<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Sufi</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/sufi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Nabi, Do&#8217;a Terbaik</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/doa-nabi-doa-terbaik.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/doa-nabi-doa-terbaik.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 05:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3909</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh indah apa yang dinyatakan oleh Imam Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al Qurthubi rahimahullah, beliau mengatakan, فَعَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَسْتَعْمِلَ مَا فِي كِتَابِ اللهِ وَصَحِيْحِ السُّنَّةِ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَاهُ وَلاَ يَقُوْلُ<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/doa-nabi-doa-terbaik.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong> </strong>Sungguh indah apa yang dinyatakan oleh Imam Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al Qurthubi <em>rahimahullah</em>, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">فَعَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَسْتَعْمِلَ مَا فِي كِتَابِ اللهِ وَصَحِيْحِ السُّنَّةِ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَاهُ وَلاَ يَقُوْلُ أَخْتَارُهُ كَذَا فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اخْتَارَ لِنَبِيِّهِ وَأَوْلِيَائِهِ وَعَلَّمَهُمْ كَيْفَ يَدْعُوْنَ</p>
<p><em>”Seyogyanya seorang menggunakan do’a-do’a yang tercantum dalam Al Qur-an dan berbagai hadits yang shahih (valid berasal dari nabi-peny) serta meninggalkan berbagai do’a yang tidak bersumber dari keduanya. Janganlah ia mengatakan, “Saya telah memilih do’a</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn2">[2]</a><em> sendiri (untuk diriku)”, karena Allah ta’ala telah memilihkan dan mengajarkan berbagai do’a kepada nabi dan para wali-Nya (dalam Al Qur-an dan sunnah nabi-Nya) ”</em>.<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Wejangan dan Kritik</strong></span></p>
<p>Perkataan beliau di atas merupakan wejangan sekaligus kritikan. Merupakan wejangan, karena beliau menasihati kita sebagai kaum muslimin untuk menggunakan berbagai do’a yang bertebaran di dalam Al Quran dan hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang shahih, karena berbagai do’a yang tercantum di dalam dua sumber tersebut merupakan wahyu yang nihil dari kesalahan.</p>
<p>Perkataan beliau juga merupakan kritik bagi kita yang terkadang lebih mengedepankan do’a-do’a buatan yang tidak bersumber dari keduanya. Terkadang, dalam meminta kebaikan kepada-Nya, atau memohon agar dihindarkan dari keburukan, kita lebih memprioritaskan penggunaan do’a yang diperoleh dari guru-guru spiritual, mengesampingkan do’a-do’a yang besumber dari Al Quran dan hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Al Qadhi ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Allah menginginkan untuk diminta dan Dia telah memberitahukan (berbagai macam) do’a di dalam kitab-Nya kepada makhluk-Nya. Begitu pula dengan nabi, beliau telah mengajar umatnya berbagai bentuk do’a. Do’a-do’a tersebut mengandung tiga hal, yaitu<span style="text-decoration: underline;"> ilmu tauhid, ilmu bahasa, dan nasihat </span>kepada umat ini. Oleh karena itu, seorang tidak boleh berpaling dari do’a yang diajarkan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Sangat disayangkan saat ini), syaithan telah memperdaya manusia dari kedudukan yang agung ini, dia mendatangkan orang-orang jahat yang merekayasa berbagai do’a buatan untuk mereka, sehingga mereka pun sibuk untuk mengerjakan berbagai do’a tersebut dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn4">[4]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Do’a Nabi, Do’a Terbaik </strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai pribadi yang paling mengenal Allah, tentulah merupakan pribadi yang paling tahu kebaikan apa yang paling pantas diminta kepada Rabb-nya, demikian pula beliau tentulah mengetahui bentuk keburukan yang paling pantas untuk dihindari. Dengan demikian, seorang muslim tatkala meminta kebaikan kepada Allah dalam do’anya, hendaknya dia meminta sebagaimana permintaan rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Demikian pula tatkala dia memohon perlindungan dari keburukan, hendaklah dia meminta layaknya nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meminta perlindungan kepada Allah <em>ta’ala</em>.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وينبغى للخلق أن يدعوا بالأدعية الشرعية التى جاء بها الكتاب والسنة فان ذلك لا ريب فى فضله وحسنه وأنه الصراط المستقيم صراط الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا</p>
<p><em>“Manusia sepatutnya berdo’a dengan berbagai syar’i yang terdapat dalam Al Quran dan sunnah, karena tidak disangsikan lagi akan keutamaan dan kebaikannya. Sesungguhnya itulah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Beliau juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ فَالْأَدْعِيَةُ وَالْأَذْكَارُ النَّبَوِيَّةُ هِيَ أَفْضَلُ مَا يَتَحَرَّاهُ الْمُتَحَرِّي مِنْ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَسَالِكُهَا عَلَى سَبِيلِ أَمَانٍ وَسَلَامَةٍ وَالْفَوَائِدُ وَالنَّتَائِجُ الَّتِي تَحْصُلُ لَا يُعَبِّرُ عَنْهُ لِسَانٌ وَلَا يُحِيطُ بِهِ إنْسَانٌ وَمَا سِوَاهَا مِنْ الْأَذْكَارِ قَدْ يَكُونُ مُحَرَّمًا وَقَدْ يَكُونُ مَكْرُوهًا وَقَدْ يَكُونُ فِيهِ شِرْكٌ مِمَّا لَا يَهْتَدِي إلَيْهِ أَكْثَرُ النَّاسِ</p>
<p><em>”Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dan do’a termasuk ibadah yang utama dan ibadah terbangun di atas pondasi tauqif  (terima jadi dari pembuat syari’at-peny) dan ittiba’ (mengikuti aturan syari’at-peny), bukan mengikuti keinginan pribadi dan ibtida’ (membuat-buat sendiri). Dengan demikian berbagai do’a dan dzikir yang dituntunkan oleh nabi merupakan bentuk yang terbaik. Orang yang mengikuti tuntunan nabi dalam berdo’a dan berdzikir berada di atas jalan keamanan dan keselamatan. Berbagai faedah dan buah yang dipetik (oelehnya) tidak dapat diungkapkan oleh lisan dan tidak dapat diketahui oleh manusia. Adapun berbagai dzikir selain yang dituntunkan nabi terkadang berstatus haram, makruh atau bahkan berstatus kesyirikan (yang sangat disayangkan) betapa banyak orang yang tidak memperoleh petunjuk dalam hal ini.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: center;">Satu pertanyaan penting yang patut dijawab,</p>
<p style="text-align: center;"><em>“<strong>Bagaimana bisa seorang muslim meninggalkan berbagai keutamaan dan kebaikan yang telah nyata terdapat dalam do’a-do’a yang tercantum dalam Al Quran dan lebih mengutamakan untuk memanjatkan do’a kepada-Nya dengan berbagai do’a yang dibuat-buat oleh tuan guru, kyai, ustadz, dan semisalnya, padahal belum jelas keutamaan dan kebaikan dari do’a mereka tersebut?!”</strong></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Nabi dan Sahabat pun Memperhatikan</strong></span></p>
<p>Perhatian terhadap penggunaan berbagai lafadz do’a yang syar’i juga dapat kita petik dari tindakan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat. Mereka pun turut mengingkari penggunaan do’a-do’a yang direkayasa karena mengandung <em>mudharat</em>. Berikut beberapa contoh akan hal tersebut:</p>
<ul>
<li>Di dalam hadits diterangkan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengajarkan do’a kepada para sahabatnya sebagaimana beliau mengajarkan satu surat kepada mereka<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn7">[7]</a>. Beliau mengajarkan mereka untuk memperhatikan pengucapan huruf, urutan kata di dalam do’a, melarang mereka untuk menambahi atau mengurangi, menghimbau untuk mempelajari dan menjaga lafadz do’a yang diajarkan beliau.<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn8">[8]</a></li>
<li>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menjenguk seorang yang sakit mendadak sehingga badannya pun melemah. Maka nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bertanya, <em>“Apakah engkau berdo’a atau meminta dengan lafadz do’a tertentu?”</em> Pria tersebut menjawab, “<em>Benar, saya memanjatkan do’a dengan lafadz berikut: “Wahai Allah, segala adzab yang Engkau sediakan untukku di akhirat, segerakanlah di dunia ini.”</em> Nabi pun berkata, <em>“Subhanallah, engkau tidak akan mampu memikulnya, mengapa engkau tidak mengucapkan, “Wahai Allah berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka.” </em>Anas mengatakan, <em>“Pria tersebut berdo’a dengan do’a tersebut dan Allah pun memberi kesembuhan kepadanya.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn9">[9]</a></li>
</ul>
<p>Perhatikan! Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menegur sahabat di atas karena do’a yang dipanjatkannya, do’a yang murni berasal dari dirinya sendiri mengandung kemudharatan meski motivasi sahabat memanjatkan do’a tersebut dikarenakan rasa takut beliau terhadap siksaan di akhirat kelak.</p>
<ul>
<li>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengajari sahabat Al Barra bin ‘Azib <em>radhiallahu ‘anhu</em> do’a tidur dengan lafadz berikut,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِى إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ ، رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ</p>
<p><em>“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu,menghadapkan wajahku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari ancaman-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.”</em></p>
<p>Ketika Al Barra mencoba menghafal do’a di atas, beliau keliru dan mengganti lafadz [نَبِيِّكَ] dengan   [رَسُولِكَ], nabi pun menegur dan mengoreksinya.<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn10">[10]</a> Hal ini menunjukkan perhatian nabi terhadap penggunaan do’a yang sesuai dengan tuntunan beliau, tanpa disertai tambahan dan pengurangan.</p>
<p>Imam Ibnu Hajar Al Asqalani <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وأولى ما قيل في الحكمة في رده صلى الله عليه وسلم على من قال الرسول بدل النبي ان ألفاظ الأذكار توقيفية ولها خصائص وأسرار لا يدخلها القياس فتجب المحافظة على اللفظ الذي وردت به</p>
<p><em>“Hikmah yang paling utama dari tindakan penolakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang mengucapkan lafadz rasul sebagai ganti lafadz nabi bahwasanya lafadz-lafadz dzikir adalah tauqifiyah (harus mengikuti dalil, ed) dan memiliki berbagai kekhususan dan rahasia yang tidak bisa diketahui oleh akal, sehingga wajib menggunakan berbagai lafadz do’a yang disyari’atkan (baca: terdapat dalam Al Quran dan sunnah).”<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn11"><strong>[11]</strong></a> </em></p>
<ul>
<li>Para sahabat justru mendatangi nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan meminta beliau untuk mengajarkan do’a kepada mereka, padahal mereka adalah kaum yang berilmu dan fasih dalam berbahasa. Tengoklah permintaan Abu Bakr ash shiddiq <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang meminta nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk mengajarkan sebuah do’a untuk dia ucapkan di dalam shalat.<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn12">[12]</a></li>
<li>Imam Ahmad meriwayatkan dan selainnya dari Abdullah bin Mughaffal <em>radhiallahu ‘anhu</em>, dia mendengar anaknya tengah bermunajat dengan do’a berikut,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا</p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu istana putih di surga bagian kanan jika aku memasukinya.”</em></p>
<p>Abdullah bin Mughaffal pun mengoreksi anaknya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">أَىْ بُنَىَّ سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّهُ سَيَكُونُ فِى هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِى الطُّهُورِ وَالدُّعَاءِ</p>
<p><em>“Wahai anakku, cukup engkau meminta jannah kepada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Sesungguhnya aku mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada sekelompok orang dari umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdo’a.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Perhatikan pengingkaran Ibnu Mughaffal <em>radhiallahu ‘anhu</em> terhadap do’a yang dipanjatkan anaknya, yang merupakan hasil rekayasa sang anak. Hal ini menunjukkan pada kita, do’a yang tidak bersumber dari Al Quran dan sunnah rentan keliru.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dampak Negatif Penggunaan Do’a dan Dzikir yang Diada-adakan </strong></span></p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq <em>hafizhahullah</em> mengatakan, <em>“Barangsiapa yang merenungkan realitas sebagian kaum muslimin, terlebih mereka yang berafiliasi kepada sebagian tarekat sufi, akan menjumpai bahwa mereka sibuk mengerjakan berbagai macam dzikir dan do’a yang diada-adakan (baca: bid’ah). Mereka pun membacanya siang dan malam, sepanjang pagi dan petang. Dengan sebab itu, mereka pun meninggalkan (do’a-do’a) yang terdapat dalam Al Quran, berpaling dari berbagai do’a yang berasal dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap tarekat memiliki wirid-wirid khusus yang dibaca dengan metode tertentu, sehingga setiap tarekat sufi memiliki kumpulan wirid dan hizb khusus, setiap kelompok saling membanggakan wirid dan hizib yang dimiliki dan berkeyakinan bahwa wirid tersebut lebih afdhal daripada wirid yang dimiliki tarekat sufi yang lain.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn14"><em><strong>[14]</strong></em></a></p>
<p>Serupa dengan penuturan Syaikh Abdurazzaq, pemaparan yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad al Khidr bin Mayabi Asy Syinqithi dalam kitab beliau <em>“Musytahil Kharifil Janni fii Raddi Zalaqaatit Tijanil Janni”</em>, tatkala membantah kaum sufi Tijani.</p>
<p>Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya mereka (kaum Tijani) gemar terhadap sesuatu yang asing (yang tidak berasal dari agama ini, pent-). Oleh karena itu, anda dapat melihat mereka lebih senang untuk bershalawat dengan menggunakan lafadz-lafadz shalawat yang terdapat dalam kitab Dalaa-iul Khairaat dan yang semisalnya, padahal sebagian besar riwayat tersebut tidak memiliki sanad yang shahih. Anda pun dapat melihat mereka benci untuk menggunakan berbagai lafadz shalawat yang diriwayatkan secara shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tercantum dalam Shahih Bukhari. Tidak akan anda temui seorang pun dari para ulama yang berwirid dengan lafadz-lafadz shalawat dari kitab tersebut (Dalaa-ilul Khairaat-pent). Perbuatan yang mereka lakukan itu tidak lain disebabkan karena kegemaran mereka terhadap sesuatu yang asing (bid’ah). Adapun jika kebenaran itu terlihat, tentulah seorang yang berakal, terlebih seorang ulama, tidak akan berpaling dari lafadz shalawat yang shahih dan berasal dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dirinya malah beralih kepada lafadz shalawat yang tidak terdapat dalam hadits shahih, atau bahkan beralih pada lafadz shalawat yang bersumber dari mimpi-mimpi orang yang sekilas terlihat shalih.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn15"><em><strong>[15]</strong></em></a></p>
<p>Demikianlah keadaan kaum muslimin yang terjadi saat ini. Mereka lebih mengutamakan do’a dan dzikir yang diajarkan dan dituntunkan oleh syaikh, guru, ustadz, atau kyai mereka tanpa memperhatikan bersumber dari mana do’a dan dzikir tersebut. Padahal sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> jelas merupakan suatu keburukan dan memiliki dampak negatif. Tidak terkecuali dengan berbagai ragam do’a dan dzikir bid’ah ini. Diantara dampak negatif hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Do’a dan dzikir yang bid’ah tidak mampu memenuhi tujan peribadatan, yaitu menyucikan dan membersihkan hati dari berbagai kotoran, tidak mampu menyembuhkan berbagai penyakit yang bersarang di dalam hati, apatah lagi mendekatkan hati kepada sang Pencipta. Berbeda halnya dengan do’a dan dzikir yang bersumber dari Al Quran dan hadits yang shahih, do’a dan dzikir yang bersumber dari keduanya merupakan obat yang sangat berguna untuk menghilangkan berbagai kotoran dan penyakit di dalam hati. Dengan demikian orang yang lebih memilih untuk menggunakan berbagai do’a dan dzikir yang bid’ah, adalah mereka yang lebih memilih sesuatu yang hina sebagai ganti dari sesuatu yang lebih baik.</li>
</ul>
<ul>
<li>Do’a dan dzikir bid’ah tersebut menjadikan pelakunya terluput dari pahala besar yang disediakan bagi mereka yang konsisten mengerjakan dan menerapkan dengan benar berbagai do’a dan wirid yang bersumber dari Al Quran dan sunnah. Mereka yang mengerjakan berbagai do’a dan dzikir bid’ah tersebut tidak mendatangkan pahala dan manfaat bagi, justru mereka memperoleh kemurkaan Allah <em>ta’ala</em> atas perbuatannya tersebut.</li>
</ul>
<p dir="rtl">
<ul>
<li>Do’a yang diada-adakan (bid’ah) bertentangan dengan syari’at, oleh karenanya sangat sulit terkabul, padahal tujuan dari berdo’a adalah agar permohonan kita dikabulkan. Mengapa do’a yang bid’ah tertolak? Karena nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak dituntunkan dalam agama, maka amalannya tersebut tertolak.”</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn16">[16]</a></p>
<ul>
<li>Berbagai do’a dan dzikir yang bid’ah pada umumnya mengandung berbagai perkara yang mungkar, entah karena dipraktekkan dengan keliru dan tidak pada tempatnya, sebagai perantara kesyirikan, mengandung tawassul bid’ah, atau bahkan kesyirikan yang nyata karena memanjatkan permintaan yang hanya pantas ditujukan kepada Allah, Rabbul ‘alamin. Contoh akan hal ini seperti qasidah dalam kitab Syawahidul Haqq<a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn17">[17]</a> karya Yusuf An Nabhani ash Shufi,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يا رسول الإله إني ضعيف              فاشفعني أنت مقصد للشفاء</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يا رسوا لإله إن لم تغثني                 فإلى من ترى يكون التجائي</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><em>Wahai rasulullah, sesungguhnya aku tidak berdaya</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><em>Maka berilah syafaat untuk diriku, dirimulah harapanku untuk sembuh</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><em>Wahai rasululah, jika engkau tidak menolongku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kepada siapa lagi aku berlindung</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn18">[18]</a></p>
<ul>
<li>Orang yang mempraktekkan do’a dan dzikir bid’ah dan meninggalkan tuntunan Allah dan rasul-Nya telah membarter kebaikan dengan keburukan, mengganti sesuatu yang bermanfaat dengan yang berbahaya, dan tidak disangsikan lagi hal ini tentu merupakan kerugian yang teramat nyata.</li>
</ul>
<ul>
<li>Seorang yang rutin mengerjakan berbagai do’a dan dzikir yang bid’ah pada umumnya tidak tahu akan maknanya dikarenakan berbagai wirid tersebut tersusun dari berbagai ungkapan yang asing dan tidak jelas. Padahal yang dituntut dalam berdo’a dan berdzikir adalah menghadirkan hati dan ikhlas. Bagaimana bisa hal itu tercapai jika kita tidak tahu akan makna do’a dan dzikir yang dipanjatkan?!</li>
</ul>
<p>Seorang yang berdo’a namun tidak tahu akan makna do’a yang dipanjatkan tidak bisa dikatakan dia sedang meminta atau berdo’a kepada Allah, karena dia tidak tahu apa yang sedang diminta, dia seperti seorang yang hanya menuturkan perkataan orang lain. Renungkanlah!</p>
<p><em>Waffaqaniyallahu wa iyyakum.</em></p>
<p>Buaran Indah, Tangerang, 19 Rajab 1431 H.</p>
<p>Penulis: <a href="http://ikhwanmuslim.com">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref1">[1]</a> Diadaptasi dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar karya Syaikh Abdurrazzaq al Badr.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref2">[2]</a> Pembahasan ini turut mencakup dzikir karena pada dasarnya dzikir termasuk do’a.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref3">[3]</a> Al Jami’ Li Ahkamil Qur-an 4/226.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref4">[4]</a> Al Futuhaat Ar Rabbaniyah 1/17.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref5">[5]</a> Al Fatawa 1/346.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref6">[6]</a> Al Fatawa 22/511.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref7">[7]</a> Lihat HR. Bukhari: 1109 dan Muslim: 403.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref8">[8]</a> Fathul Baari 11/183.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref9">[9]</a> HR. Muslim: 2688.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref10">[10]</a> HR. Muslim: 2710.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref11">[11]</a> Fathul Baari: 11/112.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref12">[12]</a> HR. Bukhari: 5967 dan Muslim: 2705.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref13">[13]</a> HR. Abu Dawud: 96, Ibnu Majah:</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref14">[14]</a> Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar 2/54.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref15">[15]</a> Dikutip dari Ash Shalawat karya Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad hfz.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref16">[16]</a> HR. Muslim: 1718.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref17">[17]</a> Syawahidul Haqq hlm. 352.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref18">[18]</a> Qasidah ini mengandung kesyirikan yang teramat nyata berdasarkan dua hal. <strong>Pertama</strong>, di dalamnya termuat permohonan kepada rasulullah terhadap sesuatu yang tidak mampu dilakukan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lihatlah surat Al A’raaf: 188. <strong>Kedua</strong>, permintaan ini dilakukan ketika rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah wafat, padahal rasulullah hanya mampu memohonkan kebaikan bagi seorang ketika beliau masih hidup.</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> pernah mengatakan, “Aduh,  bisa mati aku karena sakit kepala! ” Maka nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">ذَاكِ لَوْ كَانَ وَأَنَا حَىٌّ ، فَأَسْتَغْفِرُ لَكِ وَأَدْعُو لَكِ</p>
<p><em>“</em><strong><em>Jika hal itu terjadi dan aku masih hidup, maka aku akan memohon ampun dan berdo’a bagimu</em></strong>.” (HR. Bukhari: 5342).</p>
<p>Renungkanlah hadits nabi di atas! Hadits tersebut merupakan salah satu nash (dalil tegas) yang membantah keyakinan kaum muslimin yang mengagungkan kubur para wali.</p>
<div class="shr-publisher-3909"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fdoa-nabi-doa-terbaik.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fdoa-nabi-doa-terbaik.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fdoa-nabi-doa-terbaik.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/doa-nabi-doa-terbaik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sufi, Benarkah Itu Ajaran Nabi?</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 14:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan da&#8217;i yang menyeru kepada jalan Allah dengan ilmu dan keterangan. Amma ba&#8217;du. Saudara-saudaraku sekalian kaum muslimin -semoga Allah semakin mempererat tali<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi  akhir zaman dan da&#8217;i yang menyeru kepada jalan Allah dengan ilmu dan keterangan.</p>
<p><em>Amma ba&#8217;du</em>. Saudara-saudaraku sekalian  kaum muslimin -semoga Allah semakin mempererat tali persaudaraan kita  karena-Nya- perjalanan hidup kita di alam dunia merupakan sebuah proses  perjuangan untuk menggapai keridhaan-Nya. Kita hidup bukan untuk berhura-hura  atau memuaskan hawa nafsu tanpa kendali agama. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman  (yang artinya), <em>&#8220;Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan  supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. Adz-Dzariyat:  56)</p>
<p><span id="more-450"></span></p>
<p>Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah menumbuhkan kecintaan yang dalam  di dalam hati kita kepada al-Qur&#8217;an, as-Sunnah dan para sahabat <em>radhiyallahu  ta&#8217;ala &#8216;anhum</em>- sebagaimana kita sadari bersama bahwa agama Islam adalah  ajaran yang sempurna. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak  paham dan orang yang menyombongkan dirinya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang  artinya), <em>&#8220;Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama  kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam sebagai  agama kalian.&#8221;</em> (QS. Al-Maa&#8217;idah: 3)</p>
<p>Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah mencurahkan hidayah dan taufik-Nya  kepada kita untuk meniti jalan yang lurus dan tidak berpaling darinya- Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Barangsiapa yang menentang Rasul setelah  petunjuk terang benderang baginya dan dia malah mengikuti selain jalan  orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing di  dalam kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dirinya ke dalam  neraka jahannam. Dan sungguh jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat  kembali.&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217;: 115)</p>
<p>Bagi kita ajaran atau Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari kehancuran dan mata air  yang akan mengalirkan kesejukan iman. Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengisahkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Wajib  bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah/ajaranku dan ajaran para  khalifah yang berpetunjuk lagi lurus sesudahku, berpegang teguhlah dengannya  dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham serta jauhilah perkara-perkara baru  yang diada-adakan (dalam agama), sebab setiap yang diada-adakan itu adalah  bid&#8217;ah. Dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi,  Tirmidzi menilai hadits ini hasan)</p>
<p>Oleh karena itu sudah semestinya kita -sebagai orang yang mengaku beriman-  untuk mengembalikan segala bentuk perselisihan kepada Hakim yang paling  bijaksana yaitu Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman  (yang artinya), <em>&#8220;Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara  maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur&#8217;an) dan rasul (as-Sunnah), hal itu  pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya, jika kalian benar-benar  beriman kepada Allah dan hari akhir.&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217;: 59)</p>
<p>Mujahid dan para ulama salaf yang lainnya menafsirkan perintah kembali  kepada Allah dan rasul yang terdapat dalam ayat ini dengan mengatakan yaitu  kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.  Kemudian Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Ini merupakan  perintah dari Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> yang menunjukkan bahwa segala sesuatu  yang diperselisihkan orang -dalam hal pokok agama maupun cabang-cabangnya- maka  perselisihan itu harus diselesaikan dengan merujuk kepada Al-Kitab dan  As-Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang  artinya), <em>&#8220;Apa saja perkara yang kalian perselisihkan maka keputusannya  dikembalikan kepada Allah.&#8221;</em> (QS. Asy-Syura: 10). Maka apa pun yang  telah diputuskan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah serta didukung oleh dalil yang  benar dari keduanya itulah kebenaran, &#8220;<em>dan tiada lagi sesudah kebenaran  melainkan kesesatan.&#8221;</em> (lihat <em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-&#8217;Azhim</em>,  jilid 2 hal. 250).</p>
<p>Di hadapan kita terdapat persoalan yang telah membuat lisan sebagian orang  melontarkan tuduhan-tuduhan yang tak pantas kepada Ahlus Sunnah dan dakwahnya,  bahkan saking getolnya memuja keyakinan sufi yang dianggapnya benar maka dia  pun tidak segan melontarkan ucapan-ucapan aneh yang menunjukkan kerancuan  aqidah yang tertancap di dalam dadanya.</p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Kita berasal dari  Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita  bagian dari Allah.&#8221; Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata,  &#8220;Allah ada di mana-mana. Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh  dunia ini terjadi [karena] Campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di  dalam diri kita ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada  Allah.&#8221; Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Akan  tetapi Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena  sebegitu dekatnya&#8230;&#8221; Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata,  &#8220;Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi&#8230;&#8221;  ?!</p>
<p>Baiklah, memang pahit di lidah dan panas di telinga, namun terpaksa  kalimat-kalimat ini kami sebutkan di sini demi menerangkan kebenaran dan  membantah kebatilan, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bersatu  di atas kebenaran, <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
<p>Sebagai jalan untuk memecahkan persoalan ini maka akan saya kutip ucapan  indah dari orang yang sama yang telah mengucapkan kalimat-kalimat di atas.  Orang tersebut -semoga Allah menambahkan hidayah kepada-Nya- mengatakan dengan  jujur dan tulus, &#8220;Maka sebaiknya kita tanya dulu kepada Orang yang lebih  tahu daripada Kita, Karena di atas langit masih ada langit.&#8221; Alangkah  bagus ucapannya sebab bersesuaian dengan sebuah firman Allah yang mulia (yang  artinya), <em>&#8220;Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak  mengetahui suatu perkara, dengan dasar keterangan dan kitab-kitab&#8230;&#8221;</em> (QS.An-Nahl: 43-44). Tentu saja tempat kita bertanya adalah para ulama yang  mengikuti pemahaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para  sahabatnya. <em>Insya</em> Allah ucapan dan keterangan mereka akan kami sebutkan  untuk menenangkan hati dan pikiran kita.</p>
<p>Sebelum lebih jauh menanggapi hal ini, dengan memohon taufik dari-Nya maka  kami perlu kemukakan beberapa hal di sini agar duduk perkaranya menjadi jelas  dan tidak terjadi kesalahpahaman.</p>
<p>Saudaraku sekalian -semoga Allah mengokohkan kita di atas kebenaran, bukan  di atas kebatilan- ajaran Sufi yang populer dan kata orang mengajarkan  penyucian jiwa, pendekatan diri kepada Allah serta membuang jauh-jauh  ketergantungan hati kepada dunia serta mengikatkan hati manusia hanya kepada  Allah, kita telah akrab dengan istilah ini. Meskipun demikian, sebagai muslim  yang baik tentunya kita tidak akan berbicara dan bersikap kecuali dengan  landasan dalil dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Allah berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Janganlah  kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya  pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti dimintai pertanggung jawabannya.&#8221;</em> (QS. Al-Israa&#8217;: 36)</p>
<p>Saudaraku sekalian, sesungguhnya perkara penyucian jiwa, melembutkan hati  dan pendekatan diri kepada Allah serta melepaskan ketergantungan hati kepada  dunia dan mengikatkan hati manusia kepada Rabbnya merupakan ajaran Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> tanpa kita ragukan barang sedikit pun. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Sungguh Allah telah mengaruniakan nikmat  bagi orang-orang yang beriman ketika mengutus rasul dari kalangan mereka  sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka,  dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al Hikmah (As-Sunnah) padahal  sebelumnya mereka dulu berada di dalam kesesatan yang nyata.&#8221;</em> (QS. Ali  Imran: 164). Maka tugas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah  membacakan dan menerangkan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia dari  berbagai kotoran dosa dan kesyirikan, dan mengajarkan Al-Kitab dan As-Sunnah  kepada mereka.</p>
<p>Oleh karena itulah apabila kita membuka kitab-kitab hadits akan kita jumpai  di sana sebuah bab khusus yang menyebutkan riwayat-riwayat hadits Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> yang mengajarkan penyucian jiwa dan melembutkan hati.  Contohnya di dalam Sahih Bukhari, Al-Bukhari <em>rahimahullah</em> menulis Kitab <em>Ar-Riqaaq</em> (hal-hal yang dapat melembutkan hati), di sana beliau membawakan hadits-hadits  Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang terkait dengan hal ini sebanyak  seratus hadits lebih, yaitu hadits no. 6412-6593 (lihat <em>Sahih Bukhari</em> cet. Maktabah Al-Iman, halaman. 1306-1332)</p>
<p>Demikian juga murid Al-Bukhari yaitu Muslim <em>rahimahullah</em> membuat  Kitab <em>Ar-Riqaaq</em>, Kitab <em>At-Taubah</em>, Kitab <em>Shifatul Munafiqin wa  ahkamuhum</em>, Kitab <em>Shifatul qiyamah wal jannah wan naar</em>, dan lain  sebagainya hingga Kitab <em>Az-Zuhd wa raqaa&#8217;iq</em> yang mencantumkan dua ratus  hadits lebih tentang penyucian jiwa dan hal-hal yang terkait dengannya di dalam  Sahihnya (lihat <em>Sahih Muslim</em> yang dicetak bersama Syarah Nawawi, hal.  5-259). Demikian pula di antara para ulama ada yang menyusun kitab khusus  tentangnya seperti Adz-Dzahabi yang menulis kitab <em>Al-Kaba&#8217;ir</em> tentang  dosa-dosa besar. An-Nawawi yang menulis <em>Riyadhush Shalihin</em> yang mencakup  berbagai pembahasan tentang penempaan diri dan penyucian jiwa. <em>Shifatu  Shafwah</em> dan <em>Al-Latha&#8217;if</em> karya Ibnul Jauzi. Bahkan banyak kitab  hadits yang dinamakan dengan kitab <em>Az-Zuhd</em>, seperti <em>Az-Zuhd</em> karya  Abu Hatim Ar-Razi, <em>Az-Zuhd</em> karya Abu Dawud, <em>Az-Zuhd</em> karya Imam  Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain, semoga Allah merahmati mereka semua. Bukankah  dengan membaca ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, kemudian riwayat-riwayat hadits sahih serta  penjelasan ulama yang ada di dalam kitab-kitab tersebut kita dapat mempelajari  bagaimanakah menyucikan jiwa, bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan  bagaimana melepaskan ketergantungan hati kepada selain-Nya&#8230;</p>
<p>Inilah pelajaran-pelajaran akhlak dan penyucian jiwa yang disampaikan oleh  para ulama kepada kita. Sehingga kalau yang dimaksud sufi adalah itu semua  (penyucian jiwa dsb) maka akan kita katakan bahwa itulah yang diajarkan oleh  Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah alias manhaj salaf kepada umat manusia. Oleh sebab itu  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata mengenai salah satu  sifat Ahlus Sunnah, &#8220;Mereka memerintahkan untuk sabar ketika tertimpa  musibah, bersyukur ketika lapang, serta merasa ridha dengan ketetapan takdir  yang terasa pahit. Mereka juga menyeru kepada kemuliaan akhlak dan amal-amal  yang baik, mereka meyakini makna sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8216;Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik  akhlaknya.&#8217;</em>&#8230;&#8221; (<em>Aqidah Wasithiyah</em>, hal. 87). <strong>Kalau ajaran  menyucikan diri dan menggantungkan hati hanya kepada Allah -sebagaimana yang  diajarkan oleh Nabi dan para sahabat- disebut sufi maka saksikanlah bahwa saya  adalah seorang sufi!</strong></p>
<p>Namun, ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- kalau kita cermati  lebih jauh ajaran sufi atau tasawuf dan berbagai macam tarekat yang dinisbatkan  ke dalamnya beserta <em>tetek bengek</em> ajaran dan lontaran-lontaran aneh yang  mereka angkat, niscaya akan teranglah bagi kita bahwa sebenarnya ajaran Sufi  yang berkembang hingga hari ini -di dunia secara umum ataupun dinegeri kita  secara khusus- telah banyak menyeleweng dari rambu-rambu Al-Kitab dan  As-Sunnah. Sebagaimana pernah disinggung oleh Buya HAMKA <em>rahimahullah</em> di  dalam pidatonya dalam acara penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari  Universitas Al-Azhar di Mesir pada tanggal 21 Januari 1958 -lima puluh tahun  yang silam-, beliau mengatakan, &#8220;Daripada gambaran yang saya kemukakan  selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya  pembersihan aqidah daripada syirik dan bid&#8217;ah dan ajaran tasawuf yang salah,  yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada  kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.&#8221;  (<em>Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia</em>, penerbit  Tintamas Djakarta, hal. 6-7)</p>
<p>Inilah ucapan yang adil dan bijak dari orang besar seperti beliau. Berikut  ini akan kami kutip penjelasan yang diberikan oleh Bapak Hartono Ahmad Jaiz  -semoga Allah membalas kebaikannya- yang telah memaparkan mengenai sejarah  ajaran sufi ini di dalam bukunya <em>&#8216;Tasawuf Belitan Iblis&#8217;</em>. Beliau  mengatakan: &#8220;Abdur Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya <em>Al-Fikrus  Shufi fi Dhauil Kitab was Sunnah</em> menegaskan, tidak diketahui  secara tepat siapa yang pertama kali menjadi sufi di  kalangan ummat Islam. Imam Syafi&#8217;i ketika memasuki kota Mesir  mengatakan, &#8220;Kami tinggalkan kota Baghdad sementara di sana  kaum zindiq (aliran yang menyeleweng, aliran yang tidak percaya  kepada Tuhan, berasal dari Persia, orang yang  menyelundup ke dalam Islam, berpura-pura &#8211;menurut Leksikon Islam,  2, hal 778) telah mengadakan sesuatu yang baru yang mereka namakan <em>assama&#8217;</em> (nyanyian).</p>
<p>Kaum zindiq yang dimaksud Imam Syafi&#8217;i adalah  orang-orang sufi. Dan <em>assama&#8217;</em> yang dimaksudkan adalah  nyanyian-nyanyian yang mereka dendangkan. Sebagaimana  dimaklumi, Imam Syafi&#8217;i masuk Mesir tahun 199H. Perkataan Imam  Syafi&#8217;i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru.  Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya,  Imam Syafi&#8217;i sering berbicara tentang mereka, di antaranya beliau  mengatakan: &#8220;Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari,  maka siang sebelum zhuhur ia menjadi orang yang dungu.&#8221; Dia (Imam  Syafi&#8217;i) juga pernah berkata: <em>&#8220;Tidaklah seseorang menekuni tasawuf  selama 40 hari, lalu akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.&#8221;</em> (Lihat <em>Talbis Iblis</em>, hal 371). Sekian nukilan kami dari <em>Tasawuf  Belitan Iblis</em>.</p>
<p>Pembaca sekalian, dari keterangan di atas kita mengetahui bahwa Imam  Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> sendiri termasuk ulama yang mengecam kaum sufi dan  ajaran tasawufnya yang menyimpang. Agar tidak terlalu berpanjang-lebar, maka  baiklah untuk membuktikan penyimpangan mereka akan kita akan kutip kembali  pendapat dan keyakinan mereka beserta komentar atas kerancuan yang ada di  dalamnya, Allahlah pemberi petunjuk dan pertolongan kepada kita.</p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Kita berasal dari  Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita  bagian dari Allah.&#8221;</p>
<p><strong>Tanggapan:</strong></p>
<p>Yang menjadi masalah di sini adalah ucapannya &#8220;(kita) Hidup dan mati  di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.&#8221; Apakah maksud dari ucapan  ini? Apakah artinya manusia adalah bagian dari Allah sebagaimana makna yang  bisa secara langsung ditangkap dari ucapannya ataukah yang lainnya? Kalau yang  dimaksud adalah yang pertama, maka sangat jelas kebatilannya. Allah bukan hamba  dan hamba bukan Allah. Allah berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Dan tidaklah  Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan  Allah, alias hamba dan bukan tuhan atau bagian dari tuhan!</p>
<p>Kalau ada orang yang meyakini demikian -dirinya adalah Allah- maka dia  telah kafir. Lantas kalau yang dimaksud adalah makna yang lain, kita akan  bertanya apa maknanya? Kalau pun maksud yang mereka inginkan benar, maka kita  katakan bahwa ucapan-ucapan semacam ini adalah ucapan yang tidak pada tempatnya  bahkan bid&#8217;ah! Adakah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan demikian? Adakah para sahabat, imam yang empat mengajarkan  demikian? Bacalah kitab-kitab tafsir dan hadits&#8230; Wajarlah apabila Imam  Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> mengatakan, <strong>&#8220;Seandainya seseorang  menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelumz dhuhur ia menjadi orang  yang dungu.&#8221;</strong> Cobalah kaum sufi itu berguru kepada Imam Syafi&#8217;i. Beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Aku beriman kepada Allah serta apa yang  datang dari Allah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Dan aku beriman  kepada Rasulullah serta apa yang disampaikan oleh Rasulullah sebagaimana yang  diinginkan oleh Rasulullah.&#8221; (lihat <em>Lum&#8217;at Al-I&#8217;tiqad</em>). Apakah  Allah atau Rasul-Nya mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah bagian dari-Nya?  Kita hidup dan mati di dalam diri-Nya? Allah Maha suci dari ucapan  mereka.</p>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Allah ada di mana-mana.  Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh dunia ini terjadi [karena] Campur  tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri kita ada Tuhan, manusia  sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada Allah.&#8221;</p>
<p><strong>Tanggapan:</strong></p>
<p>Aneh bin ajaib! Menurutnya Allah di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana.  Di dalam diri kita -katanya- ada Tuhan&#8230; [?] Maha suci Allah&#8230; Ucapan semacam  inilah yang membuat orang semakin bertambah dungu -sebagaimana disinggung oleh  Imam Syafi&#8217;i di atas-, adakah orang berakal yang mengucapkan perkataan seperti  ini, &#8220;Allah ada di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana&#8221; Allahu  akbar! Apakah ada anak kecil yang mengatakan, &#8220;Saya laki-laki tapi bukan  laki-laki&#8221; [?]</p>
<p>Padahal Allah <em>ta&#8217;ala</em> sendiri berfirman tentang diri-Nya (yang  artinya), <em>&#8220;Ar-Rahman menetap tinggi di atas Arsy.&#8221;</em> (QS. Thaha:  5). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Jalan yang selamat dalam hal ini adalah jalan ulama salaf yaitu  memberlakukannya sebagaimana adanya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa  membagaimanakan, tanpa menyelewengkan, tanpa menolak, dan tanpa  menyerupakan.&#8221; (<em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-&#8217;Azhim</em>, jilid 5 hal. 202).  Apakah ayat ini menunjukkan bahwa Allah membutuhkan Arsy sebagaimana sangkaan  sebagian orang? Sama sekali tidak. Abu Ja&#8217;far Ath-Thahawi <em>rahimahullah</em> di dalam kitab <em>Aqidah Thahawiyah</em>nya, yang menjadi rujukan ulama dari  keempat madzhab mengatakan, &#8220;Dan Dia (Allah) tidak membutuhkan Arsy dan  apa pun yang berada di bawahnya, Allah meliputi segala sesuatu dan Dia berada  di atasnya&#8230;&#8221; (dinukil dari Syarah Ibnu Abil &#8216;Izz dengan tahqiq  Al-Albani, hal. 280)</p>
<p>Dikisahkan bahwa Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> pernah ditanya  mengenai orang yang mengatakan, &#8220;Aku tidak mengetahui apakah Rabbku di  atas langit atau di bumi.&#8221; Maka beliau menjawab bahwa orang yang  mengucapkan itu telah kafir, sebab Allah telah berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Ar-Rahman  menetap tinggi di atas Arsy.&#8221;</em> (QS. Thaha: 5). Sedangkan Arsy-Nya  berada di atas tujuh lapis langit-Nya.&#8221; Kemudian ditanyakan lagi kepadanya  bagaimana kalau dia mengatakan, &#8220;Allah berada di atas Arsy, tapi aku tidak  tahu apakah Arsy itu di atas langit atau di bumi.&#8221; Maka Abu Hanifah  berkata, &#8220;Dia juga kafir. Sebab dia telah mengingkari Allah berada di atas  langit. Barangsiapa yang mengingkari Allah berada di atas langit maka dia  kafir.&#8221; (<em>Syarh Ath-Thahawiyah</em>, hal. 288). (Akan tetapi dalam  prakteknya sekarang tentunya kita tidak begitu saja mengatakan kafir apabila  bertemu orang yang berkata seperti di atas, karena untuk mengafirkan masih ada  syarat-syarat lain yang harus dipenuhi -ed)</p>
<p><strong>Ketiga:</strong></p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Akan tetapi Dzat  Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>Tanggapan:</strong></p>
<p><em>Subhanallah</em>, tidak henti-hentinya kaum  sufi ini berdusta dan mempermainkan kata-kata semaunya. Apakah Al-Qur&#8217;an dan  As-Sunnah menyatakan bahwa Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia,  karena sebegitu dekatnya? Sekali lagi inilah bukti bahwa orang-orang sufi telah  meninggalkan ilmu dan terpedaya dengan akal mereka yang rusak. Untuk menanggapi  ucapan semacam ini cukuplah kami kutip fakta sejarah yang dibawakan oleh  penulis buku <em>Tasawuf Belitan Iblis</em> berikut ini:</p>
<p>&#8220;Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal perkembangannya  hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa  seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan keempat Hijriyah  berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat agama Majusi,  kemusyrikan yang menyembah api, kemudian menjadi pusat Agama  Syi&#8217;ah), tidak ada yang berasal dari Arab.</p>
<p>Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah dan hukum,  pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain bin Manshur  Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan penguasa, yakni  dia menyatakan bahwa Allah menyatu dengan dirinya, sehingga  para ulama yang semasa dengannya menyatakan bahwa dia telah kafir  dan harus dibunuh. Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap  Husain bin Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian, sufisme  tetap menyebar di negeri Parsi, bahkan kemudian berkembang di  Irak.&#8221; (Sekian nukilan kami)</p>
<p>Kalau mereka mengatakan bahwa Allah bisa menyatu dalam diri mereka, lantas  buat apa mereka beribadah, lantas untuk apa mereka menyembah, kalau semua orang  mengaku dirinya adalah Allah maka siapakah yang akan disembah? Maha suci Allah,  ini adalah kedustaan yang sangat besar! Kemudian, kalau mereka maksudkan dengan  ucapan-ucapan itu makna yang lain, maka akan kita katakan bahwa ucapan ini  adalah bid&#8217;ah dan tidak dikenal oleh para ulama salaf. Kalau ucapan-ucapan  semacam ini dibiarkan maka syariat Islam akan berantakan. Ketika ada seorang lelaki  yang berkata kepada orang tua mempelai perempuan, &#8220;Saya terima nikahnya  Fulanah binti Fulan.&#8221; Kemudian setelah itu dia akan berkata kepada si  mertua &#8220;Saya terima nikahnya tapi tidak menerima nikahnya.&#8221; Lah,  bagaimana ini? Sejak kapan orang-orang itu menjadi kehilangan akalnya? Rumah  sakit jiwa lebih layak bagi orang-orang semacam itu daripada masjid.</p>
<p><strong>Keempat:</strong></p>
<p>Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, &#8220;Seluruh Imam  Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi..&#8221;</p>
<p><strong>Tanggapan:</strong></p>
<p>Saudaraku, kalau memang ajaran <a title="Benarkah Sufi Ajaran Nabi?" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html">sufi</a> dengan berbagai macam aliran tarekatnya  adalah benar dan para imam madzhab mengikutinya apa alasan kami untuk tidak  mengikuti kalian? Namun yang menjadi masalah adalah ajaran-ajaran sufi telah  jelas terbukti penyimpangannya. Imam Syafi&#8217;i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan  para ulama yang lain telah memaparkan kepada kita tentang kesesatan ajaran  mereka. Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah bagi orang sufi sekedar kata-kata yang bisa  dipermainkan ke sana kemari. Allah <em>ta&#8217;ala</em> mengatakan bahwa Allah itu esa  (<em>Qul Huwallahu Ahad</em>). Sementara orang-orang sufi mengatakan Allah  menyatu dalam diri hamba-hambaNya, <strong>padahal hamba Allah itu banyak</strong>. Allah  mengatakan bahwa diri-Nya tinggi berada di atas Arsy-Nya, sementara orang-orang  sufi mengatakan Allah di mana-mana tapi juga tidak di mana-mana. <em>Allahul  musta&#8217;an</em>, kalau memang boleh mengatakan demikian maka kita juga akan  mengatakan &#8220;Semua Imam Madzhab pada akhirnya kembali kepada Wahabi.  Kecuali sufi.&#8221; <em>Allahu yahdik</em>.</p>
<p>Saudaraku, kami tidak bermaksud untuk mencaci maki siapa pun, kami hanya  ingin saudara kami kembali ke jalan yang benar, itu saja. Syaikh Ihsan Ilahi  Zahir -<em>rahimahullah</em>- dalam kitabnya: <em>Tashawwuf Al-Mansya&#8217; Walmashdar</em> (Tasawuf, Asal Muasal dan Sumber-Sumbernya) [halaman 28] berkata: &#8220;Jika  kita amati ajaran-ajaran tasawuf dari generasi pertama hingga akhir serta  ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam  kitab-kitab tasawuf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa di  sana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasawuf dengan ajaran-ajaran al-Quran  dan as-Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya  dalam sirah (sejarah) Rasulullah serta para sahabatnya yang mulia yang  merupakan makhluk-makhluk pilihan Allah. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa  tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual  Yahudi dan kezuhudan Buda&#8221; (sebagaimana dikutip oleh Syaikh Dr. Shalih bin  Fauzan <em>hafizhahullah</em> -salah seorang ulama besar Saudi Arabia- dalam  bukunya <em>Hakikat Tasawuf</em> [terjemah], hal. 20)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Orang  yang meniti jalan kefakiran, tasawuf, zuhud dan ibadah; apabila dia tidak  berjalan dengan bekal ilmu yang sesuai dengan syariat maka akibat tanpa  bimbingan ilmu itulah yang membuatnya tersesat di jalan, dan dia akan lebih  banyak merusak daripada memperbaiki. Sedangkan orang yang meniti jalan fikih,  ilmu, pengkajian dan kalam; apabila dia tidak mengikuti aturan syariat dan  tidak beramal dengan ilmunya, maka akibatnya akan menjerumuskan dia menjadi  orang yang <em>fajir</em> (berdosa) dan tersesat di jalan. Inilah prinsip yang  wajib dipegang oleh setiap muslim. Adapun sikap fanatik untuk membela suatu  urusan apa saja tanpa landasan petunjuk dari Allah maka hal itu termasuk  perbuatan kaum jahiliyah.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, juz 2 hal. 444.  Asy-Syamilah)</p>
<p>Sebelum menutup tulisan ini, perlu kiranya kita ingat bersama dampak yang  timbul akibat merebaknya ajaran sufi ini di masyarakat -khususnya di negeri  kita ini- sebagaimana yang pernah kami saksikan sendiri bahkan kami dahulu  termasuk di antara mereka -dengan taufik dari Allahlah kami meninggalkannya dan  menemukan manhaj salaf yang mulia ini-, perhatikanlah dengan mata yang jernih  dan pikiran yang tenang&#8230; bukankah tersebarnya pemujaan kubur-kubur wali dan  orang-orang salih -yang notabene adalah syirik dan bid&#8217;ah- di negeri ini timbul  karena dakwah dan ajaran sufi? Cermatilah wahai saudaraku yang cerdas&#8230; betapa  ramainya kubur para wali dikunjungi dan dijadikan tempat untuk mencari berkah,  berdoa, beristighotsah dan bertawassul dengan orang-orang yang sudah mati. Dimanakah  gerangan itu terjadi?, apakah di pusat-pusat dakwah salafiyah -yang hakiki-  ataukah di pusat-pusat dakwah salafiyah yang sebenarnya lebih layak untuk  disebut sufi? Padahal, kita semua mestinya sudah mengerti bahwa dosa kesyirikan  adalah dosa yang tidak diampuni. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Sesungguhnya  Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah  tingkatan syirik itu bagi orang yang dikehendaki-Nya.&#8221;</em> (QS. An-Nisaa&#8217;:  48)</p>
<p>Sebagaimana pula kebid&#8217;ahan bukan semakin menambah pelakunya dekat dengan  Allah, namun justru semakin dekat dengan syaitan. Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Barangsiapa yang mengerjakan suatu  amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.&#8221;</em> (HR. Bukhari  dan Muslim, ini salah satu lafazh Muslim). Simaklah keterangan Ibnu Hajar dan  An-Nawawi berikut ini&#8230; semoga hati kita menjadi semakin mantap mengikuti  kebenaran&#8230;. Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Hadits  ini tergolong pokok ajaran Islam dan salah satu kaidahnya. Makna dari hadits  ini adalah; barangsiapa yang mereka-reka sesuatu dalam urusan agama yang tidak  didukung dengan dalil di antara dalil-dalil agama yang ada maka hal itu tidak diakui.&#8221;  (<em>Fath Al-Bari</em>, 5/341, lihat juga keterangan serupa oleh An-Nawawi dalam <em>Syarh  Muslim</em>, 6/295). An-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Di dalamnya  terkandung bantahan bagi segala bentuk perkara yang baru (dalam agama), sama  saja apakah yang menciptakan itu adalah pelakunya atau ada orang lain yang  lebih dulu membuatnya.&#8221; (<em>Syarh Muslim</em>, 6/295). Itulah ucapan yang  adil dan bijak dari dua orang ulama besar penganut madzhab Syafi&#8217;i&#8230;</p>
<p>Sungguh bijak ucapan buya HAMKA <em>rahimahullah</em> yang mengatakan,  &#8220;Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita  memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah dari syirik, bid&#8217;ah dan  ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman,  dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran  Islam sejati.&#8221; (<em>Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di  Indonesia</em>, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7. Buku ini dapat didownload  di <a title="Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia" href="http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=download&amp;op=viewlink&amp;cid=25&amp;PHPSESSID=677ecd8fa522664a7edf432b1b394f9d" target="_blank">perpustakaanislam.com</a>).</p>
<p>Semoga Allah berkenan memberikan taufik kepada saudara-saudara kami  yang meninggalkan jalan yang lurus agar mereka kembali menuju jalan yang lurus  itu kembali. Alangkah senangnya hati kami jika saudara-saudara kami mendapatkan  hidayah, sebagaimana kami juga meminta kepada-Nya dengan nama-namaNya yang  terindah dan sifat-sifatNya yang maha tinggi untuk mewafatkan kita di atas  jalan yang lurus itu dalam keadaan Allah meridhai kita dan mengampuni segala  dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha  mengabulkan doa.</p>
<p><em>Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa  sallam</em>. <em>Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Benarkah Sufi Ajaran Nabi?" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-450"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsufi-benarkah-ajaran-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsufi-benarkah-ajaran-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsufi-benarkah-ajaran-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/sufi-benarkah-ajaran-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>79</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Tasawuf (3)</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 07:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Sekte-Sekte Dalam Ajaran Tasawuf* * Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh DR. Muhammad bin Rabi&#8217; Al Madkhali dalam kitabnya Haqiqat Ash Shufiyyah (hal.18-21), dengan sedikit perubahan. Kita dapat membagi ajaran tasawuf yang ekstrem ke<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Sekte-Sekte  Dalam Ajaran Tasawuf*</strong></p>
<p><strong>*</strong> <em>Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh DR.  Muhammad bin Rabi&#8217; Al Madkhali dalam kitabnya Haqiqat Ash Shufiyyah  (hal.18-21), dengan sedikit perubahan.</em></p>
<p>Kita dapat  membagi ajaran tasawuf yang ekstrem ke dalam tiga sekte:</p>
<p><strong>Pertama, sekte Al Isyraqi</strong>, sekte ini didominasi oleh ajaran filsafat bersama sifat  zuhud. Yang dimaksud dengan Al Isyraqi (penyinaran) adalah penyinaran jiwa yang  memancarkan cahaya dalam hati, sebagai hasil dari pembinaan jiwa dan  penggemblengan ruh disertai dengan penyiksaan badan untuk membersihkan dan  menyucikan ruh, yang ajaran ini sebenarnya ada pada semua sekte-sekte tasawuf,  akan tetapi ajaran sekte ini cuma sebatas pada penyimpangan ini dan tidak  sampai membawa mereka kepada ajaran Al Hulul (menitisnya Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> ke dalam diri makhluk-Nya) dan <em>Wihdatul Wujud</em> (bersatunya wujud Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan wujud  makhluk /<em>Manunggaling Gusti ing kawulo</em> – Maha Suci Allah dari apa yang  mereka sifatkan), meskipun demikian ajaran sekte ini bertentangan dengan ajaran  islam, karena ajaran ini diambil dari ajaran agama-agama lain yang menyimpang,  seperti agama Budha dan Hindu.</p>
<p><span id="more-409"></span></p>
<p><strong>Kedua, sekte Al Hulul</strong>, yang berkeyakinan bahwa Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> bisa bertempat/menitis dalam diri manusia -Maha Suci  Allah <em>&#8216;azza  wa jalla</em> dari sifat ini-. Keyakinan  ini diserukan oleh beberapa tokoh-tokoh ekstrem ahli Tasawuf, seperti Hasan bin  Manshur Al Hallaj, yang karenanya para Ulama memfatwakan kafirnya orang ini dan  dia harus dihukum mati, yang kemudian dia dibunuh dan disalib -Alhamdulillah-  pada tahun 309 H. Di dalam Sya&#8217;ir yang dinisbatkan kepadanya dia berkata (kitab <em>At Thawasiin</em>, tulisan Al Hallaj hal.130):</p>
<p><em>Maha suci (Allah) yang Nasut (unsur/sifat  kemanusiaan)-Nya telah menampakkan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>rahasia cahaya Lahut (unsur/sifat ketuhanan)-Nya yang  menembus</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lalu Tampaklah Dia dengan jelas pada (diri) makhluk-Nya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk-Nya</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata</em></p>
<p>Dalam sya&#8217;ir lain (kitab <em>Al Washaaya</em>, tulisan Ibnu  &#8216;Arabi (hal.27), -Maha Suci Allah dari sifat-sifat kotor yang mereka sebutkan-)  dia berkata:</p>
<p><em>Aku adalah yang mencintai dan yang mencintai adalah aku</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>kami adalah dua ruh yang bertempat di dalam satu jasad</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka jika kamu melihatku (berarti) kamu melihat Dia</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dan jika kamu melihat Dia (berarti) kamu melihat kami</em></p>
<p>Memang Al Hallaj -seorang tokoh besar dan populer di  kalangan orang-orang ahli Tasawuf ini- adalah penganut sekte Al Hulul, dia  meyakini <em>Dualisme hakikat ketuhanan</em> dan beranggapan bahwa Al Ilah (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>) memiliki dua tabiat yaitu: <em>Al Lahut</em> (unsur/sifat  ketuhanan) dan <em>An Nasut</em> (unsur/sifat kemanusiaan/kemakhlukan), yang  kemudian Al Lahut menitis ke dalam An Nasut, maka ruh manusia -menurut Al  Hallaj- adalah Al Lahut ketuhanan yang sebenarnya dan badan manusia itu adalah  An Nasut.</p>
<p>Kemudian meskipun <em>bandit besar</em> ini telah dihukum  mati karena ke<em>-zindiq</em>an-nya sehingga sebagian orang-orang ahli <a title="Hakikat Tasawuf" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html">Tasawuf</a> menyatakan  berlepas diri darinya-, tetap saja ada orang-orang ahli Tasawuf yang  menganggapnya sebagai tokoh besar ahli tasawuf, bahkan mereka membenarkan  keyakinan sesat dan perbuatannya, dan mengumpulkan serta membukukan  ucapan-ucapan kotornya, mereka itu di antaranya adalah Abul &#8216;Abbas bin &#8216;Atha&#8217;  Al Baghdadi, Muhammad bin Khafif Asy Syirazi dan Ibrahim An Nashrabadzi,  sebagaimana hal tersebut dinukil oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam kitab beliau <em>Tarikh Al Baghdad</em> (8/112).</p>
<p><strong>Ketiga, sekte Wihdatul Wujud</strong>, yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya  adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain  merupakan perwujudan/penampakan Zat Ilahi (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>) -maha suci Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dari segala keyakinan kotor mereka-. <em>Dedengkot</em> sekte ini adalah <em>wong elek</em> yang bernama Ibnu &#8216;Arabi Al Hatimi Ath  Thai (Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin &#8216;Ali bin  Muhammad bin Ahmad Ath Thai Al Hatimi Al Mursi Ibnu &#8216;Arabi, lihat <em>Siar Al A&#8217;lam  An Nubala&#8217;</em> tulisan Imam Adz Dzahabi 16/354) yang <em>binasa</em> pada  tahun 638 H dan dikuburkan di Damaskus.</p>
<p>Dalam kitabnya <em>Al Futuhat Al Makkiyah</em> (seperti yang dinukilkan oleh DR. Taqiyuddin Al Hilali dalam  kitabnya <em>Al Hadiyyatul Haadiyah</em> hal.43) dia menyatakan keyakinan  kufur ini dengan ucapannya:</p>
<p><em>Hamba adalah tuhan dan tuhan adalah hamba</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas (melaksanakan  syariat)?</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Jika kau katakan: hamba, maka dia adalah tuhan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Atau kau katakan: tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi  tugas?!</em></p>
<p>Dan dalam kitabnya yang lain <em>Fushushul Hikam</em> (hal.192) dia <em>ngelindur:</em> &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menyembah  anak sapi, tidak lain yang mereka sembah kecuali Allah&#8221;.</p>
<p>Meskipun demikian, orang-orang ahli Tasawuf malah  memberikan gelar-gelar kehormatan yang tinggi kepada Ibnu &#8216;Arabi, seperti gelar <em>Al &#8216;Arif Billah</em> (orang yang mengenal Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dengan sebenarnya), <em>Al Quthb Al Akbar</em> (pemimpin  para wali yang paling agung), <em>Al Misk Al Adzfar</em> (minyak kesturi yang  paling harum), dan <em>Al Kibrit Al Ahmar</em> (Permata yang merah berkilau),  padahal orang ini terang-terangan memproklamirkan keyakinan <em>Wihdatul Wujud</em> dan keyakinan-keyakinan kufur dan rusak lainnya, seperti pujian dia terhadap  Firaun dan keyakinannya bahwa Firaun mati di atas keimanan, celaan dia terhadap  Nabi Harun <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> yang mengingkari  kaumnya yang menyembah anak sapi -yang semua ini jelas-jelas bertentangan  dengan nash Al Quran-, dan keyakinan dia bahwa kafirnya orang-orang Nasrani  adalah karena mereka hanya mengkhususkan Nabi &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> sebagai Tuhan, yang kalau seandainya mereka tidak  mengkhususkannya maka mereka tidak dikafirkan.</p>
<p><strong>Beberapa  Contoh Penyimpangan dan Kesesatan Ajaran Tasawuf</strong></p>
<p>Berikut kami akan nukilkan beberapa ucapan dan keyakinan  sesat dan kufur dari tokoh-tokoh yang sangat diagungkan oleh orang-orang ahli  Tasawuf, yang menunjukkan besarnya penyimpangan ajaran ini dan sangat jauhnya  ajaran ini dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Ibnu Al  Faridh yang <em>binasa</em> pada tahun 632 H, tokoh besar sufi yang menganut  paham <em>wihdatul wujud</em> dan meyakini bahwa seorang hamba bisa menjadi  Tuhan, bahkan -yang lebih kotor lagi- dia menggambarkan sifat-sifat Tuhannya  seperti sifat-sifat wanita, sampai-sampai dia menganggap bahwa Tuhannya telah  menampakkan diri di hadapan Nabi Adam <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam bentuk Hawwa (istri Nabi Adam <em>&#8216;alaihis salam</em>)?! Untuk lebih jelas silakan merujuk pada kitab <em>Hadzihi  Hiya Ash Shufiyyah</em> (hal. 24-33), tulisan Syaikh Abdurrahman al Wakil yang  menukil ucapan-ucapan kufur Ibnu Al Faridh ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Ibnu &#8216;Arabi  dalam kitabnya <em>Fushushul Hikam</em> yang berisi segudang kesesatan dan  kekufuran. Dalam kitabnya ini dia mengatakan bahwa Rasullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lah yang memberikan padanya kitab ini, dan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya: &#8220;Bawalah dan sebarkanlah kitab  ini pada manusia agar mereka mengambil manfaat darinya&#8221;, kemudian Ibnu &#8216;Arabi  berkata: &#8220;Maka aku pun (segera) mewujudkan keinginan (Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) itu seperti yang beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentukan padaku tidak lebih dan tidak kurang, kemudian  Ibnu &#8216;Arabi berkata:</p>
<p><em>(Kitab ini) dari Allah, maka dengarkanlah!</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>dan kepada Allah kembalilah!</em></p>
<p>(<em>Fushushul Hikam, </em>dengan perantaraan kitab <em>Hadzihi  Hiya Ash Shufiyyah</em> hal.19)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, At  Tilmisani, seorang tokoh besar Tasawuf, ketika dikatakan padanya bahwa kitab  rujukan mereka <em>Fushushul Hikam</em> bertentangan dengan Al Quran, dia  malah menjawab, &#8220;Seluruh isi Al Quran adalah kesyirikan, dan  sesungguhnya Tauhid hanya ada pada ucapan kami&#8221;. Maka dikatakan lagi  kepadanya, &#8220;Kalau kalian mengatakan bahwa seluruh yang ada (di alam  semesta) adalah satu (esa), mengapa seorang istri halal untuk disetubuhi,  sedangkan saudara wanita haram (disetubuhi)?&#8221; Maka dia menjawab, &#8220;Menurut  kami semuanya (istri dan saudara wanita) halal (untuk disetubuhi), akan tetapi  orang-orang yang terhalang dari penyaksian keesaan seluruh alam, mengatakan  bahwa saudara wanita haram (disetubuhi), maka kami pun ikut-ikut mengatakan  haram&#8221;. (Dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, lihat <em>Majmu&#8217;ul  Fatawa</em> 13/186)</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Abu Yazid  Al Busthami, yang pernah berkata: Aku heran terhadap orang yang telah mengenal  Allah, mengapa dia tetap beribadah kepada-Nya?! (Dinukil  oleh Abu Nu&#8217;aim Al Ashbahani dalam kitabnya <em>Hilyatul Auliya&#8217;</em>, 10/37).  Dia juga berkata, &#8220;Sungguh aku telah menghimpun amalan ibadah seluruh  penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, kemudian aku masukkan ke dalam bantal dan  aku letakkan di bawah pipiku&#8221; (<em>Hilyatul Auliya&#8217;</em> 10/35-36).</p>
<p><strong>Kelima</strong>, Abu Hamid  Al Ghazali, seorang yang termasuk tokoh-tokoh ahli Tasawuf yang paling besar  dan tenar, di dalam kitabnya <em>Ihya &#8216;Ulumud Din</em> ketika dia membicarakan  tingkatan-tingkatan dalam tauhid, dia mengatakan, &#8220;Dalam Tauhid ada empat  tingkatan: &#8230; Tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">kedua</span>: Dengan membenarkan makna lafazh di  dalam hati sebagaimana yang dilakukan oleh umumnya kaum muslimin, dan ini  adalah keyakinannya orang-orang awam?! Tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">ketiga</span>:  mempersaksikan makna tersebut dengan jalan <em>Al Kasyf</em> (penyingkapan tabir)  melalui perantaraan cahaya Al Haq (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> ) dan ini adalah tingkatan <em>Al Muqarrabin</em>, yaitu  dengan seseorang melihat banyaknya makhluk (di alam semesta), akan tetapi dia  melihat semuanya bersumber dari Zat Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa, dan  tingkatan yang <span style="text-decoration: underline;">keempat</span>: dengan tidak menyaksikan di alam semesta ini  kecuali satu zat yang esa, dan ini merupakan penyaksian para <em>Shiddiqin</em>,  dan diistilahkan oleh orang ahli Tasawuf dengan sebutan: <em>Al Fana&#8217; Fit Tauhid</em> (telah melebur dalam tauhid/pengesaan) karena dia tidak melihat kecuali satu,  bahkan dia tidak melihat dirinya sendiri&#8230; Dan inilah puncak tertinggi dalam  tauhid.</p>
<p>Jika anda bertanya bagaimana mungkin seseorang tidak  melihat kecuali hanya satu saja, padahal dia melihat langit, bumi dan semua  benda-benda yang benar-benar nyata, dan itu banyak sekali? dan bagaimana  sesuatu yang banyak menjadi hanya satu? Ketahuilah bahwa ini adalah puncak ilmu <em>Mukasyafat</em> (tersingkapnya tabir) (maksudnya adalah  cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa  dan perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan Al  Quran dan As Sunnah, -pen), dan rahasia-rahasia ilmu ini tidak boleh  ditulis dalam sebuah kitab, karena orang-orang yang telah mencapai tingkatan Ma&#8217;rifah  berkata, &#8216;membocorkan rahasia ketuhanan adalah kekafiran&#8217;. Sebagaimana seorang  manusia dikatakan banyak bila anda melihat rohnya, jasad, sendi-sendi,  urat-urat, tulang belulang dan isi perutnya, padahal dari sudut pandang  lain dikatakan dia adalah satu manusia&#8221; (Lihat kitab <em>Ihya  &#8216;Ulumud Din</em> 4/241-242).</p>
<p>Al Ghazali juga berkata, &#8220;Pandangan terhadap tauhid  jenis pertama, yaitu pandangan tauhid yang murni, dengan pandangan ini, Anda  pasti akan dikenalkan bahwa Dialah yang bersyukur dan disyukuri, dan Dialah  yang mencintai dan dicintai, ini adalah pandangan orang yang meyakini bahwa  tidaklah ada di alam semesta ini melainkan Dia (Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>)&#8221; (Ibid, 4/83).</p>
<p><strong>Keenam</strong>, Asy Sya&#8217;rani,  seorang tokoh besar Tashawuf yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul <em>Ath  Thabaqat Al Kubra</em>, yang memuat biografi tokoh-tokoh ahli Tasawuf dan  kisah-kisah (kotor) yang dianggap oleh orang-orang ahli Tasawuf sebagai tanda  kewalian. Di antaranya kisah seorang wali (?) yang bernama Ibrahim Al &#8216;Uryan,  orang ini bila naik mimbar dan berceramah selalu dalam keadaan telanjang  bulat!? (lihat <em>At Thabaqat Al Kubra</em> 2/124)</p>
<p>Kisah lainnya tentang seorang (wali Setan) yang bernama  Syaikh Al Wuhaisyi yang bertempat tinggal di rumah pelacuran, yang mana setiap  ada orang yang selesai berbuat zina, dan hendak meninggalkan tempat tersebut,  dia berkata kepadanya: &#8220;Tunggulah sebentar hingga aku selesai memberikan  syafaat untukmu sebelum engkau meninggalkan tempat ini!?&#8221; Dan di antara  kisah tentang orang ini: bahwa setiap kali ada seorang pemuka agama setempat  sedang menunggang keledai, dia memerintahkannya untuk segera turun, lalu  berkata kepadanya: Peganglah kepala keledaimu, agar aku dapat melampiaskan  birahiku padanya!? (lihat <em>At Thabaqat Al Kubra</em> 2/129-130)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita semua  bahwa ajaran Tasawuf adalah ajaran sesat yang menyimpang sangat jauh dari  petunjuk Al Quran dan As Sunnah, yang dengan mengamalkan ajaran ini -<em>na&#8217;udzu  billah min dzalik</em>- seseorang bukannya makin dekat kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, tapi malah semakin jauh dari-Nya, dan hatinya bukannya  makin bersih, akan tetapi malah semakin kotor dan penuh noda. Kemudian jika  timbul pertanyaan, &#8220;Kalau begitu usaha apa yang harus kita lakukan dalam  upaya untuk menyucikan jiwa dan hati kita?&#8221;, Maka jawabannya adalah  sederhana sekali, yaitu, <strong>Pelajari dan amalkan syariat islam ini lahir dan  batin, maka dengan itulah jiwa dan hati kita akan bersih </strong>(untuk lebih jelasnya silakan pembaca menelaah  kitab <em>Manhajul Anbiya&#8217; fii Tazkiyatin Nufus</em> tulisan Syaikh Salim Al  Hilali, yang ditulis khusus untuk menjelaskan masalah penting ini),  karena di antara tugas utama yang dibawa para Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah menyucikan jiwa dan hati manusia dengan  mengajarkan kepada mereka syariat Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, sebagaimana firman Allah:</p>
<p class="arab">لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْأَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُالْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ</p>
<p><em>&#8220;Sungguh  Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah  mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang  membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan  mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya  sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang  nyata&#8221;</em>. (QS. Ali &#8216;Imran:  164).</p>
<p>Maka orang yang paling banyak memahami dan mengamalkan  petunjuk Al Quran dan As Sunnah dengan baik dan benar, maka dialah orang yang  paling bersih dan suci  hati dan jiwanya  dan dialah orang yang paling bertakwa kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>, karena semua orang berilmu sepakat mengatakan bahwa: &#8220;Penghalang  utama yang menghalangi seorang manusia untuk dekat kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> adalah (kekotoran) jiwanya&#8221;  (Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya <em>Igatsatul  Lahafan</em> dan <em>Al Fawa&#8217;id</em>). Oleh karena inilah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempermisalkan petunjuk dan ilmu yang Allah turunkan  kepada beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan air  hujan yang Allah turunkan dari langit, karena sebagaimana fungsi air hujan  adalah untuk menghidupkan, membersihkan dan menumbuhkan kembali tanah yang  tandus dan gersang, maka demikian pula petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh  Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah untuk  menghidupkan, menyucikan dan menumbuhkan hati manusia, dalam hadits Abi Musa Al  &#8216;Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ  غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضاً&#8230; الحديث</p>
<p><em>&#8220;</em><em>Sesungguhnya permisalan dari petunjuk dan ilmu yang aku  bawa dari Allah adalah seperti hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi&#8230;&#8221;</em> (HR. Bukhari 1/175, <em>Fathul Bari</em> dan Muslim  no. 2282).</p>
<p>Semoga tulisan ini Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> jadikan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi  semua orang yang membacanya.</p>
<p class="arab">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا  محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا الحمد لله رب العالمين.</p>
<p class="arab" style="text-align: left;">***</p>
<p class="arab" style="text-align: left;">Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.<br />
Artikel <a title="Hakikat Tasawuf" href="http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-409"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhakikat-tasawuf-3.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhakikat-tasawuf-3.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhakikat-tasawuf-3.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

