<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Syafaat</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/syafaat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tawassul, Ibadah Agung yang Banyak Diselewengkan (4)</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-4.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2011 00:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syafaat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tawassul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5721</guid>
		<description><![CDATA[Pengaruh positif memahami dan mengamalkan tawassul dengan benar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan faidah yang agung ini di sela-sela penjelasan beliau tentang kaidah-kaidah dalam memahami tawassul yang benar dan sesuai dengan syariat Islam, beliau berkata,<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-4.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengaruh positif memahami dan mengamalkan <em>tawassul</em> dengan benar</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan faidah yang agung ini di  sela-sela penjelasan beliau tentang kaidah-kaidah dalam memahami <em>tawassul</em> yang benar dan sesuai dengan syariat Islam, beliau berkata,  “Sesungguhnya, kaidah-kaidah ini berkaitan erat dengan penetapan tauhid  (mengesakan Allah <em>Ta’ala</em> dalam beribadah) dan peniadaan unsur kesyirikan serta sikap <em>ghuluw</em> (melampaui batas dalam agama). (Sehingga jika) semakin diperinci  keterangannya dan semakin jelas penyampaiannya, maka sungguh yang  demikian itu adalah <em>nuurun ‘ala nuur</em> (cahaya di atas cahaya), dan Allah Dialah tempat meminta pertolongan.” (Kitab <em>Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassuli wal Wasiilah</em>” (hal. 244).</p>
<p>Dari keterangan beliau ini dapat disimpulkan bahwa tujuan pembahasan mengenai <em>tawassul</em> yang benar adalah [lihat keterangan Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali dalam <em>muqaddimah</em> kitab <em>Qaa'idatun Jaliilah fit Tawassuli wal Wasiilah</em> (hal. 20-21)]:</p>
<ul>
<li>Penetapan/ penegakan tauhid yang untuk      tujuan mulia inilah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengutus para      Rasul-Nya <em>‘alahimussalam</em> dan menurunkan kitab-kitab-Nya.</li>
<li>Peniadaan/ pembatalan unsur-unsur      kesyirikan yang ini merupakan inti kandungan agama yang dibawa oleh para      Rasul <em>‘alaihimussalam</em>, yaitu membasmi kesyirikan dan membersihkan      permukaan bumi, hati serta jiwa manusia dari kotoran dan noda syirik.</li>
<li>Pembatalan unsur-unsur sikap <em>ghuluw</em> (melampaui batas dalam agama) dalam semua sendi-sendi agama Islam. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ</p>
<p>“<em>Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar</em>.” (QS. an-Nisaa’:  171).</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Janganlah  kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana  orang-orang Nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam,  karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah,  ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.’</em>” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 3261).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin yang  membacanya untuk memurnikan akidah dan tauhid mereka, serta menjauhkan  mereka dari segala bentuk kesyirikan, yang besar maupun kecil.</p>
<p>Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan nama-nama-Nya yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang  Mahasempurna, agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita  untuk selalu menegakkan tauhid kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk  perbuatan syirik, yang besar maupun kecil, serta menjaga kita dari semua  bencana yang merusak agama dan keyakinan kita, sesungguhnya Dia Maha  Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 7 Shafar 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5721"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-4.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-4.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-4.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawassul, Ibadah Agung yang Banyak Diselewengkan (3)</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-3.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 00:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syafaat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tawassul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5719</guid>
		<description><![CDATA[2. Tawassul yang dilarang (dalam Islam) adalah tawassul yang tidak ada asalnya dalam agama Islam dan tidak ditunjukkan dalam dalil al-Quran maupun hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu ber-tawasssul kepada Allah Ta’ala dengan sarana<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-3.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>2. <em>Tawassul</em> yang dilarang (dalam Islam)</strong></span> adalah <em>tawassul</em> yang tidak ada asalnya dalam agama Islam dan tidak ditunjukkan dalam dalil al-Quran maupun hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Yaitu ber-<em>tawasssul</em> kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan sarana yang tidak ditetapkan dalam syariat Islam.</p>
<p><em>Tawassul</em> ini juga ada beberapa macam:</p>
<p><strong>A- </strong><em>Tawassul</em> dengan orang yang sudah mati dan berdoa kepadanya selain Allah <em>Ta’ala</em>. Ini termasuk perbuatan syirik besar yang bisa menjadikan pelakunya keluar dari Islam. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu  menyeru (memohon) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak mampu  memberikan manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab  jika kamu berbuat (yang demikian itu), maka sesungguhnya kamu kalau  begitu termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).</em>” (QS. Yuunus: 106).</p>
<p>Termasuk dalam hal ini adalah ber-<em>tawassul</em> dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> setelah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat, ini termasuk perbuatan syirik. Oleh karena itu, para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> tidak pernah melakukannya, padahal mereka sangat mencintai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>B- </strong><em>Tawassul</em> dengan <em>jaah</em> (kedudukan) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atau orang-orang yang shaleh di sisi Allah. Ini termasuk <em>tawassul</em> yang bid’ah dan tidak pernah dilakukan oleh para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum,</em> padahal mereka sangat mencintai dan memahami tingginya kedudukan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di sisi Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p>Hal ini dikarenakan kedudukan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah bisa bermanfaat bagi siapapun kecuali bagi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri, meskipun bagi orang-orang terdekat dengan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Kutubu wa Rasa-il S</em><em>yaikh Muhammad bin Shali</em><em>h al-’Utsaimin</em> [79/5]), sebagaimana sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> “<em>Wahai  Fathimah putri (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mintalah  dari hartaku (yang aku miliki) sesukamu, sesungguhnya aku tidak bisa  mencukupi (memberi manfaat) bagimu sedikitpun di hadapan Allah.</em>” (Kitab <em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamut T</em><em>awassul,</em> hal. 13).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata, “<em>Tawassul</em> ini  adalah bid’ah dan bukan kesyirikan, karena memohon kepada Allah. Akan  tetapi terkadang bisa membawa kepada kesyirikan, yaitu jika orang yang  ber<em>tawassul</em> itu berkeyakinan bahwa Allah butuh kepada perantara  (untuk mengetahui permintaan makhluk-Nya) sebaimana seorang pemimpin  atau presiden (butuh kepada perantara), (maka ini termasuk syirik/  kafir) karena telah menyerupakan (Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) Yang Maha Pencipta dengan makhluk-Nya, padahal Allah  berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</p>
<p>“<em>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.</em>” (QS. asy-Syuura: 11) (Kitab <em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamut T</em><em>awassul,</em> hal. 13).</p>
<p>Sebagian orang yang membolehkan <em>tawassul</em> ini berdalil dengan sebuah hadits palsu, “Ber-<em>tawassul-</em>lah  kalian (dalam riwayat lain: Jika kalian memohon kepada Allah maka  memohonlah) dengan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi  Allah sngat agung.”</p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang palsu dan merupakan kedustaan atas nama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  bahkan hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorangpun dari para ulama  ahli hadits dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana yang ditegaskan oleh  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (lihat kitab <em>A</em><em>l-Fatawal </em><em>K</em><em>ubra</em><em>,</em> 2/433 dan <em>At-Tawassulu Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu,</em> hal. 128).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>C- </strong><em>Tawassul</em> dengan hak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan hak para wali Allah.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata, “<em>Tawassul</em> ini tidak diperbolehkan (dalam Islam), karena tidak ada satu nukilanpun dari shahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menjelaskan (kebolehannya). Imam Abu Hanifah dan dua orang murid  utama beliau (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani) membenci  (mengharamkan) seseorang yang mengucapkan dalam doanya, ‘(Ya Allah), aku  memohon kepada-Mu dengan hak si Fulan, atau dengan hak para Nabi dan  Rasul-Mu <em>‘alaihissalam</em>, atau dengan hak <em>Baitullah al-Haram</em> (Ka’bah)’, atau yang semisal itu, karena tidak ada seorangpun yang mempunyai hak atas Allah (lihat kitab <em>Syarhul Ihya’</em>) (Kitab <em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamut T</em><em>awassul,</em> hal. 13).</p>
<p style="text-align: center;">-bersambung <em>insya Allah</em>-</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5719"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-3.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-3.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-3.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawassul, Ibadah Agung yang Banyak Diselewengkan (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 00:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syafaat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tawassul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5717</guid>
		<description><![CDATA[Pembagian tawassul Secara garis besar, tawassul terbagi menjadi dua, yaitu tawassul yang disyariatkan (tawassul yang benar) dan tawassul yang dilarang (tawassul yang salah) [lihat rincian pembagian ini dalam Kutubu wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Shaleh<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pembagian <em>tawassul</em></strong><strong><em> </em></strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara garis besar, <em>tawassul</em> terbagi menjadi dua, yaitu <em>tawassul</em> yang disyariatkan (<em>tawassul</em> yang benar) dan <em>tawassul</em> yang dilarang (<em>tawassul</em> yang salah) [lihat rincian pembagian ini dalam <em>Kutubu wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimin</em> (79/1-5) dan kitab <em>Kaifa Nafhamut Tawassul</em> (hal. 4 -14), tulisan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>1. <em>Tawassul</em> yang disyariatkan</strong></span> adalah <em>tawassul</em> yang diperintahkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dalam al-Quran (dalam ayat tersebut di atas) dan dijelaskan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> serta diamalkan oleh para shahabat<em>radhiallahu ‘anhum</em> (lihat kitab <em>Kaifa Nafhamut Tawassul,</em> hal. 4). Yaitu ber-<em>tawasssul</em> kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dengan sarana yang dibenarkan (dalam agama Islam) dan menyampaikan kepada tujuan yang diinginkan (mendekatkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) [<em>Kutubu wa Rasa-il syaikh Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimin </em>(79/1)].</p>
<p><em>Tawassul</em> ini ada beberapa macam:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A- </strong><em>Tawassul</em> dengan nama-nama Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang Mahaindah, inilah yang diperintahkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;">وللهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا</p>
<p>“<em>Dan Allah mempunyai al-asma-ul husna (nama-nama yang Mahaindah), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut al-asma-ul husna itu</em>.” (QS. al-A’raaf: 180).</p>
<p>Artinya: berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang  Mahaindah sebagai wasilah (sarana) agar doa tersebut dikabulkan-Nya  (lihat kitab <em>At-Tawassulu Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu</em>, hal. 32).</p>
<p><em>Tawassul</em> ini disebutkan dalam banyak hadits yang shahih, di antaranya dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bagi orang yang ditimpa kesedihan dan kegundahan, “Aku memohon  kepada-Mu (ya Allah) dengan semua nama (yang Mahaindah) yang Engkau  miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan  kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam  kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan (bagi diri-Mu) pada ilmu gaib di  sisi-Mu, agar Engkau menjadikan al-Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya  (dalam) dadaku, penerang kesedihanku dan penghilang kegundahanku.” [HR.  Ahmad (1/391), Ibnu Hibban (no. 972) dan al-Hakim (no. 1877),  dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, Ibnul Qayyim dalam <em>Syifa-ul ‘Aliil</em> (hal. 274) dan Syaikh al-Albani dalam <em>Ash-Shahiihah</em> (no. 199)].</p>
<p><strong>B- </strong><em>Tawassul</em> dengan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, sebagaimana doa Nabi Sulaiman <em>‘alaihissalam</em> dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;">وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِين</p>
<p>“<em>Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh</em>.” (QS. an-Naml: 19).</p>
<p>Juga dalam doa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> “Ya  Allah, dengan pengetahuan-Mu terhadap (hal yang) gaib dan  kemahakuasaan-Mu untuk menciptakan (semua makhluk), tetapkanlah hidupku  selama Engkau mengetahui kehidupan itu baik bagiku, dan wafatkanlah aku  jika selama Engkau mengetahui kematian itu baik bagiku.” [HR. an-Nasa-i  (no. 1305 dan 1306), Ahmad (4/264) dan Ibnu Hibban (no. 1971),  dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani].</p>
<p><strong>C- </strong><em>Tawassul</em> dengan beriman kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sebagaimana doa hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;">رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا  مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا  رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا  وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ</p>
<p>“<em>Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang  menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Rabb-mu.’; maka  kamipun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan  hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami  beserta orang-orang yang berbakti.”</em> (QS. Ali ‘Imran: 193).</p>
<p><strong>D- </strong><em>Tawassul</em> dengan kalimat tauhid, sebagaimana doa Nabi Yunus <em>‘alaihissalam</em> dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;">وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ  مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ  أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ  الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ  وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ</p>
<p>“<em>Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam  keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya  (menyulitkannya), maka ia menyeru (berdoa kepada Allah) di kegelapan,  ‘Laa ilaaha illa anta (Tidak ada sembahan yang benar selain Engkau),  Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang  zalim.’ Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada  kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman</em>.” (QS. al-Anbiyaa’: 87-88).</p>
<p>Dalam hadits yang shahih, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjamin pengabulan doa dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> bagi orang yang berdoa kepada-Nya dengan doa ini (HR. at-Tirmidzi, no.  3505 dan Ahmad, 1/170, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani).</p>
<p><strong>E- </strong><em>Tawassul </em>dengan amal shaleh, sebagaimana doa hamba-hamba Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang shaleh dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;">رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ</p>
<p>“<em>Wahai Rabb kami, kami beriman kepada apa (kitab-Mu) yang telah  Engkau turunkan dan kami mengikuti (petunjuk) rasul, karena itu  masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi  (tentang tauhid dan kebenaran agama-Mu)</em>.” (QS. Ali ‘Imran: 53).</p>
<p>Demikian pula yang disebutkan dalam hadits yang shahih, kisah tentang  tiga orang shaleh dari umat sebelum kita, ketika mereka melakukan  perjalanan dan bermalam dalam sebuah gua, kemudian sebuah batu besar  jatuh dari atas gunung dan menutupi pintu gua tersebut sehingga mereka  tidak bisa keluar, lalu mereka berdoa kepada Allah dan ber-<em>tawassul</em> dengan amal shaleh yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas kepada Allah, sehingga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kemudian menyingkirkan batu tersebut dan merekapun keluar dari gua  tersebut [Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 2152) dan Muslim (no.  2743)].</p>
<p><strong>F- </strong><em>Tawassul</em> dengan menyebutkan keadaan dan ketergantungan seorang hamba kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sebagaimana dalam doa Nabi Musa <em>‘alaihissalam</em> dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;">رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ</p>
<p>“<em>Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”</em> (QS. al-Qashash: 24).</p>
<p>Juga doa Nabi Zakaria <em>‘alaihissalam,</em></p>
<p style="text-align: center;">رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ  مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ  شَقِيًّا. وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ  امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا</p>
<p>“<em>Wahai Rabb-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku  telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada  Engkau, wahai Rabb-ku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku  sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka  anugerahilah aku dari Engkau seorang putera</em>.” (QS. Maryam: 4-5).</p>
<p><strong>G- </strong><em>Tawassul</em> dengan doa orang shaleh yang masih hidup dan diharapkan terkabulnya doanya<strong>. </strong>Sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> di masa hidup Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, seperti perbuatan seorang Arab dusun yang meminta kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar berdoa kepada Allah <em>Ta’ala</em> memohon diturunkan hujan, ketika beliau sedang berkhutbah hari Jumat, lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdoa meminta hujan, lalu hujanpun turun sebelum beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> turun dari mimbar [Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 968) dan Muslim (no. 897)].</p>
<p>Kemudian setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat, para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> tidak meminta kebutuhan mereka kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan datang ke kuburan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  karena mereka mengetahui perbuatan ini dilarang keras dalam Islam. Akan  tetapi, yang mereka lakukan adalah meminta kepada orang shaleh yang  masih di antara mereka untuk berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Seperti perbuatan shahabat yang mulia Umar bin khattab <em>radhiallahu ‘anhu</em> di zaman kekhalifahan beliau <em>radhiallahu ‘anhu</em>, jika manusia mengalami musim kemarau, maka beliau berdoa kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan ber-<em>tawassul</em> dengan doa paman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya dulu kami selalu ber-<em>tawassul</em> kepada-Mu dengan (doa) Nabi kami <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami, dan (sekarang) kami ber-<em>tawassul</em> kepada-Mu dengan (doa) paman Nabi kami <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (‘Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em>), maka turunkanlah hujan kepada kami.” Lalu hujanpun turun kepada mereka (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 964 dan 3507).</p>
<p>Demikian pula perbuatan shahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiallahu ‘anhu</em> di masa pemerintahan beliau <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Ketika terjadi musim kemarau, Mu’awiyah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bersama penduduk Damaskus bersama-sama melaksanakan shalat <em>istisqa’</em> (meminta hujan kepada Allah <em>Ta’ala</em>).  Ketika Mu’awiyah telah naik mimbar, beliau berkata, “Dimanakah Yazid  bin al-Aswad al-Jurasyi?” Maka orang-orangpun memanggilnya, lalu diapun  datang melewati barisan manusia, kemudian Mu’awiyah menyuruhnya untuk  naik mimbar dan beliau sendiri duduk di dekat kakinya dan beliau berdoa,  “Ya Allah, sesungguhnya hari ini kami meminta syafa’at kepada-Mu dengan  (doa) orang yang terbaik dan paling utama di antara kami, ya Allah,  sesungguhnya hari ini kami meminta syafa’at kepada-Mu dengan (doa) Yazid  bin al-Aswad al-Jurasyi,” wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu (untuk  berdoa) kepada Allah!” Maka, Yazidpun mengangkat kedua tangannya,  demikian pula manusia mengangkat tangan mereka. Tak lama kemudian  muncullah awan (mendung) di sebelah barat seperti perisai dan anginpun  meniupnya, lalu hujan turun kepada kami sampai-sampai orang hampir tidak  bisa kembali ke rumah-rumah mereka (karena derasnya hujan) [<em>Atsar</em> riwayat Ibnu 'Asakir dalam <em>Tarikh Dimasq</em> (65/112) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab <em>At-Tawassulu Anwaa'uhu wa Ahkaamuhu </em> (hal. 45)].</p>
<p style="text-align: center;">-bersambung <em>insya Allah</em>-</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5717"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-2.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-2.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawassul, Ibadah Agung yang Banyak Diselewengkan (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Mar 2011 11:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syafaat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tawassul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5715</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan tawassul sebagai ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, telah banyak dipahami oleh kaum muslimin, akan tetapi mayoritas mereka justru kurang memahami perbedaan antara tawassul yang benar dan tawassul yang menyimpang dari Islam. Sehingga banyak<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Keutamaan <em>tawassul</em> sebagai ibadah yang sangat dianjurkan  dalam Islam, telah banyak dipahami oleh kaum muslimin, akan tetapi  mayoritas mereka justru kurang memahami perbedaan antara <em>tawassul</em> yang benar dan <em>tawassul</em> yang menyimpang dari Islam. Sehingga banyak di antara mereka yang  terjerumus melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari aqidah  tauhid, dengan mengatasnamakan perbuatan-perbuatan tersebut sebagai <em>tawassul </em> yang dibenarkan.</p>
<p>Kenyataan pahit ini semakin diperparah keburukannya dengan keberadaan  para tokoh penyokong bid’ah dan syirik, yang mempropagandakan  perbuatan-perbuatan sesat tersebut dengan <em>iming-iming</em> janji keutamaan dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkannya.</p>
<p>Bahkan, mereka mengklaim bahwa <em>tawassul</em> syirik dengan memohon/ berdoa kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang yang mereka anggap shaleh adalah bukti pengagungan dan kecintaan yang benar kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang shaleh tersebut. Dan lebih daripada itu, mereka menuduh orang-orang yang menyerukan untuk kembali kepada <em>tawassul</em> yang benar sebagai orang-orang yang tidak mencintai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang shaleh, serta merendahkan kedudukan mereka.</p>
<p>Inilah sebabnya, mengapa pembahasan tentang <em>tawassul</em> sangat  penting untuk dikaji, mengingat keterkaitannya yang sangat erat dengan  tauhid yang merupakan landasan utama agama Islam dan ketidakpahaman  mayoritas kaum muslimin tentang hakikat ibadah yang agung ini.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu mengungkapkan hal ini dalam kata pengantar buku beliau “<em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamu </em><em>A</em><em>t-</em><em>T</em><em>awassul</em> (Bagaimana Kita Memahami Tawassul)”, beliau berkata, “Sesungguhnya pembahasan (tentang) <em>tawassul</em> sangat penting (untuk disampaikan), (karena) mayoritas kaum muslimin  tidak memahami masalah ini dengan benar, disebabkan ketidaktahuan mereka  terhadap hakikat <em>tawassul</em> yang diterangkan dalam al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> secara jelas dan gamblang.</p>
<p>Dalam buku ini, aku jelaskan tentang <em>tawassul</em> yang disyariatkan dan <em><a href="http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-1.html">tawassul</a></em> yang dilarang (dalam Islam) dengan meyertakan argumentasinya dari al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang shahih, agar seorang muslim (yang membaca buku ini) memiliki ilmu  dan pengetahuan yang kokoh dalam apa yang diucapkan dan diserukannya,  sehingga <em>tawassul</em> (yang dikerjakan)nya sesuai dengan syariat Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan doa (yang diucapkan)nya dikabulkan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> (<em>insya Allah</em>).</p>
<p>Dan juga agar seorang muslim tidak terjerumus dalam perbuatan syirik  yang bisa merusak amal kebaikannya karena kebodohannya, sebagaimana  keadaan sebagian dari kaum muslimin saat ini, semoga Allah melimpahkan  hidayah-Nya kepada mereka.” (Kitab <em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamu </em><em>A</em><em>t-</em><em>T</em><em>awassul</em>, hal. 3).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Definisi <em>tawassul</em> dan hakikatnya</strong><strong> </strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara bahasa, <em>tawassul</em> berarti menjadikan sarana untuk mencapai sesuatu dan mendekatkan diri kepadanya (lihat kitab <em>A</em><em>n-Nihayah fi Gh</em><em>ariibil H</em><em>adiitsi wal A</em><em>tsar,</em> 5/402 dan <em>Lisaanul  ‘Arab</em>, 11/724).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Arti <em>tawassul</em> adalah mengambil <em>wasiilah</em> (sarana) yang menyampaikan kepada tujuan. Asal (makna)nya adalah keinginan (usaha) untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.” (<em>Kutubu wa Rasa-il</em> <em>S</em><em>yaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin,</em> 79/1).</p>
<p>Maka arti “ber-<em>tawassul</em> kepada Allah” adalah melakukan suatu amalan (shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya (lihat kitab <em>Lisaanul  ‘Arab</em><em>,</em> 11/724).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ  آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا  فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman</em><em>,</em><em> bertakwalah </em><em>k</em><em>epada Allah dan carilah wasilah (jalan/</em><em> </em><em>sarana untuk mendekatkan diri) kepada-Nya</em><em>,</em><em> serta berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan</em><em>.</em>” (QS. al-Maaidah: 35).</p>
<p>Beliau berkata, “<em>Wasiilah</em> adalah sesuatu yang dijadikan (sebagai sarana) untuk mencapai tujuan.” (Kitab <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 2/73).</p>
<p>Inilah hakikat makna <em>tawassul</em>, oleh karena itu Imam Qotadah  al-Bashri (beliau adalah Qatadah bin Di’aamah as-Saduusi al-Bashri  (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan<em> tabi’in</em> yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> [lihat kitab <em>Taqriibut Tahdziib</em>,  hal. 409]) menafsirkan ayat di atas dengan ucapannya, “Artinya:  dekatkanlah dirimu kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengamalkan  perbuatan yang diridhai-Nya.” (Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 2/73).</p>
<p>Imam ar-Raagib al-Ashfahani ketika menjelaskan makna ayat di atas, beliau berkata, “Hakikat  <em>tawassul</em> kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> adalah memperhatikan (menjaga) jalan (agama)-Nya dengan memahami  (mempelajari agama-Nya) dan (mengamalkan) ibadah (kepada-Nya) serta  selalu mengutamakan (hukum-hukum) syariat-Nya yang mulia.” (Kitab <em>Mufraadaatu </em><em>Gh</em><em>ariibil Quran</em>, hal. 524).</p>
<p>Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa makna <em>tawassul</em> inilah yang dikenal dan digunakan oleh para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di zaman mereka (lihat kitab <em>Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassul wal Wasiilah</em>, hal. 4).</p>
<p style="text-align: center;">-Bersambung <em>insya Allah</em>-</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5715"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-1.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-1.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Ftawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/tawassul-ibadah-agung-yang-banyak-diselewengkan-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuduhlah Akal Kalian!</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 14:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Radikal]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syafaat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2701</guid>
		<description><![CDATA[Yazid al-Faqir (si bungkuk, tabi’in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan: Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Yazid <em>al-Faqir</em> (si bungkuk, tabi’in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan:</p>
<p>Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat <strong>sekte Khawarij</strong> -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah haji.  Kemudian, kami pun keluar di hadapan orang-orang -sembari menyerukan pemikiran <a href="http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-1.html">Khawarij </a>dan menghasut orang-orang untuk mengikutinya-.</p>
<p>Ketika kami melewati Madinah, kami bertemu di sana dengan Jabir bin Abdullah -seorang sahabat Nabi- yang sedang menuturkan hadits dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada sekelompok orang sambil dia duduk bersandar kepada sebuah tiang. Ketika itu, dia menyebutkan hadits tentang <em>al-Jahannamiyun</em> (yaitu orang-orang yang dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke surga).</p>
<p>Aku pun (Yazid) berkata kepadanya,</p>
<p><em>“Wahai Sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kalian ceritakan ini? Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka Engkau benar-benar telah menghinakannya.” (QS. Ali Imran: 192). Allah juga menyatakan (yang artinya), “Setiap kali mereka -penduduk neraka- ingin keluar darinya maka mereka pun dikembalikan lagi ke dalamnya.” (QS. as-Sajdah: 20). Lalu apa-apaan yang kalian ucapkan tadi?”. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jabir pun menjawab, <em>“Apakah Engkau membaca al-Qur’an?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.”</em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Apakah kamu pernah mendengar (di dalam al-Qur’an) mengenai maqam/kedudukan agung yang dimiliki oleh Muhammad ‘alaihis salam, yaitu yang beliau dibangkitkan oleh Allah di atasnya (maksudnya adalah syafa’at Nabi kepada umatnya kelak di akherat)?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.” </em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Sesungguhnya hal itu -yang aku sampaikan- merupakan kedudukan terhormat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan sebab itu Allah berkenan mengeluarkan siapa saja yang ingin dikeluarkan-Nya -yaitu semua orang beriman-.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yazid berkata:</p>
<p>Kemudian Jabir menceritakan kejadian diletakkannya jembatan/shirath -di atas neraka- dan bagaimana keadaan orang-orang yang berjalan di atasnya, namun aku khawatir tidak hafal dengan baik rentetan ceritanya. Yang jelas, dia menceritakan bahwa <strong>ada suatu kaum yang keluar dari neraka yang sebelumnya mereka berada di dalamnya</strong>.</p>
<p>Dia -Jabir- berkisah, <em>“Mereka itu keluar darinya dalam keadaan seperti pucuk-pucuk benih tanaman wijen -yang menghitam karena tersengat sinar matahari- (hal itu disebabkan tubuh mereka terbakar di dalam neraka, sebagaimana diceritakan dalam sebagian riwayat). Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah sungai di antara sungai-sungai yang ada di surga dan mandi di dalamnya. Kemudian mereka pun keluar -dalam keadaan putih bersih- seperti lembaran-lembaran kertas.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Setelah mendengar -hadits- itu, maka kami pun rujuk -dari pendapat kami-. Kami berkata, <em>“Sungguh celaka kalian ini -maksudnya adalah diri mereka sendiri- apakah kalian mengira orang tua ini (yaitu Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”</em>.</p>
<p>Setelah itu, kami pun  kembali pulang -seusai menunaikan ibadah haji-. Demi Allah, tidak ada di antara kami yang tetap berkeras untuk keluar (memberontak sebagaimana Khawarij) kecuali hanya satu orang.</p>
<p>Demikianlah isi kisah itu, atau sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Nu’aim -seorang guru dari gurunya Imam Muslim yang meriwayatkan hadits ini-.</p>
<p>(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/323-324])</p>
<p>Kisah ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kewajiban mengimani adanya neraka dan siksaan pedih yang ada di dalamnya. Sehingga hal itu akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah kemudian berupaya senantiasa menjauhkan diri dari meninggalkan kewajiban atau menerjang larangan-Nya.</li>
<li>Semua orang yang beriman pasti masuk ke dalam surga, meskipun di antara mereka ada juga yang terlebih dahulu ‘mampir’ ke neraka untuk dibersihkan dosa-dosanya, <em>semoga Allah menyelamatkan kita dari      siksanya…</em></li>
<li>Keutamaan tauhid yang sangat agung, karena tidak mungkin orang bisa masuk surga tanpa tauhid di dalam dirinya. Orang yang beriman tidak dikatakan beriman jika dia tidak mengikhlaskan (memurnikan ibadahnya) untuk Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Oleh sebab itu Allah berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang di bawahnya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.”</em> (QS. an-Nisaa’: 48)</li>
<li>Sifat<em> &#8216;adl (&#8216;udul) </em>para sahabat, artinya mereka adalah penukil berita dan hadits-hadits yang terpercaya. Oleh sebab itu para tabi’in tidak meragukan kejujuran mereka dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dakwah yang dikumandangkan oleh para sahabat adalah seruan untuk berpegang teguh dengan Sunnah. Oleh sebab itu mereka adalah orang-orang yang paling giat menyebarkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      ‘alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah manusia, bahkan mereka itulah      narasumber  kunci periwayatan      hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada      generasi-generasi lain sesudah mereka, <em>semoga Allah membalas jasa-jasa      mereka dengan sebaik-baik balasan</em>.  Oleh sebab itu barangsiapa yang berupaya untuk mendiskreditkan para sahabat dan menjatuhkan kehormatan mereka di mata kaum muslimin -apalagi sampai mengkafirkan mereka- maka pada hakekatnya dia ingin menghancurkan agama Islam yang mulia ini dengan cara menolak riwayat-riwayat mereka! <em>Maha      suci Allah dari perbuatan keji yang mereka lakukan..</em></li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Dimana      mereka senantiasa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an kepada      Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (hadits). Karena mereka      meyakini bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah manusia yang paling paham tentang al-Qur’an. Dan juga mereka memahami bahwa apa yang disabdakan oleh Rasul tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur’an. Karena kewajiban Rasul adalah menyampaikan apa yang diturunkan oleh Allah. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan Kami telah turunkan kepadamu adz-Dzikra (al-Qur’an) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan mudah-mudahan mereka mau memikirkannya.”</em> (QS. An-Nahl: 44). Oleh sebab itu siapapun juga yang meninggalkan manhaj para sahabat dalam memahami al-Qur’an dan menerapkannya pasti akan tersesat… Kisah ini sebagai salah satu buktinya!</li>
<li>Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat akan      berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara Allah <em>‘azza wa      jalla</em> sendiri telah merekomendasikan mereka di hadapan segenap umat manusia di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah telah persiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.”</em> (QS.      at-Taubah: 100)</li>
<li>Bantahan bagi Khawarij yang berpemahaman bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka dan tidak mungkin keluar darinya. Dan pembuktian kepada mereka bahwa kesalahan yang mereka lakukan <strong>bukan terletak pada      dalil</strong> (sumber hukum) yang mereka pakai, akan tetapi <strong>letak kesalahan      mereka adalah dalam hal <a href="http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html">istidlal</a></strong><a href="http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html"> </a>(cara penyimpulan hukum) dari dalil      yang ada,  entah itu ayat-ayat      al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Oleh sebab itu untuk mengikuti kebenaran tidak cukup dengan membawakan dalil tanpa disertai dengan cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan betapa banyak orang yang <a href="http://muslim.or.id/manhaj/rajin-pengajian-kok-sesat.html">tersesat </a>melalui pintu ini -istidlal yang salah-, <em>maka ambillah pelajaran wahai      saudaraku!</em></li>
<li>Sebab utama sekte Khawarij menyimpang dari jalan yang lurus adalah karena mereka terlalu kagum dengan hasil pikiran mereka dan tidak mau mengikuti cara pemahaman para sahabat <em>radhiyallahu ta’ala ‘anhum.</em> Mereka ahli membaca al-Qur’an, namun mereka tidak memahaminya sebagaimana yang dipahami oleh Rasul dan para sahabat. Oleh sebab itulah mereka itu sesat dan menyesatkan. Bukankah ketika mengkafirkan Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> mereka juga berdalil dengan ayat al-Qur’an, namun ternyata mereka sendiri      yang tidak paham tentang tafsirannya?!</li>
<li>Tidak boleh mempertentangkan antara dalil al-Qur’an dengan      dalil Hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sebab keduanya      adalah wahyu yang bersumber dari Allah <em>ta’ala. </em>Adapun sebuah hadits      yang disandarkan kepada Nabi yang bunyinya, <em>“Apa saja datang kepada kalian dariku maka bandingkanlah ia dengan apa yang ada dalam Kitabullah. Apabila ia cocok dengan Kitabullah maka itu berarti aku benar-benar mengucapkannya. Akan tetapi jika ia bertentangan dengan Kitabullah maka itu artinya aku tidak mengucapkannya…”</em> maka ini adalah hadits yang <strong>tidak sahih</strong> yang dibuat-buat oleh kaum Zindiq dan Khawarij, sebagiamana yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi dan dikutip oleh Ibnu Abdil Barr (lihat kutipannya dalam <em>Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal      Jama’ah</em>, Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani hal. 126) <em> </em></li>
<li>Meninggalkan bimbingan para ulama Rabbani -dan para sahabat adalah tokoh terdepan dalam barisan mereka- akan menjerumuskan umat ke dalam jurang kehancuran. Salah satu penyebab utama terjadinya hal itu -baik di masa dahulu maupun sekarang- adalah <strong>rasa percaya diri yang      berlebihan dan kekaguman terhadap pendapat pribadi atau kelompoknya</strong> sehingga menganggap diri telah paham perkara agama tanpa terlebih dulu      berkonsultasi kepada para ulama. <em>Maka camkanlah hal ini baik-baik,      wahai para pemuda!</em> Dan ketika ulama sudah ditinggalkan, maka yang      diangkat adalah sosok <em>Ruwaibidhah</em> yaitu orang-orang yang bodoh -meskipun dijuluki dengan Kiyai, Ustadz, atau Cendekiawan- yang nekad berbicara soal urusan orang banyak.. <em>Laa haula wa laa quwwata illa      billaah</em></li>
<li>Syafa’at Nabi bagi para pelaku dosa besar agar dikeluarkan dari neraka adalah benar adanya. Hal itu sebagaimana yang dikisahkan oleh Hammad bin Zaid ketika dia bertanya kepada Amr bin Dinar, <em>“Apakah kamu pernah mendengar Jabir bin Abdullah -radhiyallahu’anhuma- menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang isinya: Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan sekelompok orang dari neraka dengan sebab syafa’at?”</em>. Maka dia menjawab, <em>“Benar.”</em> (lihat Sahih      Muslim yang dicetak bersama <em>Syarh Muslim</em> [2/322])</li>
<li>Keutamaan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang berpegang teguh      dengan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ada di      antara ulama salaf dahulu yang mengatakan, <em>“Para malaikat adalah penjaga-penjaga langit, sedangkan ahlul hadits adalah penjaga-penjaga bumi.” Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dan meneguhan kita untuk berada di dalam rombongan mereka, Allahul musta’an… </em></li>
</ol>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-2701"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftuduhlah-akal-kalian.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftuduhlah-akal-kalian.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftuduhlah-akal-kalian.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syafa&#8217;at Hanya Milik Allah</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/syafaat-hanya-milik-allah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/syafaat-hanya-milik-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 02:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syafaat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati Allah, andaikan kita mau menelusuri seluruh musibah dan fitnah yang menimpa kaum muslimin niscaya akan kita dapati sebabnya ialah kebodohan dalam memahami syariat Islam. Lebih parah lagi jika kebodohan<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/syafaat-hanya-milik-allah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati Allah, andaikan kita mau menelusuri seluruh musibah dan fitnah yang menimpa kaum muslimin niscaya akan kita dapati sebabnya ialah kebodohan dalam memahami syariat Islam. Lebih parah lagi jika kebodohan tersebut pada hal-hal yang sangat urgen seperti masalah tauhid dan syirik. Sebab dengan kebodohan, kesyirikan yang begitu gelap seolah-olah terlihat terang karena hiasan setan. Akibatnya, kepahitan di akhirat sudah pasti tertelan. Salah satu perkara penting yang sebagian besar kaum muslimin kurang memahami ialah masalah syafa&#8217;at.</p>
<p><span id="more-379"></span></p>
<p>Adakalanya kita dengar seseorang mengatakan, <em>&#8220;Wahai Muhammad, berilah syafa&#8217;at kepada kami!&#8221;</em> atau <em>&#8220;Wahai Muhammad, syafa&#8217;atilah kami!&#8221;</em></p>
<p>Kaum muslimin sekalian, memang Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lah akan diberi izin oleh Allah untuk memberikan syafa&#8217;at besok di hari kiamat. Tapi permasalahannya, bolehkan kita meminta langsung kepada beliau? Ini adalah permasalahan yang sangat penting, jika seseorang salah di dalamnya maka ia dapat jatuh ke dalam kesyirikan.</p>
<p><strong>Syafa&#8217;at Adalah Doa</strong></p>
<p>Telah sama-sama kita ketahui bahwa ibadah mutlak hanya boleh ditujukan untuk Allah, baik berupa doa, sembelihan, nadzar dan sebagainya. Barang siapa yang menujukan ibadah bukan untuk Allah, walaupun kepada Nabi atau Malaikat dan walaupun hanya satu macam ibadah saja, atau sekali saja maka itulah perbuatan syirik.</p>
<p>Kemudian ketahuilah, bahwa <a title="Syafaat Hanya Milik Allah" href="http://muslim.or.id/aqidah/syafaat-hanya-milik-allah.html">syafa&#8217;at</a> hakikatnya adalah doa, atau memerantarai orang lain untuk mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan. Atau dengan kata lain syafa&#8217;at adalah memintakan kepada Allah di akhirat untuk kepentingan orang lain. Dengan demikian meminta syafa&#8217;at berarti meminta doa, sehingga permasalahan syafa&#8217;at ialah sama dengan doa.</p>
<p><strong>Syafa&#8217;at Hanyalah Milik Allah</strong></p>
<p>Perhatikanlah firman Allah, <em>&#8220;Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah lah syafa&#8217;at itu semuannya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Kemudiaan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.&#8221;</em> (Az Zumar: 44)</p>
<p>Ketahuilah, ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa syafa&#8217;at segenap seluruh macamnya itu hanya milik Allah semata. Allah kemudian memberikan kepada sebagian hamba-Nya untuk memberikan syafa&#8217;at kepada sebagian hamba yang lainnya dengan tujuan untuk memuliakan menampakkan kedudukannya pemberi syafa&#8217;at dibanding yang disyafa&#8217;ati serta memberikan keutamaan dan karunia-Nya kepada yang disyafa&#8217;ati untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih baik atau kebebasan dari adzab-Nya.</p>
<p><strong>Syarat Terjadinya Syafa&#8217;at</strong></p>
<p>Orang yang memberi syafa&#8217;at dan orang yang diberi syafa&#8217;at itupun bukan sembarang orang. Syafa&#8217;at hanya terjadi jika ada izin Allah kepada orang yang memberi syafa&#8217;at untuk memberi syafa&#8217;at dan ridha Allah kepada pemberi syafa&#8217;at dan yang disyafa&#8217;ati. Allah berfirman, <em>&#8220;Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa&#8217;at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.&#8221;</em> (Al Anbiya: 28) dan firman Allah, <em>&#8220;Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa&#8217;at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-(Nya).&#8221;</em> (An Najm: 26). Dan juga firman-Nya, <em>&#8220;Dan tiadalah berguna syafa&#8217;at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa&#8217;at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: &#8216;Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?&#8217; Mereka menjawab: &#8216;(Perkataan) yang benar, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar&#8217;.&#8221;</em> (Saba: 22-23)</p>
<p><strong>Ahli Tauhidlah Orang yang Diridhoi Allah</strong></p>
<p>Orang yang diridhoi itulah ahli tauhid. Abu Huroiroh telah bertanya kepada Nabi <em>shollAllahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8220;Siapakah orang yang paling beruntung dengan syafa&#8217;at engkau?&#8221;</em> Beliau menjawab, <em>&#8220;Ialah orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari dalam hatinya.&#8221;</em> (HR. Ahmad dan Bukhori). Mengucapkan di sini bukanlah maksudnya mengucapkan dengan lisan semata, tetapi juga harus diikuti dengan konsekuensi-konsekuensinya dengan memurnikan ibadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukannya.</p>
<p><strong>Orang Kafir Tidak Akan Menerima Syafa&#8217;at</strong></p>
<p>Allah tidak akan memberikan syafa&#8217;at kepada orang kafir, karena mereka itulah ahli syirik. Dan Allah tidak akan pernah ridho dengan kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Namun dalam hal ini dikecualikan untuk Abu Tholib, dialah satu-satunya orang musyrik yang mendapatkan syafa&#8217;at keringanan adzab dengan memandang jasanya yang begitu besar dalam melindungi Rasulullah <em>shollAllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> semasa hidupnya. Adapun orang kafir selain Abu Tholib maka tidak akan mendapatkan syafa&#8217;at sedikit pun.</p>
<p><strong>Macam-Macam Syafa&#8217;at</strong></p>
<p>Syafa&#8217;at ada bermacam macam, diantaranya ada yang khusus dilakukan oleh Nabi Muhammad, yaitu syafa&#8217;at bagi manusia ketika di padang Mahsyar dengan memohon kepada Allah agar segera memberikan keputusan hukum bagi mereka, syafa&#8217;at bagi calon penduduk surga untuk bisa masuk surga, syafa&#8217;at bagi pamannya yaitu Abu Thalib untuk mendapat keringanan adzab.</p>
<p>Ada pula syafa&#8217;at yang dilakukan oleh Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maupun para pemberi syafa&#8217;at lainnya, yaitu: Syafa&#8217;at bagi penduduk surga untuk mendapatkan tingkatan surga yang lebih tinggi dari sebelumnya, syafa&#8217;at bagi mereka yang seimbang antara amal sholihnya dengan amal buruknya untuk masuk surga, syafa&#8217;at bagi mereka yang amal buruknya lebih berat dibanding amal sholihnya untuk masuk surga, syafa&#8217;at bagi pelaku dosa besar yang telah masuk neraka untuk berpindah ke surga, syafa&#8217;at untuk masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.</p>
<p><strong>Hukum Meminta Syafa&#8217;at</strong></p>
<p>Sekarang tinggal tersisa satu permasalahan, bagaimanakah hukumnya meminta syafa&#8217;at. Telah kita ketahui bersama bahwa syafa&#8217;at adalah milik Allah, maka meminta kepada Allah hukumnya disyariatkan, yaitu meminta kepada Allah agar para pemberi syafa&#8217;at diizinkan untuk mensyafa&#8217;ati di akhirat nanti. Seperti, <em>&#8220;Ya Allah, jadikanlah Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pemberi syafa&#8217;at bagiku. Dan janganlah engkau haramkan atasku syafa&#8217;atnya&#8221;.</em></p>
<p>Adapun meminta kepada orang yang masih hidup, maka jika ia meminta agar orang tersebut berdo&#8217;a kepada Allah agar ia termasuk orang yang mendapatkan syafa&#8217;at di akhirat maka hukumnya boleh, karena meminta kepada yang mampu untuk melakukanya. Namun, jika ia meminta kepada orang tersebut syafa&#8217;at di akhirat maka hukumnya syirik, karena ia telah meminta kepada seseorang suatu hal yang tidak mampu dilakukan selain Allah. Adapun meminta kepada orang yang sudah mati maka hukumnya syirik akbar baik dia minta agar dido&#8217;akan atau meminta untuk disyafa&#8217;ati.</p>
<p>Demikianlah pembaca yang budiman, jangan sampai kita terjebak untuk meminta syafa&#8217;at langsung kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Hal ini bukan berarti kita menginkari adanya syafa&#8217;at beliau. Tetapi syafa&#8217;at hanyalah milik Allah. Bagaimana Allah hendak memberikan syafa&#8217;at-Nya kepada seseorang sementara dia berbuat syirik dengan meminta syafa&#8217;at kepada Nabi? Pantaskah bagi kita tatkala Allah telah mengikrarkan bahwa syafa&#8217;at hanya milik-Nya, kemudian kita justru meminta kepada Nabi? Sungguh andai ia meminta kepada Nabi seribu kali tetapi Allah tidak meridhoinya maka ia tidak akan mendapatkannya.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Yusuf<br />
Artikel <a title="Syafaat Hanya Milik Allah" href="http://muslim.or.id/aqidah/syafaat-hanya-milik-allah.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-379"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fsyafaat-hanya-milik-allah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fsyafaat-hanya-milik-allah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fsyafaat-hanya-milik-allah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/syafaat-hanya-milik-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

