<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Shalawat Nariyah</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/shalawat-nariyah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 11:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Siapa Bilang Salafi Pelit Bershalawat?</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/siapa-bilang-salafi-pelit-bershalawat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/siapa-bilang-salafi-pelit-bershalawat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 00:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[Shalawat Nariyah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6584</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat perkataan miring dari sebagian orang yang membenci dakwah sunnah, bahwa salafiyyin, atau orang yang meneladani generasi salafush shalih dalam beragama, enggan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam atau bahkan dituduh anti-shalawat. Padahal salafiyyin, yang senantiasa<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/siapa-bilang-salafi-pelit-bershalawat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Terdapat perkataan miring dari sebagian orang yang membenci dakwah sunnah, bahwa <em><a href="http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html">salafiyyin</a></em>, atau orang yang meneladani generasi <em>salafush shalih</em> dalam beragama, enggan bershalawat kepada Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> atau bahkan dituduh anti-shalawat. Padahal salafiyyin, yang senantiasa berpegang-teguh pada dalil-dalil shahih, bershalawat ratusan kali setiap harinya. Hal ini merupakan konsekuensi dari mengikuti dalil-dalil shahih, karena banyak dalil-dalil shahih yang menganjurkan amalan tersebut. Berikut ini beberapa kesempatan dalam satu hari yang dianjurkan untuk bershalawat, berdasarkan dalil-dalil shahih:</p>
<p><strong>1. Ketika Masuk Masjid</strong></p>
<p>Sebagaimana hadits dari Fathimah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em>:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل المسجد صلى على محمد وسلم ، وقال </span>: <span style="font-family: Tahoma;">رب اغفر لي ذنوبي ، وافتح لي أبواب رحمتك</span></p>
<p>“<em>Biasanya, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke dalam masjid beliau bershalawat kemudian mengucapkan: Rabbighfirli Dzunubi Waftahli Abwaaba Rahmatik (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukalah untukku pintu-pintu Rahmat-Mu)</em>” (HR. At Tirmidzi, 314. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan At Tirmidzi</em>).</p>
<p>Dan seorang salafi, masuk ke masjid minimal 5 kali dalam sehari.</p>
<p><strong>2. Ketika Keluar Masjid</strong></p>
<p>Sebagaimana kelanjutan hadits dari Fathimah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em>:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">وإذا خرج صلى على محمد وسلم ، وقال </span>: <span style="font-family: Tahoma;">رب اغفر لي ذنوبي وافتح لي أبواب فضلك</span></p>
<p>“<em>Dan ketika beliau keluar dari masjid, beliau bershalawat lalu mengucapkan: Rabbighfirli Dzunubi, Waftahlii Abwaaba Fadhlik (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukalah untukku pintu-pintu keutamaan-Mu)</em>” (HR. At Tirmidzi, 314. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan At Tirmidzi</em>).</p>
<p>Dan seorang salafi, keluar dari masjid minimal 5 kali dalam sehari.</p>
<p><strong>3. Ketika Tasyahud</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يدعو في صلاته لم يمجد الله تعالى ولم يصل على النبي صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم عجل هذا ثم دعاه فقال له أو لغيره إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه جل وعز والثناء عليه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بعد بما شاء</span></p>
<p> “<em>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendengar seorang lelaki yang berdoa dalam shalatnya tanpa mengagungkan Allah dan tanpa bershalawat. Beliau pun berkata: ‘Orang ini terlalu tergesa-gesa’. Rasulullah lalu memanggil lelaki tersebut lalu menasehatinya: ‘Jika salah seorang diantara kalian berdoa mulailah dengan mengagungkanlah Allah, lalu memuji Allah, kemudian bershalawatlah, barulah setelah itu berdoa apa yang ia inginkan‘</em>” (HR. Abu Daud, 1481. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan Abi Daud</em>).</p>
<p>Pada ulama mengatakan bahwa tempat shalawat kepada Nabi di dalam shalat adalah setelah tasyahud awal dan akhir. Bahkan sebagian ulama menggolongkan shalawat setelah tasyahud akhir sebagai rukun shalat.</p>
<p>Dan seorang salafi, minimal ber-tasyahud 10 (5 x 2) kali dalam sehari.</p>
<p><strong>4. Ketika disebut nama Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em></strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">اَلْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ</span></p>
<p>“<em>Orang pelit itu adalah orang yang ketika disebut namaku ia enggan bershalawat</em>” (HR. At Tirmidzi no.3546, ia berkata: “Hasan Shahih Gharib”).</p>
<p>Seorang salafi, yang senantiasa bersemangat menuntut ilmu syar’i, ia membaca kitab para ulama, menghafal hadits, duduk di majlis-majlis ilmu, puluhan kali nama Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>disebut di sana sehingga ia pun puluhan kali bershalawat.</p>
<p><strong>5. Ketika selesai mendengar adzan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول </span>. <span style="font-family: Tahoma;">ثم صلوا علي </span>. <span style="font-family: Tahoma;">فإنه من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا</span></p>
<p>“<em>Jika kalian mendengarkan muadzin mengumandangkan adzan, ucapkanlah apa yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena setiap seseorang bershalawat kepadaku, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali</em>” (HR. Muslim, no. 384)</p>
<p>Dan adzan, minimal 5 kali berkumandang setiap harinya.</p>
<p><strong>6. Dalam rangkaian dzikir pagi</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">من صلى علي حين يصبح عشرا وحين يمسي عشرا أدركته شفاعتي يوم القيامة</span></p>
<p align="LEFT">“<em>Barangsiapa bershalawat kepadaku ketika pagi dan ketika sore masing-masing 10 kali, ia akan mendapatkan syafa’atku kelak di hari kiamat</em>” (Dihasankan oleh Al Mundziri dalam <em>Targhib Wat Tarhib</em>, 1/314, juga oleh Al Haitsami dalam <em>Majma’ Az Zawaid</em>, 10/123. Sebagian ulama melemahkan hadits ini, semisal Al Albani dalam <em>Adh Dha’ifah</em>, 5788 )</p>
<p>Dan seorang salafi bersemangat menjaga dzikir pagi setiap harinya. Dalam rangkaian dzikir pagi juga banyak disebut nama Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> sehingga ketika mengamalkan dzikir pagi, puluhan kali shalawat diucapkan.</p>
<p><strong>7. Dalam rangkaian dzikir sore</strong></p>
<p>Sebagaimana hadits pada poin sebelumnya. Seperti paparan sebelumnya, ketika mengamalkan dzikir sore pun, puluhan kali shalawat diucapkan.</p>
<p><strong>8. Ketika hendak berdoa</strong></p>
<p>Sebagaimana hadits pada poin 3. Dan seorang salafi bersemangat memperbanyak doa, dalam rangka mengamalkan firman Allah:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</span></p>
<p>“<em>Berdoalah kepada-Ku, akan Aku kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang sombong, enggan beribadah kepada-Ku, akan Aku masukkan mereka ke neraka Jahannam yang pedih</em>” (QS. Al-Mu’min: 60)</p>
<p>Terutama pada waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Dan dalam 1 hari ada puluhan <a href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/waktu-waktu-terkabulnya-doa.html">waktu mustajab untuk berdoa</a>. Sehingga seorang salafi, puluhan kali bershalawat sebelum berdoa dalam sehari.</p>
<p><strong>9. Pada waktu-waktu bebas yang tidak ditentukan</strong></p>
<p>Seorang salafi senantiasa menggunakan waktunya agar tidak tersia-sia. Salah satu caranya dengan banyak berdzikir, dan diantara dzikir yang dianjurkan adalah bacaan shalawat kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kapan saja tanpa terikat kesempatan tertentu. Berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepadanya dan doakanlah keselamatan atasnya</em>” (QS. Al Ahzab: 56)</p>
<p>Juga keumuman sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">فإنه من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا</span></p>
<p>“<em>Karena setiap seseorang bershalawat kepadaku, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali</em>” (HR. Muslim, 384)</p>
<p>Di perjalanan, ketika menunggu, ketika istirahat, ketika berjalan, ketika dalam majelis, dan waktu-waktu lain kapan saja dan di mana saja.</p>
<p><strong>10. Pada hari dan malam Jum’at</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فأكثروا علي من الصلاة فيه فإن صلاتكم معروضة علي قال فقالوا يا رسول الله وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت قال يقولون بليت قال إن الله تبارك وتعالى حرم على الأرض أجساد الأنبياء صلى الله عليهم</span></p>
<p>“<em>Hari jumat adalah hari yang paling utama. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu. Karena sesungguhnya shalawat kalian itu sampai kepadaku”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami sampai kepadamu, sementara kelak engkau dikebumikan?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan bumi untuk menghancurkan jasad para Nabi shallallahu ‘alaihim</em>” (HR. Abu Daud no. 1047. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jami</em>, 2212)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>juga bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">أكثروا الصلاة علي يوم الجمعة و ليلة الجمعة ، فمن صلى علي صلاة صلى الله عليه عشرا</span></p>
<p>“<em>Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat. Karena orang yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali</em>” (HR. Al-Baihaqi, 3/249. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Ash-Shahihah</em>, 1407)</p>
<p>Jelaslah sudah bahwa salafiyyin, orang-orang yang berpegang-teguh pada dalil Qur’an dan sunnah yang shahih, akan mengamalkan shalawat ratusan kali dalam sehari, bahkan lebih. Tentu saja dengan suara lirih, sendiri-sendiri, tidak dikeraskan dan tidak pula beramai-ramai. Namun perlu dicatat, bahwa setiap orang tentu memiliki <em>juhud </em>yang berbeda-beda dalam ibadahnya.</p>
<p>Adapun shalawat yang diingkari oleh salafiyyin adalah shalawat yang dikarang-karang serta dibuat-buat oleh orang, dan tidak pernah diajarkan oleh Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>maupun para shahabat serta generasi <em>salafus shalih</em>. Dikarang-karang lafadznya, juga tata-caranya. Para sahabat Nabi, orang yang paling mencintai beliau jauh lebih cinta dari kita semua, mereka tidak pernah mengarang-ngarang shalawat. Mereka bahkan bertanya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>cara bershalawat:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">يا رسول الله ، أما السلام عليك فقد عرفناه ، فكيف الصلاة ؟ قال </span>: ( <span style="font-family: Tahoma;">قولوا </span>:<span style="font-family: Tahoma;">اللهم صل على محمد وعلى آل محمد ، كما صليت على إبراهيم ، إنك حميد مجيد ، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد ، كما باركت على إبراهيم ، إنك حميد مجيد </span>)</p>
<p> “<em>Wahai Rasulullah, tata cara salam terhadapmu, kami sudah tahu. Namun </em><em><strong>bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?</strong></em><em> Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: ‘Ucapkanlah: Allahumma Shalli ‘ala Muhammad Wa ‘ala Aali Muhammad, Kamaa Shallaita ‘ala Ibrahim Innaka Hamiidum Majid. Allahumma Baarik ‘ala Muhammad Wa ‘ala Aali Muhammad, Kamaa Baarakta ‘ala Ibraahim, Innaka Hamiidum Majid‘</em>”. (HR. Bukhari 4797)</p>
<p>Apalagi shalawat-shalawat yang dikarang-karang oleh sebagian orang, dibumbui dengan khasiat-khasiat tertentu tanpa dalil. Diperparah lagi jika shalawat-shalawat buatan tersebut dilantunkan beramai-ramai menggunakan pengeras suara. Padahal Allah <em>Ta’ala </em>memerintahkan kita berdzikir dengan rendah diri, penuh takut dan bersuara lirih:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ</span></p>
<p>“<em>Berdzikirlah kepada Rabb-mu dengan penuh kerendahan diri, rasa takut serta tanpa suara yang dikeraskan</em>” (QS. Al A’raf: 205)</p>
<p>Renungkanlah, dari apa yang kita paparkan di atas, andai kita mau mengamalkan shalawat berdasarkan dalil yang shahih, hari-hari kita akan sangat sibuk sekali. Maka, untuk apa kita masih mencari-cari atau mengarang-ngarang shalawat sendiri? Sahabat Ibnu Mas’ud <em>Radhiallahu’anhu </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Tahoma;">اتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا ، فَقَد كُفِيتُم</span></p>
<p>“<em>Ikutilah saja (sunnah Nabi) dan jangan berbuat bid’ah. Sesungguhnya sunnah Nabi telah mencukupi kalian</em>“</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="shr-publisher-6584"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsiapa-bilang-salafi-pelit-bershalawat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/siapa-bilang-salafi-pelit-bershalawat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalawat Nariyah</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/shalawat-nariyah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/shalawat-nariyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 07:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalawat Nariyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: &#8220;Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/shalawat-nariyah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: &#8220;Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan  menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:&#8221;</p>
<p>اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك</p>
<p><em>Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman &#8216;ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil &#8216;uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa&#8217;iju Wa tunaalu bihir raghaa&#8217;ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa &#8216;alaa aalihi, wa shahbihi  &#8216;adada kulli ma&#8217;luumin laka</em></p>
<p><span id="more-54"></span></p>
<p>Artinya:</p>
<p><em>&#8220;Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.&#8221;</em></p>
<p>Syaikh berkata:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur&#8217;an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur&#8217;an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:</p>
<p>أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا</p>
<p><em>&#8220;Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.&#8221;</em> (QS. Al-Israa&#8217;: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).&#8221;</p>
<p>Beliau melanjutkan penjelasannya:</p>
<p>&#8220;Bagaimana Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur&#8217;an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:</p>
<p>قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.&#8221;</em> (QS. Al-A&#8217;raaf)</p>
<p>Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan mengatakan: <em>&#8220;Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul&#8221;</em>, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, <em>&#8220;Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.&#8221;</em> Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa&#8217;i dengan sanad hasan)</p>
<p>Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:</p>
<p>&#8220;Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:</p>
<p>اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد</p>
<p><em>Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman &#8216;ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal &#8216;uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)</em></p>
<p>Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid&#8217;ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma&#8217;shum?&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Jamil Zainu<br />
Diterjemahkan oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-54"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fshalawat-nariyah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/shalawat-nariyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>144</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

