seperti darah haid, sebagai persembahan yang diberikan oleh tukang sihir agar dilayani setan-setan.</li>
<li>Memberikan kepada orang yang sakit lembaran-lembaran kertas yang di dalamnya terdapat dedaunan kering atau benda-benda untuk dibakar dan asapnya dikenakan ke badan.</li>
<li>Memerintahkan membawa kulit serigala atau gigi-giginya atau mengikat ikatan-ikatan hitam di mobilnya.</li>
<li>Memberikan sesuatu yang aneh seperti telor yang ditulisi rajah-rajah; atau gembok yang dibungkus dengan kulit atau rajah-rajahan.</li>
<li>Di antara tanda-tanda dukun adalah membaca telapak tangan atau cangkir.</li>
<li>Di antara tanda-tanda dukun adalah melemparkan kerang ke secarik kain atau kulit binatang buas, atau melemparkan dengan biji kapulaga atau biji kurma.</li>
<li>Menuliskan rajah-rajah atau simbol-simbol atau huruf-huruf yang terpisah [tidak bersambung] atau angka-angka atau segi empat maupun lingkaran-lingkaran.</li>
<li>Memberikan kepada orang yang sakit sesuatu untuk dipendam di bumi.</li>
<li>Menuliskan untuk orang sakit huruf-huruf yang terpisah-pisah pada bejana atau piring porselen atau sepotong kayu menggunakan alat tertentu dengan benda yang bisa dilarutkan atau za&#8217;faran; dan memerintahkan kepada orang yang datang kepadanya untuk melarutkannya dan meminumkannya kepada orang yang dimaksudkan.</li>
<li>Kadang dukun memberikan cincin yang diukiri rajahan.</li>
<li>Di antara tanda-tanda dukun adalah menuangkan cairan timah.</li>
<li>Di antara tanda-tanda dukun adalah menggariskan sesuatu di atas pasir.[]</li>
</ul>
<p>Disusun oleh: Kepala Urusan <em>Amr bil Ma&#8217;ruf aa Nahyi &#8216;anil Munkar </em>(divisi urusan penegakkan kebaikan dan pencegahan kemungkaran) di Kota Riyadh, Pusat Kantor Al Faruq Al Faishaliyah, Kerajaan Arab Saudi.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Alih Bahasa: Islamic Cultural Center (ICC) Dammam, Divisi Indonesia<br />
Artikel <a href="http://www.dakwahsunnah.com/">www.dakwahsunnah.com</a>, dipublish ulang oleh <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7868"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbeberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbeberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbeberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/beberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soal-214: Beranggapan Sial Itu Termasuk Syirik?</title>
		<link>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-214-beranggapan-sial-itu-termasuk-syirik.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-214-beranggapan-sial-itu-termasuk-syirik.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 23:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7812</guid>
		<description><![CDATA[Apakah tathoyyur (beranggapan sial) itu syirik kecil? dan apakah dosanya syirik kecil lebih besar dosanya dari dosa besar? Dijawab Oleh Ust Aris Munandar. SS Jawabannya Klik Player: Download]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Apakah tathoyyur (beranggapan sial) itu syirik kecil? dan apakah dosanya syirik kecil lebih besar dosanya dari dosa besar?</p>
<p>Dijawab Oleh <a href="http://ustadzaris.com">Ust Aris Munandar. SS</a></p>
<p>Jawabannya Klik Player:</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/soal212-221/soal-214.mp3">Download</a></p>
<div class="shr-publisher-7812"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-214-beranggapan-sial-itu-termasuk-syirik.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-214-beranggapan-sial-itu-termasuk-syirik.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-214-beranggapan-sial-itu-termasuk-syirik.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-214-beranggapan-sial-itu-termasuk-syirik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/soal212-221/soal-214.mp3" length="0" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Agar Telindung dari Sihir</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kiat-agar-telindung-dari-sihir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/kiat-agar-telindung-dari-sihir.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 23:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya sihir]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi]]></category>
		<category><![CDATA[sihir]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7844</guid>
		<description><![CDATA[Sihir adalah sebuah kata yang kerap akrab di telinga kita. Siapa yang tidak tahu tentang sihir, bahkan sekarang sihir telah menjadi suatu hiburan, wallahul musta’an. Padahal jika kita mau menela’ah lebih dalam apa itu sihir,<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/kiat-agar-telindung-dari-sihir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sihir adalah sebuah kata yang kerap akrab di telinga kita. Siapa yang tidak tahu tentang sihir, bahkan sekarang sihir telah menjadi suatu hiburan, <em>wallahul musta’an</em>. Padahal jika kita mau menela’ah lebih dalam apa itu sihir, pasti akan kita dapati bahaya yang sangat besar, terutama bahaya terhadap aqidah seorang muslim.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Apa Itu Sihir?</strong></span></p>
<p><strong>Sihir secara bahasa</strong> digunakan untuk segala sesuatu <strong>hal yang sebabnya samar, lembut dan tidak jelas</strong><strong>.</strong> Adapun <strong>secara istilah</strong>, dikarenakan sihir memiliki berbagai macam bentuk dan caranya berbeda-beda, maka tidak ada definisi yang lengkap mencakup makna sihir. Di dalam kitab <em>Adhwa-ul Bayan</em> (4: 444) dijelaskan, “Ketahuilah, sesungguhnya sihir itu secara istilah <strong>tidak mungkin di definisikan dengan satu definisi</strong> yang lengkap mencakup semua jenis sihir dan mencegah yang bukan termasuk bagian sihir untuk masuk ke dalam bagian dari definisi tersebut, dikarenakan jenisnya yang banyak dan berbeda-beda yang masuk ke dalam istilah sihir. Tidak akan terwujud titik kesamaan di antara jenis sihir yang bisa mencakup semua macam jenis dan mencegah hal-hal yang termasuk sihir untuk masuk ke dalam definisi sihir. Dan ‘ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan istilah tersebut, dengan perbedaan yang sangat mencolok.”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bahaya Sihir</strong></span></p>
<p>Sesuatu yang dimiliki oleh setiap muslim di dunia ini lebih mahal dibanding apa pun adalah agamanya. Orang yang berakal pasti menjaga agamanya dan tidak akan pernah ridha dengan perbuatan yang dapat merusak atau melemahkan atau mengotori aqidahnya. Melakukan sihir dan pergi untuk meminta tukang sihir untuk melakukan sihir <strong>dapat membahayakan</strong><strong> </strong><strong>aqidah</strong><strong>,</strong> bahkan meminta tukang sihir untuk melakukan sihir menjadi salah satu penyebab <strong>batalnya Islam</strong> seseorang.</p>
<p>Maka tukang sihir dan orang yang pergi ke tukang sihir untuk minta disihirkan, keduanya dihukumi sama. Dan sihir merupakan suatu keharaman dalam semua ajaran Rasul. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman yang artinya, “<em>Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana pun ia datang.</em>” (QS. Thaha: 69) Barangsiapa yang telah melakukan sihir, maka ia telah terjerumus dalam kesyirikan. Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em>bersabda yang artinya, “Dan barangsiapa yang <strong>melakukan sihir, maka ia telah Syirik</strong>.” (Diriwatkan An-Nasa-i). Disebutkan dalam <em>Fathul Majid</em> (231), “Ini adalah dalil tegas bahwa tukang sihir adalah Musyrik.”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kiat Agar Terlindung dari Sihir</strong></span></p>
<p>Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat melindungi dan menjaga kita dari pengaruh sihir<strong></strong></p>
<p><strong>1.      </strong><strong>Menjaga Shalat Shubuh</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Barangsiapa yang mendirikan shalat shubuh, maka ia berada di dalam jaminan perlindungan Allah</em>” (HR. Muslim). Barangsiapa yang menjaga shalat shubuhnya, maka ia akan mendapat perlindungan dari Allah atas gangguan setan-setan yang ingin melakukan sihir<strong></strong></p>
<p><strong>2.      </strong><strong>Membaca Surah Al-Baqarah di Dalam Rumah</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Bacalah Surah Al-Baqarah! Karena sesungguhnya mengambilnya (membacanya) adalah barakah dan meninggalkannya adalah penyesalan (kerugian), dan sihir tidak akan mampu menghadapinya</em>” (HR. Muslim)<strong></strong></p>
<p><strong>3.      </strong><strong>Menjaga Bacaan <em>Mu’awwidzatain</em> (Surah Al-Falaq dan An-Nas) pada Waktu Shubuh dan Petang</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Barangsiapa yang membacanya tiga kali pada waktu shubuh dan pada waktu petang, maka tidak ada yang bisa membahayakannya sesuatu apa pun.</em>” (HR. Abu Dawud)<strong></strong></p>
<p><strong>4.      </strong><strong>Membaca Ayat Kursi</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), <strong>bacalah Ayat Kursi</strong>, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi</em>” (HR. Al-Bukhari)<strong></strong></p>
<p><strong>5.      </strong><strong>Membaca Dua Ayat Terakhir dari Surah Al-Baqarah</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah di malam hari, maka keduanya telah mencukupinya.</em>” (Muttafaqun ‘alaih)<strong></strong></p>
<p><strong>6.      </strong><strong>Memakan Tujuh Buah Kurma <em>‘Ajwah</em></strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Barangsiapa yang memakan tujuh buah kurma ‘Ajwah di pagi hari, maka tidak ada yang bisa membahayakannya pada hari itu, baik racun dan sihir.</em>” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Sungguh begitu besar bahaya sihir bagi seorang muslim. Sihir tidak hanya membahayakan jiwa seseorang, namun dapat merusak aqidah seseorang. Sehingga bisa menjadi salah satu sebab batalnya keislaman seorang muslim. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari pengaruh buruk sihir dan para tukang sihir</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rujukan: Banyak mengambil faedah dari kitab <em>Ba’i-u Diinihi</em> karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasam</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Wiwit Hardi Priyanto<br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7844"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkiat-agar-telindung-dari-sihir.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkiat-agar-telindung-dari-sihir.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkiat-agar-telindung-dari-sihir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/kiat-agar-telindung-dari-sihir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Muharram Bulan Sial?</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/benarkah-muharram-bulan-sial.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/benarkah-muharram-bulan-sial.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 23:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[suro]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7694</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillâhi wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh… Mitos Seputar Bulan Muharram Sudah menjadi ‘keyakinan’ bagi sebagian masyarakat Indonesia –Jawa khususnya– bahwa bulan Muharram -atau bulan Suro dalam istilah Jawa- adalah bulan keramat. Pada tanggal-tanggal<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/benarkah-muharram-bulan-sial.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillâhi wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh…</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mitos Seputar Bulan Muharram</strong></span></p>
<p>Sudah menjadi ‘keyakinan’ bagi sebagian masyarakat Indonesia –Jawa khususnya– bahwa bulan Muharram -atau bulan Suro dalam istilah Jawa- adalah bulan keramat. Pada tanggal-tanggal tertentu mereka menghentikan aktivitas–aktivitas yang bersifat hajatan besar, menghindari perjalanan jauh, sebab hari itu mereka anggap sebagai hari naas atau sial.</p>
<p>Bulan itu juga mereka takuti bagi pasangan yang hendak merencanakan pernikahan. Oleh karenanya mereka sangat menghindarinya dan memilih pernikahan dilaksanakan pada bulan-bulan lain. Pasalnya, -menurut klaim mereka- pernikahan yang dilangsungkan pada bulan Muharram kerap mendatangkan sial bagi pasangan, seperti perceraian, kematian, tidak harmonis, dililit utang, dsb. Budaya ini sudah mengakar sebagai warisan nenek moyang kita. Kami tidak tahu secara pasti ini dari mana sumbernya, tetapi mungkin saja sebagai pengaruh asimilasi budaya Hindu dan Islam yang ketika berbaur memunculkan isme baru yaitu paham kejawen.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"> <strong>Mitos Bulan Suro dalam Timbangan</strong></span></p>
<p>Sejatinya, mitos tersebut di atas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Batilnya mitos itu minimal bisa dipandang dari tiga tinjauan; tinjauan syariat Islam, sejarah dan sisi rasional.</p>
<p><strong>1. Tinjauan Syariat </strong></p>
<p>Dari segi syariat, bulan Muharram adalah bulan yang mulia dan termasuk dalam golongan 4 bulan istimewa yang diharamkan Allah.<a id="_ftnref2" name="_ftnref2" href="http://tunasilmu.com/benarkah-muharram-bulan-sial.html#_ftn2"></a></p>
<p>Disunnahkan untuk memperbanyak puasa di bulan ini. Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam,</em><em> </em></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">“أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ”.</p>
<p><em> </em><em>“</em><em>Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah; Muharram. Dan shalat paling utama sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. </em>HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah.</p>
<p>Terlebih lagi berpuasa di tanggal sepuluh dari bulan ini, ditambah dengan tanggal sembilan atau sebelas. Rasulullah <em>shallallahu’laihiwasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">”وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ”.</p>
<p><em> “Aku berharap pada Allah agar puasa di hari ‘Asyura’ (tanggal sepuluh bulan Muharram) bisa menghapuskan dosa satu tahun lalu”</em>. HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Qatadah.</p>
<p>Sedangkan yang dilarang oleh syariat di bulan ini adalah melakukan peperangan kecuali apabila umat Islam diperangi. Termasuk diharamkan pula perbuatan-perbuatan menzalimi diri sendiri. “Perbuatan maksiat di bulan ini dilipatgandakan dosanya”. <a id="_ftnref3" name="_ftnref3" href="http://tunasilmu.com/benarkah-muharram-bulan-sial.html#_ftn3"></a> Apalagi jika maksiat tersebut bernuansa syirik dan khurafat, seperti keyakinan bahwa bulan ini adalah bulan sial.</p>
<p>Meyakini adanya hari atau bulan sial merupakan bentuk celaan terhadap waktu yang Allah ciptakan, dan itu beresiko mencela Allah yang menciptakannya. Nabi <em>shallallahu</em><em>’alaihiwasallam </em>bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">“لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ”.</p>
<p><em> </em><em>“Janganlah kalian mencela dahr (waktu) karena Allah itu adalah dahr</em><em>”.</em> HR Muslim (XV/6 no. 5827) dari Abu Hurairah.</p>
<p>Maksudnya bahwa Allah adalah pencipta waktu, sebagaimana terdapat dalam riwayat lain yang menjadi penafsir hadits di atas. Dan mencela ciptaan Allah beresiko mencela Penciptanya. Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">“قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِيْنِيْ ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِيَ الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ”.</p>
<p>“Allah ‘azza wa jalla berfirman, <em>“</em><em>Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela dahr (waktu), padahal</em><em> Aku adalah (pencipta) dahr. Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang</em><em>”</em>. HR. Bukhari</p>
<p>(hal. 1034 no. 5827) dan Muslim (XV/5 no. 5824) dari Abu Hurairah.</p>
<p>Hari, bulan dan tahun yang Allah ciptakan semuanya baik, tidak ada yang sial atau naas. Sesungguhnya kesialan, kecelakaan adalah bagian dari takdir Allah, yang tidak diketahui hamba-Nya kecuali setelah terjadi. Allah bisa menimpakan kesialan atau kenaasan kepada siapapun, di manapun dan kapanpun, bila Allah menghendakinya. Dan hamba harus rela menerima takdir tersebut.</p>
<p>Perlu diketahui pula bahwa mengkambinghitamkan waktu sebagai penyebab kesialan suatu usaha, sejatinya merupakan mitos masyarakat Arab jahiliyah. Mereka sering berkumpul di berbagai kesempatan untuk berbincang-bincang tentang berbagai hal dan terkadang dalam perbincangan mereka terlontar ucapan-ucapan yang mempersalahkan waktu sebagai penyebab kesialan usaha mereka, atau manakala mereka ditimpa berbagai musibah lainnya. <a id="_ftnref5" name="_ftnref5" href="http://tunasilmu.com/benarkah-muharram-bulan-sial.html#_ftn5"></a></p>
<p>Di samping itu, keyakinan adanya hari atau bulan sial merupakan bentuk <em>thiyarah </em>atau <em>tasya</em><em>’um </em>(menganggap sial sesuatu) yang dilarang oleh Nabi <em>shallallahu</em><em>’alaihiwasallam</em>, karena ia merupakan kesyirikan yang biasa dilakukan oleh kaum jahiliyah sebelum Islam. Nabi <em>shallallahu</em><em>’alaihiwasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">“الطِّيَرَةُ شِرْكٌ”.</p>
<p><em>“</em><em>Thiyarah adalah kesyirikan” (beliau</em><em> mengulanginya 3x)</em>. HR. Ahmad dan dinyatakan sahih oleh al-Hakim, Ibn Hibban dan al-Albany.</p>
<p>Kemudian perlu diketahui juga bahwa tidak ada larangan melakukan aktifitas yang mubah di bulan Muharram, apalagi yang bernuansa ibadah, semisal pernikahan.</p>
<p><strong>2. Tinjauan Sejarah </strong></p>
<p>Pada bulan ini pula –tepatnya tanggal 10– Nabi Musa <em>‘alaihissalam</em> selamat dari kejaran tentara Fir’aun. Ibnu ‘Abbas mengisahkan, <em>“Ketika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kembali ke Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’. Maka beliau bertanya kepada mereka, “Hari apa ini yang kalian sekarang sedang berpuasa?” Maka mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang agung di mana Allah ta’ala menyelamatkan Nabi Musa bersama kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu untuk menyukurinya, kemudian kami mengikutinya”. Rasulullah pun bersabda, “Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa dari pada kalian”. Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa pula”. </em>HR. Bukhari dan Muslim<em>.</em></p>
<p>Kisah ini menuturkan kejadian suka-cita, bukan duka cita, apalagi kisah kesialan. Jadi, menganggap bulan Muharram sebagai bulan naas tidak ada landasan sejarah yang membenarkannya. Karena pada bulan ini justru kita mendapatkan anugerah yang sangat tinggi, wajarlah jika kemudian kaum muslimin mensyukurinya dengan berpuasa tanggal 10 Muharram.</p>
<p><strong>3. Tinjauan Produktifitas Amal </strong></p>
<p>Secara rasional, tidak dipergunakannya sebuah hari –lebih-lebih sebulan– untuk melakukan aktivitas sebagaimana layaknya, tentu akan mengurangi produktifitas kerja atau amal. Ketika pada hari itu semestinya bisa dimanfaatkan misalnya untuk melakukan perjalanan pulang kampung, atau berangkat ke tempat kerja, pendidikan, silaturrahim atau hal-hal lain yang sangat bermanfaat, maka semuanya harus ditunda besok harinya atau harus buru-buru dilakukan sehari sebelumnya.</p>
<p>Masyarakat cenderung memahami naasnya suatu usaha hanya pada masalah-masalah duniawiyah. Takut kecelakaan, takut bangkrut, takut miskin dan takut mati. Ini menunjukkan bahwa orientasi kerja mereka hanya semata-mata hasil yang bagus, sementara mereka tidak siap untuk menerima kerugian, apalagi sampai pada tingkat kematian; karena mereka memang tidak cukup bekal amal untuk itu. Padahal semua manusia pasti mengalaminya. Dan yang jelas waktunya tidak mesti pada bulan Muharram, melainkan di semua bulan manusia bisa mendapatkan keberuntungan maupun kerugian. Tidak ada satu pun penelitian yang menghasilkan data bahwa pada bulan Muharram angka kecelakaan meningkat, ratio kematian paling tinggi, kasus perceraian paling banyak, dsb. Apakah dengan menghindari bulan ini dari melakukan aktivitas tertentu lantas dijamin bebas dari masalah? Tentu tidak jawabannya, sekali lagi semua tergantung dari usahanya dan taufiq dari Allah <em>ta’ala,</em> bukan waktu naas atau mujurnya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kita kan masyarakat Jawa?!</strong></span></p>
<p>Manakala dipaparkan keterangan di atas, barangkali akan ada sebagian kalangan yang berdalih, “Walaupun beragama Islam, namun kita kan tinggal di tanah Jawa, jadi tidak etis jika kita tidak mengikuti atau menghormati adat istiadat masyarakat Jawa!”.</p>
<p><strong>Jawabannya: </strong>Allah telah memerintahkan dalam al-Qur’an agar kita bertotalitas dalam berislam. Kata Allah,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">“يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ”.</p>
<p>Artinya: <em>“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagi kalian”. </em>QS. Al-Baqarah: 208.</p>
<p>Bukanlah merupakan sikap totalitas dalam beriman, manakala seseorang shalat, puasa dan zakat dengan cara Islam, namun berkeyakinan dengan sesuatu yang tidak selaras dengan ajaran Islam.</p>
<p>Islam bukanlah agama yang menolak mentah-mentah setiap adat istiadat, apalagi jika budaya tersebut selaras dengan ajaran Islam. Namun Islam akan memerangi budaya manakala bertabrakan dengan ajarannya, sebagai upaya agar para pengikutnya patuh dengan setiap aturan yang digariskan oleh Allah <em>jalla wa ‘ala.</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Renungan di awal tahun</strong></span></p>
<p>Sebagai renungan dalam momen tahun baru ini marilah kita introspeksi kembali segala apa yang telah kita lakukan pada tahun kemarin, terutama jika pada tahun lalu kita masih memiliki mitos sebagaimana di atas, maka mulai tahun ini marilah kita buang jauh-jauh itu semua sebagai bentuk komitmen untuk selalu melakukan perbaikan demi perbaikan setiap saat, terutama terhadap keimanan dan amal kita. Tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin. Allah <em>ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">“يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ”.</p>
<p>Artinya: <em>“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”</em> (QS. Al-Hasyr (59): 18). <em>Wallahu a’lam…</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong><em>@</em></strong><strong><em> Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, 9 Desember 2010</em></strong></p>
<div>
<div id="ftn1">
<p> * Tulisan ini kami ringkas dari makalah di situs Musholla al-Barokah yang berjudul <em>“Asyura dalam Perspektif Islam, Syi’ah dan Kejawen” </em>dengan beberapa tambahan dari beberapa sumber, antara lain: makalah berjudul <em>“Asyuro Hari Raya Anak Yatim?” </em>yang dimuat dalam situs As-Sunnah.</p>
<p>Sebagaimana dalam QS. At-Taubah: 36. Lihat tafsir ayat tersebut dalam <em>Tafsîr al-Qurthuby </em>(X/197), <em>Tafsîr Ibn Katsîr </em>(IV/144-149), <em>Jâmi’ al-Bayân </em>karya al-Îjiy (hal. 378), <em>Tafsîr al-Jalâlain </em>karya as-Suyûthy dan al-Mahally (hal. 201) dan <em>Tafsîr as-Sa’dy </em>(hal. 296).</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p><em>Tafsîr Ibn Katsîr </em>(IV/148).</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p>Lihat: <em>Syarh Shahîh Muslim </em>karya an-Nawawy (XV/5-6) dan <em>Fath al-Bâry</em> karya Ibn Hajar al-‘Asqalany (VIII/730-731).</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p>Cermati: <em>Ibid</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://tunasilmu.com/">Ustadz Abdullah Zaen, MA<br />
</a>Artikel <a href="http://tunasilmu.com/">www.tunasilmu.com</a>, dipublish ulang oleh <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7694"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbenarkah-muharram-bulan-sial.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbenarkah-muharram-bulan-sial.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbenarkah-muharram-bulan-sial.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/benarkah-muharram-bulan-sial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini Dalilnya (19): Bolehkah Ngalap Berkah pada Selain Rasulullah?</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/ini-dalilnya-19-bolehkah-ngalap-berkah-pada-selain-rasulullah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/ini-dalilnya-19-bolehkah-ngalap-berkah-pada-selain-rasulullah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 23:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[berkah]]></category>
		<category><![CDATA[mana dalilnya 1?]]></category>
		<category><![CDATA[ngalap berkah]]></category>
		<category><![CDATA[raih berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[tabarruk]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7570</guid>
		<description><![CDATA[Masalah kelima: Seputar Tabarruk Di penutup buku ini, saya tidak akan mengoreksi dalil-dalil yang disebutkan Novel tentang tabarruk para sahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena semua dalil yang disebutkannya shahih, dan saya sependapat<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/ini-dalilnya-19-bolehkah-ngalap-berkah-pada-selain-rasulullah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>Masalah kelima: Seputar Tabarruk</strong></span></p>
<p>Di penutup buku ini, saya tidak akan mengoreksi dalil-dalil yang disebutkan Novel tentang tabarruk para sahabat dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, karena semua dalil yang disebutkannya shahih, dan saya sependapat dengan siapa pun yang mengatakan bolehnya tabarruk dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> baik sewaktu hidup maupun sepeninggal beliau. Tapi ingat, <span style="text-decoration: underline;"><em>tabarruk</em> dengan Rasulullah </span><em><span style="text-decoration: underline;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></em><strong><span style="text-decoration: underline;">saja</span></strong><span style="text-decoration: underline;">, bukan dengan selain beliau.<a title="" href="#_ftn1"><span style="text-decoration: underline;">[1]</span></a></span></p>
<p>Yang menjadi masalah ialah ketika ada orang yang membolehkan tabarruk dengan selain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan cara mengqiyaskan orang lain tersebut dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sebagaimana yang dilakukan oleh Novel di akhir pembahasannya, ia mengatakan (hal 147):</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Saudaraku, dalam berbagai hadis yang kami kemukakan di atas jelas terlihat bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada para sahabat dan umatnya untuk mencari keberkahan para <em>shalihin</em>. Baik dalam diri, tempat, benda yang berhubungan dengan mereka, maupun amalan mereka. Beliau tidak pernah mengatakan bahwa para sahabat tersebut telah mengkultuskannya dan berbuat syirik. Semua ini menunjukkan bahwa tabarruk dengan diri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta peninggalan para Rasul dan kaum <em>shalihin</em> merupakan bagian dari tauhid Islam.</p>
<p>Oleh karena itu, jika ada saudara kita sesama muslim yang berupaya untuk memperoleh keberkahan majlis, keberkahan kaum <em>shalihin</em>, dan keberkahan napak tilas dan peninggalan orang-orang saleh, janganlah kita menuduh mereka telah berbuat syirik. Sebab, apa yang mereka lakukan murni ajaran Islam dan upaya yang dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, para sahabat, dan penerus mereka.</p>
<p><strong>Saya katakan, </strong>dalam kesimpulannya tersebut Novel telah membuat <strong>tiga</strong> kesalahan besar! <strong>Pertama</strong>: Rasulullah tidak pernah mengajarkan para sahabat dan umatnya untuk mencari keberkahan para <em>shalihin </em>baik dalam diri, tempat, dst. Bahkan ini merupakan kedustaan yang terang-terangan terhadap Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Tidak satu pun dari dalil yang disebutkannya membolehkan hal tersebut. Kesimpulan ini tidak lain adalah hasil akal-akalannya semata, dia menqiyaskan &#8216;orang shalih&#8217; dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Lantas dimanakah letak persamaannya? Apakah <em>&#8216;illah</em> yang menyamakan antara keduanya hingga qiyas tersebut dapat diterima? Kemudian, masalah <em>tabarruk</em> bukanlah masalah <em>ijtihadiyyah</em> yang boleh ditetapkan dengan qiyas, apalagi qiyas yang ngawur bin serampangan seperti itu. Tabarruk adalah masalah ibadah yang harus pakai dalil yang shahih dan sharih, seperti yang berulang kali kami tegaskan</p>
<p>Kalau ia mengatakan bahwa <em>&#8216;illah</em> yang dimaksud ialah karena keduanya<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> sama-sama shalih, lantas apakah keshalihan Rasulullah bisa disamakan dengan selain beliau? Qiyas semacam ini adalah <em>qiyas ma&#8217;al faariq</em>, yakni menyamakan dua hal yang berbeda, alias qiyas yang batil.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; ia mengatakan bahwa: <em>tabarruk dengan diri Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> serta peninggalan para Rasul dan kaum sholihin merupakan bagian dari tauhid Islam</em>. Dalam perkataan ini ia telah mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil. Tabarruk dengan diri Rasulullah dan peninggalan beliau memang dibolehkan. Hal ini jelas ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masih hidup, sedangkan sepeninggal beliau, maka bagaimana seseorang bisa melakukannya? Adakah dia memiliki bukti bahwa apa yang diklaim sebagai peninggalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memang benar-benar peninggalan beliau, padahal antara dia dengan Rasulullah telah terpaut lebih dari 1400 tahun?</p>
<p>Intinya, mustahil bagi orang zaman ini untuk tabarruk dengan diri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maupun peninggalan beliau kecuali satu hal, yaitu berpegang teguh dengan Sunnah beliau dan mencampakkan segala bentuk bid&#8217;ah, khurafat dan <em>syirkiyyat</em><a title="" href="#_ftn3">[3]</a>, termasuk <em>tabarruk-tabarruk</em> yang tidak benar seperti ini.</p>
<p>Adapun <em>tabarruk</em> dengan diri dan peninggalan &#8216;orang shalih&#8217;, maka sama sekali bukan bagian dari ajaran <strong>&#8216;tauhid Islam&#8217;</strong>, akan tetapi itulah <strong>&#8216;tauhid Novel Alaydrus&#8217; </strong>dan tauhid orang Sufi. Ajaran ini sengaja dipelihara agar <em>kaum Ba&#8217;alawi</em><a title="" href="#_ftn4">[4]</a> tetap dipandang keramat oleh masyarakat, diyakini membawa berkah bagi mereka, doanya mujarab, dan segudang penghormatan lainnya. Itulah salah satu bentuk kultus individu yang <strong>bertentangan</strong> dengan &#8216;tauhid Islam&#8217;. Buktinya, tidak ada seorang pun dari para sahabat yang bertabarruk dengan Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> maupun sahabat-sahabat agung lainnya. Padahal mereka adalah manusia paling shalih setelah para Nabi dan Rasul. Demikian pula para tabi&#8217;in, tidak seorang pun dari mereka yang ber-<em>tabarruk</em> dengan para sahabat. Kalaulah <em>tabarruk</em> dengan diri dan peninggalan selain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah sesuatu yang <strong>dibolehkan</strong><a title="" href="#_ftn5">[5]</a>, pastilah mereka lebih dahulu melakukannya.</p>
<p><strong>Lantas, bagaimana bentuk <em>tabarruk</em> yang benar dengan orang shalih?</strong></p>
<p>Masalah tabarruk dengan orang shalih adalah masalah umum yang tidak bisa dihukumi kecuali jika diperinci. Jika yang dimaksud tabarruk dengan orang shalih adalah <em>tabarruk</em> dengan dzat mereka, keringat mereka, air bekas minum/wudhu mereka, pakaian mereka, tempat yang mereka singgahi, dsb maka hal ini adalah perkara yang batil. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan para salaf tidak pernah memerintahkan hal tersebut, dan sebagai orang beriman, kita diwajibkan mengikuti Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam setiap perintah dan larangannya, yaitu dengan melaksanakan perintah beliau <strong>sebagaimana yang beliau lakukan dan perintahkan</strong>. Demikian pula dalam menyikapi setiap larangan, kita harus meninggalkan apa yang beliau tinggalkan dan beliau larang.</p>
<p>Kalau ada yang mengatakan: &#8220;Kami mendapat berkahnya Si Fulan&#8221; atau &#8220;Sejak Si Fulan datang kami mendapat berkah&#8221;, maka perkataan ini bisa benar bisa salah. Yang benar ialah jika maksudnya bahwa Si Fulan menunjukkan kami dan mengajari kami serta memerintahkan kami kepada yang ma&#8217;ruf dan melarang kami dari yang munkar, maka berkat mengikuti dan menaatinya kami mendapat banyak kebaikan seperti ini. Sebagaimana penduduk Madinah yang mendapat berkah saat kedatangan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yaitu ketika mereka beriman dan menaati beliau. Lalu berkat itu semua mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Demikian pula setiap mukmin yang beriman dan menaati beliau akan mendapat berkah karenanya. Ia akan mendapat banyak kebaikan di dunia dan akhirat yang hanya Allah yang tahu berapa besarnya.</p>
<p>Demikian pula jika yang dimaksud bahwa atas berkat doa dan keshalihan Si Fulan, Allah menolak kejahatan dari kita dan kita mendapat rezeki dan kemenangan, maka ini pun sesuatu yang haq. Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ</p>
<p><em>&#8220;Allah menolong umat ini tidak lain ialah karena orang-orang lemah diantara mereka, (yaitu) berkat doa, shalat dan keikhlasan mereka&#8221;.<a title="" href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></em></p>
<p>Jadi, yang dimaksud dengan berkahnya para wali Allah dan kaum <em>shalihin</em> itu ialah <strong>manfaat yang mereka berikan kepada umat</strong> lewat doa mereka untuk kebaikan kaum muslimin dan ajakan mereka agar manusia taat kepada Allah. Termasuk juga ketika Allah menurunkan rahmat-Nya atau menghindarkan siksa-Nya tersebab mereka, ini termasuk sesuatu yang haq dan memang ada. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan tabarruk dengan orang-orang shalih.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Kesalahan besar <strong>ketiga</strong> ialah saat Novel mengatakan bahwa &#8220;<em>mencari keberkahan majelis, keberkahan kaum sholihin, dan keberkahan napak tilas dan peninggalan orang-orang saleh… dst adalah murni ajaran Islam dan upaya yang dicontohkan oleh Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>, para sahabat, dan penerus mereka&#8221;. </em>Jelas sekali di sini  bahwa Novel kembali mencampuradukkan antara <em>tabarruk</em> yang haq dengan yang batil, yang menujukkan kejahilannya akan hal tersebut. Kemudian ia melengkapi kejahilannya tadi dengan kedustaan yang diatas namakan ajaran Islam, dan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. <em>Laa haula walaa quwwata illa billaah.</em> Alangkah buruknya apa yang dilakukan Novel, lebih-lebih jika mengingat bahwa dirinya termasuk ahlul bait, padahal disebutkan dalam kitab: <em>Al Masyra&#8217;ur Rawiy fie Manaqibi Aal Abi &#8216;Alawiy (1/58):</em><em> </em><em></em></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">إن القبيح من أهل البيت أقبح منه في غيرهم، ولهذا قال العباس لابنه عبد الله &#8211; رضى الله عنهما -، يا بني! إن الكذب ليس بأحدٍ أقبح من هذه الأمة أقبح منه بي وبك وبأهل بيتك</p>
<p><em>&#8220;Suatu kejelekan yang berasal dari ahlul bait adalah lebih jelek jika dibandingkan dengan yang berasal dari selain mereka. Karenanya, Abbas berkata kepada Abdullah puteranya –semoga Allah meridhai mereka berdua-: &#8220;Wahai puteraku, sesungguhnya tidak ada kedustaan yang dilakukan seseorang dari umat ini, yang lebih jelek daripada kedustaan yang berasal dariku, darimu dan dari ahli baitmu&#8221;".</em></p>
<p>Sebagai penutup, kami akan menjelaskan secara singkat alasan dilarangnya <em>tabarruk</em> dengan diri orang shalih atau bekas-bekas peninggalannya sebagai berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh para sahabat maupun para salaf terhadap orang-orang shalih diantara mereka. Adapun tabarruk para sahabat dengan diri dan peninggalan Rasulullah maka hal tersebut khusus berlaku bagi beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saja, dan tidak boleh dikiaskan kepada selain beliau.</li>
<li>Bila dibiarkan, hal ini akan membawa kepada syirik. Oleh karenanya, sebagai tindakan preventif hal ini harus dilarang.</li>
<li>Keshalihan seseorang hanya bisa diketahui lewat wahyu mengingat letaknya di hati, sedangkan seseorang hanya bisa dinilai dari lahirnya. Padahal bisa saja seseorang kelihatan sebagai orang shalih tapi hatinya tidak seperti itu. Atau keadaannya berbalik menjelang matinya. Beda dengan orang yang dikabarkan oleh Allah sebagai orang-orang shalih yang telah diridhai-Nya, seperti para sahabat umpamanya. Mereka pasti benar-benar shalih, sebab Allah tidak mungkin mengabarkan sesuatu yang berbeda dengan kenyataannya, atau berubah setelah itu.</li>
</ol>
<p>Karenanya, jika ada yang mengatakan: &#8220;Ini termasuk tabarruk dengan orang shalih&#8221;, kita katakan: &#8220;Ini hanya bersifat dugaan yang tidak dapat dipastikan. Sedangkan dugaan tidak boleh jadi landasan hukum dalam masalah seperti ini&#8221;.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Khatimah</strong></span></p>
<p>Demikianlah sedikit penjelasan yang dapat penulis sampaikan. Penulis hanya berharap agar tulisan ini dapat difahami dengan baik dan benar oleh para pembaca, tanpa meninggalkan syubhat sedikit pun dalam hati mereka. Sungguh demi Allah, seandainya bukan karena tanggung jawab besar yang Allah pikulkan kepada orang yang diberi ilmu untuk menyampaikan yang haq sepahit apa pun resikonya, niscaya buku ini takkan pernah ada… kami mencintai Saudara Novel sebagai seorang muslim dan ahlul bait, akan tetapi kebenaran lebih kami cintai dari siapa pun juga, dan dialah yang harus dibela.</p>
<p>Kami yakin bahwa pasti ada di antara tulisan ini yang tidak enak dibaca oleh sebagian kalangan, oleh karenanya kami mohon maaf. Namun, sebagaimana kata Imam Syafi&#8217;i:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">إِرْضَاءُ النَّاسِ غَايَةٌُ لاَ تُدْرَكُ</p>
<p align="center"><em>Menyenangkan semua orang adalah tujuan yang tak bisa dicapai.</em></p>
<p>Karenanya, cukuplah bagi seorang mukmin menghendaki Ridha Allah saja dan bersabar menghadapi kemarahan manusia. Bukankah orang sebaik Rasulullah saja dimusuhi sedemikian rupa? Bahkan dijuluki penyihir, gila, pendusta dan lain sebagainya? Mengapa beliau dimusuhi oleh mereka? Tak bukan ialah karena beliau membawa kebenaran.</p>
<p>Semoga Allah membukakan hati kita untuk menerima kebenaran tersebut dan mengamalkannya dengan baik. <em>Ya Allah, tunjukkanlah yang haq sebagai yang haq dan jadikan kami orang yang mengikutinya; dan tunjukkanlah yang batil sebagai yang batil dan jadikan kami orang yang menjauhinya.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong>Daftar Pustaka</strong></span></p>
<ol>
<li><em>Al Qur’anul Kariem</em>.</li>
<li><em>Shahih Al Bukhari</em>. Abu ‘Abdillah, Muhammad bin Isma’il Al Bukhari</li>
<li><em>Shahih Muslim</em>. Muslim ibnul Hajjaj Al Qusyairi An Nisaburi, tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Maktabah Dahlan, Indonesia.</li>
<li><em>Sunan Abu Dawud</em>. Abu Dawud, Sulaiman ibnul Asy’ats As Sijistani Al Azdy. Tahqiq: Masyhur bin Hasan Aal Salman &amp; Muhammad Nashiruddien Al Albany, cet.1, t.t, Maktabatul Ma’arif, Riyadh-Saudi Arabia.</li>
<li><em>Sunan At Tirmidzi</em>. Abu ‘Isa, Muhammad bin ‘Isa bin Saurah At Tirmidzi As Sulamy.</li>
<li><em>Sunan Ibnu Majah</em>. Abu ‘Abdillah, Muhammad bin Yazid ibnu Majah Al Qazweiny.</li>
<li><em>Musnad Al Imam Ahmad</em>. Abu ‘Abdillah, Ahmad ibnu Muhammad ibnu Hambal Asy Syaibany Al Baghdady, th. 1419/1998, Baitul Afkar Ad Duwaliyah, Riyadh-Saudi Arabia.</li>
<li><em>Musnad Ath Thayalisi, </em>Abu Dawud, Sulaiman bin Dawud Ath Thayalisi, tahqiq: DR. Muhammad Abdul Muhsin At Turki &amp; Markaz Buhuts wa Dirasah Al &#8216;Arabiyyah wal Islamiyyah Daar Hajar, cet. 1, th. 1419/1999, Daar Hajar, Giza-Mesir.</li>
<li><em>Sunan Ad Darimi</em>. Abu Muhammad, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ad Darimi At Tamimy.</li>
<li><em>Al Mu’jamul Kabir</em>. Abul Qasim, Sulaiman bin Ahmad Al Lakhmy, Ath Thabarany Asy Syafi’iy.</li>
<li><em>Syarh Musykilil Aatsar</em>. Abu Ja’far, Ahmad bin Muhammad bin Salamah Ath Thahawy, tahqiq: Abul Husein, Khalid Mahmud Ar Rabath, cet.1, th. 1420/1999, Daarul Balansiah, Riyadh-Saudi Arabia.</li>
<li><em>Fathul Baari syarh Shahihil Bukhari</em>. Ahmad bin ‘Ali ibnu Hajar Al Kinani Al ‘Asqalany.</li>
<li><em>Tuhfatul Ahwadzi syarh Jaami’it Tirmidzi</em>. Abdurrahman Al Mubarakfury.</li>
<li><em>‘Aunul Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud</em>. Syamsul Haq Al ‘Azhim Abady.</li>
<li><em>Mukhtasar Iqtidha’is Shiratil Mustaqiem</em>. Syaikhul Islam, Abul ‘Abbas, Ahmad bin ‘Abdil Halim bin Abdissalam ibnu Taimiyyah Al Harrani Al Hambaly. Ikhtisar: DR. Nashir bin ‘Abdil Kariem Al ‘Aql. Cet.1, th. 1419/1999, Daar Isybelia, Riyadh-Saudi Arabia.</li>
<li><em>Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam</em>. Zainuddien, Abdurrahman bin Ahmad Ibnu Rajab Al Baghdady Al Hambaly. Tahqiq: Muhammad Khalaf Yusuf, Cet. Daarut Tauzi’ wan Nasyril Islamiyyah.</li>
<li><em>At Tawassul Ahkaamuhu wa Anwaa&#8217;uhu, </em>Muhammad Nashiruddien Al Albani, cet. 3, tt, Al Maktabul Islamy, Beirut-Lebanon.</li>
<li><em>An Nihayah fi Gharibil Hadits wal Aatsar</em>. Majduddien, Abus Sa’adaat Al Mubarak bin Muhammad ibnul Atsir Al Jazary, tahqiq: Thahir Ahmad Azzawy &amp; Mahmud Muhammad Thanahy, th. 1399/1979, Al Maktabatul ‘Ilmiyyah, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Al Qomus Al Muhith</em>. Abu Thahir, Muhammad bin Ya’qub Asy Syirazi Al Fairuzabadi, cet. 9 th. 1424/2003. tahqiq: Maktab Tahqiqut Turath, Muassasah Ar Risalah, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Lisaanul ‘Arab</em>. Muhammad bin Mukram ibnu Mandhur Al Ifriqy Al Mishry, cet.1, Daar Shader, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Taajul ‘Aruus</em> <em>Min Jawahiril Qomus</em>. As Sayyid, Abul Faidh, Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazzaq Al Husainy (Al Murtadha Az Zabidy).</li>
<li><em>Tahdziebul Lughah</em>. Abu Manshur, Muhammad ibnu Ahmad ibnul Azhar Al Azhary Al Harawy Asy Syafi’iy.</li>
<li><em>At Ta’riefat</em>. As Sayyid Asy Syarief  ‘Ali bin Muhammad Al Jurjani.</li>
<li><em>Kitabul ‘Ain</em>. Al Khalil bin Ahmad Al Farahidy.</li>
<li><em>Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyyah</em>. Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafy, tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, cet. Wizarah Syu’un Al Islamiyyah, Saudi Arabia.</li>
<li><em>Al Ihkam fi Ushulil Ahkam</em>. Saifuddien, Abul Hasan Ali bin Abi Muhammad Ats Tsa’laby Al Aamidy Al Hambaly tsumma Asy Syafi’iy.</li>
<li><em>Al Mankhul fi Ta’lieqatil Ushul</em>. Abu Hamid Al Ghazali.</li>
<li><em>Ma’alimut Tanziel (Tafsir Al Baghawy)</em>. Muhyis Sunnah, Abu Muhammad Al Husein bin Manshur Al Baghawy. Cet. 4, th. 1417/1997. tahqiq: Muhammad Abdullah An Namir, Utsman Jum’ah Dhumeiriyyah &amp; Sulaiman Muslim Al Harasy. Darut Taybah lin Nasyri wat Tauzi’, Riyadh-Saudi Arabia.</li>
<li><em>Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (Tafsier At Thabary)</em>. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazin Al Aamily At Thabary. Cet.1, th. 1420/2000, tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, Muassasah Ar Risalah, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Tafsier Ibnu Katsier</em>. Abul Fida’ Ismail ibnu ‘Umar ibnu Katsier Al Qurasyi, cet. 2, th. 1420/1999, tahqiq: DR. Sami bin Muhammad Salamah, Dar Taybah lin Nasyri wat Tauzi’, Riyadh &#8211; Saudi Arabia</li>
<li><em>Silsilah Al Ahadietsus Shahihah</em>. Abu ‘Abdirrahman, Muhammad Nashiruddien Al Albany.</li>
<li><em>Silsilah Al Ahadietsud Dha’iefah</em>. Abu ‘Abdirrahman, Muhammad Nashiruddien Al Albany.</li>
<li><em>Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi</em>, Abu ‘Abdirrahman, Muhammad Nashiruddien Al Albany.</li>
<li><em>Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah, </em>Abu ‘Abdirrahman, Muhammad Nashiruddien Al Albany.</li>
<li><em>Dhilaalul Jannah Takhriej Ahaadiets As Sunnah, </em>Abu ‘Abdirrahman, Muhammad Nashiruddien Al Albany.</li>
<li><em>Shifatu Shalaatin Nabiyyi</em>, Abu ‘Abdirrahman, Muhammad Nashiruddien Al Albany.</li>
<li><em>Irwa’ul Ghalil takhrij Ahaadiets Manaaris Sabiel, </em>Abu ‘Abdirrahman, Muhammad Nashiruddien Al Albany.</li>
<li><em>Zaadul Ma’aad</em>. Al Hafizh Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad Ad Dimasyqi.</li>
<li><em>I’laamul Muwaqqi’ien</em>. Al Hafizh Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad Ad Dimasyqi.</li>
<li><em>Al Wajiez fi ‘Aqiedatu As Salafis Shalih Ahlissunnah wal Jama’ah</em>. Abdullah bin ‘Abdil Hamid Al Atsary, muraja’ah: Shaleh bin Abdil ‘Aziz Alu Syaikh, cet.1, th. 1422, Wizaratu Syu’unil Islamiyyah wad Da’wah wal Irsyad, Saudi Arabia.</li>
<li><em>Syarhus Sunnah</em>. Muhyis Sunnah, Abu Muhammad Al Husein bin Manshur Al Baghawy</li>
<li><em>Al Bida’u wan Nahyu ‘Anha</em>. Abu ‘Abdillah, Muhammad Ibnu Wadhdhah bin Bazie’ Al Marwany. Tahqiq: Muhammad Ahmad Dahman, th. 1411 Darus Shafa.</li>
<li><em>Syarh Ushulu I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah</em>. Abul Qasim, Hibatullah ibnul Hasan bin Manshur Al Laalaka-i Asy Syafi’iy.</li>
<li><em>Al I’tisham</em>. Abu Ishaq, Ibrahim bin Musa Asy Syathiby.</li>
<li><em>Lum’atul I’tiqad,</em> Ibnu Qudamah Al Maqdisy, cet.2, th 1420/2000, Wizaratu Syu’unil Islamiyyah, Saudi Arabia.</li>
<li><em>Kitaabul ‘Ubuudiyyah, </em>Syaikhul Islam, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdil Halim bin Abdissalaam ibnu Taimiyyah Al Harrani Al Hambaly.</li>
<li><em>Nailul Authar,</em> Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukany.</li>
<li><em>Asy Syifa bita’rief Huquuqil Musthafa</em>. Al Qadhi Abul Fadhel ‘Iyadh Al Yahshuby, th. 1409/1988, Daarul Fikr, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Wafayaatul A’yaan</em>. Syamsuddien, Abul ‘Abbas, Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr ibnu Khallikan, tahqiq: Ihsan ‘Abbas, Daar Shader, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikhul Islam Ibni Taimiyyah, </em>Taqiyyuddien Abdul Halim bin Abdissalaam bin Taimiyyah Al Harrani Al Hambaly, dikumpulkan oleh: Abdurrahman bin Qasim dkk, tahqiq: Anwar Al Baz &amp; Amir Al Jazzar, cet.3, th. 1426/2005, Daarul Wafa&#8217;.</li>
<li><em>Tadzkiratul Huffazh,</em> Abu Abdillah, Muhammad bin Ahmad Adz Dzahabi, tashih: Wizaratul Ma’arif Al Hukumiyyah Al Hindiyyah, Daar Ihya’ Turats Al ‘Araby.</li>
<li><em>Tahdziebul Kamaal fi Asmaa’ir Rijaal,</em> Jamaluddien Abul Hajjaj Yusuf Al Mizzy, tahqiq: DR. Basyar ‘Awwad Ma’rouf, cet.4, th. 1406/1985. Muassasah Ar Risalah, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Tahdziebut Tahdzieb,</em> Syihabuddien, Ahmad bin ‘Ali ibnu Hajar Al ‘Asqalany Asy Syafi’iy, cet.1, th. 1404/1984. Daarul Fikr.</li>
<li><em>Taqriebut Tahdzieb,</em> Syihabuddien, Ahmad bin ‘Ali ibnu Hajar Al ‘Asqalany Asy Syafi’iy, tahqiq: Musthafa Abdul Qadir ‘Atha, cet. 1, th. 1413/1993. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Kitabul Majruhien,</em> Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban Al Busty.</li>
<li><em>Al Kamil fi Dhu’afaa-ir Rijaal, </em>Al Imam Abu Ahmad, Abdullah ibnu ‘Adiy Al Jurjani, tahqiq: DR. Suhail Zakkar &amp; Yahya Mukhtar Ghazawy, Daarul Fikr, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Mudzakkirah fi Ushulil Fiqh</em>. Muhammad Al Amin Asy Syinqithy, cet.5, th 1422/2001, Maktabatul ‘Ulum wal Hikam, Madinah Al Munawwarah-Saudi Arabia.</li>
<li><em>Al Bahrul Muhith</em>. Badruddien Muhammad bin ‘Abdillah Az Zarkasyi Al Mishry Asy Syafi’iy.</li>
<li><em>Qawa’id fi Ma’rifatil Bida’</em>. DR. Muhammad bin Husein Al Jezany.</li>
<li><em>Syarh Al Bahjatil Wardiyyah</em>. Abu Yahya, Zakaria bin Muhammad bin Ahmad Al</li>
<li><em>Siyaru A’laamin Nubala’</em>. Abu Abdillah, Muhammad bin Ahmad Adz Dzahabi, th.2004, tartib: Hassan Abdul Mannan, Baitul Afkar Ad Duwaliyyah, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Al Inshaf fiema Qiela fi Maulidin Nabiyyi Minal Ghuluwwi wal Ijhaaf</em>. Abu Bakr Jabir Al Jazairy, cet.1, th.1405, Ar Riasatul ‘Aammah li Idaratil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad, Saudi Arabia.</li>
<li><em>Al Qomus Al Fiqhy Lughatan Wasthilaahan</em>. DR. Sa’dy Abu Habib, cet.2. th. 1408/1988, Daarul Fikr, Damaskus-Syiria.</li>
<li><em>Taariekh Dimasyq</em>. Abul Qasim Ibnu ‘Asakir, ‘Ali ibnul Hasan bin Hibatullah Asy Syafi’iy, tahqiq: ‘Ali Syeiry, cet.1, th. 1419/1998, Darul Fikr, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab</em>. Muhyiddien Abu Zakaria, Yahya bin Syaraf An Nawawi, t.t, Darul Fikr.</li>
<li><em>Hilyatul Auliya’</em>. Al Hafizh Abu Nu’aim, Ahmad bin Abdillah bin Ishaq Al Ashbahany.</li>
<li><em>Haadzihi Mafaahimuna,</em> Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Aalusy Syaikh.</li>
<li><em>Qaa&#8217;dah Jalielah fie At Tawassul wal Wasielah, </em>Taqiyyuddien Abdul Halim bin Abdussalaam bin Taimiyyah.</li>
<li><em>Ar Risaalah</em>. Abu ‘Abdillah, Muhammad bin Idris Asy Syafi’iy Al Muththaliby, tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, th. 1358/1939, Al Maktabatul ‘Ilmiyyah, Beirut-Libanon.</li>
<li><em>Anwaarul Buruq fi Anwa’il Furuq</em>. Syihabuddien, Abul ‘Abbas Ahmad bin Idris Al Qarafy.</li>
<li><em>Syarh Al Kaukabul Munier</em>. Al Futuhy.</li>
<li><em>Al Ibanatul Kubra</em>. Ibnu Batthah, Abu ‘Abdillah Ubeidullah bin Muhammad Al ‘Ukbury.</li>
<li><em>Syu’abul Iman</em>. Al Hafizh Abu Bakr, Ahmad ibnul Husein bin ‘Ali Al Baihaqy Asy Syafi’iy.</li>
<li><em>Tahqiequl Farqi bainal ‘Aamili bi’ilmihi wa Ghairih, </em>Abdurrahman bin ‘Ubeidillah As Saqqaf, tahqiq: ‘Alawi bin ‘Abdil Qadir As Saqqaf, cet. 1, 1426/2005.</li>
<li><em>Kamus Kontemporer</em>. Atabik Ali &amp; Ahmad Zuhdi Muhdlor, cet.2 1997, Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta-Indonesia.</li>
<li><em>Kamus Al Munawwir.</em> Ahmad Warson Munawwir, cet. 14, Januari 1997, Pustaka Progressif, Surabaya-Indonesia.</li>
<li><em>Mana Dalilnya</em>. Novel bin Muhammad Alaydrus, cet.3, Maret 2005, Taman Ilmu, Solo-Indonesia.</li>
<li><em>Mana Dalilnya 2</em>. Novel bin Muhammad Alaydrus, cet.1, April 2006, Taman Ilmu, Solo-Indonesia.</li>
<li><em>Jalan Nan Lurus, Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi,</em> Novel bin Muhammad Alaydrus, cet.1, Agustus 2006, Taman Ilmu, Solo-Indonesia.</li>
</ol>
<p><strong>Maraji’ Multimedia:</strong><strong></strong></p>
<ol>
<li>Al Makatabah Asy Syaamilah, vol. 3.8.<strong></strong></li>
<li>Mausu’ah Al Hadeeth Asy Syarief, vol. 2.1, Harf Information Technology, Mesir.<strong></strong></li>
<li>Mausu’ah Al Hadeeth Asy Syarief, vol. 8.0, Elariss for Computer, Libanon.<strong></strong></li>
<li>Al <em>Munadharatul Kubra bainas Salafiyyah wa Mukhalifieha</em>, Asy Syaikh ‘Adnan ‘Ar’ur (vcd).<strong></strong></li>
<li><em>Syarh Qawa’id fi Ma’rifatil Bida’</em>, Syaikh DR. Muhammad Husein Al Jezany (kaset tape).<strong></strong></li>
<li><em>Syarh Qawa’id fil buyu’</em>, Syaikh DR. Sulaiman bin Salimullah Ar Ruhaily.<strong></strong></li>
<li>Program Mushaf Rasmul ‘Utsmani.<strong></strong></li>
<li>Terjemahan Al Qur’an (versi Departemen Agama RI).<strong></strong></li>
</ol>
<p>Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc</p>
<p>Mahasiswa Magister &#8216;Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah</p>
<p>Artikel <a href="www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Sebab memang banyak sekali dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan jauh lebih banyak dari yang disebutkan oleh Novel sendiri.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Yakni Rasulullah dan orang shalih yang dimaksud.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Artinya hal-hal yang berbau syirik.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Yaitu mereka yang mengaku anak-cucu Ali bin Abi Thalib alias Ahlul bait. Mayoritas dari mereka yang ada di Hadramaut, Indonesia dan berbagai belahan dunia lain sayangnya telah banyak terpengaruh oleh ajaran tasawuf. Bahkan Novel mengakui bahwa kaumnya adalah penganut salah satu tarekat sufi, yaitu dalam bukunya <em>&#8216;Jalan nan Lurus, sekilas pandang tarekat Bani &#8216;Alawi&#8217;</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Apalagi jika termasuk bagian tauhid Islam seperti anggapan Novel.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> HR. Nasa&#8217;i no 3178, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Demikian yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Lihat: Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Taimiyyah 11/113-114.</p>
</div>
<div class="shr-publisher-7570"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fini-dalilnya-19-bolehkah-ngalap-berkah-pada-selain-rasulullah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fini-dalilnya-19-bolehkah-ngalap-berkah-pada-selain-rasulullah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fini-dalilnya-19-bolehkah-ngalap-berkah-pada-selain-rasulullah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/ini-dalilnya-19-bolehkah-ngalap-berkah-pada-selain-rasulullah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyekutukan Allah dengan Ulama</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/menyekutukan-allah-dengan-ulama.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/menyekutukan-allah-dengan-ulama.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 08:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[habib]]></category>
		<category><![CDATA[kyai]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7646</guid>
		<description><![CDATA[Keberadaan ulama dalam umat ini adalah sebuah keberkahan yang akan membawa kebaikan bagi umat. Ulama adalah pewaris para nabi. Merekalah yang meneruskan estafet dakwah para nabi dalam rangka meninggikan kalimat tauhid di muka bumi. Akan<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/menyekutukan-allah-dengan-ulama.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Keberadaan ulama dalam umat ini adalah sebuah keberkahan yang akan membawa kebaikan bagi umat. Ulama adalah pewaris para nabi. Merekalah yang meneruskan estafet dakwah para nabi dalam rangka meninggikan kalimat tauhid di muka bumi. Akan tetapi, dengan berbagai keutamaan yang terdapat dalam diri seorang ulama, mereka tetaplah berbeda dengan nabi. Jika nabi itu ma’shum, maka ulama tidaklah ma’shum. Seorang ulama bisa saja tergelincir dalam suatu permasalahan. Maka yang wajib bagi kita adalah mengikuti apa yang sesuai dengan Al Qur’an dan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, meskipun kita harus menyelisihi ulama yang tergelincir tersebut, meskipun mengaku keturunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>betapa pun kita mencintai dan menyanjungnya.</p>
<p><strong>Menjadikan Ulama Sebagai Tandingan Allah</strong></p>
<p>Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah, di antara konsekuensi kalimat syahadat yang selalu kita dengung-dengungkan adalah tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, menghalalkan apa yang Allah halalkan dan mengharamkan apa yang Allah haramkan. Maka sebuah kewajiban bagi semua kaum muslimin untuk selalu mendahulukan firman Allah <em>Ta’ala </em>dan sabda Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari seluruh ucapan manusia di dunia ini setinggi apapun kedudukannya dan semulia apapun nasabnya. Tidak boleh kita taklid buta kepada seseorang sampai-sampai ketika beliau tergelincir dalam suatu permasalahan, maka kita tetap mengikuti ketergelinciran beliau dan melupakan firman Allah <em>Ta’ala </em>dan sabda Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman tentang kaum nasrani dan yahudi,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah</em>” (QS. At Taubah : 31)</p>
<p>Ayat ini ditafsirkan dengan hadits Adi bin Hatim Ath Thoo-i <em>radhiyallahu ‘anhu </em>dimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>membacakan ayat tersebut kepada beliau. Kemudian beliau berkata : “Wahai Rasulullah, kami tidaklah beribadah kepada mereka”. Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه، ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه؟</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Bukankah mereka menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya</em>?”. Beliau (Adi bin Hatim) berkata : “Benar”. Maka Rasulullah <em style="text-align: -webkit-auto;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </em><span class="Apple-style-span" style="text-align: -webkit-auto;">bersabda,</span></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فتلك عبادتهم</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka</em>”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah </em>mengatakan : “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam hadits tersebut menafsirkan bahwa maksud “<em>menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah</em>” bukanlah maknanya ruku’ dan sujud kepada mereka. Akan tetapi maknanya adalah mentaati mereka dalam mengubah hukum Allah dan mengganti syari’at Allah dengan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Perbuatan tersebut dianggap sebagai bentuk beribadah kepada mereka selain kepada Allah dimana mereka menjadikan para ulama dan ahli ibadah tersebut sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dalam masalah menetapkan syari’at.</p>
<p>Barangsiapa yang mentaati mereka dalam hal tersebut, maka sungguh dia telah menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dalam menetapkan syari’at serta menghalalkan dan mengharamkan sesuatu. Ini adalah syirik besar”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh <em>rahimahullah </em>mengatakan : “Hadits tersebut adalah dalil bahwa mentaati ulama dan ahli ibadah dalam bermaksiat kepada Allah adalah bentuk ibadah kepada mereka selain kepada Allah, dan termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Kemudian Allah <em>Ta’ala </em>berfirman dalam kelanjutan ayat di atas,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa</em>” (QS. At Taubah : 31)</p>
<p>Al Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>menafsirkan ayat di atas : “Yakni Rabb yang jika mengharamkan sesuatu, maka hukumnya haram. Dan apa yang Dia halalkan, maka hukumnya halal. Dan apa yang Dia syari’atkan, maka harus diikuti. Dan apa yang Dia tetapkan, maka harus dilaksanakan”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa penetapan syari’at, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, adalah hak mutlak milik Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Lalu Allah <em>Ta’ala </em>menutup ayat di atas dengan firman-Nya,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan</em>” (QS. At Taubah : 31)</p>
<p>Akhir ayat tersebut menunjukkan mengikuti seseorang ataupun ulama yang mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan adalah sebuah kesyirikan. Kenapa? Karena mengikuti ulama yang mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan sama saja mengatakan bahwa ulama tersebut berhak untuk mengharamkan dan menghalalkan sesuatu padahal hak menghalalkan dan mengharamkan sesuatu adalah hak mutlak Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Hakikatnya sama saja ia membuat tandingan/sekutu bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dalam menetapkan syari’at. Inilah yang disebut dengan <em>asy syirku fit tha’ah</em>, syirik dalam hal ketaatan.</p>
<p><strong>Apakah pelakunya otomatis kafir?</strong></p>
<p>Orang yang mengikuti ketergelinciran ulama dalam mengharamkan apa yang Allah <em>Ta’ala </em>halalkan dan sebaliknya tidak boleh langsung dicap kafir. Akan tetapi dalam masalah ini ada perincian sehingga hukumnya berbeda-beda tergantung individunya. Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah </em>memberikan perincian dalam masalah ini :</p>
<ol>
<li>Jika dia meyakini bahwa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal adalah sebuah perkara yang diperbolehkan, maka ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya keluar dari Islam</li>
<li>Jika dia tidak meyakini bolehnya perbuatan tersebut, tetapi meyakini bahwa menghalalkan dan mengharamkan adalah hak milik Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala, </em>tetapi dia melakukannya karena dorongan hawa nafsunya, atau karena ingin mewujudkan beberapa maslahat, maka ini adalah dosa besar tetapi tidak sampai derajat syirik akbar<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ol>
<p><strong>Bahaya meninggalkan hadits Rasulullah demi mengikuti pendapat seseorang</strong></p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>berkata : “Hampir saja batu jatuh dari langit menimpa kalian. Aku mengatakan : ‘Rasulullah <em style="text-align: -webkit-center;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </em><span class="Apple-style-span" style="text-align: -webkit-center;">bersabda’. Tetapi kalian mengatakan : ‘Abu Bakar dan Umar berkata?’ “</span><a style="text-align: -webkit-center;" title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Imam Ahmad <em>rahimahullah </em>mengatakan : “Aku heran terhadap orang yang mengetahui sanad suatu hadits dan keshahihannya, tetapi mereka berpaling kepada pendapat Sufyan (Ats Tsauri). Allah <em style="text-align: -webkit-center;">Ta’ala </em><span class="Apple-style-span" style="text-align: -webkit-center;">berfirman,</span></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih</em>” (QS. An Nuur : 63)</p>
<p style="text-align: left;" align="center">Apakah engkau tahu apa yang dimaksud ‘fitnah’? Fitnah adalah kesyirikan. Bisa jadi jika dia membantah sebagian sabda Rasulullah maka kesesatan akan tertanam di hatinya hingga akhirnya dia binasa”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah </em>mengatakan : “Orang yang sengaja membantah sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>karena mengikuti hawa nafsunya atau karena fanatik terhadap syaikhnya yang ia taklid kepadanya, maka (berdasarkan surat An Nuur di atas) ia diancam dengan dua hukuman :</p>
<ol>
<li>Kesesatan yang bercokol di hati. Ketika mereka berpaling dari Al Qur’an dan tidak mau mempelajarinya, maka Allah akan membuat hati-hati mereka berpaling dari kebenaran sebagai hukuman atas mereka. Ini adalah bahaya yang sangat besar</li>
<li>Tertimpa adzab yang pedih yang dirasakan jasad mereka, yakni dengan terbunuh di dunia. Dimana Allah akan memberikan orang lain keleluasaan untuk  membinasakan dirinya dan membunuhnya sebagai bentuk hukuman bagi mereka. Jikapun mereka mati bukan karena dibunuh, maka mereka akan diadzab di neraka (akibat penyelisihan mereka terhadap Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam)</em>. <a title="" href="#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
<p><strong>Penutup </strong></p>
<p>Kaum muslimin yang dirahmati Allah, sungguh musibah taklid buta telah tersebar<em> </em>saat ini di masyarakat kita. Mereka lebih mendahulukan pendapat ustadz, ulama, kiyai, atau habib kesayangan mereka dibandingkan firman Allah <em>Ta’ala </em>dan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah tidaklah membuat mereka meninggalkan adat kebiasaan yang tidak sesuai dengan keduanya. Maka hendaklah kita semua takut akan ancaman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berikut ini:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih</em>” (QS. An Nuur : 63)</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ<strong></strong></p>
<p style="text-align: left;" align="center">&#8220;<em>Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik</em>” (QS. Ash Shaff : 5)</p>
<p>Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan. Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>memberikan kita taufik untuk selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan meninggalkan pendapat manusia siapapun dia jika bertentangan dengan keduanya. <em>Wallahu waliyyut taufiq</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yananto Sulaimansyah<br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan mengatakan : “Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan beliau menilainya hasan, ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, dan Ath Thabrani dari banyak jalur”. Lihat <em>Fathul Majid </em>hal. 109,  Daarus Salam</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Al Irsyad ila Shahihil I’tiqad </em>hal. 94-95, Daarus Shahabah</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Fathul Majid </em>hal. 409, Daarus Salam</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> (4/135), Maktabah Syamilah</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>I’aanatul Mustafid </em>(1/175), Daarul ‘Aashimah</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Matan <em>Kitabut Tauhid </em>di dalam <em>Fathul Majid </em>hal. 403, Daarus Salam</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Matan <em>Kitabut Tauhid </em>di dalam <em>Fathul Majid </em>hal. 405, Daarus Salam</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>I’aanatul Mustafid </em>(2/154-155), Daarul ‘Aashimah (dengan diringkas)</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7646"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmenyekutukan-allah-dengan-ulama.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmenyekutukan-allah-dengan-ulama.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmenyekutukan-allah-dengan-ulama.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/menyekutukan-allah-dengan-ulama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini Dalilnya (18): Istighatsah ala Jahiliyah</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/ini-dalilnya-18-istighatsah-ala-jahiliyah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/ini-dalilnya-18-istighatsah-ala-jahiliyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 23:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[istighatsah]]></category>
		<category><![CDATA[istighotsah]]></category>
		<category><![CDATA[mana dalilnya 1?]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7563</guid>
		<description><![CDATA[Masalah Keempat: Seputar Istighatsah Definisi istighatsah ala jahiliyah Pembaca yang budiman, sungguh mengherankan memang, ketika orang yang hidup di abad 21 dengan berbagai kemajuan IPTEK-nya masih berpikir ala jahiliyah. Masih mending jika keyakinan tersebut berangkat<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/ini-dalilnya-18-istighatsah-ala-jahiliyah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong style="color: #ff0000;">Masalah Keempat: Seputar Istighatsah</strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Definisi istighatsah <em>ala</em> jahiliyah</strong></span></p>
<p>Pembaca yang budiman, sungguh mengherankan memang, ketika orang yang hidup di abad 21 dengan berbagai kemajuan IPTEK-nya masih berpikir ala <em>jahiliyah</em>. Masih mending jika keyakinan tersebut berangkat dari kebodohan karena ia tinggal di tengah hutan belantara, atau di daerah terpencil yang tak pernah mengenyam pendidikan. Namun jika ia mengaku &#8216;terpelajar&#8217; dan masih mempercayai takhayul bahkan mengajak orang kepada hal tersebut, maka orang ini perlu kita waspadai. Pasti ada udang di balik batu! Saya sudah berusaha untuk <em>husnu</em><em>zha</em><em>n</em> terhadap Novel dari awal buku ini. Akan tetapi, setelah membaca masalah <em>istighatsah</em> di akhir bukunya, saya terbakar rasa cemburu. Cemburu akibat dilanggarnya hak-hak Allah atas nama syariat! Coba perhatikan bagaimana si <em>Qubury</em> ini mendefinisikan <em>istighatsah</em> (hal128):</p>
<p>&#8220;Dalam syariat <em>istighatsah</em> diartikan sebagai permintaan tolong kepada Nabi, Rasul atau orang saleh &#8211;yang masih hidup <span style="text-decoration: underline;">maupun yang telah meninggal dunia</span>&#8211; untuk mendoakan agar ia dapat memperoleh manfaat atau terhindar dari keburukan dan lain sebagainya&#8221;.</p>
<p>Minta doa kepada yang sudah meninggal dunia? Lho kok bisa? (Mungkin menurutnya) bisa saja, karena masalah <em>takhayul</em> memang tidak mengenal batas. Segala sesuatu yang tidak masuk akal pun bisa diterima dengan pola pikir jahiliyah semacam ini. Dia meyakini orang yang sudah mati bisa mendoakan yang masih hidup, padahal Allah <em>Ta’ala</em> berfirman kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ</p>
<p>“<em>Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar</em><em>”</em> (Faathir: 22).</p>
<p>Ayat di atas jelas sekali mengatakan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saja tidak dapat membikin orang yang sudah mati bisa mendengar, padahal beliau adalah manusia paling shalih. Artinya, jelas sekali bahwa siapapun yang sudah mati tidak bisa mendengar seruan orang yang masih hidup. Jadi percuma saja orang minta-minta kepada orang mati, sebab yang dia mintai tadi sama dengan batu yang tidak mendengar. Kalau ada yang membolehkan minta doa kepada orang mati, berarti ia meyakini bahwa orang mati bisa mendengar permintaan yang masih hidup. Nah, bukankah ini sama dengan menentang makna ayat di atas? Lalu perhatikan ayat berikut beserta penafsiran Imam Ibnu Jarir<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> atasnya:</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (13) إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ (14)</p>
<p><em>“</em><em>Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.</em><em>” </em>(QS. Fathir: 13-14)</p>
<p>Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau pun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.</p>
<p><em>Syaikhul Mufassirin</em><a title="" href="#_ftn2"><em><strong>[2]</strong></em></a><em> </em>Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsirnya mengatakan: Allah mengatakan bahwa jika kalian –wahai sekalian manusia- menyeru sesembahan-sesembahan yang kalian sembah selain Allah itu, mereka tidak akan mendengar seruan kalian karena mereka adalah benda mati yang tidak bisa memahami apa yang kalian katakan. Kalau pun mereka bisa mendengar, memahami dan tahu bahwa kalian menyeru mereka; mereka tidak akan menjawab seruan kalian karena mereka tidak bisa bicara, dan tidak setiap yang mendengar ucapan bisa menjawabnya dengan mudah. Kemudian Allah berfirman kepada orang-orang yang menyekutukannya dengan para <em>aalihah</em> dan <em>autsaan<a title="" href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em>: &#8220;Lalu bagaimana kalian bisa menyembah selain Allah yang sifatnya seperti itu? Sedangkan sesembahan itu tidak punya manfaat apa-apa untuk kalian, dan tidak mampu mencelakai kalian, lalu kalian tinggalkan peribadatan Dzat yang dapat memberi manfaat dan kecelakaan bagi kalian, padahal Dia lah yang menciptakan dan memberi nikmat kalian? Demikianlah penjelasan para ahli tafsir…&#8221;, kemudian beliau menyebutkan nama &amp; ucapan mereka satu persatu<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>. Lalu Allah berfirman kepada orang-orang musyrik penyembah <em>watsan</em>: Di hari kiamat nanti, sesembahan-sesembahan kalian yang selain Allah akan berlepas diri dari kalian. Mereka mengingkari kalau mereka dijadikan sekutu Allah ketika di dunia. Mereka tidak pernah mengakui perbuatan syirik tersebut dan tidak merestuinya. Dan tidak ada yang bisa bercerita kepadamu, hai Muhammad,  &#8211;tentang sesembahan kaum musyrikin dan bagaimana keadaan mereka dan para penyembahnya di hari kiamat&#8211; seperti Allah yang tahu akan semua yang sedang dan akan terjadi. Demikianlah penjelasan para ahli tafsir&#8221;. Kata beliau mengakhiri ucapannya.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dari uraian di atas, kita dapat menarik titik temu antara definisi Novel yang mengatakan bahwa <em>istighatsah</em> adalah minta tolong kepada Nabi, Rasul, atau orang shalih walaupun sudah meninggal.. dst; dengan keyakinan kaum musyrikin kepada berhala-berhala mereka. Di mana titik temunya? Ialah karena Novel dan orang-orang musyrik tersebut sama-sama meyakini bahwa para berhala maupun orang yang mati tadi bisa memberi manfaat, atau mendengar seruan orang yang menyerunya.</p>
<p><em>Na&#8217;udzubillahi minal kufri wasy syirki billaah</em> (kami berlindung kepada Allah dari perbuatan kufur dan syirik kepada-Nya)!! Inikah yang kau ajarkan hai Novel?? Sungguh buruklah apa kau ajarkan selama ini!! Engkau membolehkan kaum muslimin untuk minta doa dari orang yang sudah mati, dan menganggap mereka bisa memberi manfaat kepada yang masih hidup. Lantas apa bedanya ajaran yang engkau bela tersebut dengan keyakinan musyrikin Mekkah yang selama 23 tahun ditentang habis-habisan oleh Kakekmu<a title="" href="#_ftn6">[6]</a>, Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beserta para sahabatnya? <em>Toh</em> musyrikin Quraisy pada hakikatnya <span style="text-decoration: underline;">tidak meyakini bahwa patung dan berhala yang mereka sembah mampu menolong mereka secara langsung,</span> mereka tidak lain tidak bukan hanyalah menganggap sesembahan itu sebagai perantara untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah, karena berhala tersebut adalah lambang atau simbol dari orang-orang shalih yang pernah hidup di zaman dahulu<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>. Inilah hakikat syirik yang mereka lakukan, yaitu menganggap bahwa dalam beribadah kita harus pakai perantara. Siapakah perantaranya? Yaitu berhala untuk musyrikin tempo dulu, atau kuburan &#8216;wali&#8217;, orang shalih, <em>habib</em>, kyai, dll untuk musyrikin zaman ini. Apa bedanya? <strong>Tidak ada</strong>.</p>
<p>Jadi, saya tidak mengada-ada bila mengatakan bahwa Novel hendak mengembalikan ajaran jahiliyah yang dibungkus dengan indah dan dibumbui ayat-ayat dan hadits-hadits<a title="" href="#_ftn8">[8]</a> agar bisa diterima masyarakat. <em>Toh</em> banyak masyarakat kita masih banyak yang percaya dengan takhayul, tidak mengerti bahasa Arab, ilmu tafsir, <em>musthalah hadits</em> dan lain sebagainya. Hingga mudah bagi dia untuk mempermainkan akal mereka demi kepentingan pribadinya.</p>
<p>Kalau engkau mengatakan (hal 127): &#8220;Saudaraku, kita semua meyakini bahwa hanya Allah lah yang dapat menolong kita. Hanya DIA lah yang dapat memberi manfaat dan mencegah keburukan. <span style="text-decoration: underline;">Itulah keyakinan semua umat Islam</span>. Tetapi, apakah dengan demikian kita tidak boleh meminta tolong kepada makhluk yang IA beri keistimewaan?&#8221;</p>
<p><strong>Saya katakan</strong>: engkau salah besar! Tidak semua orang yang mengaku Islam meyakini seperti itu, bahkan puluhan atau mungkin ratusan juta kaum muslimin masih meyakini bahwa para wali, orang shalih, atau <em>haba-ib</em> &#8211;yang kuburannya dibangun megah dan dikeramatkan di berbagai penjuru dunia&#8211; dapat memberi manfaat dan menyampaikan hajat mereka<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Kalaulah mereka tidak meyakini hal tersebut, niscaya tidak ada gunanya Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> melarang keras segala bentuk pengeramatan dan pengagungan terhadap orang shalih yang sudah mati. Kalaulah seluruh kaum muslimin meyakini seperti apa yang kau katakan, maka tolong jelaskan apa maksud ayat berikut?</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ [يوسف/106]</p>
<p>&#8220;<em>Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)&#8221;</em>. (QS. Yusuf: 106)</p>
<p>Adapun meminta tolong kepada orang yang DIA beri keistimewaan, maka sepanjang yang dimintai tolong adalah orang yang masih hidup dan mampu menolong, maka hal tersebut tidak mengapa dan tidak ada kaitannya dengan makna <em>istighatsah</em> dalam syari&#8217;at. Itu adalah <em>isti&#8217;anah</em> (minta tolong) biasa. Tapi jika yang dimintai tolong adalah orang mati, maka kemungkinannya hanya dua: pertama, dia telah mendustakan firman Allah di atas (Faathir: 22), atau dia <strong>orang gila</strong> karena menganggap orang mati bisa mendengar ucapannya.</p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em>-bersambung insya Allah-</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc</p>
<p>Mahasiswa Magister &#8216;Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah</p>
<p>Artikel <a href="www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Penafsiran ini sengaja kami salin apa adanya secara selang-seling antara potongan ayat dengan tafsirnya agar mudah dipahami.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Demikianlah julukan para ulama terhadap beliau, yang artinya &#8220;Gurunya para ahli tafsir&#8221;. Hal ini ialah karena kitab tafsir yang beliau susun adalah kitab tafsir paling agung dan paling awal, dan seluruh ahli tafsir setelah beliau pasti menukil dari kitab tersebut. Nama beliau adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir, Abu Ja&#8217;far Ath Thabary. Beliau lahir tahun 224 H dan memiliki ilmu, kecerdasan dan banyaknya karya tulis yang jarang ada tandingannya di zaman itu. Beliau mengatakan: <em>&#8220;Aku istikharah dan minta tolong kepada Allah selama tiga tahun untuk mewujudkan niatku menyusun tafsir sebelum aku menulisnya, maka Allah pun menolongku&#8221;</em>. Suatu ketika beliau berkata kepada murid-muridnya:</p>
<p><em>&#8220;Tertarikkah kalian dengan tarikh sejak Nabi Adam hingga hari ini?&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Seberapa panjang itu?&#8221;</em> tanya mereka.</p>
<p><em>&#8220;Sekitar <strong>30 ribu lembar</strong>&#8220;</em>, jawab beliau.</p>
<p><em>&#8220;Wah, umur kita akan habis sebelum menyelesaikannya&#8221;,</em> jawab mereka.</p>
<p><em>&#8220;Inna lillaah, semangat (dalam mencari ilmu) telah padam&#8221;</em>, tukas beliau.</p>
<p>Maka beliau pun meringkasnya menjadi sekitar 3000 lembar. Kemudian ketika ingin meng-i<em>mla&#8217;</em>kan (mendiktekan) kitab tafsirnya, beliau juga berkata seperti itu dan mendapat jawaban yang sama, maka beliau pun <span style="text-decoration: underline;">meringkasnya menjadi 3000 lembar</span>. Beliau wafat pada tahun 310 H, dan alhamdulillah, kedua kitab tersebut masih ada sampai hari ini. Demikianlah sekelumit biografi beliau, selengkapnya dapat saudara baca dalam <em>Siyar A&#8217;laamin Nubala&#8217;</em> jilid 14 hal 267-282, tulisan Imam Adz Dzahabi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Inilah yang penting untuk difahami, apa makna <em>aalihah</em> dan <em>autsaan</em>? Yang pertama adalah bentuk jama&#8217; dari kata <em>ilaah</em>, artinya sesuatu yang diibadahi, yang dalam konteks ini adalah <em>shanam</em> (patung/arca). Sedang yang kedua adalah bentuk jama&#8217; dari kata <em>watsan</em>. Beda antara <em>shanam</em> dengan <em>watsan</em> ialah bahwa <em>shanam</em> memiliki tubuh atau wajah, sedangkan <em>watsan</em> tidak (lihat: <em>Lisaanul &#8216;Arab</em>, kata <em>sha-na-ma</em> (صنم) ).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat: <em>Tafsir Ath Thabari</em> 20/453.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>  Idem, 20/453.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>  Ironis memang kalau sang cucu justru mengkhianati perjuangan orang yang diklaim sebagai leluhurnya. Mudah-mudahan dia segera bertaubat dari kesesatannya agar tidak menjadi seperti anak Nabi Nuh yang durhaka dan kufur terhadap ajaran ayahnya, hingga binasa dalam kekufuran. Ya karena Islam bukan agama nepotisme, tidak bisa mentang-mentang keturunan Nabi lantas dapat jaminan Surga, doanya manjur, banyak berkahnya dan sebagainya. TIDAK sama sekali.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Dalam surat Az Zumar ayat 3 Allah berfirman yang artinya: <em>Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): &#8220;Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya&#8221;.</em> Lalu muncullah berhala seperti Laatta, &#8216;Uzza dan sebagainya. Tahukah Anda siapa itu Laatta? Simak penjelasan Ibnu &#8216;Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid berikut: Al Laatta konon seorang yang membikin adonan gandum untuk jemaah haji –diambil dari kata: <em>latta-yaluttu fahuwa laattun</em>, yang artinya mencampur tepung dengan air. Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya: &#8220;Setelah orang itu wafat, mereka mengeramatkan kuburannya dan menyembahnya!&#8221; (lihat: <em>Tafsir Al Qurthubi</em>, 17/100).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Tanpa peduli apakah itu <em>shahih</em>, <em>dha&#8217;if</em> atau bahkan palsu sekalipun. kalaupun ada yang shahih –dan itu sangat jarang— maknanya pasti tidak mengena dan dipelintir kesana kemari.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Sebagai rujukan, silakan baca kitab yang berjudul: <em>Dam&#8217;atun alat tauhid</em> (دمعة على التوحيد). Kitab ini dapat didownload dari internet, isinya tentang fenomena penyembahan terhadap berbagai kuburan di seluruh penjuru dunia. Anda mungkin tidak percaya jika di Mesir saja ada sekitar 6000 kuburan yang dikeramatkan, belum lagi di Pakistan, Bangladesh, Sudan dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya.</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7563"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fini-dalilnya-18-istighatsah-ala-jahiliyah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fini-dalilnya-18-istighatsah-ala-jahiliyah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fini-dalilnya-18-istighatsah-ala-jahiliyah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/ini-dalilnya-18-istighatsah-ala-jahiliyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

